Work Text:
Ia mungkin tak akan bisa tidur malam ini.
Tidak setelah ia membiarkan Yoon Jeonghan berciuman dengan orang baru lagi tepat di depan matanya. Seokmin baru mengenalnya selama dua tahun dan Jeonghan sudah membawa enam orang berbeda ke restoran miliknya. Kadang pria, kadang wanita, tapi semuanya cantik dan tampan dan berasal dari lingkaran profesi yang sama dengan laki-laki itu.
Baru satu ini yang berbeda.
Jeonghan biasa mengencani model-model yang modis dan tampak mencintai kebebasan. Mereka semua akrab dengan dunia malam, senang berpesta, dan punya tampilan badass. Baru kali ini Jeonghan datang bersama laki-laki yang mengenakan kemeja dan celana bahan dengan rambut gelap berpotongan undercut yang tersisir rapi. Sekali lihat saja, Seokmin bisa tahu kalau laki-laki itu bukan seorang model seperti Yoon Jeonghan.
"Shua, yang punya restoran ini temanku dan masakannya enak sekali."
"Oh, ya? Tidak sabar ingin mencobanya."
Seokmin mendengar percakapan itu ketika berjalan ke arah meja mereka sambil membawa nampan berisi wadah-wadah makanan. Ia meletakkan pesanan mereka kemudian Jeonghan menepuk pundaknya.
"Seokmin, kenalkan, ini Jisoo. Oh, dia seumuran denganku jadi kamu harusnya panggil dia kakak, seperti kamu memanggilku."
Seokmin sebenarnya bingung kenapa laki-laki itu dipanggil Shua tapi diperkenalkan sebagai Jisoo. Mungkin itu panggilan kesayangan dari Jeonghan atau semacamnya. Ia lupa bertanya, sebab perhatiannya malah teralih pada cara laki-laki itu tersenyum dan berbicara.
Jisoo menunduk sopan sebagai salam perkenalan. Dia punya wajah ramah, mungkin karena sudut-sudut bibirnya yang secara natural agak naik ke atas dan membuatnya tampak selalu tersenyum setiap saat. Suaranya lembut dan tutur katanya sopan. Pembawaannya yang anggun itu sekilas agak kontras dengan Jeonghan yang suka bicara asal-asalan, tapi entah kenapa mereka sebenarnya kelihatan cocok bersama-sama.
Sejak pertemuan itu, Jeonghan semakin sering membawa Jisoo ke restoran. Kedatangan mereka membuat Seokmin semakin sering pula memperhatikan laki-laki yang sepertinya akan jadi pacar temannya.
Lalu lama-kelamaan, Seokmin tidak mengerti kenapa dia merasa agak jengkel mengakui kalau mereka kelihatan cocok bersama-sama.
Salah satu hal positif tentang dirinya sendiri menurut Lee Seokmin adalah, dia bukan teman yang suka menghakimi. Dia punya banyak teman yang bersikap tak sesuai dengan prinsipnya, dan dia bisa menoleransi mereka semua. Makanya salah satu dari mereka pernah bilang kalau Seokmin itu makhluk paling baik setelah dewa. Seokmin bahkan menoleransi sebutan itu walaupun terasa agak memberatkan.
Makanya dia bisa akrab dengan Yoon Jeonghan yang punya masalah komitmen dan sering sekali gonta-ganti pacar. Seokmin tak pernah mengomentari kehidupan percintaan laki-laki gondrong itu walau mereka sering bertemu. Kadang dia memang meledek Jeonghan sambil bercanda, tapi laki-laki yang lebih tua dua tahun darinya itu selalu bilang kalau pria atau wanita yang kencan dengannya tak akan tersakiti kalaupun mereka berhenti berkencan.
"Kalau Jeonghan-hyung bisa pacaran sama satu orang lebih dari enam bulan, aku mau memberikan makan gratis satu hari di restoranku buat semua orang."
Seokmin pernah berkata demikian ketika mereka duduk berdua, tapi Jeonghan cuma terkekeh dan tak tampak tersinggung sama sekali.
"Zaman sekarang semua orang seperti itu, Seokmin. Memangnya masih ada yang mau berkomitmen untuk hubungan serius? Itu merepotkan."
Menurut Seokmin, Hong Jisoo adalah orang merepotkan itu.
Dari mendengar percakapan mereka, dia tahu kalau Jeonghan dan Jisoo bertemu di aplikasi kencan. Jeonghan memanggilnya Shua karena namanya Joshua Hong, Jisoo adalah nama Koreanya. Laki-laki itu lahir dan besar di Amerika, ia pindah ke Seoul saat remaja dan sekarang bekerja jadi pengajar Bahasa Korea untuk para ekspatriat.
Berbeda dengan Jeonghan, Jisoo punya rutinitas harian yang gampang diprediksi dan ia menyukainya.
"Tidak mau jadi model seperti Jeonghan-hyung?"
Seokmin bertanya sambil menuang bir ke gelas Jisoo dan Jeonghan. Menurutnya Jisoo sangat tampan, tak sulit membayangkan fotonya ada di cover sebuah majalah atau papan iklan besar di tengah kota.
Tapi Jisoo menggeleng.
"Aku suka hal-hal yang pasti. Rasanya lebih tenang."
Hal-hal yang pasti itu, maksudnya termasuk dalam sebuah hubungan.
Jisoo seringkali membicarakan hal-hal tentang masa depan. Seokmin paham kalau itu naif sekali karena hubungannya dan Jeonghan baru berjalan sebentar, tapi ia bisa merasakan ketulusan dalam tutur kata laki-laki itu.
Bagaimana ia ingin tinggal di daerah Hongdae karena letaknya tak jauh dari tempat kerjanya dan agensi model yang menaungi Jeonghan. Bagaimana ia akan mengenalkan Jeonghan ke orangtuanya. Bagaimana ia bertanya mobil seperti apa yang Jeonghan sukai, karena Jisoo berencana membeli kendaraan itu tak lama lagi.
Setiap itu pula, Seokmin menangkap Jeonghan mengalihkan pembicaraan. Tinggal bersama, membeli mobil untuk berdua, bahkan memperkenalkan diri ke keluarga pacar adalah sesuatu yang masih jauh untuknya.
Baru kali ini dia merasa kesal terhadap cara Jeonghan memperlakukan teman kencannya, padahal dia cuma sering mengobrol dengan mereka berdua sambil makan malam.
Mungkin karena orang yang manis dan elegan seperti Jisoo memang tipenya.
Mungkin karena ia tahu kalau orang yang tulus seperti Jisoo yang paling tersakiti nantinya.
Di mata Jisoo, Seokmin cuma temannya Jeonghan yang lucu dan ramah.
"Kamu sepertinya benar-benar suka menghibur orang dan mau melakukan banyak hal agar orang lain senang," kata Jisoo malam itu.
Tak seperti biasanya, ia datang sendirian.
Waktu laki-laki itu masuk, Seokmin sedang bersama bapak-bapak pegawai kantoran yang kebetulan sedang makan di tempatnya. Dia pasti kelihatan jauh dari kata keren karena mau berjoget sambil menyanyikan lagu-lagu lawas barusan, bahkan tertawa akrab bersama mereka semua.
Yang dibilang Jisoo juga tidak salah. Orang seringkali punya kesan seperti itu terhadapnya.
Walau sebenarnya bisa santai-santai karena menjalankan restoran keluarga, Seokmin yang memang jago masak juga dengan senang hati berinteraksi dengan pelanggannya. Makanya ia bisa akrab dengan orang-orang yang sering datang, seperti bapak-bapak kantoran tadi, seperti Jeonghan dan Jisoo.
"Tumben tidak bersama Jeonghan-hyung?"
"Dia sedang sibuk."
Seokmin menarik kursi dan duduk di hadapan laki-laki yang lebih tua darinya itu. Dahi Jisoo berkerut bingung.
"Aku akan menemani Jisoo-hyung makan kalau begitu."
"Memangnya sedang tidak sibuk?"
Seokmin menggeleng, "Kalau ada yang butuh apa-apa, kakakku sedang ada di sini juga, kok."
Ada perasaan senang saat mendengar Jisoo bercerita tentang hal-hal remeh soal pekerjaan dan kesehariannya. Tangannya yang bergerak-gerak ketika dia antusias, matanya yang membentuk bulan sabit saat dia tersenyum, Seokmin merasa tak keberatan mendengarkannya sepanjang malam.
Hingga restoran tutup, Yoon Jeonghan benar-benar tidak datang.
Masalahnya, sejak hari itu Seokmin jadi harus lebih sering berbincang dengan Jisoo karena Jeonghan berkali-kali tidak datang. Jadwalnya diganti mendadak, katanya. Ada pemotretan di luar kota, katanya. Terlalu lelah untuk bertemu karena baru pulang dari perjalanan jauh, katanya.
Bahkan saat Jisoo datang dengan senyum sumringah dan kaki mengetuk-ketuk lantai saking senangnya malam itu.
"Oh, Jisoo-hyung! Sendirian lagi?"
"Tidak, tidak. Aku dan Jeonghan janjian makan malam bersama. Seokmin, hari ini kamu tidak perlu repot menemaniku lagi," katanya sambil terkekeh.
Seokmin tidak pernah merasa direpotkan. Bahkan, ada bagian kecil dalam hatinya yang berharap Yoon Jeonghan tidak usah datang. Ia merasa jahat karena pemikiran itu, tapi sulit sekali menepisnya.
Lalu Jeonghan benar-benar tidak datang.
Seokmin harusnya merasa senang. Harusnya. Kalau saja dia tidak melihat bagaimana Jisoo menundukkan kepala, menyuap makan malamnya seperti orang kehilangan nafsu makan, raut kecewa tercetak jelas di wajahnya.
Sudah nyaris sebulan Seokmin tidak melihat Jisoo maupun Jeonghan datang ke restorannya. Dia jadi bertanya-tanya apakah Jeonghan yang tak bisa masak itu akhirnya berpaling karena menemukan restoran lain yang sesuai seleranya? Lalu ia membawa Jisoo untuk lebih sering pergi ke sana?
Tapi ia akhirnya bertemu Jisoo lagi malam ini, setengah jam sebelum restoran tutup. Tamu terakhir baru saja pulang dan Seokmin sudah berencana mau beres-beres kalau saja Jisoo tidak datang.
Laki-laki itu memesan beberapa botol bir bersama makanannya, tapi Seokmin bilang sisanya tinggal satu. Bohong. Dia bilang begitu karena perasaannya tidak enak. Jisoo bukan tipe orang yang suka minum-minum tanpa tahu batasan.
"Kupikir akan datang dengan Jeonghan-hyung."
Seokmin berkata setelah Jisoo selesai makan. Ia menuangkan bir ke gelas dan meneguknya cepat-cepat sebelum menjawab. Raut wajahnya tampak kesal.
"Aku dan Jeonghan ... sudah pisah."
Hubungan mereka merenggang beberapa minggu belakangan dan Jisoo memilih makan di tempat lain karena restoran milik Seokmin membuatnya terus-terusan memikirkan Jeonghan. Dia curiga pada sikap aneh laki-laki itu dan belakangan tahu kalau Jeonghan memilih kembali berkencan dengan mantan pacar yang sudah putus dengannya tahun lalu.
"Aku ke sini lagi karena kangen masakanmu. Lalu kupikir aku tak boleh merasa sedih lama-lama cuma karena orang seperti itu."
Jisoo menceritakan itu tanpa menangis sama sekali, tapi ia tampak menahan air mata sambil terus menuang bir ke gelasnya sendiri. Itu bukan air mata sedih, laki-laki itu tampak marah.
Seokmin membiarkannya tenang tanpa banyak bertanya dan meminta penjelasan apa-apa.
Saking heningnya keadaan restoran sekarang, Seokmin bisa mendengar dengung pendingin ruangan yang ada di dekat meja mereka. Jam dinding menunjukkan waktu semakin malam, dan sudah saatnya ia menutup restoran sebelum ada lagi yang datang karena mengira mereka masih buka.
"Jisoo-hyung aku ... harus menutup restoran."
"Ah, iya! Aduh, maaf—aku membuatmu pulang lebih lambat, ya."
"Tidak, kok. Tetap di sini aja selagi aku siap-siap! Tidak masalah."
Seokmin membereskan botol, gelas, dan alat makan dari meja Jisoo. Laki-laki itu tak bergerak dari kursinya.
Seokmin tak ingin membiarkannya pulang sendirian dengan keadaan seperti itu. Maka dengan suara ragu-ragu, ia memberanikan diri—
"Jisoo-hyung, ayo pulang bersama."
"Huh? Kamu juga mau ke stasiun?"
Seokmin mengangguk. Jisoo berdiri dari kursinya. Mereka berdua berjalan menjauh dari restoran kecil itu setelah Seokmin mematikan semua lampu dan mengunci jendela serta pintu. Jalanan Seoul tetap sibuk di malam musim semi itu. Mereka melewati barisan toko-toko yang tutup, mobil yang berhenti di lampu merah, juga para pemuda yang sedang menuju klub bersama teman-teman mereka.
Keduanya tidak bertukar kata, tapi Seokmin sesekali melihat ke arah Jisoo untuk memastikan pria yang lebih pendek darinya itu baik-baik saja.
"Baru kali ini aku melihatmu setenang ini, Seokmin."
Begitu kata Jisoo saat mereka sudah sampai di stasiun dan duduk bersebelahan di dalam kereta. Suaranya yang lembut diiringi deru kereta yang melaju, mata gelapnya menatap Seokmin dekat sekali.
"Jisoo-hyung tadi kelihatan marah sekali, sih. Aku kan jadi takut," balasnya dengan nada bercanda.
"Jadi wajahku dari tadi kelihatan seram, ya?"
Waktu berkata begitu, Jisoo mendekatkan wajahnya. Seokmin takut pipinya yang kini terasa panas kelihatan merona.
"Jisoo-hyung, aku—"
Haruskah dia katakan sekarang?
Tapi kalau tidak, dia bisa kehilangan kesempatan dan dia tak tahu lagi kapan Jisoo kembali mengunjungi restorannya.
Jisoo menoleh. Matanya gelapnya yang seperti anak rusa menatap Seokmin penasaran.
"Akhir pekan nanti ... kalau Jisoo-hyung punya waktu, mau jalan-jalan denganku?"
Ada jeda sesaat sebelum Jisoo membalas ajakan itu dengan tawa.
"Apa kamu mengajakku kencan? Apa ini karena kamu kasihan padaku, Seokmin?"
Lee Seokmin jadi gugup sekali, tapi juga kesal di saat bersamaan. Apa mendekati orang yang lebih tua memang begini susahnya? Jisoo mungkin menganggapnya adik kecil yang terlalu baik dan tak pernah serius selama ini. Padahal dia sudah susah payah mengumpulkan keberanian barusan.
"Tidak perlu repot-repot menghiburku, aku tidak apa-apa, kok. Sungguh. Kamu jangan khawatir."
"Bukan begitu—"
"Lalu?"
"Karena aku selama ini memperhatikanmu. Karena aku … karena aku suka Jisoo-hyung!"
Mata Jisoo membelalak. Seokmin juga, terkejut karena kalimat spontan yang jujur itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Suaranya mungkin terlalu keras, tapi siapa peduli. Di dalam kereta cuma ada mereka, seorang pria tua yang sedang tertidur, juga mahasiswa yang mengenakan headphone sambil baca buku.
Hening beberapa saat. Jisoo memainkan jemarinya, mengalihkan pandangan dari Seokmin. Ia tampak sibuk dengan pemikirannya sendiri, menimbang-nimbang jawaban yang tepat untuk Seokmin yang kini mengepalkan tangan dengan gugup di sampingnya.
"Seokmin, aku—kalau begitu, aku akan ke restoranmu hari Minggu jam 10. Setelah itu, kamu bebas mengajakku jalan-jalan kemanapun."
Kereta berhenti dan Jisoo berdiri. Ini stasiun tempatnya turun.
"Sampai jumpa."
Ia tersenyum singkat dan mendaratkan kecupan kecil pada pipi Seokmin sebelum berlalu.
Tanpa tahu kalau sentuhan seperti itu membuat Seokmin tak akan bisa tidur lagi malam ini.
