Actions

Work Header

Strawberry Shaved Ice

Summary:

Tentang Tooru, Tobio, dan es serut rasa stroberi.

Notes:

Submission for #HQFamilyTree by @hqfanworksparty

[Hutan Server — Es Serut]

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Bio mau kado apa hari ini?”

“Es serut stroberi!”

“Es serut?”

“Mhm!”

“Selain itu? Mau kado apa lagi?”

“Mmmm, es serut stroberi!”

“Hahahahahahahahaha, oke deh. Abis ini kita beli es serut stroberi, ya.”

“Yey! Oke!”

 

***

 

“Hajime, nanti tolong gantiin gue pimpin rapat, ya.”

Merasa namanya disebut, pemuda bernama Hajime tersebut menoleh, melihat Tooru sang pemilik suara sedang mengemasi barang bawaannya.

“Gantiin lo?” tanyanya memastikan

Tooru mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya, “gue mau ke Tobio.”

Oh.

“Oke, titip salam gue buat Tobio, ya.”

Kali ini Tooru menoleh, menatap tepat di mata Hajime dan tersenyum, “gue yakin Bio pasti seneng dapet salam dari lo.”

Hajime tertawa kecil lalu menepuk pelan punggung Tooru, “sana, cepet! Tobio pasti udah nunggu.”

Tooru terkekeh sembari mempercepat kegiatannya. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, ia menepuk pelan bahu Hajime lalu melenggang pergi dengan senyum yang terpatri di wajahnya.

Enaknya beli es serut rasa apa, ya, hari ini?

 

***

 

“Ih! Asem banget!”

Tooru tertawa, “kan kamu sendiri yang pilih rasanya, Bi.”

Lelaki di hadapannya, Tobio, mengerucutkan bibirnya, sedikit tidak puas dengan rasa yang ia pilih.

“Biasanya nggak seasem ini, tau!”

“Terus mau gimana?” tanya Tooru, masih tertawa, “mau ganti rasa lain?”

Tobio menggeleng, “sayang uangnya,” ucapnya sembari kembali mencoba menyuap sisa es serut itu ke dalam mulutnya dan berakhir kembali mengundang gelak tawa Tooru akibat ekspresi yang ia buat.

“Diem, Kak! Jangan ketawa terus! Mending bantu aku abisin esnya!”

“Iya-iya,” ucap Tooru lalu ikut menyuap es serut di hadapannya. Begitu lidahnya berhasil menyecap rasa dari es tersebut, dahinya mengernyit, “gila, asem banget!”

Told ya,” Tobio mendengus, “warung ini nggak Bio approved,” ucapnya sembari mengaduk es serut tersebut, berharap segera mencair dan dapat mengurangi rasa asam tersebut.

Bio approved bio approved, emang kamu udah coba semua rasanya?”

Tobio melirik sekilas, “oke, ganti. Rasa stroberinya nggak Bio approved,” ucapnya yang lagi-lagi mengundang tawa lawan bicaranya.

“Besok kita cari warung es serut yang lain—”

“Yang rasa stroberinya enak, nggak asem,” tambah Tobio.

“Iya-iya, adek bawel,” balas Tooru sembari mencubit pipi lelaki yang lebih muda dan berujung mendapat pukulan kecil pada lengannya.

“Aku laporin Mama, ya!”

“Jangan dong, nanti uang bulananku dipotong, kamu juga yang repot.”

“Bodo amat. Itu urusan kamu buat mikir gimana caranya biar aku nggak ikut repot,” balas Tobio sembari menjulurkan lidah, mengejeknya. Tooru hanya terkekeh melihat reaksi Tobio. Ah, sungguh keputusan yang tepat untuk mengajak adiknya menghirup udara segar setelah sekian lama.

 

***

 

“Pak, saya beli es serut stroberi dua, ya. Dibungkus,” ucap Tooru kepada seorang pria yang terlihat sedang beristirahat di balik gerobak. Tak butuh waktu lama, pria tersebut langsung berdiri dan tersenyum begitu melihat sosok pembelinya.

“Seperti biasa, ya?”

Tooru menyunggingkan senyuman tipis, “iya,” jawabnya.

“Oke, ditunggu, ya.”

Tooru mengangguk sebagai balasan lalu membuka ponselnya. Tidak ada yang berbicara setelah itu, baik Tooru maupun pria tersebut. Tooru sibuk membalas pesan dari temannya, Hajime, sementara pria di hadapannya sibuk menyiapkan pesanannya. Sedikit canggung, biasanya mereka akan tetap berbincang meskipun sang penjual sedang menyiapkan pesanannya. Namun, kali ini rasanya Tooru tidak ingin banyak bicara. Ia seperti ingin menyimpan energinya.

Di tengah keheningan, ponselnya kembali berdenting. Kali ini ia mendapat pesan dari ibunya.

 

Kamu jadi ke Tobio hari ini?

Jadi, ma. Ini lagi mampir beli es serut kesukaan Tobio.

Oke, hati-hati, ya. Maaf mama nggak bisa ikut, ada rapat mendadak di kantor.

It’s okay, ma, nanti Tooru bilangin ke Tobio kalo mama ada urusan mendadak.

You can visit him tomorrow, anyway, so he won’t miss you.

 

Tidak ada balasan lagi setelah beberapa menit. Mungkin rapatnya sudah mulai, pikirnya. Oleh karena itu, ia kembali membuka pesan lainnya, memastikan apakah terdapat pesan penting yang perlu ia balas dengan segera.

“Kalau diingat-ingat, Mas Tooru selalu beli rasa stroberi, ya. Nggak pernah rasa yang lain.”

Tooru mengalihkan perhatiannya dari ponselnya, menatap sang pria yang masih sibuk menyiapkan pesanannya.

“Iya,” Tooru terkekeh, “adik saya sukanya rasa stroberi soalnya.”

Pria tersebut mengangguk paham sebelum kembali bertanya, “makanan atau minuman lainnya juga suka rasa stroberi kah, Mas?”

Tooru menggeleng, “cuma es serut aja, Pak. Untuk rasa di makanan atau minuman lain nyesuaiin mood dia aja,” jawabnya sembari tertawa kecil.

Mendengar jawaban Tooru, pria tersebut tersenyum sembari menyerahkan tas plastik berisi pesanannya, “kalau boleh tau, kenapa cuma suka rasa stroberi untuk es serut?”

Tooru ikut tersenyum lalu menerima tas plastik tersebut, “who knows.

 

***

 

“Kamu serius nggak mau coba rasa yang lain?”

Tobio menggeleng, “nah. Still the strawberry one.

Tooru mendengus geli lalu menyampaikan pesanan mereka pada sang pelayan. Begitu pelayan tersebut menjauh, Tooru kembali bersuara.

“Padahal tempat kali ini rasanya lebih banyak, loh. Yakin kamu tetep mau rasa stroberi?”

“100% yakin,” Tobio mengangguk mantap, “justru karena tempat baru makannya aku pilih stroberi. Biar aman.”

“Di warung kemaren-kemaren ternyata rasa stroberinya nggak sesuai ekspetasi kamu, tuh.”

Tobio mendelik, “yaudah sih, namanya juga trial and error.

Tooru tergelak, tertawa cukup kencang hingga membuat beberap pasang mata melihat ke arah mereka. Merasa tak enak, Tobio memukul pelan tangan Tooru.

“Ssstt! Kakak! Diem! Nggak enak sama yang lain, tau!”

“Lagian kamu, sih,” Tooru mengusap ujung matanya, “apaan coba trial and error? Emang kamu lagi bereksperimen?”

“Iya, eksperimen nyari es serut rasa stroberi paling enak di dunia.”

Tooru menutup mulutnya, mencoba menahan tawanya hingga seluruh badannya bergetar. Melihat hal tersebut, Tobio hanya memutar matanya, membiarkan sang kakak menahan tawanya hingga puas.

“Lagian kenapa harus rasa stroberi? Kenapa nggak rasa yang lain? Shaved ice can be paired with another flavor, you know,” tanya Tooru setelah berhasil mengatur napasnya.

“Mm, ‘cause I like strawberry-flavored?”

Tooru masih menatap Tobio, tak puas dengan jawaban yang dilontarkan oleh lelaki di hadapannya.

Tobio menghela napas panjang, “well actually, there’s no specific reason. I just like the red color on top of the shaved ice. It’s just… pretty. Lagian kenapa sih harus ada ales—”

Ucapan Tobio terpotong, tergantikan oleh suara batuk cukup keras yang keluar dari mulutnya. Melihat hal tersebut, Tooru dengan panik langsung menghampiri Tobio.

“Ya tuhan, Tobio, are you okay? Ada yang sakit nggak? Atau mungkin ada sesak? Kepalanya pusing nggak?” Tooru mengusap pelan punggung Tobio, “oh, God, seharusnya kita nggak usah hunting es serut hari i—”

I’m fine,” Tobio kembali terbatuk, “ini batuk biasa, Kak, serius.”

“Tapi—"

“Kalo Kakak batalin hunting es serut hari ini, aku lapor ke Mama.”

Tooru terdiam beberapa saat sebelum akhirnya terkekeh geli, “lapor aja, toh kamu juga yang dimarahin nantinya.”

“Ish! Yaudah, kalo kamu batalin hunting-nya, aku ngambek sama kamu!”

Tooru tertawa kecil dengan tangan yang masih mengusap pelan punggung Tobio.

Tobio, please, live longer.

 

***

 

Tooru menyusuri lorong rumah sakit dengan cepat, berharap segera sampai pada ruangan yang menjadi tujuannya. Tangannya sedikit mengepal, merespon rasa panik yang menguasai dirinya. Rasa panik yang muncul setelah mendapat pesan dari ibunya bahwa Tobio ‘ambruk’ di dapur beberapa menit lalu. Ia ingat bagaimana ia langsung berlari meninggalkan rapat yang sedang ia pimpin dan mengundang banyak tatapan heran. Ia ingat bagaimana beberapa temannya mencoba memanggil, bahkan mengejarnya. Ia ingat bagaimana Hajime melarangnya untuk pergi sendiri dan menawarkan untuk mengantarnya ke rumah sakit. Ia ingat semuanya dengan jelas meskipun terjadi begitu cepat. Benar, kejadiannya begitu cepat, bahkan belum sempat ia cerna seutuhnya!

Di perjalanan menuju rumah sakit, beberapa kali ia mendengar Hajime menyuruhnya untuk tetap sadar dan tenang. Ia juga dapat merasakan tangan Hajime yang meremas pelan tangannya, mencoba menenangkannya. Pada saat itu, Tooru hanya bisa menghembuskan napas panjang lalu mengusap sebelah tangan hajime yang menggenggam tangannya, memberi isyarat bahwa ia berusaha baik-baik saja.

Ya Tuhan, tolong jangan ambil Tobio.

Tooru menghentikan langkahnya di depan pintu ruangan yang ibunya beritahu. Dengan pelan, ia membuka pintu tersebut dan disambut dengan pemandangan adik dan ibunya yang sedang berbincang—ah, lebih tepatnya ibunya yang sedang ‘mengomeli’ adiknya.

“Iya-iya, Ma. Lagian Tobio baik-baik aja, kok—Ah, Kak Tooru! Tuh, Ma, Kak Tooru udah dateng, jadi mama bisa pergi ke tempat temen mama. Mama ada janji, kan, hari ini?” ucap Tobio begitu melihat Tooru yang mendekat ke arah mereka.

“Tobio, janji mama sama temen-temen mama nggak ada apa-apanya dibanding kamu. Kamu prioritas mama, sampai kapanpun,” Sang Mama menggenggam tangan Tobio, “mama panik banget waktu kamu tiba-tiba ambruk, Tobio, mama takut kamu kenapa-napa.”

Tobio tersenyum lalu membalas genggaman tersebut, “I know, Ma, I know. And I’m sorry for making you worry. Tapi sekarang Tobio baik-baik aja, kok, Ma, Tobio udah 100% sehat! Terus, di sini juga ada banyak perawat, dokter, bahkan Kak Tooru, jadi pasti aman!” balasnya sembari terkekeh.

Sang Mama hanya bisa menghela napas panjang mendengar penuturan Tobio. Ia kemudia membawa tangannya ke atas kepala putra bungsunya, mengusapnya penuh kasih sayang.

“Oke, Mama pergi sebentar. Kamu tidur aja, istirahat, nggak usah aneh-aneh,” Sang Mama menoleh ke arah Tooru, “tolong jaga adik kamu, ya, Tooru. Kalo dia bandel, langsung kabarin Mama.”

“Tenang aja, Ma, nanti Tooru sentil kepalanya kalo Tobio bandel,” ucap Tooru yang disambut dengan pekikan tidak terima. Sang Mama hanya tersenyum lalu melenggang pergi dari ruangan.

Setelah memastikan kepergian ibunya, Tooru langsung mendudukkan tubuhnya pada kursi yang sebelumnya dipakai oleh ibunya. Ia hanya diam, menatap Tobio yang berbaring di ranjang rumah sakit dan membuat sang adik merasa sedikit canggung.

“Kenapa, Kak—”

“Kamu serius baik-baik aja?”

Tobio menatap Tooru yang masih menatapnya, “yep, I’m fine. Totally fine. Untung aja, sih, mama belom berangkat, jadi bisa lebih cepat ke rumah sakitnya—”

“Right, lucky you mama hadn’t left yet at that time.”

Tobio mengernyit, tidak mengerti maksud dari ucapan Tooru. Baru saja akan membalas, Tooru sudah kembali bersuara.

“Kamu tau seberapa paniknya aku waktu tau kamu masuk rumah sakit? I rushed out here right after I got the message. I even left my entire damn meeting, you know?

