Work Text:
“Jouno..”
“Hm?”
“Kalau demam dari tanggal tiga satu ke tanggal satu begini, disebutnya apa?”
“Kenapa deh?” Jouno mengerutkan alis sambil melahap suapan bubur dari Tecchou.
“Kan biasanya orang sakit di musim ini disebutnya kena demam akhir tahun atau awal tahun.”
“Siapa yang bilang begitu memang?”
“Nggak tahu juga sih…”
Jouno tidak menjawab dan hanya mengarahkan wajahnya ke arah Tecchou yang tengah menyendok bersih mangkuk bubur di tangannya.
Tecchou menyodorkan suapan bubur terakhir kepada Jouno. Si rambut terang itu pun menyambutnya tanpa berkomentar lagi. Tecchou tersenyum sambil membereskan alat makan, ia berujar.
“Aku ambilkan obatnya.”
“Hmm..” Jawab Jouno singkat sambil meminum segelas air yang sedari tadi ia pegang. Dapat didengarnya Tecchou yang berdiri dan berjalan menjauh. Sepertinya mau menyingkirkan alat makan untuk dibersihkan staff asrama.
Dua kawan sekamar ini seharusnya mendapat cuti sehari yang rencananya mereka pakai untuk berjalan-jalan berdua. Makan malam bersama, kemudian menikmati suasana pergantian tahun. Mungkin bisa dilanjutkan dengan menginap di hotel yang jendela nya menghadap timur agar bisa menatap matahari pertama di awal tahun besok paginya.
Tapi apa daya, Jouno mendadak sakit tepat sebelum mereka hendak berangkat keluar.
“Dipikir-pikir demam tahunan ini hebat juga. Anggota Hunting Dogs bisa sampai dibuat sakit.” Tecchou berjalan kembali ke arah ranjang dan duduk tepat di sebelahnya.
‘Masih mau dibahas?’ Jouno membatin.
Tecchou mengulurkan tangan, memberikan obat demam yang kemudian diterima dengan mudahnya oleh Jouno. Lelaki berambut gelap itu bertanya. “Gimana badanmu?”
“Baru juga minum obat.” Jawab Jouno ketus.
“Maksudku habis makan, gimana sekarang.”
“Enakan.”
Tecchou tersenyum. “Besok lagi jangan sampai nggak makan kalaupun lagi sibuk. Kayaknya kamu kurang tidur juga, buat yang ini apa boleh buat. Tapi makan tiga kali sehari itu penting, aku kan juga sudah buatkan bekal.”
“Aduh Tecchou-san coba pikir, siapa yang mau makan makanan kreasimu itu?? Bikin bekal saja isinya bukan makanan buat manusia.”
“Padahal biasa saja tuh bekalku.”
“BIASA SAJA?? Siapa yang makan nasi sama susu kental manis???”
Jouno memijat keningnya, sudah panas demam ditambah pusing mengobrol dengan partnernya itu. Dia bergumam. “Padahal Tecchou-san bisa bikin makanan yang wajar. Kenapa harus ditambah aneh-aneh.”
Tecchou tidak menjawab, ia diam-diam terhibur. Sampai ia menyadari sesuatu menetes dari wajah Jouno yang tengah menunduk.
“Eh?? Jo—”
“...”
“Jouno?? Kamu nggak apa-apa?? Badanmu sakit sekali kah??”
“Ahh…”
“Aduh, aku minta maaf. Besok-besok aku buatkan bekal yang biasa saja.” Tecchou mulai panik.
“Diam dulu.”
“...Oke.”
Jouno mengusap air matanya. “Ahh, kepalaku memang pusing. Tapi aku lebih kesal kita nggak jadi jalan-jalan. Kan jarang bisa quality time berdua..”
‘Ohh’ Tecchou menghela napas di hatinya.
“Oh ya, aku pegang kata-katamu tadi Tecchou-san. Bikin makanan yang wajar saja.”
Akhirnya Tecchou menyunggingkan senyum. “Ahahaha, iya.. Sekarang kamu istirahat. Mungkin besok siang atau sore kita masih bisa keluar.”
Kini Jouno yang terdiam menatap Tecchou. “Dingin nggak sih?” Tanyanya cuek.
Butuh setidaknya 5 detik untuk Tecchou menangkap maksud pertanyaan Jouno. Ia terkekeh lalu bergerak naik ke atas ranjang dan menyusup ke belakang Jouno.
Selimut cadangan yang disiapkan di sebelah bantal ia kenakan seperti jubah sembari melingkarkan lengannya ke depan dan memeluk Jouno. Jouno sendiri langsung bersender nyaman ke dada Tecchou.
Mereka menikmati ketenangan malam akhir tahun itu, berbagi kehangatan.
Jouno menggenggam tangan Tecchou di depannya, memainkan jari-jarinya sambil berkata. “Besok kalau bisa keluar aku mau nonton orang bikin mochi.”
“Hmm?? Kenapa??” Tanya Tecchou.
”Nggak apa-apa sih.. Kepengen aja.”
“...Aku pengen cium kamu.”
“Nggak boleh, nanti ketularan.”
Techhou pun menyelamkan wajah di pundak Jouno, menyesap aroma lelaki itu. Mengecup tengkuknya pelan dan berujar. “Cepat sembuh ya.”
