Actions

Work Header

i'll be cleaning up bottles with you on new year's day

Summary:

Mingyu dan Wonwoo menghabiskan new year eve berdua. Wonwoo belajar beberapa hal tentang Mingyu. Mingyu menganalisa tentang apa yang membuat Wonwoo, Wonwoo. Things happened, and maybe Wonwoo fucked up a little.

Notes:

i know i know i said i was gonna post on new year but life happened, got swarmed with work, cried a lot at nights, broke my knee and more crying at midnights but well here we are now. please enjoy this sad excuse of comeback xoxo

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Kamu... ada tidur sama sekali gak sih kemarin?"

Mingyu bertanya sembari menyodorkan bungkusan roti ke arah Wonwoo yang baru saja masuk mobil—seatbelt belum terpasang dan posisi duduk tidak nyaman.

Entah bagaimana pertanyaan itu sudah diantisipasi Wonwoo bahkan sebelum menginjakkan kaki keluar pintu tadi. Sesuai prediksi, kantung di bawah matanya terlalu mencolok untuk terlewatkan oleh Mingyu yang sudah sejak berapa hari lalu mempertanyakan pola istirahat Wonwoo belakangan.

Mengabaikan pertanyaan Mingyu, Wonwoo memastikan pintu di sisinya tertutup dengan benar sebelum menyandarkan punggung di kursi lalu menerima bungkusan dari Mingyu yang sudah menggantung di depan wajahnya lima detik terlalu lama. Mengintip dari dalam kantong coklat ketika dibuka adalah sebiji croissant hangat dan botol susu. 

"Wah masih hangat, beli dimana Pak?" tanya Wonwoo.

"Di toko roti deket sini. Searah tadi waktu dari gym."

Mendengar kata gym, Wonwoo reflek memandang ke arah si bos yang duduk nyaman di belakang kemudi. Rambut orang itu semi basah, entah karena keringat atau dia sengaja membasahinya dengan air usai sesi workout pagi. Mingyu mengenakan kaos dry-fit hitam, legging panjang dan celana pendek, dari atas ke bawah meneriakkan bahwa dia adalah manusia dewasa penuh tanggung jawab who gets his shit together.

Dengan kulit tannya yang mengkilat efek afterglow pasca mendapat asupan dopamin, pada posisi ini, cahaya matahari yang jatuh tepat di wajah Mingyu membuat dia terlihat bersinar semacam dewa dari mitologi Yunani. Berbanding terbalik dengan Wonwoo yang sudah mandi dan mengenakan kemeja terbaiknya namun tetap saja terlihat seperti janda berkabung pada jaman kegelapan—kantung mata dan kenihilan warna di wajah sebagai indikasi.

"Kemarin seharian jadinya ngapain?"

Mingyu melepas rem tangan dan mengatur perseneling di mode reverse. Satu tangan diletakkan di kursi penumpang, persis di atas kepala Wonwoo, dia melirik ke belakang untuk memutar mundur kendaraan mereka. Wonwoo meletakkan bungkusan sarapan dari Mingyu tadi di atas paha lalu mengencangkan sabuk pengaman sebagai reaksi.

Sambil Mingyu memutar mobil, Wonwoo mengeluarkan croissant dari bungkusan kertas. Mengambil satu gigitan kecil sebelum menjawab pertanyaan tadi. "Ga ngapa-ngapain. Istirahat seharian nyekroll tiktok trus nonton netflix."

Croissant itu terasa renyah di dalam mulut, segera meleleh ke dalam kerongkongan dengan aftertaste yang manis. Kebetulan Wonwoo merasa sangat lapar setelah mengabaikan kebutuhan primernya seharian kemarin demi menghabiskan satu hari di atas kasur tanpa bergerak lebih dari lima meter.

"Ga kemana-mana?" 

Wonwoo menggeleng sambil mengambil gigitan lebih besar dari croissantnya.

Tidak sampai tiga gigitan kemudian, mobil Mingyu sudah melaju keluar dari gang kos ke jalan raya yang lengang. Memasuki akhir tahun, lebih dari setengah populasi kota kembali ke kampung halaman atau berlibur ke negeri jauh. Hanya orang-orang seperti mereka yang masih merayapi ibu kota pada waktu seperti ini.

Seorang bos korporat gila kerja dan orang dewasa menyedihkan tanpa tempat pulang.

"Trus itu kantong mata kamu malah jadi makin item kenapa? Begadang lagi sampai pagi?"

Kata 'lagi' mengindikasikan bahwa Mingyu sudah menganggap bahwa Wonwoo begadang sampai pagi bukan hanya kemarin sebagai sebuah fakta. Tidak perlu sanggahan maupun konfirmasi verbal dari yang bersangkutan. Dan mungkin dia memang sama sekali tidak jauh dari kebenaran. Mata Mingyu lurus ke arah jalanan, sebab itu dia tidak melihat Wonwoo yang tengah mengunyah dengan mulut penuh hanya tersenyum—atau dia merasa sedang tersenyum—dan menggeleng pelan.

Jadi Mingyu mengulangi bertanya, "Kamu seminggu ini sama sekali ga tidur?"

Mulut penuh roti, sambil mengunyah Wonwoo menjawab "Hifur hoh Fak."

Mingyu berdecak pelan, mata masih tidak beralih ke lawan bicara di kursi penumpang. Hanya berkata, "Ditelan dulu makanannya baru jawab."

Menuruti perintah Mingyu, karena apalah Wonwoo kalau bukan seorang karyawan penurut, dia menunggu sampai seluruh croissant dalam mulutnya pindah ke kerongkongan. Lalu mengambil botol susu di dalam kantong, membuka penutupnya dan minum dari sana.

"Tidur kok Pak."

"Total berapa jam dari natal sampe hari ini?"

Saat itu wonwoo melihat sebuah toko roti dengan lambang yang sama di plakatnya dengan yang tercetak pada kantong kertas croissant. Wonwoo melewati jalan ini setiap hari dan menyadari keberadaan toko roti itu tetapi belum mampir sekalipun. Tidak pernah terlalu tertarik untuk mencoba. Sebagian karena sangat merepotkan turun bus di sekitar area ini lalu lanjut berjalan ke kosnya yang jaraknya masih sedikit jauh. Sebagian karena—alasan utama—dia tidak punya cukup uang untuk hal-hal yang tidak mendesak seperti sebiji croissant yang kemungkinan besar akan berdampak pada ekonominya. Atau simpelnya, dia terlalu miskin untuk itu. Tapi croissant yang dibeli Mingyu terasa lezat, sama dengan semua yang sudah dia berikan cuma-cuma kepada Wonwoo dalam satu minggu terakhir. Mungkin Wonwoo akan mencoba membeli sendiri lain kali. Atau setidaknya merekemondasikan kepada yang lain.

"Rata-rata enam jam sehari."

Mingyu mendengus. Pandangannya sama sekali tidak dilepas dari jalan meski jumlah kendaraan yang melintas beriringan dengan mereka dapat dihitung dengan jumlah jari di tangan saja. Betul-betul gambaran masyarakat berbudi pekerti luhur. Wonwoo menangkap sekilas senyum tipis di ujung bibir Mingyu. Jelas tidak percaya dengan kalimat yang baru dia dengar.

"Gamungkin kantung matamu sehitam itu kalau tidur enam jam sehari. Kamu begadang mikirin apa?"

Mungkin ini akan menjadi satu tambahan dari daftar panjang alasan kenapa Wonwoo tidak menyukai atasannya. Bagaimana dia melihat jauh melewati lapisan-lapisan kebohongan Wonwoo, itu membuatnya tidak nyaman. Mingyu secara general membuatnya tidak nyaman. Tetapi hal seperti ini mengelevasinya hingga berapa level. Terutama akhir-akhir ini. Mungkin juga pengaruh dari intensitas interaksi mereka sekarang. Wonwoo berharap dia tidak perlu membiasakan diri dengan pertanyaan-pertanyaan dan perhatian Mingyu yang memberi ide aneh dalam kepalanya. Semoga ini hanya menjadi fase singkat yang tidak berkelanjutan.

