Chapter Text
Semenjak perang berakhir, orang-orang kembali mencoba hidup normal. Yang terluka perlahan sembuh, yang dendam mencoba melupakan, dan yang kehilangan mulai merelakan. Tapi bagi Izuku, semuanya terasa salah. Perang rasanya belumlah usai. Setiap malam yang harus dilaluinya dengan teriakan dan tangisannya sendiri menjadi salah satu pengingat bagi Izuku jika hidupnya masih ada di tengah peperangan.
Tidak adil. Teman-temannya mulai sibuk dengan tingkatan kelas yang baru, sedangkan disini Izuku berkutat dengan luka yang masih menganga.
Suara Spinner terus-menerus terdengar semenjak pertemuan mereka di Tartarus.
‘Pembunuh?’
Setelah apa yang Izuku, seorang siswa sekolah menengah atas lakukan untuk negaranya, kini justru dia yang di cap seorang pembunuh?
Izuku tahu tidak seharusnya ucapan dari seorang villain ia dengarkan. Tapi bagaimana bisa kalau Spinner mengucapkan itu dengan tatapan yang membuat Izuku merasa menjadi tokoh jahatnya disini?
Pada akhirnya Spinner hanyalah satu dari sekian banyak orang yang kehilangan teman-teman terdekatnya.
Kewarasan Izuku perlahan hilang.
…
Izuku menatap kosong Ochako, Tenya, dan Shouto yang tengah asyik membahas jawaban atas ujian mendadak dari Aizawa tadi. Izuku yang biasanya sangat tertarik untuk membandingkan jawaban kini bahkan tak mampu walau hanya untuk mendengarkan sekalipun.
“Deku-kun?”
“DEKU-KUN!” panggilan keras dari Ochako membuyarkan lamunan Izuku. Bahkan kini beberapa siswa yang awalnya asyik dengan kegiatan masing-masing pun mulai memperhatikan mereka.
“Y-Ya Uraraka-san?”
“Aku memanggilmu sejak tadi Deku-kun. Kau sakit?” Ochako menatapnya dengan khawatir.
“Midoriya, kau tak apa?” Tenya dan Shouto ikut menatap Izuku.
Izuku tahu teman-temannya khawatir. Tapi kenapa bagi Izuku kini tatapan mereka justru membuatnya makin sakit?
Jangan mengasihaniku. Tolong, jangan mengasihaniku.
Tiba-tiba tangan Izuku ditarik.
“Kacchan?” Izuku mendongak dan berhadapan dengan Katsuki yang mencengkram tangannya erat.
Katsuki menatap Izuku dengan tatapan yang membingungkan Izuku.
“Kacchan?” panggil Izuku lirih.
“Ayo, Izuku.” Katsuki mengambil ransel Izuku dan menyampirkannya ke bahu Katsuki sendiri.
“E-Eh Kacchan tasku!” Izuku berusaha mengambil tasnya tapi tenaga Katsuki entah kenapa lebih kuat.
“Hei, kau mau bawa Deku kemana?!” teriak Ochako.
“Berisik, round face.” Katsuki melirik sinis kearah teman-teman Izuku. Ketiganya langsung terdiam.
…
Katsuki menyerahkan ransel Izuku karena Izuku sedari tadi merengek meminta tasnya kembali. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan sekolah.
“Kenapa tiba-tiba membawaku pergi, Kacchan?”
“Reflek.” balas Katsuki sambil menatap kearah depan dengan malas.
“Reflek?” Izuku penasaran.
Katsuki terdiam beberapa saat lalu kemudian menoleh kearah Izuku.
“Kau terlihat seperti meminta tolong untuk dibawa pergi.” ucap Katsuki pelan.
“Terima kasih, Kacchan.”
“Terserah, De-Izuku.”
Izuku tertawa kecil. “Panggil Deku juga tidak apa-apa lho.” goda Izuku.
“CK BERISIK!!”
…
Mereka akhirnya sampai di depan asrama. Izuku melirik kearah Katsuki yang tiba-tiba terlihat kesal.
“Kacchan tidak masuk?”
Katsuki masih diam. Izuku melirik tangan Katsuki yang terlihat mengepal erat.
“Kacchan sibuk tidak? Mau pergi ke cafe pahlawan yang baru dibuka dekat stasiun?”
“AYO!”
Wajah Katsuki memerah mendengar teriakannya sendiri yang tiba-tiba.
Izuku tersenyum kecil lalu mengangguk.
“Ayo.”
…
‘Merchandise terbaru All Might minggu depan rilis lho! Harus standby di websitenya karena limited edition. Kacchan akan ikut pre-order juga tidak? Mau aku pesankan sekalian? Satu akun maksimal dua item jadi tidak masalah kok kalau aku pesan dua. Kacchan mau tidak?’
Itulah yang harusnya Katsuki dengar saat mereka berada disini. Tapi kini yang ia lihat justru seorang anak yang menatap murung kearah jendela tanpa mengatakan apapun.
Katsuki sedikit paham jika perang baru saja usai. Tapi bukankah mereka pihak yang menang? Kenapa Izuku justru bermuram diri?
Ah quirknya kah? Tapi sensei bilang One For All masih aman.
Jika Izuku kembali quirkless pun Katsuki pastikan tidak akan ada lagi yang berani mengganggunya. Bukan Katsuki, bukan pula yang lain.
“Rasa karinya tidak pedas sama sekali, padahal aku sudah pesan paling pedas.”
Izuku tersadar dari lamunannya.
“Benarkah? Tapi dari bau cabainya sudah terasa sangat tajam, Kacchan.”
Akhirnya Izuku kembali bicara.
“Maksud kau aku bohong? Coba saja kalau tidak percaya!”
Izuku menatap piring Kacchan tidak yakin. “E-Eh entahlah…”
“… oh tidak berani?” tantang Katsuki.
“B-Berani kok!” Izuku merengut tidak terima.
Katsuki menyodorkan sendok isi karinya kearah Izuku.
“E-Eh? Aku bisa makan sendiri, Kacchan!”
“Buruan!”
Wajah Izuku memerah menahan malu tapi akhirnya ia membuka mulut sambil memejamkan matanya erat.
'Gemas sekali. Menunggu aku suapi kah?'
E-EHHHH???!
Kesal dengan pikiran anehnya, Katsuki langsung memasukkan sendok karinya ke mulut Izuku.
Kaget karena tidak siap dan memang rasanya yang sangat pedas, Izuku langsung terbatuk.
“Kacchan pelan-pelan!”
“Gara-gara kau sih!”
“Memang aku kenapa?” Izuku menatap bingung sambil menahan pedas. Izuku langsung meminum ocha dingin dengan cepat.
“Kacchan jahat sekali…” Izuku tanpa sadar menangis karena kepedasan.
Entah kenapa Izuku yang sedang kacau pun justru semakin menangis. Walau kini bukan karena pedas.
Katsuki tentu saja terkejut.
“Nerd? Terlalu pedas ya? Sebentar kubelikan es krim ya!” panik, Katsuki setengah berdiri menuju ke kasir.
Izuku menggeleng cepat menahan lengan Katsuki.
“Tidak perlu Kacchan, bukan karena pedas kok.”
Katsuki menatap Izuku khawatir.
“Hei, semua baik-baik saja?” Katsuki memperhatikan seluruh tubuh Izuku, mencari mungkin saja ada luka yang luput dari perhatiannya.
Izuku menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
'Kenapa Kacchan masih saja baik dengan orang sepertiku?’
Kau pembunuh, Izuku. Tidak seharusnya kau diperlakukan baik.
“Kacchan kita balik ke asrama saja ya?” Izuku mulai terisak.
“Oke…” balas Katsuki pelan.
…
Sejak kejadian di cafe, Katsuki mulai memperhatikan Izuku. Dia tahu Izuku sedang tidak baik-baik saja. Menanyakan hal itu ke teman-temannya juga percuma karena sepertinya ketiganya juga tidak tahu apa-apa.
Izuku masih sama. Hanya bicara seperlunya, tak jarang telat menanggapi. Sering melamun memperhatikan luar dari jendela kelas, pun langsung pergi entah kemana begitu jam kelas telah berakhir.
Katsuki hanya bisa memperhatikan dalam diam, takut jika Izuku justru akan menjauh jika ia terlalu memaksakan diri. Sudah cukup kesalahan yang telah ia lakukan sejak kecil. Jauh dari Izuku jadi satu-satunya yang Katsuki takutkan sekarang.
“Deku-kun mau langsung ke asrama?”
Katsuki menoleh cepat ke belakang. Terlihat Izuku berdiri dari kursinya.
Izuku menoleh kearah Ochako sambil mengangguk singkat.
“Mau bareng?”
“Aku mau mampir dulu Uraraka-san.” Izuku menolak halus.
“O-Oh oke. Hati-hati ya…”
Izuku hanya balas mengangguk.
“Tanyakan saja Baku-bro, kalau cuma diam saja kau tidak akan dapat jawaban apa-apa.”
“Apa maksudnya?” Katsuki melirik kesal kearah Eijiro dan Denki yang menatapnya.
“Midoriya. Kau khawatir padanya kan? Tanyakan saja.”
“Kau pikir dia akan langsung menjawab, hah?” Katsuki bahkan tidak lagi pura-pura tidak peduli.
“Mungkin jika itu kau, Midoriya mau cerita, Bakugo.” Denki berusaha meyakinkan.
Katsuki hanya bisa memandang bangku Izuku yang sedari kosong.
Memangnya bagi Izuku dia siapa?
…
Izuku terlihat tanpa takut duduk di pinggir atap sekolah sambil menatap kearah bawah dengan pandangan kosong.
Apa rasanya ya kalau tiba-tiba menjatuhkan diri ke bawah?
Akankah Izuku langsung mati?
Apakah para siswa dan guru akan langsung mengerubungi dan menyelamatkannya?
Apakah rasa bersalahnya akan hilang kau ia mati?
Apakah bayang-bayang Shigaraki akan berhasil Izuku lupakan?
”Ibu…Izuku lelah.” Izuku melamun dan akhirnya menangis dalam diam.
