Chapter Text
Saat berada di rumah, sebuah tempat yang dijadikannya berteduh dan melepas rindu, Reksa duduk di sofa ruang tamu sembari termenung. Tak ada masalah di kantornya, semua baik-baik saja. Para rekan baik satu divisi, satu ruangan, yang berbeda sekalipun, juga atasannya hari ini tenang. Tentram dan damai, begitulah suasana tempat kerjanya untuk hari ini. Namun entah kenapa dia merasa hampa, padahal saudaranya akan pulang sebentar lagi. Malah biasanya dia yang paling terlambat pulang ke rumah.
Lantas ia mengambil ponsel, membuka obrolan grup berisi dirinya dan dua saudaranya. Pesan terakhir dikirim oleh kembarannya mengenai kunci rumah pada hari ini. Tangannya sedikit mengangkat ponsel, menggerakkan kedua ibu jari dan menekan papan kunci untuk mengirim pesan.
'Guys'
'Aku udah pulang'
'Kalian dimana?'
'Ayo kita kumpul sambil makan malam :D'
~~
Ketika ponselnya berdenting, Reyhan langsung bergegas mengambil gawai yang ia letakkan di atas meja. Tampak notifikasi di layar kunci, mendapati pesan saudara kembarnya di dalam grup.
"Tumben." Reyhan bergumam, membuka kunci ponsel dan meluncur ke obrolan grup.
Dia saat ini sedang berada di sebuah kafe bernuansa rumah lama dengan cat dominasi putih. Reyhan dan teman-teman kantor lamanya memilih untuk nangkring di area luar sembari menikmati angin malam, juga memberi ruang untuk teman-temannya merokok.
Kalau dipikir, dia sudah lama duduk bercengkrama dengan rekannya. Biasa Reyhan pulang lebih dulu daripada dua saudaranya, kebetulan saja hari ini dia sedang diajak untuk berkumpul.
'Gue lagi di 1401'
'Tumben, Sa wkwk'
'Abis ini gue langsung cabut'
'Masak dong, gue cuma minum latte'
Reyhan sedikit terkekeh saat membalas pesan kembarannya itu, meski dirinya merasa tak biasa dengan sikap saudaranya. Apa mungkin ada masalah di kantor? Dia belum tahu.
"Eh, gue duluan ya," Reyhan pamit, mengantongi dompetnya ke dalam saku celana pendek, sementara satu tangannya memegang ponsel.
"Cepat amat, Han. Mau ngapelin cewek ya lo?"
"Kagak lah, malam ini 'kan bukan malam minggu," guraunya.
"Sekarang mah ngapelin cewek gak perlu malam minggu."
Lelaki itu menggeleng sembari terkekeh, pamit meninggalkan rekan-rekannya. Ia pun menyalakan motor, memakai helm dan keluar dari parkiran kafe, membelah jalan raya yang tak terlalu padat di pukul 7 malam.
~~
"Jadwal dokter sampai jam 7 aja 'kan?" tanya seorang perempuan saat masuk ke ruang periksa.
Juanda mengangguk sembari tersenyum senang, lalu meregangkan kedua tangan ke udara sambil bersandar di kursi berlapis kulit hitam. "Selesai~!" serunya, membuat perempuan itu terkekeh.
"Hari ini ada pasien yang ngeselin gak, dok?"
"Hm, enggak sih," Juanda menjawab. "Cuma hari ini ada ibu-ibu sosialita yang minta treatment sama saya."
"Terus, dokter terima?"
"Ya~ saya terima, tapi yang tindakan tetap dokter Lara," Ia membalas seraya terkekeh. "Untungnya si ibu gak protes sih, alasannya tadi karena ada pasien lain juga."
"Lagi kena aman ya, dok."
Juanda tersenyum geli. "Sebenarnya si ibu mau marah, cuma gak jadi karena dia lihat saya ganteng," ujarnya seraya tertawa canggung, membuat si perempuan menggeleng pelan.
"Oh iya dok, nanti ke depan sebentar ya. Ada yang mau dibahas sama terapis yang lain."
Ia mengangguk pelan sembari menggendong tas ranselnya untuk keluar dari ruangan. Saat kakinya melangkah dan hendak menunggu di meja resepsionis—"depan" yang dimaksud—, Juanda mendapati denting berurut dari gawainya. Dia baru saja menyalakan koneksi internet, karena biasa dia mematikannya agar pekerjaannya tidak terganggu.
Pesan grup keluarga muncul di notifikasi paling atas, membuat Juanda mengernyit. Tampilannya hanya memperlihatkan kedua kakak kembarnya mengobrol, maka dirinya pun membuka obrolan grup tersebut.
