Work Text:
Senin. Hari senin. Anton benci hari senin, karena itu tanda dari akhir hari liburnya. Minggu kemarin Papa dan Papinya mengajak Anton ke kebun binatang, itu menyenangkan. Jadi, kenapa pagi ini Anton sudah harus bangun dan berangkat ke taman kanak-kanak?
“Adek.. Sayang, bangun loh udah jam setengah 8. Nanti dicariin sama pak guru, sama temen-temenmu.” Oh! Tapi, Anton jadi bersemangat kalau mengingat akan bertemu teman-temannya.
Anton segera membuka matanya dan menempel seperti koala pada sang Papi yang bangunkan Anton di senin pagi menyebalkan ini.
Sang Papi—Jungwoo, menggendong Anton untuk keluar dari kamarnya. Anton sudah pisah kamar dari orang tuanya walau terkadang masih menyelinap untuk tidur di tengah-tengah keduanya, mereka tidak masalah tapi selalu akan coba disiplinkan sang anak.
Ketika keluar, Anton dan sang Papi berpapasan dengan sang Papa—Sungchan, yang juga keluar dari kamar utama. Sungchan ambil alih Anton yang masih memejamkan mata digendongan Jungwoo, “Sini aku mandiin."
Jungwoo menganggukkan kepalanya, “Aku siapin sarapan dulu. Kamu sekalian siap-siap sama si adek ya?”
Sungchan menganggukkan kepalanya sebelum memegang pipi anaknya. Sungchan gemar sekali mencubit pelan pipi Anton. Itu tidak sakit, tapi sedikit menyebalkan untuk si kecil. Jadi, sekarang begitu Sungchan mainkan pipinya seperti squishy, Anton yang masih mengantuk itu membuka mata beratnya dan menatap Papanya malas—keinginan untuk menggigit Papanya menjadi begitu besar. “AW! Sakit, deeek.” dan hanya berjeda sepersekian detik, pikiran impulsifnya itu menang.
Teriakan sang Papa buat Anton tertawa, pikirnya ia menang sebelum sang Papa semakin mendekapnya dan menyerbu pipinya dengan seribu ciuman sembari berjalan ke kamar mandi. Untuk Papanya jelas saja itu perkara mudah, tubuhnya sudah terkekang pula digendongan tubuh besar Papanya. “AKHH—PAPIII!!” jadi, teriakan memanggil Papinya adalah cara satu-satunya.
“Papa!! Adeknya jangan digangguin terus! Udah mau jam 8!” kan. Itu satu-satunya cara. Sungchan yang diteriaki begitu menatap Anton tidak percaya sebelum Sungchan menjepit pipi Anton dengan jemarinya pelan, membuat bibir sang anak mengerucut, “Kamu yaaa..” Anton hanya terkekeh lucu, merasa menang.
Anton sebenarnya bukan anak yang rewel, dia penurut dan lembut. Dia punya cara sendiri untuk membuat orang disekitarnya bahagia.
Begitu selesai mandi Anton bermain di ruang tengah, di sana ada rak berisikan mainan milik Anton yang tentu saja harus selalu dirapikan ketika habis main.
“Adek, bekalnya Papi taruh di tas makan ya.” Anton terkadang malas menyantap bekalnya, tapi, selalu diingatkan oleh guru yang bertugas. Seperti biasa halnya anak kecil, mereka lebih memilih untuk bermain daripada makan.
Anton hanya balas mengangguk sebelum Papanya yang sedang ikut bantu menata meja makan untuk sarapan menatap Anton yang sedang bermain di ruang tamu, “Kalo diajak bicara, sopannya kamu ngapain, Anton?”
Anton yang sedang serius memilih mainan untuk dibawa ke taman kanak-kanaknya itu menoleh, “Tatap lawan bicawaa..”
“Lalu, harus dijawab? Kalo gak dijawab?”
“Nwat nwaice.” (Not nice.)
Sungchan menganggukkan kepalanya, “Good. Papi ngomong sama kamu ‘kan tadi? Terusss dijawabnya apa?”
Seperti ada bohlam di kepala Anton ketika mendengar ucapan Sungchan. Ucapan Sungchan tidak ketus walau ada penekanan kata di sana. Anton tinggalkan mainan di tangannya dan segera beranjak untuk menghampiri orang tuanya. “Iya, Papi. Dede dengew.”
Sungchan berjongkok untuk menatap Anton yang berdiri di setelahnya, “Good boy, adeeek.” lalu Sungchan bawa Anton untuk di gendong.
“Okay, adeekk. Pinternya..” Jungwoo taruh mangkuk berisikan cereal untuk Anton sebelum usap kepala sang anak yang sedang di gendong oleh suaminya.
“Papi, I wan to bwing my toy..” Anton yang sudah duduk di kursi meja makan menunjuk mainannya yang tadi ia tinggalkan, tergeletak di ruang tengah.
“Mainan? Sir Benny bilang boleh bawa berapa mainan, sayang?” tanya Jungwoo sembari menyuapi Anton cerealnya. Kalau tidak begitu Anton tidak akan menyentuh makanannya.
“Mmm, two? Siw biwang jangan banyak bawa.. Hiwang.” ujarnya setelah menelan cereal yang sang Papi suapi.
“Okay, kalo gitu pilih dua mainannya.”
“Owkaay.” Anton mengangguk dan kembali menyuap cerealnya.
“Coba makan sendiri bisa, adekk?” Jungwoo mengusap bibir Anton dengan tisu. Anton menganggukkan kepalanya, “Yup, I goodboi.”
“Good job, adek.” Jungwoo mengusap rambut Anton pelan.
Sungchan yang sedang menikmati sarapannya menganggukan kepalanya menunjukan kalau ia menikmati sarapannya, “Ini enak.” Sungchan menunjuk nasi tim ayam yang Jungwoo buat.
Sungchan tatap Jungwoo yang masih menatap Anton yang sibuk dengan cerealnya. Jadi, Sungchan bawa sendoknya untuk menyuapi Jungwoo karena suaminya belum menyentuh sarapannya sama sekali. Sungchan cukup yakin suaminya tidak akan makan sebelum Anton selesai makan, Sungchan ingin mereka makan bersama.
Jungwoo memakan nasi tim yang disuapi oleh Sungchan, “Aku pake resep Bunda ini.” Jungwoo ikut mengangguk-angguk kepalanya karena rasa nasi tim yang enak.
“Gak salah Bunda punya restoran. Tapi, kamu juga jago masak sih.” Jungwoo mendengus kecil mendengar pujian suaminya, “Apalah..” karena tentu saja Jungwoo sadar kalau masak bukan keahliannya.
Sungchan terkekeh, paham kalau suaminya salah tingkah. Sungchan menoleh ke arah Anton ketika merasa sedang ditatap, matanya langsung bertemu dengan netra sang anak yang sedang menatapnya juga. Sungchan ambil sendok milik Anton yang ditaruh di mangkuk untuk menyuapi anaknya, berpikir mungkin Anton juga ingin disuapi olehnya, “I don wan it.” Anton gelengkan kepala menolaknya.
“Sini sama Papi kalo gitu.” belum sempat Jungwoo ambil alih sendoknya, Anton sudah menolaknya lagi, membuat tanda X dengan tangannya. “Terus mau apa, adek? Nanti sakit kamu kalo gak sarapan.” ucap Jungwoo lagi.
“Dwissss. I wan dwis.” (This. I want this.) Anton menunjuk piring Papanya.
Sungchan langsung menggelengkan kepalanya, “Gak bisa deek. Pedes ini, udah Papa campur sambel.” tapi, anak itu tidak menyerah begitu saja. Tatapannya beralih ke piring sang Papi. Tubuhnya sudah menempel-nempel pada sang Papi untuk melihat piring Papinya.
“Duduk yang bener, deee. Jatuh nanti kamu.” Sungchan membetulkan posisi Anton setelah Jungwoo memperingatinya.
Anton merengek kecil begitu sang Papa tarik pelan bahunya, “Aaaaa, Papaaaa.” Sungchan akhirnya membawa Anton ke pangkuannya, “Tuh, punya Papa udah di sambelin. Mau nanti pedes??”
“Dikit aja mau? Nanti sakit perut kamu.” ucap Jungwoo ketika melihat Anton yang memanyunkan bibirnya. Lagi, miliknya masih ada bagian yang belum terkena sambal. Masalahnya hanya Anton selalu sakit perut jika makan, makanan yang terlalu berat di pagi hari. Mangkanya Jungwoo selalu siapkan sarapan yang ringan untuk sang anak.
Anton mengangguk semangat, jadi Jungwoo menyuapinya sebagian kecil nasi tim miliknya. “Udah? Enak?”
“Huum, Papi aways maketh good fwoood.” (Huum, Papi always makes good food.)
Sungchan yang sedang menyuap menunduk menatap Anton yang berada di pangkuannya sedikit tak percaya. “Bisa aja anak kecil.” Jungwoo refleks tertawa dan membersihkan sisi bibir sang anak yang kotor. “Emang cetakan kamu ‘kan. Persis.” sahut Jungwoo menatap Sungchan.
Sungchan terkekeh kecil, “Iya sih.. Mungkin karena itu wajahnya mirip kamu.” Sungchan usak pelan rambut anaknya yang sudah kembali tenang ia suapi cerealnya.
Begitu selesai sarapan, Sungchan menurunkan Anton dari kursinya. Sang anak langsung berlari ke ruang tamu, meninggalkan Sungchan yang geleng-geleng kepala karena sang anak yang aktif sekali di pagi hari.
“Kamu nanti jemput Anton, sayang? Aku ada meeting nanti.” ujar Jungwoo yang memberikan piring bekas sarapan mereka untuk Sungchan cuci.
Sungchan menganggukan kepala, “Bisa, hari ini aku gak ada meeting. Nanti jam 12 aku kabarin, sekalian abis itu ketemu Mama kayaknya. Katanya kangen.”
Jungwoo bersandar pada kabinet dapur menunggu suaminya, “Eh iya, Mama bilang rabu ini mau berangkat ke Singapore lagi?”
Sungchan terkekeh sembari menaruh piring di rak sebelah wastafel, “Iya, katanya ada urusan di sana. Jadi, aku usahain ketemu cucunya dulu biar gak bawel.”
“Hush!” Jungwoo ikut terkekeh mendengar candaan suaminya. “Sama Bunda gak nanti?”
“Kayaknya engga, deh. Seingetku Bunda mau ke luar kota hari ini? Coba nanti aku hubungin Bunda.”
Sedangkan di ruang tamu, Anton kini sedang berjongkok dengan tiga mainan yang berjejer di hadapannya. “Hbgggg..” Anton sedang dihadapi dengan tiga pilihan sulit di hidupnya. Haruskah ia membawa mobil mainan kesayangan, robot mainan kesayangan, atau boneka dino kesayangannya? Anton harus mengeliminasi salah satu dari mainan kesayangannya untuk dibawa ke taman kanak-kanaknya.
Sungchan datang ke arah Anton setelah selesai menyeka tangannya yang basah, “Ayo, dek. Udah jam jam setengah 9 loh.”
“Papa, wish wan betey?” (Papa, which one is better?)
Sungchan ikut berjongkok di sebelah Anton yang sedang menatap mainannya itu, “Dino?? You like Mr. Dino.”
“Yeaaahh, but Bina nwat weally wike it.” (Yeah, but Bina does not really like it.) helaan napas terdengar dari bocah berusia 5 tahun itu.
“Terus Bina sukanya apa, sayang?” Sungchan merapikan rambut Anton yang sedikit berantakan.
“I don know, Bina ith pwickyy.” (I don't know, Bina is picky.)
Sungchan sedikit terkejut mendengar kosakata baru yang diucapkan oleh anaknya, “Dari mana kamu belajar kata picky, hey.” ia menjawil pipi anaknya pelan. Terkadang kosakata bahasa Inggris anaknya mengesankan tapi secara bersamaan juga mengkhawatirkan karena bahasa Indonesia nya sedikit menurun—itu terlihat dari nilai tugas sang anak. Jadi, Sungchan dan Jungwoo selalu berusaha untuk menggunakan bahasa Indonesia ketika bicara dengan Anton.
“Hanyi thway it a wot.” (Hani says it a lot.)
“Jadi, kamu mau bawa yang mana, dek? Yuk harus berangkat ini.” ini sudah lama mereka menatap mainan itu, Sungchan bahkan sampai mendudukkan dirinya di lantai daripada berjongkok seperti anaknya.
“Can we bwing all??? We can pwut it wike in youw caw???” (Can we bring all of them? We can put them, like, in your car?) Anton menatap Sungchan dengan mata berbinarnya seperti telah mengucapkan penyelesaian masalahnya pagi ini.
“Kalau ditaruh di mobil Papa, kamu mainnya gimana? Sir Benny bilang kamu cuma boleh bawa dua ‘kan??”
“I mweaaannn, we can pway it twogetey waight?” (I mean, we can play it together, right?) Anton kini ikut duduk di sebelah Sungchan, tubuhnya sudah mendekat ke arah sang Papa, bersikap manis seakan yakin sang Papa akan luluh dengan penawarannya.
“Kalo nanti hilang kayak yang Sir Benny bilang gimana?? Papa gak mau beliin lagi loh ya kalo hilang.”
“Nwoo.. it nwat wost. It'th in Papa caw.” (Nooo, it won't get lost, it's in Papa's car.) Anton menganggukkan kepalanya yakin.
Sungchan menatap anaknya dan menghela napas, “Coba bilang ke Papi, pake bahasa Indonesia tapi.” Sungchan menatap Jungwoo yang sedang menatap laptopnya di ruang tengah.
Begitu Sungchan lihat Anton menghela napas, Sungchan malah sengaja memanggil suaminya, “Papi, Anton mau bilang sesuatu nih.” si kecil refleks menutup mulut sang Papa walau Jungwoo sudah keburu menoleh karena posisi mereka yang memang dekat.
“Apa, sayang?” lalu Jungwoo menatap jam dinding yang berada di ruang tamu, “Udah jam 9 ini, berangkat sana. Nanti telat loh.”
“Can I—”
“Bahasa Indonesia, adek.” Sungchan memotong ucapan sang anak ketika Anton bicara pakai bahasa Inggris. Jungwoo yang mendengar itu tersenyum kecil, “Ahh.”
“Mawu bawa mainan.. Twiga..?”
“Tiga? Sir Benny bilang bawa dua aja ‘kan?”
“Nanti kayau ditinggay, nanis… Itu.. Tawuh obiy, aman!” (Nanti kalau ditinggal nangis.. Itu ditaruh mobil, aman!) Anton menganggukkan kepalanya bangga. Sudah sangat yakin dengan pilihannya.
Jungwoo dan Sungchan saling bertukar tatap sebelum Jungwoo menganggukkan kepalanya dan mengambil tas sang anak di sampingnya, “Okay. Jaga baik-baik ya. Kalo hilang gimana?” Jungwoo meyakinkan pertanyaannya sekali lagi.
“Nda, Papi. Nda hiwang!!”
Jungwoo menghampiri suami dan anaknya sebelum berjongkok dan membuka tas anaknya, “Sini taruh di sini. Aman ya? Bakalan kamu jagain?”
“Amaannn!”
Sungchan beranjak sembari menggendong si kecil ketika waktu sudah menunjukan pukul 9.15, “Okay, yuk, kita berangkat.” Anton di gendongan sang Papa menganggukkan kepala, “Wes goow!”
Mereka jalan ke pintu keluar, Jungwoo rapikan dasi Sungchan juga rapikan seragam Anton setelah memakaikannya sepatu, “Hati-hati ya, sayang.”
“Anton, cium Papi, kita berangkat.” Anton segera menoleh ke arah Jungwoo begitu mendengar ucapan sang Papa. Anton cium pipi Jungwoo sekilas dan melambaikan tangannya. “Dadah, Papi. Thee you in twee houws? I wiy mith you ma wovesss—!” (Dadah, Papi. See you in three hours? I’ll miss you my lovee—!)
Sungchan menutup mulut anaknya karena terkejut, “Heehhhh—” Jungwoo di sebelahnya tertawa. Mungkin karena Sungchan suka cheesy begitu jadi Anton menirunya dengan sangat baik.
Anton sampai di taman kanak-kanak pukul 9.45. Anton masih punya 15 menit lagi sampai kelas benar-benar di mulai.
Sungchan mengantarnya sampai ke kelas dan sedikit bercengkrama dengan wali kelasnya sebelum kembali memanggil Anton yang sudah bermain di dalam kelas dengan teman-temannya untuk pamit.
Anton kembali menghampirinya dan bubuhkan ciuman di pipi Sungchan sama seperti yang ia lakukan tadi pada Jungwoo. Sungchan juga balas cium pipi Anton kanan-kiri, “Dengerin kata Sir Benny ya. Baik-baik sama temen-temen.”
“Yeth, Papa. Dedee wiy be goodboi.” (Yes, Papa. Dede will be a goodboy.) Anton menganggukkan kepalanya. Setelah melambaikan tangan lagi, Sungchan beranjak dari sana.
Anton sedang mewarnai ketika Wonbin—temannya, menatapnya, “Waynai apa?”(Warnai apa?)
“I don know, yumah? Thawah? Hmmm, aku piyih yan nda thutha. Bina apa?” (I don't know, rumah? Sawah? Hmmm, aku pilih yang gak susah. Bina apa?) Anton menoleh sebentar sebelum lanjut warnai gambarnya.
“Pantai.. Juth put thome byu and oyen then done!” (Pantai.. Just put some blue and orange then done!) Wonbin menunjukan gambarnya dengan bangga ke arah Anton.
Anton menganggukkan kepalanya setuju, “Hoo. Kamu pintay.” Wonbin yang dipuji tentu saja tersenyum manis merasa bangga pada diri sendiri.
“Ayo, yang sudah selesai boleh dikumpulkan ya. Terus kita istirahat.” Sir Benny dari depan memberi pemberitahuan.
Wonbin yang mendengar kata istirahat maju dan mengumpulkan gambarnya, “Bina boyeh mam duyuan, siy?”
Sir Benny tertawa, “Tunggu teman-teman ya, Wonbin. Tuh tinggal Anton sama Sohee.”
“Okay, Siy!” Wonbin kembali ke kursinya dengan terburu-buru, “Tonie, thudah?”
“Wait, yiy bit.” (Wait, lil bit.) Anton mewarnai tugasnya dengan sangat serius. Tidak sampai 10 menit Anton sudah selesai dengan tugasnya. Anton berlari ke arah Sir Benny dan mengumpulkannya bersama dengan Sohee yang ikut menyusul.
Tak lama setelah itu bell berbunyi, waktu istirahat di mulai, Sir Benny membimbing anak-anak untuk cuci tangan dan berdoa sebelum makan.
Setelah kembali ke kelas, Anton menatap makanannya dan menganggukkan kepala, ada nugget kesukaannya! Itu yang paling penting walau yang lain harus ia habiskan juga.
“Can you heyp me with dis?” (Can you help me with this?) Sohee menyodorkan kotak bekalnya yang susah untuk dibuka. Meja bundar ini berisikan 4 orang, Anton — Wonbin — Sohee — Seunghan.
Seunghan langsung menaruh sendok makannya dan membantu Sohee untuk membuka kotak bekalnya. “Ini. You bwing miwk too, do you need heyp?” (You bring milk too, do you need help?) kata Seunghan yang menatap susu kemasan yang Sohee bawa.
“Yeth, pwease, thank you!” Sohee yang ditawari begitu tentu senang-senang saja. Ia jadi tidak perlu berkelahi dengan sedotan yang terkadang mengesalkan.
Kalau kata orang, rumput tetangga lebih hijau. Ketika Seunghan sibuk dengan susu kemasan milik Sohee, mata Anton menatap sosis yang berada di kotak bekal Seunghan. Itu terlihat menggiurkan. Sangat menggiurkan. “Hanyiiii, kamu apa mawu nuggy?”
Wonbin yang sedang memakan nasi kepalnya—sudah kebiasaan nasinya dibentuk bulat oleh sang Papa—langsung menoleh ke arah Anton, “Kamu nda mawu nuggy?” Wonbin ingat betul nugget adalah kesukaan Anton karena Anton yang selalu membicarakannya.
“Mawu, but i wan thouthage too.” (Mau, but I want sausage too.) ucapannya Anton tentu saja terdengar oleh Seunghan yang duduk di sebelahnya.
“Iniii.” Seunghan menaruh sosisnya ke kotak bekal Anton setelah selesai berurusan dengan susu kemasan milik Sohee.
Anton berbinar menatap sosis di kotak bekalnya, “Heye, de nuggy.” (Here, the nugget.) Anton menyodorkan nuggetnya sesuai kesepakatan awal tadi. Tapi, Seunghan menolak nugget milik Anton, “Nuggy not weally my favoyite.” (Nugget is not my favorite.)
“Ehhhh? Whyyy??” sebagai pecinta nomor satu nugget tentu saja Anton terkejut.
Seunghan mengedikkan bahunya asal, “Nda tau juga. But I do wike thotis.” (Gak tau juga. But I do like sosis.)
“Kalo gitu kenapa kathih???? Ith not faiy dong?” (Kalo gitu kenapa kasih???? It's not fair dong?)
“Issokey, juth eat. Papi mathak banyak.”(It's okay, just eat it. Papi masak banyak.)
“Do you wike Dino? I bwing Mithey Dino with me!” (Do you like Dino? I bring Mr. Dino with me.) kata Anton semangat. Anton masih berusaha agar ada sesuatu yang bisa ditukar dengan sosis yang Seunghan kasih, menurutnya tidak adil jika hanya Seunghan yang memberi.
“I think? I wike wobot too.” (I think? I like robot too.) Seunghan masih fokus pada makanannya. Sebenarnya Seunghan sama sekali tidak mempermasalahkan sosis itu karena Papinya memasukan 6 sosis ke kotak bekalnya—Seunghan tidak yakin itu akan habis, apalagi masih ada sayuran sebagai pendampingnya. “Awight! We pway with wobot aftey this!” (Alright, we play with robot after this!) Anton berkata dengan semangat.
“Bina wike wobot! Bina wan pway too!”
“Thohi, too!!”
Ketika selesai makan, mereka masih memiliki 10 menit sebelum kembali masuk ke pelajaran selanjutnya. Jadi, Anton membuka tasnya untuk mengambil mainan yang dijanjikan tadi.
Mata Anton membola terkejut ketika menatap ke dalam tasnya, Anton bawa tiga mainan! Ia lupa untuk menaruhnya di mobil Papanya. Anton senang-senang saja karena membawa lebih banyak mainan, lalu Anton mengambilnya dan memberikannya ke arah teman-temannya, “Thiapa yan thuka obiy?” (Siapa yang suka mobil?)
Sohee mengangkat tangannya, “Me!”
Anton memberikannya mobil mainannya kepada Sohee, “Ini, janan dihiwangin.” (Ini, jangan dihilangin.) Sohee mengangguk semangat sebelum mengambil mobil mainan itu dari tangan Anton.
Wonbin menatap Anton, “What about me?”
“Jus pway with Mistey Dino. Hanyi main thama wobot.” (Just play with Mr. Dino. Hani main sama robot.) Anton memberikan robotnya ke arah Hani sebelum memberikan dinonya kepada Wonbin.
Wonbin hela napas sedikit menatap ke arah boneka itu, “You know, heth ugwy.” (You know, he's ugly.)
Anton menepuk tangan Wonbin pelan, “Thiapa yan ajay? Papi thaid it'th bad woyd.” (Siapa yang ajar? Papi said it's a bad word.)
Seunghan yang berada di sebelah Anton tertawa mendengar percakapan keduanya, “Apa mawu main yan yain? Puwsel? Oyy we can jus wead thome bwookth.” (Apa mau main yang lain? Puzzle? Or we can just read some books.)
“Baca ceyita aja.” Wonbin menyarankan setelah mendengar ucapan Seunghan, Anton tidak keberatan. Anton suka baca buku dan mendengar cerita sedangkan Sohee tidak peduli dan hanya mengikuti, toh dia masih bisa bermain dengan mobil mainan tersebut sambil ikut mendengar cerita.
Mereka belum begitu fasih membaca jadi sesekali mereka mengeja kata yang sulit untuk mereka cerna, mereka baca satu buku dengan bergantian—Sir Benny sering menyuruh mereka membaca buku dengan lantang secara bergantian. Jadi, itu sudah tidak aneh lagi.
“Yeah, Pinyokyo akhiynya thaday kayau bebwohong ith no good.” (Yeah, Pinokio akhirnya sadar kalau berbohong it's not good.)
Anaknya sudah pulang sejak tadi sore setelah bermain dengan neneknya. Sungchan hanya membawanya untuk bertemu dengan sang nenek sebelum kembali ke kantor karena ada pekerjaan yang harus diurus. Jadi, Jungwoo yang jemput sang anak di mall sebelum kembali ke rumah.
“Terus? Apalagi?” Jungwoo suka ketika anaknya menceritakan harinya di taman kanak-kanak. Terkadang ada hal lucu yang terjadi di sana.
Jungwoo mengeluarkan barang yang ada di tas anaknya, dirapikan lagi untuk besok dibawa, “Emmm, Papanya Pinyokyo thenang thowaynya Pinyokyo jadi manusya.” (Papanya Pinokio senang soalnya Pinokio jadi manusia.) Anton berada di sebelah Jungwoo tiduran di karpet ruang tengah.
“Paman Geppetto?” tanya Jungwoo memastikan. Anton mengangguk mendengar nama yang sulit untuk diucapkan itu. Bahkan tadi mereka berkali-kali mengeja nama itu karena susah untuk disebutkan, “Yup, dwat pewson.” (Yup, that person.)
Jungwoo tertawa kecil dan mengusak rambut sang anak, “Adekk, ini mainannya taruh lagi di raknya. Takut nanti rusak.” Jungwoo berikan mobil mainan dan robot yang tadi Anton bawa.
Anton segera beranjak dan melalukan apa yang Papinya suruh. Ketika berada di rak mainannya Anton teringat kalau ia membawa tiga mainan ke taman kanak-kanak, “Ah! Papii deyes one moye.” (Ah! Papi, there's one more.)
“Satu lagi? Di mobil Papa ‘kan? Tadi bilangnya begitu?” Jungwoo bertanya bingung dari tempatnya duduk.
Anton menghampiri Papinya sedikit berlari kecil, “Dede yupaaa. Path dede mam bayu yihat ada twiga in my bag.” (Dede lupaaa. Pas dede makan baru lihat ada tiga in my bag.)
“Tapi, gak ada tuh disini?” Jungwoo sudah keluarkan semua dari tas sang anak. Anton menatap Jungwoo tak percaya sebelum ikut lihat ke dalam tasnya yang sudah kosong. Matanya bergantian tatap Papinya dan tasnya yang sudah kosong, “Papi. Mistey Dino..”
Jungwoo segera buka tangannya begitu Anton rentangkan tangan ingin memeluknya dengan bibir yang cemberut karena menahan tangis. “Ehh.. Nanti cari—” ucapan Jungwoo terhenti karena sang anak sudah keburu menangis kencang di pelukannya.
Jungwoo bawa sang anak untuk ke dalam pangkuannya dan mengusap punggung sang anak pelan. Tentu saja dalam hati berusaha menghentikan diri untuk tidak berkata yang mungkin akan invalidasi perasaan sang anak karena tadi pagi Jungwoo dan Sungchan sudah berusaha menahan sang anak untuk bawa tiga mainan sesuai yang guru anaknya perintahkan. Mungkin Jungwoo dan Sungchan juga sudah ada perasaan tentang ini.
“Sayang, tarik napas dulu.” Jungwoo sedikit menjauhkan pelukan mereka dan mengusap air mata sang anak. “Tarik napas dulu, nanti kamu gak bisa napas.” Jungwoo ambil tisu untuk mengusap hidung sang anak juga.
“Gapapa, adek. Nanti coba bicara sama Papa ya.” Jungwoo kembali memeluknya ketika Anton melesakan dirinya ke pelukan Jungwoo. Anton bersandar pada pundak sang Papa karena tentu saja ini adalah hari terburuknya.
Mr. Dino adalah mainan kesayangan nomor satu miliknya dan kehilangan kesayangannya tentu saja sangat menyedihkan. “Papi, Bina thaid Mistey Dino ugwy, then Mistey Dino gone. Mistey Dino mayah, Papi?” (Papi, Bina said Mr. Dino is ugly, then Mr. Dino gone. Mr. Dino marah, Papi?) Anton menatap Jungwoo dengan mata berkaca-kaca.
Jungwoo ikut menatap matanya sembari mengusap pipi sang anak yang masih dibanjiri oleh air mata. Jungwoo kecup pelan pipi sang anak sebelum menjawab, “Enggak, adek. Nanti coba cari sama Papa ya.” sebenarnya Jungwoo yakin mungkin Mr. Dino tertinggal di taman kanak-kanaknya, itu tidak mungkin hilang kecuali memang ada anak lain yang membawanya pulang. Dan semoga saja itu tidak terjadi.
“Hueee, Papiiii.” Anton kembali bersandar pada bahu sang Papi kembali. “Iya, sayaaang.” oh, Jungwoo harap Sungchan segera pulang.
Begitu Sungchan masuk ke ruang tamu, matanya langsung bertatapan dengan sang suami yang sedang duduk di sana dengan Anton di pangkuannya, melingkarkan tangan di leher Jungwoo, memeluknya dengan erat.
Tontonan di televisi juga seperti tidak menarik bagi sang anak yang lebih memilih memunggungi layar televisi dan bersandar pada bahu sang Papi.
“Tidur?” Sungchan memberi gesture tanpa bersuara. Jungwoo menggelengkkan kepalanya pelan, “Kayaknya enggak.”
Sungchan mendekat sembari menggulung lengan kemejanya sampai siku, ia taruh tasnya di atas meja. “Adek?” Anton yang dipanggil segera menolehkan kepalanya. Anton mengulurkan tangan untuk menggapai sang Papa, bibirnya sudah kembali cemberut, “Hueee, Papaaaaa.”
“Cup cup..” Sungchan segera menggendong Anton dan menepuk-nepuk pantatnya pelan sembari menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
“Mistey Dino pewgiii, Papa. Dede yupa tayuh obiy.” (Mr. Dino pergi, Papa. Dede lupa taruh di mobil.) adunya kepada Sang Papa. Sungchan sudah diberi kabar oleh Jungwoo tentang boneka dinosaurus milik Anton yang hilang.
Sungchan menumpu kepalanya ke kepala sang anak yang bersandar pada bahunya, “Gak pergi itu, sayang.” tangisan sang anak buat Sungchan meringis.
“Tapi, hiwang…” Sungchan kembali mengusap punggung sang anak yang bergetar karena tangisan. “Itu Mr. Dinonya ada, sayang.”
Anton segera menjauhkan tubuhnya dan menatap Sungchan, mengusap kasar pipinya yang berurai air mata, “Mana???” matanya membulat berbinar. Sungchan menjauhkan tangan anaknya agar tidak usap kasar pipinya. Sungchan gantikan usap pipi sang anak sebelum berjongkok untuk menurunkan Anton dari gendongannya.
Mata Anton mengikuti pergerakan sang Papa yang merogoh tas kerjanya. Raut terkejut jelas terpampang begitu Mr. Dino keluar dari tas sang Papa. “OH—” kakinya menghentak kecil karena bersemangat dengan tangannya yang memegang bahu Sungchan. Matanya menatap sang Papa dan Papi bergantian, “Mistey Dinooo.”
Mr. Dino tertinggal di kelas Anton tadi siang. Setelah mengantar Anton untuk bermain bersama neneknya, Sungchan mendapat telepon dari Sir Benny yang memberitahu kalau boneka dino milik Anton tertinggal di mejanya. Dan Sungchan jelas tau kalau Anton pasti akan menangis jika bonekanya tak ada. Jadi, Sungchan kembali ke taman kanak-kanak untuk mengambil Mr. Dino sebelum kembali ke urusannya.
Anton ambil boneka berukuran 10 cm yang disodorkan oleh sang Papa. Tangannya mengelus kepala Mr. Dino pelan sebelum Anton kembali membalikan tubuhnya dan memeluk Sungchan, “Makathi, Papaaaa.”
Sungchan mengusap pipi sang anak dan merapikan poni Anton yang sudah sedikit panjang, “Sama-sama, sayang. Kalo dijaga gak bakal pergi itu Mr. Dinonyaa.”
Anton menundukan kepala di depan Sungchan, “Dede sowy..” (Dede, sorry.) Jungwoo dari sofa mengelus kepala sang anak, “Besok-besok dijaga ya Mr. Dinonya, dek.”
Anton menganggukkan kepalanya, “Huum. Nanti bawa dua thaja..”
Sungchan mengecup pipi sang anak gemas dan beranjak untuk berdiri, kembali bawa Anton dalam gendongannya, “Udah, jadi besok ikutin kata Sir Benny buat bawa dua mainan aja ya?”
“Iya, Papa. Janji.” Anton menyadari kesalahanya, harusnya sejak awal Anton tidak memaksa untuk bawa tiga mainan.
“Sayang, mau makan malem apa?” Jungwoo bicara pada Sungchan yang masih menggendong Anton.
“Eh, mau pesen makan aja?” tanya Sungchan, “Seharian ditempelin ‘kan sama si adek?” Anton yang merasa disebut hanya tampilkan senyuman dengan raut inosennya sambil pandang sang Papa dengan Mr. Dino di tangannya.
“Di kulkas ada ayam sih bisa tinggal goreng atau mau sayur?” Jungwoo masih bersandar di sofa, terlihat jelas kalau energinya sudah terkuras banyak karena hari yang melelahkan.
“Kita pesen makan aja, love.” Sungchan mendekat dan usap rambut Jungwoo, “Mau apa?” Sungchan menunduk untuk mengecup kening Jungwoo dengan Anton di gendongannya. Anton tertawa kencang karena seperti sedang bermain pesawat-pesawatan, tubuhnya terasa melayang dipelukan sang Papa.
“Apa enaknya? Sate? Nasi goreng?” sahut Jungwoo. Sungchan ambil ponsel di kantong celananya sebelum duduk di sebelah Jungwoo. “Aku bebas sih..” Sungchan membuka aplikasi pesan antar untuk melihat-lihat.
Jungwoo di sebelahnya ikut menatap ponselnya, “Tapi, kayaknya yang soupy gitu enak deh.” Sungchan menganggukkan kepalanya, “Sure, soup jagung?”
“Ohhh, itu enak.”
“Oke soup jagung. Dede mau apa gak??” Sungchan menatap sang anak yang berada di pangkuannya. “Em, cikin..” (Em, chicken..)
“Goreng? Ayam goreng?” Jungwoo bertanya sambil bersandar pada bahu Sungchan. “Nwoo.. Thup.” (Noo.. Soup.)
“Okayyy, jadi soup jagung sama soup ayam ya?” Sungchan kembali menatap ponselnya untuk memesan makan malam mereka, “Oke, udah dipesen."
“Kamu gak mandi dulu, sayang?” Jungwoo mendongak untuk menatap suaminya. Sungchan bahkan lupa kalau ia masih mengenakan kemeja.
“Oh iya.. Yaudah aku mandi dulu.” baru mau suruh Anton pindah dari pangkuannya, Jungwoo menahan lengan Sungchan dan memberikan kecupan di pipi kiri suaminya dengan cepat.
“What—” belum sempat bertanya apa-apa, Jungwoo sudah beranjak lebih dulu dari duduknya. Meninggalkan Sungchan yang sedikit terpaku walau hubungan mereka sudah bertahun-tahun lamanya.
Heh, rasanya masih sama.
Sungchan tersadar dari rasa terkejutnya ketika kepalanya yang tadi mengikuti gerak Jungwoo sang anak bawa untuk menatap netra si kecil dengan menaruh kedua tangan mungilnya di pipi sang Papa. Anton terkekeh menatap raut terkejut sang Papa yang masih tertinggal di sana karena perlakuan sang Papi—sebelum Anton juga ikut bubuhkan kecupan di pipi kanan Sungchan.
Sungchan tersenyum lebar begitu Anton mengikuti jejak Papinya yang lari dengan senyuman di wajah setelah mencium pipinya. Sungchan memegang dadanya yang berdegup kencang sekali. Rasa hangat berjalar dalam dadanya. Lelah hari ini terasa terbayarkan dengan melihat senyum keluarga kecilnya, rumahnya yang berharga.
