Work Text:
"Apa yang kau lakukan saat hari ulang tahunmu?”
Sang Pengelana menatap lawan bicaranya ketika pertanyaan itu diucapkan dengan nada polos. Sepasang mata merah seperti batu mirah delima itu mengerjap kepadanya penuh dengan rasa penasaran anak kecil dan kepolosan yang tidak bisa dilawan. Alhasil, mulutnya yang biasanya bisa mengeluarkan komentar pedas, kini justu hanya bisa diam tanpa kata di bawah tatapan penuh antusias dari Durin kecil yang duduk menanti di sisinya.
“Kenapa kau mau tahu?” Sang Pengelana justru bertanya balik. “Dan dari mana kau mendapatkan istilah itu?”
“A-ah, K-klee menunjukkan buku-bukunya padaku kemarin.” Naga mini itu mengepakkan sayapnya dan melayang-layang di dekat Sang Pengelana. “Warna-warna di buku itu luar biasa! Seperti di Simulanka! Langitnya cerah, wajah-wajah di kertas itu tampak bahagia dan—oh, oh, aku ingat! Mereka ada di tempat-tempat yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, Kasacchi!”
Sang Pengelana mendengkus. “Kalau begitu, tempat itu memang kemungkinan tidak ada.”
Naga mini itu langsung terkesiap. “Eh? Eeeeh? J-jadi semua itu bohong?”
Melihat naga kecil itu justru berkaca-kaca, Kasacchi malah jadi mengerutkan kening. Sesuatu di dalam dirinya tak suka. Seperti ada yang tangan menepuk-nepuk kepalanya, menegur bahwa perbuatannya ini tidak baik, meski pada kenyataannya, hanya ada dirinya dan Durin kecil di atas pohon Agung Sumeru ini Tidak ada siapa pun selain mereka. Di sini mereka aman dari mata-mata orang dari Akademiya. Di sini, mereka bisa menikmati waktu damai berdua. Tanpa diganggu satu pun manusia.
Tapi di sinilah dia, justru harus menghadapi pertanyaan paling manusiawi dari makhluk yang bahkan tak pernah mengenal manusia sebelumnya.
Seperti…
Saat itu, selama sekejap, sosok Durin kecil tampak tumpang tindih dengan sosok anak kecil lain dengan tubuh kurus, pipi tirus, tapi tetap dapat tersenyum bahagia, menularkan sedikit rasa senang kepadanya yang saat itu hampir putus asa dan gila karena semua kejahatan manusia dan rasa duka.
Anak itu menyelamatkan hidupnya. Dengan jiwanya yang rapuh dan tubuhnya yang mungil, anak kecil itu sudah menolongnya, lebih dari manusia mana pun pernah menyelamatkan dirinya sampai detik ini.
Sampai Durin Kecil muncul dan menjadi matahari kecil bagi hari-harinya, tanpa ia sadari.
“Ya, mungkin memang tidak pernah ada.” Meski begitu ia memutuskan untuk tidak memberi makan Durin sebuah kebohongan yang manis. Sambil bersedekap, dia menerangkan. “Memangnya kau berharap apa? Akan ada sungai yang airnya seputih susu? Atau jembatan pelangi di langit?”
Durin langsung menggeleng.
“Tidak, aku tidak berpikir sejauh itu. Hanya saja…” Naga itu turun dan kembali duduk di sisinya. Pandangannya menunduk, tampak merenungi sesuatu yang tidak bisa Sang Pengelana lihat. “Hanya saja … aku berpikir, bukankah indah jika ada tempat di ddunia ini, selain di Simulanka … tempat orang-orang bisa bergandengan tangan dan tersenyum bahagia bersama?”
Mustahil.
