Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 3 of Writing Commission
Stats:
Published:
2024-12-13
Words:
7,132
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
76
Bookmarks:
5
Hits:
1,645

here’s to the love that knows no bounds

Summary:

Bagi Phuwin, ada satu rutinitas yang akan selalu menempati daftar paling penting di setiap harinya: menunjukkan pada Nara bahwa bahkan dengan keterbatasannya, Nara masih dan selalu akan layak untuk diselimuti cinta yang tak terbatas. 

Notes:

this story is a work of fiction and does not aim to accurately represent the experiences of any community. the portrayal of a blind character is based solely on imagination and research from various sources.

i acknowledge that everyone’s experiences are unique and respect the diversity within the disability community. any inaccuracies are unintentional and solely the author’s responsibility.

to the commissioner, thank you for trusting me on this one <3

p.s. Nara’s character background is inspired by the movie ‘Hunger’

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Euforianya masih sama. 

Bising dari pisau yang mengiris sayuran di atas talenan. Desis daging yang dipanggang di atas wajan panas. Denting alat masak yang terdengar tanpa henti memenuhi ruangan dengan lampu serba putih. Aroma mentega, bawang tumis, dan rempah-rempah lain yang bisa Nara absen namanya satu persatu. Sesekali kobaran api akan muncul dari bawah wajan ketika ia menambahkan dua sendok alkohol ke dalamnya.

Teknik flambe, namanya. Nara masih ingat bagaimana beberapa tahun lalu ia harus menahan sakit akibat luka bakar yang memenuhi lengannya saat kepala chef menyuruhnya untuk terus menerus mengulang teknik itu sampai daging miliknya mencapai tekstur yang sempurna. 

Seluruh adegan itu berputar tanpa hambatan di dalam kepala. 

Nara hampir percaya bahwa ia bisa melihat refleksi dirinya di permukaan sendok yang ia genggam. Hampir bersorak ketika ia tak lagi harus meraba dengan lama untuk mengetahui bahwa yang ada di hadapannya kini adalah wajan untuk memasak nasi goreng kaki lima, yang pegangannya panjang, bentuknya jauh lebih cekung, serta baja karbonnya lebih cepat merambatkan panas. 

Ia hampir tersenyum senang ketika ia bisa melihat kembali badge bertuliskan Naravit - Chef de Partie, Grillardin di bagian dada kiri seragam chef-nya. 

Sayangnya, semua itu dibatasi oleh kata hampir. Dan semua angan-angannya hancur lebur ketika Nara terbangun dengan napas terengah dan wajah berbanjir peluh. Dua matanya terbuka, bisa ia rasakan bagaimana mereka membulat dengan lebar mencari sumber cahaya. 

Namun yang menyambutnya hanya gelap. Sebuah dunia baru yang merenggut seluruh warna yang pernah terpancar di pendar matanya. Realita baru yang harus Nara jalani meski jika ditanya, ia beribu kali memilih untuk lebih baik mati. 

Nara bisa menangkap semalang apa teriakan itu lolos dari tenggorokannya. Bisa mendengar rasa frustasi yang menempel lekat pada lolongannya setiap malam. 

Di tengah-tengah gelap yang total, seluruh indra lainnya akan bereaksi lebih sensitif. Begitu pula ketika kulitnya menerima sebuah sentuhan hangat yang justru membuatnya bergerak menjauh. Sentuhan yang dulunya terasa seperti hak yang melekat kini menjadi asing, sebuah sentuhan yang kini selalu membuatnya terkejut.

“Nara, hey, ini aku,” sentuhan lain menyapa pundaknya, kini dibarengi oleh bisik pelan yang niatnya ingin berbagi tenang. Nara masih beringsut menjauh, hingga tubuhnya hampir terhuyung karena terlalu dekat dengan tepi kasur. Dua tangan itu menahan pundaknya sebelum menariknya mendekat. 

“Nara, ini aku, Sayang. Ini Phuwin, Nar..” 

Kali ini Nara bisa merasakan ada jemari yang mengusap pelan dahinya, menyisir beberapa helai rambut yang lembab karena keringat ke belakang, diulang berkali-kali sampai Nara bisa menemukan ritme napas yang lebih teratur. Sampai dengung di belakang kepalanya hilang. Sampai beton tak kasat mata yang mengimpit dadanya perlahan terangkat dan sesaknya terbebaskan. 

“Phuwin,” gumam Nara di tengah-tengah kegelapan yang bisa ia rasakan. Wangi Phuwin yang khas semakin menyelimuti sekitarnya, dan tak sempat Nara berhitung sampai tiga, tubuhnya lebih dulu didekap erat.

Nara tidak bisa melihat wajah Phuwin yang ketampanannya ia rindukan. Namun ia bisa mendengar isak kecil dan titik-titik basah di pundaknya. 

“Kamu.. nangis?” bisiknya pelan. 

Nara merasakan ada gelengan di ceruk lehernya. Perlahan ia meraba lengan Phuwin yang mendekapnya, memberikan usapan-usapan kecil di sana. 

“Akunya bikin kamu sedih ya, Phuwin?” tanya Nara. Phuwin menggeleng lagi. “Capek ya, Phu? Aku kebangun terus malem-malem karena mimpi aku bisa masak lagi,” Nara melanjutkan ucapannya tanpa ekspresi berarti, seluruhnya bergulir dari mulut Nara dengan perasaan yang kosong. 

“Enggak, Nara. Aku gak capek, gak akan pernah capek,” Phuwin menjawab, kini menarik sedikit tubuhnya agar ia bisa menatap wajah Nara yang menatap kosong ke arahnya. Andai Nara bisa tahu, andai ia bisa melihat sebesar apa kasih sayang yang terpancar di pendar mata Phuwin, mungkin Nara tidak akan pernah berpikir ada sedikitpun rasa lelah yang Phuwin emban. 

Sekali lagi, Phuwin mengusap pelipis Nara sampai ke rahangnya. Kemudian ia membawa bibirnya untuk meninggalkan kecupan lembut di kening. “Nara, kita coba tidur lagi, ya?” 

Nara hanya mengangguk. 

It’s a recurring event every night. Ketika Nara pada akhirnya bisa kembali memejamkan mata dan melanjutkan tidurnya, Phuwin harus mengendap dengan cepat menuju kamar mandi dan menyalakan shower untuk menyamarkan tangisannya, tidak sampai hati untuk berkata jujur bahwa setiap ia menatap pada wajah Nara yang kian hari kian tak menampakkan asa, ada bagian dari Phuwin yang juga ikut hancur. 

 


 

Phuwin masih ingat tentang suatu malam di bulan Februari. Bolak balik mengatasi semua yang menyangkut reputasi sebuah grup restoran ternama yang sudah beberapa tahun menjadi tempatnya bekerja,  malam itu akhirnya menjadi hari eksekusi sebuah acara business gathering yang diadakan oleh perusahaan, yang tentunya mengundang beberapa direktur grup restoran ternama lainnya. 

Sebagai seorang PR Executive, seluruh urusan tentang media dan kepentingan lain yang mengikuti sudah pasti disuguhkan ke atas tangannya, termasuk memastikan kalau seluruh makanan yang dimasak langsung oleh para chef ternama di bawah pimpinan head chef restoran disuguhkan dengan sempurna. 

Malam itu, tak terhitung berapa kali Phuwin mondar-mandir melewati ruang preparasi. Ada tekanan yang menggantung-gantung di udara, terlebih ketika di depan ruangan ia bisa mendengar bagaimana sang kepala chef—Kritsada, namanya, tak henti memberikan instruksi dengan intonasi tinggi yang membuat lima orang chef lain yang berbaris rapi di hadapannya itu menunduk patuh–antara patuh dan takut, Phuwin sulit untuk membedakan. 

Di antara para chef yang berbaris rapi itu, Phuwin menangkap seseorang yang menjulang tinggi meskipun badannya sudah membungkuk kecil itu sedang mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Phuwin baru sadar ia terlalu lama menaruh perhatian ketika wajah yang semula tak terlalu jelas itu terangkat dan menemui tatapan matanya. Chef Krit selesai memberi instruksi, dan dalam waktu yang bersamaan, pundak Phuwin ditepuk oleh salah satu anggota divisinya. 

“Mas Phuwin, udah ditunggu Bapak untuk ketemu media di depan. Butuh pendampingan, katanya,” Emmy–yang dilengkapi oleh in-ear di telinga kanannya berkata. Phuwin mengangguk kecil, lalu sebelum benar-benar pergi dari depan ruangan, tatapannya menyempatkan untuk mencuri sepersekian detik untuk kembali menatap ke dalam. 

Lelaki yang menjulang tinggi tadi kini sudah memunggunginya, sibuk dengan bahan-bahan makanan yang harus diolah di atas meja. Di belakang kepalanya, Phuwin membuat catatan kecil: nanti saat acara sudah berakhir, ia akan sempatkan untuk kembali ke ruangan ini dan mendapatkan nama si lelaki. 

 

 

Except, time does its part kindly enough. Or perhaps, he thought, even too kind. 

Di tengah-tengah glamornya pertemuan yang sedang berjalan, Phuwin menyempatkan diri untuk ke kamar mandi. Pikirnya semula, ia hanya ingin menarik napas sejenak dari hiruk pikuk manusia yang terasa mencekik leher. Belum lagi berkali-kali memutar otak untuk mendampingi sang bos besar menjawab pertanyaan-pertanyaan media maupun kolega dan rival bisnis–semuanya membuat kepala Phuwin terasa panas. 

Saat Phuwin melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi khusus staf yang bekerja, di sana lah ia menemukan lelaki jangkung yang namanya sudah menimbulkan tanda tanya di kepala sejak pertama kali ia melihatnya. 

Di depan kaca wastafel yang membentang lebar, lelaki itu sedang mengusap wajahnya berkali-kali, menghiraukan kedatangan lelaki dibalut jas rapi yang kini menahan langkahnya di ambang pintu. 

“Halo, Mas.” Phuwin akhirnya membuka suara, dibalas dengan tolehan kecil. Lelaki itu terlihat sedikit terkejut sebelum ia bersuara, “Eh. Mas.. Phuwin, ya? Saya udah dicariin, kah?” 

“Oh, enggak, Chef. Saya kebetulan lagi mau break dulu aja ke sini,” Phuwin berkata sambil melangkahkan kakinya mendekat, sambil ia menatap arloji yang melingkar di tangan kiri, kemudian kembali menatap lelaki itu ketika mereka hanya dipisahkan oleh satu wastafel. “Tapi live cooking preparation dimulai tujuh menit lagi,” kata Phuwin. 

Kini, di sampingnya, ia bisa melihat lelaki itu mengucek kedua matanya, kemudian mengedipkannya dengan lambat seakan sedang memberikan waktu untuk dua matanya beradaptasi dengan cahaya yang menerpa. “Aah, iya, Mas Phuwin. Sebentar lagi saya balik, kok. Ini tadi mata udah mulai gak enak. Kebanyakan di depan kompor kayaknya.” 

Phuwin merogoh sesuatu dari dalam saku celana, kemudian mengeluarkan botol kecil yang selalu ia bawa kemana-mana. “Uhm, ini. Siapa tau bisa bantu,” ucapnya, menyodorkan botol tetesan mata kepada lelaki di sampingnya. 

Botol itu diterima, kemudian Phuwin menghabiskan beberapa detik berikutnya hanya memperhatikan bagaimana lelaki itu langsung menggunakannya dengan cekatan. Dari pantulan di kaca, matanya tertuju pada bayangan lelaki itu—tampak begitu memikat dalam seragam chef yang memeluk tubuhnya dengan sempurna. Kemudian, ia mengalihkan pandangan ke pahatan wajah lelaki itu dari samping, mengabsen bagaimana seluruh komponennya bekerja sama membentuk wajah yang menurutnya mendekati sempurna. The man is beautiful, so beautiful that Phuwin thought it’d be such a waste to look away. 

“Makasih, Mas Phuwin. Saya langsung ke belakang untuk siap-siap, ya.” Lelaki itu berkata, tetapi bibir Phuwin masih terkunci rapat karena sebelumnya terlalu fokus menatap sampai-sampai lupa bagaimana caranya bertanya: namamu siapa?

 

 

Meskipun begitu, malam masih berbaik hati untuk tidak lantas berakhir sebelum Phuwin benar-benar mengantongi nama sang Grillardin yang atraksi memasaknya hanya bisa ia tonton dari pojok ballroom. 

Sebuah panggilan ramah menghentikan pergerakan Phuwin yang akan membuka pintu mobilnya. Di basement yang mulai sepi, Phuwin menoleh dan menemukan lelaki jangkung itu berjalan riang mendekatinya, sebuah kresek putih dijinjing di tangan kanannya. 

“Mas! Untung aja belum berangkat,” ucapnya ketika mereka hanya terpisah oleh beberapa langkah lagi. Phuwin hampir kehilangan kata-kata lagi, tetapi untuk yang kali ini, ia dengan cepat mengerjapkan kedua matanya dan menjawab, “Eh! Nyariin saya, kah?” 

Lelaki itu mengangguk, masih dengan senyum ramah yang terulas di wajah tampannya. Phuwin ingin buru-buru mengetahui siapa namanya.

“Ini, Mas. Tadi setelah live cooking, saya bikin nasi goreng seafood buat staf. Saya liat juga Mas Phuwin belum sempet makan malem, jadi ini bawa aja.” 

Phuwin menatap kresek putih yang disodorkan kepadanya sebelum menerimanya. Dengan senyum sumringah, Phuwin berkata, “Wah. Makasih banyak, ya, Chef..?”

Menangkap ada sapaan yang menggantung di akhir kalimat Phuwin, lelaki itu terkekeh, kemudian menjawab, “Sama-sama. Nama saya Nara, Mas.” 

Malam itu, selain membawa pulang satu porsi nasi goreng seafood yang kemudian naik tahta menjadi makanan favorit Phuwin nomor satu, ia juga punya sebuah nama baru untuk diingat baik-baik dan ditulis rapi di atas gambar wajah Nara yang ia simpan dalam kepala.

 

 

Entah di mana garis dengan kata mulai itu berada, yang Phuwin tahu adalah, sejak malam itu ia sering mengada-ada seribu satu alasan untuk bisa mampir ke main kitchen milik Chef Kritsada hanya untuk melihat Nara yang seringkali ia temukan masih berada dalam balutan seragam putih dengan rambut yang lepek saat topinya dibuka. Yang Phuwin tahu, selama hidupnya ia tidak pernah punya tujuan lain selain bekerja, bekerja, dan bekerja. Namun kian hari ia kian menemukan dirinya terus menerus mencari kesempatan untuk sekedar bisa berbagi sapa dengan Nara setelah jam kerja selesai, atau di hari hari saat ia beruntung, Nara akan dengan senang hati menerima ajakannya untuk makan malam di kedai penjual pad thai kaki lima favoritnya. 

“Orang-orang kitchen tuh banyak yang kepo tahu, perkara Mas Phuwin single atau enggak,” ucap Nara di suatu malam, di tengah-tengah kedai pad thai yang ramai pengunjung. Phuwin hampir tersedak oleh air mineral yang sedang ia teguk, membuat Nara terkekeh dan menepuk-nepuk pundaknya pelan. “Kenapa sampe kaget gitu deh, Mas?”

“Terus kabar yang beredar di sana gimana, Chef?” tanya Phuwin penasaran. 

Nara memperlihatkan senyum yang biasa dimunculkan seseorang kalau mereka punya niat jahil. Kemudian lelaki itu menjawab, “Ya saya bilang aja kalau Mas Phuwin single.”

“Lho, kamu tau dari mana bisa jawab gitu?” 

Kekehan Nara kembali terdengar, kemudian ia berucap tanpa beban, “Kalau gak single, kayaknya gak mungkin kamu terus-terusan ngajakin saya makan pad thai di pinggir jalan gini.” 

Busted

“Kalau gak single, mending makan malem bareng pasangannya di rumah, dong?” 

Phuwin kala itu hanya melipat bibirnya, mencoba menyamarkan rasa malu yang merambat dengan hangat ke kedua pipi. Namun Nara hanya tertawa ringan, seakan lelaki itu diam-diam memberi sinyal yang berkata: saya udah tahu kok tujuanmu ini ke mana

Kejadian itu sempat membuat Phuwin ciut untuk melanjutkan ajakan makan malamnya. Namun, beberapa hari setelahnya, Nara tiba-tiba saja datang mengetuk pintu apartemen dengan menjinjing paper bag besar di tangan kiri. 

“Kata Chef Krit, Mas Phuwin sakit. Saya boleh jengukin?” 

 

 

Ragu yang sempat berkumpul di dasar hati Phuwin perlahan hilang ketika Nara semakin meningkatkan frekuensi bertemu mereka tanpa perlu Phuwin tawarkan agenda makan malam seperti sebelumnya. Kemudian untuk saling meluangkan waktu di akhir pekan menjadi sebuah rutinitas yang perlahan-lahan terbangun dengan sendirinya. 

Phuwin maupun Nara tidak bisa menyangkal ada perasaan terbiasa yang mulai tumbuh di antara mereka berdua. Pun tak ada yang berniat untuk menyangkal. 

Pembuktiannya terjadi di suatu malam yang mereka habiskan di unit apartemen Phuwin, dengan dua gelas anggur merah yang entah sudah berapa kali diisi ulang, dan siaran televisi jadul yang diputar tengah malam. Phuwin dan Nara terduduk setengah mabuk di atas karpet, punggung mereka bersandar ke kaki sofa. Ada yang menggebu-gebu untuk diutarakan dari dalam hati, dan gelisah kecil yang mengelilingi kepala. 

“Nara, I don’t think I could hold my feelings any longer.” 

“Then don’t.” 

Gelisah itu hilang dan melebur dengan udara. Senyuman manis saling dilemparkan sebelum jarak di antaranya terhapuskan oleh dua pucuk hidung yang bertabrakan. 

 

Then don’t,” ulangnya dalam bentuk bisikan, kali ini tepat pada bibir Phuwin yang menyapa lembut bilah bibirnya. 

And they’re home.

 


 

Nara yang Phuwin kenal, ialah seorang pekerja keras yang percaya bahwa dunia akan membuka semua pintu terbaik untuknya selama ia melakukan sebaik-baiknya usaha dengan segala hal yang ia pegang penuh kendalinya. Nara yang akan mencoba jenis masakan baru untuk mengolah sayur yang Phuwin benci hanya supaya Phuwin mau memperbanyak asupan sayur hariannya. Seseorang dengan tipe humor aneh yang kadang tak Phuwin pahami tetapi selalu mau untuk menjelaskan dua kali meski jadinya humor itu tak lagi lucu untuk ditertawakan–Phuwin akan tetap menertawakannya. Seseorang yang harus menghabiskan waktu hampir tiga puluh menit di kamar mandi hanya karena terlalu malu untuk menatap wajah Phuwin setelah ia mengatakan ‘I love you’ pertamanya. Nara yang tersipu malu waktu mereka membuang sapaan formal di setiap obrolan dan menggantinya menjadi aku-kamu. Nara yang manis dan dipenuhi oleh rona bahagia. 

Dan Phuwin berharap, Nara akan masih menjadi ia yang Phuwin kenal setelah lelaki itu keluar dari ruangan dokter dengan sebuah map coklat yang ia genggam di tangan kanan. 

“Nara, gimana?” Phuwin bertanya, sebab ia tidak bisa menebak apa hasil yang Nara terima di dalam sana. Wajah Nara sedikit pucat dari sebelumnya, tetapi tak menunjukkan ekspresi berarti yang dapat Phuwin jadikan contekan untuk jawaban apa yang akan keluar dari bibir Nara selanjutnya.

"Glaukoma, Phu. Acute angle-closure glaucoma,” Nara akhirnya membuka suara sambil mendaratkan tubuhnya dengan hati-hati di atas kursi ruang tunggu. Ia menghela napas pelan sebelum mendongak untuk menatap Phuwin, “It’s too late to fix it now. Aku harusnya langsung periksa waktu—hh, mau periksa dari dulu juga akan tetep sama. Doctor said I won’t get my vision back, just about time before it worsens. Then I will lose it completely.

He said it’s genetic.” Pond bergumam sambil menatap map coklat di atas pangkuannya. “It’s funny how my parents not only left me since I was born, tapi juga ninggalin penyakit ini yang bakalan sama aku seumur hidup.”

 

 

Awalnya, Nara berkata kalau pandangannya kerap kehilangan fokus dan membuatnya sulit bekerja dengan efektif karena ia kesulitan untuk menangkap benda di sisi kiri atau kanannya tanpa benar-benar menoleh. Phuwin memintanya untuk periksa ke dokter, tetapi opsi itu selalu dikesampingkan sebab jadwal pekerjaan mereka yang sama-sama sibuk.

Kemudian di tahun kedua hubungan mereka, Phuwin menawarkan Nara untuk tinggal bersama supaya bisa menghabiskan waktu berdua lebih banyak. Nara menyetujui, hanya saja ia ingin menghabiskan masa kontrak apartemennya sampai habis sebelum benar-benar pindah. Di suatu malam, Phuwin dikejutkan dengan panggilan telepon dari Nara yang langsung dilanjut dengan teriakan-teriakan panik. Dari yang dapat Phuwin tangkap, Nara baru saja berkata kalau penglihatan menjadi buram.

“Awalnya aku pusing, terus mual dan muntah lama banget. I think I spent almost an hour in the bathroom.” Nara berkata, kini duduk di ujung sofa dengan Phuwin di sebelahnya. Kepanikannya itu berangsur menurun ketika Phuwin tak berpikir lama untuk langsung bergegas menyusul Nara ke apartemennya. 

“Sekarang udah mulai balik lagi, tapi tetep aja aku panik.. Aku masih nggak bisa ngeliat jelas benda yang cuma keliatan di sudut mata,” ucap Nara. 

“Besok harus periksa, Nar.” 

Nara tidak lagi menolak atau mengenyampingkan pilihan itu. 

 

 

And it leads them to where they are afterwards, sitting in silence in Phuwin’s car. Map coklat berisi hasil pemeriksaan itu masih terkulai di atas pangkuan Nara yang hanya menundukkan kepala sambil memainkan kuku dan jemarinya, menancapkan kukunya kuat-kuat ke kulit sebagai sebuah gestur untuk mengalihkan rasa sakit yang memaksa untuk menyeruak dari dalam dada. Biar semuanya ia alihkan ke permukaan jemari yang mulai meninggalkan bekas. 

Phuwin menyadari itu, kemudian menggenggam tangan Nara, membungkusnya dengan miliknya. “Jangan kayak gitu, nanti jari kamu luka.” 

“Kalau aku nggak lampiasin sakitnya, aku bakalan teriak-teriak kayak orang gila.” Nara berkata, ujung kalimatnya disuarakan dengan napas tercekat, kemudian ada isak kecil yang mengikuti bersamaan dengan tangan Phuwin yang digenggam balik dengan erat. Sakit itu dibiarkan luruh sepenuhnya, seperti sebuah bendungan yang temboknya dibiarkan runtuh, Nara menangis keras-keras di jok penumpang. 

 


 

Di suatu malam ketika lampu utama kamar sudah dipadamkan dan mereka berdua hanya disinari oleh cahaya lembut lampu tidur, Phuwin bisa mendengar Nara menggumamkan sesuatu. 

I don’t have anything to offer anymore. Aku gak akan minta alasan kalaupun kamu mau pergi.”

Ada sesuatu yang patah, jauh di dasar hati Phuwin, ketika ia mendengar gumam itu keluar dari bibir Nara. Di hadapannya, Nara berbaring miring dengan dua mata yang masih terjaga. Sayangnya, sekeras apapun Phuwin berusaha untuk memperlihatkan bagaimana rasa cinta dan sayang itu masih memancar besar dan gamblang dari sorot tatapannya yang tertuju pada Nara, lelaki itu sudah tak bisa melihatnya. 

Phuwin menggigit bibirnya kuat-kuat demi menahan tangis yang menggedor-gedor pelupuk mata. Tangannya bergerak untuk mengusap dua alis Nara dengan lembut, gerakan yang membuat Nara memejamkan kedua matanya untuk mengejar rasa nyaman yang ditawarkan. Kesempatan itu mengundang Phuwin untuk mengecup pelan dua mata yang kini tertutup. 

“Gak ada satu pun alasan untuk aku pergi, Nara. I love you, itu final. Dan apapun yang terjadi nggak bikin setitik pun sayang aku berkurang.” Phuwin berkata pelan sambil membiarkan aliran air mata membasahi pipinya tanpa suara, “Jadi aku minta tolong, jangan pernah suruh aku untuk pergi.”

 


 

Sejatinya, kehilangan penglihatan memang bukan sebuah hal yang bisa diatasi dengan perkataan seperti Sabar ya, aku mengerti gimana perasaan kamu. Phuwin sadar betul, apalagi untuk Nara yang membutuhkan mata untuk melakukan pekerjaan yang paling ia cintai: memasak. 

Bukan sebuah hal mudah bagi Phuwin untuk meyakinkan Nara kalau semuanya akan jadi baik-baik saja. Karena persetan dengan kalimat itu, semuanya sudah hancur lebur terlebih dulu sejak Nara divonis tidak bisa mengembalikan penglihatannya lagi. Yang Phuwin punya kuasa untuk lakukan hanyalah terus meyakinkan Nara, kalau sekuat apapun badai yang akan menyeret mereka berdua, ada satu hal yang tak akan pernah berubah: setiap Nara mengulurkan tangan untuk mencari tumpuan, akan ada Phuwin yang selalu sigap menopang.

Maka, ketika Phuwin pulang ke apartemen setelah seharian bekerja hanya untuk menemukan Nara duduk di tepi kasur sambil menatap kosong jendela besar di kamar mereka, Phuwin tak akan pernah banyak bicara dan menjejeli yang tercinta dengan kalimat-kalimat motivasi yang hanya akan terdengar seperti cemoohan kosong bagi Nara. Ia hanya akan memeluknya dari belakang, berkata tanpa suara bahwa Phuwin dan presensinya akan selalu nyata meskipun Nara tak lagi bisa melihatnya secara langsung.

Terkadang Nara hanya akan diam, membiarkan Phuwin mengistirahatkan kepala di pundaknya. Di hari yang lain, Nara akan mengusap kepala Phuwin dan bertanya tentang bagaimana hari Phuwin berjalan. Di hari yang tak terlalu baik, Nara akan melepaskan lingkar tangan Phuwin di perutnya dan berjalan keluar kamar untuk menjauhi Phuwin. 

Hari ini, Phuwin menangkap ada lirih yang disuarakan Nara ketika Phuwin baru saja mengistirahatkan dagunya di pundak sang kekasih.

“Phuwin, aku kangen masak.”

 


 

Nara akan selalu ingat tentang suatu hari yang mengubah hampir 180 derajat jalan hidupnya. 

Delapan tahun yang lalu, ketika umurnya baru menginjak 20 tahun, ia hanya seorang pegawai yang bekerja di sebuah kedai street food di salah satu sudut Pasar Chatuchak. Tidak ada background memasak secara akademik, tetapi menu moo ping atau sate babi buatannya selalu menjadi favorit pengunjung. Sejak saat itu, Nara menjadi pegawai kepercayaan atasannya. 

Suatu hari, ada dua mobil mewah yang terparkir di depan kedai. Ia dan pegawai lainnya baru saja mulai merapikan alat bahan ketika beberapa pria berjas keluar dari dalam mobil. Dari caranya berjalan, Nara bisa menebak ada satu pria yang paling dihormati, yang berjalan di tengah-tengah dan diapit oleh dua pria lainnya–mungkin bodyguard-nya. 

Baru lah ketika para pria berjas itu berbicara langsung dengan atasannya, Nara mengetahui maksud dari kedatangan mereka. Yang dijaga oleh dua bodyguard, adalah Chef Kritsda–bisa dibilang, chef nomor satu di Thailand yang juga mengepalai sebuah grup restoran terkenal, berfokus pada restoran-restoran fine dining yang Nara tak berani bayangkan berapa harga tiap makanannya. Saat itu, Nara hanya diminta untuk membuat beberapa porsi moo ping andalannya untuk dihidangkan. 

Yang Nara tidak pernah duga adalah, Chef Kritsada dengan sengaja mendatangi kedai kecil tempatnya bekerja untuk merekrut Nara sebagai salah satu anak didiknya di main kitchen miliknya yang terletak di sebuah gedung tinggi di tengah-tengah Sukhumvit. 

Nara, yang kala itu hanyalah seorang remaja menuju dewasa yang masih naif, tinggal seorang diri tanpa keluarga, tentu senang menerima tawaran tersebut. Tahun-tahun berikutnya di bawah bimbingan Chef Kritsada terasa seperti medan perang—tak terhitung berapa kali ia harus menahan diri untuk tidak menjambak rambut pria paruh baya itu. Nara tak pernah menyangka bahwa menjadi seorang chef profesional berarti harus ditempa tanpa ampun, mentalnya dipaksa sekuat baja untuk menghadapi setiap kritik tajam dan makian pedas, bahkan untuk kesalahan sekecil apapun. 

