Actions

Work Header

Colors Pallete

Summary:

SoRi penasaran dengan semua palet warna Glacier, teman sekelasnya sekaligus teman sesama seniman itu.

BoBoiBoy Fusion Friendship AU! No Power AU!
Focus on Glacier and SoRi dynamic.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Setiap warna memiliki maknanya tersendiri. Namun SoRi sebagai seorang seniman, tidak benar-benar belajar teori warna yang memusingkan, hanya sekadar berada di zona nyamannya, memilih warna dasar saja untuk gambarnya.

Akan tetapi, dia mulai memilih mencoba palet warna lebih bervariasi semenjak bertemu Glacier, temannya dari bangku SMP. Dan pertemanan mereka berlanjut hingga SMA ini, kembali satu sekolah lagi bahkan sekelas.

"Ah, hai SoRi. Kamu sudah datang pagi ke sekolah, ya." Sapa Glacier tenang dari depan kelas, dengan senyumnya yang tipis. Dibalik seragam sekolahnya, dia mengenakan turtleneck sewarna biru laut. Glacier juga selalu membawa boneka paus setiap hari.

Warna biru memiliki arti profesional, ketenangan, sekaligus kedamaian. Itulah warna yang khas dari Glacier. SoRi kembali melihat ke layar tablet gambarnya usai membalas sapaan senyum pada temannya. Memilih warna biru untuk palet warna dasar gambar pausnya.

"Glacy, menurutmu bagaimana gambarku yang baru saja aku posting di media sosialku? Gambar bunga matahari itu?" SoRi membuka percakapan ketika temannya itu sudah duduk di sisi kanan bangkunya. Tentu percakapan soal menggambar. Glacier juga suka menggambar seperti dirinya, walau berbeda media gambar.

Glacier menguap singkat sembari menutup mulut. "Hmmm, bagus seperti biasa. Kamu memang pintar memilih warnanya. Aku suka kombinasi warna hangatmu..." pujinya tulus.

Kalau dipuji sambil menggambar, SoRi jadi merasa geli. Dengan perasaan lebih baik, dia kembali melanjutkan menggambar sembari bersenandung. Suasana kelas hening untuk beberapa menit karena SoRi sudah asyik pada tabletnya dan Glacier yang memilih tidur. Terlebih, ini masih pukul setengah enam pagi, belum ada teman sekelas lain yang datang.

Tidak bisa begini! SoRi mau sering berkolaborasi dengan Glacier sebagai seniman. Ini juga alasannya datang lebih pagi ke sekolah, seperti Glacier yang terbiasa rajin datang pagi. Dia sudah mengguncangkan tubuh sang kawan, mencoba membangunkannya. "Glacy, air liurmu dilihat petugas kebersihan, lho!" guraunya, tentu sedikit berbohong.

Glacier langsung terbangun seraya mengusap air liurnya dan memandang ke sekitar hingga sadar sedang dijahili, namun reaksinya masih cukup tenang, tidak sampai berteriak syok. Walau SoRi agak terkekeh melihatnya. "SoRi... Kukira kamu fokus menggambar." Gerutunya jengkel sambil memperbaiki letak topinya.

"Sebenarnya aku bosan juga!" Katanya dengan senyum kecut, sudah berhenti menggambar sejak lima menit yang lalu. "Daripada itu, kamu mau berkolaborasi gambar denganku lagi, nggak?! Aku punya ide bagus baru!"

"Kita sudah berkolaborasi menggambar seminggu yang lalu. Dua minggu yang lalu juga sudah. Minggu ini, aku mau istirahat." Glacier mencoba menolaknya, memberi gestur tangan yang menyilang. Dia mengerti maksud sang kawan. Itu berarti niatnya untuk istirahat sudah bulat.

Lebih-lebih ketika Glacier menyahut padanya dengan nada dingin, "Kamu memang hebat sering menggambar pada waktu belakangan ini, tapi jangan lupa istirahat. Sungguh, kuharap kamu bisa mengingatnya..."

