Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Character:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-01-29
Words:
1,704
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
26
Bookmarks:
1
Hits:
384

Ruze, Tavern, dan Saweran Penikmat Arak

Summary:

Ruze harus menjadi Gadis Tavern karena kalah taruhan. Tidak disangka, ternyata dirinya mendapat banyak saweran, meskipun harus melakukan pelayanan spesial.

Notes:

Terinspirasi dari buah pikiran kotor sewaktu menonton stream Tavern Simulator dan fanart para Goonzaders yang 'sedap'.

⚠️ Tokoh dalam kisah ini adalah Crimzon Ruze sebagai karakter dan tidak bersangkutan dengan orang di baliknya.

Terima kasih, selamat membaca :D

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sudah tidak terhitung berapa kali Ruze menghela napas malam ini. Bukannya apa, namun semua masalah ini dimulai oleh mulutnya sendiri, yang tidak tahu caranya untuk diam.

Bukannya sadar kalau keberuntungan tidak pernah ada disisinya, Ruze malah melunjak untuk bertaruh dengan pemilik Tavern di Barat Elysium. Hasilnya tidak perlu ditanya: kalah telak. Ruze cuma tersenyum kecut setelah melihat gelak tawa kemenangan pemilik Tavern. Mimpi buruk, pikirnya.

Bagaimana tidak, berkat mulutnya yang asal bunyi itu, sekarang dirinya harus bekerja selayaknya Dara Pelayan Tavern. Segala sorot mata lelaki menghujani dirinya, sebab yang dia pakai hanyalah sehelai apron tipis, bando telinga kucing, dan rok mini yang tidak menutupi apapun. Ditanggalkan segala pakaiannya, menyisakan dada bidang yang tidak terlindungi sama sekali.

Ruze hanya menutup mukanya, malu. Tetapi dia tidak dibesarkan untuk menjadi pengecut. Dia sudah bertaruh, maka taruhannya harus dilakukan.

Tugas Ruze di Tavern ini hanya satu, melayani pelanggan. Awalnya dia hanya diminta menyajikan arak yang sudah dibuat oleh orang dapur. Namun seiring malam berlalu, permintaan yang diberikan semakin aneh-aneh.

“Err… Terima kasih sudah datang ke Tavern. Silakan dinikmati minumannya,” kata Ruze sembari meletakkan arak di meja yang diisi oleh dua lelaki.

Baru saja Ruze berbalik, dirinya dikagetkan dengan tamparan di pantat sintalnya.

Sejatinya dia adalah bounty hunter yang instingnya sangat tajam, tangan kotor lelaki tersebut ditangkisnya.

“WOI, mau apa, keparat!?” bentak Ruze, menggenggam kerah lelaki tersebut. Tenaganya tidak main-main, lelaki cungkring tersebut sedikit terangkat dari tanah.

“Ah, Pelayan tidak seharusnya membentak pelanggannya, bukan?” jawab santai lelaki tersebut sambil tersenyum tengil, “Nanti dimarahin bos lho~”

Lelaki berambut hitam mengesalkan di depannya menunjuk ke arah pemilik Tavern. Ruze yang kesal namun tidak ingin membuat keonaran akhirnya hanya berdecih. Menurunkan kembali si Lelaki dan melepaskan cengkraman. Dia tidak ingin satupun anggota ARMIS tahu jika dirinya melakukan hal yang memalukan seperti ini.

“Aduh, kucing cantik diam aja nih,” goda si Lelaki sambil meremas-remas pantat empuk Ruze.

Memang rok mini sialan. Terlalu pendek sampai tidak menutupi apapun. Terlalu ringan sampai ketika angin bertiup, roknya terbuka dan memperlihatkan celana dalam hitam berenda yang dikenakannya sebagai bahan taruhan. Terlalu tipis sampai sorotan lampu Tavern saja sudah mampu memperlihatkan bayangan lekuk tubuhnya secara sempurna.

Terasa sekali pandangan para lelaki haus menyorot langsung ke dirinya ketika tengah melayani pelanggan.

Terpaksa dia lakukan karena meja Tavern dibuat terlalu pendek sampai dirinya harus membungkuk ketika menaruh gelas arak. Mempertontonkan bagian bawahnya ke seluruh Tavern.

Belum lagi apron tipis yang tidak punya fungsi ini. Saking tipisnya, dada bidangnya tercetak sempurna.

Memang Ruze tahu ini semua didesain untuk pelayan perempuan sebagai bahan tontonan di Tavern Cabul ini. Agaknya dia menyesalkan datang ke sini kalau bukan terpaksa karena misi.

“Bicara begitu sekali lagi, leher lidimu kupatahkan,” ancam Ruze sambil mencengkram lengan si Lelaki.

Si Lelaki hanya tersenyum tengil. Kemudian menyodorkan sejumlah lembaran uang berwarna merah ke depan muka Ruze.

“Uang,” katanya.

“Aku tahu itu, kau pikir aku bodoh?” balas Ruze.

“Ah, kucing cantik masih tidak mengerti ya,” kata si Lelaki, “Tuan ini bakal kasih kamu uang, asal kamu mau duduk di pangkuanku.”

Ruze mengernyitkan mata.

“Persetan, bawa kembali uang warna-warnimu itu.”

Ruze berbalik badan, pergi. Namun belum jauh dirinya berjalan kembali ke dapur, dirinya dihadang oleh pemilik Tavern. Tiga menit cukup untuk mengancam Ruze agar kembali bekerja. Bukannya apa, ingin dirinya menebas habis pria tua di hadapannya dengan Zephyr, hanya tidak bisa karena Zephyr dia tinggalkan di belakang Tavern. Harga dirinya juga terlalu tinggi untuk diolok-olok oleh Jurard karena dirinya memakai pakaian tidak senonoh ini. 

Ruze kembali ke meja lelaki tadi, dengan wajah penuh kekalahan. Menyayat hati sekali melihat seorang Hunter perkasa ini sekarang tidak berdaya.

“Duduk,” perintah si Lelaki sambil menepuk-nepuk pahanya, pertanda Ruze harus duduk di pangkuannya.

“Bajinga—” celoteh Ruze sambil mengepalkan tangannya, bersiap menonjok.

“Ah-ah, kucing cuma boleh bicara ‘Nya~’,” balas si Lelaki, dengan tatapan yang sangat menyebalkan.

Ruze mendecih. Menurunkan kepalan tangannya.

“N-nya~”

Taruhan sialan.

Sekarang dirinya sudah terduduk sempurna di pangkuan pelanggannya itu. Aneh, aneh sekali rasanya duduk di pangkuan LELAKI langsung tanpa terhalang kain. Ruze mendadak menjadi sangat sensitif, segala pergerakan yang terjadi, gesekan antara kulitnya dengan celana lawannya, membuat dirinya tersetrum.

Tanpa sadar, suara lenguhan kecil keluar.

Buru-buru Ruze menutup mulutnya, namun lenguhan tersebut sudah terlanjur terdengar oleh yang memberi pangkuan.

Tangan nakal si Lelaki mulai menyingkap rok super pendek milik Ruze. Easy access, pikirnya. Memperlihatkan dua gunung sintal dengan celana dalam hitam berenda di celahnya. Ini bukan celana dalam lagi, namun lingerie seksi.

Pelanggan tersebut tersenyum penuh nafsu. 

Jackpot.

Diremas kuat pantat menggoda Ruze. Kembali, diikuti oleh lenguhan Sang Empunya. Perlahan jemari bergeser ke dalam celah. Berputar-putar di pintu masuk, memberikan sensasi nikmat yang tidak bisa dideskripsikan.

Dirasa Dara Pelayan sudah ikut berada dalam permainannya, si Lelaki memasukkan satu jemari. Bergerak menggaruk dinding penuh saraf, mencoba mencari titik nikmat empunya.

Satu hentakan jari dan getaran tubuh Ruze menandakan bahwa titiknya telah ditemukan. Perlahan si Lelaki menambahkan jumlah jemari yang masuk. Mencoba melemaskan sekaligus membuka lebar jalan masuk. Hentakan jemari demi hentakan terus diberikan, mencoba memberikan kenikmatan bagi si empunya tubuh.

Ruze mendesah tidak karuan, lemas dirinya sampai kepala akhirnya diletakkan di bahu si Lelaki. Pelanggan berambut hitam pendek tersebut tentu tidak menolak, karena di telinganya sekarang hanyalah suara desahan seksi.

Lenguhan Ruze semakin tidak tertahan ketika dia menyadari bahwa gundukan miliknya bergesekan langsung dengan milik lawannya. Keduanya ternyata merasakan hal yang sama. Lingerie tipis ini tidak membantu, justru menambahkan sensasi setrum pada miliknya.

“N-Nyah… Ngh-ah,” tangan Ruze sudah lepas dari mulutnya. Suaranya menggema di seluruh Tavern. Tentu saja menaikkan libido pengunjung lainnya. Di titik ini, hanya satu hal yang ada di pikiran pelanggan Tavern: aku harus coba juga.

Tanpa sadar, Ruze menggesekkan lebih cepat miliknya pada milik lawannya. Maju mundur mengikuti tempo jemari si Lelaki. Dirinya semakin frustasi, nikmat ini belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ruze menekan miliknya yang sudah basah semakin dalam, menghujam daging keras di bawahnya.

Terlalu banyak stimulasi.

“Gimana? Enak? Mau keluar?” bisik si Lelaki di tepi telinga Ruze yang sedang bersandar.

“Oh diam— Ah,”

Hentakan terakhir, Ruze akhirnya keluar. Tidak habis pikir dirinya bisa keluar hanya dengan jemari lawan mainya. Sekarang di roknya membekas noda putih. Begitu juga dengan celana lelaki di depannya. Basah.

Si Lelaki tersenyum, kemudian mengelus pucuk kepala dan dagu Ruze.

“Kucing pintar,” kata si Lelaki sambil menyelipkan lima lembar uang di apron Ruze. 

Warna merah, berarti uang ini nominalnya tinggi. Sial, kepala Ruze masih berputar-putar, belum dapat mencerna situasi.

“Manis, gantian aku juga dong?” ucap lelaki berambut coklat di seberang meja.

Ah, benar. Keparat satu ini tadi memang minum bersama temannya. Lebih baik dia mati tenggelam daripada mengingat lagi jika dirinya melakukan itu sambil diamati oleh orang lain.

Ruze membalikkan badan, masih di pangkuan dengan mata sayunya. Menatap ke arah si Lelaki besar.

si Lelaki berambut coklat menunjuk ke arah selangkangannya. Tegak. “Tanggung jawab, desahmu seksi banget tadi.”

Ruze mendecih. Tadi keparat, sekarang bajingan. Ternyata banyak manusia tidak layak diberikan kesempatan hidup di Elysium. Oh jikalau Sang Pohon mendengar, musnahkan saja serangga-serangga ini.

Belum sempat Ruze mengeluarkan sumpah serapah, sepuluh lembaran merah dikeluarkan dari saku si Lelaki.

“Gimana?” si Lelaki menaikkan alisnya.

Ruze menelan ludah. Sepuluh. SEPULUH lembar? Oh, dirinya—dan ARMIS—bisa membeli pasokan makanan untuk tiga tahun dengan uang sebanyak itu. Uang tidak bisa ditolak, kalau ditolak sama saja dengan menyia-nyiakan kesempatan. Kompas moral dalam hatinya berusaha keras untuk menutup kemungkinan tersebut, namun logika Ruze sudah tidak bisa dibantah.

‘Bukan masalah aku diperlakukan seperti ini, asalkan dia dan saudara-saudaranya yang menyusahkan itu bisa hidup enak,’ batinnya.

Ruze turun dari pangkuan si lelaki pertama dan bersimpuh di sela kaki lelaki kedua. Si Lelaki berambut coklat tersenyum lebar—cenderung cabul. Rambut kue Ruze dielusnya, hal ini tentu saja membuat Ruze merinding, memberikan sensasi tersendiri pada dirinya dan bagian bawahnya yang masih basah.

Ruze sudah tahu apa yang diminta oleh bajingan satu ini, dirinya juga laki-laki.

Walau penuh rasa jijik, ia mencoba sebaik mungkin melakukan ‘komisi’ ini. Ruze mengecup perlahan ujung gundukan dari balik celana, diikuti lenguhan lelaki di depannya.

Jemarinya yang lentik perlahan melepaskan celana lawannya, membiarkan burung perkasa tersebut lepas dari sangkar.

BESAR. Ruze tertegun sebentar. Diikuti dengan kedutan tidak terduga dari bagian belakangnya. Tersihir, Ruze mengelus milik lawannya, dari pangkal sampai ujung. Diulangi beberapa kali sampai membentuk rikmik tersendiri.

“Ugh—” lenguh si Lelaki berambut coklat, “Jago juga kamu.”

“Tapi kalau dikulum kayaknya lebih nikmat. Iya kan, Cantik?”

Lagi, Ruze mengecup ujung benda perkasa di depannya. Diikuti dengan lidahnya yang mulai bermain-main, bergerak memutari kepala milik lawannya, naik-turun. Sebelum berakhir dikulum secara sempurna.

Suara seperti gemecak air bergema di seluruh Tavern. Sedikit nakal karena dibumbui dengan lenguhan dua orang yang sedang merasakan nikmat dunia. Si Lelaki karena permainan lidah Ruze yang di luar dugaan dapat memanjakan milikinya; dan Ruze karena elusan lembut yang terus diberikan pada pucuk kepalanya yang ikut sensitif.

Ruze masih tidak puas. Benar-benar dirinya tersihir, seperti mesin yang berubah haluan ketika saklarnya ditekan. Tangan kirinya yang sedang tidak sibuk mulai meraba ke belakang, menyibakkan rok, mencari posisi jalan masuknya yang sudah gatal berkedut hebat. Jemarinya perlahan masuk, mengulangi kembali sensasi yang tadi sudah ia rasakan hasil permainan Lelaki pertama.

Tidak berapa lama, cairan putih keluar di dalam mulutnya. Terpaksa ia telan karena tidak sempat ia muntahkan. Pahit, pikirnya.

“Ah, pintar,” kata si Lelaki berambut coklat sambil menyelipkan lembaran berharga tadi di apron Ruze, “Kau bisa pergi ke rumah di ujung jalan sana. Kita bisa main lebih lama lagi, Manis~.”

“Main ke neraka sana, bajingan coklat. Kutu kupret saja lebih bermutu daripada muka menyebalkan itu,” balas Ruze, berdiri meninggalkan meja sambil memberikan kenang-kenangan jari tengah pada dua lelaki tersebut.

Belum sampai dirinya kembali ke dapur, terdengar teriakan dari lantai dua Tavern. Seorang lelaki tampan dengan setelan biru, dengan cravat putih di lehernya.

“Wahai pelayan yang di bawah!” teriaknya, sembari mengibas-ngibaskan uang yang cukup membuat siapapun menengok ke ‘Tuan Kaya’ itu, “Layani aku dan hangatkan tuan kecil ini di dalam dirimu. Buat Tavern kecil ini tertegun dalam gema lenguhanmu itu.”

Ruze tidak menengok ke arah suara, “Oh, aku dengar apa? Kita dapat penyair di sini? Aku beri nilai sepuluh dari seratus untuk puisi yang untuk dipertontonkan di depan kecoa saja tidak layak—”

“Dua, tidak, tiga puluh lembar,” potong si Lelaki, “Tiga puluh lembar uang berwarna merah seperti rok cantik yang kau gunakan.”

Ruze terdiam, menutup mulutnya rapat, menghentikan segala kata-kata balasan yang tadinya ingin keluar.

Oh, malam ini akan jadi malam yang sangat panjang.

Notes:

Tbh emang dari awal Ruze asbun soal jadi Tavern Wench, pikiranku udah kotor banget anjirrr, terus tetiba keluar itu asset uang saweran di stream. Aku langsung "ANJING, INIMAH JADI MODAL NULIS FANFIC", dan jadilah fanfic cabul ini (minta maaf di atas materai).

Akulah goonzaders yang disebut-sebut oleh Tavi itu. Maaf Ruze, love you as always (not parasocialy).