Beberapa balon pesan balas-membalas kakak kembarnya membuat Juanda tersenyum tipis. Belum sempat dia membalas, dirinya sudah di-mention di dalam grup tersebut membuatnya meringis.
"Sabar dong, Bang Han ...," Ia bermonolog, menekan setiap huruf di papan kunci dan membalas pesan dari saudaranya.
'Iyaa ini baru selesai, tapi ada pertemuan sebentar sama terapis'
'Aku bawain martabak asin aja deh ya.'
'Minum air putih dingin aja ... Bang Esa sama Bang Han udah banyak ngopi minggu ini.'
Senyum tipis terulas, menyimpan ponselnya sejenak ke dalam saku celana kain panjang berwarna mustard yang ia kenakan, lalu berfokus pada pertemuan sejenak.
~~
Reksa mengulas senyum tipis saat melihat foto dua kotak martabak asin dari sang adik. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dapur lalu memasukkan wortel dan kentang ke dalam sup yang mendidih. Satu kompor yang menyala dia gunakan untuk membuat tumis tempe kecap. Setelah memasukkan sayur, dia pun mengocok empat butir telur yang akan dibuat telur gulung.
Pintu depan yang tertutup pun tertangkap telinga Reksa. Dia keluar dari dapur, memastikan siapa yang tiba lebih dulu. Terlihat kembarannya masuk dan menghampirinya sembari mengulas senyum lebar, lalu mengangkat totebag hitam di tangan.
"Gue beli kopi," Reyhan berucap sembari mengulas seringai.
"Seliter?" Reksa menebak, dijawab anggukkan oleh kembarannya itu. "Wah, Han. Kalau adek kita tahu, bisa dikultum ntar."
"Aman, gue simpan di tempat yang enggak di-notice dia."
Reyhan membuka kulkas, mengeluarkan kopi susu botol satu liter dari totebag, membuka laci kulkas paling bawah—berisi sayur-sayuran, lalu menutupnya dengan sayur-sayur yang berbungkus plastik putih.
"Eh kalau ketahuan gimana?"
"Lo tenang aja," ujar saudaranya. "Kita bagi dua, ya."
Reksa mengangguk sembari mengacungkan ibu jari, lalu kembali memegang spatula dan menumis tempe. Reyhan menghampiri saudaranya, berdiri di samping Reksa dan melihat lelaki itu memasak.
"Ada yang bisa gue kerjain gak?"
"Siapin nasi aja, udah matang tinggal ditaruh di meja."
Anggukkan tercipta, Reyhan pun mengangkat penanak nasi berukuran sedang berwarna hitam lalu menaruhnya di atas meja. Ia pun menyiapkan piring dan gelas kaca, diletakkannya di meja makan. Reksa meletakkan sepiring tumis tempe bersamaan ketika Reyhan merapikan alat makan, lalu kembali ke dapur untuk menggoreng telur gulung.
"Ada lagi, Sa?" tanya Reyhan, mengikuti langkah saudaranya di dapur.
"Tolong potongin mangga, di-cacah aja."
"Mangganya mana?"
"Itu." Reksa menunjuk guna dagu, pada kantong plastik hitam berisi mangga muda yang diberi rekan kantornya. "Buat adek, dia 'kan gak bisa makan gak pakai sambal."
"Bener," jawabnya, mengambil satu buah mangga lalu dikupasnya. "Dari orang kantor?"
Reksa mengangguk. "Banyak ya dikasinya?"
"Lima biji," Reyhan menimpali usai menghitung buah di dalam kantong tersebut. "Ini mah dicemilin adek juga bisa."
Tawa kecil dari Reksa tercipta. "Iya."
Terdengar suara cipratan kecil dari minyak panas, adonan telur yang ditumpahkan ke teflon, lalu lapisan ketiga pun digulung. Selepas mengupas mangga, buah tersebut pun di-cacah kecil-kecil ke dalam mangkok kaca.
"Tumben lo tiba-tiba nanyain kami, Sa," ujarnya, masih fokus pada mangga.
Reksa yang baru tuntas menggulung, menuangkan adonan telur lagi, menoleh pada Reyhan lalu tersenyum tipis. "Enggak, gue merasa hampa aja pas sampai di rumah. Padahal kalau gue pulang lebih awal dari kalian, gue biasa aja."
"Hal kayak gitu bisa aja terjadi, sih," balas Reyhan, lalu menoleh pada kembarannya. "Ada masalah di kantor?" tebaknya.
Lelaki itu menggeleng. "Hari ini aman, amaan banget. Cuma ya gitu, gue heran kenapa pas pulang ke rumah dengan keadaan sunyi pas kalian belum pulang, gue merasa kosong."
"Kalau gitu itu perasaan jelek lo aja, ya kayak yang gue bilang, hal kayak gitu bisa lo alami bahkan tanpa sebab. Normal kok, Sa."
Reksa mengangguk sembari tersenyum tipis, menyelesaikan adonan telur terakhir dan menunggu lapisan penutup tersebut sedikit masak. Mulutnya hendak bicara lagi, tetapi Reyhan buru-buru menghentikkan dengan menunjuk Reksa dengan pisau kecil di tangannya.
"Gak usah bilang," Ia mengingatkan. "Lo gak merepotin."
"Lo tahu aja pikiran gue, Han."
"Gini-gini gue dukun besar," Reyhan bergurau, beradu pandang dengan Reksa lalu tertawa bersama.
Telur gulung yang dibuat Reksa pun telah selesai, dipotong-potong agar enak untuk diambil, diletakkan di piring kaca lonjong lalu ditaruhnya di atas meja. Sup daging buatannya pun sudah siap disajikan, ia lalu mematikan kompor dan memindahkan panci kaca tersebut ke tempat mereka akan menyantap makan malam.
Bersamaan Reksa meletakkan sup, si bungsu pun pulang dengan pakaian kerja yang masih melekat di tubuh—kemeja biru tua, celana kain mustard, dan ransel hitam. Plastik putih pun berada di tangannya dan dua kotak martabak asin berada di sana.
"Udah jadi aja," godanya. "Baunya keciuman dari luar." Ia berucap sembari meletakkan kantong plastik di atas meja makan.
"Iya, tinggal sambal mangga aja."
"Wuih, beli mangga dimana, bang?"
"Dikasi Bang Yoga, mertuanya lagi panen mangga."
Juanda mengangguk paham mendengar jawaban sang kakak, mengikuti langkah Reksa ke dapur dan melihat Reyhan yang sudah beres dengan mangganya.
"Cabenya udah, Sa?"
"Udah, sini biar gue aja." Reksa mengambil alih mangkok kaca berisi mangga. "Lo sama adek duduk aja dulu, gue beresin sisanya."
"Oke deh."
"Gak ada yang dikerjain lagi nih?" tanya Juanda, menyomot satu buah mangga dari kantong plastik.
"Beres, dek." Reyhan memutar tubuh si bungsu agar memunggunginya, juga membiarkannya berjalan lebih dulu. "Ayo ke meja."
Si bungsu Purnama pun meletakkan mangganya kembali, lalu menuruti perkataan kakak lelakinya untuk melangkah ke depan dan duduk di kursi makan. Dia duduk di samping Reyhan, sementara Reksa berada di seberang.
Reksa kembali dengan semangkok kecil sambal mangga, duduk di kursi makan, dan menghadap kedua saudaranya.
"Gimana hari ini, dek?" tanya Reksa, sembari mendorong sedikit penanak nasi ke arah Reyhan yang kesulitan mengambil makanan tersebut.
"Aman sih, bang. Ya 7/10 lah."
"Tiganya kemana?" Reyhan bertanya sembari meletakkan nasi panas ke atas piring miliknya.
"Gak bisa disebutin, agak complicated tapi oke."
"Ada-ada aja kamu, dek," balas Reyhan sembari terkekeh, mengambil piring si bungsu lalu meletakkan sesendok nasi ke piring tersebut.
"Lo sendiri Han, tadi ngumpul sama siapa aja?"
"Biasa, anak kantor lama. Jihan, Yusuf, Ridho, Kamal," jawab saudara kembarnya, mengadah dan meminta piring Reksa tetapi lelaki itu ingin mengambil nasinya sendiri. Reyhan pun menggeser penanak nasi ke arah Reksa.
"Oh, lo udah lama gak ketemu mereka ya."
"Ho'oh," jawab si lelaki. "Yusuf udah berhenti merokok, yang lain masih. Gue mah masih di jalan yang benar."
"Tapi abang gak ada kepikiran mau nyebat kayak mereka?" tanya si bungsu, membuat Reyhan menggeleng.
"Abang gak suka sama asapnya. Mereka aja kalau ngerokok pas ada abang, abang suruh asapnya jangan kena ke abang. Walau kadang ada yang bingal."
Juanda mengangguk bangga. "Bagus bagus."
"Lagian mahal sih. Mending abang beli buat kopi atau bakso."
"Keseringan minum kopi juga gak baik, bang."
Mendengar itu membuat Reksa terkekeh pelan, tetapi respon tersebut disadari oleh si bungsu.
"Bang Esa juga."
Kedua saudara kembar itu saling beradu pandang, beralih pada adik mereka yang menyendokkan sambal mangga ke dalam piringnya lalu memakannya dengan nasi dan kembali bicara, "Adek sih gak tahu yang gak ketahuan, tapi kalau adek lihat abang terlalu sering apalagi sampai beli yang satu liter, awas aja."
Baik Reksa dan Reyhan kembali bertatap lagi, teringat mereka menyembunyikan satu liter kopi di dala laci sayur kulkas. Akan tetapi mereka berdua memilih untuk tidak tahu.
"Iya adikku sayang," Reksa membalas sembari mengusap pipi si bungsu, membuat Juanda yang masih mengunyah nasinya itu terdiam dan mendengkus.
"Abang tadi kenapa tiba-tiba nanyain kami?"
"Dia kangen sama kita, dek." Reyhan menjawab, membuat Reksa tersenyum malu.
"Ya ... emang kangen, sih."
Juanda ber-oh panjang. "Sering-sering aja, biar adek ada alasan buat pulang awal."
"Emang abangmu bisa dijadiin alasan?" tanya Reyhan.
"Bisa dong."
"Tadi pake alasan abang biar pulang cepet?" Reksa bertanya, dijawab anggukkan oleh Juanda.
"Sebenernya pertemuan sama terapisnya tuh agak lama karena si Lara pulang duluan tadi sore, adek ngikut bentar doang terus pakai alasan kalau Bang Esa lagi bikin syukuran naik jabatan," jelasnya, membuat kedua kakak kembarnya itu tertawa.
"Esa naik jabatan dari jaman lebaran kuda, syukuran dari mananya."
"Ada-ada aja kamu, dek."
"Tapi ya ... yang kayak gini juga termasuk syukuran gak sih?" imbuh Juanda. "Bersyukur karena kita masih bisa kumpul, makan bareng, ketawa sama-sama."
Senyum geli terulas di wajah Reyhan, diikuti Reksa yang memberi respon serupa. Juanda mengunyah makanannya sembari melihat kedua kakak kembarnya bergantian—menunggu jawaban.
Apa yang diucapkan sang adik benar. Reyhan sudah lama berhenti dari pekerjaan lamanya, yang membuat lelaki itu kembali ke kota dimana dia lahir dan dibesarkan, lalu bekerja di tempat ini sampai berganti pekerjaan yang terbilang santai—menjadi guru PAUD. Reksa yang memiliki jabatan sebagai ketua divisi, pekerjaannya memang semakin banyak tetapi waktu luangnya pun tetap ada. Juanda yang masih berprofesi sebagai dokter, beralih tempat kerja menjadi dokter estetika di sebuah klinik kecantikan. Mungkin, dia termasuk satu diantara ribuan dokter laki-laki yang beruntung karena bisa bekerja di klinik kecantikan. Tak banyak dokter pria yang bisa mendapat pekerjaan tersebut, apalagi jadwalnya yang tak sepadat bekerja di UGD membuatnya semakin senang dengan pekerjaan barunya.
Mereka tak terlalu sibuk, tetapi meskipun sibuk, mereka akan berusaha untuk meluangkan waktu karena ... mereka hanya memiliki satu sama lain sebagai keluarga.
"Iya, dek. Bener." Reksa menjawab. "Udah bisa makan bareng gini aja itu suatu hal yang disyukuri."
"Masih bisa kumpul juga," sambung Reyhan sembari menyendokkan sup ke dalam piring kosongnya.
Juanda mengangguk pelan sembari mengulum bibir. "Apa pun yang terjadi ke depannya ... tolong jangan berubah."
Reksa terkekeh, sementara Reyhan tertawa mengejek sembari merangkul si bungsu.
"Emang abang-abangmu bakal berubah jadi apa? Ultraman?" Reyhan menggoda sembari mencubit pipi Juanda.
"Ya mana tahu ... masih banyak hala rintang yang belum kita terima di masa kini atau pun nanti."
"Kalau udah terjadi, ya terjadi aja dek," timpal Reksa. "Pasti tetap ada jalan keluarnya. Kalau gak ada? Ya dinikmati aja."
"Pengalaman hidup Bang Esa-mu udah jauh banget itu."
"Umur kita sama ya, Han."
Reyhan melepas tawa, diikuti Juanda yang menggeleng pelan saat mendengar candaan kakak lelakinya.
Di saat itu, Reksa merasa kehampaan di hatinya terisi penuh. Ia memerlukan cengkrama bersama saudaranya, yang terdengar sederhana tetapi mampu membuat hatinya berlapang dada.