Pikirannya yang pahit menyangkal impian polos itu dalam sekali kedipan mata. Tanpa ampun dan tanpa ragu. Dia sudah hidup terlalu lama untuk terbuai mimpi-mimpi yang terlalu indah. Mimpi yang pada akhirnya hanya berakhir sebagai batu injakan bagi orang lain yang tidak berperasaan sama sekali. Percaya pada mimpi seperti itu dengan buta, hanya akan membuat seseorang terperosok ke dalam jurang yang tak berujung dasarnya.
Namun … Sang Pengelana tak bisa membawa bibirnya untuk bergerak menyampaikan kenyataan pahit itu.
Alih-alih, ia hanya tergugu di depan Durin yang masih merenung, berangan dan bertanya-tanya. Dia pun ikut terdiam, menimbang berbagai kemungkinan dan bertanya-tanya, apakah dia harus membuat Durin mendengar kenyataan itu juga? Ataukah lebih baik ia diam dan biarkan anak ini tahu kenyataannya suatu hari nanti?
Tapi jika ia tahu dari sebuah pengkhianatan seperti dirinya, apakah itu tidak akan menyakitinya?
Saat sedang bertanya-tanya seperti itu, Sang Pengelana mendadak sadar.
“Durin, apa dari gambar-gambar itu kau dapat ide soal ulang tahun?”
Mata Durin kecil langsung bersinar kembali. “Ya! Ya, benar, Kasacchi!” Dia kembali terbang dan berputar di udara. “Aku bertanya pada Klee, apakah orang-orang di luar sana memang sering berkumpul dan berbahagia seperti itu? Lalu Klee menjawab kalau mereka banyak berbahagia di hari ulang tahun! Klee bahkan bercerita kalau di hari ulang tahunnya, semua orang memberinya hadiah!”
Klee sepertinya banyak bertukar cerita dengan Durin. Entah ini baik atau buruk nantinya.
“Kasacchi! Kasacchi, kau sudah lama di dunia luar ini, kan? Kau berasal dari dunia ini.”
“Memangnya kenapa?”
“Anu … hmm, jika kau tidak keberatan…” Durin kecil terbang rendah dan mendekat ke telinga Sang Pengelana. “Apa kau mau menceritakan padaku soal ulang tahun? Itu … hari ketika seseorang memperingati hari kelahiran mereka, kan?”
Sang Pengelana terdiam. Bukan karena dia tidak punya jawabanya, tapi karena ulang tahun tak pernah memendam arti yang begitu dalam kepadanya. Jika pun ada, memori yang bisa ia kenang, sama sekali bukan memori bahagia.
“Kasacchi?” Durin Kecil menatapnya dengan bingung. “Kau baik-baik saja? Kau … mendadak diam tadi. A-apa aku bicara sesuatu yang salah?” Dengan gugup, naga kecil itu menutupi moncongnya.
“Kau sedikit terlalu banyak bicara, itu saja.” Sang Pengelana mengalihkan pandang dan menatap matahari terbenam di cakrawala. Dia menatap jauh ke dalam rona jingga yang mewarnai langit, bersama dengan rona merah muda dan nila yang mengantar matahari ke tempat persinggahannya di balik tirai malam yang damai. “Kau tidak salah. Pertanyaanmu bukan sesuatu yang aneh untuk diutarakan.”
Hanya saja…
Di bawah matahari senja itu, Sang Pengelana terkenang banyak kenangan yang kini seolah menari-nari di depan matanya bagai tirai yang berayun diterpa angin. Kenangan yang telah lama berlalu, begitu singkat di garis hidupnya yang panjang, bahkan tidak sampai sepersepuluh usianya, tapi entah kenapa, wajah-wajah itu, kegembiraan mereka, momen yang mereka bagi bersama dan … cinta yang ia terima di saat itu, sulit sekali untuk hilang.
Sang Pengelana menyentuh dadanya. Sunyi. Tidak ada detak jantung atau denyut nadi di sana. Tapi entah kenapa, dia bisa merasakan ada sesuatu yang nyeri di dalam sana. Sesuatu yang ditekan dan merasa sakit.
Seolah dia … sungguhan memiliki jantung (hati),
“Ingatlah kalau setiap hari kau ada di sini, kami sangat mensyukurinya. Setiap tahun kau berada di sini, kami akan merayakannya. Bukans ebagai sekadar ulang tahun, tapi sebagai rasa syukur kami karena kau masih tinggal di sini. Bersama kami.”
Kata-kata Katsuragi kembali terngiang di benaknya. Kata-kata hangat, ketulusan yang lembut, saat mengenangya, setiap kali mengingatnya, Sang Pengelana tak sadar bahwa dia kadang tersenyum. Kadang … perasaan bahagia yang menyelimuti dirinya di kala itu kembali menghampiri dirinya yang sekarang. Seolah ingin menyelimuti dan mengatakan padanya bahwa semua akan baik-baik saja.
Kenangan mereka kini tidak ternoda oleh apa pun juga.
“Kasacchi?” Durin Kecil kembali terbang mendekat. Lalu mendadak saja naha mungil itu panik. “Kasacchi?! Ka-kau … sedih? A-apa aku membuatmu mengingat sesuatu yang menyakitkan? Aku minta maaf! Aku tidak bermaksud tidak sopan!”
“Jangan konyol. Dan berhentilah panik untuk sesuatu yang tidak perlu.” Sang Pengelana menunduk, menutupi ekspresinya di bawah bayang-bayang topi lebarnya. “Boneka tidak bisa menangis.”
“Tapi…” Durin Kecil masih meragu. Jadi Kasacchi pun menatapnya sembari menguatkan diri, berharap penampilannya sekarang cukup meyakinkan bagi naga itu untuk tidak merasa tak enak hati lagi.
“Aku tidak sedih, lihat?” Kasacchi mendengkus. “Sama sepertimu, aku juga punya masa lalu. Aku mendadak teringat dengan orang-orang yang pernah aku temui dulu. Itu saja.”
“Orang-orang yang pernah kau temui?”
Kedua tangan Sang Pengelana terkepal di atas pangkuan, menggambarkan dengan jelas pergolakan dalam dirinya.
“Tidak ada Manusia ataupun boneka.”
Kemudian kepalan tangan itu pun terlepas. Dia menjadi rileks kembali.
“Benar … keluargaku.” Ia pun mendongak menatap ke arah angkasa. Ah, betapa memalukan. Ia baru saja bilang bahwa boneka tak mungkin menangis, tapi … apa yang menyengat bola matanya ini? Matanya terasa perih luar biasa. Panas. Tapi dia mencoba menahannya. Agar tak mempermalukan dirinya sendirii. Agar Durin Kecil juga tak sedih dan mendadak merengek tak perlu. “Mereka … keluargaku … rumahku … dan…”
Tapi mau dihentikan seberapa keras pun, kenangan yang perlahan mengalir, membanjirinya dengan kehangatan itu tak dapat dibendung. Kehangatan Katsuragi dan kebaikan hatinya. Ketegasan Nagamasa dan semua ajarannya. Semua kebaikan dari para wanita di tatarasuna, semua manusia yang pernah berbaik hati dan hadir secara singkat dalam hidupnya yang panjang.
Andaikan saja memang mereka tidak berarti…
Andaikan saja … mereka memang semudah itu bisa ia lupakan…
“Aku serius saat bilang, kau juga Manusia.”
Tatkala wajah dengan senyum hangat itu hadir dalam ingatan, tatkala sosoknya tampak sejelas mentari pagi, sekali lagi, menghadirkan rindu yang tak terperi dan rasa sakit akibat kehilangan yang begitu cepat, pertemuan yang begitu pendek … dan cinta yang … begitu singkat.
Untuk sebuah momen yang berlangsung singkat, rasa yang ditinggalkan pria itu terlalu lekat dalam ingata. Sulit untuk dilupakan.
