Work Text:
“Kalau diberi kesempatan, kalian mau pilih pacar anak band atau atlet?”
Pertanyaan simpel yang diucapkan Nara itu menghentikan kegiatan klub musik. Mingyu meletakkan stik drumnya dan menatap Nara aneh.
“Dari mana asalnya topik ini?” tanyanya setelah meneguk air dari botol minum.
Nara mengedikkan bahu. Ia melambaikan ponsel dari posisinya yang duduk nyaman pada sofa. “Lagi tren nih, pilih pacar anak band atau anak basket. Tapi berhubung semua cowok yang bisa olahraga itu keren, jadi kuubah pertanyaannya.”
Wonwoo menyembulkan kepalanya dari balik tirai jendela yang berhembus. Kacamatanya melorot sampai ujung hidung. “Anak pintar gak masuk pilihan?”
Chan dan Seungkwan cekikikan melihat wajah sang sekretaris klub musik menjadi masam. Gadis jurusan sastra korea itu melempar kulit kacang yang berserakan di meja sebelahnya pada mereka.
“Ayolah, aku sedang membutuhkan narasumber.”
Wonwoo meregangkan punggungnya yang sejak tadi membungkuk untuk menilai hasil ujian mahasiswa. “Karena di sini semuanya bermain musik, enakan milih anak band gak sih?”
Nara mengangguk paham kemudian mengubah pandangnya ke empat orang yang masih berada di arena alat musik. Mingyu memutar stik drum di tangan sambil menerawang.
“Sepertinya anak band lebih keren. Semua cowok bisa olahraga tertentu tapi gak semuanya bisa main alat musik.”
Seungkwan menggeleng tidak terima. Ia mengangkat mikrofon sambil menyerukan penolakan. “Nooooo. Atlet itu lebih keren. Kalau pacarku anak band, aku bakal sedih karena banyak yang berusaha mengejarnya.”
Chan mengangguk setuju. “Karena aku tidak ahli olahraga, aku setuju. Orang buta nada juga bisa dilatih main alat musik, tapi orang yang tidak punya bakat mana bisa jadi atlet.”
Nara manggut-manggut sambil mengetik sesuatu pada ponselnya. “Kalau Oppa gimana?”
Seisi ruangan mengalihkan perhatian pada Jihoon yang sibuk memetik gitar. Sang asisten dosen hanya menatap keluar jendela, berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Nara.
“Dia tidak usah ditanya. Suka sama orang saja sudah ajaib,” ujar Wonwoo.
Nara mendengus tidak terima. “Seandainya bisa milih, Jihoon Oppa mau pilih pacar anak band atau atlet?”
Jihoon akhirnya memberi perhatian pada anggota klub musik yang fokus padanya. “Gak keduanya.”
“Tuh ‘kan,” Wonwoo mencibir pada Nara. Gadis itu kembali melempar kulit kacang pada sang mahasiswa S2.
“Ayolah, Oppa, hiburlah juniormu ini sedikit,” Nara berusaha memberikan raut wajah semelas mungkin. Jihoon tidak menanggapi, menjepit gitarnya di antara paha, menarik karet gelang hitam dari pergelangan, kemudian mengikat rambut sebahunya hingga membentuk cepol setengah.
“Oppa?”
“Gak perlu milih, sih. ‘Kan aku anak band-nya.”
Mingyu, Seungkwan, dan Chan berteriak heboh. Geli sendiri mendengar jawaban Jihoon yang kelewat percaya diri. Sumber kehebohan hanya menyeringai, kemudian beranjak untuk memulai kembali latihan band yang tadi mereka jalani. Wonwoo menatap Jihoon antara jengah dan geli, sementara Nara menyesal telah memaksa Jihoon menjawab.
“Idih, najis.”
**^^**^^**
Nara berjalan cepat di lorong gedung fakultas. Sepatunya yang bertumit tahu memberikan bunyi ‘tak-tak-tak’ yang konsisten dengan langkahnya. Begitu sampai di ruang klub, Nara membuka pintu lebar-lebar.
“Holla, para manusia penghuni neraka!” sapanya berapi-api. Hansol terbangun dari tidur ayamnya di bawah jendela, duduk linglung sambil mengurut lehernya yang kaku.
“Berisik bener deh ni orang,” sinis Seungkwan.
Nara tidak peduli dan tidak merasa sakit hati. Memang begini sapaan mereka selama berteman. Apalagi dirinya, Seungkwan sang vokalis, Chan sang bassis, dan Hansol sang keyboris merupakan teman satu angkatan walau berbeda jurusan. Tidak seperti Seungkwan yang memang berniat masuk klub band, tiga orang lainnya terjebak di sana untuk menambah angka kredit partisipasi kegiatan mahasiswa. Klub band poinnya tidak banyak, tapi sekali tampil sudah bisa menjamin masa depan administrasi mereka nanti. Awalnya Nara malas-malasan, apalagi dia satu-satunya perempuan yang mendaftar di sana. Tapi lambat laun dia merasa nyaman.
“Kok belum latihan?” tanya Nara. Semua alat musik masih terletak di posisinya. Bahkan belum ada satu pengeras suarapun yang menyala.
“Nunggu Jihoon Hyung dulu. Dia tadi ada bimbingan tesis. ‘Kan gak enak mulai latihan kalau pelatihnya aja belum di sini,” ujar Chan.
“Alasan,” celetuk Hansol. “Bilang saja kamu malas latihan duluan.”
Chan terkekeh dan memberikan tanda damai dengan jari tengah dan telunjuknya. Nara memutar bola mata, terbiasa. Memang kalau tidak sepenuhnya berniat ikut klub, akan mencari jutaan alasan untuk tidak melakukan apa-apa dan menghabiskan waktu dengan melamun.
“Wonwoo Oppa gak ke sini? Sidang dia udah beres bukannya?”
Ketiga teman seangkatan Nara hanya mengangkat bahu. Merasa tidak akan mendapat jawaban, gadis itu lantas memutuskan untuk melakukan kegiatan rutinnya—menggilir laman media sosial.
Cukup lama keheningan mengisi ruang itu. Ketika pintu akhirnya terbuka, ada Wonwoo yang tersenyum cerah—tanda sidang tesisnya berjalan lancar—dan Mingyu yang menenteng banyak barang. Ia berceloteh dengan semangat bersama Seokmin, vokalis kedua grup yang akhir-akhir ini jarang hadir karena tugas kelompok.
“Serius, pokoknya aku gak akan mau ambil S2 kalau itu berarti aku harus tahu sekian banyak jurnal ilmiah. Aku mahasiswa bisnis, bisa tidak kamu bayangkan berapa banyak referensi yang harus kuketahui?”
Chan menyingkirkan tasnya dari meja, membiarkan Wonwoo meletakkan setumpuk kertas berupa tesisnya yang penuh dengan coretan. Nara sendiri hanya melirik sekilas, tidak tertarik dengan kehebohan yang diciptakan. Gosip tentang selebriti yang ia baca lebih seru.
Tidak lama kemudian, pintu ruang musik kembali terbuka. Jihoon masuk dengan penampilan acak-acakan. Rambutnya yang disanggul dengan pensil nyaris lepas. Wajahnya yang putih tampak kusam oleh debu, ada lingkar hitam di bawah matanya. Belum lagi baju kaos abu kebesaran yang ia kenakan kotor di bagian ujung oleh kuah makanan. Untung saja sandal Jihoon tidak hilang sebelah, kalau benar, dia akan tampak lebih menyedihkan.
“Woah, Jihoon Hyung, apa yang terjadi?” tanya Hansol simpati. Jihoon melambaikan tangan, melepas ranselnya yang hampir menyaingi ukuran tubuh sendiri, kemudian merebahkan diri di lantai sambil meringis layaknya kucing minta makan.
“Apa nanti kita akan berakhir seperti itu? Kita ambil jurusan musik, ‘kan? Bukan teknik?” Seokmin berbisik pada Seungkwan, teman sekelasnya. Yang ditanya hanya menggeleng tidak yakin.
“Jihoon-ah,” panggil Wonwoo. Jihoon mengubah posisi kepalanya jadi menyamping, menatap semua orang dengan sorot mata kosong. “Separah itu? Gagal bimbingan?”
Jihoon menggeleng, mengubah posisi dari telungkup menjadi telentang seperti bintang laut. “Aku menyelesaikan komposisi musik untuk tugas akhir tadi malam karena Profesor Park harus absen pas sidang nanti, tapi saat aku menghampiri ruangan ternyata penerbangan dia dipercepat. Jadilah aku menumpang di belakang mobilnya, mencatat segala masukan dan kritik untuk tugas akhirku, sementara Profesor Byun mengebut agar bisa sampai bandara tepat waktu.”
Dari awal saja, cerita Jihoon sudah terdengar melelahkan.
“Lalu aku menunggu di bandara, menyelesaikan perbaikan selagi bertelepon dengan profesor yang sudah check-in, bekerja secepat mungkin karena waktu penerbangannya sudah mepet. Aku berhasil menyelesaikan final piece ketika last call diumumkan. Untung profesor berhasil memberikan persetujuan di final report web kampus karena mereka masuk paling akhir ke pesawat. Kalau tidak, aku bisa jadi harus menunggu 12 jam berlalu dan kesempatanku daftar sidang berakhir.”
“Damn, kupikir jurusan non-eksata tidak akan banyak drama, ternyata sama ribetnya,” Seungkwan menepuk pelan bahu Hansol, mengisyaratkan agar jangan berkomentar dulu. Hansol hanya mengangkat sebelah alisnya, membuat Seungkwan cemberut kemudian bersedekap.
“Jadi sukses nih? Kamu masih bisa sidang?” Wonwoo memastikan. Ia dan Jihoon sudah bersama-sama di klub ini sejak menjadi mahasiswa baru yang mengejar gelar sarjana meskipun jurusan mereka berbeda. Sekarang mereka berada di penghujung jalan untuk meraih gelar master, akan sangat sedih jika tidak bisa lulus di waktu yang sama.
Jihoon membentuk tanda ‘v’ dengan jari, memberikan cengiran lelah. “Meski showcase-ku last minute, aku masih dapat slot.”
Wonwoo menghembuskan napas lega.
“Terus kok bisa penampilan Hyung lusuh begini? Kena musibah lain, ya?” tanya Chan heran sambil menunjuk baju kaos Jihoon yang kotor. Jihoon mengangkat kepala, melirik bajunya sendiri yang seperti tidak dicuci berhari-hari, kemudian mengerucutkan bibir.
“Ini gara-gara anak S-1. Mereka bermain-main dengan makanan kemudian tidak sengaja menyenggol bekas mangkuk makanku sampai telungkup dan kuahnya tumpah ke segala arah,” ujarnya sambil menepuk bagian yang masih ada bekas kuahnya. “Mana memarahiku pula, bilang sebagai mahasiswa baru harusnya aku bisa membaca situasi untuk tidak duduk di dekat gerombolan mereka. Memang penampilanku sama sekali tidak mencerminkan mahasiswa akhir yang berusaha survive untuk lulus apa?!” ketusnya.
Semua orang kompak menahan tawa. Di antara mereka semua, Jihoon memang paling sering salah panggil oleh orang-orang, termasuk dosen dari fakultas lain. Mungkin hanya mahasiswa jurusan musik saja yang mengenalnya sebagai Lee Jihoon, mahasiswa S-2 yang menjadi asisten dosen Profesor Park dan sangat ketat dalam memberikan ujian. Jika ditanya ke mahasiswa fakultas seni lain, mungkin masih ada yang belum tahu wujud Jihoon. Hidupnya memang hanya berisi mendekam di rumah, studio, ruang klub musik, atau mengajar.
“Tidak kamu luruskan? Minimal ajak berantem gitu? Mereka gak lihat ID Pass kamu warnanya hitam?” tanya Wonwoo diselingi cekikikan.
Jihoon melirik tajam sang teman dengan bibir yang semakin maju. “Aku terlalu lelah dan tidak ada tenaga memulai perang.”
Seungkwan menghampiri Jihoon kemudian menepuk bahunya simpati. Dia memang perasa, jadi mudah tersentuh oleh cerita orang.
“Hyung ada mau makan atau minum sesuatu? Mau aku belikan?” tanya Seokmin yang sudah bersiap untuk mencari. Dia juga sangat perasa, jadi tidak tega melihat Jihoon yang hampir seperti mayat hidup.
“Terima kasih. Tidak usah, aku baru saja selesai makan, kok,” tolak Jihoon halus. Meskipun jahil dan senang mengerjai Seokmin yang polos, semua orang tahu Jihoon punya rasa sayang lebih untuk Seokmin. Tidak, bukan sayang dalam artian romantis. Lebih ke— ‘Seperti melihat bayi anjing yang baru bisa jalan,’ ungkapnya. Jujur saja, semua orang merasakan hal yang sama. Seokmin memang sangat baik hati sampai mereka tidak tega melepasnya untuk menjalani hari seorang diri. Bahkan Nara yang cuek dan cenderung egois akan melakukan segala hal jika itu berarti membahagiakan Seokmin dan menyelamatkannya dari kesialan. Dia terlalu baik untuk dunia yang penuh intrik.
“Terus sidang Oppa kapan? Kami bisa lihat?” tanya Nara. Ia dengar showcase tugas akhir mahasiswa musik meliputi pertunjukan musik yang menjadi tugas dan tanya jawab dengan dosen seputar karya itu. Biasanya ada kursi terbatas yang disediakan untuk penonton menyaksikan hal tersebut. Uji mental sekaligus uji keberanian.
“Unnngg,” Jihoon menggeleng. “Sidang mahasiswa S-2 itu showcase dihadapan jajaran dosen dan dua penilai musik ahli. Orang umum tidak akan bisa nonton.”
“Yikes. Kedengarannya sangat menyeramkan,” Nara tidak yakin akan bisa presentasi hasil kuliahnya dihadapan jajaran dosen yang jelas telah ahli. Disuruh presentasi hasil ulasan sastra klasik saja ia mual.
“Hyung gak bawa baju ganti? Kotor banget loh itu. Nanti nodanya membekas,” Mingyu merogoh tasnya sendiri. “Aku ada kemeja luaran nih. Hyung mau pakai ini aja?”
Jihoon akhirnya duduk, menerima uluran kemeja dari Mingyu dan mengucapkan terima kasih dengan senyum kecil. Mereka akan latihan untuk persiapan tampil di festival kampus. Jika Jihoon harus pulang dulu, maka ia akan menghabiskan terlalu banyak waktu.
Bicara tentang festival kampus, Nara merasa bangga grup yang ia manajeri dapat tawaran tampil dan slot cukup penting. Mereka akan menampilkan tiga lagu sebagai pembuka di hari pertama, kemudian menampilkan dua lagu sebelum pembicara tamu di hari kedua yang merupakan puncak festival. Meskipun Nara sedikit kesal karena ia gagal mendapatkan posisi band penutup, tapi slot sekarang sudah cukup bagus.
Sorak-sorai berisi siulan mengudara ketika Jihoon menarik lepas kaosnya. Meskipun pemalas dan penampilannya sering tidak terurus, tubuh Jihoon lumayan terbentuk. Otot-ototnya berada di posisi yang sempurna, membuat siapapun yang melihat akan menyangka Jihoon rutin melakukan olahraga.
“Berisik,” tegur Jihoon malu ketika kemeja sudah terkancing sempurna. Telinganya merah dipuji dalam balutan godaan seperti itu. “Masih ada perempuan loh di sini.”
Nara mengangguk setuju. “Terima kasih, telah menyadarkan manusia kurang etika ini,” ujarnya. Seungkwan cemberut dan melempar bantal sofa ke Nara, yang berhasil gadis itu tangkap dengan cengiran lebar di wajah.
“Tapi aku suka kalian menggoda Jihoon Oppa. Teruskan!”
“Hei!”
Seisi ruangan tertawa. Jihoon memberengut kemudian melipat tangan di dada. “Sudah, sana latihan!”
“Bahkan meskipun Jihoon Hyung seperti Hercules, tidak menjamin perempuan akan terpesona rupanya.”
“Eits!” Nara menggoyangkan telunjuknya. “Tubuhnya memang bagus. Sebagai manusia yang mencintai keindahan, aku mengakui itu. Sayang saja dia jauh lebih cantik dariku, jadi aku merasa tersaingi.”
“Nara, kamu—“
Omelan Jihoon berhenti karena ponselnya bergetar di saku celana. Ia melirik layar kemudian menatap Nara tajam, mengangkat panggilan sambil berjalan ke luar ruangan. Untuk memberikan efek dramatis, Jihoon menunjuk matanya dengan telunjuk dan jari tengah, kemudian melemparnya pada para junior.
Begitu Jihoon keluar ruangan, anggota inti band bergerak untuk menghidupkan pengeras suara. Mereka berceloteh banyak hal sembari mengambil posisi masing-masing. Wonwoo mengeluarkan partitur musik dari dalam tas, menunjukkan lagu-lagu apa saja yang akan mereka bawakan nanti. Kalau baru mulai latihan begini Nara tidak ada kerjaan, jadi ia kembali menggulir laman media sosial hingga Jihoon kembali.
“Uwaah, serius?! Hei, lihat ini!” Nara melambaikan ponsel pada pemain band yang hendak memulai latihan. Wajahnya berseri ketika semua orang menghampirinya.
“Heol, yang benar ini?” tanya Chan terperangah. Seungkwan menutup mulut dengan kedua tangan untuk menahan pekik girang.
Di layarnya, terpampang poster terbaru dari laman instagram panitia festival mereka. Tulisan ‘Bintang Tamu Spesial’ tercetak besar, diikuti oleh foto atlet yang kemarin berhasil memenangkan medali emas untuk negara mereka. Seungkwan yang pecinta olahraga cukup mengidolakan atlet bernama Kwon Soonyoung itu.
Semua orang di universitas mereka mungkin juga bangga dengan prestasi sang atlet. Ia merupakan mahasiswa yang mendapat kesempatan lulus tanpa syarat karena memenangkan medali perak dalam gelanggang internasional, menaikkan nama dan derajat kampus yang sebelumnya tidak peduli dengan olahraga. Sekarang kampus mereka punya dua program studi favorit, seni dan olahraga.
Nara tidak begitu paham olahraga, tapi ketika ia dan keluarganya menonton pertandingan Soonyoung di televisi, bisa dibilang ia terpesona. Gerakan Soonyoung bersih dan enak dilihat. Tata kramanya juga bagus ketika bertemu penggemar meskipun hanya fans musiman. Belum lagi perjuangannya yang benar memulai dari bawah untuk menjadi atlet beladiri taekwondo tingkat dunia memberikan inspirasi pada Nara untuk terus gigih memperjuangkan mimpi.
Sedikit rahasia kecil, Nara begitu termotivasi setelah melihat dokumenter Soonyoung hingga dia mati-matian meyakinkan orang tuanya tentang mimpi dan masa depan. Hasilnya, ia sukses masuk jurusan yang ia inginkan meskipun dulu diarahkan untuk menjadi pengacara.
Selain bakatnya sebagai atlet, Soonyoung juga memiliki suara yang merdu. Videonya yang bernyanyi sambil pemanasan meledak di internet, sehingga perwakilan manajemen sang atlet akhirnya membuatkan kanal youtube khusus untuknya. Kebanyakan kontennya adalah persiapan Soonyoung untuk mengikuti beragam turnamen, tapi sesekali penonton akan disuguhkan kehidupan santai sang atlet atau cover lagu non-profit.
Tapi ada alasan yang lebih besar untuk reaksi tidak percaya mereka. Selain mengharumkan nama negara, Soonyoung juga terkenal sebagai atlet muda yang tampan.
Di mata Nara yang awam, kebanyakan atlet itu memiliki paras biasa-biasa saja. Menemukan pria tampan yang fokus mengembangkan bakat olahraga alih-alih menjadi selebriti itu agak sulit. Keberadaan Soonyoung ini seperti membawa angin segar bagi masyarakat yang ingin cuci mata, termasuk Nara.
Soonyoung itu wajahnya rupawan, garis rahangnya tegas, lehernya jenjang, bibirnya seperti bantal lembut, gaya berpakaiannya keren, tutur katanya halus walau kadang bisa keras di situasi tertentu. Suaranya enak di dengar dan yang paling utama, tubuhnya menggairahkan.
Yum.
“Festival bisa jadi lebih heboh kalau pembicaranya ada atlet Kwon Soonyoung. Ini pertama kali ia kembali ke Korea setelah berlaga di tingkat dunia, bukan?” tanya Hansol sambil menggulir layar ponselnya sendiri.
Nara menarik ponsel, membuka kolom komentar untuk melihat reaksi penduduk internet. “Hebat sekali panitia yang sekarang bisa mengundangnya. Woah, bahkan yang bukan anak kampus kita pada nanyain tiket!”
Setelah menutup kolom komentar, Nara memperbarui laman profil instagram panitia festival dan sudah ada video baru yang diunggah. Itu hasil edit video dan foto Soonyoung yang diiringi latar musik SEVENTEEN – Hot. Aksinya ketika bertanding, ketika latihan, ketika santai, ditampilkan dalam slide cepat yang seirama dengan reff lagu. Di akhir, video itu ditutup dengan Soonyoung yang tersenyum miring ke kamera, menggunakan baju hangat abu-abu pas badan, dan ucapan ‘sampai jumpa’ dengan suaranya yang hangat.
Nara tahu suara itu hanya voice over dan bukan Soonyoung sendiri yang mengucapkan. Tapi semuanya begitu pas. Ia jadi kagum dengan editor videonya.
“Astaga, dia menggairahkan sekali. Kalau dia yang minta, disuruh merangkak pun aku mau,” gumam Nara sambil mengetuk layar ponselnya dua kali, menyukai foto Soonyoung ketika menjadi model majalah olahraga. Ia mengenakan baju olahraga lengan panjang yang kerahnya menutupi setengah leher, tepat di bawah jakunnya. Punggungnya yang lebar namun memiliki pinggang kecil membuat Nara merasa ingin bersandar. Apalagi mata Soonyoung melirik kamera dengan sensual. Itu kalau beli bajunya, bisa dapat bonus model yang pakai tidak ya?
“Ew, TMI!” seru Hansol. Nara berdecak kemudian memberengut.
“Hei, perempuan juga berfantasi! Memangnya laki-laki saja yang boleh mengagumi fisik rupawan?” ketusnya.
“Chill, girl,” Hansol mengangkat tangan. “Aku hanya tidak ingin tahu apa fantasimu tentang orang lain. Geli.”
Nara tidak memperpanjang, nanti jadi perang gender. Ia kembali menggilir laman media sosial, menyukai seluruh foto Soonyoung yang muncul di layarnya.
“Aku pikir kamu tidak suka tubuh kekar berotot, Nara. Tadi Jihoon Hyung buka baju kamu biasa saja,” celetuk Seokmin. Nara mendongak dan tersenyum.
“Aku ‘kan sudah bilang, Jihoon Oppa lebih cantik dariku jadi aku iri. Kalau dia,” Nara menghela napas dan menggigit bibir. Ada semburat tipis di pipinya. “Tuhan, aku mau punya pacar kalau orangnya seperti dia.”
“Setuju,” Seungkwan mengangguk. “Aku tidak keberatan dibenci penggemarnya kalau pada akhirnya aku yang bersama dia.”
Nara mengangkat tangan, memberikan tos pada Seungkwan karena paham maksudnya. Sementara itu Hansol mendongak dari ponselnya dengan wajah tidak percaya.
“Seungkwan-ah?”
“Apa? Aku memang suka orang yang terus terang seperti dia. Apa gunanya tampan kalau diajak pacaran malah kabur.”
Wonwoo bersiul. “Burn baby burn~”
Sebelum suasana hati Seungkwan memburuk, Jihoon segera melakukan intervensi. “Sudah, ayo kembali latihan. Berhentilah mengamati pria menggairahkan di internet. Nanti pacarnya marah.”
Nara mencibir. “’Kan pacarnya nggak tau.”
**^^**^^**
Nara berjalan bolak-balik di bawah panggung terbuka yang menjadi pusat pertunjukan di festival. Ia menggigit bibirnya frustasi sambil mengecek jam tiap beberapa detik.
“Oppa, sini!” teriak Nara begitu menangkap Jihoon di antara kerumunan. Tangannya yang sejak tadi mencengkeram rambut akhirnya bisa rileks ketika Jihoon berlari menghampiri. Ia mengenakan baju kaos lengan panjang berwarna putih yang pas badan, dipadukan celana jins berwarna hitam. Rambut pirang sebahunya dicepol penuh. Penampilan Jihoon cukup oke untuk naik panggung di saat-saat terakhir.
“Ingat urutan lagunya, ‘kan?” tanya Nara sambil mengeluarkan stik drum cadangan dari tas. “Oppa tampil dua lagu aja, terakhir baru Mingyu Oppa. Dia sudah hampir sampai,” jelasnya cepat. Ada samar suara Mingyu yang mengutarakan seruan maaf dari ponsel milik Nara.
Jihoon hanya mengangkat jempol sebagai isyarat paham dan berlari menaiki panggung, bergabung dengan anggota lain yang sudah selesai memasang alat musik mereka. Jantung Nara seperti mau jatuh karena cemas mereka akan terlambat dari jadwal. Konsekuensinya bisa saja disuruh turun panggung dan hasil latihan mereka selama ini jadi sia-sia. Terkutuklah pintu toilet yang rusak ketika Mingyu buang air. Beruntung ada Wonwoo yang dengan sigap meenghampiri Mingyu untuk membebaskannya. Beruntung juga hari ini Jihoon datang ke kampus untuk mengurusi persiapan wisudanya dengan penampilan lebih baik. Kalau dia datang seperti biasa, penonton akan kebingungan dengan penampilan para anggota band yang jomplang.
Begitu Jihoon selesai membenarkan posisi kursi drum, band mereka langsung tampil. Terima kasih Tuhan karena Seungkwan dan Seokmin sangat pintar mencairkan suasana sehingga kesalahan ini tidak menimbulkan waktu tunggu yang lama.
“Nara-ya!”
“Oh Tuhan, syukurlah!” Nara akhirnya bernapas lega ketika Mingyu dan Wonwoo tiba. Yang lebih muda mengatupkan tangan tanda bersalah. Nara menghibur Mingyu dan membantunya memasangkan in-ear. Bukan salah Mingyu dia harus sakit perut dan berakhir terkunci di bilik toilet.
“Selesai ini langsung gantian ya!” seru Nara sambil menepuk bahu Mingyu. Ia kemudian menaiki tangga, memberikan isyarat pada Jihoon bahwa Mingyu telah kembali. Jihoon mengangguk sambil tersenyum miring, menghasilkan pekik jerit dari penonton.
Ketika band selesai tampil, Nara tidak bisa menyembunyikan senyum puas dan bangganya. Sepanjang perjalanan kembali ke ruang klub musik, ia tidak henti mendengar pujian atas penampilan yang luar biasa dari orang lewat. Iya, dia menguping pembicaraan orang lain berkedok jalan santai.
Pokoknya, band mereka sukses. Tidak sedikit juga yang bertanya-tanya siapa laki-laki keren yang memainkan drum di dua lagu pertama. Nara merasa dirinya adalah seorang ibu yang bangga anaknya mulai kenal romansa.
“Makasih banyak Hyung sudah sempat mampir,” ujar Mingyu sambil meletakkan tas perlengkapan. Jihoon mengibaskan tangannya santai.
“Urusan Hyung sudah selesai? Aku tidak menyebabkan masalah lebih banyak, ‘kan?”
“Eyy, Mingyu-ya, tidak apa-apa. Aku lowong kok.”
Mingyu masih saja cemberut dan merasa bersalah ketika semua orang menghiburnya. Toh pada akhirnya tidak ada masalah yang berarti jadi Mingyu tidak perlu bersedih diri.
“Aku pulang duluan, ya,” Jihoon melambai kemudian keluar dari ruang musik. Nara menghirup napas dalam lalu menepukkan tangannya.
“Waktunya persiapan! Jadi besok—“
**^^**^^**
Nara bersenandung pelan. Kakinya mengayun dari posisinya yang sedang duduk di pembatas tembok, posisi paling belakang dari wilayah festival. Band mereka tadi tampil dengan memuaskan tanpa ada masalah, jadi ia sudah bisa menikmati suasana festival dengan hati riang. Wonwoo, Mingyu, dan Seokmin memisahkan diri untuk mencoba permainan yang ditawarkan sementara Seungkwan dan Chan pergi membeli makanan. Mereka tidak membiarkan Nara ikut karena suasana yang sesak (Nara gampang panik di tempat dengan ruang bernapas terbatas) dan menugaskan Hansol untuk menemani Nara sekaligus menjaga tempat.
“Rasa-rasanya festival sekarang lebih ramai, ya,” ujar Hansol setelah beberapa saat mengamati keramaian. Nara mengangguk setuju. Dibanding festival yang didatanginya ketika masih sekolah, festival sekarang jauh lebih meriah.
“Menurutmu kita bisa tidak ya, mempertahankan reputasi band yang sekarang?”
Nara dan Hansol lantas terlibat pembicaraan terkait masalah kuliah. Suara mereka kadang teredam oleh kehebohan di dekat panggung karena bintang tamu utama tengah memberikan motivasi singkat, namun mereka tetap bisa mengobrol dengan baik.
“Hansol! Nara!”
Keduanya menoleh pada Seungkwan dan Chan yang bergegas menghampiri mereka. Ada kantong plastik di masing-masing tangan namun raut mereka yang aneh lebih menarik perhatian.
“Ada ap—“
“Kalian tidak akan percaya ini!” seru Seungkwan, memotong Hansol sebelum bisa bertanya. “Jihoon Hyung berevolusi dalam semalam!”
Di sebelahnya Chan mengangguk kuat-kuat hingga Nara khawatir kepalanya lepas.
“Eyy, kalian berle—“
“Sembarangan! Aku ini manusia biasa tahu!”
Nara merasakan rahangnya jatuh ketika Jihoon muncul dari balik punggung Chan. Hansol turut menampilkan raut serupa sementara Seungkwan dan Chan heboh berseru.
“’Kan, mereka juga kaget. Apa kataku!”
Bagaimana tidak terkejut. Sejak masuk kuliah dan melihat Jihoon di ruang klub musik, penampilannya selalu konstan. Baju kaos kebesaran yang kadang lusuh, celana ¾ gembrong dibarengi sendal hitam yang hanya bersih ketika hujan, rambut pirang sebahu yang biasa di sanggul atau diurai kusut. Bahkan Mingyu dan Seokmin yang senior satu tahun bilang Jihoon sudah seperti itu dari dulu.
Sekarang, penampilan Jihoon berubah total. Rambutnya berwarna hitam yang dipotong dengan model undercut dan tertata rapi. Ia mengenakan kaos hitam pas badan yang dipadukan dengan cardigan biru langit. Bahunya yang tegap tampak lebar, sementara tangannya sendiri tenggelam oleh lengan panjang yang kebesaran. Celananya berupa jins ketat berwarna biru langit yang bercampur putih, memeluk kaki Jihoon dan menampilkan bokongnya yang bulat. Sandalnya yang biasa usang digantikan oleh sepatu kets berwarna krem yang terlihat mahal. Sial, Nara lagi-lagi merasa tersaingi. Pantatnya tidak sebagus itu, padahal yang perempuan di sini adalah dirinya.
Jihoon tampak luar biasa. Perpaduan tampan dan menggemaskan itu membuat banyak kepala menoleh padanya.
“Oppa, apa yang terjadi? Kemarin kamu masih pirang kusut!” heboh Nara. Jihoon mengerucutkan bibir.
“Pacarku akhirnya pulang, jadi aku kembali ke penampilanku yang normal.”
Mereka mengerjap cepat. Sedetik... dua detik...
“Tunggu, penampilan normal? Tapi selama ini Hyung tidak seperti ini!” Chan melambaikan tangan untuk merujuk pada gaya berpakaian Jihoon yang terasa asing.
“Hei, jangan salah. Normalnya aku terlihat seperti ini, tahu!”
“Tidak, tidak. Yang lebih penting itu kata pertamanya. Hyung punya pacar? Kupikir Hyung delusional?”
“Hei!”
Jihoon memang sempat beberapa kali bilang dia punya pacar yang keren dan luar biasa. Mereka sih sangsi, toh Jihoon tidak pernah pergi berkencan dan hanya menghabiskan waktunya dengan musik dan anime. Meskipun bertalenta dan kalau naik panggung keren sekali, Jihoon itu sama saja seperti penggemar anime yang sering berkhayal punya pacar dari husbu dan waifu.
“Woah, Jihoon. Kamu akhirnya berhenti jadi pertapa?”
Semua orang mengalihkan perhatian pada Wonwoo yang baru saja datang. Ia menggigit takoyaki dengan santai, seolah tidak ada yang salah sementara Mingyu dan Seokmin menganga di sebelahnya.
“Tuh, lihat! Wonwoo bisa jadi bukti kalau aku biasanya seperti ini!” ujar Jihoon menggebu.
“Hyung? Ada angin apa—Hyung kenapa?” seru Seokmin tidak percaya.
Jihoon menghela napas dan menggulirkan bola matanya, lelah dengan reaksi berlebihan yang ia dapatkan. “Pacarku pulang. Nanti aku bertemu dia setelah sekian lama.”
‘Gak mungkinlah aku ketemu dia dengan penampilan lusuh.’
Jihoon tidak melanjutkan ucapannya, tapi semua orang yakin itulah lanjutan dari kalimatnya.
“Hyung punya pacar?!” kali ini Mingyu yang berseru.
Jihoon kembali menghela napas. “Kalian ini—“
“Jihoonie!”
Semua orang menoleh dan rahang masing-masing kembali jatuh. Atlet Kwon Soonyoung yang tadi menjadi pembicara di panggung berdiri tak jauh dari mereka. Mengenakan kaos hitam lengan panjang pas badan, celana kargo berwarna krem, dan sepatu kets berwarna serupa yang entah kenapa terasa familiar. Rambutnya yang berwarna hitam dengan potongan undercut bergerak disibak angin malam yang berhembus. Telinganya dipasangi anting, empat di kiri dan satu di kanan. Ia merentangkan tangan dengan senyum manis terkembang di bibir.
Nara mengerjap bingung. Haruskah ia berteriak heboh karena orang yang sering ia fantasikan ada di dekatnya? Atau karena dia terlihat sangat tampan, rupawan, dan menawan? Atau karena Jihoon yang balas tersenyum lebar sekali hingga matanya menyipit kemudian berlari dan melemparkan diri ke pelukan sang atlet?
“Apa-apaan,” bisik Seungkwan, sedotan di antara bibir.
Iya, apa-apaan. Kenapa bisa Jihoon yang mereka sangka delusional malah tertawa ceria sambil dipeluk dan dikecupi wajahnya oleh atlet nasional kebanggaan negara?
“Jihoon?! Soonyoung?! Kalian balikan?!” seru Wonwoo sambil menunjuk dua insan yang masih asik berpelukan itu. Atlet Kwon Soonyoung mengangkat wajahnya yang baru saja membubuhkan kecupan di hidung Jihoon.
“Loh? Balikan?” heran yang lain.
“Halo, Wonwoo. Lama tidak bertemu,” sapa Soonyoung dengan senyum merekah. Lengannya merengkuh bahu Jihoon yang masih memeluki pinggangnya.
“Apa-apaan? Bukannya kalian udah putus?”
“Loh? Putus?”
“Tidak kok, kami tidak pernah putus,” jawab Soonyoung.
“Yang benar saja, heh. Aku ingat Jihoon menangis semalam suntuk ketika kamu baru pergi ke luar negeri dan bilang hidupnya udah berakhir!”
“Loh?”
“Itu Jihoon saja yang dramatis, tidak terima ditinggal—ah! Sakit, sayang!”
“Loh? Sayang?”
“Sialan kamu, Jihoon. Pantas saja aku ajak kencan buta tidak mau. Setidaknya klarifikasi kalau aku hanya salah paham!”
Jihoon mencibir pada Wonwoo. Tangannya mengelus pinggang Soonyoung yang tadi ia cubit.
“Kamu sudah selesai? Kita sudah bisa pulang?” Jihoon mendongak untuk menatap wajah Soonyoung. Yang ditatap menunduk, mengusap pipi Jihoon lembut kemudian mengangguk.
“Ayo. Temu ramahnya lusa kok.”
“Koper kamu di mana? Ada banyak bawaan ‘kan?”
“Aku tadi rental mobil dan ada satu di sana. Sisanya dibawa Jeonghan Hyung pulang.”
“Sudah hubungi Mama? Ponselku ketinggalan di rumah.”
“Sudah, nanti setelah temu ramah kita ke Namyangju dulu, esoknya baru ke Busan.”
Jihoon mengangguk puas. Ia menoleh pada Wonwoo kemudian melambai. “Aku pulang duluan, ya. Nanti selesai kangen-kangenan aku cerita. Dadah jomblo~”
“Dasar kucing liar!” seru Wonwoo.
Jihoon terkikik geli ketika Soonyoung menegurnya karena menggoda Wonwoo. Ia membungkuk untuk pamit kemudian mengiringi langkah Jihoon. Senyumnya masih tidak luntur selagi mendengarkan Jihoon yang berceloteh. Tangannya merangkul bahu Jihoon sambil kadang mengusap rambutnya lembut.
“Sialan sekali Lee Jihoon itu. Bisa-bisanya dia membuatku berpikir ia jomblo selama tiga tahun!” gerutu Wonwoo.
“Hyung, barusan itu apa? Jihoon Hyung dan atlet Kwon Soonyoung berkencan?” tanya Seokmin heboh.
Wonwoo menggaruk lehernya. “Ah, kalian tidak tahu, ya? Mereka sudah pacaran sejak SMA. Kupikir sudah putus ketika Soonyoung harus pelatihan di luar negeri. Habisnya Jihoon menangis semalam suntuk sambil bilang cinta itu omong kosong dan hidupnya sudah berakhir, terus daftar S-2 tidak lama setelahnya. Ternyata aku dikibuli.”
“Woah, jadi mereka high school sweethearts?” tanya Hansol kagum.
“Eum,” Wonwoo mengangguk. “Mereka memang tidak mengumbar kemana-mana, tapi kalau sudah sibuk berdua kita jadi ingin menggulung bumi karena iri.”
“Uwah, hebat sekali!” ujar Seungkwan. “Satunya anak band, satu lagi atlet. Mereka tuh tokoh fiksi atau apa. Romantis sekali. Iya tidak Nara?”
“Nara?”
Yang dipanggil berlutut dengan tangan menangkup pipi. Telinganya panas oleh rasa malu dan Nara merasa ia harus mengubur diri.
“...”
“Heh? Apa? Kamu bilang apa, Nara?”
“Aku bilang atlet Kwon Soonyoung itu menggairahkan di depan pacarnya! Astaga. Mau simpan di mana mukaku ini!!!!”
“Bisa dicopot dulu lalu simpan di lemari.”
“Oppa! Huweeeee.”
Chan menepuk bahu Nara simpati. Malam itu, Nara menghabiskan waktu dengan merutuki diri sendiri setelah mengirimkan pesan permintaan maaf panjang pada Jihoon yang hanya dibalas emot silang berwarna merah.
**^^*Selesai*^^**
