Chapter Text
JIKA boleh memilih, ingin rasanya Kozume Kenma mengalami hilang ingatan atau bahkan terjebak dalam kehidupan masa kanak-kanak yang kenangannya tak pernah ada tandingan. Meskipun ia sadar betul bahwa sedari kecil dirinya hidup bak manusia kehabisan energi. Terlalu enggan beraktivitas ke sana kemari sampai sang anak tetangga yang berusia satu tahun lebih tua darinya tak pernah lelah menghampiri rumahnya dan membuat Kenma keluar dari zona nyamannya.
Dia tidak lain dan tidak bukan adalah Kuroo Tetsurō. Satu-satunya orang yang tahu seluk-beluk kehidupan Kenma. Satu-satunya yang selalu ada untuk Kenma. Dan, satu-satunya yang bertahan ketika seluruh dunia mulai berpaling darinya. Bahkan dia pulalah yang mendukung Kenma melakukan apa pun yang ia mau ketika lelaki yang pernah menjadi setter tim bola voli itu nyaris tidak tahu lagi harus berbuat apa demi hidupnya sendiri.
Kehidupan keluarga yang harmonis seketika porak-poranda akibat takdir Yang Maha Kuasa. Kenma bahkan tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Sang Maha Pencipta apabila memang ini sudah jalannya. Kenma hanya bisa pasrah, berserah pada-Nya, memohon ampunan, memohon diberi ketenangan, bahkan doa yang terlantun dari belah bibirnya lambat laun terasa kurang sopan ketika ia betul-betul menginginkan untuk mengalami hilang ingatan.
Padahal rasanya baru kemarin keadaan di rumah ini terasa nyaman, penuh canda tawa, penuh kehangatan, penuh kasih sayang, dan penuh cinta. Bahkan Kuroo saja sudah dianggap sebagai bagian dari keluarganya.
Namun, hanya dalam satu malam saja semua kebahagiaan itu sirna. Segalanya terjadi bak mengedipkan mata. Terlampau cepat dan tidak terduga.
Rasanya jauh lebih menyakitkan daripada mengalami kegagalan ketika menghadapi musuh terakhir dari gim yang ia mainkan selama ini. Rasanya jauh lebih menyesakkan lantaran di kepalanya mulai terlintas berbagai kenangan membahagiakan. Rasanya sulit sekali untuk benar-benar merelakan karena memang segalanya tak akan pernah tergantikan.
Dalam tidurnya Kenma menangis. Dalam tidurnya Kenma meronta. Dalam tidurnya Kenma selalu memanggil orang tuanya.
Lantas lagi-lagi orang yang menjadi saksi atas segalanya adalah Kuroo. Dia ada di sana. Dia mencoba semampunya untuk membuat Kenma menjadi lebih tenang. Dia mencoba sekuat tenaga untuk menjadi tempat bersandar. Dia mencoba apa pun demi Kenma. Sebab sahabat masa kecilnya itu tengah menderita.
Penderitaannya tak akan pernah Kuroo sepenuhnya mengerti meskipun nyaris setiap hari dia berada di rumah ini.
Rumah yang Kenma bilang sudah terasa berbeda hawanya. Rumah yang Kenma bilang terlalu luas untuk dihuni seorang diri. Bahkan terakhir kali Kenma bilang bahwa rumah ini nyaris tidak layak disebut lagi sebagai rumah.
Kenma sudah kehilangan arah dan tak tahu lagi ke mana harus kembali.
Segala impian yang Kenma ingin wujudkan rasanya seperti angan-angan belaka. Segala harapan yang orang tuanya pernah ucapkan pun rasanya seperti kutukan yang hanya memenuhi kepala dan membuat dadanya sesak luar biasa.
Padahal harapan sang orang tua tidaklah muluk-muluk, bahkan terdengar sangat wajar. Lantaran sebagian besar orang tua di dunia ini pasti menginginkan hal serupa terjadi pada kehidupan anak-anak mereka.
Semoga kau sehat selalu, Nak.
Semoga kau bahagia melakukan apa pun yang kau inginkan.
Semoga segala hal yang baik terjadi dalam hidupmu.
Semoga kau mempunyai teman yang baik dan juga setia.
Semoga segala impianmu terwujud.
Ayah dan ibu akan menjadi orang yang paling bahagia jika kau juga bahagia, Nak. Kami tidak akan memaksakan apa pun padamu. Selama kau nyaman melakukannya, maka lakukanlah. Berjuanglah! Kami akan selalu mendukungmu!
Hingga akhirnya Kenma bertanya-tanya … bagaimanakah caranya bisa merasa bahagia?
Bagaimanakah caranya bisa mewujudkan segala impiannya jika satu dari sekian banyak mimpi sudah jelas tidak akan bisa ia capai?
Impian Kenma dan impian orang tuanya tidak akan pernah sejalan karena campur tangan Tuhan.
Membahagiakan orang tua, termasuk dalam daftar teratas impian Kenma. Meskipun ia sendiri paham bila dirinya bukanlah anak yang betul-betul berbakti pada kedua orang tuanya. Ia masih suka merepotkan mereka sampai akhirnya Kuroo pun turut serta melakukan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab Kenma sebagai anak.
Terkadang Kenma merasa iri terhadap diri Kuroo yang terlalu mudah bersosialisasi atau menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Terkadang Kenma merasa iri terhadap diri Kuroo yang selalu terlihat begitu hebat dan mampu menginspirasi orang-orang terdekatnya. Terkadang Kenma merasa iri … mengapa hanya dirinya sendiri yang seakan jalan di tempat dan tak pernah memulai perubahan?
Terlebih kini Kenma seakan semakin berpangku tangan, terjebak dalam keterpurukan, dan bertemankan keputusasaan dengan dalih semua ini karena dorongan keadaan.
Mau sampai kapan Kenma harus menjalani kehidupan yang seperti ini?
Ia sendiri pun masih mencoba untuk menguatkan diri karena rasanya sangat mustahil untuk bisa bangkit secepat mungkin.
“Kenma! Oy! Makan dulu. Main gim juga perlu tenaga, kan?”
Sang empunya nama lantas menoleh pada sosok yang tengah menyodorkan mangkuk berisi bubur.
“Bubur lagi?”
“Siapa yang kemarin-kemarin bilang malas mengunyah?”
“Ah … iya,” jawab Kenma seraya menerima mangkuk bubur tersebut. “Makasih.”
“Hmm. Sama-sama. Kalau sudah selesai makan, mangkuknya simpan di depan pintu kamar saja. Aku akan kemari lagi sepulang kuliah nanti.”
“Aku bisa cuci mangkuknya sendiri, Kuroo.”
Sontak Kuroo menggelengkan kepala. “Jangan coba-coba masuk ke dapur! Aku tak ingin melihat kekacauan seperti yang terakhir kali kau lakukan.”
“Ah … maafkan temanmu yang tidak berbakat dalam hal apa pun ini,” ujar Kenma dengan raut wajah yang sendu dan mata yang terfokus pada mangkuk buburnya.
Ketika melihat Kenma berekspresi semacam itu, Kuroo langsung menyentil dahi Kenma. “Bodoh! Aku hanya mengkhawatirkan keselamatanmu dan rumah ini. Karena bagaimanapun juga rumah ini adalah satu-satunya peninggalan kedua orang tuamu.”
Lantas Kenma mendongak usai mendengar ucapan sang lawan bicara. Kenma sedikit bingung dengan perhatian yang selama ini Kuroo berikan padanya. Kuroo sudah terlalu jauh masuk ke dalam hidupnya. Sebab memang tak ada lagi orang yang bisa ia anggap sebagai keluarga selain Kuroo. Terlebih sejak kedua orang tuanya meninggalkannya seorang diri, untuk selama-lamanya. Dan, sanak-saudara pun tidak ada yang peduli dengan bagaimana Kenma akan menjalani kehidupan. Kenma benar-benar terasingkan di rumah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman.
Bila boleh berkata jujur, Kenma masih menyayangkan kehendak Tuhan yang terlalu cepat memanggil orang tuanya ke nirwana. Dan, mengapa pula orang tuanya harus pergi dengan cara yang begitu tragis?
“Kuroo ….”
“Ya?”
“Rumah ini … bukankah lebih baik kita tempati bersama-sama?”
“Bodoh! Bukankah secara praktiknya kita memang sudah tinggal bersama?”
“Eh …?”
Aku tahu kau hanya menganggapku sebagai teman masa kecilmu. Aku tahu kau hanya menganggapku tidak lebih sebagai anak tetangga yang usil dan suka mengganggu ketenanganmu. Aku tahu bahwa aku egois dan ingin selalu melibatkanmu dalam setiap hal yang kulakukan.
Lantas kini biarkanlah aku menjadi manusia yang lebih egois lagi. Menjadi satu-satunya orang yang bisa kau andalkan dan menjadi tempat untukmu pulang.
Aku sangat menyadari rasa kesepian dan kesedihan dari sorot matamu.
Aku sangat menyadari bahwa kau tidak benar-benar bisa melupakan kejadian nahas itu.
Tetapi, kau harus tahu bahwa aku tidak akan ke mana-mana.
Aku akan selalu ada di sini, untukmu.
Di rumah ini, masih ada aku. Kau ...tidak sepenuhnya sendirian.
Kita bisa membuat suasana rumah ini menjadi lebih menyenangkan bersama-sama.
~ Bersambung ~
