Work Text:
22 Juni 2024
“Selamat pagi, Zee!”
“Pagi!”
“Pagi, Zee! Menang lagi ya?”
“Pagi! Iya hehe,”
“Pagi, Zinan.”
“Pagi juga,”
Sapaan-sapaan terus menerus berdatangan ke satu pemuda yang sedang tersenyum lebar itu. Zinan, atau Zee, merupakan siswa kebanggaan PIS. Murid yang hampir tiap bulan absen untuk keluar kota atau negeri untuk memperjuangkan nama baik sekolah lewat lomba. Kali ini Zee sehabis dari Bandung untuk melakukan lomba matematika di sebuah universitas di sana. Tentu saja Zee menang. Tidak aneh jika pemuda dengan beauty mark di bawah mata itu memberikan oleh-oleh dari kota kembang untuk sekolah.
“Pagi semuanya!” ucap Zee sembari meletakkan tas punggung berwarna biru muda itu di mejanya. Teman-teman yang berada di sekeliling meja itu serentak menolehkan pandangan ke pemuda yang sedang mengeluarkan buku-buku. “Zee!” balas Rayn. “Menang lagi?”
Zee, yang sedang mencari peralatan untuk upacaranya, menoleh ketika mendengar pertanyaan itu. “Hehe iya.”
“Pertanyaan lo berbobot banget deh Ray. Malah aneh kalau Zee gak menang. Eh pernah deh gak menang waktu itu. Kapan ya? Pas… lomba di Jogja gak sih? Atau lomba di Singapur?” tanya Kevin. Zee hanya mengangguk-angguk saja, tidak selamanya dia menang terus kan? “Bukan, lomba di China itu. Persiapan aku gak mateng sama sekali.”
“Nyesel gak?” Tanya Rayn. Zee menggeleng, “Enggak lah. Ngapain? I did my best. Sedih sih. Tapi yang penting bisa masuk CV hahaha.”
“Yeee. CV lo udah penuh banget itu, Zee. Eh ayo ke lapangan. Udah mau mulai.”
. . .
Lapangan, 22 Juni 2024
“Untuk amanat, istirahat di tempat - Gerak!”
“Assalamu’alaikum Wr. Wb. Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan. Selamat Sejahtera bagi kita semua.
Yang saya hormati, guru-guru Planet International School dan staf.
Dan yang saya banggakan, siswa-siswi Planet International School.
Pertama-tama, mari kita panjatkan Puji Syukur —”
“Here we go again. Pak Surya kalau kasih amanat pasti lama banget.”
“Apalagi kemarin Zee sama timnya menang lomba.”
“Setuju.”
“Saya ingin mengucapkan selamat untuk Zinan Arkana yang sudah membawa kembali piala dari lomba yang dilaksanakan di Universitas A, Bandung!”
“Zinan Arkana siapa?” tanya pemuda dengan plester di tulang selangkanya, menutupi tato.
“Lah lo gak tau?”
“Engga? Haruskah gue tau?” balas pemuda itu.
“Zinan Arkan si anak kesayangan guru. Kalau lo masuk sekolah kan lewatin lorong isinya piala kan?”
Pemuda itu mengangguk.
“Setengah isinya punya Zinan. Nah tuh dia. Yang lagi penyerahan piala sama kepala sekolah.”
“Mari semua berikan tepuk tangan yang meriah! Zinan, kamu boleh kembali ke tempat kamu, nak. Saya harap siswa-siswa yang saya banggakan dapat mengikuti langkah Zinan dan menjadi pemenang di bidang kalian masing-masing. Terima kasih.”
“Siap – Gerak!”
. . .
Perpustakaan, istirahat kedua, 22 Juni 2024
Siswa dengan whisker dimple terlihat kebingungan di antara rak-rak buku dengan dua buku di kedua tangannya. Mending ini atau ini sih? Aduh Pak Evans ribet banget. Gue kan gak tau buku mana yang lebih lengkap. Setelah lama menatap kedua buku bolak-balik, Hansel kembali menatap susunan buku di depannya. Atau ada buku yang lebih lengkap lagi di sini? Kenapa harus gue sih. Ya Allah pak. Ada loh Marselo yang pinter, atau Juna dah. Kenapa gue sih. Mana sepi banget nih perpus, gurunya gak ada. Haduh.
“Kamu dari tadi bolak-balik natap buku sama rak terus. Kamu nyari apa sih?”
Buku-buku itu hampir saja mengenai siswa lain. “Eh eh. Sorry ngagetin. Aku liatin dari tadi kamu kayak kebingungan gitu. Jadinya aku mikir buat nyamperin, malah jadi ngagetin. Maaf ya,”
“Sorry sorry, Kak. Gue terlalu larut dalam pikiran gue hahaha,” tawa itu canggung sekali…
“Jadi kamu butuh buku apa? Biar aku bantu cari,” tawar pemuda itu. Hansel berpikir sebentar dan memutuskan untuk menerima tawaran Zinan. Iya, Zinan yang menawari Hansel mencari buku. Zinan juga yang mengagetkan Hansel yang sedang berdebat di pikirannya. “Buku buat pelajaran sejarah, Kak. Pak Evans cuman ngomong buat cari buku yang berkaitan dengan kerajaan aja, tapi gak ngomong buku apa. Kakak tau buku apa yang bagus buat belajar kerajaan?”
Zinan tampak sedang berpikir. Mungkin dia juga gak tau yang mana kali ya… Pak Evans bener-bener ya.
“Kalau ngomongin sejarah kerajaan, bukan di sini tempatnya. Tapi kalau yang dimaksud sama Pak Evans, bukunya tuh yang ini. Bawa aja yang ini. Dulu Pak Evans suruh kelasku pakai buku itu buat belajar, tapi yang lebih lengkap ada di tempat lain. Kalau kamu mau, aku bisa tunjukin.” Zinan menawarkan. Hansel mendengarkan dan berpikir lagi. “Gue bawa yang ini aja, kak. Tapi kalau gue mau buku yang satu lagi, gue cari lo gak apa?”
Zinan tersenyum lembut, wah benar-benar seperti malaikat, dan mengangguk. “Boleh. Oh ya lupa perkenalan. Aku Zinan Arkana, 11 IPA 1. Kelasnya di lantai 2, kelas kedua di kiri setelah tangga ya. Namamu siapa?” Zinan mengulurkan tangannya, ingin berjabat tangan dengan mungkin adik kelasnya.
“Nama gue Hansel Pratama, Kak. 10 IPA 3. Siapa sih yang gak kenal Zinan Arkana, siswa emasnya Planet International School. Baru tadi pagi maju ke depan podium buat ambil piala hahaha.” Hansel membalas jabat tangan Zinan.
“Hahaha. Bukan siswa emas aku tuh. Aku duluan ya, Hansel. Mau ke kantin bentar.”
“Iya, Kak. Makasih ya,” Wah gila… omongan temen-temen gue bener. Dia cakep banget cok. Baik juga. Dah lah mari kita ketemu Pak Evans.
. . .
Gerbang sekolah, 22 Juni 2024
“Zee, dicancel lagi?”
Zinan mengangguk, wajahnya sedikit merengut. “Iya, udah kelima kalinya. Padahal bukan jam rame loh. Kenapa dicancel terus sih? Kalau gak dicancel, pasti jauh banget.”
Kevin dan Timmy hanya tersenyum pasrah, tidak tau bagaimana cara menanggapi keluhan temannya ini. “Zee, gue duluan gapapa? Supir mama udah di depan,” tanya Timmy. Zinan mengangkat wajah dari ponselnya untuk menatap Timmy. Dia mengangguk. “Gapapa kok. Sana cepetan, jangan biarin supir mama kamu nungguin kamu. Gak sopan. Hati-hati yaa. Kevin gimana?”
“Udah deket sih. Lagi di belokan bakery sana,” balas Kevin yang sedang memastikan lokasi jemputannya. “BTW, Rayn mana ya? Kok gak keliatan?” Kevin bertanya. Zinan, yang masih bersungut-sungut mengenai pesanan ojek onlinenya yang tidak kunjung mendapatkan pengemudi yang ideal, menoleh ke Kevin. “Dia kan ada pacar. Sama pacarnya mungkin.”
“Oh. Duluan ya, Zee. Aku doain semoga cepet dapet ojek, atau ya… dapet tumpangan dari anak sini. Siapa tau bisa jadi gebetan, hahaha. Byee.”
“Dih nyebelin. Byee.”
“Loh, Zee? Kok masih di sini?”
Zinan menolehkan pandangan ke arah segerombolan siswa yang baru keluar dari sebuah warung makan dekat sekolah. “Rayn? Aku kira kamu udah pergi. Dicancel terus sama aplikasinya, sekalinya dapet malah jauh banget. Mau pake angkot lagi gak ada uang kecil. Jadinya gitu deh,” jelasnya.
Rayn mengangguk mengerti, kemudian menoleh ke arah kekasih dan teman-teman kekasihnya. “Kalian ada yang bawa motor gak? Selain Ginan ya.”
Ginan, Juan, Hanif, dan Gideon saling melihat. Sepertinya tidak ada dari mereka yang membawa motor. “Gue bawa sih. Tapi lagi nunggu cowo gue, mau pergi abis ini,” atau tidak ada yang bersedia mengantar. “Eh bukannya si Hansel bawa? Dia juga langsung pulang kan.”
“Coba tanya dulu gak sih?” salah satu dari mereka, tepatnya Juan, langsung menghubungi Hansel yang sedang piket dengan Marsello. “Halo? Kenapa? Cowo lo masih sama gue, tinggal buang sampah doang kok. Sabar ya.” Hansel menjawab.
“Eh bukan. Hans, lo abis ini kemana dulu gak?” Tanya Juan.
“Enggak, paling beli makan doang. Abis itu ke rumah. Kenapa?”
“Ohh. Ada yang mau nebeng, boleh gak?”
“Boleh-boleh aja sih. Siapa?”
“Ah banyak nanya. Buruan ke sini aja dah. Jangan lupa bawa cowo gue yak.” Telepon itu langsung terputus sepihak. Juan menoleh ke orang yang membutuhkan tebengan. “Sebentar ya, Kak. Sopirnya lagi buang sampah bentar.”
Orang yang membutuhkan tebengan itu hanya terdiam seakan tidak mengerti maksud Juan. “Hah? Aku?” tanyanya, menunjuk diri sendiri. “Sopir apa? Kan ada ojek online? Emang aku butuh sopir?” tambahnya yang makin tidak mengerti situasi.
Ginan, Hanif, dan Gideon tersenyum gemas ke arah kakak kelas mereka. Rayn hanya tersenyum maklum. Temannya ini sangat amat… apa ya polos? Ya begitu lah Zinan Arkana. “Ju, nih cowo lo gue balikin. Siapa yang butuh tebengan?”
“Speak of the devil, sopir lo dah dateng kak. Hans, Kak Zee butuh tumpangan. Bisakan?”
“Ehhh gausa gausa.”
“Oh, Kak Zee yang mau nebeng? Bentar ya Kak, aku ambil motornya dulu.”
“Eh eh. Ha– bentar. Ish.” Terlambat. Hansel sudah berlari ke arah parkiran motor. Zinan merengut, hendak mengeluh ke satu-satunya teman di sana. “Udahlah, Zee. Terima aja, toh Hanselnya juga mau kok. Kalau gak, nanti sampai di rumah, kamu kasih ongkos ke Hansel, gimana?” Rayn langsung memberikan idenya ketika melihat raut muka Zinan yang ingin mengeluh. Zinan ini… sangat tidak suka merepotkan orang lain. Menurutnya, jika dia bisa sendiri, kenapa harus dibantu.
“Kenapa sih kalian gak nanya aku dulu? Kan gak enak sama Hanselnya. Siapa tau dia buru-buru, atau dianya ada keperluan lain.”
“Aman, Kak. Hansel bilang cuma beli makan doang kok. Daripada nunggu ojek, lama kan ya. Mana dicancel terus, Kak. Mending ikutin Kak Rayn aja.” Jangan tanyakan bagaimana raut wajah Zinan sekarang, kalian akan tertawa gemas.
“Yuk, Kak. Helm aku kakak pake aja.” ucap Hansel yang sudah datang dengan motornya sembira menyerahkan helm ke Zinan. Zinan hanya terdiam melihat Hansel, dia tidak melamun kok. “Kok diem, Kak?”
“Kamu gapapa?”
Hansel yang melongo. “Gapapa kenapa? Bukannya aku yang harusnya nanya Kakak? Kakak gapapa?”
Kali ini Zinan yang melongo. “Aku kenapa?” Zinan bingung. Hansel bingung. Semua bingung. Rayn? Dia ingin sekali tertawa. Temannya ini… benar-benar sulit berteman dengan orang baru ya. Oke, itu cerita untuk lain waktu saja.
“Oke oke daripada lama di sini. Mending Zee cepet pake helm Hansel terus pulang ya. Zee, Hansel udah baik banget ke kamu loh, mau anterin pulang. Masa iya kamu tolak terus. Mending kamu cepetan naik, supaya Hansel juga cepet pulang. Hansel, hati-hati ya di jalan. Yuk ah Zee.” Baiklah, kali ini biar Rayn yang menjadi pencair suasana dulu. Suasana yang sempat terhenti kembali menunjukkan tanda-tanda kehidupan lagi. Zinan akhirnya meraih helm dari tangan Hansel dan memakainya.
Zinan memutuskan untuk bertanya sekali lagi ke Hansel. “Gapapa?”
Hansel merasa gemas sekali dengan kakak kelasnya ini. “Kalau maksud Kakak gapapa anterin Kakak pulang, aku gapapa. Tapi kalau maksud Kakak gapapa Kakaknya lama, akunya gak gapapa. Ayo, Kak, naik.”
Zinan, yang masih ragu untuk naik, akhirnya memutuskan untuk nebeng adik kelasnya itu. “Duluan ya, temen-temen,” ucap Zinan sambil melambaikan tangannya ke arah teman-teman di sana. Mereka membalas lambaian itu seiring motor Hansel melaju ke jalan raya.
“Aku mau beli makan dulu, Kak. Gapapa?” tanya Hansel, agak besar agar terdengar. Zinan memajukan tubuhnya seraya membalas pertanyaan Hansel. “Gapapa. Aku ikut kamu aja,”
Baiklah, itu cue Hansel untuk melajukan motor ke arah restoran makan yang ingin dia kunjungi. “Kakak mau makan?” ucap Hansel di depan restoran. Zinan menggeleng, “Engga, kamu aja. Aku tunggu di bangku itu ya!”
Hansel mengangguk dan masuk untuk membeli makanan. Tidak, dia tidak akan membelikan Zinan makanan jika Zinan tidak ingin. Mereka tidak sedekat itu. “Yuk, Kak.” Lalu mereka berangkat menuju rumah Zinan.
“Di sini, Kak?” Hansel merasakan anggukan kepala dari Zinan. Dia memarkirkan motornya di sisi rumah dan membiarkan Zinan menggunakan bahunya sebagai tumpuan untuk turun. “Makasih ya, Hansel. Maaf banget ngerepotin. Ini ada 20 ribu buat kamu, anggep aja ongkos bensin ya. Makasih banyak, Hansel. Aku masuk duluan yaa.” ucap Zinan sembari memberikan helm Hansel yang dia gunakan, kemudian berlari masuk ke dalam rumah.
Lucu banget kakak kelas gue.
. . .
Perpustakaan, 23 Juni 2024
Siapa yang ngasih ide kalau tugas cari buku di perpus harus dilimpahkan ke seorang Hansel Pratama yang sangat amat alergi buku.
Kali ini bukan Pak Evans yang memberikan tugas itu ke Hansel. “Nak Hansel, tolong ambilkan buku kamus ya, nak.” ucap Bu Kris , sang guru bahasa inggris. Ini yang ngide gue jadi tukang ambil buku siapa anjir!?
“Harusnya segini cukup kan? Murid kelas ada 28, disuruhnya berempat berempat. Berarti tujuh kamus aja kan? Yaudahlah segini aja, kalau kurang baru tambah. Eh? Sendirian aja, kak?”
Zinan yang saat itu sedang berkutik dengan buku novel memalingkan pandangan ke arah adik kelasnya yang membawa tumpukan kamus. “Kok kamu bawa kamus banyak banget?” Tanyanya penasaran. “EH Aduh aduh aduh. Sini sini, taro di sini aja.” Hansel tertawa malu, dirinya kesulitan menaruh tumpukan kamus keatas meja. “Gak tau, Kak. Tiba-tiba Bu Kris nyuruh aku ke perpus sendirian. Padahal bisa ya PJnya yang ambil. Kok malah aku terus yang disuruh,” keluhnya.
“Kakak lagi apa?” Hansel penasaran karena ini pertama kalinya dia melihat Zinan tanpa buku pelajaran atau buku latihannya. Zinan menoleh ke arah pandangan Hansel, itu buku yang sedang ia baca. “Lagi baca?”
“Iya… baca apa, Kak.” Tanyanya sambil duduk di hadapan Zinan. Zinan juga kembali duduk. “Oh ini Maze Runner. Iseng aja sih,”
“Kakak suka cerita Maze Runner?”
“Engga terlalu sih. Aku jarang baca buku, lebih sering main musik.” jelas Zinan yang langsung kembali ke kegiatan membacanya. Sedangkan Hansel? Oh jangan tanya dia sedang apa. Saat ini, dia sedang mengamati wajah sang kakak kelas. Gue baru tau kak Zee punya tahi lalat di wajah, manis. Eh? Ngomong apa sih gue ini, baru juga kenal kemaren. Hansel larut dalam lamunannya.
“–Sel? Hansel?”
“Eh iya. Kenapa kak?”
“Udah bel. Ayo balik ke kelas,”
“O-oh ayo,” Jadi gue ngabisin waktu 15 menit ngelamunin Kak Zee doang? Freak banget gue deh. “Kak, kakak sering di perpus ya kalau istirahat gini? Aku ketemu mulu tiap istirahat di sini,”
“Eum… ga sering sih. Kan masih awal semester, jadinya masih senggang gitu buat ke perpus. Biasanya kalau udah tengah semester atau ya bulan kedua semester deh, aku banyakan di kelas. Belajar buat ulangan gitu-gitu.” Hansel mengangguk mengerti dan keheningan kembali melingkupi mereka berdua. Oke ini cukup canggung.
. . .
“Zee, hujan Zee…ojek mana mau ambil orderan. Nunggu di kelas aja yuk,” Jam 16.30 merupakan jam pulang sekolah Planet International School. Dan kebetulan hujan.
“Huum. Mau sekalian selesaiin PR mat minat? Daripada gabut di kelas,” Zinan menawarkan. Tidak, teman-temannya itu tidak menggunakannya sebagai contekan. Mereka belajar bersama-sama agar tidak memalukan nama baik Zinan, katanya begitu.
“Ayo deh. Gue sekalian mau nanya soal persamaan trigono. Masih ga ngerti gue,” ucap Timmy sembari mengeluarkan buku matematika minat.
“Kevin sama Rayn ikut gak?” Zinan bertanya. Keduanya mengangguk dan ikut mengeluarkan buku-buku yang diperlukan.
Suasana kelas yang sepi, sekolah yang mulai sunyi, dan suara air hujan yang menyentuh tanah membuat kondisi kelas semakin nyaman, menurut Zinan, Rayn, Kevin, dan Timmy. Dengan menggunakan metode 30-10, mereka mampu mengerjakan tugas mereka dengan cepat. Hanya beberapa nomor lagi maka mereka akan selesai dengan tugas mereka. Sampai…
“Rayn sayanggg, aku cariin loh. Aku kira kamu nungguin aku di lobi kayak biasanya. Aku tungguin kok gak dateng-dateng. Yaudah aku tungguin lagi kirain ada kerja kelompok atau apa gitu. Terus aku– eh? Lagi nugas ya? Sorry ganggu hehe. Nyari Rayn.”
Keempat siswa kelas 11 menengok secara bersamaan. Di pintu kelas, ada pacar Rayn, Ginandra dan teman-temannya. “Loh? Emang aku ga kabarin kamu?” tanya Rayn yang langsung membuka roomchatdengan sang pacar. “Iya deh. Lupa ngabarin hahaha.” tawanya.
Ginan hanya menggelengkan kepala dan menghampiri Rayn, dia penasaran apa yang membuat Rayn begitu sibuk hingga lupa mengabarinya. Teman-teman Ginan pun menghampiri keempat siswa itu. Masing-masing menduduki bangku sekitar mereka. “Lagi apa sih? Serius banget. Udah mau jam 6 loh.”
“Shhh diem deh. Ini lagi ngerjain PR matmin. Kamu sama yang lain tenang dulu ya, plis. Di pojok kelas aja sana,” suruh Rayn. Ginan dan teman-temannya mengangguk mengerti, lalu berlalu ke pojok kelas untuk bermain. Sebenarnya mereka tidak perlu menunggu sih, Ginan juga gapapa ditinggal, tapi ada rasa ingin menunggu keempat siswa kelas 11 itu yang mengganggu mereka.
“Zee, ini kenapa bisa tiba-tiba kosekan x jadi 1 per sin x.”
“Inget identitas trigono coba.”
“Zee, ini kan udah diganti biar bisa dicoret. Kok tetep gak bisa?”
“Nomor berapa? Oh ini. Ini jangan dicoret, tapi dikali aja sama cos A sin A.”
“Eh Zee, ini bener gak sih? Gak nemu hasilnya.”
“Hah? Mana mana? Astaga ini kenapa kamu tulis 1 coba. Kan harusnya akar 2 per 3, bukan 1 per 3.”
“Zee…”
“Apa sih ya Allah. Dicek duluuu. Teliti lagi coba,” Zee merasa gemas dengan temannya ini. Karena sedari tadi, Kevin selalu bertanya hal-hal yang kalau saja Kevin lebih teliti, Kevin akan tau kesalahannya dimana.
“Zee, kamu udah selesai belom? Mau cocokin jawaban,” pinta Rayn. “Eh kok cepet banget kalian? Tunggu weh. 1 nomor lagi!!” Kevin panik. Memang diantara berempat Kevin yang cukup kesulitan di bidang akademik. Bukan, dia tidak bodoh. Bahkan dari 32 siswa di kelas, Kevin berhasil meraih peringkat 12, pintar bukan? Teman-temannya saja yang terlalu pintar, huft.
“Udah, Ray. Nih. Kalau aku ada salah, lingkarin aja yaa. Biar di rumah aja di benerinnya.” Rayn mengangguk dan mulai mencocokan jawaban bersama dengan Timmy yang sudah selesai.
“Seng, udahan belom? Ujannya kayaknya makin deres.” Ginan bertanya. Rayn melihat ke arah pintu kelas. Benar, langit tidak ada tanda-tanda ingin berhenti menuangkan air ke bumi. Dia saling menatap dengan temannya, kemudian mereka mencapai kesepakatan jika sesi belajar bersama hari ini sudah cukup. “Udah kok. Zee mau numpang aku aja? Ginan hari ini bawa mobil kok.” tawar Rayn. Zinan menggelengkan kepala mereka. Tidak enak dengan sepasang sejoli ini.
“Engga usah, Ray. Kamu sama Ginan duluan aja. Aku nanti pesen gocar aja. Timmy sama Kevin gimana?”
“Pak Trisno udah di bawah. Aku duluan yaa,” pamit Timmy. “Huum, sama. Pak Wisnu udah nungguin. Bye bye!”
“Zee mau aku tungguin?”
“Gak usah, Ray. Sana balik cepet, takut makin deras.”
“Hoi! Kalian gak pulang?” Kali ini Ginan bertanya ke teman-temannya yang terlihat nyaman di pojok kelas. “Udah selesai?” Ginan mengangguk. “Oh yaudah ayo pulang.”
. . .
Zinan sendirian di lobi sekolah. Kenapa sih kalau hujan gak ada mobil yang ingin pick up, padahal kan hujan orang-orang lebih milih mobil ya. Harganya juga naik… sebel banget ish. Zinan sendirian di lobi sekolah. Tidak ada taksi online yang mengambil orderan Zinan. Untung masih ada pak satpam yang berjaga di sekolah. Jika tidak Zinan rasa dia akan menangis karena frustasi dengan keadaannya.
“Kak? Belom dapet juga?”
“Wak! Astaga ih! Kamu tuh bisa gak sih gak ngagetin!?”
“Maaf maaf, Kak. Udah dapet belom itu?”
“Belom ihh. Kamu sendiri gak pulang?”
“Tadi sih udah nyampe perempatan sana, Kak. Tapi tupperware ketinggalan. Jadi puter balik. Eh nemu Kakak di sini. Mau pulang bareng gak, Kak? Aku bawa mobil.”
“Gak usah, Hansel. Gak enak ngerepotin mulu.” Iya, itu Hansel. Hansel yang kemarin mengantar Zinan kembali ke rumah dengan selamat. Hansel yang menemani Zinan membaca di perpustakaan tadi siang. Dan Hansel yang dibantu Zinan mencari buku sejarah untuk Pak Evans.
“Gak repot, Kak. Tau gak sih, ternyata rumah kita beda RT doang, Kak. Tetanggaan kita loh. Udah ayo ah. Kali ini aku maksa, Kak Zinan,” ucap Hansel yang langsung menaruh jaket ke atas kepala Zinan dan menariknya ke arah parkiran. Boleh dicatat jika parkiran berada di ruang terbuka dan kondisinya sedang hujan deras.
Perjalanan mereka kali ini tidak begitu canggung karena Hansel sibuk menceritakan kisah-kisahnya di kelas. “Kak, tau gak sih abis aku kasih buku-bukunya ke Pak Evans. Beliau malah bingung sama pilihanku. Iya sih, beliau gak kasih tau buku apa yang disuruh. Pak Evans malah kaget aku bisa tau yang dia butuhin apa. Kak Zee kok bisa tau apa yang dimau sama Pak Evans sih? Oh juga kak. Kita tadi ketemu kan di perpus. Nah itu aku disuruh sama Bu Kris buat ambil kamus, mana banyak banget. Padahal kan ada penanggung jawabnya ya. Minimal mah aku dikasih temen gitu biar bebanku ga gitu berat. Lah ini aku aja sendirian. Kak, ih sebel banget deh. Siapa sih yang ngide kalau aku adalah petugas ngambil buku di perpus? Aku? Aku banget nih? Terus ya, Kak. Ih sebel banget deh. Bu Yinan bawel banget astaga…” Biarkan cerita Hansel hanya didengar oleh Zinan seorang karena aku yakin kamu tidak sanggup mendengarnya.
Zinan hanya mengangguk mendengarkan cerita-cerita Hansel, terkadang dia memberikan respons seperti iya, oh ya, ih aneh banget, dan lain-lain. Suasana di mobil saat itu hangat. Zinan suka dengan hangat saat ini.
“Kalau Kak Zee? Ada cerita tentang hari ini?” Tanya Hansel, baru menyadari jika dia terlalu banyak bicara. “Engga ada, Hansel. Kamu cerita lagi aja. Lanjutin itu yang soal adikmu mau nitip makanan tapi kamunya udah deket sama rumah. Akhirnya mamamu suruh kamu beliin aja dengan iming-iming duit jajan ditambah,”
“Serius gak ada, Kak? Kak Zee gak bosen denger aku cerita?” Zinan menggeleng dan tersenyum, “Engga ih. Kalau ada cerita, aku ceritain deh. Janji.”
“Ohh okei. Jadi Kak, aku tuh nanya Alice kan dia mau makan apa biar sekali jalan gitu–”
Sepanjang jalan, mobil diisi oleh cerita-cerita random Hansel. Tidak terasa jika sudah 30 menit mereka berkendara. “Udah nyampe deh, Kak. Makasih ya Kak udah dengerin cerita aku, meski agak random. Lain kali Kakak dong yang cerita-cerita. Hahaha,” ucap Hansel setelah memberhentikan mobil di depan rumah Zinan.
Zinan tertawa. Malam ini dia senang, Hansel mengerti jika dia tidak ingin bercerita. Hansel paham jika lebih baik dia tidak dipaksa, malah Hansel dengan senang bercerita mengenai kesehariannya. “Makasih ya, Hansel. Lain kali kamu aja yang cerita, aku gak tau mau cerita apa. Aku seneng kok dengerin kamu cerita. Dadah Hansel, hati-hati di jalan yaa. Jalan masih licin,” pamit Zinan sambil melambaikan tangan kecil sebelum berlari masuk ke rumah guna menghindari hujan yang masih turun.
Hansel tersenyum, lebar sekali. Oh astaga, kenapa dia baru tau ada kakak kelasnya yang selucu ini. Kenapa tidak ada yang memberi tahunya jika ada sesosok yang sangat amat lucu di sekolahnya. Sepertinya dia jatuh pada sang kakak kelas.
. . .
Perpustakaan, 26 Juni 2024.
Hansel berada di perpustakaan. Tidak, kali ini dia tidak diminta untuk mengambil buku oleh guru-guru. Dia sudah protes mengenai itu ke guru yang awalnya meminta dia untuk memilih penanggung jawab saja yang mengambilnya. Kali ini dia sedang berada dalam misi untuk melihat kakak kelas yang lucu itu. Sudah 3 hari tidak ngobrol terasa ada yang kurang di kehidupan sehari-hari Hansel. Oke itu berlebihan.
Dalam 3 hari itu, kakak kelasnya sama sekali tidak terlihat dimana pun. Kantin, kelas, lapangan, dimana pun Hansel mencari. Iya sih, Hansel tidak mencarinya di perpustakaan karena dia tidak ingin terlihat mengejar sang kakak kelas. Dia juga tidak ingin temannya tau dia naksir kakak kelas yang lucu itu.
Ketemu. Kakak kelas yang lucu itu sedang duduk dan mengerjakan buku latihan. “Halo, kakak lucu! Sedang apa, Kak?” tanya Hansel yang menempati kursi di depan Zinan. Zinan mengalihkan pandangan dari soal-soal di depannya. Zinan kaget melihat adik kelasnya duduk di hadapannya. “Lagi ngerjain soal latihan. Kamu nyari buku lagi?”
Hansel terkekeh, senyumnya makin lebar. “Engga dong! Aku udah protes sama gurunya buat nyuruh penanggung jawab matpel aja yang ambil. Enak aja aku terus yang disuruh, emang aku penunggu perpus kah.”
Zinan makin bingung, “Terus kenapa ke perpus?”
“Buat lihat kakak lucu! Udah 2 hari aku gak ketemu kakak. Jadinya aku cari deh. Kakak lanjut kerjain soal aja. Aku mau lihat-lihat buku novel dulu,”
Zinan hanya mengangguk. Jujur dia tidak mengerti apa yang ada dipikiran Hansel. Untuk apa melihat dirinya? Yasudahlah biarkan saja dia.
Selama 20 menit, tidak ada dari mereka yang berbicara. Zinan yang fokus dengan soal latihannya dan Hansel yang fokus dengan buku novelnya. Zinan merasa aneh dengan situasi ini. Dirinya memang tidak pandai berkomunikasi dengan orang lain, bahkan teman-temannya yang selalu mencari topik jika berbicara dengannya. Ini aneh, tapi lebih aneh lagi Zinan yang merasa nyaman dengan kondisi aneh ini.
Banyak pertanyaan di otak Zinan yang tidak dapat Zinan jawab. Zinan yang adalah seseorang dengan keahlian di ilmu pasti dibuat bingung dengan situasi tidak pasti ini. Saat ini, dia sudah menyelesaikan soal-soal yang ada. Pemuda di hadapannya ini fokus dengan novelnya, meski terlihat jika dia tidak terbiasa membaca novel, sepertinya. Zinan hanya berasumsi.
“Eum… Hansel?”
“Hum? Kenapa Kak? Udah mau balik?” Hansel menutup bukunya. Terlalu cepat jika Zinan boleh berkata. Seolah-olah Hansel tidak sabar untuk menutup buku itu sedari tadi. Zinan mengangguk. Dia menunggu Hansel merapikan barang-barangnya.
“Hansel, kayaknya gak suka baca ya? Hansel hobinya apa?” Oh Zinan merasa aneh. Senyuman Hansel semakin melebar. “Aku orangnya lebih ke non akademis, Kak. Biasanya aku suka main basket atau gak futsal. Tapi setiap weekend nyempetin buat berenang sih, Kak. Aku juga ikut ekskul basket, tapi kadang diminta main buat tim futsal sekolah. Eh! Tapi aku suka kok di perpus!! Ada Kak Zee hehehe.” jelas Hansel seraya berjalan keluar perpustakaan.
“Ada aku?” Zinan bingung. Hansel tidak menjawabnya dan hanya terkekeh dengan senyum khasnya yang sangat lebar itu. “Hehehe. Kakak nanti pulang naik apa?”
“Ojek online,”
“Kalau aku tawarin motorku, kakak terima gak?”
“Hah? Kenapa?”
“Ya gapapa. Terima ya kak?”
“Iya, boleh.” Tolong jangan tanya keadaan Hansel sekarang. Pipi Zinan pegal hanya melihat Hansel dengan senyumannya yang semakin lebar.
. . .
Kelas 11 IPA 1, 27 Juni 2024
“Halo, Kakak-kakak sekalian! Mau tanya ada yang lihat Kakak Zinan?”
“Tuh di pojok kelas.”
Lobi sekolah, 27 Juni 2024
“Halo, Kakak Zinan yang lucu! Sudah siap untuk pulang ke rumah?”
“Iya udah, Hansel.”
Perpustakaan, 28 Juni 2024
“Halo, Kakak Zee! Sedang baca buku apa itu?”
“Halo, Hansel. Ini lagi baca buku Sejarah Dunia yang Disembunyikan.”
Begitulah keseharian mereka. Menghabiskan waktu bersama selama istirahat, kadang Hansel akan menghampiri Zinan di kelas jika dia tidak menemukan kakak lucunya di perpustakaan dan mendengarkan obrolan teman-teman kakak lucunya. Kadang juga Hansel akan bercerita mengenai hal-hal yang dia lakukan ke kakak lucunya jika Hansel menemukan Zinan di perpustakaan. Jadwal mereka untuk pulang bersama juga tidak terlewatkan, bahkan teman-teman keduanya sudah tidak aneh jika menemukan Hansel menunggu Zinan di lobi sekolah, iya lobi sekolah. Hansel tidak ingin Zinan berjalan ke parkiran sekolah panas-panasan.
Tidak jarang pula mereka menepi sebentar untuk membeli makan di restoran pinggir jalan. Semuanya terasa asing, tapi Zinan tidak mengeluh, ia menyukainya. Semuanya berjalan seperti mereka sudah melakukan ini selama bertahun-tahun. Hansel yang bercerita dan Zinan yang mendengarkan. Tidak pernah Zinan yang bercerita dan Hansel yang mendengarkan.
Terkadang Zinan merasa bersalah jika Hansel meminta dirinya untuk bercerita. Zinan hanya tidak tau apa yang harus ia ceritakan, Zinan terlalu terbiasa untuk menjadi pendengar dan bukan pembicara. Zinan harap Hansel tidak apa dengan itu.
. . .
“Zee, Hansel suka sama lo ya?” Tanya Kevin. Saat ini, Zinan, Rayn, Timmy, dan Kevin sedang mengerjakan tugas prakarya di kelas. Pertanyaan Kevin tidak salah karena Rayn dan Timmy juga penasaran dengan hal itu. Sudah 3 bulan Zinan dan Hansel dekat. Setiap hari pulang bersama, bahkan kadang kala Hansel menunggu Zinan saat Zinan ada kerja kelompok di sekolah.
“Eh?” Zinan kaget, tentu saja. Memang Zinan memiliki perasaan suka kepada adik kelasnya itu, tapi apakah perasaan itu berbalik atau tidak, dia tidak tau.
. . .
“Sel, lo suka sama Kak Zee?” Tanya Juan. Berbeda dengan keempat siswa kelas 11, Hansel, Gideon, Hanif, Marselo, Ginandra, dan Juan saat ini berada di tribun lapangan basket indoor sekolah. Gideon dan Hanif mengangguk-angguk dengan semangat. “Bener! Bener! Bener! Lo suka Kak Zee ya?” tambah Hanif.
Kelima siswa kelas 10 menatap Hansel dengan lekat, menunggu jawaban dari pemuda dengan plester tato itu. Namun, yang mereka dapat hanyalah tawa malu. Hansel menggaruk tengkuk yang tiba-tiba terasa gatal. “Ketauan ya?”
“Iyalah anjing! Orang gila mana yang tiap hari nganterin orang pulang terus ga dibayar, selain orang yang jatuh cinta?!” tukas Ginandra.
“Terus terus Kak Zee gimana?” Tanya Gideon. Juan dan Hanif mengangguk. Tatapan Hansel melayang ke arah bola basket yang sedang ia pegang. Bagaimana dengan Kak Zee? Bagaimana dengan perasaan Zinan? Entahlah. Hansel juga tidak tahu. Baginya, selama Hansel tidak diusir oleh Zinan, Hansel tidak apa-apa.
“Eh menurut gue, Kak Zee suka sama lo juga tau!”
“Hah? Menurut gue, malah Kak Zee gak suka. Dia cuman gak enak buat ngusir Hansel.”
“Enak aja! Kak Zee orangnya gitu-gitu tegaan tau! Fix percaya sama gue, Sel. Kak Zee suka sama lo!”
“Apaan anjir. Gini deh. Hans, dia terbuka gak sama lo? Dia demen cerita-cerita gak sama lo?”
Tidak. Zinan tidak pernah bercerita ke Hansel.
“Kan! Kan! Kan! Dia aja gak terbuka sama Hansel, gimana ceritanya dia suka sama Hansel?”
“Ish Kak Zee orangnya gak gitu woi!”
“Eh udah udah udah. Jangan kalian yang berantem. Itu Hanselnya kasian.”
“Oke. Let’s say Kak Zee gak suka, terus kenapa? Terus kalau Kak Zee suka, kenapa? Hansel ada rencana nembak?”
Tidak. Hansel tidak memiliki rencana seperti itu. Baginya, dekat dengan kakak lucunya saja sudah cukup.
“Hans, kata gue, jangan pikirin kata-kata mereka. Pace setiap pasangan beda-beda,” ucap Marselo, yang bisa kita anggap paling normal di antara teman-teman Hansel. “Iya. Kak Zee bukan orang yang bakal dengerin lo kalau dia gak mau kok. Percaya sama gue, dia nyaman sama lo. Mungkin gue gak bisa bilang dia suka, tapi gue yakin dia nyaman sama lo.” Ginandra menambahkan.