Ah, jadi ini maksudnya. Sepertinya seseorang akan mengomelinya lagi.

“Maaf, Kak Tooru…”

Tooru menghembuskan napas panjang sebelum menarik Tobio ke dalam pelukannya. Memeluknya erat seakan takut Tobio akan pergi begitu ia melepas pelukannya.

I’m scared, Tobio, I’m fucking scared,” Tooru mengeratkan pelukannya, “please, don’t leave us. Don’t leave me.

Tobio membalas pelukan Tooru dan mengusap pelan punggung yang sedikit bergetar tersebut. Sembari menenangkan sang kakak, Ia berbisik, “I won’t.

 

***

 

Tooru menghentikan langkahnya dan mendudukkan tubuhnya di atas rumput. Di hadapannya terdapat batu nisan bertuliskan nama seseorang yang sangat ia sayangi. Yang akan selalu ia rindukan kehadirannya sampai kapanpun.

 

Oikawa Tobio

 

“Hai, Tobio. Apa kabar? It’s been two years since you left us,” ucap Tooru sembari mengusap batu nisan tersebut.

“Kamu udah ketemu Papa, belum, di sana? I always remember you saying that you missed Papa and wanted to meet him,” Tooru terkekeh, “oh, iya, maaf ya, Mama hari ini nggak bisa jenguk kamu. Ada rapat mendadak katanya. Tapi tenang aja, I’ve told her to visit you tomorrow. And guess what? Hajime says hello to you. You must be happy for that.

Anyway, Mama and I are fine. We’re fine, now, so you don’t have to worry about us and enjoy your new life there, okay?” lanjut Tooru sembari membuka tas plastik yang ia bawa. Ia meletakkan satu cup es serut di depan batu nisan Tobio dan membawa sisanya ke pangkuannya.

Here, I've got you a present, your favorite birthday present. I even bought two, you know, so we don’t have to share,” ucapnya sembari tertawa lalu menyuap es tersebut ke dalam mulutnya.

Ah, rasa ini. Rasa yang selalu membuat Tooru ingin menangis setiap menyecapnya. Satu suap, dua suap, tiga suap. Pada suapan keempat, tangan Tooru bergetar. Ia bahkan merasa tidak bisa mengangkat sendoknya.

“Aku—” Tooru memejamkan matanya, membiarkan air mata mengalir di pipinya, “Kakak kangen banget sama kamu, Tobio, selalu kangen kamu.”

“I had told you not to leave me, back then, not to leave us. You even said you wouldn’t leave, Tobio.” Tooru mulai terisak, “but you still left.

Everything feels different, now. There’s no you to rush me to hunt for strawberry shaved ice anymore. There’s no you to comment on every strawberry-flavored of every shaved ice that we try anymore. There’s no you anymore, Tobio.

Isak tangis Tooru tidak berhenti, bahkan seluruh tubuhnya mulai ikut bergetar. Tidak peduli dengan napasnya yang mulai tidak beraturan, kepalanya yang mulai terasa sakit, hingga mata yang mulai terasa membengkak. Tidak peduli lagi. Yang ia pedulikan hanya rasa rindunya kepada Tobio yang semakin membuncah.

Setelah beberapa menit berlalu, ia mulai mengatur napasnya. Isak tangis hingga getaran pada tubuhnya pun mulai berhenti. Tooru sudah mulai tenang.

Tooru kembali menatap batu nisan di hadapannya, “maaf, ya, Bi, es serut punyaku nggak habis. Kalo kamu di sini, pasti kamu ngomel-ngomel,” ucapnya sembari tersenyum kecil membayangkan raut wajah Tobio yang sedang mengomelinya.

“Kamu di sana juga pasti makan es serut terus, kan?” Tooru tertawa, “but it’s fine, tho, since you’re not sick anymore.

Tooru menghembuskan napas panjang kemudian berdiri sembari menepuk-nepuk bagian belakang celananya, “Aku pulang dulu, ya, Bi, udah mulai gelap. Tahun depan aku ke sini lagi, bahkan kalo bisa bareng mama,” ucapnya.

Sebelum melangkah pergi, Tooru mendekat ke arah batu nisan Tobio, menempelkan dahinya pada batu nisan tersebut.

“Selamat ulang tahun, Tobio. Please, be happy and enjoy your new life there,” Tooru mengecup singkat batu nisan tersebut, “I’ll always love and miss you.

Notes:

Finally done in just one day with weird stroyline aksjdkdnwjdwdkwd.
Anyway thank you for visiting, guys! You can find and read my other works on X @thegreatkambe