Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-12-25
Words:
4,335
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
18
Bookmarks:
1
Hits:
538

Obliviate

Summary:

I was left with no choice, but to cast my last spell onto you. I can not have you, so let me live the rest of my life with the only thing I can keep for myself forever; our memories.

Notes:

The Memory Charm (Obliviate), also known as the Forgetfulness Charm, is a charm that could be used to erase specific memories from an individual’s mind.

Work Text:

Oh, I wish I could erase you from my memories.

Dulu. Dulu sekali. Alec pernah berdoa seperti itu dalam hatinya. Seolah ia punya Tuhan yang akan mendengar keluh kesahnya. Atau mungkin ia sebenarnya tahu kalau selama ini ia cuma mengeluh dan merapal segala rutuknya pada gugus bintang yang tertawa di balik awan hitam pada langitnya.

Ia menarik tepi mantel musim dinginnya. Susah payah menahan gigi yang bergemeletuk karena tubuh yang mulai gemetar sebab dingin yang mulai menusuk hingga ke tulang. Ia merogoh salah satu sisi mantelnya, meraih sebuah flask berisi alkohol dari saku bagian dalam. Suara denting stainless steel terdengar nyaring sebelum ia meneguk isinya.

Dahinya berkerut ketika cairan dingin namun panas itu mengaliri kerongkongan. Ia mengerang tertahan ketika panas itu menjalar hingga ke perutnya, kemudian menghembus napas panjang ke udara yang mengepul berasap tipis tanda suhu yang beranjak semakin rendah.

“HAAHHHH..”

Alec biarkan maniknya menerawang jauh. Ia terbiasa berlama-lama habiskan waktu di atap gedung yang sepi. Apalagi di tengah musim dingin yang menusuk kulit, dimana orang-orang sibuk menghangatkan diri di depan perapian seraya menghenyakkan diri pada sofa nyaman.

Lamunannya buyar ketika menara jam di seberang gedung berdentang menunjukkan waktu. Ia tersentak kecil kemudian bangkit dan berlalu. Ia merapal manteranya dalam hati, kemudian sosoknya lenyap seraya ia ber-disapparate dari sana.

 

 


 

Years ago, at Hogwarts school of witchcraft and wizardry

Alec melangkah santai di koridor yang sepi. Satu tangannya menenteng firebolt supreme kesayangannya, sementara tangan lainnya sibuk melepas dan menangkap kembali snitch yang berusaha kabur dari genggaman. Ia berbelok di sudut koridor, merunduk kecil kala hantu menara sebelah terbang rendah ke arahnya.

Alec tak suka rasa dingin yang merayapi ketika makhluk gaib itu menembus tubuhnya. Telinganya menangkap suara gaduh dari sela kaca-kaca jendela greenhouse nomor tiga. Ia lantas perlambat langkahnya, mendengar lebih dekat seraya mengintip lewat sela jendela-jendela yang sedikit terbuka.

Langkah perlahan itu kemudian menghilang ketika tungkainya diam sempurna. Manik kembarnya mengedar pelan sebelum terhenti pada sosok di dalam sana. Ia bergerak sedikit, mencari celah yang cukup sekadar mengintip dari sela dahan-dahan kecil venomous tentacula yang berayun ke segala arah menutupi jarak pandang dari jendela.

Alec bersumpah ia tak pernah melihatnya sama sekali sebelumnya. Kulit seputih susu, rambut legam yang berayun ketika ia mengangguk pelan serta sepasang gigi taring yang tampak ketika ia tertawa dan kedua manik legamnya menghilang. Berganti dua bulan sabit kembar yang melengkung manis. Alec dapati dirinya tersihir. Ia melangkah lebih dekat, jemarinya melepas snitchnya untuk meraih sisi jendela dan menatap lebih dekat.

“OUCH!”

Ia mengaduh tak sengaja. Kemudian merunduk dan bersandar pada batuan dinding di bawah jendela seraya menatap punggung tangannya yang baru saja disengat oleh salah satu dahan kecil tumbuhan tentakula beracun. Ia menahan nyeri seraya berusaha membungkam suara sebab sekejap tadi ia sempat melihat kepala-kepala yang menoleh terkejut ke arahnya. Termasuk si manis yang tadi sedang ia perhatikan lekat-lekat.

Alec mengutuk ketika kedua lututnya terasa lemas padahal ia ingin cepat-cepat menghilang dari sana. Derap langkah kaki terdengar mendekat. Alec susah payah mengatur napas ketika ia terpaksa menengadahkan kepala, menatap sosok menjulang dalam balut seragam Hufflepuff yang menatapnya kebingungan.

