Actions

Work Header

Sketchbook Wishes

Summary:

"Akhir-akhir ini aku sering sekali menggambar apa yang sedang aku inginkan, tapi tidak bisa kumiliki."

“Apakah itu merupakan bentuk pengharapan bahwa apa yang Tuan Putri gambar akan muncul tiba tiba dari buku itu?”

"Bukan seperti itu.” Tuan Putri Nala menunjukkan sketsa beberapa tangkai bunga yang berbeda-beda. “Sekarang aku punya bunga mawar, bunga matahari dan bunga anggrek.” 

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Siapa yang sangka bahwa hari pertama Rafayel ditugaskan di istana merupakan hari terakhirnya bertugas. Tanpa sempat ada perkenalan dengan staff kerajaan, menemani anggota kerajaan dalam sebuah kunjungan, atau bahkan bertemu dengan rekan kerjanya. 

Penyerangan terjadi dan Tuan Putri Nala (yang Rafayel temukan sedang bersembunyi di Perpustakaan) meminta—memohon lebih tepatnya, untuk melarikan diri dari kerajaan untuk menghindari mereka yang mengincarnya baik hidup ataupun mati. 

Tempat persembunyian pertama mereka malam ini adalah sebuah gua. Setelah berhasil menyalakan api unggun, keduanya duduk pada sisi yang berlawanan. Rafayel bahkan belum tahu kenapa Tuan Putri diincar sehingga menyebabkan penyerangan istana terjadi. 

*

“Jadi, Tuan Putri….tidak akan kembali ke kerajaan selamanya?” 

Tuan Putri Nala menegakkan kepalanya, mengangguk seraya berkata, “kecuali kalau aku sudah bosan hidup.” 

Kepalanya beristirahat di atas tumpukan kedua lengan, kakinya tertekuk dan menempel pada dadanya. “Terima kasih sudah membantuku melarikan diri dari istana dan melindungiku supaya tidak tertangkap.” 

Tidak ada kebohongan apapun dalam kalimat Tuan Putri Nala, Rafayel benar benar melindunginya selama mereka menyelinap keluar dari istana, memastikannya tetap ada di balik tubuhnya dan mengikuti langkahnya tanpa tertangkap. 

“Jadi, sebelumnya Tuan Putri sudah tahu akan diincar?” 

“Aku selalu tahu.” katanya santai. 

“Termasuk pelaku dibalik kudeta?” 

Tuan Putri Nala mengangguk, “mau tahu siapa orangnya?” 

Rafayel merasa ini bukan ranah yang perlu ia ketahui, tapi ia mengangguk alih alih menggeleng. Dia merasa bahwa statusnya masih menjadi Penjaga dan informasi ini diperlukan untuk diketahui supaya dia dapat menghindari org tersebut untuk melindungi Tuan Putri Nala. 

“Penasihat Kerajaan.” ucapnya dengan suara kecil.

“Orang yang paling dekat dengan Raja?”

“Makanya itu. Penasihat Kerajaan sedari awal memang mewanti-wanti untuk memiliki anak laki-laki pertama sebagai pewaris kerajaan. Konon katanya jika menjadikan anak perempuan sebagai pewaris tahkta, maka akan terjadi penyerangan besar-besaran di tahun penobatan. Ketika aku lahir, aku disembunyikan, diasingkan dari relasi kerajaan lain. Dan yang paling parahnya, dia bukan Penasihat Kerajaan yang betulan punya kapabilitas dan pengalaman di bidangnya—dia dukun.” 

Rafayel tertegun seraya memainkan pisaunya. berusaha mencerna informasi yang tidak pernah ia pikirkan akan terjadi dalam sebuah kerajaan. Sangat tidak masuk akal. 

Mata Tuan Putri Nala terpekur pada pisau lipat yang dimainkan Rafayel, “boleh aku pinjam?” 

Rafayel berhenti memutar pisaunya, tertegun. “Untuk apa?” 

“Bukan untuk sesuatu yang membahayakan. Aku ingin memotong gaun dan rambut—tidak mungkin aku berkeliaran dengan rambut dan gaun yang mencuri banyak perhatian orang.” 

“Memotong gaun?” 

Tuan Putri Nala mengangguk, “kita bisa pakai potongan gaunnya untuk selimut atau alas tidur malam ini.” 

