Actions

Work Header

Rating:
Archive Warnings:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-12-22
Updated:
2024-12-22
Words:
4,105
Chapters:
8/?
Kudos:
2
Hits:
87

[ consenescere. ]

Summary:

consenescere (v.) to grow old and grey together.

[Fanfiksi halu multi-chapter untuk asupan].

Chapter Text

Seorang wanita terkulai lemah di kasur. Hari pertama datang bulan membuatnya sulit bangkit, bahkan ia izin bekerja karena tak mampu menahan sakit. Meski begitu ia tidak sendiri, ada seorang lelaki yang duduk di sisi dan menemani. Pagi itu Maya sudah ribut-ribut di balon pesan dan mengatakan kalau ia ingin sarapan macam-macam. Bubur, dimsum, roti keju, teh es—semua dituruti kekasihnya. Walau berakhir tak dihabiskan semua, hanya bubur yang menjadi favoritnya. Perutnya keburu meronta karena nyeri seperti baju basah dipelintir, kepala tiba-tiba pusing membuatnya berbaring kembali di kasur.

Maya memeluk pinggang Kuroo erat, tak mau membiarkan prianya lari. Sementara sang pria mengelus perut pacarnya yang tertutupi kaos putih. Setidaknya sentuhan lembut yang tak dapat menghilangkan rasa sakit itu bisa mengurangi karena bahagia adanya Kuroo di sisi.

"Jangan kerja ...," pinta sang wanita, menyembunyikan wajah di balik tubuh Kuroo. "Perutku makin sakit."

"Iya, aku juga udah izin."

"Hah?" Ia mengangkat kepala. "Benar?"

"Iya?" Kuroo menjawab, mengulas senyum tipis dan mengacak rambut wanitanya. "Aku bilang ada urusan mendadak yang tidak bisa kutinggal."

Padahal ucapan sebelumnya hanyalah kalimat spontan karena sikap manjanya yang keluar perkara sakit. Mana dia tahu kalau ternyata Kuroo benar-benar izin bahkan sebelum diminta.

"Aku ngerepotin ya?" Maya bertanya, galau. Pikiran negatif tiba-tiba datang menghampiri. Tangannya saat ini masih memeluk Kuroo, kepalanya kembali ia letakkan ke bantal. Mereka sudah lama menjalin kasih, namun Maya merasa ia selalu membuat lelaki itu susah.

Kuroo mengelus kepala wanitanya. "Enggak, sayang. Kau itu gak merepotkanku, aku suka direpotin," responnya. "Aku merasa 'ada' kalau kau selalu minta bantuanku."

"Tapi kau gak kesal kah karena permintaanku aneh-aneh?"

Ia melihat Maya yang lemah, bibirnya tampak pucat, wajahnya tak segar. Suaranya lebih pelan karena tak memiliki energi untuk berbicara lebih kuat. Mau bagaimana pun, Kuroo sudah sayang pada perempuan itu. Wanita yang sudah dinantinya sejak masa sekolah, begitu lama perasaan tersebut bersarang di benak hingga masa kini. Tak ada sedikit pun rasa kesal, ia begitu sabar menghadapi Maya. Terlebih bonus yang dia punya karena mengenalnya cukup lama, Kuroo sudah tahu kebiasaan sang wanita, satu diantaranya sekarang.

Ada masa ketika datang bulan, Maya tak bisa bangun dan harus izin sampai dirinya benar-benar mampu untuk beraktivitas. Kadang wanita itu juga kuat menahannya, tetapi ada pula masa dimana dia tak tahan bahkan sampai tak sadarkan diri. Apalagi dengan kondisinya yang kekurangan darah sering membuat Kuroo khawatir. Jadi dia bersyukur jika Maya masih meminta macam-macam padanya. Dia tak masalah, karena sekali lagi dia mau direpotkan.

"Enggak." Ucapan singkat, tetapi terdengar lembut diiring sentuhan pada pipi sang wanita. "Kecuali kalau kau minta aku bangun 1000 candi dalam semalam, mungkin aku gak sanggup." Ia bergurau sembari terkekeh.

"Hm~ Kepikiran kau beliin aku rumah."

"Boleh aja, mau di daerah mana?"

"Ih! Aku cuma bercanda." Maya memukul bahu sang pria, membuat Kuroo tertawa.

"Ya gak papa, buat tempat tinggal kita nanti 'kan?"

Maya tersenyum. "Kayaknya kita udah boleh mikirin itu gak sih?"

"Boleh, tapi tunggu kau enakan."

Anggukkan tercipta. "Tetsu, aku ngantuk," Ia berucap dengan mata yang mulai sulit untuk terbuka.

"Gapapa, tidur aja."

Kuroo menarik selimut, menutup tubuh Maya dan menyisakan kepalanya lalu membelai rambut sang wanita.

"Tapi jangan kemana-mana." Maya mengingatkan seraya memeluk paha Tetsu, membuat lelaki itu tertawa gemas.

"Iya, sayang." Kuroo mengecup dahi sang wanita dan kembali mengelus rambutnya. "Sleep well, my darling."