Chapter Text
Tap Tap
Dapat terdengar suara para staff yang berlari-lari kesana dan kemari, sibuk dengan urusannya masing-masing.
Mereka ada para ilmuwan yang bekerja disebuah laboratorium yang bernama, Laboratorium Cosnova.
Karena laboratorium ini berada ditengah hutan yang tidak pernah dikunjungi, sudah pasti laboratorium ini tidak diketahui oleh publik kecuali beberapa pihak tertentu.
Laboratorium ini merupakan sebuah pusat penelitian terdepan dalam bidang genetik dan virologi. Tidak hanya itu, laboratorium ini juga menjadi tempat penelitian untuk membuat obat-obatan.
————••••————
"Dr.Rachel, ini laporan penelitian yang anda minta."
"Oh, terima kasih."
Mita, asisten Rachel, melihat ke arah Rachel dan berkas yang baru saja diberikannya dengan penasaran.
"Dr.Rachel, jika anda tidak keberatan, bolehkah saya tau apa yang akan anda lakukan dengan informasi dari berkas tersebut?"
Rachel menoleh ke arah Mita, terdiam sejenak lalu tersenyum.
"Tentu saya tidak keberatan. Informasi yang ada didalam berkas ini dapat membantu perkembangan proses dalam projek yang sedang kita kerjakan."
"Oh- Begitu ya."
Mita tidak sabar untuk melihat perkembangan proses yang dikatakan oleh Rachel, namun ia tidak ingin mengganggu waktu Rachel lagi.
Ia memutuskan untuk pergi, meninggalkan Rachel sendiri agar fokus dengan pekerjaannya. Tapi sebelum itu ia memastikan bahwa Rachel butuh bantuan dia lagi atau tidak.
"Um, apakah ada lagi yang anda ingin saya lakukan?"
"Ah, tidak. Terima kasih Mita."
"Sama-sama, Dok. Kalo begitu saya permisi dulu."
"Baiklah."
Mita pergi meninggalkan ruangan Rachel.
————••••————
Mita sedang berjalan di lorong laboratorium, dan terhenti saat ada yang memanggilnya.
"Eh, Mita."
Sapa seorang pria yang berjalan ke arahnya.
"Selamat siang, Dr.Yono."
Yono merupakan salah satu senior yang bekerja di laboratorium Cosnova, sama seperti Rachel.
"Gimana kabarnya?"
"Baik, Dok. Dokter sendiri gimana kabarnya?"
"Haha, baik baik."
Jawab Yono dengan ceria.
'Walaupun sudah berumur, Dr.Yono masih bersemangat ya.'
Batin Mita sambil tersenyum.
"Ah, saya ada urusan yang harus diselesaikan. Saya permisi dulu."
"Oh iya, kalo begitu saya juga lanjut dengan aktivitas saya."
Mereka berdua saling tukar senyum dan pergi melanjutkan aktivitas masing-masing.
····....····
····....····
····....····
····....····
––––Seminggu Kemudian––––
····....····
····....····
····....····
····....····
"Terima kasih bagi yang sudah hadir dalam rapat hari ini."
Semua ilmuwan yang bekerja di laboratorium Cosnova sedang berkumpul dalam aula khusus, setelah mendengar pengumuman rapat dari Kepala Ilmuwan alias si pemilik laboratorium Cosnova.
"Saya tau kalian pasti bingung serta penasaran akan tujuan diadakannya rapat ini. Tapi jangan khawatir, semua rasa itu akan menghilang setelah kalian mendengar pengumuman yang akan disampaikan."
"Kira-kira apa ya?"
"Apakah ada anggota baru?"
"Ga mungkinlah, jumlah anggota kita saja sudah cukup dengan syarat yang ditentukan."
"Iya juga sih."
"Para hadirin mohon tenang. Silahkan, Dr.Rachel."
"Baik, Terima kasih Pak."
"Huh, Dr.Rachel?"
"Eh, dia bukannya ilmuwan yang paling jenius ya disini?"
"Seperti pengumuman kali ini bakal menarik."
"Akhem, selamat pagi dan terima kasih kepada semua yang sudah hadir dalam rapat ini. Saya, Rachel Lis, berhasil menciptakan sebuah formula yang dapat menyembuhkan segala penyakit, bahkan penyakit yang diketahui tak bisa disembuhkan dengan cara apapun."
Ucapnya dengan penuh percaya diri.
Mendengar pengumuman dari Dr.Rachel, seisi ruangan tersebut langsung heboh.
"Saya tau kalian semua pasti berpikir bahwa itu mustahil, tapi tidak. Karena buktinya sudah ada ditangan saya. Formula ini saya beri nama X-13."
Rachel mengangkat satu tangannya ke atas sambil memegang sebuah botol formula. Semua mata tertuju ke arah botol tersebut.
"Dengan satu tegukan dari cairan ini, siapapun yang meminumnya dapat sembuh dari penyakit yang dimiliki nya."
Rachel kemudian menjelaskan beberapa informasi detail tentang formula buatannya, namun mau sebesar apa rasa percaya diri yang ia tunjukkan saat menjelaskan tentang formula tersebut.
Masih ada beberapa orang yang ragu dengan pernyataan Rachel.
"Bagaimana kami dapat tau secara pasti kalo formula tersebut benar-benar dapat menyembuhkan segala penyakit? Bisa saja formula itu hanya mencegah penyakitnya agar tidak parah, tapi tidak menghilangkannya."
Tanya salah satu senior yang hadir dalam rapat tersebut.
"Saya bisa buktikan. Maaf atas kelancangan saya, tapi apakah ada orang disini yang memiliki penyakit dan belum menemukan obat penawarnya?"
Seisi ruangan langsung hening, sebelum ada seseorang yang mengangkat tangannya.
"Saya."
!?
"Dr.Yono!?"
"Emang Dr.Yono sakit apa??"
"Saya baru tau Dr.Yono memiliki penyakit, soalnya dia terlihat sehat-sehat aja."
Yono berjalan ke atas podium, lalu berdiri didepan Rachel.
Rachel menatap ke arah Yono, terkejut.
"..Jika saya boleh tau, anda sakit apa Dok?"
"..HIV."
"Maaf."
"Kenapa kamu minta maaf?"
"Ah, tidak apa-apa. Apakah anda sudah siap?"
Tanya Rachel sambil memberikan gelas berisi cairan formula X-13 kepadanya.
Yono menatap ke arah gelas tersebut, walaupun masih merasa kurang yakin, ia tetap mengambil gelas berisi cairan formula X-13 itu dan meminumnya.
...
Tek
Gelas itu terlepas dari tangan Yono dan jatuh ke lantai.
"Dr.Yono? Anda baik-baik saja, Dok?"
...
Thud
"DR.YONO!?"
Seisi ruangan panik melihat Yono yang pingsan tak sadarkan diri setelah meminum formula tersebut.
····....····
····....····
····....····
····....····
'Ugh..Kepalaku sakit..'
!?
"Dr.Yono! Anda baik-baik saja, Dok!?"
Yono melihat sekeliling ruangan dengan penglihatannya yang kabur.
"Dr.Rachel! Dr.Yono sudah bangun."
Ia dapat mendengar langkah kaki yang sangat cepat memasuki ruangan tersebut.
"Dr.Yono! Maafkan saya, Dok. Apakah anda baik-baik saja!? Ada perasaan janggal, sakit atau sebagainya!?"
Yono menatap ke arah Rachel yang sedang panik, ia hanya menghela nafasnya dan tersenyum tipis.
"Tenang, Dr.Rachel. Saya baik-baik saja."
"Syukurlah."
————••••————
"Dr.Yono, mulai sekarang anda akan tinggal didalam ruangan ini. Kami akan memberikan anda fasilitas yang layak dan memastikan anda dapat merasa nyaman selama tinggal disini."
Ucap Budi, rekan kerjanya Yono.
"Baiklah, terima kasih."
"Anda beneran baik-baik saja kan?"
"Iya, tenang aja."
"Haah...Kalo begitu saya permisi dulu."
Yono mengangguk dan Budi pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Ruangan yang ditempati oleh Yono merupakan ruangan khusus yang disediakan sebagai tempat untuk melakukan test dan sebagainya.