Niwa…
“Kasacchi…” Durin Kecil turun di pangkuannya. Mata naga kecil itu berkaca-kaca. “Maafkan aku. Maaf, apa aku membuatmu sedih? Aku membuatmu mengingat kenangan buruk?”
Sang Pengelana menggeleng.
“Justru sebaliknya.” Sang Pengelana menyentuh pelan tanduk Durin Keci. “Kadang ada beberapa kenangan yang sangat membahagiakan sampai … kau tak bisa berbuat apa-apa saat kenangan itu terkenang, selain … menerimanya. Dan merasaa bahagia untuknya … .merasa sedih karena singkatnya … dan bersyukur pernah mengalaminya, meski ingatan itu mustahil untuk terulang sekali lagi.”
“Kasacchi…” Durin kecil mendekat dan kali ini Sang Pengelana membiarkannya. Makhluk kecil itu menelusup ke pelukannya dan Sang Pengelana membiarkannya begitu saja. Membiarkan Durin Kecil memeluk dirinya dengan sayap mungilnya, sebisa mungkin.
“Durin … kau tadi bertanya soal ulang tahun, bukan?”
Durin Kecil menggeleng. “Itu sudah tidak penting lagi. Itu … bukan sesuatu yang ingin aku ketahui lagi.”
Tapi Sang Pengelana bersikukuh. Dia melepas topi, membiarkan angin senja menerpa rambutnya, menerbangkan setiap helainya dalam belaian lembut, sebelum dalam bisikan yang teduh, ia berkata kepada Durin di sisinya.
“Itu adalah saat penuh sukacita. Benar katamu, saat itu semua orang berbagi bahagia. Mereka bergandengan tangan. Mereka menari dan menyanyi bahagia. Beberapa orang minum dan makan sepuasnya. Tidak ada duka. Tidak ada yang terluka. Semua orang bersama.”
Durin Kecil terdiam di pelukannya, tapi Sang Pengelana bisa mendengar isak tangisnya yang sunyi. Bajunya basah oleh air mata naga kecil itu. Sementara dalam benak Sang Pengelana, untaian permata biru di dalam air yang bergerak mengikuti ke mana langkahnya pergi, pantai yang indah dalam kenangan, desa penuh bunga, dan langit yang biru di hari ketika ia pertama kali tiba di tatarasuna, semuanya kembali terputar dalam ingatan bagaikan kenangan indah yang abadi dalam ingatan.
“Itu bukan hanya saat usiamu bertambah dan waktu yang kau habiskan dengan orang-orang yang merayakannya, genap satu tahun.” Sang Pengelana mengelus kepala Durin. “Ulang tahun … jauh lebih berarti dari itu. Lebih dari sekadar perayaan. Lebih dari hegemoni pesta. Ulang tahun itu … adalah sebuah kebahagiaan.”
Ucapan-ucapan tulus, senyuman orang-orang kepadanya yang dulu akan ia terima dengan senang hati … Sang Pengelana tersenyum saat mengenangnya lagi sekarang. Tanpa luka, semua tampak indah di ingatan.
“Saat itu, kau akan tersenyum bahagia. Orang-orang merayakan bagaimana kau genap satu tahun bersama mereka. Satu tahun lagi terlewati dengan bahagia,” ungkapnya. “Lalu orang-orang beryukur pada kehadiranmu di sisi mereka akan menghadiahkanmu anugrah dari mereka. Harapan dan doa, agar kau bisa berada di sisi mereka sekali lagi, setidaknya untuk satu tahun lagi.”
Tangan Sang Pengelana berubah memeluk Durin Kecil.
“Dan saat puncak perayaan tiba, mereka semua akan mengucapkan satu hal yang sama kepadamu … Selamat ulang tahun…”
“Kabukimono.”
“Kasacchi!”
Sang Pengelana tersenyum. Konyol untuk dibayangkan, tapi kenangan itu tidak buruk juga untuk dikenang. Terutama dengan pengembara dan anak-anak Akademiya.
“Lalu setelah kau menerima semua ucapan itu, jangan pernah lupa untuk membalasnya dengan satu ucapan yang sama tulusnya.” Sang Pengelana melepaskan Durin Kecil dari pelukan. Dan dengan satu senyum yang sama, ia pun mengucapkan: “Terima kasih, untuk segalanya.”
***
Sang Pengelana terdiam di hadapan danau di dekat Akademiya yang indah. Daun-daun teratai mengambang dengan tenang di atas kolam yang tak beriak. Bunga-bunga nilotpala lotus mekar di malam hari, memancarkan kilau yang menarik perhatian belasan kunang-kunang yang biasanya tak suka pada keberadaan sosok sebesar manusia, tapi entah kenapa untuk malam ini sepertinya mereka membuat pengecualian.
Sepertinya, untuk malam ini, ia diberi kesempatan.
Dia pun mengumpulkan kekuatan elemen anemo dan seketika, tirai menutupi topi lebarnya, bagaikan tudung para bangsawan, konsentrasi elemen angin itu menari dengan lembut di sisinya, seperti embusan angin malam yang sejuk di musim hujan.
“Kasacchi.”
Percakapan dirinya dengan Durin Kecil tadi siang kembali terngiang.
“Ada apa?”
Scara mengeluarkan kekuatannya sekali lagi dan memunculkan struktur angin serupa pedang di tangannya.
“Saat kau ulang tahun, apakah ada hal paling kau sukai? Hal yang kau lakukan hanya di hari ulang tahunmu dan … dan dapat membuatmu bahagia?”
Sang Pengelana menarik napas.
“Semua perlengkapan, siap.”
Kemudian, ia pun menarik napas. Di sekelilingnya sunyi, tapi dia masih bisa membayangkan petikan Shamisen Nyonya Katsuragi di hari itu, merdu mewarnai setiap langkahnya. Bahkan setelah ratusan tahun, setiap ketukan yang ia lapakna di malam itu, masih lekat di ingatan.
Tentu saja, karena ia mempersiapkannya dengan sangat giat.
Semua persiapan ia lakukan sebaik mungkin bersama Katsuragi menuju hari penting itu. Hari ketika Pedang Daitatara akhirnya selesai tercipta. Mereka berdua sepakat untuk memberi kejutan bagi para Pandai Besi yang telah lelah bekerja sekaligus memberi mereka ucapan selamat yang layak bagi semua kerja keras mereka.
Ucapan apalagi yang lebih layak selain sebuah tarian pedang? Sebagai sebuah persembahan, sebagai sebuah ungkapan syukur dan rasa terima kasih.
Sang Pengelana menggerakkan pedang angin di tangannya, mengikuti gerakan tarian. Menonjolkan sisi pedang yang tajam ke depan mata para penonton, untuk memperlihatkan keagungan pedang itu. Murni untuk menunjukkan mahakarya yang baru saja terlahir. Sebagai perhiasan dari mahakarya inilah, dia menari.
Malam ini, dia hanyalah untaian kalung dan permata tak berharga di hadapan harta yang sesungguhnya.
Malam ini, dia hanya seorang penari biasa.
“Hah? Kenapa lagi kau tanyakan itu?”
“A-aku hanya penasaran saja. Soalnya … a-anu…”
Sang Pengelana mengentakkan kaki dan berbalik cepat. Mengubah tempo dari lembut, menjadi mengehentak.
Dua ketukan.
“Ah, lupakan saja. Kau pasti punya ide lain di kepalamu.”
“T-tidak, itu tidak benar! Aku hanya penasaran saja! Aku tidak berniat ingin memberimu kejutan atau apa pun—ah?!”
Sang Pengelana mengangkat pedangnya, mempersembahkan kepada rembula. Dia mendongak, memasrahkan segalanya pada langit dan pada para dewa. Lalu, ia pun berputar dengan pedang itu di tangan.
“Tch.”
“Kasacchi … maaf—aku tidak bermaksud—sungguh, aku tidak bermaksud…”
Sekali lagi, Sang Pengelana mengulangi tarian di puncak musik. Mengulanginya lagi sebelum menuju klimaks tarian.
“Sudahlah, itu bukan masalah besar, kenapa kau terus-terusan minta maaf?”
“Tapi…”
“Kau bertanya apa yang aku sukai di hari ulang tahunku, kan? Yah, jawabannya: tidak ada.”
“E-eh?”
“Kenapa kaget begitu? Kau dengar aku. Tidak ada hal yang paling aku sukai di hari ulang tahunku selain menghabiskannya dengan ketenangan tanpa banyak orang ikut campur.”
“Eeeh?”
Sang Pengelana terus berputar, berputar, dan berputar, semakin cepat dan semakin cepat. Sampai ke klimaks tarian ketika bunyi petikan shamisen semakin tinggi.
“Tapi jika kau tanya, apa yang paling aku sukai untuk merayakan sesuatu, mungkin aku punya jawabannya.”
Kemudian musik pun berhenti. Dan dengan pedang melintang di tangan, Sang Pengelana berhenti menari. Pandangannya ke depan. Kedua kakinya tegak berdiri dalam posisi sempurna. Kedua tangannya tegak dan katana di tangannya masih terjaga. Dengan sisi runcing menghadap ke arah lehernya.
Tariannya paripurna.
Sayangnya, momen ketika seharusnya ia bangga ini, justru membuatnya sama sekali tidak tersenyum.
Sedetik setelah selesai dengan tariannya, Sang Pengelana melemparkan pedang angin itu ke dalam lautan pepohonan, tepat ke arah bunyi alunan seruling yang sama sekali tak ia undang untuk datang ke sini.
Angin berembus kencang ketika bilah kamaitachi-nya menebas dedaunan dan menyibak semua bayang, menampilkan satu sosok baru mengenakan pakaian seperti pengembara, berdiri di balik pohon. Seruling di tangannya diletakkan, menggantung di udara. Dan musik pun berhenti.
“Siapa kau?” Sang Pengelana bertanya dengan dingin. Sama sekali tak main-main.
“Maafkan ketidaksopanan saya telah mengganggu Tuan di malam yang indah ini.” Sosok itu menyentuh topinya dan mengangguk satu kali. “Saya hanya Pengembara yang kebetulan lewat dan terpukau pada penampilan Anda di bawah bulan purnama, Tuan.”
Sang Pengelana melirik, tak menyadari bulan purnama malam ini. Dan tepat menyinari dirinya. Tapi itu tak mengendurkan niatnya untuk mengkonfrontasi penyusup ini tanpa ragu. Ia pun mengumpulkan kekuatan anemo di telapak tangannya, membentuk bola hitam dari grafitasi yang terkondensasi.
Lalu ia tanpa ragu langsung melempar bola itu, menumbangkan pohon-pohon dan dahan yang tua. Burung-burung ricuh dan langsung lari, sementara kadal dan kodok melompat ke liang mereka masing-masing.
Sosok penyusup itu berhasil menghindar. Ia berkelit, tapi Sang Pengelana berhasil menyusulnya. Dia menerjang, melompat, dan mengulurkan tangan, melemparkan lubang hitamnya sekencang mungkin. Angin itu mengempas sekeliling dan dari bayangan yang tersibak, Sang Pengembara pun tersentak.
Langkahnya terhenti ketika simbol daun Maple merah terlihat. Sekejap, pandangannya berganti. Visinya tumpang tindih antara masa kini dan pohon maple abadi yang menemaninya dalam kerangkeng abadi di Tatarasuna itu.
"Tadi itu hampir saja." Sampai ketika sosok penyusup itu bicara lagi, barulah Sang Pengelana tersadar kembali. Tapi itu pun dia dihadapkan dengan kejutan yang lebih besar lagi, karena di balik topi rami yang menutupi wajah sang penyusup, samar-samar, Sang Pengelana melihat sepasang mata merah delima yang indah. "Tuan cukup agresif, rupanya. Saya terkesan."
Sepasang mata merah yang persis seperti dedaunan di musim gugur.
Persis seperti...
"Sampai jumpa lagi, Tuan Pengelana."
"Hei--hei, tunggu!"
Sang Pengelana meraih, namun sosok itu … sosok itu melesat pergi dengan cepat. Sang Pengelana menyusul, tapi ... Dia sudah tidak lagi ada di balik pepohonan tadi. Di balik pepohonan mana pun. Dia lenyap.
Sang Pengelana mengempas angin ke sekeliling, tapi tak ada hambatan apa pun terasa. Sosok itu benar-benar sudah kabur. Sang Pengelana turun dengan pikiran yang masih tersangkut pada sepasang mata merah yang tadi disaksikannya. Pakaian iy, mata itu, dan simbol daun maple itu...
Dan tadi ... Tadi jika ia tidak salah lihat, visoj yang berkilau di punggungnya adalah...
Siapa dia?
Sang Pengelana bertanya-tanya, tapi menyadari dia tidak akan dapat jawaban dalam waktu dekat, Pengelana itu pun langsung mendecih. “Sialan.”
Dia sudah kecolongan. Yang lebih buruk, seseorang entah dari mana, baru saja melihat wajahnya. Melihat tariannya.
Ini benar-benar malam paling buruk.
Tak mau buang-buang waktu dan tak mau kena masalah, ia pun kembali mengenakan topinya dan kabur dari tempat itu, melesat kembali ke Surasthana dan mungkin akan menghindari banyak orang sampai tahun berikutnya.
Tidak berapa jauh dari tempat Sang Pengelana tadi berdiri, hanya beberapa langkah dari jaraknya mendeteksi, seseorang dengan topi rami berdiri. Topi lebar itu menghalangi wajahnya terlihat oleh orang-orang. Bayang-bayang menaungi matanya, tapi kilau merah dari mata itu tak bisa ditutupi oleh siapa pun.
Dengan tenang, pemuda itu membuka topinya dan membiarkan angin membelai rambut putih keperakannya. Kilau merah di puncak kepalanya ikut bergelora di bawah bayang-bayang pucat rembulan yang mengawasi dari atas sana.
“Mungkin ini memang belum saatnya kita bertemu,” gumamnya, lalu mengenakan topiny sekali lagi. “Tapi aku senang … kau baik-baik saja.”
“Oi, Kazuha!”
Pemuda itu menoleh dan dari balik pepohonan, beberapa orang menyeruak.
“Astaga, dari mana saja kau? Kapten Beidou mencarimu!”
“Drake.” Kazuha berbalik, menghadap pria kekar itu. “Kau sudah membawa para pencuri itu kembali ke pelabuhan?”
“Anegimi sudah mengurusnya.” Pria bernama Drake itu menyahut. “Daripada itu, kau habis dari mana saja? Kau membuat Anegimi menunggu!”
“Menemui seorang teman.” Kazuha menyahut dengan tenang. “Kau bisa bilang begitu.”
Drake memutar bola mata.
“Aku tidak mau dengar detail kencanmu. Simpan saja untuk anegimi nanti, ayo.” Di kejauhan, Kazuha bisa mendengar bunyi debur ombak yang kembali naik. Lautan kembali hidup setelah angin yang besar kembali mengempasnya. “Crux akan segera berangkat dari Sumeru.”
“Ya, aku tepat di belakangmu, Drake.” Diam-diam, Kazuha memberi lirikan terakhri ke belakang, tepat ke arah rembulan dan danau indah tempatnya melihat sosok paling cantik yang pernah ia temui seumur hidup. “Sampai jumpa lain kali … Tuan yang Cantik.”
***
