Actions

Work Header

Unexpectedly Closer

Summary:

Seungcheol sendiri mulai memahami bahwa ia harus membagi prioritas untuk kehidupan keluarga dan profesionalnya.

Notes:

HAPPY NEW YEARRRRR!!!!!!!!! hehehe.
finally kelar juga nulisnya astaga hiks.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“I did say this part needed to be assessed but no one did this because no one thought this was important, right?” Seungcheol mengarahkan pointer-nya pada layar yang menampilkan data dari departemen miliknya—yang saat ini mayoritas dari mereka terdiam.

“Harus berapa kali sih saya bilang ke kalian kalau misalkan ada request tambahan tuh dikerjakan? Saya ngasih kalian kerjaan tambahan tuh bukan tanpa sebab loh, soalnya saya dapat permintaan pertanggungjawaban dari direksi. Kalau sekarang nggak ada yang kerjain ini assessment, saya harus bilang apa ke BoD? Harus alasan apalagi? Departemen kita tahun kemarin sempet disorot perkara ini, sekarang diulangin lagi—kalian bisa kerja nggak sih sebenarnya?” Ia menghela napasnya, memejamkan matanya sebentar karena merasa bahwa kepalanya menguap. “Saya nggak mau tahu, ini harus selesai Senin, latest saya minta di submit hasil assessment- nya di jam tiga sore. Mau lembur atau gimana saya nggak peduli, pokoknya saya mau selesai. Kemarin sudah saya kasih waktu seminggu juga gak dikerjain.”

Sebenarnya, Seungcheol agak tidak mengerti dengan anggota departemennya yang selalu mengesampingkan detail-detail kecil yang penting; yang seringkali ditanyakan oleh Board of Directors jika meeting quarter tiba. Ia sendiri sudah cukup selektif untuk memilih orang-orang yang ada di dalam departemennya, namun masih saja ada yang belum sesuai dengan standar yang ada di perusahaan tempatnya bekerja—perusahaan miliknya kelak. Entah mungkin ia yang terlalu perfeksionis atau anggota departemennya yang terlalu meremehkan, atau mungkin gabungan keduanya.

Salah satu leader dari tim di sana pun menjawab, “Akan kami kerjakan ya, Pak. Kami mohon maaf sebelumnya karena part tersebut terlewat oleh kami. Saya secara personal akan bertanggung jawab untuk hasil dari assessment- nya, Pak.”

“Saya tuh sebenernya bingung loh, memangnya saya kurang ya komunikasi ke kalian? Sudah saya masukin task ini di Notion, untuk masing-masing divisi. Kalian yang leader nya gak ada yang baca apa gimana? Heran, giliran yang kayak gini kok kompak. Apa kalian mikirnya ini gak penting-penting amat jadinya gak dikerjain? Memang, dibandingkan assessment yang lain ini tuh gak major, tapi bukan berarti BoD tuh diem. Nanti kalau saya present buat hasilnya dan ini ditanyain tapi gak ada datanya sama sekali saya kudu ngeles kayak gimana?” Ia mendecakkan bibirnya sesaat sebelum berucap lagi, “Saya minta hari ini full ngerjain bagian ini since saya tahu project yang urgent lagi nggak ada. Saya gak mau tahu, pokoknya ini harus dijadikan top priority dari semua divisi. Kalau misalkan udah ada progress sore ini, bisa di submit biar bisa langsung saya cek. Pokoknya Senin saya minta data udah bersih.”

Semua yang ada di sana bersamaan menjawab, “Baik, Pak.”

Choi sulung itu mengangguk; masih dengan wajah yang tak menunjukkan keramahan sama sekali. “Let’s end this meeting. You all can go back to your seats.

Dengan itu, berakhir pula meeting dua mingguan—biweekly—yang ia pimpin. Ingin rasanya Seungcheol menyumpahi semua orang-orang itu, namun ia tahu bahwa ia punya beban di pundaknya yang harus ia jaga hingga waktunya tiba nanti. Ia masih berada di ruang meeting besar itu selama beberapa menit, hingga akhirnya ada seseorang yang mengetuk pintunya. Ia menoleh, dan menemukan Mingyu menyembulkan kepalanya di sana.

“Suara lo kedengeran dari luar loh, Bang.” ujar Mingyu yang kemudian menyelonong masuk, dengan segelas jus jeruk dingin di tangannya.

“Kalau bisa teriak anjing mah gue anjing-anjing in semua tuh orang.” gerutunya dengan suara lirih.

“Lagian kenapa sih? Bikin masalah apalagi anak-anak buah lo?”

Seungcheol menghela napasnya sekali lagi. “Masalah tahun kemarin hampir diulangin lagi. Gila aja, Kamis depan kalau gue quarterly sama BoD terus datanya gak ada bisa dipenggal gue.”

Mingyu terkekeh. “Itu gak penting-penting amat sebenernya, cuman kan kalau abis quarter dua gini pasti ditanyain.”

“Makanya! Mana Bapak gue dateng lagi besok quarterly.

Si Kim yang sedang menenggak jusnya itu tersedak batuk. “Lah, Bokap lo dateng, Bang? Mati gue, mana progress departemen gue lagi gak bagus-bagus amat quarter ini.”

“Kemarin bilang sama gue dateng. Makanya gue stres ini, takut kalau diabisin. Masalahnya tuh orang kalau sama anaknya bukan malah digampangin, tapi malah dipersulit. Bisa malah ditelen hidup-hidup gue kalau gak bener.”

Mingyu yang saat ini terlihat sama stresnya pun mengangguk ragu. “Kayaknya cuman Bokap lo doang yang malah bikin anaknya stres padahal calon pewaris.”

“Justru itu. Gue sebenernya bisa ngerti sih point of view dia kayak gimana. Biar nanti kalau misalkan udah waktunya, gue bener-bener siap. Tapi kadang gue ngerasanya dia rada cari-cari kesalahan gue di mana—ya gue sebenernya sih bisa ngerti juga. Ya gitulah, makin stres kalau gue inget tuh orang.”

“Bapak lo sendiri, anjir.”

“Ngerti gue mah.

Setelahnya, Seungcheol membiarkan matanya menerawang ke depan. Kepalanya serasa dikelilingi masalah yang datang bersamaan, berlari ke sana kemari memcari sela-sela untuk dipikirkan. Rasa-rasanya ia butuh untuk melakukan pelarian sesaat dari realita kehidupan sehari-hari yang membuatnya jenuh dan penat. Hingga ia teringat dengan janjinya untuk pergi akhir pekan ini dengan putri semata wayangnya yang bisa diprediksi untuk batal.

Ia tahu ia akan mendapatkan amarah dari versi mininya itu.

 

 

Seungcheol membelokkan mobilnya ke arah rumah sakit yang sedikit banyak sudah lumayan familiar untuknya—bahkan memiliki memori yang tidak cukup baik saat ia bertemu dengan direktur dari bangunan tersebut. Matanya menerawang kosong, menatap ke arah setir mobilnya yang sebenarnya berdiam juga. Di dalam kepalanya terlalu riuh, meminta untuk menjadi prioritas utama. Ingin rasanya ia menempatkan Mima menjadi yang pertama, namun tentu tidak akan bisa meninggalkan tanggung jawabnya dalam bekerja.

Di saat ia masih mengosongkan isi otaknya, ia dikejutkan dengan pintu belakang mobilnya yang terbuka. Terdengar bagaimana senandung kecil dari anak perempuannya yang dibarengi dengan suara orang dewasa yang saat ini terlihat sibuk membetulkan sabuk pengaman dari carseat kecil di sana.

“—HAP! Lalu ditangkap!” ucap Choi Yeeun yang diakhiri dengan tawa renyahnya.

Tak lama, pintu penumpang di samping Seungcheol terbuka dan muncul seseorang yang memberikan senyuman mataharinya yang sedikit menyilaukan. Yoon Jeonghan.

“Selamat sore, Pak Seungcheol!” serunya dengan nada jahil.

Choi sulung itu terkekeh, sejenak melupakan penatnya hari itu. “Jadi makan ramen, ‘kan?”

Jeonghan mengangguk. “Anak aku udah semangat banget minta gyoza. Iya ‘kan, Dedek?”

Di belakang, dengan semangat Mima memekik, “Gyoza let’s go!”

Ucapan Jeonghan yang menyebut Mima anaknya membuat Seungcheol tergelitik—ia merasa kepalang senang sebenarnya—ia semakin terhibur dengan anak perempuannya yang sedang memiliki mood bagus. Berbanding terbalik dengannya beberapa menit yang lalu. Meskipun sekarang, sebuah senyuman tak henti-hentinya ia tampilkan di bibirnya.

Perjalanan menuju restoran Jepang favorit Jeonghan—yang sudah mendapatkan approval dari Seungcheol untuk rasanya—tidak berlangsung lama. Oh, bahkan, beberapa hari lalu Hansol membawa Seungkwan ke sana, dan Choi bungsu itu juga mengatakan hal serupa dengan dirinya.

Nyanyian anak kecil dengan pengucapan yang terkadang belum tepat dan diselingi dengan tawa penumpang di sampingnya itu bahkan benar-benar membuat Seungcheol mengesampingkan pikiran-pikiran yang sedari tadi mengganggunya. Yang ada, sesekali ia menimpali seruan Jeonghan atau bahkan melirik sebentar ke kursi penumpang di belakang untuk melihat bagaimana antusiasme Yeeun yang bahkan sampai membuat rambutnya berterbangan ke mana-mana.

“Anak kamu tadi kamu kasih makan apa kok bisa hyperactive gitu?” tanyanya.

Jeonghan terkekeh. “Gak ada loh, Pak. Tadi di ruangan aku cuman minum air putih sama makan peach, aku irisin. Abis itu tidur deh. Cuman tadi tidurnya pules banget tahu, Cheol. Beneran gak kebangun sama sekali padahal tadi ada pasien aku nangis kenceng banget gara-gara imunisasi.”

“Capek apa ya dia? Tadi pulang bau matahari banget nggak?”

Dokter anak itu terbahak dan mengangguk. “Katanya tadi main sama Nathan, kejar-kejaran gitu.”

Nama itu beberapa kali Mima sebutkan belakangan ini dan Seungcheol kurang menyukainya. Terlebih, anaknya terlihat sangat antusias saat menceritakan soal Nathan karena katanya, Nathan suka membantunya jika membuat sesuatu.

Saat Seungcheol terdiam, ia mendengar lelaki yang ada di sebelahnya berucap, “Aku tuh sebenernya tahu kamu sensi banget kalau denger nama Nathan.”

Ia melirik, dengan alis tebalnya yang berkerut. “Ya terus kalau kamu tahu tuh kenapa malah dibahas deh heran.”

“Abisnya lucu loh, kamu tuh. Kayak Dedek besok pulang ke rumah terus kenalin Nathan jadi pacarnya aja—”

“Han! Sumpah, ya!”

Jeonghan yang saat ini sudah memiringkan badan ke arahnya itu justru tertawa hingga hidungnya berkerut lucu. “Masih jauh, Ayah, masih lama banget loh itu. Jangan parno dulu, ah.”

“Ya tapi tetep aja.”

Tanpa Seungcheol sadari, setelahnya, ia lebih banyak diam dan bahkan dengan wajah yang bisa dibilang tidak begitu ramah. Perasaan dan semua yang terjadi hari itu sebenarnya belum benar-benar ia lupakan. Sehingga ekspresi mukanya yang tidak begitu baik itu dengan refleks ia tunjukkan, dan tidak ayal menyita perhatian dari Jeonghan yang sedari tadi masih memperhatikannya.

Sebuah usapan di lengannya pun Seungcheol rasakan, dibarengi dengan Jeonghan yang berkata, “Kamu kalau ada masalah, nanti jangan dilihatin ke depan Dedek, ya? Kalau nanti mau cerita, gak apa-apa ke aku aja. Tapi Dedek gak boleh tahu kalau ayahnya lagi sepaneng.

Bisa dikatakan, apa yang dilakukan Jeonghan padanya cukup ajaib. Tanpa ia harus memberitahu dan mengeluhkan apa yang ia rasakan saat ini, lelaki Yoon sudah sedikit banyak mengerti. Tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan perasaan dari Seungcheol mudah sekali terbaca, terlebih ketika suasana hatinya tidak enak begini. Namun ada sebuah hal yang membedakan Jeonghan dengan yang lainnya; di mana lelaki yang lebih muda darinya itu dengan mudah bisa membuat situasinya menjadi lebih baik meskipun hanya melakukan hal-hal sepele.

Choi sulung itu berjalan di belakang Jeonghan dan anak perempuannya—yang saat itu mengayunkan gandengan tangan mereka dengan ceria—sembari tersenyum. Pemandangan yang ada di depannya itu Seungcheol harap menjadi salah satu core memory dari gadis kecilnya, di mana kehidupan masa kanak-kanaknya ditemani dengan orang-orang yang dengan tulus berada di sekitarnya.

Acara makan malam itu ia lalui dengan lebih banyak mendengarkan Mima yang berceloteh; menceritakan bagaimana teman-temannya yang bermain dengannya saat siang hari tiba. Oh, tentu nama Nathan tak luput dari indera pendengaran Seungcheol dan itu sedikit membuatnya bergidik ngeri—untuk membayangkan bagaimana masa depan Mima nantinya.

Anak perempuannya itu kemudian berada di dalam gendongannya saat selesai menyelesaikan sesi menyantap makanannya, sambil sesekali mencium pipi sang ayah yang memiliki lesung pipi serupa. Terlihat bagaimana energi putri kecil Seungcheol itu masih dalam keadaan penuh.

“I love you, Ayah!” serunya tiba-tiba sambil memeluk leher ayahnya erat-erat.

“I love you too, Pumpkin. Are you happy today?” tanya Seungcheol.

Anak kecil Choi itu mengangguk dengan semangat. “I’m happy, Ayah! Soalnya hari ini Dedek barengan sama Ayah sama Doctor Bunny.” ujarnya.

Mendengar itu, Seungcheol tertawa kecil. Kemudian tawanya itu disambut dengan dua tangan kecil yang menangkup pipinya, dan bibirnya yang dikecup sekilas. Tapi situasi itu teralih saat Jeonghan yang tiba-tiba muncul di samping kirinya, menempel padanya.

“Kok cuma Ayah yang dikiss? Aku enggak?” tanyanya dengan nada cemburu.

“Tadi ‘kan Dedek udah kiss Doctor Bunny.”

“Lagi dong, ‘kan cuma sekali tadi!”

Seungcheol merasa dihadapkan dalam situasi yang menurutnya menggemaskan, di mana dua orang kesayangannya berebut afeksi—meskipun jujur ia tidak tahu harus cemburu pada siapa. Sedikit banyak, ia kagum pada Jeonghan yang bisa menempatkan dirinya; di mana lelaki itu bisa menjadi sosok yang paling dewasa dan bisa mendengarkan semua keluh kesahnya, atau mungkin keadaan saat ia harus berubah kekanak-kanakan untuk menyamaratakan tindakannya dengan Mima. Tentu, Seungcheol tidak bisa meragukan kemampuan Jeonghan karena hal itu adalah bagian dari profesinya.

“Cepet kiss aku lagi!” seru Jeonghan yang sudah memajukan wajahnya pada Mima yang saat itu terkikik geli.

Dengan sebuah gerakan kilat, justru Seungcheol menyambar dan mengecup pipi kanan Jeonghan yang terpampang di depan wajahnya. Oh, sebuah tindakan impulsif yang sangat ia sesali karena sepersekian detik setelahnya ia mendapati air muka Jeonghan yang terkejut dan juga sebuah pukulan di pundaknya dari Yeeun—yang memberikan tatapan kesal.

“Ayah! You stole mine!” seru gadis kecil itu.

Setelahnya, Mima memberontak dari gendongan Seungcheol dan meminta Jeonghan untuk mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongan sang dokter anak. Choi sulung itu masih terpaku di koordinatnya berdiri, dibarengi dengan Mima yang terlihat kesal dan Jeonghan yang terkikik jahil.

“Sorry…” gumam Seungcheol yang sejujurnya tidak tahu harus ditujukan pada anaknya atau pada Jeonghan.

Yoon pun tergelak, mulai melenggang meninggalkan Seungcheol yang masih saja dengan bodohnya terdiam. “Kita tinggalin Ayah ya, Dek—”

Mima mengangguk dengan semangat. “Iya! Ayah no fun!”

Dan Seungcheol tahu bahwa ia akan menjadi bulan-bulanan dari anak kesayangannya—serta lelaki yang mungkin kesayangannya pula.

 

 

Alis tebal itu berkerut, dengan sorot mata tajam yang masih saja tertuju pada layar komputer jinjing yang masih menyala dengan terangnya. Tidak ia pedulikan jam yang sudah menunjukkan pukul dua pagi. Lagipula baru satu jam lalu ia menyelesaikan panggilan video nya dengan salah satu bawahannya, melakukan pengecekan ulang terhadap pekerjaan yang ia tugaskan di siang sebelumnya. Tampaknya ia benar-benar tidak peduli, karena masih saja aktif di jejaring komunikasi milik kantornya—yang ia sebenarnya sadar itu akan menghantui anggota departemennya semalaman.

Di saat ia masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya, pintu ruang kerja itu terbuka dan menampilkan sosok yang terlihat baru terjaga dari tidurnya. Jeonghan, yang malam itu dilarang pulang ke apartemennya sendiri oleh anak Seungcheol berjalan mendekat dengan rambut panjangnya yang menjalar ke mana-mana serta mata yang setengah terpejam.

“Kamu nggak tidur?” tanyanya dengan suara malas.

“Bentar lagi, masih belum kelar ini. Anak kamu udah tidur?”

Jeonghan menghela napas panjang. “Kocak ih pertanyaannya. Aneh kalau anaknya belum tidur jam segini,” Ia mendudukkan dirinya di salah satu kursi di sudut ruang kerja Choi sulung itu. “Tidur gih. Kamu nanti kudu bangun pagi, nyetir pula.”

Mendengar ucapan Jeonghan baru saja membuat Seungcheol menyandarkan punggungnya, dan menunduk. Tentu, ia teringat kembali dengan janji-janjinya pada Mima yang akan mengajak piknik di hari Sabtu pagi.

“Kalau aku batalin anak kamu marah gak, ya?” tanya Seungcheol ragu.

Sang dokter menoleh, membelalakkan mata lebar-lebar seakan-akan melupakan fakta di mana ia baru saja terjaga. “Tadi sebelum dia tidur aja udah ngomongin besok mau piknik kok kamu malah mau batalin gimana sih?!” seru Jeonghan bersungut-sungut.

“Han… kerjaanku banyak banget…” ujar Seungcheol pasrah.

“Ya terus? Anak kamu juga gak akan peduli kerjaan kamu banyak atau enggak, Ayah. Dia udah antusias banget loh. Kalau emang gak bisa, seharusnya kamu gak usah janji-janji segala ke dia.”

Choi sulung itu terdiam, sambil mengusap wajahnya beberapa kali. “Gimana, ya? Kalau gak aku kerjain nanti Papa bakal ngabisin aku pas meeting quarter nanti…”

“Emang subordinates kamu gak ngerjain? I mean, I think you are in the supervising position, no?”

“Iya, emang bener. But they didn’t do it well. Ini bahkan banyak banget revisinya.”

Jeonghan mengangguk dan Seungcheol bergidik ngeri karena lelaki Yoon itu meliriknya dengan cukup sinis. Jarang sekali Jeonghan memberikan ekspresi seperti itu kecuali jika ia melakukan hal yang mengecewakan—dan ia tahu bahwa ia baru saja melakukannya.

Dokter muda itu berdiri dari tempat duduknya. “Aku ajakin dia pergi aja nanti. Biar dia gak marah sama kamu. Aku bilang kamu gak enak badan biar dia ngerti.”

Jeonghan meninggalkan tempat duduknya dan Seungcheol hanya bisa terdiam. Tentu, lelaki Yoon itu berusaha sebaik mungkin agar Mima tidak merasa kecewa. Ia sendiri paham betul bahwa ia belum melakukan peran orang tua dengan sempurna karena ia sering bertindak begini; mendahulukan kegiatan profesionalnya ketimbang anak perempuannya. Sudah pasti ia tidak bisa menghindari itu karena itu merupakan sebuah resiko yang harus ia tanggung demi masa depannya sendiri. Pun, ia sudah pernah mengalaminya saat masih belia. Tapi satu hal yang saat itu menggelayut di benaknya; bagaimana ia tentu memiliki posisi berbeda dengan dirinya saat masih anak-anak dulu. Karena jika diingat-ingat lagi, Mima hanya punya dirinya. Tidak ada yang lain lagi.

 

 

Seungcheol menuruni anak tangga dengan sedikit tergesa, terlebih saat ia mengetahui jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Pemandangan di mana ruang keluarga dan ruang makan yang sangat sepi menyapanya, hanya meninggalkan Hansol yang duduk di ruang tengah sembari menonton Haikyu dan keripik kentang pedas di tangannya.

“Dedek—ke mana?” tanya Seungcheol dengan napas terengah.

Hansol mengerutkan alisnya. “Kata Kak Han dia udah bilang sama lo kalau mereka pergi berdua. Gimana deh.” jawab Choi bungsu itu dengan alis berkerut skeptikal.

Seungcheol mendudukkan dirinya di samping Hansol lemas, sembari menengadahkan kepalanya. “I messed this up.” gumamnya.

“Yeah, you did. He looked so disappointed this morning.”

“I know, dari semalem.”

Hansol menghentikan jalannya anime yang ia tonton sebelum bertanya, “What did you do, by the way?”

“Gue harusnya ngajakin Mima jalan-jalan hari ini, you know, to the park that she has talked since last month. Terus kerjaan gue lagi banyak banget, Non. Bapak lo bakal dateng meeting padahal biasanya gak pernah.”

Si bungsu mengangguk. “Bawahan lo kagak ada emang?”

“Pertanyaan lo sama kayak Jeonghan deh.”

“Wajar gak sih? Lo udah senior manager kali, Bang. Bukan berarti lo harus abusing posisi lo, tapi gue paham banget karakter lo tuh yang suka gak percaya sama orang soalnya lo takut mereka gak sesuai sama standar lo. Boleh kali itu perfeksionisnya diturunin.”

Seungcheol menghela napas. Apa yang dikatakan adik lelakinya tidak salah sama sekali karena pada dasarnya ia takut jika apa yang dikerjakan oleh anak buahnya tidak sesuai dengan kemauannya—pun itu semua merupakan hasil didikan orang tuanya yang membuat dirinya bersifat perfeksionis begitu.

“Kemarin soalnya mereka gak kerjain permintaan gue, Non. Sama sekali enggak. Abis itu gue marah-marah di ruangan pas biweekly gitu. Ya abis itu mereka ngerjain sih.”

Vernon mengangguk lagi. “Lo meeting sama Papa kapan deh?”

“Kamis. Tapi sebenernya ngikutin jadwal Papa jadi malah ada kemungkinan diundur."

“Masih ada waktu aelah. Don’t be so dense lo tuh, Bang. Toh lo ada waktu pasti buat supervisi kerjaan anak buah lo. Santai dikit ngapa sih hidup, kebiasaan kok apa-apa dibawa mikir terus.”

Tidak ada sebuah bantahan karena Seungcheol tahu betul ia mendapatkan tamparan fakta dari adiknya. Toh Vernon sudah bersamanya sejak kecil, mengetahui setiap perubahan sifat miliknya yang mengikuti bertambahnya usia. Ia tidak bisa memungkiri bahwa dirinya perfeksionis dan sedikit kaku, sehingga banyak sekali orang yang enggan untuk bersinggungan dengannya. Apalagi untuk urusan profesional, Seungcheol terkenal tidak mau tahu asalkan pekerjaannya selesai.

Hadirnya Jeonghan sebenarnya mengubah sedikit dari perspektifnya tentang sebuah hubungan sosial. Mungkin baru kali ini ia dengan mudahnya memberikan akses pada orang asing untuk masuk lebih jauh pada lingkup keluarganya, memberikan Jeonghan kepercayaan besar untuk bersama putri kecilnya yang selama ini membutuhkan sosok yang lebih lembut darinya, dan dapat menyejajarkan tingkat kedewasaan sesuai dengan situasi dan kondisi. Mungkin lagi, proses dan fasenya bersama Jeonghan terlampau cepat jika dibandingkan dengan proses yang semestinya. Namun Seungcheol tidak ambil pusing. Asalkan Jeonghan berada pada halaman yang sama dengannya, ia tidak akan memikirkan hal yang tidak perlu.

“Should I fetch them up? What do you think?”

Vernon mengedikkan bahunya sesaat. “Dunno, you need to ask Kak Han first. In my honest opinion.”

“You think he will be mad?”

“Isn’t he mad already?”

“Non, ah. Gak membantu lo.”

Si bungsu pun terkekeh. “Kata gue tanya dulu, Bang. Jangan ambil keputusan sendiri.”

Dan pada akhirnya, Seungcheol tidak bisa lebih setuju dari itu.

 

 

Seungcheol keluar dari kendaraannya dan menjejaki langkah kakinya ringan, menuju ke lokasi yang sudah Jeonghan beritahukan padanya. Di dalam hatinya, ia masih sangat bersalah karena sudah mengingkari janjinya pada Mima, tapi mau bagaimana lagi, ia harus tidur hingga pukul empat pagi untuk menyelesaikan apa yang harus ia kerjakan.

Langkah Seungcheol terhenti saat ia mendapati Jeonghan yang merebahkan dirinya di atas tikar, dengan Mima yang ada di sampingnya—menunjuk sebuah gambar di sebuah buku yang saat ini dibuka oleh Jeonghan. Anak kecil itu terlihat sangat ceria, dengan rambut yang sudah tidak rapi sama sekali. Bisa dipastikan bahwa si gadis sudah lelah setelah berlarian ke sana kemari.

Tidak pernah muncul di benak Seungcheol sebelumnya, tentang sebuah agenda di mana ia mempercayakan anak semata wayangnya pada orang lain yang bahkan baru ia kenal. Tidak bisa ia pungkiri bahwa ia sangat mempercayai Jeonghan, yang berhasil menyelipkan eksistensinya di sela-sela kehidupannya yang serba monoton. Hingga rasa-rasanya, jika tidak ada Jeonghan di kesehariannya, ia tidak bisa menyeimbangkan apa yang dulu ia anggap baik-baik saja.

“Ayah!”

Teriakan melengking anak perempuannya yang sudah terduduk dan melambaikan tangannya itu membuatnya terkekeh pelan, dibarengi dengan langkahnya yang ia mulai kembali mendekat. Lelaki yang bersama dengan Mima itu juga menegakkan badannya, menatap Seungcheol tanpa ekspresi. Oh, bisa diprediksi bahwa sang dokter anak masih belum memaafkan Seungcheol sepenuhnya.

“Hi, Princess. Have fun?” tanya Ayah Mima, sembari mendudukkan dirinya di samping Jeonghan yang masih terlihat merajuk.

Anak kecil itu mengangguk. “Ayah, okay? Doctor Bunny said you are sick." jawab Yeeun yang kemudian bergerak menuju pelukan ayahnya.

Seungcheol menatap Jeonghan sesaat, penuh pengharapan. “Ayah okay, Pumpkin. Sekarang makanya ke sini,” Alisnya bergerak turun, sembari meraih tangan sang dokter dan berbisik, “Sorry.”

Jeonghan sendiri menghela napasnya, mungkin merasa bahwa ia tidak mungkin menolak perminta maafan dari lelaki yang sekarang masih menatapnya memelas. “Okay.” balasnya pelan.

Sudah persetujuan dari keduanya, bahwa mereka yang berselisih paham tidak akan ditunjukkan di depan Mima. Sudah beberapa kali terjadi, namun mereka akan terlihat baik-baik saja di depan sang anak sehingga Choi kecil itu tetap ceria—karena tidak tahu apa-apa.

“Ayah, Doctor Bunny bought me this!” Mima dengan semangatnya menunjukkan sebuah buku pada sang ayah.

Seungcheol menoleh ke arah Jeonghan. “Dia minta buku lagi?” tanyanya.

Si Yoon mengangguk. “Aku tawarin mainan dia mintanya buku buat dibaca di taman. Ya udah aku beliin. Kebiasaan bacanya kamu ngikut ke dia kayaknya.”

Choi sulung itu kembali menatap anaknya. “Have you said thanks?” tanyanya yang kemudian dijawab dengan sebuah anggukan.

Anak kecil itu kembali menyibukkan diri dengan buku barunya, tidak mempedulikan sekeliling yang sebenarnya lebih menarik untuk anak-anak seusianya. Tapi bagaimana lagi, anak Choi Seungcheol itu memang benar-benar anak Choi Seungcheol; yang punya kebiasaan cukup serius karena suka membaca.

“Kayaknya perlu hati-hati biar matanya gak minus dini.” gumam Seungcheol sambil menyisir rambut anaknya lembut.

Jeonghan mengangguk. “Mana dia kalau udah fokus susah banget diajak ngobrolnya.”

“Kamu notis juga ternyata.”

“Dari awal,” si Yoon kemudian menyodorkan sekotak minuman rasa jeruk pada Seungcheol. “Tapi susah dilarangnya. Dedek kadang batu banget kayak Ayahnya.”

Seungcheol melirik ke arah si dokter dan tersenyum paksa. “Genetisnya gak bisa bohong.”

Setelahnya Jeonghan lebih banyak menceritakan apa yang sudah ia lakukan bersama Mima, bagaimana mereka berdua sudah menjelajah ke sebuah kedai kue dan membeli sepotong kue red velvet yang membuat Seungcheol yakin anaknya akan mengalami sugar rush sebelum tidur malam nanti. Dan juga, Jeonghan bercerita bahwa ia tadi bersama Mima pergi ke sebuah toko di mana ada mainan serta buku-buku lama dijual. Ucapan itu tentu menarik perhatian sang ayah, mengingat Seungcheol sendiri ingin memburu komik-komik lama yang belum ia lengkapi sejak remaja. Oh, tentu saja Jeonghan sempat memutar bola matanya jengah karena ia tahu Choi sulung itu akan antusias begitu.

Hingga tak lama setelahnya, saat mereka masih sibuk berbincang, anak kecil itu menutup bukunya dan beralih ke arah Jeonghan. Ia merentangkan kedua tangannya; meminta untuk dipeluk.

“Kenapa, Sayang?” tanya Jeonghan yang bingung karena aksi Mima yang tiba-tiba.

“Mau bobo…

Jawaban itu tentu membuat Seungcheol terbahak. Meskipun sedikit ada perasaan iri menghinggapi, karena anak gadisnya itu memilih Jeonghan ketimbang dirinya. Tapi hei, ia tidak tahu harus iri pada siapa karena ia ingin dipeluk oleh dokter anak itu juga.

“Pulang aja, yuk?” ajak Seungcheol.

Jeonghan mengangguk. “Kamu boleh rapiin ini semua nggak? Anak kamu gak mau lepasin ini kayaknya. Lagian jadi kompensasi kamu hari ini gak jadi nemenin dari pagi.”

Perkataan Jeonghan yang terdengar datar itu tentu membuat Seungcheol bergidik, mengingat ia menjadi pihak yang bersalah kali ini. Sehingga tanpa penolakan, Choi sulung itu memberikan kunci mobilnya pada Jeonghan—yang meminta untuk masuk mobil terlebih dahulu—dan merapikan barang-barang yang tercecer di sana.

He can’t help but smile though; knowing that he will never win an argument against his loved ones.

 

 

“Terus Abang ke mana, Mas?”

Hansol yang di rumah sendiri—dengan beberapa asisten rumah tangga tentu saja—menjawab pertanyaan ibunya, “Pergi sama Dedek sama Kak Han. Piknik sih harusnya, cuman Abang kerja sampai pagi, makanya Kak Han ngambek terus ajakin Dedek pergi berdua. Terus Abang nyusul deh. Kenapa, Ma?”

“Jeonghan nginep di situ emangnya?”

“Iya, semalem sama Dedek gak dibolehin pulang.”

“Oh… ini tuh Mama lagi jalan ke rumah kalian, pingin ketemu Dedek.

Mata Choi bungsu itu otomatis terbelalak. Bagaimana tidak, saat itu ia masih duduk di depan televisi dan bahkan belum mandi. Jika orang tuanya datang ke rumah dan keadaannya masih seperti itu, ia bisa menjadi bulan-bulanan.

“Mama ke sini sendiri apa sama Papa? Nyetir sendiri?”

“Sama Papa lah, Mas. Ini disetirin sama Pak Yoo, Bentley-nya sekalian mau dicek, jadinya nanti kalau mau pulang dijemput lagi. Toh mumpung Papa gak ke luar negeri terus lagi free juga.

Dan sepersekian detik percakapan itu selesai, Hansol segera menjejakkan kakinya untuk sekadar membersihkan diri. Tentu itu adalah sebuah peristiwa yang jarang sekali terjadi, di mana orang tuanya tanpa kabar datang ke rumah. Meskipun sebenarnya hari itu bukan yang pertama kali.

Hansol sendiri lupa untuk memberitahu kakak lelakinya, karena ia tentu mementingkan dirinya sendiri yang saat itu masih berkostum layaknya seorang homeless—kalau kata pacarnya begitu. Lagipula sore itu ia harus melakukan ritual mandi bebeknya karena tidak mau ketahuan—Papa dan Mamanya sudah tinggal beberapa kilometer saja dari rumahnya.

Ketika ia selesai mandi dan mengganti pakaiannya, ia keluar dan kembali ke ruang tengah. Indra pendengarannya menangkap Pak Jung yang terdengar menyapa tamu yang baru saja masuk—dan ia merasa lega karena sudah menyelesaikan ritualnya tepat saat ia mendengar nama ayahnya dipanggil oleh asisten rumah tangganya itu. Choi bungsu itu tentu berpura-pura biasa saja, dengan camilan di pangkuannya, serta anime yang diputar di layar kaca. Meskipun sebenarnya ia masih berusaha mengatur napas yang sudah memendek karena tergesa.

Hingga tak lama, ia bisa mendengar suara Mamanya. “Abang belum pulang, Mas?” tanya sang Mama yang membuat Hansol berdiri dari tempat duduknya, memeluk sang ibu sesaat.

“Belum. Bentar lagi harusnya. Soalnya Kak Han sama Dedek udah keluar dari pagi.”

Hansol tentu merasa suasana antara dirinya dan sang ibu tidak begitu canggung, mengingat Mamanya sudah sangat berusaha untuk mendekat kedua anaknya. Namun ketika Papanya masuk ke dalam rumah, situasi berubah kaku seakan-akan ada perang dingin antara dirinya dengan sang ayah. Tidak bisa dipungkiri, bahwa Hansol adalah troublemaker yang membuat kakaknya terpengaruh.

“Mas, coba telfon Abang, deh. Bilang kalau Mama sama Papa di rumah. Ini tadi udah Mama bawain ayam goreng kesukaan kamu sama Abang.”

Choi bungsu yang sedari tadi sibuk dengan tontonannya—yang sebenarnya tidak masuk ke dalam otaknya karena adanya Papa di sana—terkesiap. “Oh, oke, Ma. Ini aku coba telfon Kak Han, ya?”

Belum ia menghubungi Jeonghan, pagar depan pun terbuka lagi. Hansol tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi karena tentu, tidak ada mobil orang tuanya di luar karena sedang dibawa sopir pribadi ayahnya untuk pengecekan. Di dalam hati Hansol berharap kakak lelaki dan Jeonghan tidak sedang berdebat.

Meskipun harapan Hansol benar-benar hanya menjadi harapan.

“Ya terus gimana, Ayah? Aku udah ngomong berkali-kali ya, minggu kemarin. Aku udah ingetin Selasa kosongin jadwal buat acara sekolahnya Dedek.” ujar Jeonghan dengan nada kesal.

Hansol menolehkan kepalanya, berusaha melihat apa yang dilakukan kakak lelaki beserta kekasihnya itu lakukan. Dan ia bisa melihat dari kejauhan Jeonghan yang menggendong Yeeun yang tertidur pulas, serta Seungcheol yang mengekor di belakang dengan membawa barang-barang. Wajah kakaknya itu terlihat cukup memelas, seperti yang ia dapati pagi tadi.

“Gimana ya, Han? Apa aku minta Vernon aja, ya?”

“Yang orang tuanya Dedek tuh kamu apa Hansol, sih? Heran loh aku tuh, Yah, berarti aku ngomong sampai berbusa kapan hari nggak kamu dengerin. Kalau kamu minta aku yang dateng, aku gak bisa. Jadwal jaga aku gak bisa diubah tanggal segitu.” jawab Jeonghan masih bersungut-sungut.

“Nanti coba aku atur ulang ya, jadwalku.”

Jeonghan menoleh ke arah Seungcheol dengan tatapan skeptikal. “Harus diusahain pokoknya. Kamu tuh udah bikin aku kesel dua kali dari kemarin. Gak paham lagi—ini buka pintunya, ih. Diem aja kamu di situ. Aku gendong Dedek ini—astaga, Yah.”

Dan ketika pintu terbuka, kedua orang itu—tiga tepatnya karena Mima ada di gendongan Jeonghan—terpaku di tempat. Ada ayah Seungcheol yang memang duduk di ruang depan, dan tentu saja sudah mendengar perdebatan keduanya.

“Seru ini, mah.” gumam Hansol yang kembali memasukkan camilannya ke dalam mulut untuk sekadar menikmati tontonan langsung di hadapannya.

Seungcheol, yang menyadari keberadaan Papanya pun akhirnya menyapa, “Oh, Papa. Baru dateng kah—”

Basa-basi busuk, sejujurnya.

Hansol bisa melihat Jeonghan yang masih terdiam di koordinatnya berdiri, dengan wajah yang memucat. Oh tentu, ia sangat yakin lelaki Yoon itu tidak menyiapkan diri untuk bertemu dengan orang tuanya.

“Iya, baru dateng.” jawab Papanya singkat.

“Sama Mama?”

Ayah Seungcheol pun mengangguk. “Itu Mama di dalem,” Kemudian perhatiannya tertuju pada Jeonghan yang masih menggendong Mima—mirip koala. “Yoon Jeonghan?”

Suara berat itu tentu membuat Jeonghan terkesiap. Dokter muda itu mengangguk dan dengan susah payah membungkukkan badannya—sedikit mengherankan karena Choi kecil tidak terjaga sama sekali.

“Iya, Om. Saya Jeonghan.”

Ayah Seungcheol pun mengangguk. Di luar prediksi orang-orang yang ada di sana, sang Papa justru menghampiri dan tersenyum pada Jeonghan. Tak lupa ia meraih anak kecil yang sedari ada di gendongan lelaki Yoon itu. Tidak bisa dipungkiri bahwa tujuan kedua orang tua Seungcheol datang ke sana untuk gadis kecil itu.

“Just go in, Skyler’s mom is inside.”

Sebuah senyuman kecil terpapar di wajah lelaki Yoon itu, dan Hansol sendiri bisa melihat ada kelegaan di sana. Lagipula Hansol sendiri merasa heran karena Papanya dengan mudahnya melunak. Meskipun mungkin sang ayah bertindak begitu karena melihat cucu kesayangannya ada di sana.

Tak lama, Hansol merasakan ada dorongan pada kepalanya. Sang kakak mendelik dan berbisik kesal padanya.

“Kok lo nggak telfon gue sih, Non!” serunya lirih.

Hansol menoleh sebal. “Gue juga baru ditelfon Mama pas Mama dah masuk area sini, njir. Gue tadi mandi kilat bahkan. Gue mau telfon Kak Han, lo-nya udah dateng.”

Sekali lagi, kepalanya didorong. Meskipun Hansol tahu kakak lelakinya tidak benar-benar marah karena alasannya sendiri juga lebih dari valid. Ia pun melihat Jeonghan yang mengekor di belakang Seungcheol, dengan menarik kecil ujung baju dari Choi sulung itu.

Tak lama, terdengar suara Mamanya. “Loh, Dedek mana?”

Seungcheol menggerakkan kepalanya ke arah di mana Mima berada. “Sama Papa, Ma. Oh iya, Ma, ini Jeonghan.” ujar Skyler sembari menarik Jeonghan ke sampingnya.

Mama Seungcheol itu tertawa kecil. “Iya, tadi Mama denger Jeonghan ngomel-ngomel dari depan.”

Hansol memuntahkan camilannya sedikit karena menahan tawa, meskipun sedetik kemudian ia berusaha baik-baik saja karena mendapat lirikan tajam dari kakak lelakinya.

“Maaf, Tante…” ujar Jeonghan lirih.

Mama Seungcheol itu menggeleng. “Nggak apa-apa, Jeonghan. Abang nih emang kudu ada yang ngomelin biar gak serius-serius banget hidupnya. Keturunan Papanya, gak bisa bohong.”

Seungcheol mendecakkan bibirnya. “Ma, jangan gitu lah…”

“Emang kenyataannya gitu ya, Abang.”

Jeonghan terkekeh. Terlihat bagaimana ia memberanikan diri untuk menggamit lengan Seungcheol dan tersenyum pada si Choi sulung itu.

“Yang penting dianya tahan diomelin terus sih, Tante. Gimana, Pak?”

Seungcheol sendiri menoleh ke arah Jeonghan, terkekeh kecil. Hansol bisa mendapati bagaimana kekasih kakaknya itu mengumpulkan semua keberaniannya untuk melakukan kontak fisik di depan orang tuanya. Hansol sendiri tahu bagaimana Seungcheol tidak sepenuhnya diterima di keluarga Jeonghan meskipun belum benar-benar bertemu. Sedangkan ia tahu bahwa orang tuanya akan dengan senang hati membawa Jeonghan ke keluarganya seperti saat ia mengenalkan Seungkwan beberapa saat lalu.

Choi bungsu itu sempat mengernyit geli saat melihat Seungcheol kemudian meraih tangan Jeonghan dan menggenggamnya, meskipun selebihnya ia lebih banyak iri karena tidak bisa bertemu dengan kekasihnya untuk beberapa saat karena lelaki Boo itu pulang ke rumah orang tuanya untuk beberapa hari ke depan.

“Gosh, I thought a mature couple would be less gross but they are so… eww.” gumamnya yang kemudian meraih ponselnya untuk sekadar mengirimkan pesan untuk kekasihnya, Boo Seungkwan.

 

 

five.

Notes:

twt: @vernonlyone.

Series this work belongs to: