Actions

Work Header

I.L.Y

Summary:

Wen Junhui, my loved one.
My heart beats only for you.
As time flows like a river, our love remains unwavering and true.
Baby, I’m fallin’ for you.
Promise me you’ll never change or leave my side, for I am incomplete without you.
I will love you endlessly, now and forever, my dearest.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Wen Junhui. 

Nama itu akan selalu terngiang-ngiang di dalam kepalaku.

Seorang cowok yang memiliki banyak bakat dan kemampuan. 

Apa sih yang tidak bisa dia lakukan? Semua hal bisa ia lakukan, termasuk membuatku jatuh padanya berkali-kali lipat jatuhnya daripada saat ia yang katanya terjatuh padaku terlebih dahulu.

 

Waktu itu adalah musim panas dan itu adalah masanya para lulusan pelajar sekolah menengah atas menjadi bulanannya kakak-kakak tingkat di universitas. Termasuk diriku, apalagi aku yang berpenampilan culun, meskipun sebenarnya aku adalah seorang yang sangat tengil. Bagi teman-temanku. Sayangnya, teman-temanku tidak ada di sini bersamaku menjadi support systemku. Mereka berada di barisan fakultas lain.

 

Dulu, badanku sangat kecil bahkan jika saja angin besar datang menghadapku, aku bisa terbawa olehnya kapan saja. Aku benci sekali ketika orang lain menganggapku lemah. Maka dari itu, sikapku sangatlah tengil dan menyebalkan. Akan tetapi, di dunia yang baru ini, mana bisa aku menjadi Wonwoo yang tengil? Bisa-bisa aku malah mendapatkan masalah besar nantinya.

 

Contohnya waktu itu, seorang kakak tingkat memeriksa barang bawaan tiap anak mahasiswa baru, dan memberikan hukuman jika tidak membawanya dengan tepat. Saat menunggu giliranku, aku menceklis semua daftar barang bawaan berkali-kali, rasanya semua sudah aku bawa hingga tetiba ada seorang kakak tingkat lainnya menghampiriku dan menyodorkan sebuah ikat pinggang berwarna hitam dengan ukiran di kepala gespernya. Aku mendongak dan membenarkan posisi kacamataku.

 

“Pakai ini sekarang kalau kamu gak mau kena hukuman,” katanya sambil memasukkan tali ikat pinggang tersebut ke lubang ikat pinggan celanaku. Aku terkesima olehnya. Aku hanya bisa terdiam saja karena bagaimana bisa seorang kakak tingkat justru membantu adik tingkatnya supaya terhindar dari hukuman?

 

“Ah, terima kasih banyak, Kak!” ucapku dengan cekatan setelah ia selesai memasangkan ikat pinggangnya padaku.

“Balikinnya nanti aja kalau udah selesai masa ospek,” katanya lagi.

“Oh, oke, Kak. Hmm, anu, kakak namanya siapa?” 

 

Namun, tidak dijawab olehnya dan justru menggantungkan aku dan memaksakan aku agar mencari tahu tentang dirinya ke teman-teman ospekku.

 

“Hey, kakak yang barusan itu, namanya siapa?” tanyaku ke seorang anak laki-laki dengan mata kecil dan segaris jika ia tersenyum.

“Yang barusan kasih kamu ikat pinggang? Namanya kak Junhui,” jawabnya.

“Ah, kak Junhui. Dia jurusan apa?” tanyaku lagi.

“Kalau dilihat dari warna emblem makaranya sih dia anak FISIP ya,” jawabnya lagi.

“Ooh iya ya dia pakai makara oranye. Thank you, ya! Btw, aku Wonwoo, Sastra Jepang, kamu?”

“Jihoon, Sastra Jepang juga!”

 

Dan begitulah perkenalan singkatku dengan Jihoon, yang sekarang menjadi sahabat terbaikku. Dan, Wen Junhui, yang sekarang menjadi teman hidupku. Ralat. Teman hidup sematiku.

 

Sejak saat itu, aku menjadi sering memerhatikan Wen Junhui hingga akhirnya masa orientasi mahasiswa baru selesai dan kami terpisah. Kampusku dan kampusnya memang bersebelahan, namun itu tidak menjamin kami akan sering bertemu, hingga suatu hari aku melihatnya di kantin sastra.

 

Ia duduk bersama teman-temannya sambil memegang sebuah kaleng minuman susu bersoda. Aku tersenyum saat itu karena seleranya sangat bocah sekali. Menurutku yang pada saat itu seharusnya mahasiswa seleranya juga lebih dewasa dari anak SMA, bukan? Dan ternyata salah. Sampai saat ini pun, minuman favoritnya tidak berubah. Minuman kaleng susu bersoda dengan rasa melon.

 

Sejak pertemuan di kantin itu, entah mengapa pria bernama Wen Junhui itu sering berada di sekitar FIB. Ia sering bersama dengan teman-temannya, terutama dengan anak laki-laki dengan mata seperti hamster. 

 

Suatu hari, aku sedang mengantre di vending machine dan tiba-tiba saja ada yang menepuk kedua pipiku dari belakang. Aku lantas menengok ke belakang dan aku dihadapkan manusia paling tampan yang tingginya sejajar denganku sambil memasang senyum paling manis sedunia. Jujur saja, saat itu kakiku lemas dan membuatku sempoyongan, jika saja orang yang mengantre di depanku tidak sengaja menabrak badanku. Wen Junhui langsung memegang lenganku dan menarikku ke dekatnya, supaya aku bisa menghindari orang yang baru saja menabrakku tanpa sengaja.

 

“Kakak kok di sini? Bukannya kakak anak FISIP?” tanyaku dengan berani. Tentu saja berani karena aku tidak tahu dia kakak tingkat angkatan berapa? Dan bisa-bisanya aku bertanya seperti itu. Lagi-lagi lelaki itu hanya tertawa dan justru memasukkan selembar uang dan menekan tombol minuman yang mau aku pilih. Kemudian, ia ambil minuman yang terjatuh di vending machine itu dan diberikannya padaku.

“Buat aku?” tanyaku lagi. Lagi-lagi gak dijawab.

“Kok tau aku suka ini?” tanyaku lagi belum menyerah.

“Cerewet deh,” katanya sambil mengusak-usak rambutku.

“Gak usah panggil aku kakak. Aku seumuran sama kamu,” katanya yang membuatku terkejut, bahkan bikin aku deg-degan.

“Lah? Kakak kelahiran 96 juga?” ia hanya mengangguk, lalu menjawab, “Soonyoung juga anak 96. Biasa anak aksel waktu sekolah menengah hehehe.”

 

Dan sejak saat itu, kami menjadi sering bertemu bahkan bertukar kontak. Hubungan kami semakin dekat hingga akhirnya kami berpacaran di saat aku menangisi paper yang harus aku submit untuk pertukaran pelajar di musim panas berikutnya. Wen Junhui, yang katanya jatuh lebih dulu daripada aku, menghampiriku ke Jepang dan kami menikmati waktu bersama di sana.

 

Setelah kupikir-pikir, Wen Junhui selalu memberikan usahanya demi hubungan kami. Terlebih lagi ketika aku putus asa tidak mendapatkan pekerjaan, sedangkan Junhui sudah bekerja di perusahaan ternama dan memiliki prospek karir yang menjanjikan. Wen Junhui yang akan selalu memberikan aku semangat dan waktunya meskipun aku tahu bahwa ia juga butuh waktunya sendiri untuk beristirahat.

 

Wen Junhui, aku suka dengan namanya, sangat cocok dengan namaku, Jeon Wonwoo. Iya, kan? Aku suka bagaimana dirinya mengucapkan namaku dan namanya di tengah-tengah banyak orang dan mengikrarkan janji bersama denganku. Lalu, bagaimana ia akhirnya mencium diriku di depan banyak orang, bahkan di depan para sahabat dan keluarganya yang selama ini ia hindari jika sedang berduaan denganku. Katanya, “Mereka cuma boleh lihat kita bermesraan pas kita udah resmi jadi pasusu.” 

 

Kami menikah di Italia dan menetap di sini. Menjalani hidup bersama dengan perasaan yang begitu damai, tanpa tergesa-gesa. Menikmati waktu berdua yang intim, tanpa harus diganggu tetangga. 

 

Wen Junhui, lelaki satu-satunya yang mampu membuatku terjatuh berkali-kali lipat jatuhnya. Ia yang mampu membuatku memohon padanya tiap kali kami berhubungan badan. Rasanya, tidak ada duanya. Tatapannya yang begitu tajam, seakan membelenggu diri ini agar tidak bisa lari dari dekapannya. 

 

“Sayang?” tanyanya di tengah-tengah gempurannya padaku.

“Hngg?” responku.

“Look at me,” pintanya. Aku memaksa mataku untuk membuka kelopaknya dan menatap mata kekasihku. Rasanya sungguh berat, namun aku menyukainya bagaimana Wen Junhui menatapku dari atas.

“Shall we have a child?” tanyanya dengan tatapan yang penuh harapan. Bola matanya yang biasanya dipenuhi tatapan tajam dan menusuk seperti seekor elang, kini berubah menjadi mata seekor anak kucing yang meminta sesuatu ke induknya. Bagaimana aku bisa menolak permintaannya? Jika saja aku bisa mengandung anaknya, aku akan rela menghabiskan waktu 9 bulanku untuk mengandung anaknya. Namun, aku bisa apa? 

“But, I can’t get pregnant, babe,” jawabku.

“Hmmh, just adopt them? Shall we?”

“Ehmmm yesss yesss we can adopt a child,” jawabku dengan tersengal-sengal.

“Just one? I want a son and a daughter, baby,” cerocosnya dengan tetap sambil menumbuk di bawah sana.

“Ahhh, yesss, you can have what you want. Oh, babe, I’m comin’ please faster,”

“Thank you, love.” kecupan kuterima di keningku dan tembakan cinta yang begitu hebat di dalamku.

 

Ya Tuhan, aku sangat mencintai Wen Junhui. Aku mencintainya lebih dari apa pun. Aku mencintainya karena dia adalah Wen Junhui, dan karena ia mencintaiku, seorang Jeon Wonwoo. 

 

Aku sangat menyukai bagaimana Wen Junhui bersikap padaku. Bagaimana ia membelaiku, memberikanku kehangatan, dan mengecupku tiap pagi dan malam hari. Bagaimana ia membangunkanku dengan aroma masakan favoritku dan dirinya, bagaimana ia menyemangati hari-hariku, bagaimana ia memberikan dukungannya padaku tiap kali aku merasa ragu pada diriku sendiri. 

 

Bagaimana ia merawat dan mendidik kedua anak kami, bagaimana ia selalu memberikan seluruh cintanya kepada keluarga kecilnya, bagaimana ia selalu bisa membuatku jatuh berkali-kali tanpa sedikit ku bosan dibuatnya, bagaimana ia selalu memiliki beribu-ribu cara untuk memenangkan hatiku.

 

Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sangat mencintainya. Sayangku, terima kasih telah jatuh cinta kepadaku. Entah bagaimana bisa ia jatuh cinta padaku, tetapi aku yakin bahwa cinta kita adalah cinta sejati. Cinta yang akan kekal abadi hingga kita bereinkarnasi dan saling jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi.











Wen Junhui, my loved one.

My heart beats only for you. 

As time flows like a river, our love remains unwavering and true. 

Baby, I’m fallin’ for you.

Promise me you’ll never change or leave my side, for I am incomplete without you. 

I will love you endlessly, now and forever, my dearest.

 

 

 

Notes:

Inspired by I.L.Y - The Rose

Thank you for reading this <3

Series this work belongs to: