Actions

Work Header

Become One

Summary:

Wonwoo yang hilang kabar selama 2 hari lamanya, membuat Mingyu cemas yang mengharuskan ia menghampiri kos Aveille tempat Wonwoo beristirahat di tengah hiruk - pikuk perkuliahannya. Dengan raut muka yang kaget Mingyu dikejutkan dengan penampilan Wonwoo yang kacau.

Work Text:

Tok, Tok, Tok.

Bunyi ketukan pintu kamar kos nomor 321 itu nyaring terdengar di lorong kos Aveille. Seseorang tengah berdiri di depan pintu kamar tersebut dengan membawa beberapa makanan sekaligus tas kerja miliknya, menunggu sang pemilik kamar kos membukakan pintu untuknya.

“Wonwoo, ini saya Mingyu. Boleh tolong dibuka? Atau setidaknya terima makanan yang saya bawakan untukmu,” ujar lelaki tersebut.

5 menit, 10 menit, pintu itu masih belum dibuka.

“Wonwoo, tolong. Terima ini titipan dari Ibuk sama Bapak. Mereka khawatir sama kamu. Udah 2 hari pesan dari Ibuk sama Bapak gak kamu balas, Nu.”

Ceklek.

Pintu kamar kos itu terbuka, memperlihatkan penampilan pemiliknya yang sangat berantakan, rambut tidak disisir, baju yang udah sangat amat kusut, celananya yang panjang sebelah, hidung yang merah, mata nya sembab.

Mingyu kaget sejadi — jadinya, menimbulkan tanda tanya dipikirannya ‘Wonwoo kenapa?’, namun ia memilih untuk memberikan senyuman hangat dibandingkan ia memberikan pertanyaan yang mungkin malah membuat Wonwoo makin terbebani.

“Kamu, udah makan Nu?” Tanya Mingyu.

Yang ditanya hanya menggeleng enggan memberikan suara, sang pemilik kos memilih untuk masuk lagi ke kamar kosnya, mengisyaratkan agar Mingyu masuk ke kamar yang lebih mirip kapal pecah itu.

“Maaf berantakan. Bapak duduk aja di kasur atau di kursi tempat aku belajar, kamarnya biar aku beresin dulu,” ujar Wonwoo.

Mingyu acuh, ia memilih untuk menaruh makanan yang ia bawa, dan tas kerjanya di meja belajar milik Wonwoo, setelahnya ia menarik tangan Wonwoo untuk mendekat ke arah kursi meja belajarnya.

“Kamu aja Nu, yang duduk. Ini biar saya yang bereskan, saya ga yakin kamu kuat berberes melihat penampilan kamu yang seperti ini,” ujarnya.

“Tapi kan, Bapak tamu, masa tamu yang berberes sih Pak? I’m okay kok right now,” timpal Wonwoo.

“Penampilan kamu yang ga menunjukan kalau kamu ‘okay’ Wonwoo. Duduk saja di kursi ya, saya siapkan makanan. Kamu makan ya.”

Wonwoo nurut, sudah tidak ada tenaga yang ia miliki untuk berdebat lagi. Tidak makan 2 hari membuat badannya lemas sekali. Ia duduk sambil melihat bagaimana si ‘Bapak’ menyiapkan makanan untuknya.

“Makasih Pak, maaf repotin Bapak.”

“Engga, dimakan ya, kasihan tubuh kamu.”

Alih — alih memakan makanan yang ada di depan nya, Wonwoo lebih memilih untuk memperhatikan Mingyu yang sedang berberes, menatap lamat sambil berujar di dalam hati, ‘Kok bisa sih Pak, Bapak mau sama aku, padahal Bapak se — baik ini? Dan kenapa rasanya susah banget buat buka hati ke Bapak ya?'.

25 menit kamar tersebut sudah rapi, Mingyu berhasil membereskan kekacauan yang ada. Ia juga memanggil laundry service ke kos Wonwoo guna mengambil tumpukan baju yang mungkin udah 3 hari ga di cuci Wonwoo.

Setelah Mingyu rasa udah selesai semua pekerjaannya, ia mendekat ke arah Wonwoo duduk.

“Kok ga berkurang Nu makanannya? Ga enak ya? Apa saya salah belinya? Tapi kata Ibuk, kamu suka banget sama soto ayam. Atau kamu mau apa, bilang aja, saya belikan lewat aplikasi ya?” Tanya Mingyu.

Bukannya menjawab, Wonwoo malah menangis, menundukan kepalanya dalam — dalam.

“Hei, kenapa nangis? Perkataan saya salah? Saya minta maaf, Nu.”

Wonwoo menggeleng, “Bukan, bukan Bapak yang salah, yang salah aku Pak, aku cuma mikir do i deserve this, Pak?”

“Of course, why not, Nu? Kamu pantas dapat apapun yang ada di dunia ini. Jangan pernah ngomong kayak gitu sama diri kamu, saya ga suka.”

Sorry…

“Iya, jangan diulangin ya Nu, saya suapin ya? Kamu udah berapa hari ga makan sih, Nu?”

“Ga tau Pak, akunya ga nafsu makan, sampai lupa kapan terakhir aku makan,” ujar Wonwoo.

Mingyu menghela nafas pelan, mengakhiri perdebatan mereka dan memilih untuk menyuapi Wonwoo.

10 menit, makanan itu sudah habis ditelan Wonwoo.

“Pesan dari Bapak sama Ibuk, tolong dibalas ya Nu. Bapak sama Ibuk khawatir sama kamu, dari 2 hari yang lalu ga kamu balas. Chat saya juga ga kamu balas, kita jadinya bingung Nu, kalau kamu kayak kemarin. Gapapa kalau kamu ga mau balas chat saya, tapi tolong balas chat Bapak sama Ibuk. Gimana pun mereka butuh kabar kamu, Nu.”

Wonwoo diam saja, beralih mengambil handphone nya yang sudah 2 hari tidak ia pegang. “Iya, Pak. Ini aku balas pesan Bapak sama Ibuk, maafin aku ya Pak, bikin Bapak repot, apalagi Bapak baru pulang kerja tapi malah kesini.”

“Gapapa, Bapak sama Ibuk nitipin kamu ke saya. Artinya kamu udah jadi tanggung jawab saya.”

Mingyu mengenggam tangan Wonwoo, “Nu, saya ga tau apa masalah kamu sampe kamu se — kacau ini, cuma saya mau bilang, berhenti nangisin hal — hal yang buat kamu sakit hati ya Nu. Kamu ga pantas buat nangisin orang — orang atau hal — hal yang udah bikin kamu sakit hati.”

‘Kenapa aku susah banget nerima perjodohan ini sama kamu ya Pak, padahal kamu sebaik ini sama aku, tapi aku — nya malah nangisin cowok brengsek yang abis ketahuan selingkuh sama temen aku sendiri Pak, dan sialnya aku yang diputusin Pak, bukan aku yang mutusin dia.’ ujar dalam hati Wonwoo

“Bapak, makasih. Makasih udah mau mampir ke sini, ngecek keadaan ku yang lagi kacau saat ini, lagi — lagi maaf aku ngerepotin Bapak banget. Maaf juga Bapak harus direpotin sama Ibuk dan Bapak buat jagain aku, buat ngecek keadaan aku. Padahal aku berkali — kali nolak secara tegas perjodohan ini ke Bapak,” sesal Wonwoo.

No, saya tidak merasa saya direpotin sama kamu ataupun Ibuk dan Bapak. Saya juga ga masalah dengan perjodohan itu Wonwoo, asal kamu masih mau nerima eksistensi saya di dekat kamu, saya sudah senang. Kalau pada akhirnya memang kamu lebih memilih pacar kamu itu, saya juga tidak masalah, kita bisa tetap jadi teman atau saudara kan?” balas Mingyu yang sendari tadi mengelus punggung tangan lawan bicaranya itu.

“Tapi Pak…” ucap Wonwoo sambil melihat Mingyu.

“Ya?”

“Kalau aku maunya kita jadi pasangan gimana? Tapi aku mau kenal lebih dalam soal Bapak dulu… Bapak kira — kira mau gak?” ujarnya sambil memasang wajah takut.

Of course, saya mau Wonwoo.” kata Mingyu dengan nada gembira seraya tersenyum menatap dengan tatapan cinta kepada lawan bicaranya itu.

“Tapi gimana dengan pacar kamu itu, Nu? Saya gak kamu jadiin selingkuhan kan?”

Wonwoo memukul lengan Mingyu seraya berkata, “Enak aja Bapak aku jadiin selingkuhan, yang ada dia yang selingkuhin aku Pak. Sekarang aku udah ga ada hubungan sama siapapun, Pak.” Mingyu kaget dengan pernyataan tersebut.

‘Apa itu alasannya Nu? Yang buat kamu jadi kacau selama beberapa hari ini?’ Ujar Mingyu dalam hatinya.

“Udahlah Pak, ga usah dipikirin. Masalah sepele kok, aku juga sekarang udah ga kenapa — kenapa soalnya ada Bapak,” lanjutnya seolah tau isi pikiran Mingyu.

Mingyu hanya mengangguk, “Itu berarti kamu terima perjodohan ini?”

“Tergantung. Kalau Bapak ngeselin, aku tolak. Tapi kalau Bapak bikin aku merasa aman dan di sayang — sekarang udah merasa sih — aku terima,” timpal Wonwoo.

Mingyu tersenyum. Kemudian ia menarik tangan Wonwoo, “Boleh saya kecup Nu?” Wonwoo mengangguk, mempersilahkan punggung tangannya dikecup oleh Mingyu.

“Mas Mingyu, boleh Wonwoo peluk Mas?” Mingyu kaget, ini pertama kali Wonwoo memanggilnya dengan sebutan ‘Mas’, hati dia berdegup kencang, kepalanya pusing, pandangannya mulai kabur, rasa rasanya ia ingin pingsan detik itu juga.

Wonwoo tertawa, melihat reaksi Mingyu mendengar panggilan tersebut.

“Mas, kenapa?” tanya Wonwoo.

“Bentar, saya pusing dengar kamu manggil seperti itu.”

“Hahaha, jadi ini Wonwoo boleh peluk Mas Mingyu gak ya?” tanya Wonwoo sekali lagi.

“Iya boleh. Sini, peluk Mas.” Mingyu merentangkan tangannya yang kemudian disambut baik rentangan tangan Wonwoo.

Tangan Mingyu memeluk erat tubuh Wonwoo yang sesekali punggung dan kepala Wonwoo ia usap.

“Terima kasih ya, udah izinin Wonwoo buat kenal lebih dalam soal kamu dan mau nunggu Wonwoo selama ini, Mas Mingyu.”

“Sama — sama sayangnya Mas.”

Mingyu mengeratkan pelukannya, seolah tak ada yang boleh mengambil Wonwoo lagi darinya. Mengecup beberapa kali pucuk kepala Wonwoo. Memberikan bukti bahwa se cinta dan se sayang itu ia kepada Wonwoo.

Mereka berdua sadar bahwa ini bukan akhir dari perjalanan cinta mereka namun awal dari perjalanan cinta mereka.

This is the beginning of the love story of Eliano Mingyu Pradipta and his lover Wonwoo Kalindra.