Ia pikir, masa-masa itu adalah sebuah bentuk tempaan dari semesta yang paling sulit. Jika ia kembali mengingat tentang luka-luka di lengannya karena semalaman penuh terus berlatih melakukan teknik flambe yang sempurna hingga Chef Kritsada mengangguk puas dengan hasil akhirnya di esok hari, kini Nara bisa bilang itu semua hanya sebatas cobaan yang bebannya hanya sebesar ujung jari kelingking. 

Terlebih, ketika hari ini, ia hanya bisa termenung di sofa yang hanya bisa ia rasakan bentuknya lewat rasa empuk yang menopang tubuhnya. Kemarin Phuwin bilang ia baru saja mengganti sofa ruang tengah dengan sofa yang sudah lama Nara inginkan–berbulan-bulan dibiarkan berdebu di keranjang akun e-commerce-nya. Nara ingat warnanya soft brown dengan beberapa detail indah di bagian sandarannya. Kini warna itu hanya nyata dalam memorinya, sebab yang bisa ia lihat di sekeliling hanya hitam dan gelap. 

Ada suara berisik khas kresek yang bergesekan mendekat ke arahnya. Nara menoleh menuju sumber suara. 

“Hai, aku udah selesai belanjanya!” 

Ucapan Phuwin yang menyapa gendang telinga membuat Nara tersenyum senang. Tangannya meraba-raba, berhenti ketika ia bisa merasakan tekstur plastik di bawah telapak tangannya, kemudian merogoh-rogoh ke dalam. “Udah lengkap semua bahan-bahannya?”

Yang ditanya tak langsung menjawab. Nara bisa mendengar ada derap langkah yang mendekat ke sisi kanannya, kemudian kecupan ia dikejutkan dengan kecupan kecil di pelipisnya. “Udah, sayangku.” Phuwin berkata begitu dekat di telinganya. 

“Heheh, makasih..” 

Nasi goreng seafood. Hari ini Nara mau memasak makanan favorit Phuwin. Nara tidak tahu bagaimana proses memasaknya akan berjalan karena ini adalah pertama kalinya ia memberanikan diri untuk kembali menjejaki dapur sejak ia kehilangan kemampuan untuk melihat. 

Phuwin tentu setia menemaninya dengan duduk di salah satu kursi di belakang mini bar dapur mereka. Meski Nara tak bisa melihatnya, ia dapat merasakan bagaimana tatapan Phuwin tertuju padanya yang sedang meraba-raba alat masak yang dulu tak pernah absen ia gunakan setiap hari. Sometimes he flinched when his fingers brushed the cold handle of the pan, a surface he hadn’t touched in months. 

“Phu, bantu aku ya..” 

“Iya, sayang. Let’s take it slow, okay?” 

 

 

Desis panas dari udang dan potongan bakso ikan yang mendarat di wajan. Harum yang menguar dari tumisan bumbu. Asap hangat yang menerpa wajahnya. Semuanya masih sama seperti apa yang selama ini Nara mimpikan di setiap tidurnya. Meski banyak hal yang tak bisa Nara lakukan dengan sempurna karena keterbatasannya dan harus dibantu oleh Phuwin, Nara masih cukup puas dengan progres yang ia buat hari ini. 

Masakan sederhana yang maknanya luar biasa itu berhasil Nara hidangkan di atas meja makan. Tanpa ia ketahui, Phuwin menatapnya dengan air mata yang pria itu coba untuk bendung kuat-kuat. 

“Phuwin, cobain ya.. Suapin aku juga,” ucap Nara pelan. 

“Okay..” jawab Phuwin dengan hati-hati agar getaran dalam suaranya tak terlalu nampak. 

Sesuap nasi hangat itu menyapa lidahnya. Rasanya masih sama seperti yang pernah Phuwin rasakan dua tahun lalu, di malam ketika ia membawa pulang nasi goreng seafood dengan bonus nama Nara di kantongnya. 

Setelah menyuapi Nara, ia menatap wajah pria itu lekat-lekat. Senyum haru terulas di wajahnya. “Gimana, Sayang? Menurut aku sih, masakan kamu masih dan bakalan tetep terbaik.” 

“Hmmh. Kayaknya nggak seenak biasanya deh, Phu.”

“Masa, sih? Buktinya aku tetep doyan..” 

Nara terkekeh kecil. Tangannya terjulur ke depan, seakan sedang mencari sesuatu untuk disentuh. Phuwin mengikuti intuisinya untuk memajukan kepala, membuat pipinya menemui telapak tangan Nara. Kekasihnya itu lantas mengusap pipinya pelan. 

“Maaf ya, akunya jadi susah untuk masakin kamu..” Saat lirih itu keluar dari bibir Nara, di saat yang sama ia merasakan ada titik basah yang menyapa jempolnya di pipi Phuwin. Nara mengusapnya pelan, “Kamu nangisin aku, ya?”

Phuwin tak bersuara. Ia menggenggam tangan Nara dan membawanya ke depan bibir, meninggalkan kecupan yang lama di sana. 

 

 

 

Setelah hari itu, Nara sempat terbayang-bayang oleh kemungkinan terburuk yang paling ia takuti: kehilangan kemampuannya untuk memasak. Nara tidak siap kalau suatu saat ia harus menghadapi realita di mana kemampuan yang paling ia cintai itu harus direnggut seutuhnya. 

Maka yang Nara bisa lakukan adalah terus mencoba hingga ia semakin terbiasa. Awalnya, Nara hanya akan berani menginjak dapur kalau ada Phuwin di sekitarnya. Namun, beberapa hari ke belakang Phuwin disibukkan dengan pekerjaannya yang membuat ia tak punya banyak waktu bersama Nara.

Di saat-saat itu, Nara mencoba untuk lebih mandiri meskipun ia tahu impulsivitasnya itu dibuntuti oleh banyak sekali bahaya yang bisa terjadi. 

Beberapa percobaan pertama, Nara berhasil merebus mie instan seorang diri. Di percobaan lainnya, ia bisa menceplok telur meski harus merelakan dua butir yang pecah ke lantai. Beberapa hari sebelumnya, Nara membuat sayur bening meskipun jari tengahnya mendapatkan luka kecil akibat irisan pisau yang salah sasaran. 

Nara pikir semuanya akan baik-baik saja.  Sampai hari ini tiba, ketika ia menaikkan level kesulitan dari percobaannya dengan berencana memasak ayam goreng tepung. 

Rencananya, ia ingin memberi kejutan pada Phuwin saat kekasihnya itu pulang dari kantor sore nanti. Nara tahu kalau Phuwin beberapa kali tak sengaja berkata kalau ia rindu memakan ayam goreng tepung buatan Nara. Maka hari ini, lewat bantuan smartphone-nya yang canggih, Nara mempersiapkan semuanya dari mulai delivery bahan masakan sampai menggunakan aplikasi yang menawarkan jasa ‘melihat’ untuk menemaninya. 

“Agak ke kiri, Mas.. Nah, iya, betul.. Bisa dicemplungin sekarang.” Suara seorang wanita yang menjadi partner ‘melihat’-nya kali ini terdengar dari ponsel yang ia sandarkan di meja. Nara mencemplungkan potongan ayam yang sudah dilumuri tepung ke dalam wajan, tersenyum puas saat mendengar desis minyak yang menyambut potongan ayam itu. 

“Mas, luwes banget masaknya. Pasti udah terbiasa banget, ya?” tanya wanita dari layar ponsel itu. Nara tersenyum kecil sambil mengangguk. “Saya dulunya chef, Mbak. Walaupun kedengarannya mustahil buat lanjutin pekerjaan itu, seenggaknya saya gak mau rasa suka saya terhadap masak hilang gitu aja.”

Meski tak bisa melihat secara langsung, Nara bisa bayangkan wanita itu mengangguk-angguk kecil di layar ponselnya. “Wah, pantesan, Mas.. Ini Mas lagi masakin buat siapa?” 

Nara tersenyum. Wajah Phuwin yang tersenyum bahagia terlintas di kepalanya. “Buat pacar saya, Mbak. Bentar lagi dia pulang kerja.”

Kemudian Nara tidak mendengar lagi balasan dari wanita itu. Ia meraba-raba sekitarnya untuk meraih saringan. “Mbak, ini saya mau angkat ayamnya.. Udah pas kah posisinya?” 

Tak ada jawaban. 

“Halo.. Mbak?” 

Masih tidak ada jawaban. Kemungkinan terbesar adalah terjadi masalah koneksi yang memutuskan panggilan yang terhubung langsung dengan aplikasi. 

Nara mulai panik. Tangannya bergerak lebih cepat dari bagaimana yang otaknya rencanakan. Ia kebingungan, gerakannya terlalu frantik dalam memutuskan antara harus mematikan kompor terlebih dahulu atau mengangkat ayam dari penggorengan. Saringan di tangannya lepas dan jatuh ke lantai, membuat Nara semakin panik untuk menentukan langkah selanjutnya. 

Tangannya meraba-raba untuk mematikan kompor, tetapi yang menyapa jemarinya adalah sensasi panas dari penggorengan. Nara memekik kencang, ia mengibas-ibaskan tangannya yang terasa seperti terbakar. Namun naas, gerakannya kembali memicu kekacauan. Wajan berisi minyak panas itu tersenggol dan jatuh ke lantai, mencipratkan minyak panas kemana-mana. 

Nara sontak berjalan mundur sampai punggungnya menabrak kulkas. 

“Ah! Phuwin!” Di antara rasa panik dan juga sakit akibat cipratan minyak yang mengenai beberapa bagian tangan dan kakinya, ia bisa mendengar pintu unit dibuka oleh seseorang. 

“Phuwin!” Nara memanggil sekali lagi, kali ini lebih keras. Ada derap langkah yang terdengar mendekati dapur dengan tergesa-gesa. 

Kemudian Nara merasakan bagaimana tubuhnya yang terkulai di lantai ditarik dan diseret dengan cepat bersamaan dengan terdengarnya pekikan kaget dari Phuwin. “Astaga, Nara!” 

Phuwin dengan cepat berlari menuju kompor yang masih menyala, sebisa mungkin menghindari cairan minyak yang sudah melumuri lantai dapur dan beberapa potong ayam tepung gosong yang berserakan. Setelah memastikan kompor sudah mati, Phuwin kembali mendekati Nara yang masih duduk terkulai di atas lantai dengan tubuh bergetar ketakutan. 

“Nara.. Kenapa kamu sampe ngelakuin ini sendirian? Kenapa nggak nunggu aku dulu, Nara?”

Nara tidak menjawab. 

“Kalau tadi aku telat datengnya, gimana? Did you think about what could possibly happen to you? Nara, please. I can afford a new apartment but I can’t afford to lose you..” 

Ada sisi yang membuat Phuwin merasa bersalah karena sudah meninggikan suaranya sementara Nara masih syok dengan apa yang baru saja terjadi. Maka Phuwin menarik kekasihnya itu ke dalam pelukan yang erat. 

“Phuwin, maaf..” lirih Nara berulang-ulang. 

It’s okay, it’s okay, Nara.. I am here now. You’re safe.

 

 

Malamnya, Nara dipertemukan dengan realita pahit yang mau tidak mau harus ia terima: bahwa memasak menjadi sebuah kegiatan yang berbahaya untuk ia lakukan. He hates how the world seems so relentless, always taking, taking, and taking from him. It spares him nothing, not even the one thing he loves the most. And deep down, a gnawing fear lingers—nobody knows if one day it will take Phuwin, too.

 


 

Setelah hari itu, Nara hampir tidak pernah lagi melangkahkan kakinya ke dapur. Phuwin lebih sering menemukan kekasihnya itu termenung sendirian di sofa ruang tengah dengan TV yang sengaja dibiarkan menyala supaya suaranya bisa jadi teman yang mengisi sunyi. 

 

Beberapa bulan ke belakang, Nara punya tiga hari dalam seminggu yang dipakai untuk belajar Braille. Phuwin sengaja memanggil jasa kursus untuk datang ke apartemen karena Nara masih enggan pergi keluar terlalu sering. 

Phuwin menatap buku Braille yang terletak di meja ruang tengah dengan dahi berkerut. Hari ini ia baru pulang melebihi jam 9 malam. Nara sudah tertidur di kamar dan Phuwin yang baru saja selesai menyeduh teh hangat, tiba-tiba saja ingin meluangkan waktu untuk mempelajari sesuatu yang baru. Buku itu terasa asing di tangannya ketika Phuwin meraihnya dan mendaratkan tubuhnya di atas sofa. 

Hampir satu jam Phuwin habiskan untuk membaca dan mempelajari hal-hal paling dasar dari Braille.

"Dot-dot-dash... dot-dot... Ah, ini susah banget," gumam Phuwin sambil mengusap matanya yang mulai lelah. Tapi setiap kali ia merasa ingin menyerah, bayangan senyuman Nara yang tulus muncul di benaknya. 

Ada banyak skenario manis dan sederhana bermain di kepala Phuwin saat nanti ia bisa menyusul Nara untuk fasih menguasai Braille. He wanted to make this small step a way to immerse himself in Nara’s new world, to understand what could help him stay resilient, and to prove that he would always keep his promise to never let him feel like he was walking alone.

 

 

Berminggu-minggu setelahnya, di suatu sore ketika beberapa teman Nara saat bekerja dulu baru saja pamit untuk pulang setelah menghabiskan hari menjenguk Nara, Phuwin meminta kekasihnya itu untuk mengikutinya berjalan ke dapur. 

“Ini kita beneran ke dapur?”

“Beneran. Pelan-pelan ya, sini aku pegangin..” 

Phuwin tahu betul bahwa Nara masih sangat was-was dan ragu semenjak kejadian hari itu. Namun, Phuwin juga sadar bahwa memasak adalah salah satu hal yang paling Nara cintai dengan tulus di sepanjang hidupnya, dan untuk mengambil itu dari Nara.. Phuwin rasanya tak akan pernah sampai hati. 

Maka, segala sesuatu yang akhirnya membuat Phuwin terinspirasi itu dimulai dari sebuah ide sederhana, dan Phuwin cukup menyesal mengapa tidak melakukan ini lebih dulu. 

“Nah, Nar... Coba kamu pegang ini, deh,” kata Phuwin sambil meraih tangan Nara dengan lembut dan menyodorkan sebuah botol kaca ke arah tangannya.

Ia memandu jempol Nara untuk menyentuh permukaan botol itu. Gerakannya perlahan, memastikan setiap titik yang timbul dapat dirasakan dengan jelas. Awalnya, Nara tampak ragu. Dahinya berkerut, mencoba memahami maksud Phuwin. Namun, ketika jari-jarinya mulai mengenali pola yang tertata dalam tanda-tanda Braille di permukaan botol, sesuatu dalam benaknya langsung berbunyi.

“Ini... Merica!” serunya dengan semangat, wajahnya tiba-tiba cerah. Ia menoleh ke arah Phuwin dengan senyum lebar, ada binar yang mulai muncul kembali di dua bola matanya. “Kamu bikin ini buat aku?”

Phuwin hanya tersenyum kecil, senang melihat reaksinya. "Gimana menurut kamu? There’s more here, Sayang..” ucapnya sambil memindahkan tangan Nara ke alat-alat lain yang juga sudah ia lengkapi dengan pola-pola Braille. Ia memulai dari yang paling sederhana: selain label di botol rempah-rempah, ada juga tombol di kompor, hingga tanda di tutup wadah bahan makanan. 

Dibantu tutorial yang ia cari online dan bimbingan komunitas lokal, proyek kecil yang Phuwin kerjakan selama kurang lebih satu minggu itu akhirnya berhasil. 

Ketika tur kecil-kecilan tentang alat-alat baru yang bisa membantu Nara selesai mereka lakukan, mereka kembali duduk di sofa. Nara menjulurkan tangannya untuk dilingkarkan ke belakang leher Phuwin, memainkan beberapa rambut-rambut kecil di belakang lehernya. “Phuwin, makasih banyak..” ucapnya. 

Nara tersenyum kecil, ada rasa hangat yang menguar dari dada dan ke seluruh tubuhnya. Sekali lagi, Phuwin membuatnya merasa begitu dimengerti dan dicintai. Dalam hatinya, Nara perlahan mengikis rasa takut akan kemungkinan kehilangan Phuwin yang beberapa waktu lalu sempat menghantui.

Namun, bagi Phuwin, ini baru langkah pertama. Ia merasa seperti menemukan kembali sosok Nara yang sempat ia pikir telah tenggelam dalam keheningan bersama impian-impiannya yang memudar. Kini, perlahan tapi pasti, ia melihat jejak semangat itu kembali bersinar. Senyum manis dan kilau lembut di matanya menjadi bukti bahwa Nara sedang menggali kembali dirinya yang penuh harapan. Phuwin tak ingin berhenti di sini. Ia ingin terus menciptakan ruang di mana Nara dapat merasa utuh dan berdaya.

 

 

Berbekal ide tersebut, Phuwin mulai bekerja sama dengan komunitas penyandang disabilitas lokal. Ia mengusulkan ide untuk membuat lokakarya memasak yang dirancang khusus bagi tunanetra dan penyandang disabilitas lainnya. Nara tentu sangat menerima ide tersebut, terlebih ketika Chef Kritsada dengan senang hati menawarkan Nara untuk mengundang komunitas penyandang disabilitas lokal yang punya bakat memasak untuk memakai main kitchen-nya sebagai tempat pelaksanaan lokakarya. 

Dalam beberapa minggu, lokakarya pertama pun digelar. Dengan bantuan chef ternama yang dulunya adalah kolega Nara, peserta diajari cara memilih bahan makanan berdasarkan aroma dan tekstur, mengenali tingkat kematangan makanan melalui bau, serta menggunakan alat bantu masak yang sudah dilengkapi Braille. Lokakarya itu tak hanya membantu para peserta belajar memasak, tapi juga memberi mereka rasa percaya diri baru.

"Masak itu bukan cuma soal melihat," kata Nara dalam salah satu pertemuan komunitas. "Kita bisa pakai indera lain—seperti mencium aroma bahan makanan, merasakan tekstur, dan mengenali rasa. Saya pernah terpuruk waktu berpikir kalau dengan keterbatasan saya, saya jadi harus meninggalkan kecintaan saya terhadap memasak. Tetapi ternyata itu bukan akhir dari segalanya. Justru, dari keterbatasan ini saya belajar melihat memasak dari sudut pandang yang berbeda. Saya sadar, memasak bukan hanya soal apa yang terlihat di mata, tapi juga bagaimana kita merasakan, mencium, bahkan mendengar bunyi-bunyi kecil yang terjadi di dapur. Dan menurut saya,  itu membuat pengalaman memasak jadi lebih hidup.."

Pengalaman itu menjadi titik balik bagi Nara, yang mulai percaya bahwa melalui usaha-usaha tersebut, mereka bisa membuat perbedaan nyata—bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk banyak orang yang membutuhkan ruang dan dukungan serupa.

 

 

Namun, misi Phuwin untuk menunjukkan bahwa rasa cinta dan sayangnya pada Nara yang tidak berubah sedikitpun belum selesai sampai di sana. Phuwin menghabiskan waktu berminggu-minggu menulis surat cinta dalam Braille. Prosesnya tidak mudah; ia harus memastikan setiap titik dan garis tercetak dengan benar. Wajah Nara yang terkejut bercampur senang selalu tergambar di kepala Phuwin selama proses pembuatan suratnya.

Pada malam yang tenang, Phuwin menyerahkan surat itu kepada Nara.

"Apa ini?" 

"Coba baca," jawab Phuwin, senyum kecil menghiasi wajahnya.

Nara mulai membaca. Jari-jarinya menelusuri setiap titik Braille di kertas itu. Tiap titik dan garis yang merangkai kata-kata itu membuat dadanya bergetar. Surat itu dipenuhi dengan ungkapan cinta Phuwin, apresiasi atas kekuatan Nara, dan janji untuk selalu ada di sampingnya, apapun yang terjadi.

Saat Nara selesai membaca, air mata mengalir di pipinya. 

"Kenapa kamu seberusaha ini untuk aku sih, Phu?" suaranya bergetar saat bertanya.

"Karena aku yakin kalau kamu layak untuk selalu diusahakan, Nara.” Phuwin menangkup kedua pipi Nara dan mencoba menghapus bulir-bulir air mata yang berjatuhan di sana. “So, please, don’t ever feel like you're unworthy of being cared for. Ada alasan kenapa Tuhan bawa kita untuk saling ketemu, Nara. Dan menurutku, salah satu alasannya adalah so you don’t have to carry the weight of looking after yourself alone anymore, because now, I’m here. And will always be.

 


 

Setelah perjalanan panjang yang penuh lika-liku, Nara perlahan-lahan mulai menemukan kembali semangatnya. Hari-hari gelap yang dulu begitu membelenggu kini mulai tergantikan oleh cahaya-cahaya baru yang sudah dipersilakan menyelinap melalui celah-celah kecil yang sebelumnya ditutup rapat. 

Nara semakin nyaman untuk berinteraksi ke luar zona nyamannya, bahkan sesekali mengunjung gedung main kitchen untuk menghadiri acara-acara tertentu yang digelar oleh koleganya terdahulu. Tidur malamnya pun jauh lebih nyenyak, tanpa gangguan mimpi buruk yang dulu tak pernah berhenti membayang-bayangi tiap ia memejamkan mata.

Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang terkadang masih mengusik hati Nara. Ia sadar bahwa, terutama selama mereka beradaptasi dengan segala perubahan yang timbul sejak Nara kehilangan penglihatannya, ada jarak tak kasat mata antara dirinya dan Phuwin dalam hal berbagi keintiman. Kehilangan penglihatan membuat Nara merasa asing terhadap sentuhan-sentuhan fisik, sesuatu yang dulu menjadi hal paling alami untuk mereka bagi. Kini, ia sering merasa ragu setiap kali Phuwin mencoba mendekatkan dirinya melalui pelukan atau sekadar menggenggam tangan, bahkan sesekali menghindar karena terkejut duluan. 

Nara tidak ingin terus seperti ini. Lambat laun, jika mereka tak mencoba membicarakannya, ia yakin pasti akan menimbulkan masalah baru. Dan Nara juga tahu, bagaimana Phuwin selalu berusaha begitu keras untuk membuatnya merasa dicintai. Nara percaya itu, maka untuk hal yang satu ini pun, Nara sudah memutuskan untuk tak lagi menahan kata-kata itu di dasar tenggorokan. 

Suatu malam, saat mereka sedang duduk berdua di sofa ruang tamu, Nara mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara. “Phu,” panggilnya pelan.

“Hm?” Phuwin menoleh,  memberikan perhatian penuhnya pada sang kekasih. 

“Aku ngerasa.. aku masih punya banyak hal yang harus aku pelajari. Tentang kita.”

Phuwin mengernyitkan dahi, mencoba memahami maksud Nara. “Gimana maksudnya, Sayang?”

“Sejak aku.. kayak gini, aku merasa ada bagian dari dari kita yang hilang. Bukan, bukan tentang cinta atau sayangnya.. Cuma aku suka mikir aja, apakah cukup dengan aku yang kayak gini bikin kamu ngerasa.. dibutuhkan? Maksudnya, dari sisi.. intimacy.” Nara membuka percakapannya dengan tenang. Phuwin juga sudah bisa menangkap darimana topik ini berangkat, dan ia mengerti. 

Maka ia berikan kesempatan untuk Nara melanjutkan ucapannya.  “You see how sometimes I always flinch at the slightest of your touch? Dulu, nggak pernah kayak gitu. Tapi karena sekarang aku hanya bisa ngerasain lewat sentuhan, semuanya jadi lebih asing dan sensitif. Kadang aku merasa bersalah kalau aku refleks kayak gitu. I don’t want to make you feel rejected.” 

“Aku… aku mau belajar lagi, Phu. Belajar ngenalin tiap bentuk afeksi dan intimasi. Belajar semua tentang diriku sendiri.” 

Phuwin’s smile softened, a gentle warmth spreading across his face as he felt a wave of tenderness wash over him. The thought of Nara dwelling so deeply on things that, in his eyes, didn’t need such heavy contemplation made his chest tighten—not with frustration, but with an overwhelming desire to ease his worries. 

Phuwin mengulurkan tangannya untuk menggenggam milik Nara. “If that’s how you feel,” ucapnya, his voice steady yet brimming with quiet emotion, “then we’ll start over. Together.”

 

 

Malam itu, saat keduanya berbaring di atas kasur dan bersiap untuk tidur, Phuwin memulai dengan hal yang sederhana. 

Ia menggenggam tangan Nara, membimbing jemarinya untuk merasakan kehangatan yang mengalir di antara mereka. “Ini cara aku genggam tangan kamu, Nar,” ujarnya lembut. “Tiap aku genggam kayak gini, artinya aku mau mastiin kalau kamu baik-baik aja. Mau transfer energi yang nyaman dan tenang untuk kamu sekaligus nyampein kalau aku bakalan temenin kamu terus.”

Nara tersenyum kecil, meski hatinya masih diliputi kecanggungan. Ia menggenggam tangan Phuwin lebih erat, mencoba meresapi kehangatan itu.

Selanjutnya, Phuwin meraih Nara dalam pelukannya. “And this is how I hug you,” katanya sambil mendekap Nara dengan penuh kasih. “Pelukan ini adalah caraku bilang kalau aku nggak akan pernah pergi ke mana pun. Aku akan selalu ada di sini, jadi sandaran kamu kapanpun kamu butuh.”

Nara memejamkan matanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan itu. 

Lalu, dengan lembut, Phuwin menangkup wajah Nara, ibu jarinya menyentuh lembut pipinya. “Dan ini…” katanya sebelum mengecup kening Nara. “Ini ciuman aku di kening kamu. Setiap kali aku cium kamu, aku mau kamu tahu kalau aku selalu suka dan cinta sama setiap bagian dari diri kamu, Nara. Bahkan bagian yang kamu pikir nggak layak dicintai.”

Phuwin berhenti sejenak, kemudian menyentuh bagian bawah mata kiri Nara. “And to remind you, I love your mole over here,” katanya dengan nada bercanda tapi penuh kasih. Nara turut mengulas senyuman lembut di wajahnya. 

Selanjutnya, Phuwin membawa jarinya untuk menelusuri garis bibir Nara, berhenti ketika bantalan jempolnya sudah menyapa bilah bibir bawah Nara. “Terus bibir kamu.. Aku selalu suka caranya bentuk senyuman.”

Nara tertawa kecil, perasaan canggungnya mulai memudar. “Suka senyumannya doang?” tanyanya.

“Heheheh,” Phuwin tertawa ringan. “Nggak, dong. I love kissing them, too..” lanjutnya.

Dalam kepala Nara, ia bisa membayangkan senyuman lebar Phuwin selagi kekasihnya mengatakan hal tadi. Ia membawa telapak tangannya untuk menangkup pipi kanan Phuwin, kemudian menariknya mendekat sambil memejamkan kedua mata.

Nara menghitung di dalam hati, satu sampai empat, sampai akhirnya lembut dari bibir mereka bertemu. Phuwin menciumnya dengan lembut, dan di sela-sela pagutannya, ia berbisik, “And this is how I kiss you softly..” 

 

 

Malam itu berakhir dengan percakapan manis di antara mereka. 

“Phu, kamu nggak pernah capek, ya? Yakinin aku terus?”

Phuwin tertawa kecil, mengusap kepala Nara. “Capek? Sama sekali nggak. Kalau itu buat kamu, aku nggak pernah merasa itu beban. Kamu itu worth it, Nar.”

Nara terdiam sesaat, mencoba mencerna kata-kata itu. “Aku selalu takut kalau aku nggak cukup buat kamu. Aku takut kamu capek sama aku.”

Phuwin menggeleng, menatap Nara dengan penuh kesungguhan. “Dengerin ya, Nara. Cinta itu nggak pernah soal siapa yang cukup buat siapa. Cinta itu soal menerima, soal ada untuk satu sama lain, bahkan di saat-saat paling sulit. Aku di sini bukan karena aku merasa harus. Aku di sini karena aku mau. Aku mau jadi orang yang selalu ada buat kamu, apapun yang terjadi.”

Nara merasa matanya kembali memanas, karena air matanya sudah berkumpul di pelupuk. Ia meraih tangan Phuwin, menggenggamnya erat. “Makasih, Phu. Aku nggak tahu gimana cara aku balas semua yang udah kamu kasih ke aku.”

Phuwin tersenyum, mengecup tangan Nara. “Kamu nggak perlu balas apa-apa, Nar. Cukup kamu percaya sama aku, itu udah cukup buat aku.”

Nara terdiam dalam dekapan Phuwin yang erat. Di dalam benaknya, Nara meminta maaf pada dirinya sendiri karena pernah meragukan dirinya begitu dalam sementara bersamanya, ada manusia lain yang begitu percaya bahwa ia layak untuk dicintai, tak peduli secompang-camping apa kepercayaan dirinya saat ini dan seberapa besar bagian dirinya yang direnggut semesta. 

Melalui pelukan yang mereka bagi, Phuwin seakan menyampaikan bahwa bahkan dengan keterbatasannya, Nara masih dan selalu akan layak untuk diselimuti cinta yang tak terbatas. 

Malam itu, Nara menulis kesimpulan di dalam hatinya tentang cinta tanpa syarat yang ternyata bukanlah konsep yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Cinta itu nyata, dan cinta itu adalah mereka.

 


 

Notes:

thank you for reading, i hope this story offers a meaningful perspective. i appreciate any kind of constructive feedback! xo

Series this work belongs to: