Actions

Work Header

Times With You

Summary:

— Banyak cara yang Lu Guang pikirkan, terkadang ia menangis, ia lelah. Tubuh Cheng Xiaoshi yang bergelimang darah menghantui dirinya setiap hari. Pada saat itulah ia tahu bahwa ia harus menyelamatkan Cheng Xiaoshi dari malapetaka. Membuat dia melewati banyak garis waktu yang berbeda-beda, dengan akhir yang sama. Kematian Cheng Xiaoshi.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

      Pagi cerah, hembusan dari angin memoles di wajah orang-orang. Matahari masih belum terlalu terik, pagi itu, ramai orang-orang dengan segala tujuannya. Ada yang sedang terburu-buru, ada yang santai, ada yang sedih, bahkan ada yang senang. Kesibukan hari itu membuat banyak suara, seperti suara mobil dan orang-orang berbicara.

      Dan disitulah mereka, dua sahabat ini sedang ber-jogging bersama di alun-alun kota, pagi ini cocok sekali untuk melakukan aktivitas sehat. Tentu, ini hari pertama musim semi, bunga-bunga bermekaran di mana-mana. Bunga meihua ada di setiap langkah yang mereka tuju, indah.

      Akhirnya, salah satu dari dua orang itu berhenti. Ia terengah-engah, air keringat terus bercucuran dari dahi sang pria. “Lu Guang, ayolah istirahat sebentar. Badanku capek,” ucapnya dengan suara letih. Pria berambut putih itu mau tak mau menyetujui, ia juga sedikit lelah. Mereka sudah mulai keluar sejak satu setengah jam yang lalu.

      Angin sepoi-sepoi menyelimuti tubuh sang pria berambut hitam, ia dengan cepat meminum air putih. Ia tak pernah mengira bahwa air putih akan se-menyejukkan ini pada pagi hari. Matanya lalu terarah pada bunga-bunga yang cantik dan harum. Bunga-bunga itu sangat harum, ia suka sekali dengan harum dari bunga meihua.

      Sedangkan temannya, Lu Guang, ia sejak tadi memperhatikan sahabatnya. Ia tertegun melihat ketampanan orang itu, tentu, ia tak akan pernah mengira bahwa ia akan tumbuh benih-benih cinta terhadap sang pria.

      “Cheng Xiaoshi,” ia memanggil nama temannya dengan lembut, suaranya mengalir dengan tenang seperti suara sungai yang memberikan kesejukan. “Aku mau beli es krim, what flavour do you want?” tanyanya sembari melihat-lihat ke arah toko-toko di alun-alun itu.

      Pria yang ditanya langsung menjawab dengan cepat, matanya berbinar-binar. Ia tak sabar untuk mencicipi makanan manis itu. “Vanilla dengan tambahan karamel!” dengan pernyataan itu, Lu Guang segera melangkahkan kakinya ke toko es krim.

      Sekitar lima menit berlalu, pria dengan berambut putih itu kembali dengan dua buah es krim, vanilla yang ditambahkan oleh karamel, dan vanilla dengan cokelat. Mereka berdua menikmati makanan manis itu sembari menikmati pemandangan yang menyegarkan mata, tepat di depan mereka ada laut yang sangat indah.

      Di sekitar laut itu dihiasi oleh pohon-pohon cantik, kadang saat malam, mereka berdua akan melihat bintang-bintang yang berhamburan menghiasi nabastala. Tempat ini adalah tempat favorit mereka, dengan alun-alun yang diisi oleh toko-toko yang mereka berdua suka dan laut yang banyak digemari masyarakat.

      Disitu lah pertama kali Lu Guang sadar ia memiliki rasa terhadap Cheng Xiaoshi beberapa bulan yang lalu, tapi tetap saja dia enggan menyatakan cintanya terhadap sang sahabat. Ia tidak ingin pertemanan mereka hancur dengan sekejap, mau tidak mau ia harus menutupi rasa ini rapat-rapat.

      Dengan keheningan diantara keduanya, Cheng Xiaoshi memikirkan ide untuk selanjutnya. Mereka sebenarnya akan menghabiskan waktu bersama sampai malam tiba, dengan hati yang berdebar-debar, Cheng Xiaoshi pun melihat kearah Lu Guang.

      “Aku ingat nanti akan ada bintang jatuh, bagaimana kalau kita melihat bersama?” untuk kesekian kalinya, mata Cheng Xiaoshi berbinar-binar, ia ingin sekali melihat bintang-bintang yang rupawan itu menghiasi nabastala. Tentu, Lu Guang tidak bisa menolak.

      Ia menganggukkan kepalanya sembari melihat betapa menawan temannya itu, tidak bisa dipungkiri, rasanya dia ingin membuat Cheng Xiaoshi menjadi miliknya. Mungkin lain kali, mungkin tidak saat ini. Lu Guang lalu menatap laut lagi, suara burung berkicau di mana-mana dengan angin yang tetap berhembus ke arah mereka. Lu Guang tenggelam dalam pikirannya, pikirannya selalu membuat Lu Guang jenuh, pening, juga menghantuinya.

────୨ৎ────

      Pikiran itu tetap menghantui Lu Guang setiap detik, apa yang mungkin akan terjadi terhadap Cheng Xiaoshi? Ia pun tak tahu, yang ia harap adalah Cheng Xiaoshi akan tetap hidup di timeline ini. 

      Banyak cara yang Lu Guang pikirkan, terkadang ia menangis, ia lelah. Tubuh Cheng Xiaoshi yang bergelimang darah menghantui dirinya setiap hari. Pada saat itulah ia tahu bahwa ia harus menyelamatkan Cheng Xiaoshi dari malapetaka. Membuat dia melewati banyak garis waktu yang berbeda-beda, dengan akhir yang sama. Kematian Cheng Xiaoshi.

────୨ৎ────

      Tak sadar mereka sudah di luar cukup lama, langit yang semulanya dilukis oleh biru terang kini berubah. Warna oren yang terpadu oleh merah dan pink membuat langit tampak sangat indah, Cheng Xiaoshi di sana, menyenderkan tubuhnya ke pagar. Lalu, dia meminta Lu Guang untuk memfotonya.

      Setelah memfotonya, Lu Guang menatap pria itu, ia terlihat sangat bahagia. Kadang Lu Guang berpikir, apa jadinya kalau mereka tidak akan bertemu, apakah Cheng Xiaoshi akan tetap hidup? Sepertinya Lu Guang adalah malapetaka baginya, membawa Cheng Xiaoshi ke dalam sesuatu yang membahayakan dirinya.

      Lu Guang menghela napas, pikirannya buyar ketika Cheng Xiaoshi menarik lengannya. Ia dibawa menjauh dari alun-alun itu, tak tahu dibawa ke mana. Tetapi sesaatnya mereka sampai, tempat itu cukup indah. Pasir pantai sangat lembut, di dekat situ ada batu besar yang sepertinya menghipnotis kedua pria itu untuk beristirahat di sana.

      Cheng Xiaoshi dengan langkahnya yang cepat menarik Lu Guang, mengistirahatkan badannya ke batu itu. Bintang-bintang mulai bermunculan, mereka akan melihat bintang jatuh sebentar lagi. Kata banyak orang, ketika melihat ada bintang jatuh, seseorang itu harus cepat-cepat membuat permohonan. Lu Guang tidak percaya, tetapi perasaan ini. Perasaan cinta dan takut, membuat dia putus asa. Dia terjebak dengan garis waktu dengan akhir yang selalu sama.

      Tidak lama, bintang jatuh muncul. Keheningan diantara mereka, Lu Guang memohon. Ia memohon dari hati terdalamnya, “Biarkanlah Cheng Xiaoshi hidup lebih lama dan bahagia, walau aku yang akan wafat nantinya, walau yang penderitaan yang aku dapat akan lebih parah daripada yang ia dapatkan,” bisikan itu hanya terdengar untuk Lu Guang sendiri, suaranya terlalu kecil. Hatinya sakit, dia tidak ingin muka tawa dan bahagia Cheng Xiaoshi menghilang dari pandangannya.

      Lalu, mata indah Lu Guang menatap ke arah Cheng Xiaoshi, dia tampak indah, seindah langit pada malam hari. Cheng Xiaoshi melirik Lu Guang dengan tatapan bingung, “Kenapa? Apa ada sesuatu di mukaku?” tanyanya dengan panik. Seukir senyuman muncul di muka Lu Guang.

      Lalu, dengan itu, Lu Guang menggelengkan kepalanya. Tidak ada keanehan, hanya kesempurnaan yang dia lihat malam ini. Cheng Xiaoshi menghela napasnya dengan lega, ia lalu melihat Lu Guang yang lagi-lagi tenggelam pada pikirannya itu. Cheng Xiaoshi terheran-heran, beberapa hari ini Lu Guang sering melamun.

      “Lu Guang, kamu ada masalah? Akhir-akhir ini kamu sering melamun,” tanyanya dengan nada yang sedikit panik. Cheng Xiaoshi takut kalau ternyata Lu Guang sedang sakit dan dia tidak bisa merawatnya dengan baik.

      Senyuman halus muncul di muka sang pemilik rambut putih itu, matanya menatap Cheng Xiaoshi dengan tatapan dalam. Untuk sesaat hanya ada kesunyian dan suara ombak dari laut. “Aku tidak apa-apa, hanya mungkin, aku takut,” wajahnya kembali serius. Ketakutan itu ada di dalam otaknya terus menerus.

      Tubuh Cheng Xiaoshi, tak berdaya, diselimuti oleh darah. Lu Guang dengan cepat menggelengkan kepalanya, tentu, Cheng Xiaoshi yang dihadapannya bingung. Dengan pelan ia mendekati dirinya kepada Lu Guang.

      “Ceritakan, kamu beneran lebih banyak melamun,” ucapnya dengan lantang. Kekhawatiran muncul dari pemilik mata berwarna cokelat tua itu. Mau tak mau Lu Guang bercerita sedikit saja.

      “Aku cukup takut dengan masa depan, khawatir dengan keselamatanmu. Aku sepertinya adalah seseorang yang membawamu ke malapetaka, membawa kamu ke dalam hal-hal yang bersifat berbahaya terus menerus,” wajah Lu Guang terlihat sangat sedih, ada kekecewaan di dalam dirinya karena tidak bisa menyalamatkan Cheng Xiaoshi di tiap timeline yang berbeda.

      Cheng Xiaoshi menautkan jari-jari mereka, membuat kedua orang itu berpegangan tangan. Cheng Xiaoshi tersenyum lembut, selembut kain sifon. Hati Lu Guang berdegup dengan sangat kencang, mungkin saja bisa lompat di saat kapanpun. Dia tidak menyangka bahwa Cheng Xiaoshi akan melakukan hal sekecil ini, tetapi cukup membuat hati Lu Guang hampir lompat.

      “Tidak, kamu terlalu banyak berpikir. Aku bahkan tidak pernah berpikir seperti itu,” Cheng Xiaoshi lalu membelai tangan Lu Guang, setiap sentuhannya membuat pipi Lu Guang memanas, dengan pelan pemilik rambut putih itu mengeratkan genggaman mereka.

      Lu Guang dengan logika dan hatinya sedang ribut, pilihan selanjutnya akan membuat perbedaan untuk masa depan keduanya—Cheng Xiaoshi dan Lu Guang. Logika Lu Guang mengatakan untuk tidak menyatakan cintanya sekarang, tetapi hatinya berkata lain. Setelah beberapa lama ia akhirnya memutuskan mengikuti kata hati. Walau dia tahu mungkin ia akan menyesali perbuatannya.

      Lu Guang menatap Cheng Xiaoshi dengan perasaan gugup, “Maaf, aku seharusnya tidak pernah membawamu ke dalam hal-hal yang berbahaya.” Dengan perlahan Lu Guang mendekatkan dirinya terhadap lelaki di depannya itu, Cheng Xiaoshi sedikit terkejut. Jarak antara mereka sangat amat kecil, Lu Guang bisa merasakan napas Cheng Xiaoshi yang tidak beraturan. Ini terlalu dekat.

      “Cheng Xiaoshi, aku ingin mengatakan sesuatu,” seolah-olah Cheng Xiaoshi tahu apa yang akan terjadi, matanya langsung terbelalak. Pipinya merona, genggaman mereka menjadi sangat amat erat. “I love you," rasanya hati Cheng Xiaoshi berhenti berdetak. Ia tak tahu harus mengucapkan apa.

      Dia bahkan menahan napasnya, Cheng Xiaoshi lalu tersenyum, tersenyum lebar, hatinya kemudian dipenuhi oleh bunga-bunga yang bermekaran. Ia langsung membawa Lu Guang ke dalam pelukannya yang hangat, malam itu malam yang dingin tetapi pelukan yang dikasih oleh Cheng Xiaoshi membuat Lu Guang merasa hangat, sangat nyaman. Lu Guang berharap dia bisa di dalam dekapan Cheng Xiaoshi selama-lamanya.

      Cheng Xiaoshi pun tertawa kecil. “I love you more, aku tidak menyangka ternyata kamu suka aku. Maksudku, ini beneran terlihat mustahil!” Lu Guang mengeratkan pelukannya, malu dan kebahagiaan bercampur aduk. Jika Cheng Xiaoshi melihat mukanya sekarang, mungkin ia akan mengira bahwa Lu Guang adalah udang rebus.

      Muka dia sangat merah, Cheng Xiaoshi pun mundur sedikit untuk melihat wajah lelaki itu. Cantik, indah. Lu Guang tersipu ketika Cheng Xiaoshi menatapnya seperitu, ini adalah hari yang ia tidak sangka. Setelah itu, Lu Guang merasa bahwa Cheng Xiaoshi mendekatkan mukanya.

      Wajahnya menampilkan senyum seringai, belum sempat Lu Guang membuka pembicaraan lagi, bibir mereka terlanjur menempel. Lu Guang terbelalak, dia tidak pernah menyangka bahwa Cheng Xiaoshi akan melakukan hal se-impulsif ini. Lumatan kecil itu membuat Lu Guang melenguh, matanya tertutup, napasnya menjadi tidak beraturan. Pria di depannya sangat menikmati ciuman ini, tidak bisa dipungkiri bahwa Lu Guang juga menyukainya tetapi ini terlalu lama. Lu Guang akhirnya mendorong tubuh Cheng Xiaoshi untuk menjauh sedikit.

      “Kamu gila, ini ciuman pertama kita” ucapnya dengan suara terbata-bata, napasnya benar-benar tidak beraturan. Cheng Xiaoshi hanya tersenyum tipis lalu mengecup bibir itu satu kali lagi sebelum membawa Lu Guang ke dalam pelukannya lagi. Ciuman pertama tetapi sudah seperti ini.

      “Jangan sering-sering melamun dan tenggelam dalam pikiranmu itu, aku khawatir,” suara lembut itu membuat Lu Guang tersenyum lembut. Ia menganggukkan kepalanya dan menyembunyikan wajah meronanya didalam dekapan sang pria bermata cokelat tua itu.

      Angin semilir, suara ombak tiada hentinya. Bintang-bintang yang melukis indah nabastala, hari yang sangat amat indah untuk keduanya. Mereka berdua, di dalam pelukan yang hangat. Bisa saja itu hari terakhir mereka merasakan ini, atau pun tidak. Tidak ada yang tahu bagaimana jalan hidup mereka selanjutnya. Yang mereka hanya ketahui adalah hari itu adalah hari terbaik yang mereka pernah rasakan. 

 

✦•┈๑⋅⋯ ⋯⋅๑┈•✦∘₊✧──────✧₊∘

Notes:

Kata "nabastala" berasal dari bahasa Sansekerta dan berarti "langit".

— Hello!!! Terimakasih kepada kalian yang sudah baca cerita fanfiksi pertama saya, this is my first post, dan aku mencoba menulis lagi setelah sekian lama tidak menulis. Semoga kalian menyukainya :D

I won't be that active, but I'll try to post more.