Padahal.... SoRi memiliki alasan dari produktifnya ini. Dia menelan ludah dan tetap mengukir senyum riang dalam menanggapi Glacier. Mengatakan bahwa mereka perlu berkolaborasi lagi setelah Glacier sudah puas beristirahat. Bersamaan dengan itu, ponselnya bergetar oleh notifikasi dari kakak kembarnya, Supra.

'SoRi, ada bagusnya kamu nggak berteman dengan anak itu, Glacier. Mama juga sudah menyuruh begitu, kamu ingat, kan?' itu bunyi pesan yang sekilas terlihat di mata SoRi, menatapnya dengan sorot mata gelap tanpa cahayanya.

Larangan adalah perintah untuk diabaikan baginya! Lagipula, dia menganggap pertemanan mereka lumayan menyenangkan. SoRi penasaran dengan semua palet warna Glacier, teman sekelasnya sekaligus teman sesama seniman itu.

 

-0o0-

 

"Kombinasi analogous cocok untuk kue, kan? Kamu ada saran warna?"

Itu adalah istilah kombinasi warna. Yang tak lain, Glacier meminta pendapat SoRi dalam melukis sebuah kue bolu keju di kanvasnya. Benar, temannya itu tipe yang menggambar di media kertas atau kanvas, berbeda dengan SoRi yang lebih suka menggambar di tabletnya, media digital.

SoRi tertawa kecil melihatnya yang tengah menggambar sembari makan kue. Lebih-lebih, objek gambarnya juga kue. Dia memilih duduk di sudut timur ranjang, mendekati kawannya yang duduk mendekati jendela. "Itu kue keju? Coba warna kuning, kuning-oranye, dan oranye. Tapi masa kamu mau menggambar makanan lagi?"

Glacier mengendikkan bahu, acuh tak acuh padanya dan kembali fokus ke kanvasnya. Mulutnya juga masih penuh oleh kue. Walau begitu.... SoRi cukup iri dengannya. Gambarnya memang sering hanya makanan, tetapi gambar Glacier selalu keren.

"Ah, bosannya!" SoRi mengeluh, memecahkan suasana hening. "Kamu nggak ada suatu permainan baru?"

"Oh, ada. Aku langsung teringat kamu ketika hendak membelinya." Glacier berhenti menggambar, meletakkan kanvasnya dan sudah berbalik bangkit berdiri mencari sesuatu di balik lemarinya. Kelihatannya besar sekali. SoRi menatapnya dengan mata berbinar-binar. Kira-kira permainan apa, ya?

Sebelumnya, SoRi dan Glacier sudah suka bermain beberapa permainan. Ada ular tangga, kartu UNO, kelereng, lego, bahkan permainan otak seperti catur yang suka dimainkannya bersama Supra. Atau sekedar menonton film bersama. Walau temannya itu mudah tertidur, tetapi dia juga teman yang menyenangkan!

Ditunjukkannya mainan tak asing yang dipegang oleh sang teman. SoRi menatapnya datar. "Apa bagusnya dari plastisin?"

Namun, Glacier malah bersemangat menjelaskan permainan yang menurutnya menarik itu. Mengatakan bahwa plastisin besar yang sampai melebihi tingginya itu selain mudah dibentuk, juga memiliki wangi lembut tanaman di tiap warnanya. Rasanya nyaman sekali. SoRi tertegun saat memegang sebalok plastisin warna kuning yang bergambar bunga matahari. Wanginya persis mirip bunga tersebut.

Sang kawan jadi semakin melebar senyumnya melihat reaksinya yang langsung cerah. Bahkan rupanya Glacier sudah berencana memesan plastisin aneka warna pastel, warna yang jelas lebih menarik di mata SoRi itu. Tak hanya itu, Glacier menjelaskan bahwa plastisinnya bisa dibentuk menjadi benda raksasa tanpa perlu khawatir warnanya tercampur. Asyik sekali! SoRi sudah bertekad membuat durian raksasa dari plastisin.

"Uhuk! Uhuk! Oke, jadi bagaimana dengan plastisinnya?" Glacier sedikit terbatuk lantaran terlalu bersemangat cerita, menanyakan pendapatnya. SoRi berteriak antusias kalau permainan ini benar-benar seru!

Dia jadi berpikir, palet warna kuning itu cukup cocok untuk Glacier. Setidaknya, teman dekatnya punya sisi kebahagiaan dan optimis selayaknya makna warna kuning ketika dia memilih permainan yang menyenangkan untuk dilakukan bersama-sama!

 

-0o0-

 

SoRi menghadiri sebuah pameran seni yang digelar di sebuah museum galeri kota bersama Supra. Sebenarnya dia hendak pergi bersama Glacier sebagai sesama penyuka seni, tapi temannya itu bilang sedang ada urusan lain. Jadilah ia mengajak saudaranya, tetap tidak mau melewatkannya. Pasalnya, pameran tersebut ialah pameran yang besar yang bahkan ada tamu-tamu penting, seperti pak wali kota, pejabat penting, dan seniman-seniman terkenal.

"Hadirin sekalian, saya harap kesenian di kota kita terus maju ke depannya!" Penutup terakhir dari pidato pak wali kota lantas mengusir rasa kebosanan SoRi. Diikutinya yel-yel terakhir yang disorakkan oleh semua orang di gedung kesenian tersebut.

Dengan riang, SoRi mengajak Supra untuk segera masuk ke lokasi pameran melalui pintu utama. Syukurlah mereka datang awal dan sudah mendaftar sehingga tidak perlu mengantri panjang. Sang panitia pameran juga sigap mengantar mereka masuk.

Supra ikut tersenyum melihat adiknya yang tampak sangat bersemangat. Dia tidak mengerti estetika seni, tetapi dia suka melihat keceriaan SoRi. Dia memutuskan inisiatif memotret adiknya yang segera disadari SoRi.

"Kak Supra mau foto aku?! Padahal hasil fotonya blur!" Celoteh SoRi yang langsung menusuk dadanya. Kening Supra berkerut dengan kesal, mengakui kalau perkataan adiknya benar. Dia tidak pernah bisa memotret adiknya dengan benar karena ia gemetar melihat senyum yang menyilaukan. Namun SoRi tetap tersenyum lebar, mengambil ponsel kakaknya, mengatakan kalau mereka bisa minta tolong foto ke sang panitia pameran.

Salah satu perempuan dengan name tag panitia menerima permintaan SoRi untuk memotretnya. SoRi sedikit mengoreksinya sambil menggenggam tangan Supra, "Tolong foto saya berdua dengan kakak saya!"

'Kakak saya'. Perkataannya membuat Supra maupun panitia sampai terkesima terharu. Walau Supra tentu tidak menunjukkannya. Namun dia jadi betul-betul senang telah diajak ke pameran yang disukai sang adik. Sementara sang panitia menjadi bersemangat memotret mereka berdua, berkali-kali mengatakan bahwa mereka bersaudara itu tampan dan indah seperti karya seni yang dipamerkan.

Seusai puas berfoto sampai panitia itu agak diseret temannya lantaran keasyikan mengikuti mereka, SoRi kembali mengajak Supra ke ruangan pameran berikutnya. Matanya terpikat pada satu lukisan. Objeknya hanya makanan, kue bolu stroberi dengan warna merah muda yang cantik. Mirip dengan Glacier yang lebih suka menggambar makanan.

Dia melirik ke pojok bawah catatan lukisan tersebut. Tertulis nama senimannya di sana. "Glossy Earth?" Gumamnya bingung, tidak ingat pernah mendengar nama itu sebelumnya.

"Oh, bukankah dia disebut di pidato pembukaan tadi?" Supra menimpalinya, mengejutkan SoRi yang segera bertanya hal apa yang dilewatkannya. Dia memang tidak mendengarkan segala seniman yang diceritakan panjang lebar. "Glossy Earth itu seorang seniman pemula. Katanya dia jatuh cinta pada seorang cewek yang suka warna merah muda, hingga jadi sering menggambar."

Kenapa agak mirip dengan cerita Glacier? SoRi berpikir akan cerita yang pernah diketahuinya tentang Glacier. Temannya itu suka Yaya, teman sekelas mereka sewaktu SMP. SoRi sempat mendukung mereka berdua, tetapi Glacier tidak mau mengejar Yaya, memutuskan ingin rajin menggambar saja. Dia tidak mengerti korelasi gambar makanan dengan Yaya, tetapi kalau gambar makanannya berwarna merah muda seperti kue stroberi ini, SoRi jadi paham.

Atau Glacier memang diam-diam suka sekali menggambar makanan berwarna merah muda? SoRi jadi penasaran dengan karya-karya Glacier yang disimpannya sendiri. Dia segera menggeleng sendiri. Memangnya Glacier itu sang 'Glossy Earth'?!

SoRi jadi berpikir kalau Glacier cukup cocok seperti warna merah muda. Warna yang mengandung hawa cinta dan romansa.... Cocok untuk Glacier yang pernah menyukai Yaya secara tulus dan manis, tidak memaksakan perasaannya pada sang pujaan hati.

 

- 0o0 -

 

"Hari ini Mama lembur di rumah sakit. Apa kamu mau ikut aku ke sana, SoRi?"

Itu perkataan sang kakak ketika SoRi sedang fokus belajar untuk persiapan ulangan harian. Alhasil, dia tidak mengiyakan ajakan kakaknya. Supra lantas mengangguk mengerti, sedikit menyemangatinya dengan memberinya pancake durian kesukaan sang adik.

Mama SoRi adalah seorang dokter, tepatnya dokter spesial penyakit jantung. Katanya, Supra juga mau mengikuti jejak beliau. Karena itulah, pemuda itu sering menemani Mama, dengan alasan ingin selalu mempelajari lingkungan kerja tersebut. Kadangkala SoRi juga mau menemani Mama ketika ia bekerja, biarpun dia lebih jarang ke sana. Sebenarnya, SoRi agak takut ke rumah sakit.

Suasana rumah sakit sangat mencekam baginya. SoRi pernah mencoba menghibur diri dengan berlari-lari riang di lorong rumah sakit, tetapi dia jadi terkena marah suster-suster kenalan Mamanya. "Di rumah sakit memang harus tenang. Itu bukan tempat bermain, SoRi." Kata Mama, membuat air mukanya masam.

Jadilah, kepergian SoRi ke rumah sakit hanya bisa dihitung jari. Mungkin hanya 10 kali dalam setahun. Tak heran, banyak rekan kerja Mama yang tak terlalu mengingatnya, berbanding terbalik dengan Supra yang sangat dikenal di sana. SoRi sendiri tak masalah dengan itu. Toh, dia bukan mau jadi dokter, tetapi seniman seperti jejak Papa.

Memikirkan tentang cita-citanya, konsentrasi belajar SoRi jadi buyar. Dia mengerutkan kening dan mengacak-acak rambutnya dengan pening. "Ya Allah... Aku sulit fokus," Keluhnya pelan. Menutup buku matematikanya. Setidaknya, dia sudah mengerjakan 20 soal latihan, tersisa 5 lagi.

SoRi masih terpikir tentang Glossy Earth. Firasat dia kurang kuat, tetapi dia mengenal gaya gambar itu. Dibukanya ponselnya dan mengetik nama 'Glossy Earth' di kolom pencarian. Muncul akun Instagram-nya.

Akunnya tak terlalu ramai, hanya 500 followers, bagi seorang seniman sepertinya itu hanya angka sedikit. Terlebih, di tiap post tentang gambarnya, jumlah like-nya hanya 100-an atau kurang, entah dimana ratusan followers lainnya. Akun gambar SoRi sendiri sudah punya 3000 followers dan rata-rata like-nya sekitar 1000-an atau kurang pula, lumayan miris juga. Ketika kepalanya memikirkan like dan followers, mendadak dia tertegun sendiri.

Dia teringat perkataan Glacier ketika mereka pernah berdiskusi perkara seni dan jumlah fans, "SoRi, kita sebagai seniman memang bagusnya punya banyak penggemar untuk menunjang karir, tetapi... Kita nggak boleh lupa. Itu cuma penunjang duniawi. Jangan lupa kita lebih butuh Allah, Tuhan yang berkuasa di atas segalanya." Setelah mengatakan itu, ia bertasbih.

Dia sering lupa Allah. SoRi menghela napas, segera sadar akan kesalahannya. Seketika dia bertaubat dengan mengucap istighfar. Setelah dia bisa berpikir jernih, SoRi kini terpikir sebuah ide. Bagaimana kalau dia menggambar Glacier dengan warna-warna yang dipikirkannya selama ini?

Warna putih jelas cocok untuk Glacier. SoRi tahu kalau itu benar. Putih melambangkan kesucian, kemurnian, dan kepolosan. Seperti pemikiran Glacier yang selalu ingat Tuhannya, melebihi urusan duniawi. Serta mengingat Allah dan menyucikan nama-Nya agar suci dari dosa-dosa.

 

- 0o0 -

 

SoRi dan Glacier baru saja bertengkar. Alasannya lucu dan remeh, sebab SoRi menertawakan kebiasaan temannya yang baru diketahuinya. Sedangkan bagi Glacier, dia tetap kesal karena diolok-olok temannya sendiri.

"Itu lucu, Glacy! Masa kamu memanggil dirimu dengan nama sendiri ke Mamamu?! Kamu seperti anak manja! Hahaha!" SoRi masih tergelak ketika Mama Glacier sudah pulang. Tadinya, beliau datang ke sekolah untuk membawakan bekal yang tertinggal. Di waktu istirahat, Glacier yang malu sekaligus kesal akibat diejek, mendiamkan SoRi.

Biar begitu, SoRi tetap santai saja. Dia membiarkan Glacier yang marah dan sudah asyik membahas game dengan teman lainnya di kantin. Ketika bel istirahat sudah berbunyi, barulah Glacier angkat bicara, "Itu permintaan Mamaku. Aku nggak mau, tapi Mama mau aku mengandalkannya sebanyak mungkin sebelum semuanya berakhir."

Seketika, SoRi yang masih mengamati permainan game temannya, menoleh ke arahnya dengan heran, "Hah? Apa maksudmu 'semuanya berakhir'?"

Alih-alih menjawab pertanyaannya, Glacier malah terkejut sendiri dan segera menutup mulutnya. "Kamu sudah salah dengar. Sudahlah, jangan ganggu aku. SoRi, sikapmu sungguh menggangguku."

Pertengkaran konyol dan aneh. Namun, Glacier benar-benar menghindar, bahkan pindah bangku dari sebelahnya. SoRi memasang raut masam, tetapi tidak berusaha membujuknya untuk duduk sebangku. Padahal dia hanya bercanda. Lagi-lagi dia mengalaminya. Dia dijauhi teman gara-gara selera humornya.

"Mungkin kau memang harus minta maaf, Ri. Teman karib itu harusnya saling mendukung," komentar Gopal, temannya sesama penyuka game itu. SoRi mengendikkan bahu. Dia tetap berbaur dan bercanda dengan teman-temannya yang lain. Sebenarnya, dia punya banyak teman, lain halnya dengan Glacier yang seorang penyendiri.

Atau mungkin, banyak teman tidak terlalu bagus baginya. Ketika SoRi membawa topik soal menggambar, salah satu temannya merespon, "Kau masih saja suka gambar, Ri? Memangnya hobimu itu berguna buat masa depan?"

Ucapan itu disoraki Gopal, mengatakan bahwa kalimatnya berlebihan. Dalam hati, SoRi jengkel setengah mati dengan kalimatnya, tetapi dia hanya tertawa menanggapinya. Dia tidak mau bermusuhan dengan teman sendiri. Ini membuatnya teringat pada Glacier. SoRi sudah bertekad akan minta maaf dengan Glacier di dalam hatinya. 

"Hei, Glacier! Kau baik-baik saja?!" Teriak pak guru mata pelajaran Bahasa Inggris. Otomatis, matanya menoleh ke arah Glacier yang pindah duduk di paling belakang. Ada darah mimisan. Deras sekali. Seisi kelas menjerit. SoRi sudah terbelalak syok. Dia benci darah. Dia amat benci darah, karena itulah dia jarang pergi ke rumah sakit tempat kerja Mama!

Bersamaan dengan langkah lemas Glacier yang dibantu guru ke ruang UKS, kepala SoRi pening setelah melihat pemandangan sebelumnya. Ia tidak menyangka Glacier erat kaitannya dengan warna merah darah. Seketika, ingatan lama itu muncul. SoRi ingat sesuatu yang telah lama ia lupakan. Alasan dia membenci darah dan menghindar sering pergi ke rumah sakit. Alasan Mama melarangnya berteman dengan Glacier.

Umur Glacier tidak akan mencapai dewasa. Mama tidak mau melihat anaknya yang suatu saat kehilangan teman— jadi menderita.

 

- 0o0 -

 

"Papa, masa temanku marah padaku hari ini! Dia bilang, dia tidak suka kalau aku suka bercanda!" Keluh SoRi yang masih berumur 9 tahun kepada Papanya sendiri. Sang Papa hanya terkekeh geli dan mengusap kepalanya.

Papa bilang, dia memang boleh bercanda, tetapi ada kalanya dia harus serius. "Contohnya ketika kita pergi ke rumah sakit tempat kerja Mama! Janji pada Papa, ya?"

Dengan ekspresi wajah mengerut, SoRi mengangguk. Sang Papa mengajaknya bermain dahulu ke taman sebelum pergi ke rumah sakit. Mumpung beliau sedang libur. SoRi tidak terlalu mengerti pekerjaan Papa, tetapi dia tahu kalau karya Papa dipuji banyak orang. Gambaran Papa bagus sekali.

SoRi pernah coba bertanya, "Mengapa Papa yang suka menggambar itu menikah dengan Mama yang nggak mengerti soal seni?". Jawaban Papanya cukup aneh. Supaya kau dan Supra lahir ke dunia ini, katanya. SoRi semakin cemberut mendengarnya. Dia tidak suka kalau dua orang yang sering bertengkar jadi terpaksa akur demi anak. Hidup mereka jadi miris.

Papa tergelak dengan respon anak bungsunya, "Nak, hidup ini memang miris! Namun, kamu harus ingat, kamu juga harus kuat. Kalau kamu suka seni seperti Papa, maka kamu harus bersemangat melatih kemampuanmu! Demi impian masa depanmu!"

Sekarang, SoRi asyik makan es krim rasa durian traktiran Papa untuknya. "Nanti setelah karya seni Papa diterima wali kota, Papa mau mencoba mentraktirmu lebih baik dari sekedar es krim!"

Selain makan es krim, SoRi juga bermain di arena permainan taman. Seperti permainan perosotan dan jungkat-jungkit. Mereka bermain bersama. Puas bermain, barulah keduanya melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. Sayangnya.... Takdir berkata lain.

Dia masih terlalu kecil saat itu. Ada kendaraan yang melesat cepat ke arah mereka. Papa memeluknya erat. Tubuhnya terbanting. SoRi megap-megap mencari napas. Dan Papanya sudah keburu kehilangan napas. Dari Papa, tangan mungilnya menyentuh darah kental. Kemudian semuanya gelap.

Yang SoRi ingat, setelahnya dia banyak menangis. Tak peduli Mama memeluknya dan menenangkannya, SoRi tetap menangis hingga terpaksa izin sekolah berhari-hari. Dia bertemu Glacier di rumah sakit. Anak itu tersenyum lembut ke arahnya. Senyumnya seperti Papa. Ah... SoRi sudah ingat semuanya.

Glacier mengajaknya main ke taman rumah sakit. Makan es krim. Main perosotan dan jungkat-jungkit. Seperti Papa. Ketika SoRi menikmati momen damai itu, Glacier mendadak mimisan. Darahnya susah dihentikan. Suster tergopoh-gopoh tiba. SoRi menjerit lagi, kehilangan kewarasan. Lebih-lebih, ketika ia tahu umur Glacier tak panjang. Seperti Papa.

Mereka dipisahkan oleh Mama, tetapi tak sengaja bertemu lagi di SMP. SoRi sudah lupa semuanya, kecuali Glacier yang masih ingat. SoRi tak tahu apapun, kecuali Glacier yang tahu keadaannya, sepakat dengan Mama SoRi untuk tidak membahas masa lalu. Tentu saja, mereka tak menyangka kalau SoRi bisa saja dapat mengingatnya sendiri.

 

- 0o0 -

 

"SoRi... Kau harus istirahat..."

Supra menghela napas berat ketika melihat adiknya hanya fokus menggambar seharian, hanya berhenti untuk salat saja. Bahkan menyentuh makannya tidak. Setelah kemarin dia syok mendengar kabar adiknya pingsan di sekolah, sekarang dia dipusingkan kelakuan adiknya yang belum makan. Supra tahu alasan SoRi seperti itu karena kesehatan Glacier yang juga menurun, tetapi ini sudah berlebihan.

"Kak Supra, aku mau makan, tapi aku punya permintaan." Ucap SoRi, yang membuat Supra lega. Tanpa sadar, dia tersenyum lebar, berbanding terbalik dengan raut adiknya yang dingin dan amat kaku. Pemandangan ini jelas aneh jika dilihat oleh orang lain. "Aku butuh lukisan-lukisan Papa di akhir usianya."

"Akan kucarikan. Setahuku, Mama menyimpannya di gudang." Jawab Supra mantap, masih dengan air muka cerahnya. Dia menyerahkan sepiring nasi goreng kesukaan SoRi dan langsung bersorak senang saat adiknya menerima dan langsung melahapnya. Dengan semangat, sang kakak sudah melesat pergi ke gudang.

Sebenarnya, SoRi setengah enggan melahap makannya, tetapi dia terpaksa memakannya karena tidak tega melihat kakaknya mencemaskannya. Dia menyemburkan napas kesal, meraih ponselnya. Masih belum ada pesan balasan dari Glacier. Diliriknya kembali gambarnya yang berwarna-warni. Gambar Glacier dengan warna-warna yang pernah dipikirkannya.

Mendadak, teleponnya berbunyi. SoRi segera mengangkatnya sebelum dering ketiga. Dia menutup mulut dengan syok. Harusnya dia senang mendengar suara Glacier, tapi...

"SoRi, aku minta maaf. Kita harus stop berteman. Aku nggak nyaman berteman dekat denganmu, apalagi kita habis bertengkar."

Suara Glacier terdengar lemah dan bergetar. Kalimatnya juga seperti kurang jahat untuk ukuran memutuskan pertemanan. Dia tahu apa artinya. Glacier tak sungguh-sungguh memutuskan pertemanan mereka. Dia tidak pernah marah. Barangkali ini pertanda usia Glacier hendak mencapai akhir hayatnya. Dia pasti tidak ingin SoRi semakin terluka.

SoRi sudah menangis terisak. Di seberang, Glacier belum menutup telepon, hanya terdiam sambil mendengarkannya. Menunggu kata-kata terakhirnya. Agak lama, sekitar dua puluh menit berlalu, saat Supra sudah kembali dengan lukisan-lukisan dari mendiang Papa, SoRi menyahut,

"Sebelum itu, maukah kamu melihat gambarku untuk terakhir kalinya? Dua hari lagi akan kuselesaikan."

 

- 0o0 -

 

Warna biru, kuning, merah muda, dan putih pada lukisan bergambar Glacier yang sedang tersenyum lembut menggelitik hati siapapun yang melihatnya. Glacier pun tampak berseri-seri saat menerima gambar dari SoRi, meminta Mamanya untuk menyimpan baik-baik hadiah tersebut.

"Tolong simpan di museum." Pesannya, mengejutkan SoRi. Glacier tersenyum kecil saat dilihatnya sang kawan syok mendengar kata 'museum'. Museum sungguhan?! Masa karyanya yang kurang spektakuler itu masuk ke dalam museum?!

Terdengar dehaman Glacier ketika SoRi sudah syok sendiri. "SoRi, aku minta maaf karena sudah secara sepihak meminta pertemanan kita berakhir. Oh ya, aku minta kamu untuk tetap mengecek lukisanmu sendiri di museum beberapa bulan sekali."

Sebenarnya, SoRi ingin menangis lagi. Namun, Glacier yang sedang sakit berusaha kuat di hadapannya. Jadi, SoRi tetap memasang ekspresi riangnya. Mengangguk menyanggupi permintaan sang teman. Berpura-pura polos seakan tidak mengetahui kalau umur temannya sudah menuju akhir hayatnya.

"Untuk museumnya, nanti Mamaku yang akan kasih tahu alamatnya ke kamu. Dengar, kan, SoRi? Kalau kamu, ada permintaan terakhir lagi?" Kali ini, nada bicara Glacier terdengar hati-hati. SoRi tidak sanggup menanyakan keadaannya yang sakit meskipun dia sangat ingin melakukannya. Akhirnya, SoRi bertanya,

"Pelukis bernama 'Glossy Earth' itu sebenarnya kamu, bukan?" Pertanyaan SoRi lebih tepatnya menjadi pernyataan karena Glacier sudah tersenyum dan mengangguk. Dia sekali lagi meminta maaf karena selama ini tidak memberi tahu media sosialnya sebagai seniman ke SoRi. Sebab Glacier tidak terlalu percaya diri menunjukkan keseluruhan portofolio karyanya ke orang yang dikenal di dunia nyata.

SoRi segera menggelengkan kepala. Dia ingin Glacier tidak merendahkan dirinya. Bagaimana tidak, Glacier adalah alasan SoRi mau lebih bersemangat dalam menggambar. "Kamu itu hebat, Glacy! Walaupun objek gambarmu cuma makanan, gambarmu selalu tampak hidup. Sejujurnya, kamu itu panutan terbesarku dalam menggambar!"

'Kalau umurmu panjang, kamu pasti dipercayakan banyak restoran untuk menggambar iklan makanan mereka!' SoRi menambahkan kalimat itu di dalam hatinya. Glacier tampak senang saat mendengarnya. Mereka lanjut asyik bercakap-cakap, baru berhenti saat perawat ingin mengurus Glacier. Seolah seperti tidak akan pernah putus pertemanan mereka.

Ketika SoRi ingin pulang, Supra sedang ada pekerjaan di rumah sakit. Sedangkan sang Mama memang selalu sibuk bekerja. Padahal Supra masih pelajar, tetapi dia memang menawarkan diri ke pihak rumah sakit untuk ikut bekerja, setidaknya untuk membantu hal remeh. Sebenarnya SoRi ingin ikut membantu. Namun, Supra sudah memesankan ojek online yaitu sebuah mobil, menyuruhnya pulang saja.

Atau seharusnya SoRi memang tidak langsung pulang di malam itu. Siapa yang mengira kalau mobil yang ditumpanginya terlibat kecelakaan besar di jalan raya? Tak ada yang berhasil selamat dalam kecelakaan itu. Seorang pun tidak, termasuk SoRi.

 

- 0o0 -

 

Museum galeri itu ramai oleh para pengunjung sampai lima belas tahun ke depan. Sebenarnya museum galeri milik semua rakyat di kota, tetapi ada beberapa keluarga seniman yang sering aktif meletakkan karya mereka secara turun-temurun. Salah satunya keluarga Glacier, termasuk Glacier sendiri dengan nama 'Glossy Earth'.

Bertahun-tahun kemudian, karya SoRi tetap dipajang di sana. Bahkan, beberapa karya lain juga dipajang. Menurut penuturan Supra, seorang dokter spesialis kanker, karya SoRi itu terinspirasi dari mendiang Papa. Sebab SoRi sambil melihat gambar-gambar Papanya di akhir hayat hidupnya.

Entah siapa yang menata, karya Glacier diletakkan di sebelah karya SoRi. Sebagaimana tempat peristirahatan terakhir Glacier yang berada di sebelah sahabatnya. Mungkin itu memang permintaan dari mendiang sendiri. Dua karya itu sering diceritakan ke para pengunjung hingga terkenal sebagai salah satu kisah menyentuh. Tentang dua sahabat yang menggambar untuk satu sama lain di penghujung usia mereka.

'Untuk SoRi, sahabatku selamanya. Sampai jumpa di surga.' begitu pesan yang tertulis di gambar pancake durian makanan kesukaan sang sahabat. Pilihan warna yang dipilih Glacier yaitu...

Hijau, kuning, dan putih. Warna itu memiliki beberapa macam variasi di tiap warna. Ada banyak sekali sentuhan warna kebahagiaan dalam karyanya!

 

- 0o0 -

(End)

 

Notes:

Aku nulis ini karena dapat ide dari sebuah lagu (lupa judul), hehe. Anw, thank you for reading this!