Wonwoo memasukkan potongan terakhir croissant dan melempar perhatian ke luar jendela. Setelah beberapa saat, dia menjawab. "Gak mikirin apa-apa kok Pak."

Bohong.

“Beneran?”

“Beneran. Bapak gausah khawatir.”

Berbohong sama sekali tidak terasa sulit bagi Wonwoo. Dia melakukannya dengan sangat natural seolah itu adalah bagian dari fungsi tubuhnya. Ada saatnya itu terasa seperti bernafas di bawah air, tetapi Wonwoo berevolusi selayaknya makhluk hidup, beradaptasi dengan lingkungan.

Berbohong itu mudah. Menyembunyikan kebenaran jauh lebih mudah. Jadi Wonwoo melakukan itu. Sejak dulu kepada teman-temannya yang bertanya jika sesuatu terjadi di rumah setiap kali dia menumpang belajar hingga larut malam dan enggan kembali ke rumah pada hari tertentu jaman mereka sekolah. Kepada orang tua Jun yang khawatir melihat tubuhnya yang terlalu kurus untuk ukuran anak remaja pada masa pertumbuhan. Kepada cinta pertamanya yang berpacaran dengan sahabatnya yang lain, mengatakan bahwa mereka terlihat serasi meski dalam hati dia merasa tidak adil, Wonwoo tidak tahu kalau mereka boleh berpacaran satu dengan yang lain dalam persahabatan itu. Dan bukannya itu akan secara ajaib membuat perasaannya terbalas, tapi tetap saja. Kepada Jihoon dua tahun lalu ketika temannya datang, mengoceh dalam keadaan mabuk tentang Choi Seungcheol brengsek, Wonwoo menenangkannya dengan kata-kata lembut, tahu dengan baik bahwa hoodie orang itu tinggal dalam lemarinya dan tangannya memeluk Wonwoo dalam tidur tidak lebih dari dua puluh empat jam lalu. Kepada tiga sahabatnya bahwa tidak ada masalah serius, dia hanya tenggelam dalam lautan pekerjaan dan tidak punya waktu untuk hang out selama dua bulan pasca Jihoon kembali berpacaran dengan Seungcheol. Kepada dirinya sendiri meyakinkan bahwa bahkan ini semua akan berlalu dan dia akan baik-baik saja.

Saking banyak frekuensi berbohong, Wonwoo sudah tidak merasakan lidah kelu atau tidak nyaman di bawah kulit setiap kali dusta keluar dari mulutnya. Wonwoo melakukannya tanpa kesulitan seperti seorang pro. Sampai pada poin terkadang dia sendiri tidak tahu membedakan antara kebenaran asli dan fabrikasi.

Berbohong jauh lebih mudah dibandingkan mengungkapkan kebeneran sebagaimana adanya dan mengkonfrontasi monster yang bersembunyi jauh jauh jauuuuh di bawah seribu lapis dusta.

Ini jauh lebih mudah.

Sedikit kebohongan kecil tentang jadwal tidurnya yang berantakan sama sekali tidak akan menyakiti Mingyu. Ini bahkan sama sekali tidak ada hubungannya dengan orang itu.

Di sisi kursi pengemudi, Wonwoo menangkap Mingyu menghela nafas, berdecak kecil dan lanjut menyetir dalam diam.

Ini akan menjadi hari yang panjang.

 


 

Mereka tiba di apartemen Mingyu sekitar tengah hari. Lockscreen ponsel Wonwoo menunjukkan pukul 12:35. Di bawah angka penunjuk waktu ada notifikasi 3 pesan baru dari Jun dan 128 pesan yang belum dia baca di grup beban negara. Wonwoo tidak repot membuka satu pun pesan yang masuk. Layar ponsel segera dimatikan dan menyimpan kembali benda itu ke dalam saku.

Untuk makan siang Mingyu memasak pasta rigatoni saus tomat dengan bola daging yang dibuat sendiri.

Wonwoo membuat catatan kecil dalam kepala bahwa Mingyu sama sekali tidak berbohong ketika mengatakan dia jago memasak. Well, dia tidak hobi berbohong seperti seseorang.

Wonwoo tidak familiar dengan bagaimana rasa pasta otentik. Pengalamannya dengan makanan asing itu terbatas pada pasta kotak siap rebus dan saus instan yang bisa disajikan dalam sepuluh menit, atau beli di kafe lokal dengan harga di bawah lima puluh ribu rupiah, dengan keju murah yang hanya ditabur sedikit. 

Pasta Mingyu disajikan di atas piring dengan saus tomat yang tidak terasa asam, kaya dengan rasa rempah asing di lidah Wonwoo, dan sangat murah hati dengan parutan keju di atasnya. 

Mingyu juga membuat bola-bola dagingnya sendiri. Dengan daging cincang yang dia beli di supermarket—terlihat mahal—lalu ditambah garam, lada, berbagai macam rempah yang tidak Wonwoo tahu namanya dengan tepat satu per satu, diaduk untuk meratakan rasa, lalu dibentuk menjadi bola kecil. Wonwoo bertugas mensupervisi bola daging itu di atas kompor, membolak balik ketika Mingyu memberi instruksi dan mengangkatnya dari wajan ketika Mingyu memberi instruksi lagi. Itu adalah kontribusi tunggal Wonwoo untuk makan siang mereka mengingat Mingyu membeli semua bahan ini sendiri, menyediakan tempat lalu membuat adonan pasta—ya, dia membuat pasta sendiri dari tepung—menyiapkan saus tomat, membentuk pasta, merebusnya dengan tingkat kematangan yang tepat, dan membuat bola-bola daging tadi. 

Dia betul-betul sempurna. Wonwoo berpikir ketika rasa lezat pasta buatan Mingyu meledak dalam mulutnya. Itu adalah pasta terbaik yang pernah Wonwoo konsumsi selama tiga dekade hidupnya. Wonwoo mengunyah makan siangnya dengan khidmat, menikmati setiap gigitan perlahan karena tidak tahu kapan lagi dia bisa makan seenak ini tanpa membuat rekeningnya menderita.

"Selain ngehias pohon natal," Wonwoo menarik nafas panjang di antara suapan pasta, garpunya bermain-main dengan bola daging berlumur saus. Pandangannya sekilas mengarah ke arah pohon natal di seberang ruangan. "Apa yang gabisa bapak kerjain di dunia ini?"

Tangan Mingyu berhenti sejenak ketika mendapat lemparan pertanyaan Wonwoo. Mereka duduk bersampingan, jadi dia tidak melihat ekspresi Wonwoo ketika berbicara. "Banyak sih sebenernya." kata Mingyu.

"Misalnya?"

"Apa ya? Hmmm." Mingyu berpikir. Atau pura-pura mempertimbangkannya dengan serius sambil lanjut menyantap pasta.

Sementara Mingyu masih memikirkan jawaban, Wonwoo melempar pertanyaan lain. "Bapak belajar masak dimana?"

"Youtube." Untuk pertanyaan ini, Mingyu langsung menjawab dengan lancar.

Wonwoo membayangkan Kim Mingyu, manajer engineering dengan jadwal yang padat, meneror anak buah di pagi hari, menonton video tutorial memasak dengan latar belakang musik yang lambat dan menenangkan di malam hari sebelum tidur.

Ha.

Mengejutkannya, Wonwoo sama sekali tidak sulit untuk menggambarkan hal itu dalam kepala. Entah kenapa itu seperti sesuatu yang sangat mungkin dilakukan Kim Mingyu. Even villain has their day off, you know.

"Hayo, kamu senyum-senyum mikirin apa?"

Wonwoo tidak sadar dia tersenyum membayangkan Mingyu di malam hari menonton video memasak sebelum tidur setelah sepanjang hari meneror bawahan di kantor sampai Mingyu menyentuh lengannya dengan siku dan menyinggung hal tersebut. Cepat-cepat Wonwoo mengubah ekspresi.

