Work Text:
Bel pulang berbunyi kencang, perempuan berkuncir kuda yang masih mengenakan baju olahraga itu bergegas merapikan barang-barangnya dan mengambil sapu yang ditaruh di sudut belakang kelas. Jujur saja, kalau ada kesempatan untuk melarikan diri, perempuan tersebut tanpa berpikir dua kali akan menggunakan kesempatannya dan tak memedulikan teriakan teman sekelasnya yang menyuruhnya untuk kembali dan piket. Tapi karena ada seksi kebersihan yang satu jadwal dengannya, ya sudah, ia tak mau bangkrut karena hanya tidak melakukan piket sehari saja.
Setelah dirasa selesai, perempuan itu mengambil tasnya dan berpamitan dengan teman sekelasnya yang belum selesai membersihkan kelas.
“Aku pulang duluan ya, Je!” ujarnya.
Yang dipanggil— Jenaya mendongak dan menyahut, “Oke, Rai. Hati-hati!”
Raissa mengacungkan jari jempol, lalu meninggalkan kelas dan berlari kecil menuju lapangan basket.
ㅤ
Sampai disana, Raissa tampak menoleh sana-sini seperti sedang mencari sesuatu. Mengelilingi lapangan hingga menyusuri semak-semak. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal dan berkacak pinggang, entah apa yang perempuan itu cari sampai terlihat frustasi karena tak kunjung menemukan sesuatu yang ia cari-cari. Tak menyerah, Raissa pun lanjut mengelilingi sekolah sambil memanggil sebuah nama.
“Meooong… puuus puuus, aduh kamu dimana ya..”
Ah, rupanya mencari seekor kucing. Biasanya Raissa langsung bertemu dengan kucing itu di lapangan basket saat jam pulang sekolah, tapi untuk hari ini si kucing tak memunculkan keberadaannya dan mengharuskan ia mencarinya sampai mengelilingi sekolah hanya untuk melihat seekor kucing.
Sudah hampir 15 menit mencari, tetap saja tidak terlihat ekornya. Raissa lelah sejujurnya, ia pun singgah sebentar menduduki bangku panjang yang berada di depan laboratorium.
Tiba-tiba ada seorang perempuan yang menghampiri dan terdengar sedang berbicara kepadanya. “Hai, kak? Kelihatannya kamu lagi cari kucing yah?” ucap perempuan itu.
Raissa sedikit terkejut dan menoleh ke belakang. “Eh… iya kak…”
“Jangan pake ‘kak’, aku masih kelas 10 soalnya, hehe..” sahut perempuan itu sambil tersenyum ramah. Raissa lupa fakta kalau dirinya sekarang sudah menginjak kelas 12, kelas akhir. Lantas ia langsung melirik ke lengan kanan perempuan itu yang terpasang bet, benar menunjukkan kalau perempuan tersebut adalah adik kelasnya.
“Aduh.. maaf ya..”
“No prob! Omong-omong, kucingnya warna apa, kak?” adik kelas itu bertanya lagi.
“Abu-abu gelap belang putih gitu, kamu ada lihat ‘kah?” tanya Raissa.
“Ohh, ada! Tadi aku ada lihat kucingnya, aku kurang tau dia kemana tapi dia kayak lari ke arah kantin gitu, kak.” jawabnya.
ㅤ
Ternyata masih ada satu tempat lagi yang belum dikunjungi. Raissa pun berterima kasih dan pergi ke kantin seperti kata perempuan tadi.
Sampai di tempat tujuan, langkah Raissa terhenti sebab ia mendengar suara laki-laki seperti sedang berbicara. Herannya, laki-laki itu seolah-olah berbicara sendiri, tak ada orang lagi selain dia. Perlahan Raissa mendekati sumber suara itu. Dan lagi-lagi langkah kecilnya kembali terhenti saat melihat laki-laki itu ternyata sedang berbicara dengan kucing.
Raissa berusaha melihat kucing yang sedang diajak berbicara dengan lelaki itu tanpa membuat suara sekecil pun. Benar saja, itu kucing yang ia cari dari tadi. Lelah ia mencari hingga semak-semak, ternyata si kucing lagi bersantai dengan seorang laki-laki yang mengenakan topi hitam dan jaket leather yang juga berwarna hitam.
Niat Raissa untuk menghampiri kucing itu langsung terurung, ia pun berniat untuk pulang saja dan membiarkan kucing itu bermain dengan orang lain. Tapi ketika ia hendak berbalik badan, mendadak kucing itu berlari menghampirinya. Raissa terkejut, laki-laki itu juga terkejut. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Raissa segera berjongkok dan mengelus kucing itu.
“Ngeong, disini kamu ternyata, tumben banget ada di kantin jam segini.” kata Raissa ke Ngeong, begitulah ia menamai kucing itu.
Si kucing hanya mengeluskan kepalanya ke lutut Raissa dan mengeong. Seakan paham dengan bahasa kucing, perempuan itu mengeluarkan botol plastik yang diisi dengan dry food dan piring plastik kecil. Ia menuang dry food tersebut ke atas piring, kucing itu langsung menyantapnya seperti sudah tak makan 1 minggu lamanya.
Lelaki yang sejak tadi memperhatikan itu hanya berdiri diam, tanpa melepaskan pandangannya pada perempuan yang tengah sibuk dengan kucing. Ia pun terdorong untuk menghampiri perempuan tersebut dan kembali berjongkok.
Raissa lagi-lagi terkejut, ia melirik laki-laki di depannya yang sedang mengelus si kucing.
“Nyariin kucing ini ya?” tanya laki-laki itu. Raissa mengangguk pelan. “Kok tau?”
Lelaki itu mengedikkan bahunya sebelum menjawab, “Keliatannya lo lagi nyariin dia.”
“Oh.. iya.” sahut Raissa dengan singkat. Ia tak tau harus menjawabnya bagaimana.
ㅤ
Kalau saja ia bisa jadi orang yang blak-blakan, Raissa mau usir laki-laki ini untuk segera pergi meninggalkannya dengan si kucing berdua saja. Raissa bukan orang yang pandai membuat obrolan dengan laki-laki. Apalagi laki-laki di depannya ini terlihat menyeramkan, menurutnya. Walaupun sedang tersenyum kecil sambil mengelus si kucing yang tengah melahap santapan sore harinya.
“Kucing lo?” tanya lelaki itu saat ia melihat Raissa menuangkan air minum— yang ia tebak itu milik si perempuan ke piring plastik bekas dry food yang sudah kosong.
“Eh ngga, sering aja main sama Ngeong di sekolah.” kata Raissa.
Si lelaki mengangguk paham. “Namanya Ngeong?”
“Mmm.. gak tau sih kucing ini udah ada yang ngasih nama atau belum, tapi aku panggil dia Ngeong.” Tampak lelaki itu agak terkejut ketika mendengar Raissa melontarkan kata ‘aku’ kepadanya. “Ohh, begitu.”
Si kucing meninggalkan mereka berdua setelah dirasa santapan sore nya sudah cukup membuat dirinya kenyang. Raissa rasanya mau merutuki Ngeong yang tiba-tiba meninggalkannya dengan laki-laki menyeramkan berdua di kantin yang sudah mulai kosong juga. Laki-laki itu berdiri lebih dulu dan disusul oleh Raissa.
“Hanin’s twin, aren’t you?”
