Work Text:
"... Lama tidak berjumpa."
Gadis yang terbaring di tempat tidur itu menoleh dan melihat seorang pemuda berdiri di pintu dengan wajah serius seperti biasa.
Subaru!
Gadis itu merekahkan senyuman, kehadiran Subaru menjadi satu hal yang bisa mengukir senyum lebar di wajahnya. Ia menikmati kebersamaan sang pemuda walau hanya sebentar. Jika Subaru datang, ia seperti lupa bahwa dirinya tengah berjuang melawan sakit yang kian menggerogoti sistem sarafnya. Bagi perempuan itu, kehadiran Subaru merupakan bentuk dari sebuah kebahagiaan dan rasa syukur.
"Di luar sedang turun salju," ujar Subaru yang mulai duduk di samping ranjangnya. Laki-laki itu meletakkan sebuah buket bunga di atas nakas sang gadis. Aster putih.
"Ya," dengan tangan bergetar, sang gadis menjawab dengan menunjuk huruf-huruf pada papan alfabet yang kini menjadi alat komunikasinya. "Terima kasih untuk bunganya. Aster putih yang cantik."
Subaru tersenyum tipis, tapi Taiyou tersenyum lebar. Sang gadis merasakan kehangatan yang menjalar ketika melihat laki-laki itu menunjukkan emosinya, sekecil apapun, seakan-akan tidak ada yang salah dengan dunia yang semrawut ini.
"Subaru, aku sudah tidak bisa berjalan," tulis Taiyou, "tetapi aku masih berharap kita bisa mengunjungi suatu tempat lagi seperti dulu."
Wajah laki-laki itu melembut, "Tentu saja."
Senyum Taiyou lagi-lagi mengembang, walau Taiyou tahu hari itu tak akan pernah datang.
"Subaru, kenapa hari ini kamu menjengukku?"
"... Karena aku ingin melihatmu." jawabnya seraya meletakkan sebuah kartu pos yang ditulis oleh seorang kerabat untuk Taiyou.
"Terima kasih, Subaru..." bulir-bulir air mata Taiyou jatuh tanpa bisa ia bendung. "Terima kasih sudah bersamaku, terima kasih sudah mencintaiku meskipun aku dalam keadaan seperti ini."
Laki-laki itu hanya mengangguk dan tampak menahan desak air di sudut mata.
Subaru, kenapa penyakit ini memilihku?
Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Hancur hati membayangkan kesakitan demi kesakitan yang Taiyou lalui. Bagaimana penyakit itu menghancurleburkan kekuatan dan semangat yang pernah Subaru lihat berkilat hidup di mata Taiyou... penyakit sialan yang bahkan merenggut motorik dasar dan kemampuan berbicaranya. Betapa Subaru merindukan gelak tawa dan celoteh-celoteh berisik sang gadis. Subaru sendiri tidak tahu berapa banyak air mata yang tumpah dalam kesendiriannya.
Dan kini laki-laki itu sadar bahwa ia tidak hanya menyukai sang gadis...
Ia mencintainya.
Subaru mencintai Taiyou.
Takaya Subaru mencintai Haruno Taiyou.
Seperti namanya, Taiyouーmatahari, yang senantiasa membawa kehangatan bagi siapa saja yang berada di dekatnya. Taiyou selalu memiliki cara-cara istimewa untuk membuat orang-orang di sekitarnya melengkungkan sebuah senyuman. Gadis dengan kepribadian paling manis dan hangat yang pernah Subaru temui dalam hidupnya. Perempuan yang menggoreskan banyak warna dalam hidup Subaru.
"Apakah boleh jika aku mengatakannya?"
Taiyou mengangguk.
"Kamu tahu... aku menyukaimu, tapi aku sudah pernah bilang padamu, kan?"
Taiyou mengangguk lagi, kali ini pipinya sedikit merona. Cahaya matahari yang berpendar lembut melalui jendela bangsal menambah kilau pada rona merah yang tak bisa Taiyou sembunyikan. Ia juga menyukai Subaru, mungkin lebih dari yang Subaru rasakan.
"Aku..." Subaru menarik napasnya. "Apakah kamu keberatan jika aku... menciummu?"
Taiyou meletakkan papan alfabet itu, ia tidak tahu respon apa yang harus disampaikan. Apakah boleh? Ia merindukan Subaru. Ia menginginkan Subaru untuk selalu berada di sampingnya. Amat sangat. Gadis itu ingin Subaru memeluknya erat dan tidak pernah melepasnya. Dan soal ciuman, ia sudah lama mendambakan hal ini. Uh-huh.
"Taiyou?"
Gadis itu menatapnya, ingin sekali ia berkata "ciumlah aku" walau tidak akan mungkin. Jadi Taiyou mencoba menyampaikan pesan itu lewat matanya, berharap Subaru mengerti. Dahulu, setiap kali pasang mata mereka bertemu, Taiyou akan menatap Subaru lama dan sesekali bergumam, "Subaru, aku ingin merasakan itu juga...!" dalam hati, namun kalimat itu tak pernah terdengar keluar dari kedua belah bibirnya.
Taiyou memiliki firasat bahwa ini mungkin adalah kesempatan terakhirnya.
Kemudian ia melihat laki-laki itu mendekat. Wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Subaru. Subaru tampak ragu-ragu, mungkin takut akan menyakiti. Tanpa sepatah kata terucap, akhirnya bibir Subaru menyentuh bibir sang gadis begitu lembut. Bibir yang bertemu dengan perlahan dan tanpa terburu-buru, mengungkapkan perasaan yang dalam tanpa kata. Taiyou menutup matanya, ia merasakan kehangatan yang tak tergantikan, seolah rasa sakit yang menghujani tubuhnya menghilang Ia ingin waktu untuk segera berhenti, berharap momen itu bisa berlangsung selamanya, dan tanpa disadari air mata si gadis mengalir di kedua pipi.
Tuhan. Aku tahu waktuku di sini akan segera berakhir, maka izinkan aku untuk selalu bersama Subaru sampai hari terakhirku di dunia ini tiba.
Selang beberapa saat, Subaru melepaskan ciuman itu. Wajahnya masih berada dalam jarak dekat dari wajah Taiyou. Kemudian ia kembali ke kursinya dengan wajah merah karena apa yang baru saja dilakukan. Taiyou juga tampak memerah, semerah helai-helai rambutnya, dan Subaru bisa melihat jejak air mata yang tertinggal di pipinya.
"Kenapa kamu menangis? Sakit, ya?"
Taiyou tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia mengambil papan alfabet itu dan mulai menunjuk huruf-huruf di atasnya.
"Aku bahagia. Terima kasih, Subaru."
Subaru tersenyum dengan taraf kepuasan yang sama, dan waktu di sore itu berlalu begitu cepat. Subaru terus berbicara tentang apa saja yang bisa membuat Taiyou bahagia, lalu Subaru akan terdiam setiap kali Taiyou mulai menunjuk huruf-huruf pada papan; yang menjadi respon Taiyou atas kalimat-kalimat yang Subaru lontarkan. Sebuah cara yang mengulur begitu banyak waktu untuk melakukan percakapan, namun Subaru tak pernah mengeluh.
Ketika malam tiba, Subaru segera beranjak untuk pulang. Ia menggenggam tangan Taiyou sebelum pergi, dan tanpa sedikit pun rasa ragu, ia membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Cukup lama. Tak ada kalimat-kalimat penenang dan sepatah kata yang keluar, mereka berbicara dengan bahasa yang tak terucapーdengan hati yang saling bertaut.
"Aku akan kembali besok, bahkan aku akan membawa salju untukmu, kalau kamu mau."
Taiyou mengangguk dan menatap Subaru untuk beberapa saat. Ketika laki-laki itu berbalik untuk pergi dan mengucapkan salam pamit, Subaru merasakan sebuah genggaman yang tidak sepenuhnya kuat meraih tangannya, seperti menahan Subaru untuk beranjak. Genggaman tangan Taiyou.
"Ada apa?"
Taiyou menunjuk beberapa huruf pada papan alfabet, dan wajah Subaru kembali menghangat sebelum ia sempat menjawab. Subaru mendekatkan wajahnya ke telinga sang gadis dan berbisik...
"Aku juga mencintaimu, Taiyou."
