Work Text:
Di luar hujan mengguyur begitu deras, dan keduanya masih belum bisa tertidur saat ini. Mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama di kasur. Dengan Aamon yang merebahkan kepalanya di atas paha Natan, sementara pasangannya itu mengelus rambutnya.
Aamon menikmati setiap elusan yang diberikan oleh Natan, sembari melanjutkan obrolan mereka sebelumnya. “Jadi, apa yang kamu lihat dariku?” tanya Aamon.
“Ketampananmu?” jawab Natan disertai kekehan.
“Itu aku sudah tahu,” Aamon menggulir bola matanya. “Aku memerlukan jawaban yang lain, Natan. Yang tulus dari hati atau semacamnya,” jelas Aamon.
Natan berhenti mengelus rambut Aamon, berganti memasang gestur berpikir, lalu menjawab setelah beberapa detik, “Sifat kepemimpinanmu, mungkin?”
“Itu saja?”
“Hahaha, baik-baik, aku bercanda,” Natan mengembuskan napasnya setelah ia tertawa. “Sifat penyayangmu. Aku suka bagaimana kamu memberi perhatian lebih pada keluargamu,” Natan menaruh telapak tangan kanannya pada dahi Aamon, mengusap dahi empunya dengan perlahan.
“Kamu mungkin tidak menunjukkannya melalui kata-kata, tapi, dari cara bagaimana kamu bersikap sudah cukup menjadi bukti… dan aku menyukai itu,” sambung Natan, dengan sebuah senyum yang terukir di wajahnya.
Mendengar pernyataan Natan tentang dirinya sendiri entah mengapa membuat Aamon merasa… aneh. Malu, mungkin? Walau memang dirinya sendiri-lah yang bertanya di awal.
Aamon memejamkan kedua matanya, tidak kuasa melihat Natan. “Ugh, Natan…” Aamon menggerutu, “Kamu benar-benar berbahaya untukku,”
“Oh? Aku tidak tahu kamu bisa merasa malu?”
“Natan…”
Pun, malam mereka berlanjut dengan segelintir topik pembicaraan dan lelucon yang membawa suasana hangat; melupakan cuaca dingin yang dibawa oleh hujan di luar.