Ginandra sudah menjadi pacar Rayn semenjak Ginandra di kelas 8 SMP. Makanya, bisa dibilang Ginandra sangat mengenali teman pacarnya itu. Menurut Ginandra, Zinan itu adalah seorang penyendiri bahkan jika bisa, mungkin Zinan akan melakukan segala sesuatu sendirian.
Kedua orang tua Zinan sangatlah sibuk, benar-benar sibuk. Bukan, keluarga Zinan bukan berasal dari keluarga konglomerat yang sampai Zinan terus menerus ditinggal sendirian. Mereka berasal dari keluarga biasa saja, dengan pekerjaan usaha kecil-kecilan. Zinan adalah anak tunggal, yang membuat dia semakin sulit untuk berekspresi. Dia terbiasa untuk melakukan segala sesuatu sendirian. Zinan terbiasa untuk tidak menunjukkan perasaannya ke orang lain. Mungkin karena dia tidak memiliki saudara dan orang tua yang sibuk, dia jadi terbiasa memendam perasaannya. “Jangan nangis dulu bisa gak sih? Mama lagi pusing tau! Itu papamu ketipu lagi!”, “Berisik banget sih?! Ngapain nangis!? Gak tau papa lagi pusing?”, “Ah gitu doang lebay, cowo kok nangis. Mau jadi cewe kamu?”, dan kalimat-kalimat menyakitkan lainnya.
Memendam emosi menjadi kebiasaan Zinan hingga saat ini. Ketidaktahuannya tentang emosi dan minimnya empati menjadi suatu kesulitan bagi Zinan dalam berteman. Zinan kesulitan untuk membuat teman. Tidak semua orang mengerti apa yang dialami Zinan dan tidak semua orang peduli apa yang dirasakan Zinan. Tidak ada teman yang bertanya mengenai ceritanya, tidak ada teman yang ingin tahu apa yang dijalani Zinan. Zinan terbiasa untuk mendengarkan cerita, dan bukan menceritakan cerita. Zinan Arkana adalah seorang manusia kesepian, yang ingin ceritanya didengar. Tetapi tidak ada yang menyadari jika Zinan ingin didengarkan. Baru SMA ini, ada seseorang yang ingin mendengarkan ceritanya. Bukan, bukan Hansel, tapi teman-temannya. Namun, terlambat. Zinan sudah terbiasa tidak bercerita hingga dia bingung apa yang ingin diceritakan. Baginya, apa yang dijalaninya tidak akan seru dan menarik jika didengarkan orang lain. Lebih baik dia simpan saja, takut orang lain akan menganggapnya aneh jika dia ceritakan.
They underestimated his story until he underestimated his own story.
Tidak ada yang tahu tentang ini. Tidak Rayn, tidak Timmy, tidak Kevin, tidak Ginandra, dan tidak kedua orang tuanya. Biar ini menjadi rahasia Zinan dan Tuhan saja.
“Gue yakin kalau lo pancing dia buat cerita, Kak Zee pasti mau cerita. Biasanya, Kak Kevin sama Kak Timmy mancingnya gini nih… ‘Zee, gimana persiapan lo buat lomba di Australia? Eh gue gak nerima kalimat ‘ya kayak biasanya’. Gue gak tau biasanya tuh kayak gimana, jadi jelasin ke gue!’ Dan berhasil. Kak Zee jadi ceritain persiapan dia gimana. Intinya mah lo harus paksa dia buat cerita,” Ginandra memberi nasihat. Hansel hanya mengangguk-angguk.
“Eh tapi ya, gue penasaran sama perasaan Kak Zee deh. Dia suka sama lo apa gak sih, Hans?” tanya Hanif. Ginandra refleks memukul kepala Hanif. “Jangan dibawa-bawa ih!”
“Santai santai dong. Maksud gue kan, kalau Kak Zeenya gak suka si Hanselnya bisa move on sebelum jatuh terlalu dalam.” jelas Hanif yang disetujui Gideon. “Iya sih. Hans, lo gak mau coba tarik ulur dulu? Buat liat aja reaksi dia.” Juan menambahkan.
“Iya, bener. Ya sekali kali gak anterin dia pulang atau gak datengin dia ke kelas atau perpus gitu.” ucap Gideon. “Gak deh. Bagi gue, deket sama Kak Zee aja udah cukup kok.” Hansel menjelaskan.
“Coba lah sekali kali. Seminggu deh yak! Kita juga ada proyek kan. Drama bahasa inggris itu. Gunain lah itu drama buat alesan gak ketemu ya.”
“Yaudah deh. Gue bilang ke Kak Zee dulu ya,”
“Ettt jangaaan. Biarin aja Kak Zee nyariin. Kan tujuannya itu,” larang Hanif.
. . .
“Zee, Hansel belom dateng?” tanya Kevin. Bel pulang sekolah sudah berbunyi 20 menit yang lalu. Zinan, Kevin, Timmy, Rayn, dan Ginan sedang menunggu di lobi sekolah. Kevin dan Timmy yang menunggu supir keluarga. Rayn dan Ginan yang menemani Zinan menunggu. Dan Zinan yang menunggu Hansel. Sebenarnya, Ginan ingin sekali memberitahu Zinan mengenai rencana teman-temannya, tetapi dia tidak boleh menggagalkan rencana mereka. Demi Hansel, katanya.
“Iya. Kayaknya lagi sibuk deh. Ojek juga gak ada yang nerima pesananku,” balas Zinan. Ingin sekali Zinan bertanya ke Ginandra mengenai Hansel, tetapi dia tidak enak. Dia dan Hansel tidak memiliki status apapun. Bukan kewajiban Hansel juga untuk mengantarnya pulang. Lebih baik dia tidak merepotkan Hansel lagi.
“Yaudah, gue balik duluan yaa! Kabarin kalau udah nyampe rumah. Babai!” pamit Kevin. Zinan hanya mengangguk dan melambaikan tangan ke arah Kevin yang sudah menjauhi lobi sekolah. Rayn, yang tidak diberitahu Ginan mengenai rencana teman-temannya sebal. “Temanmu kemana sih? Sibuk apa gimana?” Tanya Rayn.
Ginan terkekeh, tidak ingin menjawab. Karena dia tahu jika dia menjawab, rahasianya akan bocor saat itu juga. “Ya gitu deh,”
“Zee, belom dapet juga?” Zinan menoleh ke arah Timmy, mengangguk. “Beloman. Kamu udah dijemput?” Timmy mengangguk.
“Gue duluan, gak apa?” Tanyanya. “Gapapa gapapa. Dah sana pulang! Rayn sama Ginan juga pulang aja, aku masih coba-coba pesen kok.”
“Gapapa, Zee. Aku nemenin kamu aja,” bantah Rayn. “Gak gak gak. Pulang sana. Belajar buat ulangan kimia! Nilaimu kemarin turun itu.” suruh Zinan. Rayn tidak bisa membantah, kimia adalah musuh terbesarnya. “Yaudah. Semoga cepet dapet ojek ya. Kabarin kalau udah sampe rumah!”
“Iya iya ih. Sana pulang pulang. Hati-hati di jalan, Ginan jangan ngebut bawa motornya!”
. . .
10 menit, masih tidak diterima ojek.
20 menit, masih tidak diterima juga. Lobi sekolah sudah cukup sepi. Sudah beberapa kali Zinan diajak pulang bersama oleh kenalan-kenalannya di sekolah, yang pastinya ditolak.
Bosaaaaaaan.
“Zee? Kok belom pulang?”
“Eh? Loh Jeremy? Kok masih di sekolah?”
“Iya, baru selesai rapat OSIS. Kamu kenapa masih di sekolah?”
“Kayakya ojek onlineku bermasalah deh. Dari tadi gak dapet ojek terus.”
“Mau aku anter? Kebetulan mama nitip barang buat mamamu, tapi harus ke rumah dulu sih.”
“Gausa gausa! Repot kamunya.”
“Gak repot lah. Malah kamu yang repot gak sih. Udah ayo pulang bareng aku aja, aku bawa 2 helm kok.”
“Ta–”
“Hush ayo,” potong Jeremy sembari menarik lengan Zinan. Jeremy, salah satu kenalan yang paling dekat dengan Zinan. Jeremy adalah wakil ketua OSIS periode 2023/2024 yang sebentar lagi akan lengser mengingat pemilihan OSIS akan dilaksanakan 2 minggu lagi. Jeremy dan Zinan saling kenal ketika mereka berada di camp olimpiade sekolah tahun lalu. Zinan yang berada pada bidang matematika dan Jeremy yang berada pada bidang ekonomi .
“Jer, serius gapapa? Aku gantiin bensinnya ya?”
“Gak usah, Zinan Arkana. Udah duduk manis di jok motor ya, kita berangkat.”
. . .
“Baru hari pertama, Hans. Jangan sedih gitu dong,” Gideon menenangkan temannya yang sedang pundung itu. Mereka berlima sebenarnya melihat Zinan menunggu di lobi sekolah, memastikan kakak kelas mereka mendapatkan ojek onlinenya. Namun, tidak disangka ternyata kakak kelas mereka pulang dengan wakil ketua OSIS.
Sering sekali Hansel rasanya ingin menghampiri kakak kelasnya itu dan mengantarnya pulang sebelum mereka fokus dengan tugas mereka. Ternyata kakak kelasnya mendapatkan tumpangan. Bukan Hansel saja yang ingin mengantar siswa berprestasi milik Planet International School.
“Yuk, fokus lagi ke dramanya. Hansel, jangan pundung dulu yok. Enam hari lagi! Semangat.” ucap Marselo.
. . .
Hari kedua.
Siang itu, Zinan berada di perpustakaan; membaca buku. Ah tidak. Sebenarnya, dia sedang menunggu adik kelasnya itu. Awalnya, dia berencana untuk membaca sembari menunggu, tetapi entah kenapa dia tidak bisa fokus dengan buku yang dia baca.
Hansel kemana ya? Tumben gak ke perpus.
5 menit.
10 menit.
15 menit.
Ah 5 menit lagi bel usai istirahat akan selesai. Lebih baik dia kembali ke kelas saja. Toh dia sama sekali tidak bisa fokus membaca buku. Mungkin pulang sekolah dia akan bertemu dengan Hansel.
. . .
“Zee? Nunggu ojek lagi?” Tidak ini bukan Hansel ataupun teman-teman Zinan. Sudah sekitar 30 menit Zinan menunggu Hansel di lobi sekolah. Zinan baru sadar dia tidak memiliki nomor Hansel ataupun sosial medianya, dia juga tidak tau Hansel berada di kelas apa. Astaga dia buruk sekali.
“Zee? Mau pulang bareng aja?” Tanya orang itu lagi. Zinan yang sedang duduk di bangku yang disediakan di lobi menatap ke orang itu, menggeleng. “Gausah, Jere. Kemarin aku udah repotin kamu. Masa aku ngerepotin kamu lagi?” Tolak Zinan.
“Yaudah, aku temenin nunggu. Kalau 10 menit kamu gak dapet, aku anterin pulang. Oke?”
“Ih gausaaah. Nanti ngerepotin.”
“Mana ada ngerepotin. Udah sana pesen. 10 menit dimulai dari sekarang.” Zinan memang tidak bisa berdebat dengan si wakil ketua OSIS itu. Daripada berdebat, lebih baik dia berdoa aplikasinya tidak error kali ini dan mendapatkan ojek sebelum waktu habis.
“Biasanya aku liat kamu ditungguin sama anak kelas 10. Siapa namanya? Ha…Ham? Han? Itulah. Kok gak dianterin pulang lagi, Zee?”
“Entahlah. Mungkin dianya sibuk. Gak enak kan tiap pulang dianterin terus.”
“Tapi kamu kayak sedih gitu pas dianya gak anterin kamu pulang.”
“Hah? Mana ada. Kamu ngaco deh.”
“Serius. Aku kenal kamu bukan sebulan dua bulan aja loh, Zee. Kamu suka dia?”
“Mungkin? Gak tau, Jere. Udahlah gak usah dipikirin, bukan waktunya cinta-cintaan. Bulan depan ada lomba di universitas B. Fokus ke sana dulu aja,”
“Gak apa loh, Zee. Cinta-cintaan. Kamu takut kamunya sakit hati ya? Atau kamu takut kamu terlalu pede untuk suka sama dia?”
Diam. Zinan hanya terdiam mendengar pertanyaan Jeremy. Jeremy ini memang pintar membaca hati orang ya? “Kamu mau jadi psikolog ya?” Jeremy tertawa. Astaga, Zinan Arkan lucu sekali. “Tepat sasaran ya?” Jeremy mendapatkan anggukan dari Zinan.
“Yang dari aku lihat, Hansel itu suka sama kamu. Tatapannya kayak aku waktu suka sama kamu. Aduh! Sakit, Zee, sakit!” Zinan memukul bahu Jeremy dengan kencang. Biarin saja! Lagian kenapa masalah itu diungkit-ungkit terus sih?
Jeremy dan Zinan dekat semenjak keduanya mengikuti camp olimpiade tahun lalu, tepatnya 23 Agustus 2023. Selama 3 hari itu, Jeremy dan Zinan yang merupakan satu-satunya siswa kelas 10 saat itu menjadi lebih dekat. Menurut Jeremy, Zinan itu tiba-tiba. Tiba-tiba menjadi satu-satunya perwakilan kelas 10 yang berhasil mengerjakan soal latihan untuk ukuran mahasiswa. Zinan itu diam-diam mematikan. Diam-diam membawa pulang piala lomba dari universitas X. Zinan itu jenis. Si jenis yang memenangkan lomba luar negeri.
Orang bilang Zinan itu terlalu pendiam. Menurut Jeremy, tidak. Jeremy suka berbincang dengan Zinan. Jeremy suka membahas mengenai soal latihan dengan Zinan. Jeremy suka bercanda dengan Zinan. Intinya, Jeremy suka Zinan. Dulu. Hingga Jeremy menyatakan perasaan ke Zinan dan ditolak oleh Zinan. Kata Zinan, Zinan tidak bisa melihat Jeremy sebagai seseorang lebih dari teman. Maka itulah yang dilakukan Jeremy, menjadi teman baik Zinan.
“Time’s up! Udah dapet belom?” Zinan merengut. Kenapa aplikasinya error terus sih? Kenapa tidak ada ojek yang ingin mengambilnyaa?
“Engga. Jujur kamu ngasih mantra ya supaya aku gak dapet driver?!” Tuduh Zinan. Jeremy hanya tertawa, mana ada dia kasih mantra sih. “Yaudah ayo anter aku! Tapi kita ke restoran ini dulu ya. Aku traktir kamu makan, bayaran buat hari ini sama kemarin.”
“Iya, ayo.”
. . .
“Kak Jere tuh suka sama Kak Zee ya?”
“Dari tatapannya sih iya. Keliatan banget itu mah.”
“Tapi keliatannya Kak Zee gak suka tuh?”
“Kak Zee selalu gitu gak sih? Sama Hansel aja gitu juga kok.” Jleb.
“Berarti dia gak suka sama Hansel?”
“Ya engga juga. Gak tau, apa mau gue tanyain?”
“Gausa lah, Nan. Tunggu aja, lima hari lagi kok.”
“Hans, gue yakin kok. Kak Zee suka sama lo. Oh ya, lo gak ada dichat sama Kak Zee?”
“Nomornya aja gak punya. Gimana ceritanya dia ngechat gue?”
“Oh. Sabar ya, Hans.”
“Kak Zee gak suka kok sama Kak Jere. Kak Jere pernah ditolak sama Kak Zee.”
“Hah serius lo? Boong lo anjir.”
“Serius. Rayn cerita ini. Katanya Kak Zee nolak karena gak bisa ngeliat Kak Jere lebih dari temen. Terus mereka sampe sekarang temenan. Kemaren-kemaren itu Kak Jere sibuk aja, makanya gak keliatan deket sama Kak Zee. Aslinya mah lebih deket daripada Kak Kevin, Kak Timmy, sama Rayn. Eh maksud gue ini bukan aneh-aneh ya, Hans. Gue gak tau perasaan Kak Jere, tapi Kak Zeenya emang gak suka. Kak Jerenya juga gak ngedeketin as in pdktin kok.” Sakit. Hati Hansel sakit mendengar itu. Meskipun Ginan meyakinkan Jeremy tidak mendekati Zinan lagi, dia tau move on dari seseorang sangatlah sulit. Apalagi jika menjadi teman dari subjek yang disukai itu.
Apa ini sudah waktunya untuk move on?
. . .
Hari ketiga.
Tidak ada perubahan. Zinan diantar pulang oleh Jeremy dengan imbalan traktiran makan dan Hansel yang masih berusaha bertahan sampai hari ke tujuh.
. . .
Hari keempat.
“Eh eh eh. Rayn nanyain soal Hansel nih. Dia nanya kok Hansel gak nganterin Zinan lagi. Gue jawab apa cok?”
“Ini mau kasih tau Kak Rayn aja gak? Siapa tau dia tau perasaan Zinan.”
“Kasih tau aja lah. Kasian ini Hansel dari kemarin gak nafsu makan ngeliat crush dianter pulang sama mantan pdktannya.”
“Iya, tapi bilang juga, Nan, jangan kasih tau Kak Zeenya. Ntar rusak lagi rencana kita.”
“Sip. Ini katanya, sebenernya Zinan mikir Hansel yang merasa direpotin sama dia. Bagus kalau Hansel gak anterin lagi. Jeremy aja dibayar kok. Dia merasa gak enak aja sama Hansel. Sabar ya, Hansel. Dikit lagi kok.” Hanya anggukan yang diterima oleh Ginan.
. . .
Jika kalian bertanya mengenai perasaan Hansel saat ini, dia bingung, dia sakit hati, dia ingin menyerah. Awalnya, memang terlihat tidak apa-apa. Namun, setelah Ginan memberitahu jika kakak lucunya dan si wakil ketua OSIS ternyata lebih dari teman, Hansel rasanya ingin menyerah. Memang Hansel pernah menyukai seseorang di SMP, tetapi Zinan terlalu jauh untuk digapainya. Zinan terlalu misterius untuk Hansel. Hansel saja tidak tau apa yang disukai Zinan, tidak tau makanan penutup apa yang Zinan suka, pilihan milk teanya, jam tidur, tempat nongkrong, dan lain-lain. Sepertinya Zinan memang tidak tertarik dengan Hansel.
Apakah saatnya Hansel menyerah?
. . .
Hari kelima.
“Zee, Hansel gak ketemu sama lo?”
“Engga, kenapa?”
“Engga. Gue kira dia ada jelasin soal tiba-tiba dia menghilang.”
“Engga. Mungkin dia udah bosen sama aku. Gapapa lah.”
“Aku rasa Hansel gak kayak gitu sih. Omong-omong, kamu kemarin pulang sama Jere ya?”
“Eh iya! Ceritain gak!? Kok bisa jadi deket lagi sama Jere? Semenjak kelas 11 kan udah agak jauh ya. Kok tiba-tiba bisa pulang bareng terus?”
“Oh iya! Itu rame anjay. Semuanya pada ngomongin. Adek kelas yang suka sama Jere juga pada ngomongin, adek kelas sama kakak kelas yang suka Zee juga pada ngomongin sih tapi itu kan biasa. Cerita, Zee, cerita!”
“Iya, iya, sabar. Jadi kan waktu itu sekitar lima hari yang lalu atau kapan ya, pokoknya hari Senin kemarin. Aplikasi ojek aku rusak lagii, gak ada ojek yang ambil. Terus tiba-tiba Jeremy lewat lobi terus liat aku masih duduk. Dia nawarin dianter ke rumah, sekalian dia anterin bingkisan yang mamanya kasih buat mamaku. Yaudah deh, aku ikut.”
“Terus kok bisa terus-terusan sampe sekarang?” Tanya Rayn.
“Terus besokannya, hari Selasa, dia abis rapat OSIS kayaknya, gak tau. Dia liat aku lagi di lobi. Terus–”
“Dia nawarin pulang lagi?”
“Dia ada bingkisan?”
“Ih belom selesai cerita! Diem dulu ih! Terus awalnya dia bilang dia bakal nungguin selama 10 menit, kalau driver gak ada yang nerima, aku dianter dia. Jadi yaudah aku ngobrol sama dia selama 10 menit itu. Terus Rabu sama Kamis tetep sama kok. Dia nemenin aku cari ojek, kalau dalam waktu yang dia tentuin aku gak dapat, aku dianter sama dia.”
“Terus terus, dia ada modus ke lo?”
“Mana ada sih! Kan dia udah move on!”
“Ah boongan itu. Move on darimana kalau tiap hari nungguin kamu pulang dengan selamat.”
“Gas aja gak sih? Kalian tuh gemes banget tau, Zee. Sumpah ya, Jere kalau lagi sama Zee soft banget banget banget.”
“Mana bisa kayak gitu sih. Udah ah gausah diomongin.”
“Eh daripada sama Hansel. Dighosting lu. Udah sama Jere ajaa.”
“Bener, Zee. Gue setuju kata Timmy. Jere juga kenal sama lo lebih lama kan. Tinggal ubah aja pandangan lo ke dia dari temen jadi pacar. Selesai!”
“Kevinnn! Jangan diomongin muluu. Aku maluu.”
“Tapi Zee, kamu kalau disuruh milih mending Hansel atau Jere?” Pertanyaan itu tidak terjawab. Seolah-olah Zinan terus menerus menghindari pertanyaan itu. Pertanyaan itu kembali menjadi misteri. Apakah Zinan memiliki perasaan untuk Hansel, tidak ada yang tahu. Apakah Zinan memiliki perasaan untuk Jeremy, tidak ada yang tahu. Apakah Zinan memiliki perasaan untuk salah satunya, tidak ada yang tahu.
. . .
Hari keenam.
Sudah enam hari, sudah kembali ke hari Senin. Tersisa besok saja dan Hansel dapat menemui kakak lucunya itu. Hansel ingin sekali marah dan cemburu ke sang kakak mengenai kedekatannya dengan wakil ketua OSIS. Apa daya dia masih dalam waktu menjauh. Tapi karena masa jauh ini, Hansel bisa yakin dengan perasaannya. Hansel harus memiliki hati sang kakak lucu itu.
Kakak lucunya itu terlalu dekat dengan Kak Jere, menurut Hansel. Apa apaan diberikan bekal setiap hari. Hansel saja tidak pernah. Emang kenapa kalau Kak Jere suka sama Kak Zee? Kan udah pernah ditolak juga. Eh… emangnya Kak Zee gak suka sama Kak Jere? Secara Kak Jere kan anak olimpiade juga. Wakil ketua OSIS juga. Hansel juga dengar kalau Kak Jere itu sama-sama anak kesayangan guru di sini, beda bidang aja. Kak Zee bidang IPA, Kak Jere bidang IPS. Hansel? Hansel cuma anak baru gede aja yang baru aja lulus SMP.
Hansel insecure. Bisa gak ya ngalahin Kak Jere?
. . .
Hari ketujuh.
Hari terakhir! Setelah ini, Hansel dapat melihat kakak lucunya sepanjang hari. Tapi bagaimana seharusnya Hansel berperilaku? Masa tiba-tiba Hansel datang ke hadapan kakaknya, lalu bilang “Halo, Kak”. Dia sudah menghilang tujuh hari tanpa kabar! Gak sopan tiba-tiba dia muncul gitu aja.
“Lagi mikirin apa sih?”
“Menurut lo, gimana cara gue nyapa Kak Zee besok?”
“Hah?”
Hansel menatap teman yang duduk di sebelah kanannya. “Menurut lo, gimana cara gue nyapa Kak Zee besok?” ulangnya.
“Iya, gue denger pas pertama kali lo bilang. Maksud lo dengan nyapa tuh apa?”
“Ya nyapa. Masa gue cuma ngomong ‘Halo, Kak’ setelah ngilang tujuh hari? Freak banget.”
“Iya sih. Rencana lo buat besok apa?”
“Gak tau.”
“Lo mau nembak? Atau gimana?”
“Jujur, gak tau.”
Plak. “Hanif! Sakit!”
“Sorry, kekencengan hahaha. Setelah 6 hari ini, lo udah liat sendiri gimana Kak Zee sama Kak Jere deket. Keliatan banget Kak Jere gak ada niatan move on. Ya meski Kak Zee gak suka, belom tentu seterusnya dia tetep gak suka. Lo mau gimana?”
“Gak tau, Nif. Gue udah tau kalau gue suka banget sama Kak Zee. Gue mau jadi pacar dia, gue mau punya status kekasih sama dia, gue mau dia suka sama gue. Tapi gue takut dia gak suka sama gue. Gue takut dengan gue confess sama dia, hubungan gue sama dia malah runyam dan jauh.”
“Kata gue, lo tembak aja, Hans.”
“Gin.”
“Iya, Hans. Dari yang aku lihat, Zee emang suka kok. Sebenernya, dia nyariin Hansel, tapi dia kira Hansel yang bosen sama dia. Makanya dia gak nyariin Hansel. Zee ke Jere emang beneran temenan kok. Bagi Zee, Jere itu temen olimpiade dia. Satu-satunya yang nemenin dia lomba ke sana sini. Hansel jangan insecure, Zinan gak suka orang yang gampang insecure.”
“Bener kata Kak Rayn. Daripada lo bingung gitu. Gimana kalau kita buktiin besok?”
“Buktiin gimana?”
“Gue ada ide. Biasa kan Kak Zee ke perpus ya, apalagi bentar lagi di pergi ke Taiwan buat lomba kan. Yaudah lo datengin aja perpus besok. Terus pura-pura duduk di tempat biasa dudukin, atau ya pura-pura nyari buku lah. Liat apa dia bakal ngomong ke lo atau engga. Kalau misalnya engga, yauda nyerah aja.”
Plak. “Sembarangan kalau ngomong.”
“Sorry. Tapi paham kan maksud gue.”
“Iya. Tapi Zinan orangnya emang sulit buat ngajak ngomong orang duluan. Bisa jadi dia sebenernya mau ngomong tapi gak berani. Bisa jadi pas Hansel duduk di tempat biasa Zinan, Zeenya malah pergi ke meja lain. Saranku, Hansel coba perhatiin gerak gerik Zinan. Biasanya kalau Zinan mau ngomong tapi gak berani, dia gak bakal fokus sama buku dia. Gerak geriknya juga gelisah banget. Keliatan lagi mikir keras. Zinan gak pernah mikir keras untuk pelajaran,” ucap Rayn. Sebagai satu-satunya teman Zinan yang berada di antara teman-teman Hansel, Rayn merasa dia memiliki kewajiban untuk memberi tahu Hansel kenyataannya.
Zinan memang sulit untuk mengangkat topik duluan. Lebih baik dia memendam semua topik dibandingkan dia diabaikan, begitu dia pikir.
“Setuju! Gitu aja, Hans. Setelah itu, terserah lo mau tetep kejar atau lepasin.”
“Semangat ya, Hans.”
. . .
Jeremy tau Zinan menyukai adik kelas mereka. Selama bersama dengan Zinan, Jeremy tidak pernah menyangka dia akan melihat sisi jatuh cinta milik Zinan. Meski sisi itu tidak tertuju padanya, Jeremy senang Zinan dapat merasakan itu. Jeremy yakin Hansel adalah anak yang baik. Ya, Jeremy tidak pernah melihat Zinan dan Jeremy bersama sih.
Apa sakit melihat Zinan bersama dengan yang lain? Tidak. Orang-orang bilang kalau Zinan itu sangat tertutup, ini dia tidak menolak. Zinan memang nyatanya sangat tertutup. Zinan juga sangat expressionless, dia sulit untuk berekspresi. Orang-orang bilang kalau Zinan hanya menunjukkan banyak ekspresi ketika bersama dengan Jeremy, ini Jeremy bingung ingin menjawab seperti apa. Intinya, bagi orang-orang, Zinan dan Jeremy sangat cocok satu sama lain.
Namun, menurut Jeremy berbeda. Menurutnya, dia sama sekali tidak memiliki kesempatan dengan Zinan. Zinan sama sekali tidak bisa melihatnya lebih dari teman. Dan menurut Jeremy, sikap Zinan sudah cukup jelas mengenai hal itu. Tidak, selama tujuh hari ini, Zinan tidak pernah membicarakan Hansel. Jeremy tau jika Zinan tidak suka membicarakan orang yang tidak ada di sana. Tapi Jeremy tau apa yang dirasakan Zinan, Zinan jatuh cinta dengan adik kelasnya itu.
. . .
Hari kedelapan, hari masa jauh berakhir.
Seperti rencana mereka kemarin, Hansel saat ini berada di perpustakaan; menunggu sang kakak kelas. Hansel sudah berada di tempat Zinan biasa duduk, meja tengah dekat dengan jendela. Zinan tidak bisa berada di udara dingin, dia akan mudah lemas. Itu informasi dari Rayn.
“Hansel? Kok di sini?”
Jackpot.
“Halo, Kak Zee. Hehehe lagi bosen di kelas, Kak.” Zinan datang! Kakak kelas lucunya datang! Dan dia menyapanya duluan!
“Oh… Aku duduk di sini gak apa?”
“Gapapa, Kak! Duduk aja duduk.”
Hening. Sudah 5 menit lewat, situasi tidak kunjung menghangat. Kak Zee beneran gak ada ngomong apa-apa lagi nih? Canggung banget. Eh?
“Kak Zee, ada yang mau diomongin?”
“Ha-hah?”
“Kakak keliatan mau ngomong sesuatu tapi ragu gitu. Aku boleh tau Kakak mau ngomongin apa?”
“Oh eum… Hansel, kemana aja dari kemarin?”
“Oh itu. Aku ada tugas drama, Kak. Bu Kris ribet banget ya. Mana kelompokku isinya cowo semua, kecuali satu cewe. Jadinya agak sibuk.”
“Oh…”
“Kenapa Kakak nanyain aku? Kakak kangen kah sama aku?”
“Eh?” Abaikan saja, Zinan. Hansel keceplosan. Dia tidak menyangka apa yang dia pikir hanya di pikirannya saja terucap melewati bibirnya.
“Abaikan aja, Kak. Aku asal omong itu. Hahaha.” Abaikan abaikan abaikan please abaikan aja kalimat itu.
“Oh… aku kangen sama Hansel.” abaikan abaikan abai– hah HAH. “HAH?”
“Shhhh diem,” ucap Zinan yang panik ketika guru perpustakaan menoleh ke arah mereka.
“Aku boleh denger kalimat itu lagi?” pintu Hansel. Zinan menggeleng dengan cepat sembari mencoba kembali membaca bukunya. “Please? Sekali lagi?” Dia kembali menerima gelengan dari pemuda cantik itu.
“Kak Zee, aku boleh cerita gak?” ucap Hansel, kembali menarik perhatian sang kakak kelas. Tatapan Zinan seakan meminta Hansel untuk melanjutkan ucapannya, siapa Hansel untuk menolak.
“Sebelumnya, aku mau minta maaf aku gak ketemu Kak Zee selama tujuh hari. Eh ditambah Sabtu Minggu harusnya jadi sembilan hari. Iya bener, aku ada tugas drama untuk pelajaran Bu Kris. Tapi aku masih bisa kok ketemu Kak Zee setiap hari, karena kami mulai diskusi dan latihan itu jam 5. Aku malah gak ketemu Kak Zee dan buat Kak Zee dekat dengan Kak Jeremy. Tahan dulu ya, Kak.” Hansel melihat Zinan ingin memotong ucapannya. Biarkan Hansel menjelaskan apa yang terjadi dulu.
Melihat Zinan mengerti maksudnya, dia kembali menjelaskan. “Sebenernya, aku gak ketemu sama Kak Zee itu disuruh temen-temenku. Engga, mereka gak bermaksud jahat kok. Mereka cuma mau bantu aku untuk memastikan perasaanku ini, Kak. Selama kita gak bertemu, aku selalu liat Kak Zee sama Kak Jere dan jujur, aku cemburu. Aku sangat amat cemburu ngeliat Kak Zee nyaman dengan Kak Jere, aku cemburu liat Kak Zee ketawa, aku cemburu Kak Zee kasih bekal ke Kak Jere. Apalagi denger kabar kalau Kak Jere yang nemenin Kak Zee lomba-lomba terus. Ya tau sih Kak Jere juga ikutan lomba haha. Selama kita gak ketemu, aku mulai sadar sih, Kak. Kakak tau apa yang aku sadari?” Hansel memberikan pandangan bertanya pada Zinan.
“Sadar apa?”
“Aku sadar kalau aku suka, cinta, sayang sama Zinan Arkana. Siswa emasnya Planet International School. Kakak kelas lucu yang suka banget duduk di kursi tengah perpustakaan sekolah. Individu yang jarang bercerita. Tapi menurutku, Kak Zinan itu diam-diam mengerti. Kak Zinan gak pernah merasa aku nyebelin karena bercerita banyak. Aku gak tau kenapa aku tertarik dengan Kak Zinan. Yang aku tau, Zinan Arkana udah sukses narik atensi aku. Zinan Arkana, boleh gak aku masuk ke dalam chapter di cerita hidupmu sebagai seorang kekasih?”
Zinan terdiam. Dirinya tau apa perasaan yang dia miliki untuk adik kelasnya ini, tapi mendengar itu semua? Tidak. Zinan tidak bisa berkata apa-apa. Speechless. Tentu Zinan merasakan hal yang sama dengan Hansel. Zinan hanya tidak terbiasa mengungkapkan perasaannya secara langsung.
“Kak Zee, gak perlu jawab sekarang kok. Aku paham Kak Zee butuh waktu buat olah apa yang aku ucapkan. Ya sudah, aku kembali ke kelas dulu ya. Aku izin menunggu jawaban kakak ya.”
“Hansel.”
“Iya?” Hansel kembali menoleh ke arah Zinan yang tetap duduk di kursi perpustakaan. Niatnya, Hansel mengembalikan buku lalu kembali ke kelas. Ternyata kakak kelasnya ini memanggilnya.
“Hansel, boleh jawab pertanyaan aku?” Hansel duduk dan mengangguk, memberi kode pada Zinan untuk melanjutkan ucapannya.
“Kenapa aku?”
“Apa kalau aku jawab karena Kak Zee adalah Kak Zee, Kakak bakal percaya?” Zinan menggeleng.
“Hansel yakin sama aku?” Hansel mengangguk.
“Hansel tau aku gak pinter ngungkapin perasaan? Apa Hansel gak mau sama yang sama-sama ceria, sama-sama suka cerita, sama-sama–”
“Kak, aku tau semua itu. Kita masih SMA, Kak. Jalan yang akan kita lalui sangat amat panjang. Kita bisa belajar sama-sama.”
“Gimana kalau aku gak seperti apa yang dibayangkan sama kamu?”
“Emangnya Kak Zee tau apa yang aku bayangkan?” Zinan menggeleng. “Dibayangan aku, Zinan Arkana itu seorang penyendiri yang butuh seseorang untuk menjadi tempatnya bercerita. Aku gak bohong saat aku bilang aku melihat Kak Zee seperti Kak Zee saat ini. Kak Zee adalah Kak Zee. Mungkin orang liat Kak Zee sebagai orang yang sangat amat pendiam, tapi aku liat Kak Zee itu sebenernya mendengarkan cerita-cerita aku. Kak Zee tidak sempurna, begitu juga Hansel Pratama. Kakak gak perlu menjadi seorang yang dewasa, cukup jadi Zinan Arkan untuk Hansel. Zinan dan Hansel bisa belajar bersama-sama untuk menjadi pribadi yang lebih baik untuk satu sama lain. Apa menjawab pertanyaan Kak Zee?”
Zinan mengangguk. “Hansel, aku boleh jujur? Aku gak kepikir seseorang akan mengatakan ini. Rasanya sangat di luar jangkauan tanganku. Seseorang yang sangat amat cerah, sangat amat ceria, sangat amat… berekspresi menyukai aku.” Zinan berhenti sebentar. Tatapan matanya sayu, tapi Hansel melihat ketegasan dan keseriusan di matanya.
“Hansel tau aku bukan seseorang yang pandai menunjukkan perasaan. Aku juga tidak tau cara untuk mencintai orang lain. Ketika kamu bilang kamu suka aku, aku… bingung. Bukan karena aku gak suka kamu, tapi lebih karena aku gak tau apakah aku bisa jadi orang yang kamu butuhkan.”
Hansel ingin menyela, ingin berbicara, tetapi Zinan melanjutkan sebelum Hansel sempat membuka mulut. “Tapi ada satu hal yang aku sadari selama kita bersama. Kamu bikin aku merasa cukup. Kamu bikin aku percaya kalau aku bisa diterima dengan menjadi diri aku sekarang. Kamu bikin aku sadar kalau aku gak akan lagi sendirian, dan it’s okay to keluarin apa yang aku rasakan.” Zinan tersenyum lembut.
Hansel tertegun, perlahan senyumnya melebar. “Kak Zee, itu lebih dari cukup buat aku.”
Zinan sedikit tersipu. “Tapi kamu harus banyak sabar ya. Aku gak jamin aku bakal langsung berubah.”
Hansel tertawa kecil, lalu menjawab. “Kalau soal sabar, Kak Zee, aku juaranya. Kakak gak perlu berubah kok. Aku di sini buat Kak Zee, apa adanya. Dengan Kak Zee bersedia memasukan aku ke dalam chapter kehidupan sebagai kekasih saja, aku udah seneng kok.”
Zinan tertawa mendengarkan. “Iya, Hansel Pratama boleh kok masuk ke chapter kehidupan Zinan Arkana dengan title kekasih.”
. . .
Kisah mereka cukup sampai di sini saja. Bagi Zinan Arkana, Hansel Pratama adalah matahari. Seseorang yang mampu menunjukkan arah jalan dan memandunya menuju diri yang lebih baik. Bagi Hansel Pratama, Zinan Arkana adalah bulan. Tempatnya untuk beristirahat.
Kisah Zinan Arkana dan Hansel Pratama berlanjut hingga tua nanti. Zinan yang belajar bagaimana mengekspresikan dirinya dan Hansel yang memandu Zinan belajar. Hansel yang mendapatkan tempat bercerita tanpa adanya hujatan dari si pendengar.
Hubungan itu dijalani oleh dua orang, bukan salah satu. Hubungan itu saling belajar, bukan saling mengecam. Hubungan itu saling mengerti, bukan hanya ingin dimengerti.
Dalam kesendirian, kamu datang membawa ramai. Dalam keheningan, kamu datang membawa gaduh. Tidak terbiasa, tapi aku suka. Maaf jika aku tidak pandai berkata, tapi kuharap sikapku dalam menjawab.
- Zinan Arkana, 2024
Izinkan aku untuk merusak ketenangan itu. Bukan aku membencinya, tapi aku ingin menemanimu dalam hening itu.
- Hansel Pratama, 2024