Rafayel meringis ngilu saat gaun dengan kain yang ia perkirakan buatan designer kerajaan itu dirobek dengan asal, menyisakan panjangnya yang tidak menutupi betis mulus Tuan Putri Nala. Mata Penjaga itu teralihkan ke arah berlainan dengan Tuan Putri Nala yang sumringah menaruh robekan gaunnya. 

‘’Setidaknya malam ini kita tidak akan tidur kedinginan. Mendekatlah, tidak perlu terlalu waspada. Aku yakin tempat ini aman untuk bersembunyi malam ini.’’ 

Malam ini. Artinya, besok hari mereka harus mulai mencari tempat tinggal yang setidaknya layak untuk tidak membuat salah satu dari mereka jatuh sakit. Rafayel mendekat ke arah Tuan Putri Nala yang sudah membentangkan robekan gaunnya dan membiarkannya jatuh ke atas kedua kaki Rafayel yang ikut tertekuk. 

Sebetulnya bajunya cukup membuatnya merasa hangat. Akan tetapi ia tidak mampu menolak ajakan Tuan Putri Nala untuk berbagi robekan gaunnya yang sebetulnya tidak terlalu hangat itu. Tapi satu yang dia tahu, proksimiti tubuh mereka menciptakan kehangatan yang berhasil mengantarkan Tuan Putri Nala menuju bahtera mimpinya. 

*

Setelah hampir satu tahun setengah kabur dari istana, Tuan Putri Nala dapat bertahan hidup dengan bantuan Rafayel di sampingnya. Pada awalannya, mereka menghasilkan uang dengan menjual beberapa perhiasan yang menempel di tubuh Tuan Putri Nala. Sebagian hasilnya digunakan untuk modal ladang, sebagian untuk kebutuhan sehari hari dan sisanya yang tidak seberapa disimpan untuk kebutuhan darurat. 

Keputusan untuk membeli ladang berasal dari Tuan Putri Nala yang belum berani menunjukkan diri di muka umum—walaupun penampilannya sudah berubah sedemikian rupa, serta keinginannya untuk memasak makanan yang layak sebagai balas budi kepada Rafayel yang setia berada di sampingnya. 

Tuan Putri Nala pandai memasak, Rafayel akui. Seharusnya ia tidak perlu heran karena Putri Kerajaan seharusnya mendapatkan kelas memasak pribadi. Sehingga tidak mengherankan pula menu makanan mereka cukup beragam dengan rasa yang tidak perlu ditanyakan lagi. 

Keduanya melangkah keluar dari pasar menuju keramaian pedagang kaki lima. Langkah Tuan Putri Nala terhenti ketika matanya menangkap tenant florist dengan beragam jenis bunga. Rafayel menyadarinya dan memilih untuk memperhatikan jelita di depannya. 

‘’Tuan Putri menginginkan beberapa tangkai bunga?’’ 

‘’Ayo kita pulang.’’ Cetus Tuan Putri Nala sambil mengalihkan tatapannya, ‘’semakin siang, mataharinya semakin terik.’’

Kalimat yang Tuan Putri Nala lontarkan sama sekali tidak menjawab keingintahuan Rafayel. Sang Penjaga pikir, itu hanyalah hal yang biasa para perempuan lakukan ketika tidak ada yang menyadari keinginan mereka. Maka, Rafayel pun kembali angkat bicara. 

“Baiklah, Tuan Putri bisa ambil beberapa tangkai bunga. Aku akan membayarnya” 

“Mmmm, tidak perlu. Besok-besok lagi saja.” 

‘’Oh? Jangan sungkan seperti itu, uang yang kita miliki sudah lumayan banyak untuk dibelikan sesuatu selain kebutuhan sehari-hari. Ambil saja yang Tuan Putri inginkan.’’ 

Tuan Putri Nala tetap menggelengkan kepalanya, teguh pada pendiriannya seperti biasa. Dan siapakah Rafayel untuk membantah? 

‘’Jadi kita akan makan siang apa hari ini?’’ Tanyanya, untuk mengisi kekosongan jalan pulang mereka. 

‘’Tumis telur tomat. Pernah coba?’’ 

Rafayel menggeleng, ‘’hanya pernah mendengar namanya.’’ 

*

‘’Aku bisa mencuci piring dan peralatan masak, Tuan Putri tidak perlu melakukannya.’’ 

Tuan Putri Nala bergeser saat Rafayel menaikkan lengan bajunya untuk kemudian membilas peralatan makan dan peralatan masak. ‘’Tuan Putri duduk saja, aku akan menyelesaikan semuanya. Jangan khawatir.’’ 

Tuan Putri Nala patuh, duduk di meja makan dan menonton punggung Rafayel dari sana. 

“Kira-kira rencana apa yang akan Tuan Putri lalukan setelah ini?” 

Tuan Putri Nala meraih buku sketsa yang Rafayel beli beserta sebuah pensil. “Menggambar.” 

Rafayel menoleh ke arah buku sketsa yang ia beli beberapa hari lalu. Ia tidak ingat pernah menggambar di sana atau meraut pensilnya. “Oh? Sepertinya Tuan Putri lebih sering menggambar di sana daripada pemilik aslinya.” 

Tuan Putri Nala terkekeh, “akhir-akhir ini aku sering sekali menggambar apa yang sedang aku inginkan, tapi tidak bisa kumiliki." 

Rafayel pernah membuka isi buku sketsa itu, dan kebanyakan gambar yang ia lihat adalah beragam makanan. “Apakah itu merupakan bentuk pengharapan bahwa apa yang Tuan Putri gambar akan muncul tiba tiba dari buku itu?” 

Tuan Putri Nala menggelengkan kepala, sementara jemarinya berayun di atas lembar buku sketsa, “bukan seperti itu. Kalaupun secara eksistensial wujudnya tidak bisa kumiliki, setidaknya aku bisa memilikinya dengan cara yang lain.” Dia menunjukkan sketsa beberapa tangkai bunga yang berbeda-beda. “Sekarang aku punya bunga mawar, bunga matahari dan bunga anggrek.” 

*

Tuan Putri Nala bangun dari tidur siang dan mendapati Rafayel melilitkan tangkai bunga secara terbalik pada jeruji teralis jendela mereka. “Darimana bunga-bunga kering itu kau dapatkan?” 

“Oh, Tuan Putri sudah bangun ya ternyata.” Rafayel menoleh ke arah Tuan Putri Nala yang berjalan mendekatinya. 

Jemari Tuan Putri Nala mendarat pada tangkai-tangkai bunga yang telah mengering, seolah sedang mencermati. Kemudian tatapannya bergerak ke arah Rafayel, "kamu belum menjawab pertanyaanku.” 

“Baiklah, aku mendapatkannya dari kenalanku.” 

“Orang sepertimu punya kenalan? Bukan rekan kerja?” 

“Tuan Putri sepertinya sangat penasaran, tapi hal itu tidak penting. Bagaimana? Apakah Tuan Putri menyukainya?” 

Tuan Putri Nala mengangguk. “Terima kasih, aku sangat menyukainya.”

“Setidaknya ini bisa jadi salah satu hal yang dapat menghibur di masa masa sulit seperti akhir akhir ini.” 

"Sekarang kita jadi punya bunga-bunga yang bisa dilihat wujudnya, disentuh dan dinikmati keindahannya." Tuan Putri Nala tersenyum, "bukan hanya yang bisa dilihat di buku sketsa  dengan warna abu-abu." 

*

Pada malam perayaan tahun baru, keduanya duduk di balkon apartemen mereka. Satu satunya tempat terbaik di ruangan yang telah mereka huni dalam kurang lebih selama 8 bulan terakhir. 

Pada malam pertama mereka kabur dari istana, Tuan Putri Nala pernah mengutarakan keinginanya untuk tinggal di wilayah yang jauh dari radar kerajaan suatu saat nanti.

“Kurasa, aku bisa sabar menunggu beberapa tahun lagi sampai kita bisa tinggal di sana.” 

Fokus Rafayel terpecah, antara rasa kagumnya pada Tuan Putri Nala yang mampu bersabar menunggu untuk mewujudkan rumah impiannya, juga dengan kata “kita”. 

Apa Tuan Putri Nala bermaksud ingin tinggal di rumah impiannya bersama dirinya? 

“Sungguh? Beberapa tahun lagi itu waktu yang cukup lama dan belum dapat diperkirakan.” 