“You, okay?”, tanyanya dalam gumam rendah.

Alec memaksa kedua tungkainya untuk menopang tubuh yang ia paksa berdiri. Ia terhuyung kemudian bersandar pada dinding yang jendelanya tak terbuka di sebelahnya. Tangannya ia dekap erat, sengaja ia sembunyikan di balik jubah latihan Quidditchnya.

“You’re bitten!”, pekiknya kaget.

Alec mendengus pelan seraya melirik nyalang. Padahal jantungnya hampir merosot ke dalam perut karena makhluk manis itu tiba-tiba ada di hadapannya, bicara dengannya begitu saja.

“Come on, I can help.”

Kemudian tanpa basa-basi, jemari lentik itu meraih lengan Alec. Ia menggamit pergelangannya lantas menariknya dengan mudah ke arah pintu yang terbuka. Alec seolah kembali tersihir karena ia cuma bisa diam dan mengekor langkahnya meski banyak tanya yang ingin ia lepas ke udara.

 

***

 

“You sure about this?”, tanya Alec akhirnya.

Maniknya menatap serius pada kedua tangan yang sibuk mengoleskan ointment pada permukaan luka di punggung tangannya.

“They’re still young. I mean, the venomous plants. So the poison won’t kill you of course, but, you might suffer a headache and fever.”, balasnya tanpa melepas pandangan dari tangan Alec yang masih digenggamnya.

Ia meraih tongkat di saku jubahnya, mengayunnya pelan terarah pada tangan Alec yang pasrah dalam genggamannya.

“Ferula..”, rapalnya lembut.

Sebuah perban muncul begitu saja di udara. Secara magis membungkus luka sengat di tangan Alec dengan sempurna. Ada kepuasan dalam raut wajahnya ketika ia menjauhkan tangan Alec darinya, isyaratkan ia sudah selesai merawat lukanya.

“You can use that spell to protect it from water. Uh, what is it? I kinda forgot..”, keluhnya seraya berpikir.

“Impervius.”, ucap Alec seraya mengarahkan tongkatnya pada balut perban di tangannya.

Manik legam itu kembali cerah menatapnya.

“That’s the one.”, ucapnya kemudian.

“Thank you.. I guess..”, rapal Alec terbata.

“No problem, really. I’m Elias by the way. Elias Grey.”, ucapnya memperkenalkan diri.

Elias—such a beautiful name for a beautiful person.

“Hei?”, panggilnya ketika ia tak mendapat respon.

“Eh, oh.. I’m Alec. Alec Rivers.”, jawab Alec terburu-buru.

“I’m just kidding. I know who you are. The captain of the Slytherin quidditch house team, right?”, tanya Elias.

Alec mengangguk pelan.

“Sorry, but I think I have never seen you before.”, ucap Alec.

“That’s normal. I usually stay in the greenhouse, or potion class in the dungeon.”, jawabnya lantas terkekeh.

Tawanya ringan, tapi Alec terjerembab jatuh terlalu cepat—dan mungkin terlalu dalam.

 

***

 

Elias Grey adalah seorang Hufflepuff yang penyendiri. Kehidupannya di Hogwarts dipenuhi dengan tanaman-tanaman sihir, atau mantera-mantera penyembuh, hingga ramuan-ramuan langka yang bahkan tak ada dalam buku standar akademik.

Lelaki itu terlahir dari keluarga yang sempurna seperti rupanya. Keturunan bangsawan penyihir berdarah-murni yang juga kaya raya. Namun entah kenapa ia seolah tak menyukai perhatian-perhatian tertuju padanya. Tak heran kalau Alec merasa tak pernah melihatnya, sebab Elias tak akan muncul di keramaian kecuali tak ada pilihan lain untuknya.

Namun sejak hari itu semuanya mulai berubah. Elias kini lebih sering tampak habiskan waktunya di great hall. Terutama ketika Alec dan tim quidditchnya punya jadwal berkumpul di sana. Alec akan dengan mudahnya berjalan menghampiri dari meja panjang Slytherin untuk kemudian beringsut duduk di sisi Elias. Kemudian seisi great hall akan turut merasakan iri sebab raut wajah cerah dan senyum yang ditukar keduanya itu terlalu menyilaukan untuk disaksikan terlalu lama.

Tak hanya Elias yang kini tampak berbeda. Alec pun kurang lebih sama. Dia seolah lahir jadi orang baru. Kapten tim quidditch Slytherin yang biasanya cuma bergaul dengan rekan-rekan seasramanya itu kini dengan mudah berpindah tempat ke meja Hufflepuff. Semudah ia melengkungkan senyum pada Elias siang ini. Semudah percakapan yang mengalir diantara mereka sejak pertemuan itu hingga saat ini.

“You seem tired?”, tanya Alec ketika ia duduk di sisi lelaki yang lebih muda satu tahun darinya itu.

Alec di tahun ke enam, sedang Elias di tahun kelimanya di Hogwarts.

“I’m fine. Just worried about my OWLs.”, keluh Elias.

 

*OWLs — Ordinary Wizarding Level examinations

 

Alec menjulurkan kepalanya, mengintip isi perkamen yang tengah ditulis oleh yang lebih muda. Alec menahan tawa karena hanya beberapa baris yang tampak di sana, sisanya malah berisi doodle-doodle tanaman sihir yang bergerak pelan seolah tertiup angin tak kasat mata.

“Hey, it’s not funny!”, gerutu Elias.

“Don’t worry. You won’t need to master Divination.”, tukas Alec.

Elias benci kelas ramalan dan Alec tahu betul soal itu. Padahal Elias menurunkan bakat terpendam dari sang nenek yang bisa melihat masa depan. Elias selalu raih nilai gemilang di kelas ramalan, namun itu semua murni dari dalam benaknya. Kalau bicara teori membaca bentuk daun teh atau kabut asap pada bola kristal, ia benar-benar tak punya daya.

“I know I don’t have to. But this one actually made me interested.”, ucap Elias.

“What is it?”, tanya Alec.

“Nevermind.”, balas Elias.

Ia meraih piala minum di sisinya, meneguk air dan melegakan dahaga. Kemudian menoleh tatap Alec dalam pakaian latihan quidditch lengkap dengan sapunya. Hanya kali ini tampak lebih hangat dengan mantel dan tutup kepala berbulu domba. Serasi dengan dekorasi yang menghiasi seluruh penjuru great hall menjelang natal.

“Another practice?”, tanya Elias.

Alec mengangguk antusias.

“It’s started snowing out there.”, protes Elias.

“I know. But, it’s quidditch.”, jawab Alec seraya nyengir.

Elias mencebik tipis. Alec tak bisa mengalihkan pandangannya dari raut teduh yang kini ditekuk padanya.

“Will you be back before dinner?”, tanya Elias.

“I guess.. Why?”

“I want to spend some more time before the holiday.”, ucap Elias.

Elias selalu bicara to the point dan apa adanya, dan jujur saja Alec sangat menyukainya.

“You’re leaving tonight?”, tanya Alec.

Ada sedikit kecewa pada kalimatnya dan Elias cukup pintar untuk menangkapnya.

“Yeah—but that’s exactly why I want to spend a little more time with you.”, ucap Elias cepat.

Alec terdiam sejenak. Kemudian ia kembali pasang wajah lembut.

“Meet me at the east wing tower. How?”

Elias mengangguk antusias.

“I’ll be there at six.”, jawab Elias.

“I’ll make sure I’ll be there earlier than you.”, bisik Alec.

Elias menunduk sembunyikan semburat malu di wajahnya yang pucat pasi. Alec bangkit berdiri, meraih sapunya dan sempatkan diri mengulurkan tangannya. Jemarinya mengusap lembut puncak kepala yang lebih muda sebelum tersenyum simpul dan beranjak dari sana. Rasanya Elias ingin berubah jadi piala minum atau jadi perkamen saja sekalian sebab tak kuat ditatap banyak pasang mata dari berbagai asrama.

 

***

 

Malam itu jadi salah satu malam tak terlupakan bagi Alec. Ia tampak gusar sementara Elias terus berusaha menenangkannya. Di salah satu sudut ruang terbengkalai pada menara di sayap timur kastil, Alec meninju dinding batu kuat-kuat. Sementara Elias memperbaiki letak kemejanya dan memasang kancingnya setelah dituntut paksa oleh Alec untuk membukanya—menampakkan luka lebam kebiruan di sekujur tubuhnya.

Alec pikir Elias menghabiskan liburannya dengan suka cita. Alec pikir Elias akan kembali dengan banyak cerita bahagia. Sayangnya Alec menemukan jejak lebam itu menyembul dari lengan kemeja yang tak sengaja Elias gulung asal-asalan. Manik Alec membelalak kaget sebelum Elias sempat menarik lengan kemejanya. Gagal menutupi luka yang selama ini ia sembunyikan.

“I’m fine, Al. I swear.”, ucapnya gemetar.

“NO, YOU’RE NOT!”, pekik Alec marah.

Sedih dan kecewa lebih tepatnya. Kenapa ia baru tahu kalau keluarga terhormat berdarah murni seperti keluarga Elias bisa berbuat seperti itu? Kenapa ia baru tahu kalau Elias selama ini hidup dan dibesarkan dalam lingkup keluarga yang problematik seperti itu?

“Alec—”

“Since when..”, ucap Alec gusar.

“...”

“Since when.. This—shit—happened to you?”, tanya Alec.

“...”

“Answer me, El..”, pinta Alec.

“Last year.. When I came home for holiday..and..and found out about us. My Mom..she—she read my mind and..”

Elias terbata berusaha menyelesaikan kalimatnya.

“She.. found out that I’m in love with you..”

Tangannya gemetar berusaha memasang seluruh kancing di kemejanya sementara genangan bening mulai tampak di kelopaknya. Ia melepas semua ketakutannya begitu saja. Hati Alec mencelos melihatnya, ia melangkah lemah menghampiri kasihnya yang meringkuk ketakutan. Ia meraihnya perlahan, seolah Elias akan hancur kalau ia memeluknya terlalu erat. Namun Elias seolah tak peduli, ia menghambur pasrah dan benamkan wajahnya pada ceruk leher Alec dan melepas isaknya yang tertahan.

“There.. There.. I’m sorry.. I’m not mad at you, El.. I’m just..”

Tangan Elias terulur, merangkul leher Alec lebih erat.

“But, I do love you..”

“I know. I even love you more, El. You know that..”

“Don’t leave me, Al.. Please..”

“I won’t.. I swear, I won’t..”, bisik Alec.

Ia meraih lengan kemeja Elias yang tergulung, menatap lebam yang mengintip keluar. Ia mengusapnya lembut. Kemudian meraihnya dan melabuhkan sebuah kecup pada lukanya yang membiru. Ini bukan luka biasa, pikir Alec. Luka pukul biasa akan menghilang dengan mantera penyembuh sederhana—dan Elias jelas-jelas menguasainya.

“It won’t disappear..”, gumam Elias pelan.

“Hmm?”

“The bruises.. I’ve tried so many spells, it only heals the pain. But the bruises remain..”, lanjut Elias.

“It’s okay, I would still kiss it all and love you even more.”, balas Alec.

“You shouldn’t punch the wall..”, ucap Elias seraya melepas pelukannya.

Ia meraih tongkatnya dan mengayunnya pelan seraya menggumam rendah. Kemudian luka menganga di buku-buku jari Alec selepas meninju dinding batu itu menghilang dengan magis. Hanya sisa bercak darah yang tersisa di sana. Elias meraih tepi jubahnya dan menghapusnya tanpa ragu.

“There.. You don’t need to see Mrs. Pomfrey.”, ucap Elias kemudian.

“Whatever for? I have my healer with me.”, balas Alec seraya senyum tipis.

Elias kembali bersandar nyaman pada peluk yang lebih tua. Alec mengusap pelan pada helai rambut Elias, seraya kembali mendekapnya erat.

“I wish I could heal you, El..”, ucap Alec.

“Well, you can do it too..”

“How?”

“Just stay with me.”

“Will do. But, your parents—”

“Let them drown in their rage.”, bisik Elias.

Lelaki rupawan itu menengadahkan kepalanya, jemari lentiknya meraih tengkuk Alec yang menunduk pasrah menyambut pagut lembutnya. Kedua pasang kelopak itu kemudian tertutup rapat seraya tiap kecup dan jamah yang saling merambah. Alec rasakan deru napas yang menggebu, seraya rindu yang membuncah setelah liburan panjang tanpa satupun kabar. Ia mendekap Elias lebih erat seolah ia dapat tiba-tiba hilang dari dalam peluknya.

Basah. Jemari Alec terulur naik, menyeka bulir bening yang lolos dari sudut mata indah kasihnya. Ia melepas ciumannya kemudian balas menatap manik Elias yang lembab dan berkilau diterpa cahaya bulan dari balik jendela. Sementara Elias menatap kosong pada kabut hitam yang tak pernah pergi dari punggung Alec sejak ia bertemu dengannya di depan greenhouse nomor tiga setahun yang lalu.

Apa yang sebenarnya menggelayuti Alec dan menghalangi Elias untuk mengintip sedikit saja masa depan mereka, jika itu memang ada?

 

***

 

Elias punya banyak luka, sedang Alec punya banyak rahasia. Sekalipun lelaki Slytherin itu tak pernah berniat merahasiakan apapun dari yang lebih muda. Singkat cerita, Alec lulus dan harus meninggalkan Hogwarts sementara Elias masih punya satu tahun lagi yang harus ia lalui dengan sepi. Sebab Alec tak lagi ada di sisi. Tak lagi menyambutnya dengan penuh kasih setiap ia kembali dari rumah dan ibunya lagi-lagi membaca pikirannya yang penuh dengan satu nama;

Alec Rivers.

“Yes?”, sahut Alec cepat.

Jemarinya dengan cekatan melipat kembali kertas surat yang selesai dibacanya cepat-cepat. Ia merogoh saku jubahnya, meletakkan sejumput pakan burung di ambang jendela yang disambut si burung hantu dengan suka cita.

Auror junior itu melesakkan lembar suratnya ke dalam saku mantel lantas melangkah hampiri sang superior. Ia menatap atasannya seraya menunggu perintah selanjutnya.

“You should come with me.”

“Yes Sir.”

“To Hogwarts, an important and secret business.”, ucap pimpinan unitnya.

“But we—”

“Yes, yes, Alec. We can not apparating inside the castle, right?”

Alec mengangguk setuju.

“I’ll send the message, we could wait at the gate.”

“Sure.”

Dengan suara letus pelan, sosok superior itu menghilang dalam sekejap. Alec merapal manteranya pelan kemudian turut lenyap di sela udara kosong.

 

 

***

 

“Surprise!”

“OH SHI— ALEC??”

Elias menahan umpatannya. Sementara Alec dengan cekatan merunduk raih beberapa buku yang terlepas dari dekapan yang lebih muda karena terkejut. Superiornya tengah mengunjungi ruang kepala sekolah, jadi Alec bisa menghindar sejenak dan mencuri waktu hampiri kasih yang dirindukannya.

Untung saja mereka berada di antara rak-rak buku tinggi di bagian belakang perpustakaan, kalau tidak mungkin sudah raih banyak tatap nyalang.

“Hi!”, sapa Alec jenaka.

“What are you doing here?”, tanya Elias kaget.

“Missing you.”

“Please..”

“You’re not?”, Alec balik bertanya seraya meletakkan beberapa buku herbology kembali ke rak.

“I mean, of course I do. I always do. Why didn’t you tell me you’re coming?”, tanya Elias.

Alec meraih pinggang kecil kasihnya, Elias mendekat dengan sukarela.

“I miss you, El..”

“Me too, me too, Al..”, tukasnya seraya mengusap pelan sisi wajah Alec.

Alec menjulurkan kepalanya, menghapus jarak dan mendaratkan kecup singkat pada labia tipis yang lebih muda. Singkat saja, namun cukup membuat Elias membelalakkan netranya.

“HEI!”, pekik Elias dalam bisik tertahan.

Alec tersenyum dan melepas kekeh pelan. Ia terus menatap kasihnya penuh sayang seraya mengusap lembut punggungnya penuh kerinduan. Berusaha keras tidak menghiraukan jejak lebam baru yang masih tampak di sela tepi lengan kemeja yang digulung asal-asalan. Hatinya tercabik-cabik lagi membayangkan waktu yang harus dilalui Elias sendirian di Hogwarts. Meski ketika ada dirinya pun ia tak bisa memberi apapun selain penghiburan.

“I can’t wait for your graduation.”, tukas Alec.

“Why?”

“So I can protect you with all my life.”, jawab Alec.

“So I can leave my family?”

Alec mengangguk penuh keyakinan. Senyum manis melengkung di wajah Elias.

“So you can leave your family, and be with me.”, tutur Alec pelan, hampir terdengar seperti sebuah bisikan.

 

***

 

They live in their dreams. At least that's what happened for a few years.

Alec di tahun keduanya sebagai Auror di Kementerian Sihir. Sedangkan Elias, seperti yang diduga, tentu saja berakhir menjadi seorang Healer. Sebauah passion dan minat yang sudah tampak bahkan sejak tahun pertamanya di Hogwarts.

Apartemen kecil itu dibagi berdua. Kalau Elias sejak pagi menghabiskan waktu di St. Mungo Hospital hingga petang, maka Alec akan berangkat kerja sedikit lebih malam untuk menunggunya pulang. Alec selalu menukar shift kerjanya dengan Auror junior agar ia sempat menghabiskan waktu dengan Elias. Sekedar mendengar keluh kesahnya mengenai pekerjaan, sampai berbagi peluk dan afeksi sekedarnya.

Alec jauh lebih tenang, sebab ia tak lagi melihat ada lebam kebiruan menghiasi kulit pualam sang rupawan. Baginya Elias adalah seindah-indahnya peranti keramik yang tak boleh lecet apalagi sampai terluka meninggalkan bekas.

Satu-satunya jejak yang boleh tertinggal cuma tanda cinta darinya. Biasanya bukan disengaja, melainkan Alec kehilangan kendali atas hasrat cintanya yang menggebu lantaran rindu. Hingga ia lupa diri dan menyesap permukaan kulit indah itu sekuat tenaga dan tinggalkan jejak cinta di sana.

“Nghh.. Alec..”

“Yeah?”

“Don’t leave marks, I don’t want to wear a turtleneck tomorrow.”, keluh Elias.

Sementara meski terlambat, Alec mengganti sesapnya dengan kecupan kupu-kupu yang tak ada akhirnya. Sejujurnya Elias lebih suka ketika kasihnya meninggalkan sebanyak-banyaknya jejak cinta asalkan bukan di tempat yang kasat mata.

Elias membenamkan jemarinya yang pucat pada helai rambut Alec. Ia menariknya lebih dekat, biarkan yang lebih tua menjamah turun ke dadanya yang terbuka dengan bibirnya yang tak henti mengecup penuh sayang. Ia menengadahkan kepalanya digulung nikmat yang mendera. Elias suka sekali bagaimana Alec memperlakukannya. Selalu lebih lembut daripada orang-orang yang punya nama belakang sama dengannya.

Selalu lebih baik daripada orang-orang terhormat yang katanya sedarah dengannya.

“Elias..”

“Hhh.. Yes?”

“I love you..”

“I.. I love you too.. Please don’t stop—”, pinta Elias ketika kecup Alec sejenak menghilang.

 

 

***

 

Everything was perfect. They almost live in a fairytale.

Sampai suatu hari mimpi buruk itu akhirnya jadi nyata dan segala tanya dalam benak Elias akhirnya temukan jawaban. Keluarga terhormatnya ambil langkah-langkah serabutan. Mereka mengacaukan hidupnya tanpa ampun, termasuk menghancurkan apartemen sederhana yang selama ini jadi tempat aman.

Elias terisak sementara Alec habis-habisan dimaki dan dihina.

Darah lumpur! Teriak mereka—dan Elias tak pedulikan air mata yang terus jatuh karena sakit hatinya melihat satu-satunya lelaki yang menyambutnya dengan hangat cinta disakiti dan tak berbuat apa-apa untuk membela dirinya.

Elias direbut paksa. Jemari Alec terulur jauh namun nihil gapai kasihnya.

Alec melihat dunianya pergi menjauh; sementara Elias saksikan kabut hitam semakin tebal menggelayuti Alec sebelum ia lenyap sempurna setelah letusan kecil terdengar dan ia hilang seutuhnya.

 

***

 

 

Elias mendekap kedua lututnya yang ditekuk. Maniknya menerawang jauh ke luar jendela yang dimanterai habis-habisan oleh sang ibunda. Ia tak menangisi luka lebam yang kali ini hiasi seluruh tubuhnya tanpa sisa. Ia menangisi kabut hitam yang semakin tebal terlihat pada masa depan yang berkelebat di matanya. Elias masih menerka, mengapa ia tak pernah melihat sedikit saja potongan masa depannya dengan Alec yang ia cinta.

Suara letusan menyentak Elias. Ia menoleh dengan siaga, kemudian membelalakkan kedua maniknya saat sosok Alec muncul begitu saja di tengah kamar tidurnya yang hancur berantakan serupa dirinya.

“A—ALEC?”

Auror muda itu meletakkan satu telunjuk tepat di bibirnya, isyaratkan Elias agar mengurangi volume suaranya. Sementara yang lebih muda tak ambil banyak peduli, ia menghambur ke arah Alec yang menyambutnya dalam peluk hangat. Seperti biasanya. Seperti sebelumnya.

Malam itu seperti mimpi bagi Elias. Bagaimana ia akhirnya bersandar nyaman lagi di dada Alec yang terbuka. Bagaimana usap lembut Alec lagi-lagi mengantarnya seperti sebuah lullaby. Elias menghilang dalam lelap, disambut mimpi yang kali ini tak seberapa buruknya.

Sementara malam itu Alec akhirnya biarkan dirinya kalah telak. Lebam kebiruan yang tampak di sekujur tubuh Elias membuatnya hampir gila. Buat bulir bening itu jatuh merana basahi pipinya. Seraya ia meraih tongkat dan merapal banyak sekali maaf ke udara. Berharap dengan kepergiannya, hanya kebahagiaan yang tersisa untuk Elias-nya. Selamanya.

Maka ia merapal mantera terakhirnya. Bisiknya lirih dalam desibel yang tak terdengar oleh telinga.

“Obliviate..”, bisiknya parau.

Kerut di dahi Elias perlahan memudar. Seraya kilau perak menjalar keluar dari pelipisnya dan melayang rendah pada ujung tongkat Alec yang teracung padanya.

Kabut gelap yang menggelayuti Alec perlahan memudar. Elias takkan pernah tahu kalau kabut itu adalah risau Alec akan dirinya. Kalau kabut itu adalah alasan mengapa masa depan mereka takkan pernah tampak selamanya. Kalau kabut hitam itu adalah gundah yang terus mengejar Alec karena rasa bersalahnya. Karena di masa depan itu, Alec sendiri yang menghapus dirinya—melenyapkan segala tentangnya demi selamat bagi Elias.

“I’m sorry, El.. I love you, I always do..”, bisiknya parau.

Ia menarik selimut dan menutup tubuh Elias supaya hangat. Ia menundukkan kepalanya, mengecup puncak hidung rupawan itu sebelum menyeka kasar wajahnya yang basah. Ia masih merapal banyak maaf dan cinta ke udara, bahkan hingga ia menghilang sempurna pada satu letusan yang bawa ia pergi dari hidup Elias selamanya.

 


 

 

Alec muncul begitu saja di tempat yang sama. Sebuah bangku kayu di taman yang kosong. Sebab orang gila mana yang duduk di taman pada malam yang dingin saat salju tengah turun tanpa ampun?

Alec Rivers lah orang gila tersebut.

Ia sendiri tak suka musim dingin. Apalagi ketika salju sedang tebal-tebalnya. Ketika ornamen natal menghiasi tiap penjuru kota. Ketika aroma liburan yang hangat itu menyapa di mana-mana. Sebab ia takkan pernah lupa apa-apa yang menimpa Elias setiap libur natal sejak ia jatuh hati padanya—dan bagaimana hal itu justru jadi awal mimpi buruk baginya.

Alec melesakkan tangannya ke dalam saku mantel musim dinginnya, lantas keluarkan sebuah golden snitch yang mengepakkan sayap kecilnya. Ia merasa sedikit hangat sebab alkohol yang sudah tandas ditenggaknya. Maniknya menatap awas pada pintu depan St. Mungo Hospital setelah ia melirik sejenak arloji di pergelangannya. Kemudian seraya menunggu, ia biarkan snitch itu terbang sekejap sebelum kembali menangkapnya. Begitu berulang-ulang hingga Elias menampakkan sosoknya.

Elias bisa muncul kapan saja.

Elias Grey, yang kini sudah menjadi salah seorang senior Healer di sana selalu meninggalkan rumah sakit di jam yang sama. Mungkin berbeda beberapa menit di setiap harinya. Tapi Alec selalu berada di sana, sekedar untuk melihat Elias yang melangkah pulang dari kejauhan. Sekedar memastikannya baik-baik saja.

Sekedar melepas rindu yang entah kenapa malah makin besar.

Manik kembar Alec berbinar ketika sosok rupawan itu muncul dari pintu otomatis yang terbuka perlahan. Ia masih tersihir pada sendu di wajahnya yang merayu dari kejauhan. Jantungnya masih berdegup tak karuan, meski kini Elias tak lagi mengenalnya sekalipun mereka berpapasan dan bertukar tatap sekilas.

“Oh, shit!”, pekiknya tertahan.

Alec gagal menangkap snitch yang tiba-tiba melesat jauh dari jangkauannya. Ia terpaksa berdiri dan lari kecil mengejarnya. Kemudian ia terkesiap dan hampir menyesal ketika tungkainya bawa ia halangi langkah Elias yang perlahan di tegel berselimut salju tebal.

“Hey, be careful!”, pekik Elias.

Jemari Alec akhirnya menangkap benda kecil keemasan yang mengepakkan sayap lemah dalam genggamannya. Ia melesakkannya asal-asalan ke dalam saku, kemudian terpaksa menoleh dan hadapi takdirnya.

Elias tampak indah sekali dari jarak sedekat ini. Wajahnya teduh dan ia tampak hangat dalam balut sweater kasmir dan syal rajut senada. Belum lagi mantel musim dingin berbahan wol yang menonjolkan rangka kakinya yang semampai. Alec susah payah mengembalikan presensinya pada saat ini, pada Elias yang masih menatapnya kebingungan.

“Yeah, okay.”, jawab Alec pelan.

Ia hendak mengambil langkah untuk berlalu, namun rasanya lutut itu lemas tak mampu melaju. Untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun, ia menatap lagi dua manik kembar yang balik menatap sendu. Elias menatapnya bingung, apalagi Alec yang kemudian terkejut ketika waktu seolah berhenti bergerak.

Entah sejak kapan musim dingin juga membekukan waktu.

Hati Alec mencelos ketika dalam beberapa detik itu gagal melepas pandanganya dari Elias. Apalagi ketika kedua kelopak yang lebih muda kemudian hadirkan basah yang menggenang di sana. Alec dirundung rasa bersalah yang nyata, sementara Elias tampak kebingungan luar biasa.

“Uh? I’m sorry.. Why—”, Elias berucap terbata.

Jemari lentiknya terangkat menyeka sudut kelopak yang basah tiba-tiba. Elias tampak kosong dan bingung, tak tahu kenapa air matanya merembes begitu saja.

“Are you okay?”, tanya Alec tiba-tiba.

Ia sungguh-sungguh tak menyangka kalau pertanyaan itu akan lolos semudah itu dari bibirnya.

“I.. I think I was okay..”, ucap Elias ragu, masih menyeka basah di wajahnya yang rikuh.

“…”

“I don’t know why.. But.. Shi — Why am I crying?”, Elias mengerutkan dahinya seraya menggumam tak jelas.

Gumam yang ia pikir hanya dapat didengarnya sendiri, namun ternyata rungu Alec menangkapnya dengan jelas. Sejelas kenangan mereka yang masih hidup dalam dirinya.

“I’m sorry.. Excuse me..”, ucap Alec parau.

Ia menundukkan wajahnya, menahan diri agar tak menarik Elias begitu saja dalam peluknya. Ia melangkah, ambil arah berlawanan dengan yang lebih muda. Langkahnya terasa berat terutama ketika ia harus berlalu tinggalkan Elias yang seolah membatu.

“WAIT!”, pekik Elias.

Namun bagi Alec itu terasa seperti rapal mantera. Kedua tungkainya berhenti melangkah begitu saja, ia menarik napas panjang sebelum memutar tubuhnya menghadapi yang lebih muda. Namun Alec tak mampu mengucap sepatah kata. Ia cuma menatap Elias seraya menunggu.

“You seem familiar to me.. Have we met before?”, tanya Elias.

Yes, it’s me, El. It’s me, Alec. We were in love years ago, and I still do even if you don’t remember me anymore.

Alec ingin mengucapnya, kemudian mungkin ia dianggap gila sebab tak satupun kata-katanya terdengar dapat dipercaya. Alec melepas hela napas yang mengepul di udara dingin, kemudian ia melengkungkan senyum tipis.

“I’m sorry. I don’t think we’ve met before. Maybe you have the wrong person..”, tukas Alec susah payah.

“Oh, I’m sorry.”

“That’s okay.”, sahut Alec.

“Happy Christmas!”, ucap Elias ramah.

Auror senior itu kemudian kembali balik badan. Ia menahan nyeri di dadanya dengan susah payah seraya mengambil langkah-langkah berat menjauh dari satu-satunya cinta yang tak beranjak dari sisinya.

“You’re right, El. It’s me.. Happy Christmas Elias, please be happy.. I love you, El, always..”, gumam Alec pelan.

Ia menengadahkan kepala, berusaha halau basah yang turun ke pipinya.

“And, I’m sorry..”, lanjut Alec seraya mengusak wajahnya kasar.

Alec cuma seorang pengecut. Nyatanya ia cuma berani berucap soal melupakan Elias Grey. Pada akhirnya meski nyeri tak terperi, Alec memilih untuk dilupakan. Setidaknya ia masih memiliki Elias meski hanya dalam rupa memori yang hanya boleh diingatnya sendiri. Untuk dirinya sendiri.