Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
Winter Serenade Plave Fic Fest 2024
Stats:
Published:
2024-12-21
Completed:
2024-12-21
Words:
8,870
Chapters:
7/7
Comments:
23
Kudos:
67
Bookmarks:
4
Hits:
573

a transient rainbow (it must be a bridge to you)

Summary:

Nam Yejun tidak pernah menemukan warna-warni melekat di sudut mana pun hidupnya. Tidak sampai pertemuan tanpa sengaja dengan seseorang tak terduga di bandara. Dalam sekejap, seisi dunianya yang hitam-putih menjadi terlihat semarak.

 

[Ditulis untuk Winter Serenade Plave Fic Fest 2024 | Nomor prompt #46]

Notes:

PLAVE belongs to VLAST. This is only a work of fiction, solely a non-profit fan work.

Dear prompter, I found your prompt beautiful, but I didn't do it justice at all. (T__T) Jadi mohon maaf di atas meterai apabila enggak sesuai ekspektasi (nangis). Still, I hope you can enjoy it even just a little bit. Happy reading.

Chapter 1: Merah

Chapter Text

 

 

 

“Rambutmu dan matamu, memiliki warna biru, seperti samudra lepas. Tempat air dari seluruh dunia berkumpul.”  

Nam Yejun mengingat kata-kata ibunya. Diucapkan terus berulang sejak dia masih anak-anak. Baginya, itu tidak berarti apa-apa. Mencoba menangkap persepsi ‘biru’ tak ubahnya berhalusinasi.  

Dunianya seumpama kanvas luntur diguyur hujan. Pigmen-pigmen tersapu, menyisakan permukaannya yang putih dan campuran warna yang menghitam. Langit Yejun tak pernah biru. Dedaunan di halaman rumahnya tak pernah hijau. Mataharinya tak pernah kuning berkilau seperti milik orang-orang.  

“Aduh, bajumu merah kena darah.” Bibi tetangga depan rumah pernah menolongnya sewaktu dia jatuh dari sepeda pada usia lima. Saat pandangan Yejun turun ke arah noda yang ditunjuk, dia bahkan tak melihat merah pada darahnya sendiri. 

Banyak tanda menyadarkannya bahwa dia tidak akan pernah menemukan warna-warni melekat di sudut mana pun hidupnya. 

“Kenapa gunungmu warna merah?”  

“Sungai, kok, warna ungu?”  

“Ranting pohon apaan yang warnanya kuning?”  

“Lihat, deh, gambar Yejun. Mataharinya gelap kayak batu kali.” 

Pilihan warna pada gambar buatannya dianggap tidak lazim oleh teman-teman sekelas. Yejun tidak paham di mana letak salahnya. Batang-batang krayon dalam kotak itu semua terlihat mirip. Dia benar-benar bertaruh saja, mengambil acak dari setiap lajur. 

Menggambar ialah salah satu kegiatan kelas yang dia gemari, tetapi komentar-komentar itu membuatnya berkecil hati.  

“Jangan khawatir, Sayang.” Suara ibunya yang menenangkan mengalun di tengah gerutup mesin jahit. “Kamu tidak perlu melihatnya untuk bisa memiliki pengetahuan tentangnya.” 

Ibunya seorang perancang busana. Setiap hari berkutat dengan gulungan kain dan kelindan benang penuh warna. Seiring putranya bertambah usia, dia mulai memperdengarkan impresi berbagai warna kepadanya.  

Cokelat khaki dan krem merupakan warna hangat yang tak pernah salah. Biru yang selembut langit dapat dipakai pada musim semi dan panas. Merah manyala membuat orang terlihat sensual dan percaya diri. Hijau membawa ilusi kesegaran tiada tara. Bahkan multiwarna mendatangkan keceriaan serta kebahagiaan, seperti pada es krim rasa permen karet atau taburan konfeti Tahun Baru. 

Perlahan-lahan, Yejun berdamai dengan keadaan. Keistimewaannya diterima dan direngkuh dengan lapang dada. Toh, hitam-putih-kelabu bukan warna buruk. Ketiganya merupakan warna netral yang juga cocok dipadupadankan dengan warna apa pun (sudah tentu dari ibunya dia mendapat doktrin demikian).  

Begitu menginjak usia dewasa, Yejun tidak lagi terlalu peduli. Jauh-jauh dia membuang rasa iri terhadap kisah-kisah yang melibatkan warna-warni. Karier sebagai guru piano menjadi pilihan. Alasannya sederhana, sekaligus melankolis. Katanya, hitam-putih dunianya terepresentasikan pada bilah-bilah tuts. 

Bermusik tidak butuh banyak warna. Menurutnya, buta sekalipun, orang tetap bisa mencipta dan meraih nada-nada. 

 

 

“Pak Guru, kakekku akan berkunjung minggu depan.” Kim Bomin, murid yang Yejun tangani kali ini ialah gadis 14 tahun yang sedang mempersiapkan resital pertamanya. 

“Wah, yang benar? Ikut senang mendengarnya. Aku ingat, tempo hari kamu bilang kangen padanya, ‘kan?” Yejun menanggapi dengan ramah. “Kakekmu umur berapa, kalau boleh tahu?” 

“Enam puluh tujuh, tapi kakekku masih terhitung bugar untuk orang seumurannya. Bulan lalu saja katanya masih ikut kelas dansa.” 

“Wow, kelihatannya beliau aktif sekali.” 

“Ya, karena itu aku berencana menghadiahinya set sarung tangan dan syal rajut. Mana yang menurut Pak Guru lebih bagus, antara warna khaki dan biru kelasi?” 

Yejun terdiam sejenak. Detik-detik bergulir mengawali jawaban. “Warna yang mana pun, menurutku bagus dan pasti akan cocok untuknya.” 

“Oh, ayolah. Bantu aku, Pak. Pilihkan satu warna untukku. Aku akan merasa tersanjung jika pendapat itu datang darimu.” 

Perihal warna bukan lagi topik sensitif yang mengganggu. Yejun sudah kebal. Namun, adakalanya situasi tertentu memaksanya bersandiwara.  

Pandangan Yejun beralih ke jendela. Musim dingin telah menjejakkan kehadirannya. Ranting pepohonan telah meranggas. Pepagan mengering, seperti hampir mengelupas. Salju pertama turun sekitar dua jam lalu, meninggalkan aroma akuatik yang terhidu.  

Wangi air tiba-tiba menyelinap ke dalam ruangan, dan terasa mengambang di sekelilingnya. 

Air, yang disebut-sebut berwarna biru. 

“Baiklah. Aku pilih biru.”  

“Ah, tentu saja, seperti rambutmu.” 

“Ya, seperti rambutku.” Senyum Yejun mengembang, mengagumi biru yang laksana fatamorgana, yang baginya hanyalah khayalan semata. 

Saat rehat, sementara Yejun menyesap teh yang disuguhkan, dia membiarkan Bomin memainkan karya kegemarannya sesuka hati. Melodi yang tidak familier mengalun, diikuti suara nyanyian muridnya yang ternyata cukup merdu. Yejun menunggunya hingga dia menyelesaikan permainannya. 

“Lagu apa itu, yang baru saja kamu mainkan?” 

“Masa Pak Guru enggak tahu? Lagu idola ini lagi lumayan sering diputar di radio, lo.” 

“Maaf, aku memang agak kuno.” Yejun cengengesan sembari menggaruk rahang. “Kurang mengikuti musik idola dan perkembangannya, tapi yang tadi terdengar bagus.” 

“Pak Guru suka? Pinjamkan ponselmu padaku. Biar aku masukkan ke dalam playlist aplikasi musikmu.” 

Basa-basinya diseriusi. Yejun tak menyangka. Demi menjaga perasaan Bomin yang telanjur antusias, dia mengizinkannya.     

 

 

Yejun tertegun beberapa saat. Bagaimana tidak, Han Noah, sahabatnya, ujug-ujug bertamu dan bercerita bahwa dia telah berjumpa belahan jiwanya. Kabar tersebut sama membikin merindingnya dengan sapuan angin musim dingin yang membekukan.

Wajah Noah berseri-seri manakala menuturkan kronologi pertemuan, serta mendeskripsikan ikatan pita jodohnya yang berwarna emas dan perak. Katanya, kedua warna itu berpadu sangat indah bak kilau perhiasan. Kebahagiaan Noah tidak dapat ditutupi. Mendengar ceritanya seolah-olah ikut menyaksikan kembang-kembang asmara bermekaran tepat di depan mata. 

Meskipun dunia Noah sejak awal telah berwarna, Yejun yakin, sensasi menemukan-ditemukan itu membuat dunianya semakin cemerlang dari yang sudah-sudah. 

Dan Yejun tidak pernah merasa iri sampai hari itu. 

Pita jodoh seperti yang Noah dan belahan jiwanya miliki, bagaimana bentuk serta warnanya, dia tidak berani bahkan sekadar membayangkannya. 

 

 

Salju turun tipis-tipis siang itu. Yejun memasuki kafe demi segelas amerikano hangat dan memilih duduk dekat jendela. Dipandanginya likuid kafeina yang sesekali beriak akibat guncangan tangan. Warnanya gelap apa adanya, tidak menipu. Salah satu alasan mengapa dia menjadikan kopi sebagai minuman yang menyamankan hati.     

Kafe memutar lagu-lagu secara acak. Pikiran Yejun terpecah begitu mendengar intro yang pernah mampir di telinganya belum lama ini. Pada nyanyian bait pertama, ceceran ingatannya pun terkumpul. Lagu itu adalah lagu yang dimainkan oleh Bomin beberapa hari silam. 

 

Jika aku terus mencari bahkan di dalam mimpiku
Akankah kutemukan jawaban?
Meski saat ini tidak ada yang bisa kulakukan, tidak ada yang bisa kugapai
Aku mencoba hidup sepenuh mungkin dan percaya semampunya
Itu sudah cukup

 

Ah, lirik semacam ini … seperti meniupkan semilir asa untuk orang-orang yang tak memilikinya. 

Orang seperti dirinya.

Selama ini, daya tarik Yejun terhadap sebuah musik, murni datang dan tersaring melalui telinga. Sebagai seseorang yang menyandang penglihatan istimewa, apa-apa terkait visual bukanlah hal esensial baginya. Karenanya, tak jarang dia melewatkan detail-detail tertentu seperti nama atau wajah. 

Entah mengapa kali ini seperti ada keinginan kuat untuk tidak mengabaikannya. 

Telunjuk Yejun menggambar pola kunci ponsel, mencari lagu yang ditambahkan terakhir kali di daftar putar musiknya. Matanya kemudian menangkap nama signifikan. 

Chae Bamby

Mulai detik ini, dia akan mengingatnya baik-baik. 

 

❆ 

 

Sekembalinya dari mengambil cuti liburan ke pulau tropis selama empat hari, Yejun mendapati dirinya tenggelam di tengah-tengah kesibukan bandara. Manusia lalu-lalang, dilatari kumandang pengumuman dari pelantang. Arus kelimun di hadapannya terlihat bagaikan perpindahan buah-buah catur. Salah satu dari banyak benda—selain tuts piano—yang berdasarkan penuturan ibunya berwarna hitam-putih secara harfiah. Warna yang sebenar-benarnya, bukan yang hilang dari penglihatannya. 

Yejun mengambil bagasi dari konveyor dan menggeretnya menuju pintu kedatangan. Keriuhan massa yang menyambutnya di luar sangat mengejutkan. Perempuan-perempuan muda berjajar tertib, masing-masing memegang spanduk kecil dengan slogan bertuliskan ‘Semua akan baik-baik saja’ dan ‘Kami selalu bersamamu’.  

“Tolong beri jalan.” 

Yejun terperanjat. Sekumpulan pria berpostur tinggi gempal dengan formasi mengelilingi seseorang memaksanya untuk menyamping. Kehadiran mereka sontak menimbulkan kegaduhan. Jeritan melengking bersahut-sahutan, mengelu-elukan nama yang tak mampu dia tangkap. Pergerakan rusuh rombongan itu mengakibatkan koper Yejun tak sengaja tertendang hingga jatuh tergeletak.  

“Hei! Hati-hati, dong.” Dalam ingar-bingar, Yejun tahu suaranya takkan mencapai siapa pun. Sembari menggerutu, dia membungkuk meraih handel koper. 

“Ah, maafkan kami. Anda baik saja-saja?” Sesosok pemuda menyelusup dari sela-sela barikade manusia itu. “Mari saya bantu.” 

“Tidak perlu.” Yejun sudah mendirikan kopernya dan menegapkan badan begitu pemuda itu tiba di sisinya. “Lain kali, tolong jangan—” 

Suara dan pergerakannya terhenti saat itu juga, diperangkap sepasang mata besar yang memesona. Seluruh dunia Yejun mendadak bagai berpusat di satu titik. Tampaknya bukan hanya dia yang merasa, pemuda itu pun mematung tatkala tatapan mereka bertumbuk. Pandangan Yejun tetiba memburam. Dia mengerjap-ngerjap sampai berhasil meraih kejernihan. 

Aneh. Ini terlampau jernih.  

Sesuatu memercik, terpantik dari iris pemuda itu, lalu menjalar ke rambutnya. Segera saja, percikan-percikan kecil berubah menjadi letusan dahsyat. Jejak-jejak letusan tersebut berpencaran secara menyeluruh seperti tumpahan cat, memenuhi pandangannya dengan pesat hingga tak lagi bernuansa akromatik.  

Yejun membelalak. Dalam sekejap, seisi dunianya terlihat semarak. Dia seperti ditarik ke ujung langit, kemudian dihempaskan ke semesta yang berbeda. Pemandangan sekelilingnya sungguh memukau sekaligus menakutkan pada waktu bersamaan. 

Seutas pita berpendar muncul dan terulur, berkelindan melilit pergelangan tangan kirinya dan tangan kanan pemuda itu. Pigmennya kompleks bercampur aduk, juga teramat terang. Mata Yejun dilimpahi oleh warna-warni asing yang tidak pernah dijumpai sepanjang hidupnya.   

Kelewat lewah, dia tidak sanggup menerimanya dalam sekali hantam, tidak sanggup memproses semua untuk mengetahui apa yang sebenarnya tengah terjadi. 

Pelupuknya terpaksa memejam. 

“Nama.” Suara terdengar dekat. Yejun terkejut, matanya kembali terbuka cepat. Pergelangan tangannya sudah berada dalam cengkeraman seseorang. “Aku butuh namamu. Cepat, sekarang. Waktuku tidak banyak.” 

“Oh? Ye—Yejun.” Dia terbata-bata, gugup karena tiba-tiba ditodong untuk membagi identitas. “Nam Yejun.”  

“Tunggu, ya. Aku akan menemukanmu.”

Pemuda itu ditarik pergi oleh pria-pria jangkung yang menawan tubuhnya. Kerumunan berteriak lebih keras ketika rombongan itu melewati mereka. Nama yang mereka teriakkan, sekarang Yejun mampu menangkapnya dengan amat jelas. 

Beberapa detik habis untuk Yejun tersadar. Tubuhnya menegang dan mulutnya menganga.

 

Chae Bamby?!

 

❆❆❆