“Aku bakal sabar menunggu.” tatapan matanya turun pada tangan Rafayel kemudian naik ke manik matanya. “Bahkan kalau akhirnya aku sama sekali tidak bisa tinggal di sana…kurasa aku bakal mampu bertahan di sini, asalkan kau ada di sampingku.” 

Alis Rafayel terangkat. 

‘’Karena, kita berdua tahu kalau uang yang kita miliki sekarang belum cukup untuk mendapatkan rumah itu.’’

Uang, uang. Ya, Rafayel menyadarinya. Pemasukan yang mereka dapatkan dari hasil kebun dahulu, dan gajinya sebagai tukang hias taman hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan tabungan darurat. Mereka belum mumpuni untuk menyisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan yang lain. 

‘’Ya…aku juga tidak yakin apakah kita bisa menyisihkan lebih banyak uang dengan konsekuensi hanya makan garam.’’ Kekehannya terdengar kaku. ‘’Tapi kita selalu punya cara untuk mendapatkan lebih banyak uang, selalu ada cara. Jangan khawatir Tuan Putri, kita akan memiliki rumah itu segera. Aku akan mengusahakannya.’’

Tuan Putri Nala mengangguk, masih sedikit lesu. "Kita bisa sedikit demi sedikit mewujudkannya.’’ Tangannya meraih buku sketsa, ‘’dimulai dari menggambar designnya.’’ 

Rafayel meraih buku sketsa beserta pensil, ‘’kedengarannya ide yang bagus. Beritahu aku bagaimana wujud rumah yang sangat Tuan Putri inginkan itu.’’ 

Tuan Putri Nala duduk mendekat di sampingnya. “Jadi tempat tinggal impianku adalah sebuah cottage dekat pegunungan yang tenang. Sebelum masuk ke area cottage, akan ada kebun kebun tanaman atau kebun bunga bunga. Aku ingin punya peliharaan juga! Bisa domba, kelinci, kucing atau kelinci. Kemudian bagian terasnya bisa kita gunakan untuk bersantai. Ada jendela yang menghadap ke kebun juga dan aku menyarankannya di ruangan dapur dekat wastafel. Jadi ketika kamu sedang mencuci piring, kamu bisa menyapaku yang sedang menyiram tanaman.” 

Jemari Rafayel lincah menggambar sesuai dengan yapping dari bilah bibir Tuan Putri Nala tentang tempat tinggal impiannya. Sementara benaknya muncul gambaran Tuan Putri Nala yang melambaikan tangan pada dirinya yang sedang mencuci tangan. Anak anak kelinci kecil akan melompat-lompat di sekitar langkah perempuan itu, mengincar wortel-wortel yang baru saja dipanen. 

Tuan Putri Nala berdecak kagum ketika Rafayel menyelesaikan hasil sketsanya. ‘’Sangat sesuai dengan apa yang ada di kepalaku. Bahkan kau menggambarnya lebih baik.’’ Manik mata Tuan Putri Nala bertemu dengan milik Rafayel, ‘’terima kasih sudah mewujudkannya dalam bentuk sketsa untuk sementara ini, ketika aku sendiri bahkan tidak tahu apakah bisa memilikinya atau tidak sama sekali.’’ 

Bulir airmata dengan cepat melesat turun pada pipinya, lebih cepat daripada gerakan tangannya yang berupaya untuk menyeka atau kepalanya untuk mendongak ke atas, seolah olah dapat memasukkan kembali airmatanya. 

‘’Hey,’’ Rafayel menyeka air mata kedua yang lolos. ‘’Aku berjanji kita akan memiliki rumah ini, suatu saat nanti, kita berdua dapat mengusahakannya bersama. Aku janji.’’ 

Perlahan jemarinya turun untuk mengangkat dagu Tuan Putri Nala dengan lembut, ‘’kebun-kebun yang ditanami sayuran, bunga-bunga, jendela dapur yang menghadap ke kebun, hewan peliharaan berbulu—aku juga menginginkannya. Aku ingin mewujudkan tempat tinggal yang lebih baik untuk kita. Tuan Putri tidak akan menyerah sebelum mencoba, bukan?’  

‘’Sebanyak apapun uang yang kita butuhkan, aku akan mengusahakannya, dengar itu? Aku akan tetap bekerja keras untuk mewujudkan rumah ini, walaupun dalam kurun waktu yang lama.’’

Tuan Putri Nala menyeka sisa airmatanya dan mengangguk. “Maaf aku cengeng seperti ini. Aku…aku sangat bahagia bisa berbagi impianku dengan seseorang yang…yang juga ingin impian ini menjadi nyata.” 

Dielusnya puncak kepala Tuan Putri Nala, ‘’Aku juga merasa sangat terhormat dapat menjadi orang yang mendengar impianmu. Dan dengan senang hati aku akan mewujudkannya.’’ Ibu jarinya mengelus jejak air mata di pipi, ‘’jadi jangan menangis lagi, ya?’’

Sketsa rumah itu Rafayel taruh di hadapan keduanya, ‘’aku paham mengapa Tuan Putri sangat menginginkannya. Aku bisa membayangkan ketenangan yang akan kita dapatkan, pemandangan indah yang dapat kita lihat dari jendela dapur, udara khas dataran tinggi—mungkin akan sedikit lebih dingin dari biasanya, tapi aku akan memastikan untuk selalu menyalakan perapian. Tuan Putri juga dapat menyuruhku untuk membersihkan bulu domba atau kotoran kelinci—’’ ia terkekeh ketika kepalan tangan Tuan Putri Nala mendarat di dadanya, ‘’hey, aku sedang berbaik hati kenapa aku malah mendapatkan pukulan?’’ 

‘’Baiklah, aku juga akan bekerja keras dan berhenti membeli barang-barang yang tidak berguna selain kebutuhan sehari hari.’’ 

‘’Oh? Tidak perlu sampai sejauh itu, Tuan Putri. Tidak perlu membatasi untuk hal-hal yang Tuan Putri inginkan. Kita akan tetap tinggal di sana tanpa perlu menekan anggaran pribadi dan hidup dengan sengsara. Aku tetap ingin kita berdua hidup bahagia, ingat itu. Jadi, tidak perlu menyengsarakan diri sendiri.’’

‘’Apa kau yakin?’’

Tanpa keraguan sedikitpun, Rafayel mengangguk. ‘’Aku tidak ingin Tuan Putri tidak memperhatikan kebutuhan sendiri atau bahkan menelantarkannya. Aku tidak masalah tentang pengeluaran, asalkan masih dalam batas yang wajar.’’ 

‘’Kau terlalu baik, aku tidak tahu harus bilang apa tanpa disangka memanfaatkan kebaikanmu.’’ 

‘’Katakan saja, hatiku yang baik dan polos ini tidak akan berprasangka apa-apa.’’ 

‘’Kau sangat berharga…bagiku. Terima kasih sudah selalu ada di sampingku, dan bertahan sehari lebih lama untuk hari ini.’’ 

Tidak ada yang pernah memberitahu Rafayel bahwa tuas airmatanya adalah kalimat syukur atas kehadirannya, keberadaannya, loyalitasnya, eksistensinya. Hal yang ia anggap sebagai tanggungjawab dan tugas merupakan sebuah berkat yang disyukuri. 

Tapi alih alih menghapus airmatanya, perempuan jelita di hadapannya ini membiarkan airmatanya mengalir begitu saja, seolah membiarkannya untuk memperlihatkan sisi lemahnya, sisi yang paling jarang ia tunjukkan. 

Saat bunga api menghiasi langit malam perayaan tahun baru, sebuah pertanyaan muncul di benak Rafayel—ketika nafas Tuan Putri Nala menyapu inci kulit wajahnya, kemudian sepasang bibir mengecup jejak airmatanya. Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian bercabang lebih banyak seiring bilah bibir keduanya bertemu. 

"Terima kasih, telah berada di sampingku sehari lebih lama." ucapnya di hadapan Rafayel yang untuk bernafas normal saja masih terengah-engah. 

Ia menelan ludahnya, menelan kembali semua pertanyaan yang hendak ia luncurkan dan mengangguk. Alih-alih beristirahat di apartemen sempit mereka, Rafayel meraih buku sketsa dan menggambar sesuatu di balik halaman yang menunjukkan rancangan cottage impian Tuan Putri Nala. 

 

Notes:

everytime i write for other fictional charas, i think there's always love in me to share through writing.