Karena efek samping yang dialami Yono, Rachel memutuskan untuk melakukan penelitian terhadap Yono. Sudah pasti dia meminta persetujuan Yono terlebih dahulu.
Memiliki test subjek manusia merupakan hal yang tidak pernah ada didalam laboratorium Cosnova. Biasanya test subjek yang digunakan adalah hewan dan tumbuhan.
Subjek hewan dan tumbuhan yang gagal akan dimusnahkan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, dan bagi subjek yang berhasil akan dibiarkan hidup hingga subjek tersebut tidak bisa lagi melanjutkan hidupnya.
Baru kali ini subjek penelitian yang digunakan adalah manusia, yaitu Yono.
Sebenarnya di laboratorium ini tidak ada larangan untuk melakukan test penelitian terhadap manusia, dengan syarat manusia yang akan dijadikan sebagai test subjek harus mau secara sukarela bukan paksaan.
Setiap ruangan test subjek dibedakan dengan kode huruf dan angka. Ruangan Yono diberi kode Cy-0421.
————••••————
Yono menjalani kehidupannya didalam ruangan itu dengan tenang.
Ia diberi makan tepat waktu dan bahkan dia dapat meminta cemilan atau makanan tambahan jika mau.
Didalam ruangan itu sudah tersedia kamar mandi, kasur, meja dan kursi untuk makan dan rak yang berisi buku-buku.
Untuk pakaian, Yono menggunakan pakaian khusus untuk test subjek dan setiap harinya akan diberikan pakaian ganti disaat tertentu, seperti saat jadwal mandi pagi dan mandi malam.
Kehidupan Yono tidak beda dengan kehidupan manusia pada umumnya, yang membedakannya adalah Yono dilarang keluar dari ruangan tersebut tanpa pengawasan.
Yono tidak terlalu keberatan dengan hal itu, karena dia sendiri pun jarang memiliki keinginan untuk keluar dari ruangan tersebut.
Rachel sebagai orang yang menciptakan formula X-13, sudah pasti akan menjadi orang yang memimpin penelitian terhadap Yono.
Rachel memastikan bahwa test-test yang ia lakukan pada Yono tidak melukainya. Karena walaupun Yono merupakan sebuah test subjek dalam penelitiannya, ia masih memiliki rasa manusiawi untuk tidak menyiksa nya.
Hari-hari berlalu, dan kehidupan Yono tidak pernah membosankan saat ia berada didalam ruangan tersebut.
Rachel sering mengajaknya untuk mengobrol, tidak hanya itu Mita juga sering datang membawakan buku-buku yang menarik untuk dibaca oleh Yono.
Minggu-minggu berlalu, dan Yono mulai merasakan hal yang aneh dengan tubuhnya. Namun ia menganggap itu sebagai efek samping kecil lainnya dan tidak memberitahukan nya kepada Rachel.
····....····
····....····
····....····
····....····
Tok Tok
"Dr.Yono?"
...
Tok Tok
"Dr.Yono..?"
...
Tok Tok
"...Dr.Yono...?"
...
Tidak mendapatkan respon apapun, Mita segera pergi menemui Rachel.
"Dr.Rachel!"
"Ada apa, Mita?"
Rachel melihat Mita berlari ke ruangannya sambil membawa nampan berisi makanan diatasnya.
"Loh, kenapa makanannya gak dikasih ke Dr.Yono?"
"Tadi saat saya mengetuk pintu ruangan Dr.Yono, saya tidak mendapatkan respon apapun. Saya bahkan sudah mengetuk pintunya sampai 3 kali sambil manggil-manggil."
"Coba cari Dr.Budi, soalnya kunci ruangan Dr.Yono sama dia. Nanti kita ketemuan didepan ruangan Dr.Yono."
"Baik, Dok."
Mereka berdua pergi ke tujuannya masing-masing. Setibanya didepan pintu ruangan Yono, Rachel mencoba untuk mengetuk pintunya berharap untuk mendapatkan respon.
Tok Tok
"Dr.Yono?"
...
Tok Tok
...
Tap Tap
"Dr.Rachel! Apakah Dr.Yono merespon?"
Tanya Budi sambil berlari ke arahnya, bersama Mita.
"Tidak. Tolong cepat buka pintunya."
"Baiklah."
Budi mengeluarkan kunci dari sakunya dan membuka pintu tersebut.
Saat dibuka, seisi ruangan terlihat gelap dan berantakan.
Budi menyuruh Rachel dan Mita untuk tunggu diluar, sedangkan dia pergi periksa ke dalam.
Step Step
"..Dr.Yono?"
...
Grrrgh...
! "Dr.Yono?"
Budi berjalan ke asal suara itu secara perlahan. Suara tersebut berasal dari pojok ruangan.
Ia mengarahkan senter handphone nya ke arah pojok ruangan tersebut.
!? "Dr.Yono- AAARGH!!"
!?
Rachel dan Mita terkejut mendengar teriakan Budi.
"Dr.Budi! Anda baik-baik saja!?"
Rachel baru saja melangkahkan satu kakinya ke dalam ruangan sebelum-
"Jangan masuk!"
Teriak Budi dari dalam.
Rachel tersentak dilangkahnya dan hanya terdiam, sebelum ia menyuruh Mita untuk memanggil bantuan.
Mita segera pergi dan meninggalkan Rachel.
Rachel mendengar suara aneh dari ruangan tersebut dan mulai merasa gelisah.
"Dr.Budi, keluarlah! Disana tidak aman."
Ujar Rachel, khawatir akan keselamatan rekan kerjanya.
...
"Dr.Budi?"
Rachel tidak mendapatkan respon apapun dari Budi. Ia hanya berdiri menatapi ruangan gelap tersebut dengan cemas.
Sret...Sret...
Ia mendengar suara benda yang terseret di lantai.
'Suara apa itu? Seperti kaki yang diseret?'
Saat sibuk memikirkan hal kecil tersebut, sesosok makhluk lompat dan menerkam Rachel.
"AAAAAH!"
Rachel berteriak dan berusaha untuk membebaskan diri dari genggaman mahkluk tersebut, namun sayangnya usaha dia sia-sia.
Makhluk itu menggigit bahu Rachel dan mengoyaknya. Rachel hanya bisa menjerit kesakitan.
————••••————
Mita berlari menuju pos keamanan khusus laboratorium Cosnova. Setibanya disana, ia langsung mengetuk pintu pos tersebut.
Tok Tok
"Permisi."
Pintu itu terbuka dan terlihat seorang pria dengan seragam keamanan berdiri dengan satu tangan memegang gagang pintu.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Ah iya, anu, sepertinya ada masalah diruangan Cy-0421. Bisakah anda pergi memeriksanya?"
"Tentu, saya akan segera pergi dengan tim saya. Tapi..Jika boleh tau, kenapa anda membawa nampan nona Mita?"
Tanya petugas keamanan tersebut sambil menunjuk ke arah nampan yang berada ditangan Mita.
"Eh?"
Mita melihat ke arah nampan yang masih berisi makanan ditangannya.
"Eh, iya ya- Hehe, tadi ini untuk Dr.Yono. Tapi karena ada masalah di ruangannya, saya jadi lupa untuk memberikannya."
Jawab Mita dengan wajah yang memerah karena malu.
"Oh begitu ya. Baiklah, saatnya saya melaksanakan permintaan anda tadi."
"Ah, iya."
Mita menepi dari depan pintu agar tim petugas keamanan bisa lewat.
"Nona Mita tunggu di ruangan anda saja. Jika sudah selesai nanti saya kabari."
"Baiklah. Terima kasih."
Tim keamanan segera pergi dari pos nya dan Mita pun kembali ke ruangannya.
————••••————
"...Apa-apaan ini..?"
"Berantakan banget."
Tim keamanan sudah sampai di area sekitar ruangan Cy-0421. Mereka terkejut dengan pemandangan disana, semuanya terlihat kacau.
Banyak barang-barang laboratorium yang hancur dan berserakan. Bahkan ada beberapa percikan dan bekas darah disetiap dinding dan lantai.
Walaupun melihat pemandangan yang sangat mengerikan, tim keamanan tidak takut dan terus menelusuri area tersebut.
"Kira-kira ini darah apa?"
"Darah hewanlah. Ini kan area ruang test subjek khusus hewan dan tumbuhan."
"Ya aku kan cuma nanya, santai lah."
"🙄"
Selama menelusuri area sekitar ruangan Cy-0421. Salah satu petugas mulai menyadari sesuatu.
"Jika dilihat dari situasi ini, sepertinya dalang dari kekacauan ini sudah sampai ke area laboratorium lainnya. Soalnya dari tadi kita tidak menemukan satu orang pun disini."
"Apa yang membuatmu berpikir bahwa ini ulah manusia, hah? Lihatlah kekacauan ini."
"Mana tau?"
Kapten tim hanya menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anggotanya.
"Menurut mu apa yang menyebabkan semua ini?"
"Aku tidak tau. Tapi lebih baik kita pergi ke area lainnya sekarang. Kemungkinan besar para ilmuwan sedang dalam bahaya."
"Baik, pak."
Tim keamanan pergi ke seluruh area laboratorium Cosnova untuk menolong para ilmuwan. Namun mereka tidak dapat menemukan siapapun disetiap area yang mereka kunjungi, sebelum....
"Sejak awal kita masuk ke gedung laboratorium, aku tidak melihat siapapun. Terakhir kali aku melihat seseorang saat si asisten Dr.Rachel itu datang ke pos."
"Iya. Mereka semua pada kemana dah? Main petak umpet kah?"
"Masih sempat pula mu bercanda."
"Ya habisnya gimana lagi? Gak mungkin mereka semua menghilang ditelan bumi."
"Kalian semua diam. Yang kita butuhkan sekarang itu fokus, bukan bacotan kalian."
Tegur kapten tim, kesal dengan anggotanya yang tidak bisa serius.
Mereka sampai diarea utama laboratorium Cosnova. Mereka berhenti sejenak sambil melihat sekeliling.
"Ini area terakhir kita. Jika kalian tidak menemukan apapun, kembali lagi kesini dan tunggu yang lainnya. Saat semua sudah berkumpul, kita akan langsung pergi melaporkan ini ke atasan."
"Baik, pak."
Mereka semua berpencar menyelidiki area tersebut.
...
"Ew, banyak banget darahnya."
Salah satu petugas keamanan masuk ke dalam ruang khusus untuk penyimpanan obat-obatan yang dipenuhi dengan darah.
"Permisi. Ada orang?"
...
Karena tidak ada respon, ia memutuskan untuk menelusuri ruangan tersebut. Ditengah penelusurannya, dia mendengar suara dari pojok ruangan.
Srsk
? "Halo? Ada orang kah?"
...
Srsk
"Minimal kalo dipanggil tu nyaut ya."
...
Srsk
"Oi, kamu bisu kah?...Ni juga ruangan gelap amat, aku gak bisa lihat apa-apa jir."
Srsk
Saat sibuk merepet karena lampu ruangan yang padam, sesosok makhluk langsung menghampiri petugas dengan cepat.
Petugas itupun terkejut dan tidak sempat mengeluarkan senjatanya, sebelum ia diterkam oleh makhluk tersebut.
Mereka berdua jatuh dan petugas itu berusaha untuk melepaskan diri dari genggaman makhluk itu sambil protes.
"Apaan sih!? Lepas!"
Petugas itu berhasil melepaskan diri dan segera menembak makhluk tersebut dengan pistol yang dia ambil dari holster dipinggang nya.
Setelah makhluk itu mati, petugas keamanan itu melihat makhluk tersebut dari dekat.
Tubuh makhluk itu berwarna biru keunguan dengan sedikit abu-abu, pakaiannya memiliki banyak sobekan, dan wajahnya terlihat menyeramkan.
"..Aku harus segera mengabari kapten."
Petugas keamanan itupun menghubungi kaptennya melalui walkie-talkie nya.
"Ada apa, Tio?"
"Kapten. Saya baru saja menemukan mahkluk aneh diruang khusus penyimpanan obat-obatan. Tidak hanya perawakannya yang menyeramkan, tapi makhluk ini juga terlihat seperti manusia."
"Baiklah. Nanti kamu beritahu detailnya saat semuanya sudah berkumpul dititik pertemuan kita. Sekarang kamu balik dulu ke sana, tidak aman berlama-lama diruangan itu."
"Baik, pak."
————••••————
"Si Tio tu, padahal aku mau cek ruang penyimpanan obat-obatan supaya aku gak periksa gudang."
Gerutu petugas keamanan tersebut.
"Banyak juga barang bekas disini- Lah ada skuter disini?"
Petugas itu mendekati skuter tersebut, lalu mengecek kalo skuter itu masih bisa dipakai atau tidak.
"Masih bisa dipakai rupanya...Heh."
Petugas itu lanjut menelusuri gudang tersebut sambil mengendarai skuter. Ia juga tidak lupa dengan tugasnya.
Kruk-bruk-bruk
Tumpukan Kadus jatuh secara berturut-turut.
!? "Apaan tu!?"
Petugas itu pergi menuju tumpukan kardus yang jatuh itu. Ia melihat ada sesuatu yang bergerak diantara tumpukan kardus itu.
...
Ia meninggalkan skuternya dan mendekati area kardus yang bergerak.
Step..Step..
!?
"Grrgh- Argh!"
Sesosok makhluk mengerikan lompat dari tumpukan kardus itu ke arahnya.
Petugas itu berhasil mengelak dan langsung menodongkan pistolnya ke arah makhluk tersebut.
Bang!
Petugas itu menembak kepala makhluk tersebut dan makhluk itupun mati.
Petugas itu hanya terdiam sambil menatapi mayat mahkluk itu.
"...Aku harus balik sekarang."
Petugas itu segera berlari keluar dari gudang menuju ke titik pertemuan mereka.
————••••————
"Oi, bro. Mu ada nemuin sesuatu ga?"
"Ngga. Mu?"
"Ga."
"Haish, sebenarnya ni laboratorium kenapa sih?? Kalo tau bakal ada masalah kek gini, mending aku ga usah kerja disini."
"Ini kan kejadian yang tak terduga. Jadi kita gak bisa protes, lagian sebagai anggota tim keamanan sudah tugas kita untuk memastikan semuanya baik-baik saja."
Mereka berdua terus memeriksa dan menelusuri lorong-lorong serta ruangan-ruangan yang ada di lorong tersebut.
Brak Brak
Perhatian mereka berdua teralihkan ke salah satu pintu ruangan di lorong tersebut.
"Oi, mu udah ngecek ruangan itu?"
"Belum."
"Itu suara gedoran kan?"
"Lebih ke pukulan sih kata ku."
"Cek lah."
"Kok aku? Mu lah."
"Ish, mu aja lah! Lagian dari tadi aku yang paling banyak kerja."
"Paling banyak kerja apa nya? Dari tadi mu cuma nyuruh-nyuruh aku aja."
Brak Brak
Suara pukulan di pintu itu semakin keras.
Mereka berdua menatap ke arah pintu itu, lalu saling menatap satu sama lain.
"Cek barengan?"
"Cek barengan."
Mereka berjalan ke pintu tersebut dan berdiri sejenak. Salah satu petugas keamanan itu memegang gagang pintu itu, lalu menoleh ke arah rekannya.
Rekannya mengangguk dan petugas itupun membuka pintunya dengan perlahan.
!?
Sesosok makhluk mengerikan langsung menerkam petugas yang berada didepan pintu. Petugas itupun dicabik-cabik wajahnya oleh makhluk itu.
Petugas yang berada disamping terkejut dan ketakutan, sehingga tangannya terlalu tremor untuk mengambil pistol yang ada diholster nya.
Makhluk itu menatapnya dan petugas langsung lari sekencang-kencangnya.
————••••————
"Kapten."
Kedua petugas yang sudah menunggu dititik pertemuan menoleh ke arah pria yang berjalan ke arah mereka.
"Tio, Anto. Bagaimana hasil penelusuran kalian?"
"Pak. Saya ingin memberitahu tentang hal yang saya katakan pada bapak lewat walkie-talkie tadi secara detail."
"Silahkan."
"Diruang penyimpanan obat-obatan tadi, saya diserang oleh sesosok makhluk mengerikan, namun saya berhasil membunuh makhluk tersebut. Makhluk itu memiliki warna tubuh yang biru keunguan bercampur abu-abu, mengeluarkan suara aneh, dan memiliki wajah yang menyeramkan."
! "Aku juga bertemu dengan makhluk yang sama persis ciri-cirinya sama mu. Tidak hanya itu, makhluk itu juga terlihat seperti manusia. Tapi jika dilihat lebih baik lagi, pakaian yang mereka kenakan seperti pakaian para ilmuwan yang bekerja di laboratorium ini."
"Apakah makhluk itu merupakan para ilmuwan yang bekerja disini?"
"Gak mungkinlah. Emang mereka kena apa sampai terlihat seperti itu."
"Bagaimana menurut anda, pak?"
Kapten tim keamanan hanya diam sambil berpikir. Ditengah kereta pikirannya, ia mendengar suara teriakan tidak jauh dari mereka.
Mereka bertiga menoleh ke sumber teriakan tersebut, mereka melihat salah satu anggota tim mereka yang berlari ketakutan sambil dikejar oleh makhluk mengerikan.
"Tio, tembak makhluk itu!"
"Baik, pak."
Tio menodongkan pistolnya ke arah makhluk itu sambil memastikan peluru nya tidak mengenai rekannya.
Bang!
"Huff...Huff....Terima kasih."
Petugas itu berusaha untuk menenangkan diri dan nafas.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Saya tidak apa-apa, pak."
"Mana Yudi?"
...
"..Yudi...Yudi sudah mati."
"Oi, jangan asal ngomong mu."
"Gak, aku serius."
"Ceritakan apa yang terjadi saat kalian pergi bertugas."
"Baik, pak."
Petugas itu menceritakan semua yang terjadi saat mereka memeriksa lorong-lorong yang diperintahkan secara detail.
Setelah selesai bercerita, mereka semua berduka atas kematian rekannya dan memutuskan untuk segera pergi dari sana.
"Kita harus pergi sekarang. Disini tidak aman."
"Baik, pak."
Sesampainya mereka mendekati pintu area pintu keluar, mereka langsung diserbu oleh beberapa makhluk mengerikan disana.
"Aaaghh!"
"Keluarkan senjata kalian dan tembaki mereka semua!"
Para petugas langsung mengeluarkan pistol mereka dan menembaki makhluk tersebut.
"Aaah!"
"Adi!"
Adi diserang oleh makhluk itu dan jatuh. Dadanya dicabik-cabik hingga terlihat jantungnya.
"Fokus! Terus tembaki mereka sampai kita tiba dipintu keluar.
Mereka terus menembaki makhluk-makhluk itu sambil berjalan mendekati pintu keluar.
!? "Tch. Apaan sih!?"
Pistol Anto kehabisan peluru.
"Gggrrrrhh!"
Bang!
"Cepat jalannya!"
"Ah, makasih Tio."
Mereka mempercepat jalannya dan tiba dipintu keluar laboratorium Cosnova.
Tio dan Anto dengan sekuat tenaga menahan makhluk-makhluk mengerikan itu, sedangkan kapten membuka pintu keluar tersebut.
!? "..Pintunya macet."
"Apa!?"
Kapten tim mendorong pintunya sekuat tenaga dan pintu nya berhasil terbuka.
Mereka bertiga lari sekencang mungkin keluar dari gedung laboratorium tersebut.
Namun nahasnya, mereka langsung dikerumuni oleh makhluk-makhluk mengerikan lainnya yang menunggu mereka diluar.
Disaat yang bersamaan pun pistol mereka juga kehabisan peluru. Mereka pun mati diterkam oleh makhluk-makhluk tersebut.
····....····
····....····
····....····
····....····
Sret...Sret...
Beberapa makhluk mengerikan itu berjalan keluar hutan dan menuju ke perkotaan.
Masyarakat kota yang tidak tau apapun tentang keberadaan makhluk mengerikan tersebut, sudah pasti tidak tau akan bahaya yang mengancam nyawa mereka.
–Bersambung....
