Actions

Work Header

If I Say, I Love You

Summary:

Bertahun-tahun menggenggam Jaehyun dalam jemarinya, pada akhirnya Sungho kalah oleh egonya sendiri.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Pertama kali Sungho bertemu Jaehyun, mentari pagi terasa kalah dengan hangat senyum yang diberikan untuknya.

“Hai, aku Myung Jaehyun!”

Myung Jaehyun. Sungho menyukai namanya yang terasa asing namun hangat di saat bersamaan. Mungkin karena mata bulat itu menyambutnya dengan lembut. Atau mungkin karena senyumnya bahkan mengalahkan matahari pagi itu. Hari pertama pindah ke sekolah baru rasanya tidak semenyebalkan pikiran awal Sungho.

Jaehyun adalah teman pertama Sungho di sekolah baru, tempat baru, kota baru. Pindah dari satu kota besar ke kota besar lainnya menimbulkan pikiran skeptis Sungho di awal; semua anak kota memiliki perilaku yang sama. Jadi Sungho tidak memberikan ekspetasi tinggi pada murid-murid di sekolah barunya. Sungho tidak perlu terlalu akrab, yang penting eksistensinya terlihat saja di kelas. Itu sudah lebih dari cukup.

Hingga ia dipertemukan dengan Jaehyun yang bersikap seolah mereka teman lama.

Keduanya menjadi teman dekat dengan cepat. Jaehyun terlalu mudah akrab dengan seseorang yang baru dikenalnya sepuluh detik lalu, sementara Sungho butuh seseorang untuk membantunya beradaptasi. Mereka masih bocah SMP dengan pengalaman minim akan pertemanan dan sosialiasi, tapi keduanya bisa menyatu dengan sempurna bagai dua keping puzzle yang akhirnya bertemu.

Masa SMP berjalan dengan cepat namun menyenangkan. Hampir seluruh warga sekolah sudah hapal bahwa keduanya bagai sepatu kanan dan kiri, selalu terlihat bersama bahkan hal sesederhana pergi ke toilet. Meskipun di beberapa waktu Sungho terlihat risih dengan tingkah ajaib Jaehyun, tapi tidak ada yang buta bahwa ada tangan yang memegang bahu si Myung setiap kali pemuda itu berbincang dengan teman lainnya. Untuk ukuran anak SMP, teman-teman mereka terlalu cepat paham bahwa Park Sungho menggenggam erat Myung Jaehyun di sela jemarinya.

Era akhirnya berganti saat keduanya memasuki SMA yang sama dan tetap berada di kelas yang sama (Sungho mengucapkan terima kasih pada ayahnya untuk itu). Sebagian murid di SMP mereka juga masuk ke sekolah yang sama, jadi mereka tidak lagi heran dengan pasangan Park-Myung yang sangat lengket sejak masa orientasi. Tapi yang membuat heran, perlahan angka dua berubah menjadi tiga kala sosok mungil bernama Lee Riwoo mulai sering menyelinap di antara keduanya. Seharusnya ini bukan kejadian mengherankan selama Jaehyun masih menjadi pemuda dengan kepribadian secerah lampu jalan. Yang membuat warga lama heran adalah Sungho secara sukarela membagi Jaehyun-nya pada orang lain.

Mungkin karena Jaehyun yang memaksa mengadopsi Riwoo dan mengikutsertakannya pada setiap agenda Jaehyun bersama Sungho. Sekarang di setiap jejak pada lorong SMA itu, tidak hanya ada dua pasang sepatu yang beriringan namun tiga pasang sepatu yang melangkah dengan ritme sama. Terkadang sepasang sepatu akan berhenti untuk mengobrol dengan siapapun yang lewat di jalur yang sama, sementara dua pasang sepatu lain ikut berhenti guna menunggu.

“Besok ‘kan libur, jadi main ke taman hiburan yuk!”

Riwoo berhenti sejenak dan menoleh ke belakang di mana Sungho serta Jaehyun melangkah berdampingan. Tangan Jaehyun melingkar nyaman di lengan Sungho, sementara yang ditempeli tidak menunjukkan reaksi apapun.

“Ya sudah.” Riwoo mengangguk setuju. “Mau jam berapa?”

“Jam sepuluh! Bagaimana, Yeppi?”

“Baiklah.”

Satu yang Riwoo pahami dengan jelas setelah dekat dengan Sungho dan Jaehyun selama enam bulan terakhir, yakni Sungho yang hampir selalu mengiyakan permintaan Jaehyun. Padahal Riwoo yakin ketika mengobrol di kelas sekitar 15 menit lalu, Sungho bilang mau menghabiskan waktu libur di rumah saja. Jaehyun tidak dengar karena ia asyik mengobrol dengan Sohee, meninggalkan Sungho dan Riwoo yang saling bertanya soal rencana kegiatan libur besok.

Lalu rencana berubah karena Jaehyun ingin pergi bermain. Sampai di tahap ini, Riwoo sudah terlalu paham jika jemari Sungho tidak akan melepas Jaehyun untuk melangkah sendiri, bahkan meski itu dengan Riwoo. Pemuda Lee itu tidak pernah berpikir untuk merebut Jaehyun, jadi ia santai saja saat di beberapa kesempatan Sungho bertingkah seakan Jaehyun adalah miliknya dan Riwoo harus tahu diri.

Jaehyun itu serupa magnet yang menarik banyak orang mendekat padanya. Entah sudah berapa banyak surat cinta yang terselip di bawah meja, coklat atau bunga yang diletakkan begitu saja di atas meja, pesan-pesan ajakan kencan, hingga pernyataan cinta yang diutarakan secara langsung. Tapi tidak ada satupun yang berhasil menembus hati Jaehyun dan mendapatkannya. Jaehyun merasa Sungho dan Riwoo saja sudah lebih dari cukup.

Tapi pada faktanya, ada usaha seseorang untuk menyingkirkan orang-orang yang berusaha meraih Jaehyun-nya. Riwoo lebih dari tahu jika sebagian surat yang terselip di bawah meja, lebih dulu menjadi bola dan masuk ke tempat sampah oleh tangan Sungho. Riwoo sudah hapal jika sebagian hadiah di meja Jaehyun telah berpindah ke meja lain oleh gerak cepat Sungho. Riwoo tidak heran jika sosok Sungho bersedekap dengan tatapan tajam saat ada orang lain yang berani menyatakan perasaannya pada Jaehyun.

Apa Jaehyun tahu? Tentu saja tidak. Atau lebih tepatnya pura-pura tidak tahu. Riwoo sadar jika Jaehyun menikmati semua tingkah posesif Sungho padanya, meskipun sejauh yang Riwoo tahu, hubungan mereka tidak lebih dari garis teman.

Tahun berlalu dengan cepat dan ketiganya memasuki dunia perkuliahan. Masuk di kampus yang sama namun menempuh program studi yang berbeda. Ketiganya perlahan memiliki dunia sendiri karena perbedaan waktu yang menyulitkan mereka sekedar bertemu di kampus. Namun di akhir pekan, Riwoo masih sempat mengunjungi rumah Jaehyun (yang biasanya ada Sungho) atau mengunjungi rumah Sungho (yang biasanya ada Jaehyun) atau duduk manis di rumah menunggu kedua sahabat itu datang menghampiri. Bahkan saat ketiganya sudah memasuki tahun ketiga perkuliahan, kebiasaan saling mengunjungi saat akhir pekan itu tidak berubah meski frekuensinya mulai berjarak.

Riwoo tidak tahu kenapa Sungho dan Jaehyun masih betah bertahan di garis teman sementara orang-orang saja paham jika keduanya saling membutuhkan. Di semester enam ini, semester yang sibuknya terasa mencekik leher, Sungho masih berusaha menyempatkan diri menemui Jaehyun di fakultasnya meski hanya sepuluh menit. Entah memberi kopi, camilan, atau sekadar mengobrol sebentar dan mengusak rambut ikal si Myung.

Jangankan Riwoo, Sungho saja tidak paham jenis hubungan apa yang sedang ia jalani sekarang.

Sungho tidak tahu apakah hubungannya dengan Jaehyun masih terbilang layak disebut teman. Teman tidak saling mencium, ‘kan? Teman juga tidak saling bercinta, ya ‘kan?

“Kau… Apa?!”

Sungho mengangkat bahu saat Riwoo menatapnya penuh horror. Riwoo bahkan hampir melempar buku yang dipegangnya pada Sungho.

“Kalian… bagaimana bisa?!”

“Aku horny. Jaehyun horny. Lalu terjadilah adegan kawin itu.”

Lalu buku yang dipegang Riwoo benar-benar menghantam kepala Sungho.

Sungho tidak membela diri. Tapi setidaknya keduanya melakukan secara sadar dan memegang consent penuh untuk melakukan adegan dewasa tersebut. Mungkin karena keduanya sama-sama stress dengan tugas, jadilah seks adalah jawaban dari pelampiasan rasa frustasi mereka. Ciuman juga dihitung sebagai pelepasan stress, soalnya Sungho selalu mencari Jaehyun jika kepalanya penuh, begitu juga sebaliknya.

Tapi status mereka tetap teman. Tidak tahu siapa yang bodoh di sini.


“Yeppi, Taesan menyatakan perasaannya padaku tadi siang.”

Sungho yang sedang mengerjakan makalah seketika berhenti. Ia geser laptopnya dan ia pandangi Jaehyun yang sedang menyesap jus mangga.

“Lalu jawabanmu?”

“Eung… aku bilang aku butuh waktu.” lalu mata bulat itu menatap Sungho dengan lekat. “Kalau menurutmu, bagaimana?”

“Menurutmu Taesan bagaimana?”

“Baik. Gentle. Meskipun terlihat cuek, tapi dia sangat peduli. Aku nyaman berada di dekatnya.”

Han Taesan, adik tingkat Jaehyun yang sedang gencar mendekati si Myung. Padahal Taesan tahu jelas jika ada Sungho yang berdiri kokoh di sebelah Jaehyun. Tapi Taesan juga tahu jika tidak ada hubungan yang menghalangi langkahnya untuk mendapatkan Jaehyun. Kalau Riwoo tahu, pasti ia sedang tertawa terbahak-bahak.

“Nyaman? Kalau begitu, terima saja.” Sungho memilih kembali berkutat pada laptop didepannya. Atau setidaknya, berusaha. Dadanya bergemuruh dan wajahnya tertekuk dengan jelas. Padahal mereka hanya teman — bonus saling mencium dan memakan — jadi tidak apa-apa kalau Jaehyun mau menjadikan Taesan pacarnya. Sejauh yang Sungho tahu, Taesan bukan pemuda dengan kepribadian buruk. Malah sangat jauh dari kata buruk. Jadi harusnya tidak apa-apa kan kalau SAHABATnya ini menerima pernyataan cinta Taesan?

Beliau ini lupa bagaimana ia terang-terangan memberi intimidasi pada siapapun yang berani mendekati Jaehyun saat SMA dulu.

“Jadi kuterima saja?”

“Iya. Taesan orangnya baik, ‘kok.”

Jawaban bodoh. Sangat bodoh. Harusnya Sungho menyadari jika raut wajah Jaehyun berubah sedih. Harusnya Sungho paham jika pertanyaan yang diajukan Jaehyun bernada kegetiran. Harusnya Sungho lihat jika tatapan mata Jaehyun nampak terluka.

Harusnya Sungho sadar jika jawabannya waktu itu mengantarkannya pada rasa sakit hati hebat saat melihat Jaehyun dan Taesan bergandengan tangan di koridor kampus, dua minggu kemudian.

“Kok bisa?” Riwoo sampai tidak tahu lagi harus berucap apa. “KOK BISA, PARK SUNGHO?!”

“Mereka sama-sama nyaman. Aku tidak mungkin melarang Jaehyun berpacaran.”

Kalau saja Sungho tidak lebih tinggi dan lebih besar, mungkin tas laptop Riwoo sudah menghantam kepala si Park. Tapi tidak jadi, sayang isi laptopnya.

“Kamu tuh sadar tidak sih, kalau kamu suka Jaehyun?!” Riwoo mengacak rambut dengan gemas. Kenapa jadi dia yang frustasi, ya? Harusnya yang frustasi adalah Sungho. “Kenapa kamu malah mendorong Jaehyun agar dia berpacaran dengan Taesan?!”

Sungho mengaduk es kopi dengan sedotan, tatapannya menyayu. Perasaannya tidak baik-baik saja saat melihat Taesan tertawa seraya menarik Jaehyun yang juga turut tertawa ke dalam pelukan. Terlihat begitu bahagia. “Biarlah. Semoga tahun depan putus.”

“Semoga tahun depan APA?!”

Akhir pekan terasa berubah saat Jaehyun berpacaran dengan Taesan. Saat Riwoo dan Sungho bisa, Jaehyun tidak bisa. Saat Riwoo dan Jaehyun bisa, Sungho tidak bisa. Saat Sungho dan Jaehyun bisa, Riwoo tidak bisa. Saat tiga-tiganya bisa, Taesan datang menjemput dan membawa kakak pacarnya pergi. Nyaris dihantam Sungho, tapi Sungho sudah tidak punya hak apa-apa lagi. Sedari awal memang tidak punya sih, sebenarnya.

Tapi mereka masih bermain bersama jika tidak diburu revisi tugas akhir. Sungho masih bersikap biasa, minus ia tidak lagi menemui Jaehyun di fakultasnya dan tidak lagi menemuinya kala kepala sedang penuh. Jaehyun masih bersikap seperti biasa, minus ia tidak lagi menggelayuti lengan Sungho dan mendaratkan kecupan di pipi Sungho tiba-tiba. Riwoo masih bersikap biasa, minus ia jadi harus mengurus Sungho yang galau sambil mabuk tapi masih denial dan menolak keras mengakui perasaannya untuk Jaehyun.

“Pokoknya tahun depan, Taesan dan Jaehyun putus!”

“Kenapa harus putus? Memangnya kamu punya hubungan apa ke Jaehyun?”

“Teman.”

Riwoo punya kesabaran untuk tidak menendang Sungho yang sudah setengah tepar.

Tapi tahun yang dinantikan Sungho tidak pernah tiba. Tahun depan, tahun depannya lagi, lalu tahun-tahun depannya lagi, tidak pernah ada kata putus yang disampaikan dari cerita Jaehyun. Malah ia semakin harmonis dan bahagia, selalu menceritakan Taesan dengan mata yang berbinar. Tidak pernah ada cerita pasangan Han dan Myung itu putus seperti yang diharapkan oleh si Park Denial.

Soalnya pada tahun keenam setelah harapan Sungho di depan es kopi yang sedang diaduknya di kafe kampus, Sungho mendapati Jaehyun berdiri didepan rumahnya dengan wajah berseri. Niat Sungho untuk pergi mencari makan malam yang tidak sempat ia beli saat pulang kantor tadi, seketika tertunda.

“Yeppi.. Aku mau kasih ini.”

Undangan pernikahan dengan warna silver yang cantik, bertuliskan nama Han Taesan dan Myung Jaehyun, diserahkan pada Sungho yang seketika gemetar.


“Katanya tahun depan putus? Malah jadi menikah, tuh.”

Sungho mencapit bibir Riwoo dengan jemarinya, matanya melotot meski Riwoo bisa melihat jelas jika sebentar lagi air mata jatuh dan mengalir deras. Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian keduanya, juga perhatian tamu undangan lain, ke arah belakang. Myung Jaehyun, dengan pakaian serba putih yang membalut tubuhnya, dengan tatanan rambut yang menggantung cantik di balik telinga, dengan senyum secerah mentari yang mengingatkan Sungho pada pertemuan pertama mereka, berjalan perlahan menyusuri lorong bersama sang ayah.

“Cantik.” gumam Sungho. “Benar-benar cantik, Myung Jaehyun.”

Sungho tidak mengalihkan pandangannya sedetikpun pada Jaehyun yang terlihat gugup. Namun saat mata mereka bertemu, Jaehyun mengulas senyum tipis yang membuat Sungho juga ikut tersenyum. Entah perasaannya saja atau bukan, tapi senyum Jaehyun terlihat lega seakan eksistensi Sungho berhasil menghapus kegugupannya.

Sungho tidak tahu air matanya meluncur turun jika bukan Riwoo yang mengulurkan tisu padanya. Leehan, pacar Riwoo yang juga turut hadir sebagai tamu undangan, mengusap pelan pundak Sungho dan menggumamkan kata penenang.

Sungho tidak tahu mengapa ia menangis. Mungkin itu air mata bahagia. Mungkin itu air mata penyesalan. Sungho tidak bisa membedakannya. Yang pasti, bibirnya tersenyum tipis saat melihat bibir Jaehyun dan Taesan menyatu selepas keduanya resmi dinyatakan sebagai pasangan sehidup semati.

Acara resepsi berlangsung meriah saat malam tiba. Sungho mengamati dekorasi yang terasa sangat Jaehyun, menyadari jika pernikahan ini berlangsung sesuai impian Jaehyun. Taesan sangat mencintai Jaehyun sampai membuat pernikahan yang keseluruhannya didasarkan pada keinginan Jaehyun. Sungho lega. Myung kesayangannya jatuh di tangan yang tepat.

“Sungho.”

Jaehyun dan Taesan datang menghampiri saat Sungho hendak mengambil wine. Setelah melirik Taesan dan mendapat persetujuan dari sang suami, Jaehyun memeluk erat Sungho hingga pria Park itu terkejut.

“Sungho, terima kasih sudah datang. Terima kasih juga untuk semua yang sudah kamu lakukan untukku.”

Sungho ingin menangis lagi. Tapi sudah banyak air mata yang keluar sejak hari di mana Jaehyun menyerahkan undangan. Jadi Sungho balas memeluk Jaehyun tak kalah erat, menghirup aroma Jaehyun dengan rakus karena tahu jika setelahnya ia tidak bisa melakukannya lagi. Aroma yang disukai Sungho, aroma yang selalu membuat Sungho tenang meski dunia sedang tidak berbaik hati. Aroma yang bukan hanya disukai Sungho, tapi disukai juga oleh sosok yang resmi mengikat Jaehyun menjadi miliknya selamanya.

“Bahagia terus ya, Jaehyun.” bisik Sungho. “Aku selalu mendoakanmu dan Taesan agar hidup bahagia selamanya. Terima kasih juga sudah menjadi temanku selama ini. Kita tetap teman, kan?”

“Tentu saja!” Jaehyun memukul pelan punggung Sungho hingga keduanya tertawa. Pelukan mereka terlepas dan ganti Taesan yang memeluk Sungho.

“Jangan sakiti Jaehyun.” peringat Sungho. “Sekali kudengar kau menyakiti Jaehyun, akan kubawa Jaehyun pergi detik itu juga.”

Taesan tertawa. “Tidak akan.” lalu ia menepuk-nepuk punggung Sungho. “Kak, maaf ya.”

Sungho lebih dari paham apa maksud kata maaf dari bibir Taesan. Tapi ia enggan membahas lebih lanjut, jadi Sungho hanya balas menepuk punggung Taesan dan melepaskan pelukan.

Setelah berbincang sesaat, Jaehyun dan Taesan pamit untuk menyapa tamu mereka yang lain. Tangan Taesan bertengger manis di pinggang Jaehyun, membuat senyum getir Sungho terulas tipis. Ia kembali pada niatan awal mengambil wine, mengabaikan Riwoo dan Leehan yang ia sadari mendekat kearahnya. Oh, ada Woonhak juga, adik dari Jaehyun.

Segelas wine tandas dalam sekali teguk. Sungho perhatikan lagi pasangan Raja sehari yang sedang berkeliling menyapa tamu, lebih tepatnya pada Jaehyun yang senyumnya mengembang cantik dengan pipi gembil yang dulu jadi favorit Sungho untuk dicubit. Jaehyun sudah bahagia, jadi Sungho harus cari kebahagiaan lain untuk jadi miliknya.

Riwoo menyodorkan gelas wine lain pada Sungho dan mengajak Leehan untuk ikut bersulang. Woonhak kebagian air putih, tapi tidak apa-apa ikut bersulang, hingga denting empat gelas yang beradu terdengar di tengah pesta yang meriah.

“Untuk pernikahan Jaehyun dan Taesan.” Riwoo tersenyum.

Sungho mengangguk. “Untuk pernikahan Jaehyun dan Taesan.” lalu meneguk wine dalam sekali teguk hingga matanya memanas. Bukan karena wine, tapi karena Riwoo benar;

Untuk pernikahan Jaehyun dan Taesan.

Notes:

Pesan moral : kalau suka tuh bilang, jangan denial. Nanti nyesel