ㅤ
Entah sudah ke berapa kalinya perempuan berkuncir kuda itu selalu terkejut setiap laki-laki itu mengeluarkan satu kalimat. Kali ini dirinya benar-benar terlihat sangat terkejut di depan lelaki itu, karena memang tidak banyak orang yang tau kalau Raissa punya saudara kembar. Mungkin sebab mereka berdua jarang memperlihatkan kebersamaannya di sekolah, atau mungkin sebab Raissa bukan siswi yang begitu aktif seperti kembarannya.
Ditambah lagi, ia baru pertama kali bertemu dengan laki-laki ini, sama sekali tak pernah melihatnya. Dengan entengnya menanyakan pertanyaan itu.
“Sorry, gue ngeliat lo tiba-tiba langsung keinget Hanin. Dia pernah bilang juga kalau dia kembar, so.. is that you?” jelas lelaki itu yang merasa dirinya salah ngomong.
“Ah.. iya, i’m Hanin’s twin..” Raissa menjawabnya seraya mengangguk, “..maaf kelihatan kaget banget.” sambungnya.
Laki-laki itu terkekeh pelan. “Gapapa, gue paham kok, cause not a lot of people know that you’re twins, right?” Perempuan itu hanya mengangguk sebagai jawabannya.
ㅤ
“Gue Tristan, btw. Kalau ketemu lagi, boleh panggil Itan aja.”
“Okay, Tristan. Aku Raissa.”
ㅤ
ㅤ
And that’s how they met, unusual but always memorable. Like ink spilled on a blank page, their meeting left a mark— unexpected, yet enduring.
It was the kind of moment that lingers, quietly shaping everything after.
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
Terhitung sudah dua minggu sejak Raissa dan Tristan bertemu, dan selama dua minggu itu, Raissa jadi sering bertemu dengan Tristan saat sekolah sudah selesai, saat ia ingin menemui si Ngeong. Sangat aneh karena di waktu lain mereka tidak pernah bertemu, seperti sedang istirahat. Padahal jarak kelas mereka tidak begitu jauh dan masih satu lantai— ah mereka hanya saling bertukar nama saja waktu itu, tak menyebutkan mereka dari kelas mana.
Semenjak kejadian itu, Tristan selalu datang menghampiri Ngeong lebih dulu daripada yang menemui dan menamai si kucing pertama kali, Raissa. Mungkin seminggu pertama, Raissa masih merasa jengkel karena laki-laki itu mendadak jadi suka menemui Ngeong selain dirinya, entah apa yang memotivasi lelaki itu yang bahkan sebelumnya tak pernah Raissa lihat Ngeong bermain dengannya. Setahu Raissa, Ngeong sangat sensitif jika ada laki-laki yang mendekat dan mengelus kepalanya. Kecuali beberapa teman kelasnya. Dan Tristan.
Raissa memang rutin menemui Ngeong saat pulang sekolah. Rutinitas itu bermula sejak ia duduk dibangku kelas 10. Sudah lama ya. Awal mulanya disaat ia sedang mengantarkan teman kelasnya untuk menaruh beberapa kertas lembar titipan anak kelas yang berisi jawaban dari tugas yang diberikan ke ruang guru. Raissa menunggu temannya di luar ruangan, karena ia merasa mendengar suara kucing mengeong di dekatnya.
Langit semakin gelap, dan Raissa khawatir kucing itu berada di selokan. Akhirnya, ia mencari tahu dari mana sumber suara itu berasal. Tidak jauh dari ruang guru, Raissa melihat seekor kucing berwarna abu-abu gelap dengan bagian bawah perut dan kakinya berwarna putih. Perempuan itu merasa sedikit lega karena kucing tersebut berada di tempat yang aman, di samping laci yang berisi piala-piala milik para siswa.
Raissa pun menghampiri kucing itu. Ia hanya bisa mengelusnya karena saat itu tidak membawa makanan apapun yang bisa diberikan. Bekal yang ia bawa sudah habis tanpa sisa. Raissa merasa bersalah karena hanya bisa mengelus-elus kucing tersebut. Namun, ia berjanji pada kucing itu untuk kembali keesokan harinya dan membawakannya makanan serta minuman yang layak.
Ketika Raissa kembali ke tempat ia bertemu kucing itu, kucingnya sudah menghilang. Ia mencarinya hingga waktu istirahat pertama berakhir, tetapi tetap tidak menemukannya. Raissa tidak menyerah begitu saja. Saat waktu istirahat kedua, ia kembali mencari, namun hasilnya tetap sama— kucing itu tidak kunjung menampakkan diri. Pada akhirnya, Raissa tidak berhasil menemui si kucing di hari itu.
Namun, ketika jam pulang sekolah tiba, saat Raissa ingin cepat-cepat pulang untuk beristirahat, ia tiba-tiba bertemu kembali dengan kucing itu. Dengan tergesa-gesa, ia mengeluarkan botol plastik berisi dry food yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Hal itu terus terjadi selama satu minggu. Raissa tidak pernah berhasil menemukan kucing tersebut di waktu istirahat pertama maupun kedua, tetapi ia selalu bertemu dengannya saat jam pulang sekolah. Akhirnya, Raissa memutuskan untuk tidak lagi mencarinya di waktu istirahat. Ia akan mencarinya setelah jam sekolah usai, di sekitar lapangan basket, tempat si kucing sering terlihat.
ㅤ
Hari ini berbeda dengan sebelumnya, Raissa sampai lebih dulu dari Tristan. Perempuan itu sedikit mengernyitkan dahi lalu mengedikkan bahunya tak peduli. Ia segera mengeluarkan makanan dan alasnya untuk Ngeong makan.
Tak lama dari itu, terdengar suara langkah kaki mendekati tempat Raissa duduk. Raissa coba menoleh; lagi, lagi, dan lagi ia terkejut karena laki-laki itu. Jika Raissa bisa tidak terkejut karena Tristan, apakah itu bisa menjadi sebuah penghargaan?
“Hai.” sapa Tristan yang tepat berdiri di belakang Raissa dengan setelan yang sama seperti saat mereka bertemu pertama kali. Ah, sebenarnya itu setelan Tristan setiap hari, jaket leather dan topi yang sama-sama berwarna hitam. Raissa tak tahu apa laki-laki itu tak punya setelan lain yang bisa dipakai. Sampai saat ini, Raissa masih mengecap lelaki ini sebagai ‘laki-laki menyeramkan’ walaupun mereka sudah banyak mengobrol layaknya teman.
Raissa hanya membalas sapaan Tristan dengan senyuman kecil dan menyuruhnya untuk duduk disamping kiri Ngeong. Tapi Tristan menolak dan memilih untuk tetap berdiri dan menyandarkan bahunya ke tembok yang berada di kanannya.
‘Aneh’ begitulah batin Raissa. Tak mau ambil pusing, perempuan itu lanjut menuangkan dry food.
ㅤ
“Ngeong ini kayak punya dua pemilik sekarang,” ucap Tristan tiba-tiba, memecah keheningan.
Raissa mengernyitkan dahi. Ia tak langsung merespon perkataan Tristan itu, ia menoleh dan menatap Tristan berharap lelaki itu bisa langsung menjelaskan tanpa harus dirinya merespon.
“Lo sama gue. Lo kasih dia makan, gue kasih dia teman ngobrol.”
Raissa tertawa kecil, tak bisa menahan diri. “Kamu ngobrol sama Ngeong?”
Tristan mengangguk dengan ekspresi serius. “Dia pendengar yang baik, asal lo tau.”
“Aku yakin sih dia gak ngerti sama apa yang kamu omongin.”
“Tapi dia dengerin. Itu poinnya.” Raissa terkekeh.
ㅤ
“Itan,” panggil Raissa setelah hampir 3 menit mereka tak mengeluarkan suara lagi.
Kali ini Tristan yang terkejut, sebab selama ini yang mengawali pembicaraan itu selalu dirinya. Dan bisa dibilang ini pertama kalinya Raissa memanggil namanya setelah dua minggu berkenalan. Tristan hanya berdeham kecil untuk menandakan bahwa dirinya dengar saat Raissa memanggilnya.
“Maaf ya.” lanjut Raissa yang masih sibuk mengelus Ngeong, terlalu malu untuk membicarakannya di depan laki-laki itu.
Tristan nyaris tak mendengar suara Raissa. Ia pun memilih untuk duduk disamping kiri Ngeong dan berusaha membuat Raissa menatap dirinya yang sudah berada di depan mata. Raissa tentu saja terkejut, tak berekspektasi kalau Tristan akan duduk di depannya. Ia gelagapan, lidahnya mendadak kelu, kata-kata yang sudah ia siapkan dari tadi tiba-tiba hilang begitu saja.
Tristan itu orang yang tidak suka kalau ada orang yang sedang ia ajak bicara tidak memperhatikan atau menatap dirinya. Tapi entah bagaimana, dirinya memaklumi kalau itu Raissa.
“Mau ngomong apa?” sahut Tristan dengan wajah yang terlihat serius. Kalau Raissa lihat wajahnya, bisa-bisa ia tak jadi membahasnya saking takutnya.
Raissa yang merasa pikirannya sudah kembali, menghela napasnya sebelum berbicara, “Maaf, aku selalu pake ‘aku-kamu’ kalau lagi ngobrol. Udah kebiasaan dari dulu..” ujarnya.
Barulah Tristan merilekskan wajahnya dan terkekeh kecil. Lucu menurutnya. Entah apa yang membuat Raissa takut untuk membahasnya sampai tak mau melirik Tristan sekalipun. “Kenapa minta maaf? Santai aja, Rai. Toh, selama ini emang gue ada nunjukin kalau gue gak suka lo pake ‘aku-kamu’? Gak ‘kan?” balas Tristan yang masih betah menatap Raissa.
“Takutnya..” Raissa mulai berani mengangkat kepalanya dan menatap Tristan. “..mana tau didalam hati kamu gak suka.” sahutnya.
Tristan menggelengkan kepalanya. “Gak sama sekali. Senyamannya lo aja mau gimana, don’t mind me.”
Raissa menghela napas lega mendengar jawaban Tristan. Ia merasa beban kecil di hatinya sedikit terangkat.
ㅤ
Hening sejenak. Suara angin sore dan dengkuran kecil dari Ngeong mengisi ruang di antara mereka.
“Raissa,” panggil Tristan, kali ini nadanya lebih lembut.
“Hm?” Raissa menoleh, matanya bertemu dengan tatapan Tristan yang terlihat lebih hangat.
“Kalau lo ada yang mau diomongin, gue bakal dengerin. Apa pun itu. Jangan sungkan ke gue.” ujarnya sambil tersenyum kecil, yang entah bagaimana membuat dada Raissa terasa lebih hangat daripada biasanya.
Perempuan itu terdiam sejenak, terkejut dengan perhatian yang diberikan Tristan. Setelah beberapa saat, ia akhirnya mengangguk pelan. “Oke. Kalau ada, aku bakal ngomong.” jawabnya, senyum kecil terlukis di wajahnya.
Raissa merasa detik itu, sesuatu di antara mereka mulai berubah. Bukan sesuatu yang besar, hanya sedikit lebih hangat, lebih akrab. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa percakapan ini tidak seseram yang ia bayangkan sebelumnya.
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
Hujan deras memayungi langit kelabu sejak siang. Tetesannya berirama di atas genting, menciptakan harmoni melankolis yang berpadu dengan riuh rendah suara siswa di koridor. Langkah kecil Raissa menyusuri lorong yang dipenuhi obrolan dan tawa, meskipun beberapa siswa tampak sibuk berlindung dari cipratan air hujan yang masuk melalui celah atap.
Hari ini masih sama seperti hari biasanya. Raissa dan rutinitas nya yang tak akan pernah bisa ia lewatkan meski ada badai hujan melanda. Bertemu Ngeong.
“Mam yang banyak yaa.” begitulah ucapnya saat ia selesai menuangkan dry food ke piring plastik yang selalu ada di dalam tasnya.
Raissa menatap Ngeong dengan tulus, tangan kirinya ia pakai untuk memeluk lututnya dan tangan kanannya sibuk mengelus kepala si kucing. Kepalanya ia sandarkan ke lutut. Ia tak peduli jika percikan air hujan membasahi dirinya. Yang penting ia senang melihat Ngeong memakan makanan yang sudah ia bawa dengan lahap. Toh, Raissa suka hujan. Bahkan ia berencana akan menyusul temannya yang kini sedang menari-nari di bawah guyuran hujan yang tak begitu deras.
Di ujung koridor, Tristan berdiri dengan payung yang melindunginya sehabis ia pergi ke kantin. Tatapannya menyapu sekitar, lalu berhenti ketika melihat seorang perempuan yang tak jauh dari tempat ia berdiri. Ia kenal siapa perempuan itu. Lalu tersenyum kecil dan mencoba menghampirinya.
Tristan menaruh payung di samping perempuan itu, yang membuat orang tersebut terkejut dan mendongak.
“Lo kena cipratan hujan, Rai.” ujarnya dengan suara yang sedikit lantang, takut si perempuan tak mendengar suaranya.
Raissa tersenyum. “Gapapa, habis ini gue mau nyusul mereka malah.” jawabnya sambil mengarahkan dagunya ke lapangan, memperlihatkan ada beberapa orang yang tengah bermain hujan.
Iya, Raissa ingin mencoba berbicara dengan Tristan menggunakan kata ‘gue-lo’. Katanya, biar ia bisa merasa lebih santai saat berbicara dengannya.
“Nanti sakit,” sahut Tristan.
Perempuan itu terkekeh. “Gue kuat, Itan. Gue sering kok mandi hujan dan gak pernah sakit.”
Tristan menghela napasnya. Entah apa yang membuatnya seperti bingung melontarkan satu kalimat yang ingin ia bicarakan ke Raissa. Ia mencari alasan agar Raissa tidak berlari ke lapangan dan membasahi tubuhnya dengan air hujan.
Tapi ketika melihat rambut sang perempuan yang ternyata sudah basah dan kakinya dibiarkan telanjang— tak tahu dimana Raissa menyimpan sepatunya, ia hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum mendengar Raissa.
ㅤ
Raissa segera membersihkan tempat yang dipakai si kucing makan dan membuangnya ke tempat sampah dekatnya.
“Lo mau disini?” tanya Raissa seraya menatap Tristan yang tengah memperhatikan Ngeong mengelus kepalanya ke lutut Tristan.
Tristan menoleh dan mengangguk. “Iya, udah lama gak curhat ke Ngeong.”
Raissa tertawa kecil. “Yaudah, nitip Ngeong ya!” lalu dibalas anggukan oleh Tristan.
Raissa langsung berlari ke lapangan menghampiri para temannya yang kini saling menendang genangan air. Raissa disambut tendangan air oleh teman sebangkunya— Wilona. Tak terima dengan itu, Raissa membalas dengan melemparkan air hujan yang sudah ia tampung di kedua tangannya ke wajah Wilona. Dan begitu saja sampai mereka lelah, atau sampai hujan sedikit mereda.
ㅤ
Kini mereka mendudukkan tubuhnya di pinggir lapangan, menyelonjorkan kaki sambil bermain-main dengan genangan air di dekatnya. Ada juga yang merebahkan tubuhnya di depan Raissa dan teman lainnya.
“Rai, lo pacaran sama Tristan?” celetuk salah satu temannya yang duduk di sebelah kiri Wilona.
Raissa mengernyitkan dahinya dan menoleh ke sumber suara. “Kata siapa?”
Yang bersuara— Jenaya mengedikkan bahu. “Nebak aja, habis akhir-akhir ini gue suka ngeliat lo lagi sama dia mulu.” sahutnya sambil melirik Tristan di seberang.
Yang tadi merebahkan tubuhnya langsung memiringkan tubuh, menopang kepalanya dengan tangan kanannya. “Iya, weh. Mana keliatan seru akrab banget lagi. Kayak udah kenal 3 tahun.” timpal Lilis.
Belum sempat Raissa menjelaskan, salah satu temannya menimpal lagi. “Lagi PDKT kali,” seru Yolan.
Raissa menggeleng-gelengkan kepala tak percaya dengan apa yang sudah teman-temannya katakan. “Gak ada apa-apa, cuman temen doang.”
“Nah! Yang begini biasanya beneran lagi PDKT guys, jangan salah.” sambung Yolan yang membuat Raissa digoda oleh temannya.
“Gak adaaa! Serius! Cuma temenan apa masalahnya sih?” sangkal Raissa.
“Gak ada masalah apa-apa, Rai. Tapi kalau tiba-tiba deket sama cowok disaat kita udah mau lulus, biasanya ending-nya bakal pacaran. Kita ambil contoh, Lilis sama Raihan.” jelas Wilona. Lilis yang namanya disebut hanya tersenyum malu.
“Tapi ini pertama kalinya dia yang deketin cewek, gak sih? Kayaknya gue lebih sering liat dia dideketin bukan dia yang deketin sejak gue sama dia satu SMP.” kata Jenaya.
“Iya deh, setau gue juga dia gak pernah ngelirik cewek yang ngedeketin dia. Don’t we all know that he really sucks at making small talk with girls..? Gue rasa karena itu dia belum ada pacar sampe sekarang.” itu Yumna yang berbicara.
“Kalau lo pacaran sama dia, juga, gapapa sih, Rai. Mengingat lo adalah cewek pertama yang dideketin dia. Dia ‘tuh emang beneran payah banget, mungkin karena lo tipenya kali ya, makanya dia berani deketin lo.
“Kata Ihan nih ya, dia sebenernya mah boyfriend-able tau. Anaknya peka, bisa diajak curhat, terus soal love language ‘tuh diborong semua sama dia. Apalagi katanya, dia act of service nya kenceng banget. Dia pernah cerita sampe baper ke Tristan katanya, aduh gue geli banget!” cerita Lilis sambil bergidik geli diakhir kalimat.
“Iya, nanti lo bisa double date sama Lilis.” seru Wilona yang disetujui oleh Lilis.
Raissa tetap menggelengkan kepala dan tersenyum saja mendengar obrolan teman-temannya.
Tapi dalam diam ia memikirkan sesuatu saat di sekitarnya ribut membicarakan obrolan tak penting– menurut Raissa. Ia sedikit tak percaya saat Jenaya dan Yumna mengatakan jika lelaki itu orang yang payah berinteraksi dengan lawan jenisnya.
Karena menurutnya, Tristan berperilaku sebaliknya. Ia kira Tristan orang yang mempunyai banyak teman lawan jenis dan sering berganti pasangan. Ia kira Tristan itu seperti lelaki yang sering menggoda perempuan. Ia kira Tristan lelaki brengsek seperti lelaki di AU yang sering Raissa baca. Ada banyak kata ‘ternyata’ yang muncul di benak Raissa.
Ia tak tau harus bagaimana setelah ini. Mendengar obrolan tadi membuat pikiran Raissa berubah. Ditambah ia tak sengaja memikirkan ini sambil menatap Tristan di seberang yang sedang duduk dan bermain dengan kucing yang ditaruh di pangkuannya. Dan parahnya saat Tristan merasa kalau ia sedang diperhatikan seseorang, lelaki itu lantas menatap Raissa yang ternyata sedang menatap dirinya sendiri.
Mata mereka sempat bertemu sepersekian detik, sebelum Tristan memutuskan eye contact itu. Buru-buru lelaki itu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, seolah ia tak ingin menatap perempuan tersebut, dan kembali menunduk dan mengelus si kucing. Tristan salting. Salah tingkah.
Raissa tak tahu sebenarnya jika dirinya melamun sambil menatap Tristan. Ia baru sadar saat Tristan menatap dia dan terlihat seperti orang ketahuan mencuri. Mencuri-curi pandang. Raissa menahan senyumnya. Menahan agar tawa kecilnya tidak keluar dan membuat temannya menoleh.
Dengan cepat, ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengusir perasaan itu. Tak ada waktu untuk berlarut-larut dalam kebingungannya. Ia harus kembali fokus pada teman-temannya. Tetapi, setiap kali mata itu bertemu dengan keberadaan Tristan, entah mengapa, Raissa merasa seperti ada sesuatu yang menariknya lebih dekat dengan lelaki itu.
Satu hal yang pasti— sekarang, dia tidak lagi bisa melihat Tristan dengan cara yang sama.
ㅤ
ㅤ
Seperti keadaan saat ini.
Raissa menahan napasnya ketika Tristan menundukkan kepalanya untuk mengaitkan pengait helm yang berada di bawah dagunya.
‘Harusnya aku kabur aja. Harusnya aku tolak berkali-kali sampe dia muak. Harusnya aku iyain ajakan Wilona. Harusnya tadi aku gak muncul di depannya’ beginilah isi pikirannya saat ini.
Seperti yang dibayangkan, Tristan mengajaknya untuk pulang dengannya. Sebenarnya Raissa sudah menolak berkali-kali, tapi Tristan tetap memberi seribu alasan agar Raissa mau pulang dengannya. Satu alasan yang akhirnya membuat Raissa mengiyakan ajakan Tristan, yaitu bundanya menyuruh Tristan untuk mengantarkan Raissa pulang karena ayahnya tak bisa menjemput.
Dunia memang sempit. Ibu Raissa dan Ibu Tristan dulunya teman saat masa sekolah dasar, bahkan duduk di meja yang sama. Hal itu mereka ketahui saat Tristan menemani ibunya ke rumah Raissa karena ada acara reuni kecil disana. Ia tersentak saat Raissa membuka pintu, begitupun dengan Raissa yang tak kalah terkejutnya.
Tristan ingin pulang rasanya— dia dipaksa untuk menemani sang ibu, sebetulnya. Ibu Tristan sengaja mengajaknya karena beliau dengar temannya akan mengajak salah satu anaknya ke acara itu. Jadi, beliau pikir mungkin menyenangkan jika Tristan mengenal salah satu anak dari teman lamanya. Tanpa mengetahui bahwa anak lelakinya itu tidak pandai berinteraksi dengan perempuan.
Dengan jujur, ia memberitahu sang ibu kalau ia sudah kenal dengan Raissa, dan Hanin, kembarannya. Ibunya tentu sangat senang mendengarnya, karena Raissa dan Hanin anak dari teman sebangkunya dulu. Lalu Tristan disuruh untuk mengajak Raissa, dan seorang perempuan lainnya—yang ia yakini itu salah satu anak dari teman ibunya— untuk mengobrol lebih leluasa di taman kecil belakang rumah Raissa.
Namun, Raissa menolak dengan alasan dirinya sedang mengerjakan latihan soal UTBK, yang tentu saja bohong. Kenyatannya, ia sedang malas berbincang-bincang dengan orang, sebab itu ia kabur dan meninggalkan Tristan bersama perempuan itu berdua di taman belakang.
Baru saja Raissa menutup pintu kamarnya, ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk. Ia tersenyum saat membaca pesan dari Tristan, yang dimana isinya lelaki itu mengeluh karena Raissa tinggalkan mereka berdua.
ㅤ
ㅤ
Raissa hanya berharap wajahnya tidak berubah warna menjadi merah saat ini. Posisi mereka berdua terbilang cukup dekat hingga Raissa menahan napasnya karena takut.
Setelah mendengar pengait helm itu sudah terkait, barulah Raissa bisa bernapas lega. Tetapi bukannya cepat-cepat menyingkirkan kepalanya yang kini hanya berjarak sekitar 20 cm, lelaki itu mengeluarkan kekehan kecil sambil menatap Raissa yang terlihat tegang.
Raissa mendengar kekehan Tristan langsung panik. ‘Kenapa dia ketawa? Apa mukaku berubah jadi merah?’ batinnya.
“Badan lo kecil banget, sampe tenggelem pake crewneck doang.” kata Tristan.
Perempuan itu mendengus kesal. “Lo aja yang badannya gede!”
Raissa tak mungkin pulang dengan seragamnya yang basah. Dengan inisiatif, Tristan menawarkan crewneck yang ia bawa. Raissa tak bisa menolak, ia juga lupa membawa cardigan atau sweater miliknya. Mau meminjam ke Hanin, juga, sudah terlambat; kembarannya sudah pergi meninggalkan sekolah lebih dulu darinya. Raissa mengganti kemeja seragamnya dengan crewneck milik Tristan dan mengganti roknya dengan celana olahraga yang ia bawa. Beruntung sekali hari ini kelas Raissa ada mata pelajaran olahraga.
Tristan tak menjawabnya. Sebaliknya, matanya terfokus pada Raissa yang kini berdiri di hadapannya dengan crewneck miliknya yang tampak kebesaran. Dalam diam, ia tersenyum kecil, seolah-olah ada sesuatu yang hanya ia mengerti.
“Kenapa senyum-senyum sih?” Raissa bertanya dengan nada waspada, namun matanya menghindar, terlalu gugup untuk menatap langsung.
“Gak apa-apa,” Tristan menjawab ringan, namun suaranya mengandung kehangatan yang tak bisa ia sembunyikan. “Crewneck gue kayaknya lebih cocok di lo.”
Raissa mengernyit, ia menggerutu pelan sambil menarik sedikit ujung crewneck itu. “Gede banget. Kayak anak hilang tau.”
Tristan tertawa kecil, suaranya rendah namun membuat dada Raissa terasa sesak. Tangannya terulur, bukan untuk mengacak rambutnya, tapi untuk merapikan tali helm yang terpasang sedikit miring. Sentuhannya lembut, nyaris tak terasa, tapi cukup untuk membuat Raissa menahan napasnya lagi.
“Biarin aja, anak hilang juga cantik kok.” katanya sambil mundur selangkah, masih dengan senyum jahil yang sama.
Raissa mendongak dengan mulut setengah terbuka, ingin membalas, tapi kata-kata Tristan membuat lidahnya kelu. Mata mereka bertemu, dan seketika dunia terasa melambat. Waktu seakan berhenti di antara jarak mereka yang kian terasa begitu dekat.
“Ah, ayo pulang. Takut hujannya turun lagi.” kata Tristan, memecah keheningan.
Raissa mengangguk pelan, mencoba menenangkan degup jantungnya yang menggila. Dan saat ia naik ke motor Tristan, memeluk erat crewneck yang kini sedikit menghangatkannya.
ㅤ
Perjalanan mereka dimulai di bawah langit sore yang masih gelap tetapi sudah tidak menurunkan air hujan. Jalanan di sekitar mereka tampak sepi, hanya sesekali terlihat mobil melintas. Lampu jalan yang menyala temaram memantulkan cahaya di permukaan jalan yang basah, menciptakan kilau lembut yang memantul di kaca helm mereka berdua.
Begitu motor melaju, Raissa mendekap tas kecil yang ada di pangkuannya, berusaha mengalihkan perhatian dari rasa dingin yang meresap melalui celananya. Seiring berjalannya waktu, perasaan tenang itu tiba-tiba digantikan oleh suara pertanyaan dari Tristan yang memecah keheningan.
“Lo udah kepikiran mau ambil jurusan apa nanti?”
Raissa menoleh dan memikirkan jawaban yang ingin ia berikan. “Masih belum kepikiran, gue masih bingung. Huh, cepet banget tiba-tiba udah ditahap pusingin PTN.” keluhnya.
Tristan terkekeh mendengarnya. Lalu ia menarik pedal rem sebelah kanan karena lampu lalu lintas kembali berubah menjadi merah.
“Iya, ya. Gak kerasa tau-tau udah kelas 12 aja. Perasaan dulu masih MPLS, ya.” balasnya.
“Iya ‘kan!” Raissa terdiam sebentar. “Lo sendiri mau ambil jurusan apa?” tanyanya.
Tristan berdeham sebelum menjawab. “Kayaknya buat pilihan pertama, gue mau DKV deh. I quite like drawing, and my mom actually told me to choose that major.”
Raissa cukup terkejut mendengar bahwa lelaki itu akan memilih desain komunikasi visual sebagai pilihan pertamanya. Ia tak tahu kalau laki-laki itu terdengar pandai menggambar.
“Tapi gue masih bingung juga sih, gue takut gak bisa survive kalau beneran lolos masuk DKV.” timpal Tristan yang diakhiri tawaan kecilnya.
“Kenapa gak pilih arsi? Arsitektur?”
Pertanyaan Raissa tak langsung dijawab oleh lelaki itu. Tristan memilih untuk melepas pedal rem dan melajukan kembali motornya, sebelum akhirnya ia menjawabnya.
“Gue juga pilih jurusan itu, Rai. Dan sekarang pun gue lagi bingungin mau taruh DKV atau arsi di pilihan pertama nanti.” ujar Tristan.
Raissa mengangguk paham dan menepuk pundak kiri lelaki itu. “Semangat ya. Nanti kalau lolos di arsi, gue bakal panggil lo kalau gue butuh arsitek buat bangun rumah gue, kalau lo udah lulus.”
Entah apa yang membuat Raissa berani menceploskan candaannya ke Tristan. Impulsive thoughts nya kali ini menang. Merasa dirinya aneh, ia menutup matanya dan menepuk dahinya berkali-kali dengan pelan. ‘Ngomong apa sih, orang gilaaa’
Tristan menanggapinya dengan tertawa. Ia sedikit terkejut karena Raissa bisa mengatakan sebuah candaan kepadanya. Tak menyangka jika Raissa akan menyahut seperti itu. Tak menyangka juga pundaknya dipegang oleh Raissa.
ㅤ
Ketika akhirnya motor berhenti di depan rumahnya, Raissa segera turun, tapi gerakannya canggung. Crewneck yang terlalu besar masih membungkus tubuhnya, dan helm yang tadi ia kenakan kini tergenggam di tangan. “Makasih udah nganterin.”
Tristan hanya mengangguk dan menerima helm yang diberikan oleh Raissa. Namun, saat Raissa hendak melangkah masuk, suara Tristan menghentikannya.
“Rai,”
Raissa menoleh. Ada sedikit rasa heran di matanya. “Kenapa?”
Tristan menatapnya sejenak, seolah mencari kata-kata yang tepat. Tapi akhirnya, ia hanya berkata dengan senyum tipis, “Jangan lupa balikin crewneck gue.”
Raissa mendengus, setengah tertawa. “Iya, bawel! Besok gue balikin.”
Namun sebelum Raissa bisa masuk ke rumah, pintu depan terbuka, dan sosok bundanya muncul di ambang pintu. Wanita itu tersenyum hangat sambil melirik Tristan yang masih duduk di atas motor.
“Eh, Itan. Makasih banyak ya udah mau anterin Rai pulang. Ayo mampir dulu!”
Raissa langsung memutar badan, matanya melebar. “Nggak usah, Bunda! Tristan lagi buru-buru!”
Namun, sang bunda sudah melangkah keluar, berdiri di bawah kanopi kecil di depan rumah. “Gak apa-apa sebentar aja, Itan. Tante udah bikin teh hangat nih.”
Tristan terlihat sedikit canggung, tangannya masih memegang stang motor. “Makasih, Tante. Tapi aku gak apa-apa kok. Aku mau langsung pulang aja.”
Senyum bunda Raissa melebar. “Nggak usah sungkan, Itan. Kayak sama siapa aja, sih. Yuk sebentar aja, lagian rumah kamu gak satu arah ‘kan. Jadi harus muter lagi.”
Tristan menggaruk tengkuknya, tersenyum sopan. “Makasih banget, Tante. Tapi aku beneran harus pulang. Ada tugas yang harus diselesain.”
Bundanya tampak sedikit kecewa, tapi tetap mengangguk mengerti. “Ya sudah, kalau emang gak bisa. Lain kali mampir ya?”
“Iya, Tante. Makasih,” jawab Tristan. Ia lalu menatap Raissa sebentar sebelum melanjutkan, “Crewneck gue inget ya.”
Raissa mendengus. “Iya-iya, besok juga gue balikin!”
Tristan tertawa kecil sebelum akhirnya menyalakan mesin motornya lagi. “Hati-hati ya, nak.” kata bunda Raissa sebelum Tristan melaju pergi, meninggalkan jejak ban di jalanan yang masih basah.
Raissa mendesah kasar, lalu menoleh ke arah bundanya yang masih berdiri di ambang pintu. Tapi ia melihat sang bunda seperti sedang tersenyum dan menatap anak perempuan sulungnya yang tak bisa ia artikan.
Kedua alis Raissa hampir menyatu saking bingungnya. “Bunda kenapa?” tanyanya.
Bundanya hanya tersenyum. “Kamu modus ya main hujan-hujanan biar dipinjemin sesuatu dari Tristan.”
Mata Raissa terbelalak tak percaya mendengar satu kalimat yang dilontarkan oleh sang bunda. “Ih, nggak gitu ya, Bun! Aku gak kayak Hanin yang suka caper!”
Hanin yang sedari tadi mendengar semua itu hanya tertawa gemas. “Aduh, gak disangka-sangka Rai lagi deket sama cowok setelah 17 tahun lamanya!” sahut perempuan itu seraya bertepuk tangan.
Selanjutnya Raissa berlari ke ruang tamu dan menyerbu Hanin yang tengah santai sambil menonton televisi. Menggelitik badan sang kembaran tanpa ampun. Korbannya hanya bisa berteriak geli dan meminta ampun berkali-kali, berharap kembarannya yang hanya beda 12 menit dengannya berhenti menggelitik seluruh badannya. Sang bunda yang melihat, menggelengkan kepala, ia sudah tak heran lagi dengan kelakuan si kembar. Pemandangan yang biasa ia lihat sehari-hari di rumah.
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
Hari itu datang lebih cepat. Langit sore mulai berubah warna menjadi jingga keunguan, memantulkan kilau lembut di jendela ruang tamu rumah Tristan. Udara di dalam ruangan terasa hangat, meski tidak cukup untuk meredakan ketegangan yang menyelimuti mereka berdua.
Tristan mengundangnya ke rumah untuk menemani membuka pengumuman hasil ujian masuk perguruan tinggi negeri. Alasannya sederhana: rumahnya kosong, keluarga kecilnya tak bisa menemaninya karena sedang bekerja, dan ia merasa butuh seseorang di sisinya saat momen yang penuh tekanan itu tiba. Tapi, jauh di dalam hati, Tristan tahu alasan sebenarnya. Bukannya ia tak punya teman lain untuk diminta menemani, tapi hanya Raissa yang bisa membuatnya merasa lebih tenang, seperti keberadaan gadis itu mampu mengusir sebagian rasa gugup yang menghantui.
Tristan duduk di lantai di depan meja pendek, laptop terbuka di depannya. Jari-jarinya sesekali mengetuk-ngetuk meja, ritme tidak beraturan yang memantulkan rasa gelisah dalam dirinya. Di sampingnya, Raissa duduk bersila di atas sofa dengan posisi condong ke depan, memeluk bantal kecil di dadanya.
“Lo yakin gak mau buka sekarang? Orang-orang udah heboh dari jam 3 lho,” kata Raissa, suaranya mencoba terdengar santai meski ia sendiri ikut deg-degan.
“Gue… takut.” jawab Tristan singkat, matanya terpaku pada layar laptop yang masih menampilkan halaman login portal pengumuman.
Raissa menghela napas kecil, menatap Tristan dengan tatapan penuh pengertian. Ia tahu betapa besar tekanan yang dirasakan Tristan sejak hasil SNBP keluar dan ia belum berhasil lolos.
“Lo tegang banget sih. Hasilnya nggak bakal berubah, Itan. Mau lo buka sekarang atau nanti, ya tetep itu hasilnya.”
“Justru itu yang bikin gue takut.” Tristan mendesah, suara beratnya memecah keheningan. Ia menunduk, matanya tidak lagi memandang layar laptop, seolah enggan menghadapi kenyataan yang mungkin tidak sesuai harapan.
Raissa menatapnya lebih lama, berusaha mencari kata-kata yang bisa menenangkan. “Gue yakin lo bakal dapet hasil terbaik, Itan.”
Tristan menoleh perlahan, ekspresi di wajahnya sedikit melunak. “Yuk bisa, semangat yuk.” kata Raissa sambil menepuk pundaknya pelan. Gerakannya ringan, tapi terasa tulus.
Senyum kecil terukir di wajah Tristan, tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Hening kembali menyelimuti mereka, hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak lambat, seolah waktu sengaja mempermainkan mereka.
ㅤ
Beberapa menit berlalu sebelum Tristan akhirnya menarik napas panjang. Ia meraih laptopnya, membuka halaman login, dan mulai mengetik nomor peserta serta tanggal lahirnya. Jemarinya terlihat sedikit gemetar.
“Kayaknya… sekarang aja ya,” gumamnya, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Raissa berpindah posisi menjadi duduk di sebelah kiri Tristan, memandangi layar laptop dengan napas tertahan. Tristan mengarahkan kursor ke tombol “Lihat Hasil” dan mengkliknya. Layar laptop mulai memuat, angka dan huruf perlahan muncul di layar.
Mata Tristan terpaku, membaca baris demi baris tulisan yang muncul. Detik-detik itu terasa seperti seabad bagi Raissa, yang duduk di sampingnya dengan dada ikut berdegup kencang.
Tristan tiba-tiba menghela napas panjang, lalu menutup mulutnya dengan tangan, seolah tidak percaya pada apa yang ia lihat. “Gue… keterima arsitektur. Gue kuliah, Rai!”
Raissa langsung tersenyum lebar, rasa lega dan bahagia meluap di wajahnya. “Gue bilang apa! Lo ‘tuh bakal keterima!”
Tanpa berpikir panjang, Tristan menarik Raissa ke dalam pelukannya yang hangat. Pelukannya erat, membuat Raissa sempat terdiam, tapi ia cepat sadar dan mulai berusaha melepaskan diri.
Namun, bukannya melepaskan, Tristan justru mengeratkan pelukannya. Ia menundukkan kepala, dagunya menyentuh bahu Raissa. “Sebentar aja. I think i need… this things, pengen ngerasain kalau semuanya beneran baik-baik aja sekarang.”
Raissa tertegun, suaranya hilang di tenggorokan. Ia bisa merasakan detak jantung Tristan yang cepat di dadanya, bercampur dengan napas hangat yang menyentuh lehernya. Tristan tidak bersuara lagi, tapi pelukannya seolah berkata lebih dari yang bisa diungkapkan dengan kata-kata.
“Itan…” Raissa memanggil namanya pelan, setengah berharap lelaki itu akan sadar dan melepaskannya. Tapi Tristan tetap diam, seolah tidak ingin membiarkan momen itu berakhir. Akhirnya, Raissa hanya bisa menyerah. Ia memilih untuk membiarkannya. Sesekali tangannya menepuk dan mengusap punggung yang lebih besar darinya.
Ini pertama kalinya jarak mereka sangat amat dekat, lebih dari kejadian di parkiran sekolah hari itu. Tristan lagi-lagi membuat perempuan di dekapannya terasa canggung.
Sedangkan lelaki itu hanya terdiam, memejamkan mata, dan tak memedulikan Raissa yang merasa tak nyaman. Tetapi saat perempuan itu mulai menerima dan membalas pelukannya, ia tersenyum.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang anehnya terasa nyaman. Tristan akhirnya melepaskan pelukannya perlahan, namun tidak sepenuhnya menjauh. Tangannya masih berada di kedua bahu Raissa, seolah memastikan bahwa perempuan itu benar-benar ada di sana.
“Sorry, Rai.” gumamnya sambil menatap Kirei dengan senyum kecil.
Raissa mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Ia mengalihkan pandangannya, tidak berani melihat Tristan terlalu lama. “It’s okay, gue paham kok.”
Tristan terkekeh, matanya berbinar penuh rasa syukur. “Thanks, udah mau temenin gue hari ini.”
Raissa berdeham, berusaha mengalihkan suasana. “Kok bisa ya, lo kayak gak ada sedih-sedihnya gitu ngeliat pengumuman. Sedangkan gue hampir satu jam ngeluarin air mata yang entah kayak gak ada habisnya.”
Tristan tertawa kecil. “Gue terharu kok, Rai. Cuman gue gak mau yang sampe nangis ngeluarin air mata.” jawabnya yang masih betah menatap Raissa.
“Kenapa? Cowok juga boleh kok nangis.” pangkasnya.
“Gue tau, tapi kali ini gue ngerasa lebih seneng dibanding terharu. Jadi gue gak bisa memaksakan air mata gue buat turun.” kata Tristan sambil memfoto hasil pengumuman itu di ponselnya yang rencananya ingin ia kirim ke keluarga intinya.
ㅤ
Melihat lelaki itu sibuk memberi kabar, Raissa hanya bisa tersenyum hangat. Ia menatap layar laptop yang masih menampilkan laman pengumuman dimana tertulis ‘Institut Teknologi Bandung’.
Raissa menghela napas perlahan, membiarkan layar laptop itu tetap menyala, meski huruf-huruf Institut Teknologi Bandung terasa berat di matanya. Sementara itu, Tristan masih sibuk dengan ponselnya, senyum kecil terukir di wajahnya setiap kali pesan terkirim. Raissa tahu ini adalah kebahagiaan yang seharusnya dirayakan, tapi dalam diam, ia tak bisa mengabaikan kenyataan yang perlahan muncul — ini akan menjadi awal dari jarak di antara mereka.
Tristan tetap di sini, dengan tempat-tempat yang mereka kenal bersama, sementara ia harus melangkah ke kota yang baru, jauh dari segala yang familiar. Raissa hanya bisa berharap, meski jarak itu ada, mereka masih akan menemukan cara untuk tetap saling terhubung. Karena baginya, jarak hanya menjadi rintangan jika mereka membiarkannya begitu.
Begitu selesai dengan agendanya, Tristan mematikan ponselnya. Ia melihat Raissa yang kini terlihat mengalihkan pandangannya, yang Tristan tebak perempuan itu tadi sedang menatap layar laptopnya.
“Gak jadi satu kampus ya. Bakal LDR nih, kita.” ujar Tristan dengan sengaja.
Raissa sedikit tersentak, tetapi tak langsung menoleh ke arahnya. Ia bingung mau menjawab bagaimana, alhasil Raissa hanya menarik bibirnya hingga membentuk senyuman kecil.
“Kalau kangen, kabarin aja nanti gue main ke tempat lo.”
Kali ini Raissa menoleh, membulatkan matanya. “Dih, gak bakal gue kangen sama lo!” sanggahnya.
Bukannya berhenti, Raissa malah membuat Tristan semakin ingin mengusilinya. “Ah yakin? Waktu gue gak masuk, lo nyariin gue ‘tuh.” sahutnya.
“Gue nanya doang ya! Gak ada gue ngomong kalau gue kangen sama lo!” timpal Raissa.
Tristan tertawa mendengar suara Raissa yang tak mau kalah. “Atau kalau lo lagi kangen sama Ngeong, chat aja gue. Nanti gue langsung cus ke sekolah terus pap ke lo.”
Ah, Ngeong. Kucing yang selama ini menemani Raissa di masa SMA. Ia jadi memikirkan, sekarang sedang apa kucingnya di sekolah; apakah di masa depan nanti ada yang mau menggantikan Raissa untuk menjaga Ngeong, memberi makan dan minum, mengajaknya bermain kesana-kemari. Raissa jadi sedih membayangkannya.
“Kalau diingat-ingat, lucu ya. Kita bisa kenal sampe kayak gini gara-gara kucing doang.” kata Raissa sambil merebahkan kepalanya di sofa.
“Sampe kayak gini tuh maksudnya sampe kayak gimana, Rai?” anggaplah Tristan sedang sangat amat bahagia karena ia menjadi mahasiswa baru, sampai ia tak henti-henti menggoda Raissa.
Raissa yang kesal pun tak tahan dan memukul punggung Tristan yang berada di depannya. Lelaki itu hanya mengerang kesakitan.
“Gue sikat kepala lo.” ancam Raissa. Tetapi Tristan tak menganggapnya serius, ia mungkin akan tetap mengusilinya hingga ia sendiri lelah.
ㅤ
“Gue seneng bisa ketemu lo,” kata Tristan yang kini menyandarkan punggungnya di bawah sofa, di sebelah Raissa.
Perempuan itu terdiam, mencerna kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki disampingnya. “Tiba-tiba banget?”
Tristan mengedikkan bahu, tatapannya lurus ke laptop yang layarnya sudah berubah menjadi hitam, memantulkan sosok dirinya dan Raissa disana.
“Gak tau, gue pengen aja ngomong gitu.”
Kembali hening. Salah satu dari mereka tak ada lagi yang mau berbicara, keduanya kehabisan kata-kata. Tristan pun ikut merebahkan kepalanya di sofa dan memejamkan mata seperti yang dilakukan Raissa. Ia taruh tangan kanannya untuk menutupi matanya.
Cukup lama mereka berada di posisi seperti itu, sebelum akhirnya Raissa membuka matanya dan menoleh ke sang tuan rumah yang tampak sangat bahagia, terlihat dari bibirnya yang masih membentuk senyuman meski matanya tertutup. Melihat itu saja sudah bisa membuat Raissa ikut tersenyum.
Ia kembali memejamkan mata sambil berkata sesuatu namun terdengar sangat pelan, “Rasanya gue pengen kekeuh bawa Ngeong ke kos,”
Tristan membuka matanya sedikit dan melirik ke arah Raissa. “Beneran gak dibolehin sama ibu kosnya?” tanyanya. Perempuan itu hanya menggeleng sedih.
Tristan kembali memejamkan matanya. “Lo mau gue rawat dia?”
Kalimat tanya itu membuat Raissa terbangun dan mengarahkan badannya sepenuhnya ke Tristan. “Lo serius?”
Masih santai dengan posisinya, Tristan hanya mengangguk. “Gak janji bisa kasih dia makan tepat waktu sih, tapi gue usahain dia bisa makan dan minum setiap hari.”
“Lo beneran gak sih, Tan?”
“Beneran, Raissa. Besok kalau mau, ikut gue ngambil Ngeong deh.”
Kali ini giliran perasaan bahagia Raissa yang meluap-luap. Perempuan itu tak kalah bahagianya dengan orang-orang yang kini sedang bersorak gembira karena telah menjadi mahasiswa/i universitas yang mereka idam-idamkan. Ia dengan sengaja menepuk-nepuk lengan kiri Tristan yang menganggur, seperti sedang memainkan drum.
“Oke, kalau gitu, nanti gue transfer buat makanannya Ngeong!” seru Raissa dengan senang.
Tristan tertawa, ia lalu menegakkan badannya dan menatap si perempuan. “Gak usah, elah. Gue masih mampu beli royal canin sendiri kok.” katanya yang kemudian mengambil ponsel dan membalas beberapa pesan dari sang ayah.
“Ih, jangan gitu lah. Ngeong ‘kan anak gue,” sahut Raissa.
“Ngeong juga udah angkat gue jadi majikannya kok. Dia sekarang ada dua majikan, gue sama lo.” balas Tristan.
Raissa mendengus. Ia tak menjawab lagi. Tristan menoleh dan mendapati bibir Raissa yang kini mirip dengan meme bebek merajuk yang pernah ia lihat, ia terkekeh.
“Yaudah, patungan aja. Gue 70%, lo 30% nya, gimana?” saran Tristan.
Bibir perempuan itu kembali tertarik ke atas. “Deal!” dan lagi-lagi ia membiarkan intrusive thoughts nya menang lagi, ia menepuk pelan kepala Tristan dan berkata, “Makasih ya, majikan barunya Ngeong.”
Hal itu membuat Tristan yang sedang mengetik, langsung mengalihkan pandangannya dan mendekatkan kepalanya ke wajah Raissa.
“Lagi dong,” tagih Tristan.
“Dih, gak mau. Kesempatannya cuman buat sekali.” sahut Raissa.
Justru Raissa senang membiarkan ‘mereka’ menang, ia menantang nyalinya yang tak seberapa besar itu. Ini memang sudah termasuk hal yang biasa bagi mereka. Menepuk pelan kepala masing-masing, menepuk pundak masing-masing, atau hal apapun yang membuat fisik mereka bertemu bersentuhan. Terkecuali pelukan, itu masih hal yang tak biasa bagi mereka, bahkan ini kali pertamanya.
Dan itu semua dimulai dari Raissa, perempuan yang dulunya sering merasa canggung saat berhadapan dengan laki-laki yang bernama Tristan. Entah apa yang membuat Raissa berani menyentuh Tristan, sampai-sampai lelaki itu terkejut dengan tindakannya.
Tapi Tristan senang. Ia senang bisa membuat Raissa merasa nyaman didekatnya dan bisa melepas title laki-laki menyeramkan dari perempuan tersebut. Oleh karena itu Tristan jadi suka menggoda Raissa. Mengusilinya hingga perempuan itu jengkel, Tristan suka. Perlahan-lahan ia mulai mengeluarkan sifat aslinya ke Raissa, yang membuat Raissa sendiri kewalahan.
Hal yang akhir-akhir ini sering Tristan lakukan adalah memainkan ujung rambut Raissa. Yang menjadi korban pun tak tahu apa yang membuat laki-laki tersebut sering memainkan rambutnya.
Ah, this duo seems like they've been together forever.
ㅤ
Tawa mereka kembali memenuhi ruangan, tapi kini dengan perasaan yang berbeda. Ada sesuatu yang hangat dan tak terucapkan di antara mereka, sesuatu yang diam-diam mereka simpan dalam hati masing-masing.
Langit sore perlahan berubah menjadi oranye, seolah menggambarkan perasaan mereka yang tidak sepenuhnya bisa diungkapkan. Di ambang perpisahan ini, ada sesuatu yang terasa menggantung di udara— bukan hanya tentang ucapan selamat tinggal, tapi juga tentang masa depan yang perlahan memisahkan langkah mereka.
Mereka tahu, ini bukan akhir segalanya. Tapi tetap saja, perasaan asing itu tidak bisa dihindari. Raissa akan melangkah ke universitas impiannya yang jauh dari tempat ia tinggal, sementara Tristan memilih untuk menetap disini. Mereka sama-sama punya tujuan, sama-sama membawa harapan, tapi jalur yang mereka tempuh kini mulai berpisah arah.
Tak ada kata yang perlu diucapkan, dan mungkin memang tidak ada kata yang mampu menggambarkan semuanya. Di satu sisi, ada rasa syukur atas semua yang pernah mereka lalui bersama — tawa, perdebatan kecil, hingga keheningan yang tidak pernah terasa canggung. Namun di sisi lain, ada ketakutan samar tentang apa yang akan terjadi setelah ini.
Will the distance that separates them slowly erode that togetherness? Or will it actually make it stronger? No one knows. They can only hope that even though their steps lead in different directions, in the end, they will find each other again.
Dan meski mereka berusaha untuk tidak memikirkannya terlalu jauh, pertanyaan itu tetap tersisa di sudut hati mereka— selanjutnya, apa?
