Chapter Text
Kalau masalah dekat, sudah sejak lama Yamato dekat dengan Naomi. Itu pun, Cobra dan Noboru juga sama dekatnya—atau mungkin, tidak juga. Tapi dengan bertambahnya umur, kadang-kadang, ada beberapa hal yang muncul di benak Yamato. Tidak seperti dirinya yang biasanya saja; berpikir, maksudnya. Pada dasarnya, Yamato bukan tipe yang banyak berpikir—itu kan urusan Noboru.
“Kita udah temenan berapa lama sih?” tanya Noboru dengan mulutnya yang penuh, apalagi kalau bukan makan omurice dari ITOKAN. Setiap hari, untuk urusan makan memang Yamato hanya bergantung pada onigiri buatan ibunya atau, ya, masakan Naomi. Tiba-tiba saja pertanyaan itu terbesit, barangkali habis ini dia mendapatkan jawaban akan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Sudah lelah dia berpikir, sudah saatnya untuk berhenti.
Naomi tertegun, namun pada akhirnya dia hanya mengedikkan bahunya. “Enggak tahu,” tuturnya sedikit acuh tak acuh. “Coba tanya Cobra,” lanjutnya. Masalahnya, Cobra sendiri tidak memperhatikan orang lain. Begitu sosoknya ditunjuk, dia juga sama saja, mengedikkan bahunya—entah tidak tahu atau justru tidak mendengarkan.
Mau tidak mau, Yamato menghela napasnya, lalu tetap menyendokkan makanan ke dalam mulut. Berpikir membuatnya lapar, meskipun lagi-lagi dia harus menerima cibiran Naomi. “Lainnya gelut mah, Cobra mana bisa diandelin,” balasnya. Benar juga , belum lagi Cobra sedang asyik terlarut dengan majalahnya, mana mungkin dia memperhatikan.
“Noboru datengnya agak belakangan sih ya,” gumam Naomi. Kalau dengan Noboru, sekiranya dari sekolah dasar mereka sudah bersama-sama. Tapi kalau hanya mereka bertiga, mungkin dengan Kohaku dan mendiang Tatsuya, mereka tidak tahu jawaban pasti. “Coba deh lu tanyain sama si Tante,” usul Naomi.
Tidak ada salahnya, jadi Yamato mengangguk-angguk. Jika mereka tidak tahu, barangkali ibunya tahu. Lagipula, ibunya adalah satu-satunya orang yang juga dekat dengan mereka. Kalau Kohaku, mungkin akan sedikit susah untuk ditemui, apalagi ditanyai. “Yawuwa nanhi uhwe hahain,” balas Yamato dengan mulutnya yang penuh.
Mendengar jawaban Yamato bukannya membuat senang, Naomi justru kesal. Tanpa aba-aba, dipukulnya kepala Yamato dengan sodet yang masih ada di tangannya. “Telen dulu, goblok!” umpatnya kemudian. Aduh, yang satu ini memang sudah berhenti jadi orang bodoh.
•— ٠ ⋆ ٠ — •
Meskipun lebih damai dari sebelumnya, bengkel Asahina berjalan baik-baik saja. Justru, cenderung ramai—dan entah setan dari mana, Yamato mulai sedikit-sedikit menyisihkan uang untuk melunasi utangnya di Bar Odake, ITOKAN, dan menabung. Wow, bahkan dirinya sendiri tidak percaya. Untuk apa menabung? Mana tahu, yang penting sekarang dia punya uang.
Tidak ada niatan sekalipun untuk menjalin hubungan, bahkan. Seperti biasanya, Yamato hanya menjalankan hari ke hari tanpa banyak berpikir apa yang harus dilakukan selanjutnya. Selama dia masih hidup dan kebutuhannya terpenuhi, agaknya cukup. Tapi, saat kembali mengunjungi ITOKAN setelah bekerja hampir seharian di bengkel, dia terpikirkan sesuatu.
ITOKAN selalu ramai, penuh dengan orang-orang yang itu-itu saja. Kalau bukan begitu, bukan ITOKAN namanya. Di dalam, segala rupa aroma tercium; dari mulai oli, bensin, matahari, sampai, apalagi kalau bukan bau badan sampai pengharum ruangan tidak berguna sama sekali. Tapi agaknya, Naomi sudah kebal—mereka semua sudah kebal.
“Kok enggak langsung makan?” tanya Naomi begitu piring yang disodorkannya pada Yamao tidak juga disentuh. “Buset, enggak laper lu?” tanyanya lagi. Jarang sekali Yamato datang tanpa makan, mungkin tidak pernah. Pemandangan aneh itu cukup untuk membuat semua kepala berputar dan menengok ke arah mereka.
Bukan, dan Yamato hanya menggelengkan kepalanya—tidak tahu harus mulai dari mana. “Lo ada pacar?” Dibandingkan menjawab pertanyaan Naomi, dia justru bertanya kembali. Sontak, seluruh kepala yang ada di ITOKAN menoleh seolah-olah merek mencium sesuatu untuk digosipkan.
“Enggak minat,” jawab Naomi, sudah seperti dugaan banyak orang. Jelas, mereka tidak pernah melihat Naomi dekat dengan siapapun kecuali Yamato—atau Cobra, mungkin Noboru. Tapi itu adalah hal yang biasa. Pada dasarnya, Naomi adalah bagian dari mereka: laki-laki, dan itu juga diamini oleh teman-teman dari Ichigo Miruku.
Lantas, pertanyaan Yamato tadi masih menjadi misteri. Pasalnya, Yamato juga tidak pernah dekat dengan perempuan kecuali Naomi—itu pun kalau dia menganggap Naomi perempuan. “Semisal nanti, kalo kita udah mau 30 tahun dan belom ada pacar, lo mau nikah sama gue?” tanyanya lagi, sukses membuat semua orang kaget dan terbelalak.
Sedekat itu Yamato dengan Naomi, tidak ada yang pernah membayangkan mereka akan menikah. Tapi di sini lah mereka, melihat bagaimana sebuah sejarah terbentuk. “Ya udah,” jawab Naomi tanpa perlu berpikir panjang. Semuanya, tampak seperti yang orang-orang ekspektasikan, tapi mereka masih terkejut.
Siapa sangka, di antara mereka, Yamato dan Naomi lah yang pertama kali mengikat janji suci. Walaupun belum terhitung karena itu baru janji, tapi tetap saja. Kebanyakan dari mereka bahkan tidak kenal perempuan sama sekali selain teman-teman dari Ichigo Miruku. Meskipun kaget, sorak sorai kemudian membuncah memenuhi ITOKAN.
Belum resmi saja, mereka sudah sebegini hebohnya. Bagaimana nanti kalau sudah resmi? Itu pun, tidak ada yang bisa menjamin. Mereka masih harus melalui hari demi hari, hingga tahun demi tahun sampai waktu itu datang. Andaikan datang, barangkali Naomi sudah memiliki seseorang yang lain, yang lebih pantas, contohnya. Sementara Yamato, dia sendiri tidak tahu.
Sudah lama sekali mereka berteman yang bahkan ibunya saja juga tidak ingat kapan mereka mulai berteman. Hampir setiap memorinya, ada Naomi di sana. Naomi yang tersenyum, menangis, marah, mengata-ngatainya, dan lain-lain. Selalu ada Naomi di hidupnya. Barangkali menikahi Naomi bukanlah keputusan yang salah.
Jika Naomi sudah terus hadir dalam hidupnya, maka dia tidak akan masalah memiliki Naomi dalam memorinya sepanjang sisa hidup. Selamanya jelas adalah waktu yang lama, tapi selama puluhan tahun hidup, itu pun juga waktu yang lama. Apa bedanya? Sementara atau selamanya, mereka sudah ada terus-menerus dalam hidup masing-masing. Mungkin, mereka memang ditakdirkan untuk bersama.
Di sudut ITOKAN, Cobra menutup majalahnya dengan sebuah senyuman di wajahnya. Oh, hari yang ditunggu-tunggu datang. Boleh jadi Yamato tidak menyadarinya, tapi sudah terlihat jelas bahwa mereka akan berakhir bersama. “Akhirnya, ya?” Noboru mendekati tempat duduk Cobra, diikuti pertanyaan yang sudah jelas jawabannya.
“Iya,” sahutnya pelan di tengah deru sorak-sorai yang memekak memenuhi ruangan. “Tapi mereka sadar enggak sih?” Kali ini, Cobra yang bertanya pada Noboru. Bagi mereka, hubungan antara Yamato dan Naomi sudah jelas akan berakhir seperti apa. Cepat atau lambat, sudah begitu takdir mereka, dan yang lain hanya menunggu-nunggu waktu itu datang.
Noboru mengedikkan bahunya, hal yang sama yang akan dilakukan semua orang. “Kayaknya, enggak,” jawabnya dengan suara yang teredam oleh bising di sekitar. “Biarin aja, toh mereka juga jadian kan akhirnya?” tanyanya balik, yang diamini oleh Cobra dengan cepat. “Kita tinggal dukung aja.”
