Actions

Work Header

Benci untuk Mencinta

Summary:

Saint hanya bisa mengekor dalam diam, seperti anak anjing yang patuh mengekor pada majikan tanpa bisa menolak kendali yang membelitnya erat.

Notes:

Originally posted on my X @rumielis

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Gue mau nyebat dulu.”

Begitu mendengar ucapan Shin, Saint yang sebetulnya masih mengunyah suapan terakhirnya langsung menutup kotak makanannya–seperti anjing di teori Pavlov. “Shin, tunggu,” katanya. Di seberangnya, First tersenyum kecil sambil melirik-lirik ke arah Tew yang memasang muka datar, tapi wajah merahnya tidak bisa berbohong. Saint pura-pura tidak peduli dan membereskan alat makannya, kemudian ia meneguk air dingin dengan cepat sampai kepalanya berdenging.

Sejak berjumpa lagi di sekolah ini , Shin tidak pernah mengakui eksistensi Saint. Bahkan, beberapa detik setelah mengumumkan intensinya, sosok Shin sudah menghilang. Saint harus mengejar dan mencari, berharap ia tidak akan salah lokasi.

Masalahnya, ada beberapa area merokok di gedung ini: area parkir outdoor , area tangga darurat, dan area rooftop gedung. Dari ketiga area tersebut, tidak ada satu pun yang menjadi favorit Shin. Saint harus selalu menebak.

Memutuskan untuk langsung naik ke rooftop , Saint hampir bersorak senang ketika ia menemukan sosok Shin yang sedang memanjat area toren air. Ia pun menggerakkan kakinya untuk berlari, memanggil Shin! yang hanya ditanggapi datar sambil melengos. Shin bahkan tidak berhenti untuk menunggu–walaupun ia tahu Saint sedang berlari mengejarnya.

Setibanya di area toren air, Saint yang menahan mual karena berlari sehabis makan langsung mengambil alih lighter di tangan Shin dan memantik api untuk sahabatnya tersebut–yang tidak ditanggapi apa-apa. Shin hanya melengos, lalu menghisap sebatang rokok di tangannya. “Buat apa lo lari?” tanyanya. Saint, memandangi sisi wajah Shin yang tajam, memutar banyaknya jawaban yang ingin ia sampaikan: Supaya kita bisa berjalan berdampingan lagi, supaya kita bisa berbincang selayaknya sahabat, supaya aku bisa menjaga kamu, supaya… supaya… tapi, akhirnya yang terucap hanya, “Hmm, sekalian olahraga.”

Shin mendengus. Ia tidak menanggapi lagi, dan Saint menggunakan waktu tersebut untuk meredakan rasa mualnya. Menatap langit sore yang terbentang di hadapannya, Saint menghitung jumlah gedung yang sedang dalam masa konstruksi sambil menimbang topik apa yang harus dibahas. Tugas? Film yang baru saja tayang? Kedekatan Shin dengan anak-anak Udon Phithak? Kabar mama dan adik Shin…? Saint mengembalikan pandangannya pada Shin yang rupanya dari tadi mengamati. “Shin–” ucapnya spontan, tapi Shin mendahuluinya.

Tubuh Saint didorong sampai berbaring dan beradu dengan beton, lalu bibir Saint dilumat tanpa aba-aba. Aroma tembakau spontan menguar memenuhi rongga hidung dan mulut Saint–harum mengepul bak semak terbakar, menyengat sekaligus pahit, meninggalkan jejak tak kasatmata dalam rongga dadanya. Lidah keduanya terus menari lincah, saling melilit dan beradu dalam cumbu panas. “Jangan pasang ekspresi kayak gitu. That’s unfair. ” Bisik Shin.

Shin melepas pegangannya pada Saint lalu menghisap batang rokoknya lagi, seolah-olah ia tidak baru saja mencium Saint sampai sesak napas.

“Shin–” panggil Saint, dan Shin menyimak. “Gue–” tapi di saat yang bersamaan, suara Knot, Nate, dan Ken yang tertawa-tawa menggema kencang dan mendekat. Seperti maling yang tertangkap basah, Shin segera lompat turun dari area toren air dan membuang batang rokoknya yang masih tersisa setengah. Saint menelan kekecewaan yang menyeruak, tapi tak satu patah kata pun mampu terucap dari bibir yang semula terbuka.

“Eits, ada dua sejoli nih di rooftop .” Goda Nate, yang disambut tawa Ken dan Knot dan dibalas Shin dengan dorongan bahu. Melihat bibit pertengkaran, Saint langsung buru-buru turun dan melerai, mengingatkan Shin bahwa ia tidak boleh tertangkap bertengkar lagi jika tidak mau dikeluarkan dari sekolah. Shin melengos malas, lalu melangkah lebih dulu tanpa menoleh ke belakang–satu dua langkah meninggalkan Saint yang sedang dicibir oleh si kembar dan hanya bisa mengekor dalam diam, seperti anak anjing yang patuh mengekor pada majikan tanpa bisa menolak kendali yang membelitnya erat.

Semakin mereka berjalan, semakin sosok Shin menjauh, dengan sengaja menciptakan jarak yang tidak akan pernah bisa Saint dekatkan.

Saat mereka kembali, Shin langsung bergabung dengan anak-anak Udon Phithak, meninggalkan Saint berjalan sendirian dengan canggung ke mejanya. Untungnya, tidak lama kemudian Peeta dan Cable menghampiri mejanya untuk membahas tugas presentasi bahasa Inggris yang mereka kerjakan bersama-sama. Peeta dengan semangat membahas hasil kerja kelompok dan mengatur strategi presentasi, tapi Saint susah fokus–yang ia dengar hanya suara tawa Shin yang tidak lagi dibagi dengannya.

“Menurutmu gimana, Saint?” tanya Peeta, memecah lamunan Saint. Saint ingin menjawab, “Ya, menurut gue sudah oke” untuk mempersingkat waktu diskusi, tapi tatapan Peeta yang sungguh-sungguh membuatnya enggan. Ia pun jujur. “Maaf, tadi gue kurang fokus, boleh diulang?” menerima helaan napas lelah dan kecewa Peeta yang ditujukan untuknya.

Memfokuskan diri pada apa yang di hadapannya, Saint menutup telinganya dari tawa Shin yang lama-lama saru.

Notes:

Find me on X @rumielis