Actions

Work Header

Kalau Berduaan Yang Ketiganya...

Summary:

Kata orang, gak ada pekerjaan yang benar-benar menyenangkan (ya namanya juga pekerjaan), tapi Changmin pribadi sih sukaaa banget sama perkerjaannya, yaitu jadi setan-setanan di rumah hantu!

Notes:

Under any circumstances, DO NOT copy my work or publish it on any other platform. Thank you.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Kata orang, gak ada pekerjaan yang benar-benar menyenangkan (ya namanya juga pekerjaan), tapi Changmin pribadi sih sukaaa banget sama perkerjaannya, yaitu jadi setan-setanan di rumah hantu.

 

Hari ini hari Sabtu. Dengan dandanan pucat serta baju serba putih tipikal kuntilanak yang suka mejeng di kuburan tiap malam Jumat Kliwon, seperti biasa, Changmin sudah siap untuk menyambut para muda-mudi yang ingin mengisi liburan mereka dengan sedikit olahraga jantung.

 

Crew stand by . Dua orang baru masuk ya. Over .” Usher wahana rumah hantu memberikan aba-aba kepada timnya lewat walkie-talkie

 

Finally, it’s showtime!

 

Changmin berjalan cepat sambil menyeret daster putih panjangnya ke belakang pohon mangga, tempat di mana ia harus berjaga. Tidak lupa, ia menyalakan kemenyan bau melati agar suasana semakin mencekam.

 

Dig, dag, dig, dug! Dadanya berdebar kencang penuh semangat. Percaya deh, kalau di rumah hantu itu yang deg-degan gak cuma pengunjungnya, tetapi juga kru rumah hantu yang sudah tidak sabar untuk menakut-nakuti pengunjungnya.

 

“AAAHHHHH MAMAAA!!!”

 

“HAHAHAHAHAHA!!!”

 

Changmin bisa mendengar teriakan takut seorang laki-laki yang disambung tawa puas laki-laki lainnya. Suaranya tidak terdengar jauh. Changmin yakin kedua pengunjung itu baru saja bertemu Kak Sangyeon yang berperan sebagai genderuwo ijo, di dua ruangan sebelum pos Changmin.

 

Menilai dari renyahnya tawa salah satu pengunjung, Changmin yakin Kak Sangyeon dengan gelar sarjana teaternya pasti akan pundung seharian setelah ini.

 

“BOO!”

 

“AAAAAAKKK— uhuk-uhuk, uhuk-uhuk, u—hoek!”

 

“HAHAHAHAHAHA!!! Yah, jangan muntah di sini dong, Cil!”

 

Wah parah! Nampaknya salah satu pengunjung ini tidak kenal takut. Ini gak bisa dibiarkan! Changmin mulai masuk ke mode serius. Walaupun banyak orang, termasuk keluarganya sendiri yang menyepelekan pekerjaannya, Changmin akan buktikan hari ini bahwa tidak semua orang bisa jadi setan-setanan professional.

 

Changmin meminum sedikit air hangat dari termos yang disembunyikannya pada ceruk kecil di belakang pohon mangga. “Ah! Ah! Uh! Uh!” Ia berdeham-deham kecil untuk legakan tenggorokannya. Bagaimanapun, Changmin harus berhasil menakuti pengunjung yang telah gagal ditakuti oleh teman-teman hantunya!

 

Suara teriakan yang disusul suara tawa (yang makin didengar makin mirip suara bajaj distarter gak nyala-nyala) terus mendekat. Changmin menyipitkan mata. Pandangannya berusaha menyesuaikan dengan seisi wahana yang dibuat begitu temaram, apalagi ditambah dengan rambut palsu panjang yang menutupi sebagian wajahnya. Dari sudut ruangan, sekelebat bayangan bergerak.

 

Nah, itu dia! Dua orang pengunjung yang Changmin tunggu-tunggu akhirnya datang juga.

 

Dari cara keduanya berpegangan tangan begitu erat (atau lebih tepatnya cara lelaki yang lebih muda menggelendot di lengan kekar lelaki yang lebih tua) sepertinya mereka adalah sepasang kekasih. Kelihatannya sih lagi hangat-hangatnya. Paling baru jadian 2-3 bulan, nilai Changmin dalam hati.

 

Changmin tersenyum lebar. Seringainya tampilkan gigi-gigi putih berkilauan diantara gelapnya wahana rumah hantu. Di antara semua pengunjung, Changmin yang jomblo ini paling demen ngusilin orang yang lagi pacaran.

 

“Hihihi…” lirih Changmin dari kegelapan dengan kekehan yang tak lebih kencang dibanding gemerisik sepatu sang pengunjung menginjak daun-daun mangga yang berguguran di lantai.

 

Tenang, ini masih permulaan.

 

“Ih! Denger gak tuh, Cil?”

 

“Apaaa?”

 

“Itu! Ada yang ketawa tadi!”

 

“Kak Jeje jangan nakut-nakutin dong!”

 

“Sumpah! Coba lo dengerin pelan-pelan.”

 

“Hihihihi~”

 

Kali ini Changmin mengkikih lebih kencang, lebih usil, dan lebih centil. Tawanya meledek kedua pengunjung itu hingga berdiri semakin erat. Lengan kekar yang sebelumnya menggantung tak berguna kini melingkar protektif di sekitar perut si pacar yang lebih kecil.

 

“Kan bener gue!”

 

“Aahhh… Aduh plis dong ini gue kebelet pipis…”

 

“Kalo lo ngewer di sini gue bakal keluar sendiri terus pura-pura gak kenal ya, Cil.”

 

“Mas, mbak hantu… Saya nyerah, ini saya ngelambain tangannya ke manaaa?”

 

Nice!

 

Yang terakhir, sambil memosisikan wajahnya secara strategis agar tersorot pencahayaan pucat, Changmin tunjukkaan wujudnya yang impresif dari balik pohon mangga dan menyapa langsung kedua pengunjung favoritnya.

 

“Hihihihi~ Abang, beli satenya 200 tusuk makan di sini yaaa~”

 

“AAAAAAAAAKKKKKKKKK MAMAAA TOLONGGG!!!”

 

“ANJINGANJINGANJINGANJING NGAGETIN WOY!!!”

 

“HIIIIHIHIHIHI!!!”

 

KuntiChangmin tertawa. Girang.

 

Sepasang kekasih itu pun berteriak. Histeris.

 

Terutama yang lebih muda dengan wajah yang tak kalah putih dari wajah Changmin yang memang sengaja didandani agar terlihat pucat.

 

Sementara itu, yang lebih tua refleks mendorong kekasihnya hingga jatuh ke pelukan Changmin agar dirinya sendiri bisa kabur lalu merapat ke dinding terjauh dari pohon mangga.

 

Ha ha ha… Cinta gak selamanya indah, adek-adek…

 

Karena kasihan, apalagi setelah melihat lelaki muda yang menabraknya sudah antara mau pipis di celana atau muntah di tempat, akhirnya Changmin membantu sang lelaki untuk bangun. Sayang, saat mau dibantu lelaki itu malah semakin takut dan lebih memilih untuk merangkak dengan lututnya kembali ke sang kekasih.

 

“Ah! Gak lucu anjir kak! Huhuhu…”

 

Si pacar kecil memukul-mukul dada besar kekasihnya dengan manja. Bulir-bulir besar air mata berjatuhan bebas dari pelupuk mata ke pipinya yang memerah. Bibirnya yang tebal manyun sampai jauh seperti paruh bebek. Semakin dilihat, Changmin semakin merasa lelaki yang lebih muda itu mengingatkan dirinya ke salah satu tokoh game Animal Crossing yang sering dimainkannya.

 

“Utututu… maap banget tadi gue kaget, Cil… Ini bibirnya kalo manyun mulu nanti gak bisa balik, lho. Jangan nangis lagi, yaa?”

 

Tidak hanya air mata, yang lebih tua juga mengusap ingus kekasihnya gunakan lengan bajunya hingga basah. Mungkin itulah yang dinamakan cinta. Changmin sendiri sih tidak kuat untuk tidak meringis jijik melihatnya.

 

“Cium.”

 

“...hah?”

 

“Cium supaya gak nangis lagi. Kalo gak nanti lo gue tinggal di sini biar jadi makanan kuntilanak!”

 

“Aduh bocil. Iyaa sini cium dulu.”

 

Wahana rumah hantu memang gelap temaram, tapi Changmin masih bisa mendengar dengan jelas kecipak basah dari kecupan keduanya menggema di ruangannya. Cap, cup, cap, cup . Bingung, bagaimana mau mengusir sepasang kekasih yang baru berbaikan ini, akhirnya Changmin dengan kostum kuntilanaknya hanya bisa pasrah menonton sambil garuk-garuk kepalanya yang tertutupi rambut palsu.

 

Crew , dua orang yang tadi masuk kok lama ya keluarnya? Ketahan di mana? Over ,” tanya usher rumah hantu dari sebrang walkie-talkie .

 

“Ini lagi di tempat gue. Tadi abis berantem, sekarang lagi baikan mereka. Over ,” jawab Changmin yang kembali bersembunyi di balik pohon mangga saking canggungnya dengan keadaan.

 

Kedua muda-mudi itu masih sibuk dengan satu sama lain. Tangan yang lebih tua bahkan mulai menggerayangi bokong yang lebih muda dari luar celana jeansnya, meremas-remas dengan gemas. Tangisan sedih lambat laun berubah menjadi desahan panas.

 

Sial, ternyata bener kata orang! Kalau berduaan itu yang ketiganya setan(-setanan)!

Notes:

Comments and kudos are always appreciated :)