"Nggak kok Pak." Dia mengambil suapan lain dengan garpu. "Pastanya enak banget."

"Thanks," kata Mingyu. "Ini dimasak pakai hati. Saya senang kalau sesuai selera kamu."

Kalau Wonwoo menyadari nada menggoda diiringi kedipan mata Mingyu, dia memilih untuk tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Pikirannya tidak bisa menhindar dari mengingat kembali pesan teks mereka kemarin. Sesuatu tentang menemukan seseorang yang bisa saling mengisi kekurangan mereka. Menghias pohon natal untuk Mingyu, memasak untuk Wonwoo. Tapi mereka bukannya sedang menjalin hubungan yang lebih dari sekedar rekanan kerja, jadi itu semua seharusnya tidak relevan.

"Dengan masakan kayak gini, bapak bisa buka resto juga."

Suara Wonwoo getir ketika berbicara, teringat dengan kafe sepi di pinggir jalan milik Seokmin dan rumah makan seafood tempat Seungcheol bekerja. Bukan dua orang yang paling ingin dia pikirkan sekarang.

Sebagai bentuk penghiburan diri, Wonwoo membayangkan kemungkinan menyenangkan dimana Mingyu memilih jalan hidup yang sama dengan dua temannya dan tidak pernah mengusik hari Wonwoo. Kalau demikian, kemungkinan dunia mereka saling berbentur akan menyusut hingga ke angka nol koma sekian sekian persen. Tidak pernah nol secara absolut, tetapi mengerucut menuju kemustahilan. Wonwoo suka ide itu.

Mingyu tertawa. "Thanks pujiannya. Tapi saya masak karena harus bertahan hidup, bukan hobi. Dan ga pernah kepikiran jadi profesi."

"Kok gitu?"

"Waktu kuliah di US, saya sama temen-temen terpaksa belajar masak karena gakuat makan fast food tiap hari. Makan di luar juga harus bayar ekstra, karena bayar tip server dan sebagainya. Jadi kami belajar masak tipis-tipis."

"Bapak sama Seokmin?"

"Iya. Kamu inget Seokmin,” kata Mingyu dengan tidak menuduh—sarkasme. “Sama Seokmin sama Minghao. Kita tinggal bareng waktu kuliah. Sebenernya Hao sama Seokmin emang dari sananya bisa masak sih. Minghao tu generasi ketiga pemilik rumah makan. Seokmin dah biasa ngurus diri sendiri dari kecil, termasuk masak. Jadi sebenarnya sisa saya aja yang gabisa dan harus belajar pas kuliah. Gaenak kalau tiap hari cuman ngasih duit belanja terus dimasakin mereka."

"Jadi bapak inisiatif belajar."

"Yup."

Betul-betul orang dewasa penuh tanggung jawab.

Wonwoo menahan diri sangat keras untuk tidak bertanya tentang kenapa Seokmin harus mengurus diri sendiri sejak kecil padahal dia tumbuh dalam rumah tangga yang sempurna. Sebagai ganti dia mencerca diri sendiri dalam hati.

Dari periode waktu kuliah hingga sekarang setelah bekerja, Wonwoo bertahan hidup dengan kemampuan memasak nol. Bukan karena malas atau tidak mau belajar. Tetapi hari-harinya sudah cukup padat dengan mengejar kuliah dan mengajar les di sela waktu luang. Entah dia sudah terlalu lelah untuk bergerak di malam hari atau harus begadang menyelesaikan tugas, Wonwoo tidak punya cukup waktu untuk melakukan hal istimewa seperti belajar memasak.

Di hari ada jadwal mengajar les, Wonwoo biasa disuguhi roti atau makanan ringan oleh orang tua muridnya. Di hari kosong, dia makan di kantin sebelum kelas siang lalu mencoba bertahan sepanjang hari dengan itu. Terkadang Jun mendapat kiriman tiga toples penuh lauk dari rumah, Wonwoo 'membantu' menghabiskannya.

Mungkin ini terkesan seperti dia sedang mencari justifikasi untuk kekurangannya dibanding Mingyu. Meski Wonwoo tahu sejak awal membandingkan diri dengan personifikasi dari kesempurnaan adalah kesia-siaan. Sejak awal mereka berdiri di bawah horizon langit yang berbeda. Wonwoo tidak akan pernah menyentuh bahkan seberkas dunia Mingyu.

Karena itu, seharusnya dia tidak perlu sedih. Tapi kondisi mentalnya yang tidak sedang berada di tempat terbaik menjadi alasan untuk rasa dengki yang tidak berhenti merayap di atas kulit sensitif Wonwoo.

"Kalau diliatin doang, pastanya ga bakalan jalan sendiri ke mulut."

Wonwoo tersentak dari lamunan ketika Mingyu menjentikkan jari di depan wajahnya. Buru-buru dia merampungkan pesta mengasihani diri sendiri itu.

Pasta rigatoni masih tersisa setengah di atas piring Wonwoo sementara Mingyu sudah mengosongkan piringnya sendiri hingga bersih tanpa setitik bercak saus. Di sisi lain rasa lapar Wonwoo seperti terevaporasi dalam udara kosong.

"Kamu ngelamun mikirin apa lagi?" Mingyu bertanya untuk kesekian kali hari itu. Dia duduk dengan lengan bersandar di atas counter dan menopang wajah yang menghadap ke arah Wonwoo. Nada suaranya halus bertanya, tidak seperti bagaimana dia biasa melakukannya ketika meminta penjelasan untuk setiap kesalahan minor dalam laporan Wonwoo.

Dan Wonwoo ingin menghapus ekspresi lembut itu dari wajah bosnya. Mingyu tidak cocok melakukan hal seperti ini. Hal-hal seperti membelikan sarapan dan makan siang untuk memastikan Wonwoo memenuhi nutrisi hariannya, seperti menanyakan keadaannya setiap hari dengan mata yang khawatir dan menunjukkan kepedulian karena kantung mata Wonwoo yang semakin hari semakin gelap satu shade, seperti mengirim pesan random dan memberi tahu Wonwoo hal-hal yang mengingatkan orang itu padanya, seperti memberi kabar setiap malam bahwa dia sudah kembali ke rumah dengan selamat seolah Wonwoo menunggu kabar itu atau bahkan peduli sama sekali. Wonwoo tidak peduli, sebagai informasi. Setidaknya tiga kali dalam satu minggu dia mendoakan hal buruk terjadi kepada orang itu.

Wonwoo tidak peduli. Sungguh.

Dan sebagai gantinya, Wonwoo tidak ingin dipedulikan.

Ibu kandungnya tidak peduli padanya sedari kecil. Wonwoo bisa hidup tanpa rasa peduli palsu Mingyu yang dangkal.

Jadi Wonwoo menyendok kembali pasta spesial yang sudah dimasakkan Mingyu untuknya—untuk mereka. Memaksa mengunyah sisa makan siangnya meski Wonwoo merasa lambungnya bergejolak ingin menolak keluar apapun yang sudah dia masukkan sejak pagi. 

“Gak mikirin apa-apa kok Pak.” Wonwoo berkata, memberi senyum karir terbaik yang selalu dia berikan kepada bosnya.

Secara mengejutkan Mingyu tidak mendesak jawaban dari Wonwoo saat itu juga. Sama seperti tadi pagi, hari kemarin, atau setiap kali dia bertanya. Entah dia memang tidak sepenasaran itu atau dia selalu percaya bahwa dia akan mendapat jawaban di kesempatan berikut dia melempar pertanyaan berulang itu.

Sisa makan siang Wonwoo terasa seperti asam lambung dan welas kasih pada diri sendiri. Wonwoo menelan dengan susah payah hingga suapan terakhir.

Dia ingin berharap hari ini segera berakhir.

 


 

Di malam hari, Mingyu mengeluarkan alat pemanggang dengan satu kontener kecil daging, sosis, cumi-cumi, bawang, sayur selada, perilla, dan cabe-cabean raksasa.

Mereka memulai makan malam sedikit larut. Setelah seharian menghabiskan waktu bermain segala macam game yang Mingyu punya dalam apartemen satu orangnya.

Di awal seusai makan siang, Mingyu mengeluarkan sebuah kotak puzzle seribu keping, mengatakan bahwa dia membelinya untuk menghabiskan waktu senggang. Dan karena mereka juga tidak punya hal lain untuk dilakukan—Mingyu bertanya jika Wonwoo ingin keluar ke suatu tempat untuk menghabiskan waktu sampai sebelum pergantian tahun, Wonwoo menolak sebelum terlambat menyadari bahwa itu sama sekali bukan pilihan bijak—jadi mereka membunuh waktu dengan menyusun kepingan puzzle itu.

Gambar penuh puzzle mereka setelah selesai disusun adalah potret rumah biasa dengan anak-anak bermain di depannya dan seekor anjing yang melompat girang.

“Dua jam buat nyelesaiin beginian.” Mingyu berbicara di sebelah Wonwoo. Memandang ke susunan rapi puzzle.

“Gak masalah kan kalau puzzle nya saya acak lagi?” Mingyu bertanya kepada Wonwoo meminta izin, meski tangannya sudah melayang hanya lima centimeter di atas susunan sempurna itu.

Wonwoo mengedik acuh, “Terserah bapak.”

Lalu Mingyu melakukan tepatnya hal yang sudah dia katakan. Mengembalikan kondisi puzzle itu ke keadaan semula sebelum mereka bekerja selama dua jam untuk memberi makna pada kepingan-kepingan kecil tidak berarti itu.

Butuh waktu dua jam untuk mengerjakan gambar yang terlihat sederhana. Dan hanya tiga detik untuk membuatnya kacau balau, seperti sediakala sebelum mereka berdua bekerja sama membangunnya dengan hati-hati. Wonwoo berusaha untuk tidak memberi makna terlalu dalam atau berpikir jauh ke segala sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan permainan sederhana anak kecil ketika memandangi kepingan acak di atas lantai yang tidak berarti itu. Kepalanya sudah cukup penuh dengan berbagai macam hal, mencari makna terlalu dalam untuk segala sesuatu yang dilakukan Kim Mingyu hanya akan menambah nyeri di ubun-ubunnya.

Selesai dengan puzzle, Mingyu kemudian mengeluarkan kotak lain dari dalam gudang. Mereka membangun lego selama tiga jam berikutnya. Kali ini Mingyu tidak menghancurkan lego yang sudah terpasang. Dia membawa model kapal laut itu dan meletakkannya di dalam lemari kaca di sebelah televisi. Wonwoo tidak bertanya apakah Mingyu sengaja membeli mainan-mainan ini untuk dikerjakan bersama Wonwoo khusus hari ini.

Lalu mereka bermain play station. Tidak tahu ada berapa ronde call of duty yang mereka mainkan sebelum menyadari matahari sudah lama beristirahat. Mingyu mengumumkan bahwa matanya lelah dan sudah waktunya makan malam. Saat itu sekitar pukul sembilan.

Makan malam sesuai dengan rencana awal—alasan utama Wonwoo menghabiskan hari terakhir tahun 2023 nya di apartemen Mingyu—barbeque daging, sosis, dan segala pelengkapnya. Mereka tidak makan terlalu banyak dari bahan makanan yang sudah disiapkan Mingyu. Wonwoo beralasan bahwa perutnya masih penuh karena makan terlalu banyak pasta siang tadi. Mingyu tidak mengkritik Wonwoo terlalu keras seperti hari-hari sebelumnya tentang kebiasaan makan Wonwoo yang jelek. Alih-alih dia mengumpulkan sisa bahan makanan yang belum disentuh dan menyimpan ke dalam kulkas untuk dimasak hari lain. 

Wonwoo mengumpulkan piring dan mangkuk kotor dari atas meja. Memasukkan peralatan-peralatan itu ke dalam mesin pencuci piring otomatis—sangat mudah dan convenient, sesuai dengan metode kerja Kim Mingyu.

“Kamu mau mandi duluan atau mau setelah saya?” adalah pertanyaan tiba-tiba Mingyu setelah mereka selesai merapikan dapur.

Pertanyaan yang sama sekali tidak diantisipasi Wonwoo. Dari mendapat tawaran untuk merayakan tahun baru bersama hingga ketika Mingyu menjemput tadi pagi, menumpang mandi di apartemen Mingyu adalah sesuatu yang tidak terlintas dalam pikirannya meski hanya sepersekian detik. Karena mereka hanya membuat rencana makan siang, lalu barbeque untuk makan malam, lalu menunggu pergantian tahun, lalu…

Lalu apa?

Untuk pertama kali Wonwoo berpikir. Otaknya berlari ke arah selatan.

Apa yang mereka rencakan setelah itu?

Apakah Mingyu menawarkan Wonwoo untuk menginap? Atau mengantarnya kembali ke kamar kos yang dingin dan sepi di sisi lain kota, tidak ada televisi besar dengan play station atau puzzle seribu keping untuk membunuh waktu. Hanya Wonwoo dengan pikiran gelap dan bayangan tentang hidup yang tidak bisa dia miliki.

“Kamu gak berencana mau tetap bau asap sama saos berbeque sampe besok pagi kan?”

“Eh, ngga?” Wonwoo membalas dengan ragu. “Tapi saya ga bawa baju ganti. Nanti mandinya pas udah pulang ke kos aja Pak.”

Nanti malam. Setelah jam 12.00. Seperti Cinderella.

Mingyu mengeryitkan kening. Wonwoo hapal ekspresi itu. Dia sedang menghakimi kapasitas berpikir Wonwoo dan tidak setuju dengan omong kosong apapun yang keluar dari mulutnya.

“Terus mau begadang nunggu tahun baru bau asap begitu?”

Wonwoo mengangkat lengan untuk mengendus baunya sendiri. Sadar penuh bahwa dia bau asap dan saos barbeque, seperti kata Mingyu. Tapi tidak separah itu sampai dia harus dihakimi sedemikian rupa.

“Masalahnya saya juga ga bawa baju ganti, sama aja tetep bau asap abis mandi Pak.”

“Bentar.”

Setelah mengatakan itu, Mingyu beranjak dari hadapan Wonwoo, menghilang ke balik pintu yang Wonwoo tebak adalah kamar pribadi orang itu. Sementara Wonwoo memutuskan untuk duduk di kursi pantri selagi menunggu Mingyu. Dia mengeluarkan ponsel untuk mengecek jam dan pesan-pesan masuk. Pukul 10 lebih tujuh belas menit. Ada lebih dari empat ratus pesan baru di grup beban negara. Jun mengecek untuk bertanya jika acaranya dengan Pak Mingyu berjalan lancar. Seungkwan mengirim swafoto bersama pacarnya, beberapa chat tentang pekerjaan.

Selesai membalas beberapa chat personal orang-orang, Wonwoo menggulir empat ratus pesan di grup beban negara. Kebanyakan pembicaraan ngalor ngidul tidak berguna dari Jun dan Soonyoung. Dua orang itu sepertinya punya sangat banyak waktu luang hari ini. Bukan hal yang aneh untuk Jun, dia pasti sangat bosan berkumpul dengan keluarga besar. Sementara Soonyoung, Wonwoo tidak mengerti kenapa anak itu tiba-tiba sangat aktif di akhir tahun. Seharusnya dia sedang menghabiskan malam romantis dengan om atau apalah Soonyoung menyebut orang itu. Jihoon muncul sekitar pukul delapan dan membalas aktif selama lima belas menit sebelum menghilang lagi setelah terlebih dahulu mengirim foto Seungcheol, untuk memperjelas alasan dia berhenti membalas meski mereka bertiga sudah mengerti dia dengan baik tanpa perlu melakukan itu.

Ini adalah bagian dimana Wonwoo seharusnya menahan diri dengan baik. Tetapi entah kenapa akhir-akhir ini jempolnya selalu punya ide dan keinginan sendiri yang tidak sejalan dengan akal sehat. Dia berhenti menggulir chat. Mengetuk media yang dikirim Jihoon dan tidak segera menutupnya seperti yang dimau otak. Jempolnya berhenti bergerak, demikian dengan pandangannya, membeku pada foto orang itu yang bahkan namanya tidak lagi ingin Wonwoo sebut dengan lidahnya.

Wonwoo benci orang ini sampai ke atom paling kecil dalam tubuhnya. Dia benci dengan rambut hitamnya yang jatuh sempurna di atas mata tanpa kesulitan, benci senyumnya yang ditujukan ke kamera dengan Jihoon di belakangnya, benci bagaimana gusinya terlihat setiap kali dia tersenyum, benci bulu matanya yang panjang dan elegan seperti milik wanita. Wonwoo benci karena dia hapal berapa jumlah total kerutan di hidungnya ketika tesenyum dan bagaimana Wonwoo tidak akan pernah sedekat itu lagi untuk menghitungnya dan membuktikan sebuah poin.

Kalau bisa…

Suara berdeham menginterupsi laju lamunan Wonwoo. Suara langkah kaki Mingyu sama sekali tidak tertangkap sinyal Wonwoo ketika orang itu berjalan mndekat. Cepat-cepat dia mematikan layar ponsel dan menyimpan kembali benda itu ke dalam saku.

Ketika mendongak untuk melihat ke arah Mingyu, orang itu memasang ekspresi yang tidak bisa Wonwoo enkripsikan. Antara terhibur atau kesal menjadi satu ekspresi yang membingungkan. Tapi Mingyu tidak menyinggung apa pun kegiatan mencurigakan Wonwoo sebelum tertangkap basah, hanya menyodorkan tumpukan kain dengan sikat gigi dan kotak yang sepertinya adalah celana dalam baru di atasnya. 

“Ini handuknya masih baru, emang saya sengaja siapin spare kalau ada tamu. Celana dalam sama sikat giginya juga. Tapi baju sama celana, pinjam punya saya dulu gak masalah kan?”

Wonwoo, meski sedikit ragu, menerima tumpukan kain itu dari tangan Mingyu.

Segera setelah benda-benda itu berpindah tangan, Mingyu berbicara lagi. "Saya mandi duluan aja gapapa ya? Agak gerah soalnya.”

“Oh, iya, silakan Pak.”

"Selagi nunggu, kamu kalau mau sambil nonton tv gapapa. Tapi gatau sih ada acara apa. Saya jarang nonton. Apa mau nonton film? Tv nya kesambung sama akun netflix. Atau buka youtube juga bebas. Pokoknya pilih aja mau apa. Saya subscribe prime sama disney juga.”

Dengan kepadatan jadwal project mereka, Wonwoo bertanya-tanya apa Mingyu bahkan punya wkatu untuk menonton satu film. Sampai perlu berlangganan dengan semua jenis platform streaming. Kebiasaan finansial orang kaya betul-betul sulit dimengerti. Tapi itu bukan urusan Wonwoo.

Mengesampingkan rasa iri, Wonwoo hanya membalas, “Oke Pak.”

 


 

Demikian tiga puluh menit sebelum pergantian tahun, Wonwoo duduk di lantai dengan kepala segar selepas keramas, mengenakan pakaian Mingyu, tubuh beraroma sabun mahal Mingyu, menonton televisi sambil minum anggur Mingyu.

Wonwoo meletakkan bahu menyandar di ujung sofa sementara Mingyu berbaring miring di atasnya, satu lengan menopang kepala, tangan lain di kepala Wonwoo, mengelus lembut rambut pemuda itu.

Wonwoo tidak tahu kapan dan bagaimana tepatnya mereka berakhir dalam posisi itu. Matanya berat oleh kantuk, bertentangan dengan kepalanya yang terasa ringan seperti di atas awan. Dan Wonwoo sama sekali tidak bisa memikirkan seberapa domestik posisi dia dengan bosnya sekarang.

Di hadapan mereka televisi menyala kencang memainkan film home alone yang pada satu poin berhenti diperhatikan oleh Wonwoo.

Kevin membuat jebakan dengan kaleng cat yang mengayun ke wajah Harry atau Marv, Wonwoo tidak tahu siapa yang siapa. Dan dia sudah tidak peduli dengan jalan ceritanya sejak dua puluh menit lalu. Home Alone adalah salah satu film yang sudah Wonwoo lihat berkali-kali sewaktu kecil. Mereka ditayangkan di televisi di bulan desember dan Wonwoo menontonnya berdua dengan Jeonghan selagi ibu, ayah, Dino dan Somi menghabiskan waktu di luar, ke pasar malam, ke mall, department store, atau makan enak tanpa mereka.

Home Alone, seperti sangat banyak hal baik lainnya dalam hidup, ironisnya selalu mengingatkan Wonwoo dengan masa kelam. Mereka adalah kontributor untuk alergi kronis Wonwoo terhdapap kebahagiaan.

Natal dan tahun baru adalah waktu dimana Wonwoo paling rentan. Waktu dimana dia merindukan sesuatu yang tidak pernah dia miliki.

Di masa-masa ini Wonwoo berharap dia boleh masuk kembali ke dalam rahim ibunya, meringkuk dalam dunia sempit dan gelap, terapung di cairan amniotik, mengandalakan inang untuk bertahan hidup. Rasanya itu adalah terakhir kalinya seseornag menganggapnya berharga. Pada hari seperti ini, Wonwoo mengutuk momen penciptaannya.

Wonwoo bukan orang yang religious, tetapi dia akan bertanya, mungkinkah Tuhan yang begitu baik menciptakan seseorang hanya untuk penderitaan?

Lalu.

Apakah orang itu harus dia?

Wonwoo meraih botol anggur di atas meja. Botol kedua yang sudah mereka buka. Isinya sudah berkurang lebih dari setengah. Dia menuangkan ke dalam gelasnya hingga mengisi sampai hampir mencapai bibir gelas.

"Itu gelas keberapa? Nanti kamu mabuk loh. Itu bukan bir."

Mingyu berbicara dari belakang kepalanya. Dialah yang sudah mengelurkan alkohol untuk mereka minum sambil relaksasi dan menonton film selagi menunggu pergantian tahun.

Wonwoo tidak menghiraukan kata-kata Mingyu. Malah menghabiskan isi gelas dalam sekali teguk. Ada rasa asam dan terbakar ketika wine mengalir di sepanjang saluran tenggorokan hingga esofagus. Tetapi bahkan rasa itu tidak cukup untuk mematikan rasa sakit tidak terjelaskan dalam dirinya. Sesuatu di antara diafragma, di bawah rusuk, di dalam kepala, di ujung jari. Seluruh tubuh Wonwoo terasa berdenyut nyeri.

Mungkin ini efek karena dia tidak tidur cukup selama satu minggu terakhir. Mungkin karena alkohol mendisrupsi neuron dan Wonwoo tidak bisa berpikir dengan benar. Tetapi rasa sakit konstan menjalar dari akar tumit hingga puncak ubun-ubun, Wonwoo ingin mereka berhenti.

Jadi setelah menenggak hingga tetes terakhir alkohol dari gelasnya, Wonwoo meraih kembali ke arah botol wine. Mengisi penuh ke dalam gelasnya untuk kali keberapa sejak Mingyu mengeluarkan stok alkohol dari dalam lemari dan berkata bahwa malam mereka akan lebih menyenangkan dengan selingan alkohol.

Mingyu benar dalam hal ini. Setidaknya malam ini menjadi lebih bisa tertahankan dibanding malam-malam lain. Terima kasih kepada intoksikasi alkohol dalam sistemnya.

"Kayaknya kamu udah bisa stop minum wine nya deh."

Mingyu meletakkan tangan di pergelangan Wonwoo sebelum bibir gelas bersentuhan dengan bibir orang itu sendiri. Alisnya mengkerut menjadi satu selagi melihat ke arah Wonwoo.

"Kalau dilanjutin terus, kamu bakal mabok sebelum tahun baru."

Dengan susah payah Wonwoo memgumpulkan alfabet dalam kerongkongan untuk membentuk satu kalimat koheren. Tetapi yang keluar hanya tawa kecil yang kemudian diikuti, "Kamu lucu banget kalau cemberut gitu."

Mingyu tersentak kaget selama beberapa detik usai mendengar kalimat itu. Wonwoo sendiri tidak kalah kagetnya dengan kata-kata yang baru saja keluar dari bibirnya sendiri. Tetapi dia menggunakan momentum kaget Mingyu untuk meneguk habis anggur dalam gelasnya lagi.

Dunia sedikit miring ketika Wonwoo menyingkirkan gelas yang sekarang kosong dari wajahnya. Di sebelahnhya Mingyu tidak berhenti bergerak dengan sangat cepat sehingga terlihat buram dalam pandangannya.

“Kamu bisa gak jangan gerak-gerak. Aku pusing liatnya.”

Mingyu berdecak kecil, memandang botol wine di atas meja. Dia nyaris tidak menyentuh botol wine kedua sejak dibuka. Sekarang isi botol itu hanya tersisa sekitar tiga centi meter yang artinya Wonwoo hampir menyelesaikan satu botol wine ini seorang diri, ditambah dengan setengah botol pertama. Apa yang dia pikirkan minum alkohol sekencang itu seperti seorang alkoholik.

Mingyu mengeluarkan ponsel untuk mengecek jam. Masih 15 menit sebelum pergantian tahun.

"Manggil saya pake kamu kamu. Mabuk beneran kan kamu?" kata Mingyu sambil berusaha merebut gelas dari tangan Wonwoo. Dia terlihat seperti berniat mengisi kembali gelas itu.

Wonwoo di sisi lain tidak berniat membiarkan Mingyu menangani dia tanpa perlawanan. Dia mengeratkan genggaman pada gelas, berpikir dia cukup kuat untuk menghentikan agresi Mingyu.

“Ngga mabuk,” kata Wonwoo. “Masih sadar seratus persen.”

Ekspresi Mingyu jauh dari percaya. Lalu Wonwoo mengoreksi, “85%.”

Dia merasa masih sadar. Mungkin sedikit lebih berani dan tidak bertingah seperti dirinya sendiri dan mungkin dia tidak sepenuhnya sadar siapa orang di dpeannya, tetapi otaknya jelas tidak dalam kondisi total blackout.

“Tetap aja. Kamu udah cukup minum wine nya.”

Tentu saja Wonwoo tidak cukup kuat melawan Mingyu. Lengannya yang tidak terlatih punya kesempatan negatif jika diadu dengan bisep Mingyu yang hampir sama ujurannya dengan paha Wonwoo. Belum lagi tubuhnya yang terasa seperti jelly karena pengaruh alkohol. Mingyu sama sekali tidak mengeluarkan keringat untuk merebut gelas wine dari tangan pemuda itu. Kemudian diletakkan dengan kasar di atas meja.

Mingyu melipat tangan, masih dengan kening mengerut, memandang Wonwoo tidak senang.

"Ngapain kamu minum wine sebanyak ini kalau gakuat minum?"

Wonwoo, jelas mabuk, tertawa kecil dan menjawab, "Dah dibilang aku ga mabok."

Mingyu memutar bola mata, sama sekali tidak percaya sangkalan Wonwoo yang bertolak belakang dengan pemandangan di depan mata. "Ya ya, coba ngomong yang bener dulu, maybe I'll be more convinced."

"Benerrraan," kata Wonwoo. Jari telunjuk diletakkan di depan hidung Mingyu.

Yang ditunjuk, menukikkan alis dan mengantisipasi dengan terhibur. Hal bodoh apa yang akan dilakukan Wonwoo dalam keadaan mabuk yang lebih luar biasa dibanding banyak gebarakan yang dia lakukan dalam keadaan sadar.

"Jangan liatin aku kayak gitu. Aku gasuka."

"Kayak gimana?" balas Mingyu bertanya. Sambil dia meletakkan kedua tangan di bawah ketiak Wonwoo, membantu orang itu bangkit dari lantai dan memindahkannya ke atas sofa.

Wonwoo sama sekali tidak melawan. Bukti lain bahwa dia lebih mabuk dari yang dia sendiri akui.

"Kayak... kayak... kamu ngira aku ini bodoh dan gabisa apa-apa."

"Saya gapernah nganggap kamu bodoh."

"Tapi tiap nemu kesalahan kecil di report aku, kamu slalu marahnya berlebihan."

"Berlebihan gimana?" Mingyu mengatur agar Wonwoo duduk dengan baik. Kemudian berganti sekarang Mingyu yang di lantai, posisi berlutut dan mendongak memandang Wonwoo.

"Kamu marah-marah."

Dari posisi ini, Mingyu melihat jelas mata Wonwoo yang terlihat sayu, pipinya membara merah dan bibirnya dikerucutkan dengan cara yang seharusnya tidak lucu ketika dilakukan seorang pria dewasa berumur 30 tahun.

Mingyu menggerakkan tangan untuk menyingkirkan rambut yang menempel di dahi Wonwoo dan Wonwoo membiarkannya seolah itu adalah gerakan yang wajar dilakukan atasan. Rambut Wonwoo masih sedikit basah karena keramas tadi dan mengeluarkan wangi khas shampoo Mingyu. Bukan hanya rambut, dia sedang duduk di atas sofa Mingyu, megenakan pakaian Mingyu, minum wine Mingyu setelah seharian makan makanan Mingyu, dan menonton di TV Mingyu.

Lalu di kakinya ada dua Kim Mingyu yang memandang lembut ke arahnya dan berbicara dengan nada yang tidak kalah lembut. "Kamu gasuka dimarahin, hm?"

Wonwoo menggeleng. Lalu matanya berkaca. "Kamu ngejengkelin kalau lagi marah." Berhenti sejenak. Lalu "Kamu ngejengkelin walaupun gak lagi marah."

"Jadi saya ngejengkelin setiap hari?"

Wonwoo mengangguk.

"Kenapa?"

"Karna... karnaaaa," Wonwoo mengernyitkan kening seraya berpikir. Seolah sedang mencari alasan di dalam kepalanya kenapa dia benci dengan manusia di depannya. Jawabannya sudah terpikirkan sepanjang hari dalam bentuk pikiran-pikiran picik setiap menganalisa sudut rumah Mingyu yang meneriakkan jelas tentang bagaimana dia dibesarkan. Seratus delan puluh derajat berbeda dengan Wonwoo. Wonwoo merangkumnya menjadi, "Gimana rasanya jadi manusia sempurna kayak kamu?"

Mingyu tertegun. Sama sekali tidak mengantisipasi balasan seperti itu dari Wonwoo. Mingyu berpikir dalam kondisi mabuk dan kesadaran di bawah 70 persen seperti ini, mungkin dia akhirnya akan mendengar pengakuan jujur Jeon Wonwoo tentang bagian mana dari Kim Mingyu sebagai atasan yang membuat dia benci. Entah dia terlalu banyak mengomel, terlalu susah untuk disenangkan, terlalu pandai mencari kesalahan, atau Wonwoo hanya tidak menyukai caranya membawakan diri dan seterusnya dan seterusnya.

"Kamu ngerasa saya sempurna?"

Wonwoo menggigit bibir lalu mengangguk. Matanya berkaca. Mingyu berasumsi itu dikarenakan kantuk dan pengaruh alkohol. Dia betul-betul butuh jadwal tidur baru yang lebih baik.

Tiba-tiba Wonwoo meletakkan tangan di pipi Mingyu. Memandang dengan mata sedihnya ke bawah, ke arah Mingyu. "Kita ini diciptain sama tuhan yang beda ya?"

Mingyu tertawa karena pertanyaan konyol Wonwoo. Dia menyandarkan pipi dengan nyaman pada telapak tangan pemuda itu, lalu meletakkan tangannya sendiri menyentuh punggung tangan Wonwoo. Dia tidak tahu apa yang dia harapkan dari mengajak Wonwoo menghabiskan malam tahun baru berdua begini. Mungkin mengurangi rasa kesepian masing-masing? Atau berharap kecil untuk mengulangi apa yang mereka lakukan di malam natal? Atau memberi kasur yang lebih nyaman dibanding di kamar kos orang itu yang sempit dengan harapan akhirnya mereka bisa mengurangi kantung matanya yang semakin bertambah hari semakin menyeramkan?

Yang jelas bukan ini. Mingyu tidak dengan sengaja membuat Wonwoo mabuk dan mencurahkan isi hati atau menyentuh wajah Mingyu seperti... seperti mereka akan melewati batas hubungan profesional mereka.

Di belakang kepala Mingyu terngiang kalimat dua sahabatnya. Office romance is the best recipe to fuck up your career. Mingyu sendiri tidak yakin jika dia menginginkan itu dari hubungannya dengan Jeon Wonwoo. Wonwoo jelas berbagi sentimen yang sama. Dia dengan segala ketidakcakapan dan dustanya.

"Saya gatau soal Tuhan, tapi manusia gak ada yang sempurna."

"Makanya itu," Wonwoo berkata lambat. "Makanya kamu dikasih personality gitu dan dibenci semua orang."

"I know you always have something against my personality but ouch."

"Kamu ngomong bahasa inggrisnya bagus," kata Wonwoo lagi, melompat ke topik lain. "Pasti seru ya punya ortu kaya yang peduli dan bisa nyekolahin ke US."

Mingyu kali ini tidak menjawab. Wonwoo baru saja menyinggung sesuatu yang pada hari baik tidak akan Mingyu biarkan dibicarakan tanpa konsekuensi kepada si pembicara. Tetapi dia membiarkan Wonwoo meletakkan tangan lain di sisi pipi satunya sambil orang itu bebricara dengan nada bergetar dan mata berkaca.

Hari ini Mingyu akan menyalahkan ini semua kepada kondisi lelah dan kurang tidur Wonwoo ditambah pengaruh alkohol yang membuat lidahnya mungkin sedikit tidak bisa didisiplinkan. Dia terlihat menyedihkan. Jadi Mingyu akan membiarkannya.

"Mungkin kamu ngeliat saya sempurna tapi gak semua seindah yang kamu bayangin"

Wonwoo menggelengkan kepala dan meletakkan jari di depan bibir Mingyu.

"Kamu cakep, kaya raya, sukses di usia muda, tinggal di apartemen sebagus ini. Bagian mana lagi yang kurang indah, Pak Mingyu?"

"Tapi hidup ini gak cuman soal materi."

"Emang itu kata orang-orang berduit biasanya."

Mingyu menghela nafas. "Ngejudge orang berdasarkan materi, I thought you’re better than this?"

"You thought this, you thought that. Kamu gatau aku, Mingyu."

"Okay, so now we move to first name basis. Noted. Terus kamu ngerasa tau saya, gitu? Look at you being a hypocrite."

"Tapi nyatanya kamu emang gatau apa-apa soal aku. Tapi kamu slalu ngomong sama aku seolah-olah kamu tau hal-hal yang gak aku kasih tau. Aku gapernah suka kamu yang kayak gitu. That's why you are the devil." 

"So I am indeed the devil?"

Wonwoo tidak mengonfirmasi pertanyaan terakhir Mingyu. Sebagai gantinya berkata lagi. "Tapi sebenernya kamu itu baik. Dan perhatian sama bawahan. Walaupun bakal lebih baik ga diperhatiin."

"Kenapa gitu?"

"Karena kalau gitu, lebih gampang buat benci sama kamu."

"That's weird. Jadi kamu sebenernya ga benci sama saya tapi pengen benci sama saya?"

Wonwoo menggeleng. "No, no. Aku emang benci."

"Karena?"

"Karena kamu terlalu sempurna."

"Dan saya udah bilang kalau manusia itu gaada yang sempurna."

"At least kamu dibesarkan dengan baik dan selalu berkecukupan. Kamu sukses dan kaya raya. Kamu bisa segalanya."

"Dan kamu tau pasti kalau hidup saya ini selalu bahagia tanpa kekurangan apapun?"

"Iya," kata Wonwoo dengan keras kepala. Dia tahu mulutnya berjalan auto pilot dan ada kemungkinan dia akan menyesali interaksi ini di pagi hari. Tapi kesadaran bahwa dia tidak sedang dalam kapasitas berpikir yang sehat, tidak cukup untuk menghentikan impulse untuk melampiaskan sesuatu yang tertahan terlalu lama. "Kamu... emangnya apa lagi coba yang kurang dari hidupmu?"

"Macam-macam. Kamu sendiri? Masalah apa yang segitu beratnya sampai seolah-olah kamu manusia paling malang sedunia ini?"

"Berat kalau diceritain. Mending kamu gatau."

"Kenapa?"

"Karna... karna setelah tau, terus apa?"

"I can share your burden."

"Buat apa?"

Mingyu mengedik. "Untuk ngeringanin beban kamu?"

"Buat apa?"

"Yah karena aku mau jadi seseorang yang bisa kamu andalkan di saat lagi kesulitan? Instead of, bearing all the burden alone?"

"Supaya aku bergantung sama kamu, percaya sama kamu, ngasih semuanya buat kamu trus kamu ninggalin aku buat pacaran sama yang lebih baik dan nikah sama dia?"

Pada poin ini, Mingyu merasakan sakit kepala menghampiri. "You're clearly projecting. Kamu mikir saya ini siapa?"

Wonwoo tidak menjawab pertanyaan Mingyu. Hanya diam memandang bosnya itu masih dengan mata yang dipenuhi nelangsa. Cahaya dari televisi dan dan lampu di pohon natal berpendar di wajah orang itu. Wonwoo menggigit bibir bawahnya lalu berbicara dengan suara bergetar. “Kenapa harus aku?”

Mingyu mengernyitkan kening. Gagal mengikuti sekarang kemana arah topik Wonwoo. Akan lebih baik jika dia mengeluarkan keluhan personal tentang Mingyu. Dengan begitu mungkin Mingyu akan bisa menemukan cara untuk memperbaikinya.

“Kamu…” Wonwoo berbicara dengan suara pelan mendekati bisikan. “Kamu mau apa dari aku?”

Mingyu ragu sesaat. Dia sendiri mempertanyakan hal yang sama. Sejauh ini belum menemukan jawaban. “Entahlah.”

“Kamu pernah ga sih sayang sama aku?”

Mingyu tidak menjawab. Pertanyaan itu begitu tiba-tiba munculnya.Tidak tahu dari mana datangnya. Mingyu sama sekali tidak tahu harus merespon seperti apa. Bagian menakutkannya adalah, Mingyu tahu bahwa ada kemungkinan besar bahwa bukan dia objek asli tujuan pertanyaan itu.

Di latar belakang, terdengar suara lesatan kembang api yang segera diikuti dentuman kencang secara beruntun. Satu, dua, tiga ledakan saling bersahutan. Ketika satu kembang api menyala, ledakan-ledakan berikutnya mengikuti tanpa jeda. Seketika malam yang sunyi menjadi gegap gempita. Kepala Wonwoo ada pada kondisi serupa.

"Udah jam 12. Happy new year Wonu," kata Mingyu. Karena itu lebih gampang dibanding jungkir balik memikirkan pertanyaan absurd dari orang mabuk di hadapannya.

Wonwoo mengambil waktu sedikit lama sebelum membalas pelan "Happy new year."

Dari balik jendela, ledakan kembang api riuh mengisi malam. Bunyi christmas carol dari film Home Alone redam tertelan oleh ledakan-ledakan itu.

Dari posisinya duduk, Minguu memandang berkas cahaya dari ledakan dibalik jendela memantul di atas kulit Wonwoo.

"You look so beautiful," Mingyu tidak bisa berhenti berpikir. Jarinya menelisik lembut punggung tangan Wonwoo membentuk pola acak. Lalu Mingyu menambahkan. "Yet so broken. Who made you this way?"

Wonwoo tidak menjawab.

Bukannya Mingyu mengharapkan jawaban juga. Dia punya ide. Dari kepingan-kepingan kecil informasi yang dia tangkap tidak sengaja pada setiap interaksi kecil dengan orang itu. Jika dikumpulkan dan disusun rapi seperti puzzle, Mingyu bisa melihat gambaran samar tentang apa yang membentuk seorang Jeon Wonwoo.

Sementara Wonwoo, untuk sesaat ekspresinya terdistorsi. Seperti sedang menimbang sesuatu dengan seksama sebelum membiarkan alkohol mengalahkan akal sehat—jika akal sehatnya bahkan masih memberi perlawanan.

Wonwoo menurunkan wajahnya. Lalu semua berjalan dengan sangat cepat. Hanya selang sepersekian detik, tanpa memberi Mingyu kesempatan untuk bereaksi, dia mencium Mingyu persis di bibir.

Lima detik.

Mingyu menghitung secara presisi. Wonwoo hanya meletakkan bibir di depan bibir Mingyu. Mingyu diam menerima, bibir terkunci dan menolak membalas ciuman Wonwoo. Lalu Wonwoo menarik diri. Pipinya merona merah. Sebagian besar karena alkohol, sebagian besar karena pendar merah dari ledakan cahaya kembang api di luar jendela, yang lain mungkin karena apa yang baru dia perbuat.

Ciuman kedua mereka sama sekali tidak seperti yang pertama. Ketika dia mencium Wonwoo di dekat pohon natalnya minggu lalu, Mingyu masih merasa sedikit excited . Ciuman tahun baru ini hanya menyisakan rasa hampa tanpa debar.

Wonwoo menarik dua tangannya dari sisi wajah Mingyu, seolah tiba-tiba sesuatu pada kulit Mingyu membakar jarinya. Dengan kepala mabuknya, Wonwoo bertanya. “Kenapa?”

“Apanya yang kenapa?”

“Kamu gasuka aku?”

“That’s not…” Mingyu mencoba memberi jawaban. Tetapi ketika mencoba berpikir dengan kepala dingin, situasi ini sangat absurd. Dan Mingyu mengerti bahwa ini karena dia sedang berbicara dengan ornag mabuk. “Tentu saja saya suka kamu,” kata Mingyu. Jeda sedikit sebelum menambahkan. “Sebagai karyawan.”

Itu adalah respon yang paling waras untuk diberikan dalam kondisi ini. Menurut hemat Mingyu. Namun ekspresi terluka di wajah Wonwoo mengindikasikan berlawanan. Mingyu tidak paham dengan orang ini.

Okay…” kata Wonwoo. Tetapi suaranya sama sekali tidak terdengar oke.

Mingyu menghela nafas. Tiba-tiba merasa lelah. Dia mengambil kedua tangan Wonwoo dan mengumpulkannya menjadi satu di bawah dekapan tangannya yang lebih besar. Lalu berkata. “Kamu ini semabuk apa sampai tiba-tiba kayak gini?”

Wonwoo tidak membalas. Hanya memandang ke arah tangannya yang ditahan di bawah genggaman Mingyu. Sepintas pada binar matanya tersirat luka, atau Mingyu hanya sedang berkhayal.

Mingyu berbicara lagi. “Besok kalau kamu bangun dan ga ingat kejadian ini, saya ga bakal ungkit juga. I know you don’t mean it when you kiss me anyway. I’ll pretend this never happened.”

Lalu Wonwoo berbisik pelan. “Maaf.”

Meski tidak jelas dia meminta maaf untuk apa.

“It’s okay.” Mingyu menawarkan senyuman untuk penghiburan. “Kamu kayaknya capek dan udah ngantuk juga karena alkohol. You should get some sleep.

Lalu Mingyu menuntun Wonwoo ke dalam kamar tidurnya untuk beristirahat. Mengabaikan protes mabuk pemuda itu tentang sebaiknya dia pulang ke kosnya atau setidaknya biarkan dia tidur di sofa. Mingyu memaksa Wonwoo naik ke kasur dan memastikan dia sudah nyaman di bawah selimut sebelum meninggalkan orang itu sendiri di dalam kamar.

Setelah mengantar Wonwoo tidur, Mingyu merapikan gelas dan botol wine, mengembalikan semua ke tempat masing-masing lalu berbaring di atas sofa untuk menjemput kantuk sendiri. Sebelum tertidur, Mingyu mengambil ponsel Wonwoo yang tergeletak di atas meja. Ada banyak notifikasi pesan masuk ketika Mingyu tidak sengaja menyalakan layarnya. Wonwoo tidak berhenti mencari benda ini ketika Mingyu mengantarnya tidur tadi. Jadi Mingyu masuk dengan langkah perlahan ke dalam kamar tidur untuk meletakkan ponsel Wonwoo di atas nakas di sebelah kasur. Agar dia tidak kecarian benda itu saat bangun di pagi hari.

Film Home Alone sudah sampai pada end credit ketika Mingyu meletakkan tubuh di atas sofa. Dia mematikan televisi sehingga sumber cahaya yang tersisa hanya dari lampu pohon natalnya yang ditata oleh Wonwoo.

Tidak disangka ini menjadi hari yang panjang.

Selagi membuai diri menuju tidur, Mingyu berpikir tentang Jeon Wonwoo dan segala komplikasi hidup orang itu. Memikirkan tentang omong kosong—mungkin tidak semua—yang keluar dari mulut mabuk itu tadi.

Mingyu berpikir tentang apa yang dia inginkan dari Jeon Wonwoo. Pada ambang kesadaran yang melebur dalam mimpi, Mingyu menemukan jawaban.

Lalu malam berakhir.

Esok adalah hari yang baru.

 


 

Di pagi hari, Wonwoo terbangun dengan kepala lebih berat seribu kilogram. Ketika membuka mata, langit-langit di atas tidak sama dengan yang dia familiar selama tiga tahun. Kasurnya terasa sangat empuk. Dan matahari mengintip dari arah yang berbeda dengan kamar kosnya.

Ponsel Wonwoo tidak berhenti bergetar ketika Wonwoo bermigrasi dari alam mimpi menuju dunia orang hidup. Seseorang meneleponnya dengan sangat persisten.

Wonwoo mengerang sembari memegang kepalanya yang tidak berhenti berdenyut. Dia ingat minum anggur dengan Mingyu sambil menonton Home Alone. Lalu sedikit bayangan samar tentang kelakuannya yang memalukan. Lalu Mingyu mengantarnya tidur. Lalu…

Ketika sadar akan sesuatu, Wonwoo segera bangkit duduk dan mencari ponselnya.

Dering telepon terakhir telah berhenti.

Dengan tangan gemetar Wonwoo mengambil ponsel yang terletak persis di sebelah bantal.

No no no no.

Wonwoo berbisik tidak henti seperti mengucapkan mantra.

He fucks up big time last night.

Saat pergantian tahun, dengan pikiran berkabut karena alkohol, kurang tidur, dan berbagai macam pikiran buruk sepanjang hari, Wonwoo sudah melakukan hal konyol.

Dia mencium Mingyu dan merasa sedih karena Mingyu tidak membalasnya.

Lalu…

Wonwoo setengah berharap bahwa apapun yang ada dalam ingatan buramnya setelah itu hanyalah mimpi.

Tetapi ketika ponselnya berbunyi untuk kesekian kali pagi itu, Wonwoo sadar bahwa dia betul-betul sudah mengacau.

Dengan horor, Wonwoo membaca tulisan pada layar ponselnya.

 

Choi Seungcheol

is calling.

Notes:

welp i'm not sorry

Series this work belongs to: