Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-02-03
Words:
6,123
Chapters:
1/1
Comments:
10
Kudos:
34
Bookmarks:
1
Hits:
590

lost at sea, found in love

Summary:

Maeda Riku yang tidak pernah pandai dalam menavigasi kehidupan dan Oh Sion yang punya presensi layaknya lautan. Riku menyadari betapa dirinya rela buat tenggelam ke dalam samudra jika itu berarti mati kehabisan napas di tengah rasa hangat yang Sion tawarkan dalam sebuah dekap.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Riku tidak pernah pandai dalam menavigasikan hidup.

Ibu pernah berkata kalau Riku seperti nakhoda yang belum bisa membaca jarum kompas. Katanya, “hidup kamu cuma berarah pada ombak yang membawa kapalmu pergi, Riku,” dan Riku sepenuhnya setuju pada ucapan yang ibu bilang di sela-sela sisiran lembut jemari di atas kepalanya itu. Dalam kapasitas berpikir Riku yang masif dan luasnya melebihi samudra, ada berbagai macam posibilitas tidak terbatas yang kerap ia sentuh dengan mengira-ngira; memang apa yang mau ia capai sebenarnya?

Sejak pertama kali bisa makan pedas tanpa menangis setelah berpuluh-puluh kali mencoba, sejak pertama kali mengikuti turnamen nasional bersama klub volinya semasa SMA, bahkan sejak pertama kali menginjakkan kaki di atas lantai universitas tepat satu tahun yang lalu, Riku tidak tau pasti apa yang sebetulnya ingin ia raih—dia tidak pandai menentukan arah atas kehidupan yang sepenuhnya ia serahkan pada angin dan Riku tidak pernah keberatan untuk menjalankannya sebatas karena rasa ingin.

Jadi, kalau ditanya siapa itu Maeda Riku dan apa yang ia inginkan di masa depan? Riku dengan santainya akan menggeleng sebab where’s the thrill of life if you already know those things, kan?

Orang-orang selalu memuji perangainya yang dianggap punya kebebasan setara dengan burung; tidak terbatas, tidak terkekang, tidak pernah takut, seakan-akan Riku adalah anomali yang datangnya berasal dari jutaan rasa berani hingga semua langkahnya diambil tanpa dibayang-bayangi ketakutan. Dalam hal ini, Riku hanya setuju pada beberapa hal sebab dia memang berani dan dia punya kebebasan setara dengan burung yang tidak pernah enggan buat terbang. Namun, perihal takut, apakah benar-benar ada manusia yang tidak diikuti perasaan dihantui oleh hal tersebut? Ia pikir skalanya hampir mendekati kata mustahil karena Maeda Riku pada nyatanya sangat berteman baik dengan ketakutan yang selalu menemaninya sedari ia masih kecil. Sebab segala hal yang ada di hidup Riku tidak absolut membuatnya jadi entitas tanpa punya batas—sebab di balik luasnya kapasitas berpikir Riku yang kadang dipuji oleh ibu, takut masih jadi salah satu dari sekian banyak posibilitas yang turut menginvasi pikiran hingga buat dirinya kalut.

Takut itu datang dalam berbagai macam bentuk dan wujud. Dulu sekali, saat kakinya masih pendek dan seluruh pikirannya cuma diokupasi oleh rajutan tawa dan permen jeli, takut yang Riku alami mengambil bentuk dalam rupa monster jelek yang mungkin saja ikut tidur bersamanya di kolong kasur. Namun ketika umurnya semakin bertambah, monster jelek itu berevolusi jadi bermacam-macam bentuk sampai Riku kehabisan kosa kata buat menjabarkannya dalam bahasa manusia. Takut akan masa depan sebab teman-temannya seakan sudah paham dengan kemauan mereka sedang Riku masih menghabiskan separuh waktu buat berpikir keras mengenai mata kuliah apa yang harus ia ambil di semester depan. Takut untuk mengambil pilihan sebab tidak ada yang memperingatkannya jika Riku di usia 19 akan menghadapi banyak permasalahan yang harus dihadapi sendirian. Takut pada perubahan sebab sejak masuk ke dalam dunia perkuliahan ia disajikan banyak hal baru seakan Riku adalah seekor ikan yang tumbuh besar di dalam setangki kolam lantas tiba-tiba dilepas untuk mengarungi seluk beluk lautan.

Takut itu berupaya memenuhi piringnya yang dulu banyak dihiasi mimpi sampai terkadang Riku memilih untuk membiarkan dirinya lemas kelaparan.

Sebenarnya masuk kuliah tidak semenyeramkan apa yang imajinasi liarnya pikirkan. Pergi jauh dari rumah dan tinggal seorang diri di wilayah asing, membangun koneksi dengan orang baru sambil diam-diam tetap berlari ke dalam kamar kos yang seiring berjalannya waktu sudah ia jadikan sebagai zona aman bagi diri sendiri. Perkuliahan menurutnya seperti memasuki dunia baru yang tidak bisa ia raba-raba saking asingnya. Semuanya baru sekali, akademik, kultur, pergaulan—Riku sempat menemukan dirinya menarik diri dan minder karena mungkin segala hal sebenarnya normal di sini dan Riku hanyalah seorang anak dari kota kecil yang jaraknya enam jam dari ibukota—mungkin Riku yang tidak tau apa-apa.

Terjebak dalam dimensi asing yang masih tidak Riku mengerti cara kerjanya, wajar ‘kan kalau ketakutannya bertambah? Porsinya terus membesar dan menumpuk hingga ia khawatir kalau suatu hari dirinya akan meledak dan berubah menjadi bintang mati. Ketakutan terbesarnya saat ini, kalau boleh Riku jabarkan dengan tidak teliti, bermanifestasi dalam rupa seorang laki-laki berperawakan tinggi yang, kalau boleh jujur, ganteng sekali. Oh Sion namanya. Riku bersumpah namanya juga terdengar tampan. Sebenarnya bukan masalah besar baginya jika kebetulan ia menemukan laki-laki tampan dan kebetulan pula ia akui ketampanan itu dan kebetulan juga ia suka dengan ketampanan tersebut. Ia pikir tidak ada yang salah dari laki-laki memuji laki-laki lain. Pemikiran itu sudah Riku tanam dalam pot tanah merah yang ia pupuk selama bertahun-tahun hingga akarnya menancap kuat di kepala. Tapi saat pohonnya itu berbuah, ternyata tidak semua orang suka dengan rasanya; beberapa teman menganggap hal itu sebagai hal yang aneh sehingga Riku kembali dibuat meraba-raba di mana letak keanehannya dan apa sebenarnya yang salah dari sekadar memiliki rasa kagum.

Dalam siklus hidupnya yang monoton layaknya kertas kosong, goresan pena warna-warni banyak dia dapat dari keluarganya yang baik hati. Riku tinggal di tempat yang didominasi perempuan; dua kakak perempuan dan ibu—sedang ayah selalu absen karena harus bekerja entah di kota apa (Riku bahkan lupa kapan terakhir kali ia melihat laki-laki itu). Mengenai cara didik, sebetulnya tidak banyak perbedaan mengenai bagaimana ibu mendidik ia dan kedua kakaknya. Meskipun dirinya adalah seorang laki-laki, Riku tetap harus melakukan kegiatan domestik dan membantu mereka mengurus rumah. Ibu tetap mengajarkannya memasak, ibu tetap mengajarkannya bagaimana cara menjahit, ibu tetap membiarkannya main bola dan membeli kotak makan merah muda di saat yang bersamaan sewaktu ia sekolah dasar. Tumbuh besar, Riku tidak mengetahui betul mengenai apa perbedaan besar yang mengelompokkan laki-laki dan perempuan ke dalam dua kategori berdasarkan cara hidup. Ia sempat menyenaraikan kemungkinan apa yang bisa dijadikan dasar untuk menjawab pertanyaan tersebut, yang berakhir tercoret asal seiring realita yang Riku temukan di dunia perkuliahan seringnya berkontradiksi dengan deduksinya.

Riku sempat berpikir jika perbedaan itu mungkin bisa dilihat dari cara berpakaian tapi di lingkungannya yang sekarang banyak ia jumpai bagaimana orang-orang tidak menggunakan pakaian sebagai pembatas antar gender. Riku lebih memahami pakaian sebagai bentuk ekspresi diri sebab dirinya juga demikian dan mungkin orang-orang di sini memiliki pendapat yang cukup serupa. Jadi ia coret posibilitas itu dan menggantinya dengan yang lain. Kalau begitu apa mungkin selera olahraga, ya? Selera dalam membeli produk? Dalam merawat diri?

“Ngerjain apa, sih?” Suara Yushi tiba-tiba memecah sesi lamunan Riku yang ternyata selama ini dia lakukan di tengah-tengah kantin. “Tugas?”

Riku mengerjap, lalu menggeleng. Rentetan monolog dan pola-pola abstrak yang sejak tadi terpeta memenuhi kepalanya seketika mengabur dan hilang ketika fokusnya bertumpu pada Yushi di seberang meja. Sejak kapan dia ada di sana?

“Gue chat gak dibales, taunya di sini. Ngapain, sih, bengong di kantin sore-sore?”

Sinar matahari sore yang berwarna kejinggaan terjatuh menyirami pucuk kepala Yushi dengan kehangatan, Riku menyadari ada gurat lelah yang tercetak di wajah Yushi akibat sudah menghabisi hari dengan tiga kelas berbobot 12 SKS. Yushi sendiri adalah teman dekat Riku yang dikenalnya sejak masa orientasi perkuliahan satu tahun yang lalu. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja Yushi sudah berada di dalam garis edarnya dan sejak saat itu mereka berpendar dalam orbit yang sama. Di mana ada Yushi, di situ ada Riku, begitu pun sebaliknya.

Kini, laki-laki dengan rambut coklat dan mata seperti kucing itu sedang mengaduk kuah soto yang sepertinya baru saja dibeli, uapnya masih mengepul dan nasinya masih panas.

“Gak ngapa-ngapain, sih, gabut aja tadi.”

Yushi menatapnya skeptis, “Pasti habis lupa waktu karena terlalu fokus di dalam sini,” katanya sambil mengetuk kepala Riku dengan jari telunjuk.

Yang ditunjuk mendengus, pilih untuk tidak menjawab. Lagipula tebakan Yushi tentang dirinya memang selalu benar. Yushi seakan punya buku ‘panduan membaca gerak-gerik Maeda Riku’ yang akurasinya kadang membuat Riku bergidik ngeri, saking akuratnya. Dengan Yushi, dirinya merasa seperti buku anak-anak dengan huruf bercetak tebal yang selalu terbuka lebar untuk laki-laki itu baca. Yushi selalu berhasil menebaknya dengan benar dan Riku tidak punya kemampuan buat menutup-nutupi diri dari tatapan mata Yushi yang selalu tajam.

Yushi, sambil mengunyah soto betawi berkuah merah sambal, membaca dengan cermat kata-kata yang Riku tulis di atas secarik kertas struk pembayaran minimarket yang sudah lecek. Alisnya mengerut dengan pipi yang menggembung sebelah karena mengunyah, “Apaan?” tanyanya.

Dan Riku memutuskan untuk jawab dengan jujur dibanding berkilah di hadapan Yushi yang maha tau. “Lagi coba jawab pertanyaan yang ada di kepala aja tadi. Gak penting.”
“Selera berpakaian, olahraga, trinkets? Skincare? Beli sabun? Lo mikirin apa, sih?”

Yushi sepertinya betulan ingin tau dan Riku tidak sampai hati buat menjadikan topik ini angin lalu, jadi dia mulai menjelaskan. Yushi di seberangnya mendengarkan tiap kalimat yang Riku ucap dengan atentif, mengangguk setiap kali nada bicara Riku terdengar ragu seakan memberi pengertian kalau eksistensinya di sini bukan untuk menghakimi. Matanya bergulir dari menatap Riku kembali ke semangkuk soto dan sepiring nasi putih di depannya lantas mengangguk (sambil mengunyah) ketika Riku selesai menjelaskan. “Hmm,” ucap Yushi, “emang kalau udah ketemu perbedaannya kenapa? Mau lo apain?”

Riku terdiam. Benar juga, ia belum memikirkan hal tersebut.

“Lo lagi kenapa, sih? Ada yang ganggu kah?”

Kini tatapan Yushi menjadi lebih serius. Mungkin matanya yang bekerja layaknya kamera CCTV yang selalu sigap mendeteksi setiap jenis pergerakan itu mulai menangkap perilaku aneh Riku yang tengah coba ia tutupi.

Riku tertawa (gugup sedikit). Yushi jadi menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat.

Kalau sudah begini mungkin jujur jadi pilihan yang paling baik buat diambil.

“Em, jadi gini. Sebenernya gak penting sih tapi misal lo punya temen—bukan gue tapi, jangan bayangin gue—lo punya temen, laki-laki, terus temen lo punya temen juga…laki-laki… terus temen lo ini nganggep temennya itu ganteng. Temennya itu juga baik ke temen lo walau mereka gak begitu akrab. Tapi temen-temen lo yang lain nganggap hal itu aneh kayak, lo ‘kan cowok, kenapa bilang cowok lain ganteng..” Riku menjelaskan dengan hati-hati. “Jadi lo akhirnya ikutan berpikir, emang salah kah kalau bilang cowok lain ganteng ketika kita juga cowok? Makanya tadi gue lagi cari tau sebenernya boundaries apa yang membedakan hal-hal yang boleh dilakuin sama laki-laki aja dan perempuan aja, dan apa yang sebenarnya ngebedain dua kelompok itu.”

“Dan jawabannya?”

“Belum ada, lo ‘kan liat sendiri kertas gue isinya dicoret salah semua.”

Yushi mengangguk, tanpa berpikir bertanya, “Bilang gantengnya sambil deg-degan, gak?”

“Hah?”

“Lo lagi naksir orang, ya?” Apa, sih, pertanyaan Yushi ini? Kok jadi dia yang ngelantur begini?

“Kok jadi gue?”

Yushi tidak balas menjelaskan. “Jadi? Naksir?”

“Apa, sih?” Riku benar-benar tidak mengerti. Apa korelasi dari pertanyaan dia dengan kata naksir? Siapa yang naksir orang? Riku? Dia naksir Sion karena bilang Sion ganteng? Hah?

Melihat kebingungan tercetak jelas di wajah temannya, Yushi tertawa. Kuah soto yang tersisa setengah itu ia aduk-aduk tanpa arah. “Gue gak tau kenapa tapi di telinga gue temen lo itu kayak lagi kebingungan sama posisinya sendiri. Mungkin dia lagi cari justifikasi karena rasa kebingungan itu. Lo bilang temen-temennya yang lain pada anggap dia aneh ‘kan? Sedangkan dia gak nemu anehnya di mana. Jawabannya ya karena itu semua gak aneh sama sekali.”

“Gak aneh?”

“Gak ada salahnya lo kagum sama siapapun. Emangnya ada peraturan tertulis yang bilang kalau lo cuma boleh kagum sama orang dari gender yang berbeda?” Riku menggeleng. “Nah itu. Gak ada anehnya, Riku.”

Riku kembali menimbang-nimbang ucapan Yushi yang, untuk kali ini, terasa sulit buatnya telan mentah-mentah. Jadi semua itu sebenarnya merupakan hal yang wajar dan normal? Lantas kenapa orang lain menganggapnya seakan Riku punya masalah di dalam kepala?

“Bahkan–bahkan walau lo kagum karena dia baik sama semua orang dan senyumnya manis dan rambutnya bagus dan badannya juga bagus dan suaranya enak dan kalau dia nyanyi lo mau dengerin itu berjam-jam non stop?”

Yushi menatapnya dengan senyum seakan dia adalah anak yang mengaku sudah mencuri mangga ke pemilik pohon mangganya sendiri. “Gak aneh sama sekali.”

Bagaimana bisa?

“Mungkin nanti lo akan ngerti maksud gue.” Yushi masih tersenyum meski kini ia tengah membereskan peralatan bekas makannya. “Someday you and your friend will eventually figure it out, Riku. Oh, and one thing to remember, it’s okay to be scared about it; but you’re not weird. Nothing is weird about those things.


Mungkin benar yang dikatakan ibu jika Riku adalah nakhoda yang belum mahir menggunakan kompas. Dia dan kapal kecil yang ia bawa terombang-ambing di atas lautan ketidaktahuan yang perlahan-lahan membuat kapalnya tenggelam. Saat masih kecil dulu, ia pernah bertanya pada ibu; apakah cinta itu benar-benar tidak memiliki batasan umur? Atau pernyataan itu sebenarnya cuma sekadar rentetan omong kosong yang diucap orang-orang tanpa dasar sebagai bentuk glorifikasi dari rasa kasih yang berlebih?

Pernah suatu ketika Ibu menjawab melalui pertanyaan lainnya, “Menurut Riku, ketika bayi baru dilahirkan, apa mereka bisa langsung mencintai kedua orang tuanya?”

Mungkin memang benar bahwa tidak ada yang namanya waktu yang tepat untuk mencintai. Jatuh cinta mungkin datang tanpa disertai prediksi ataupun peringatan. Mungkin tabiatnya memang datang dengan tiba-tiba dalam waktu yang tidak disangka; tidak kenal tempat, tidak terprediksi, tidak memberi aba-aba.

Tapi bagaimana dengan orang yang tepat untuk disematkan kata cinta itu sendiri? Bagaimana kita bisa tau kalau orang yang membuat kita jatuh serta merta layak untuk diberikan cinta? Sebab ibu bilang kalau jatuh cinta acap kali bukan cuma jatuh, lantas cinta. Spektrumnya cukup rumit terlebih untuk Riku yang setiap tarikan napasnya masih dibayangi kehati-hatian sebab takut pada apa-apa yang mengintai. Sebab ibu bilang kalau jatuh cinta bukan hanya perihal cinta, tapi jatuhnya juga turut dapat bagian. Dan kita tidak akan selalu bisa dibuat terbang selamanya.

Riku kerap mendengar istilah ‘manusia diciptakan berpasang-pasangan’, tetapi berpasangan dengan siapa? Siapa yang menentukan pasangan itu? Apa manusia juga punya kontrol untuk memilih?

Apa manusia punya kontrol atas cinta, atau malah cinta yang mengontrol manusia seperti seonggok boneka kayu?

Bertemu dengan Oh Sion di bangku perkuliahan mungkin jadi satu dari sekian banyak hal yang gagal untuk Riku prediksi. Presensi dari laki-laki itu serupa magnet dan Riku cuma sepotong besi tersesat yang tertarik dan sayangnya tidak bisa berpaling. Sion seumpama bintang paling terang dan Riku dengan senang hati memerintahkan koloni huruf yang ia tulis di atas secarik kertas agar mereka mau merangkai diri jadi puisi paling indah yang tiap baitnya didedikasi untuk memuji eksistensi Sion dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dan pada kenyataan ketika beberapa teman berkata jika fantasinya aneh, Riku dibuat membeku dan berkontemplasi mencari-cari jawaban akan rasa bingung yang tiba-tiba membanjiri benaknya; apa yang salah? Dirinya, kah?

Lalu kata-kata yang Yushi ucap memasuki pikiran, membuat benaknya yang sudah kacau menjadi semakin balau dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan baru yang berceceran hingga Riku kewalahan sebab mau bagaimana pun, hanya ada satu posibilitas yang terbesit sekeras apapun Riku coba untuk berkelit; apa iya dia suka Oh Sion?

Riku bukan orang yang asing dengan suka. Dia menghabiskan masa sekolahnya dengan berulang kali terpesona pada orang-orang di sekitar, bahkan dirinya sendiri juga banyak disukai oleh beberapa teman lama (Riku dulu populer di sekolah). Namun, kebanyakan orang yang dulu ia taksir adalah perempuan dan Oh Sion bukan perempuan. Mungkin ini titik tumpu permasalahan yang bermuara di hatinya sampai ia merasa seperti sedang berada di dalam air. Apakah ini benar? Apakah Riku benar-benar suka laki-laki? Bagaimana caranya Riku bisa suka laki-laki? Sejak kapan?

Dan jika memang benar dia suka laki-laki, apakah kalimat Yushi bisa ia percayai?

Masalahnya, Riku sendiri juga bukan perempuan. Ia melabeli diri sebagai laki-laki tulen (walau tidak tau juga artinya apa). Dia masih suka kegiatan laki-laki, gerak-geriknya seperti laki-laki, bahkan tujuh puluh persen temannya juga laki-laki. Lantas kenapa bisa dia suka dengan laki-laki? Mungkin segala hal akan lebih mudah untuk diterima akalnya jika Riku sedikit bersikap seperti perempuan, suka make up, suka segala hal yang berbau keperempuanan. Tapi tidak. Di dalam kasus ini, Riku (laki-laki), punya kemungkinan untuk menyukai Oh Sion (yang juga laki-laki sekali).

Oke, mungkin ini salah. Mungkin pola pikirnya masih terlalu kolot hingga bisa memikirkan hal paling tidak masuk akal seperti itu. Mungkin Riku harus lebih banyak melihat dunia luar. Mungkin sebenarnya ia takut karena bagaimana mungkin dia suka pada laki-laki di saat dirinya juga laki-laki? Sebab apa yang akan dikatakan ibu? Apa yang akan dikatakan orang-orang nantinya?

Sebab Riku tau bahwa tidak semua orang akan suka dengan fakta tersembunyi yang baru saja ia temui. Sebab jika baru bilang kagum saja banyak orang yang memandangnya geli, Riku berani bertaruh kenyataan kalau dirinya suka Oh Sion dalam konotasi romantis bisa saja membuat mereka yang dengar langsung mengutuknya jadi tikus sampai dia dimaki-maki, ditendang, dan dipukuli. Mungkin Riku akan berakhir diasingkan ke sebuah pulau terpencil di tengah samudra karena kini ia merasa kapalnya semakin terperosok ke dalam ombak ganas yang selalu mengintainya sedari awal, dan mungkin orang-orang tidak akan sudi buat menyelamatkannya dari kesunyian pulau yang tidak tersentuh sinar matahari sampai ia dibiarkan layu seorang diri.

Mungkin jatuh cinta memang selamanya akan datang tanpa aba-aba sebab tau jika diberi pilihan, Riku akan menolak narasi ini dengan tega.

Otaknya kembali memutar ulang memori akan percakapannya dengan Yushi tempo hari di tengah kantin yang mulai sepi. “it’s okay to be scared about it; but you’re not weird. Nothing is weird about those things.

It’s okay to be scared. Yushi bilang tidak apa-apa.

Riku membiarkan ketakutan memakannya penuh malam ini.


Riku sedikit yakin kalau Sion diciptakan dengan porsi kebaikan yang sedikit melebihi ukuran gelas takar yang seharusnya jadi standar penakaran umum dalam resep menciptakan manusia. Kebaikan yang Sion tebar menumbuhkan mawar di setiap langkah kaki yang ia pijak dan semakin hari Riku semakin dibuat terpana dan terperangkap di dalam kenyataan bahwa ya, mungkin dia benar-benar jatuh cinta.

Pagi tadi ia lihat laki-laki itu sedang bergurau dengan satpam yang tengah bertugas menjaga wilayah parkir mahasiswa, di tangannya ada kantong plastik berisi styrofoam (sepertinya makanan karena Riku lihat ada plastik kecil berisi kerupuk di atasnya) yang kemudian dia beri pada satpam tersebut. Siang hari, Riku lihat Sion mengobrol santai bersama Mas Abu si penjual sate di pojok kantin sambil tertawa bersama. Sorenya, Riku lihat lagi dia bersama dengan teman-temannya di meja batu, bercengkrama sambil sesekali membenahi rambut seorang perempuan yang duduk di sampingnya (Riku abaikan perasaan mengganjal di dada dan suara teriakan kecil di hatinya yang protes menyuarakan kata mau juga).

Beberapa minggu setelah percakapannya dengan Yushi sore itu, Riku jadi memandang Sion dengan cara yang lebih terbuka. Ia jadi memikirkan setiap kemungkinan yang bisa saja muncul, berdebat dengan diri sendiri seakan-akan kepribadiannya terbagi menjadi dua kubu yang saling sensi. Riku merasa seakan ia tengah memakai kacamata baru jika ia berada di sekitar wilayah orbit Oh Sion dan sialnya, akibat hal yang sama juga, ia menemukan dirinya bertingkah aneh sampai-sampai Yushi memandangnya dengan geli walau bibirnya terangkat mengulas senyum maklum.

Si bajingan itu.

Riku sempat ingin menyalahkan Yushi atas semua rasa gundah yang tiba-tiba menyerbunya tanpa ampun sebab kalau Yushi tidak bicara demikian, Riku seratus persen yakin dirinya tidak akan mengalami episode kebimbangan akut yang sukses membuat rambutnya rontok lebih parah dibanding biasanya. Tapi bagaimana cara ia bisa memukul Yushi ‘tanpa alasan’ kalau yang laki-laki itu tau, subjek dari cerita Riku adalah temannya (teman imajiner, mungkin) dan bukan Riku sendiri. Dia memilih buat tutup telinga ketika kepribadiannya yang lain berkata jika bajingan licik bernama Tokuno Yushi itu sejak awal sudah paham kalau pemain utama dari cerita karangan Riku tidak lain dan tidak bukan adalah pengarangnya sendiri. Riku tidak ingin membuat Yushi menjadi besar kepala karena berhasil menebak dirinya dengan benar untuk yang keseribu delapan ratus enam puluh empat kalinya.

Jadi dengan berat hati, sambil sedikit kesal karena Yushi lagi-lagi benar, Riku hindari laki-laki itu sehingga berakhirlah dia sekarang di lantai dua perpustakaan fakultas. Di sela-sela rak buku paling pojok. Main game. Fakultasnya punya kebiasaan aneh yang Riku perhatikan polanya sejak lama, yaitu kenyataan kalau di hari Jumat, frekuensi orang yang datang dan lalu lalang di koridor kampus secara drastis berkurang. Mungkin karena tidak semua jurusan dan kelas memiliki jadwal di hari tersebut tapi tetap saja–lucu kadang mengingat fakultasnya ini biasanya ramai sekali di hari lain sebab kerap juga didatangi anak-anak dari fakultas tetangga (fakultas Riku paling banyak memiliki tempat jajan). Makanya kini dia duduk seorang diri karena kebetulan di lantai ini cuma ada dia dan satu orang lain yang duduk di meja depan dekat dengan tangga.

Sebisa mungkin Riku nikmati waktunya dengan damai. Besok hari sabtu, tidak ada kelas, tidak ada tugas (tumben), dan peradaban yang tengah ia bangun di dalam game-nya berkembang dengan cukup baik dan pesat. Beberapa hari terakhir ini dia menemukan dirinya sering kelelahan karena terlalu berambisi buat menghindari Oh Sion. Sejak laki-laki itu membangun hunian di dalam pikiran Riku tanpa izin dan enggan pergi bahkan meski sudah diusir berkali-laki, ia menemukan dirinya menjadi lebih jeli dalam menyadari keberadaan Sion di setiap sudut fakultas. Riku jadi menemukan Sion di mana-mana, seakan dirinya berada di dalam sangkar dan Oh Sion secara tidak kebetulan merupakan penghuni sangkar sebelah. Maka dari itu, ketenangan yang Riku dapat dalam suaka di balik rak buku perpustakaan lantai dua ini akan ia nikmati dengan senikmat-nikmatnya.

Tapi mungkin dalang di balik langit memang senang membuat Riku jadi wayang yang menderita karena lima belas menit kemudian, secara mengejutkan dan tiba-tiba, Oh Sion mendadak muncul di sebelahnya.

Riku berjengit kaget.

“Eh, maaf!” Sion tiba-tiba berkata, mungkin melihat Riku yang rupanya pucat seperti habis ditampaki hantu, entah. “Gak maksud ngagetin, maaf ya, gue pikir gak ada orang.”

Riku berusaha keras buat meredakan detak jantungnya yang kini berdetak hebat. “Iya, gapapa. Maaf juga kalau kagetnya lebay, beneran kaget soalnya.” Tidak sampai dua menit usaha kerasnya sudah gagal.

Bisa Riku rasakan aliran darah mengalir ke kepala sampai kedua pipinya memanas. Berdua dengan Oh Sion dalam jarak dekat, hah, ternyata sial dan anugrah bisa datang di waktu yang bersamaan, ya.

“Lo ngapain di sini, Rik?” Sion bertanya.

Riku, meski telinganya mendadak berdengung dan suara jantungnya berdegup kencang sekali di telinga, menunjuk layar laptopnya dengan gerakan kepala. “Main game.”

Tatapan mata Sion jatuh pada layar laptop Riku yang menampilkan gambar kota kecil dengan beberapa bangunan acak di sekitarnya. Sepertinya ia tertarik karena kini laki-laki itu mengambil tempat tepat di sebelah Riku (mereka duduk di lantai omong-omong) dan memajukan kepala hingga penglihatannya bisa menangkap dengan jelas apa yang ada di layar laptop. “Game apa?” tanyanya, betulan penasaran.

Riku menelan ludah. Gugup. “Emperor.”

Sion meliriknya sambil tersenyum. Riku mendadak jadi salah tingkah sendiri.

“Gimana tuh mainnya?”

“Sebenarnya bangun kota aja, sih.” Riku mulai menjelaskan. “Jaga penduduknya supaya bisa makan dan aman dari musuh. Jagain pola dagangnya, jaga pajak juga buat danain pengembangan kota. Jaga kota dari wilayah musuh juga karena kalau diserang dan hancur, kita kalah.”

Kalau boleh jujur, Riku tidak tau harus berterima kasih pada Sion sebab sudah menanyakan pertanyaan yang anehnya bisa mendistraksi dia dari kegugupan atau malah menendang dirinya sendiri karena sumpah demi apapun, Riku pasti terlihat seperti si cupu maniak game di mata Sion sekarang.

Sadar akan celotehannya yang tidak penting mengenai sistem game tidak jelas dan tidak masuk akal dan tidak seharusnya Sion dengar, Riku menatap laki-laki di sebelahnya dengan panik. “Maaf malah yapping!” Ujarnya. “Maaf, ya, aduh, pasti lo bingung tapi sumpah gue bukan maniak game atau apa kok, gue cuma main ini kalau lagi bosen doang.”

Upayanya memberi penjelasan tampaknya tidak membawa perubahan ke arah yang positif sebab sekarang Sion memandangnya dengan alis yang terangkat dan, “Kok ketawa..” ditertawakan.

“Maaf, maaf,” ucap Sion di sela-sela tawanya. Manis sekali. Riku lantas memukul dirinya sendiri di dalam imajinasi. “Gapapa, kok, gue gak mikir apa-apa cuma lucu aja lo tiba-tiba panik. Gapapa, Riku, game-nya kayak asik.”

Riku tidak menjawab. Matanya bergulir memandang bar berisi jumlah pendapatan kotanya yang terus meningkat sambil dalam hati merutuk karena apa-apaan? Dia memanggil Sion apa barusan? Manis? Riku memukul dirinya sekali lagi (masih dalam imajinasi).

“Lo kayaknya jago mainnya. Udah lama main, kah?” Sion bertanya lagi. Kali ini Riku benar-benar bersyukur karena laki-laki itu tepat membawanya keluar dan menyelamatkannya dari jebakan labirin pikiran yang meliuk-liuk.

“Iya udah lama main, jadi cukup tau polanya aja.”

Sion mengangguk. “Emang minat jadi presiden, ya?”

???

“Minat jadi menteri.”

Sion tertawa lagi.

Riku punya spekulasi kalau ternyata Sion yang diam-diam naksir dia di sini.

Menggeleng, Riku melirik buku yang ada di pangkuan Sion. “Pinjam buku?” tanyanya, lebih terdengar seperti pertanyaan basa-basi.

“Iya, minggu depan presentasi terus dosennya nyaranin pake referensi dari buku ini juga.”

Riku mengangguk, bingung ingin mengucap apalagi.

Ia dan Sion sebenarnya sudah kenal dari semester satu lalu karena berada di kelas yang sama pada mata kuliah Pengantar Ilmu Politik. Riku, yang pada saat itu tidak mengenal siapa-siapa, secara tidak sengaja ditempatkan dalam satu kelompok yang sama dengan Sion untuk presentasi mingguan. Mulai dari situ mereka jadi cukup dekat. Disatukan dalam kelompok di bawah ajaran dosen yang cukup galak, Riku dan Sion membangun pertemanan yang tujuan utamanya cuma satu, saling menguatkan. “Kalau lo kena omel, gue kena omel juga, begitu pun sebaliknya. Oke?” Kedekatan mereka terjalin sesaat setelah kedua kelingking bertaut dalam ikatan perjanjian, sebuah janji main-main antara dua bocah baru menginjak dewasa yang tengah mencoba menyesuaikan diri di dalam dekapan dunia baru. Riku tidak sadar kalau sampai sekarang ia masih memegang janji yang mungkin sudah menempati laci paling belakang dalam memori Sion.

Pertemanan mereka nyatanya tidak sedekat itu. Sion dan dirinya berada di jurusan yang berbeda dan, ketika kelas akhirnya usai di ujung semester, dua bahu yang umumnya selalu bersisian setiap hari senin pagi itu semakin lama semakin menjauh seiring dengan minimnya kepentingan yang melibatkan kehadiran mereka berdua dalam waktu yang sama. Mereka tidak pernah lagi mendapat kelas yang sama bahkan sampai semester tiga, semester terakhir kelas wajib fakultas harus diikuti mahasiswa. Mereka tidak pernah berada di dalam organisasi yang sama karena preferensi yang berbeda; Sion yang sibuk berkecimpung di BEM sedang Riku lebih memilih membangun karir di Himpunan, Sion yang perlahan mulai punya nama sebagai ahlinya perancang acara sedang Riku selalu ada di balik kamera, Sion yang temannya di mana-mana sedang Riku lebih banyak menghabiskan waktu dengan Yushi. Mereka seperti hidup di dalam dua dunia yang berlawanan meskipun berada pada satu linimasa.

Jadi Riku sebenarnya cukup terkejut ketika melihat Sion, secara tiba-tiba, mau repot-repot membangun konversasi dengannya hari ini—di hari Jum’at sore yang sepi di balik rak buku paling pojok perpustakaan lantai dua.

“Lo gak ada kelas lagi, Rik?”

Suara Sion menyadarkan Riku dari lamunan yang sempat membawanya kembali ke bulan September tahun lalu. “Kelas gue terakhir selesai jam dua tadi,” dia menjawab.

“Kok gak pulang?”

“Belum mau aja.”

Lalu tiba-tiba percakapan mereka mengalir seakan-akan Riku diberikan kekuatan oleh entitas tidak kasat mata supaya semua gugupnya hilang tanpa sisa. Bicara dengan Sion seperti bertemu kawan lama yang siap untuk Riku bombardir dengan ribuan omong kosong. Sion yang perawakannya halus, perangai lembut, dan punya senyum seperti madu terasa bagaikan oasis di tengah gurun tandus yang cuma ditanami beberapa kaktus. Mungkin perumpamaan ini berlebihan mengingat Riku masih punya ketakutan mengenai kemungkinan kalau dia suka laki-laki dan laki-laki tersebut kebetulan adalah Oh Sion, si raja nyaris sempurna yang anehnya dapat membuat Riku sesaat lupa akan rasa takut yang menggenang di hati.

Dan mungkin semesta memang memberinya ruang untuk kembali berpikir karena menghabiskan waktu dengan Sion terasa seperti sisipan pertama segelas teh hangat di sela-sela hujan. Sion seperti sinar matahari yang mengintip malu-malu dari celah dedaunan dan Riku adalah setangkai bunga kecil yang sibuk mengais-ngais kehangatan. Entah mengapa bersama Sion rasanya tepat.

“Lo masih ngekos di Kukusan, gak, sih?” Sion bertanya dan Riku menjawabnya dengan anggukan.

“Bawa motor?”

“Enggak.”

“Mau balik bareng gak?” Penawaran dari Sion menyapa di antara heningnya perpustakaan lantai dua. “Tapi makan di Samtari dulu? Gue denger-denger satenya enak.”

Mungkin kalau yang mengajak adalah Yushi atau temannya yang lain, Riku akan menolak dengan tegas karena dirinya adalah pelanggan tetap Samtari dan sudah lebih dari sepuluh kali dalam satu minggu ia makan di sana saking seringnya. Bosan. Tapi karena sekarang yang mengajak adalah Sion,

Riku mengangguk. “Boleh. Mau sekarang?”

Berdua dengan Sion tidak semenakutkan yang ia kira.


Kadang, di tengah petak kos yang seringnya Riku biarkan tidak tersentuh terang sehingga dirinya menemukan tenang di tengah kegelapan, kalimat yang ibu ucap bertahun-tahun lalu menyisip masuk ke ruang pikiran meski sudah ribuan kali berulang-ulang.

Ibu pernah berkata kalau Riku seperti nakhoda yang belum bisa membaca jarum kompas. Katanya, “hidup kamu cuma berarah pada ombak yang membawa kapalmu pergi, Riku,” dan Riku sepenuhnya setuju pada ucapan yang ibu bilang di sela-sela sisiran lembut jemari di atas kepalanya itu. Namun, apa itu sepenuhnya hal yang buruk? Ibu menjawab, “Enggak juga. Pada akhirnya kamu akan tau kenapa ombak itu membawa kamu ke pelabuhan tempat kamu berlabuh.”

Jika Riku adalah si nakhoda yang tidak bisa membaca jarum kompas, mungkin Sion adalah samudra yang sukarela membiarkannya berlayar tidak tentu arah. Bersama Sion, Riku seperti punya seluruh waktu di dunia buat belajar bagaimana caranya mengendalikan layar sesuai dengan arah mata angin. Dia seperti kembali menjadi Riku yang punya kebebasan setara dengan burung karena Sion tidak pernah menuntutnya untuk jadi berani.

Menghabiskan waktu dengan Sion jadi momen yang paling Riku nanti setiap hari. Riku menemukan suaka dalam samudra bernama Oh Sion dan ia rela menukar apapun yang dipunya jika berarti bisa memiliki waktu dengan Sion selamanya. Sion ada bukan sebagai eskapisme sebab laki-laki itu tidak pernah membuatnya lari dari dunia. Sion tetap membiarkannya punya ketakutan dan Riku tetap dibiarkannya jadi penakut, tapi satu hal pasti yang dia tawarkan; Riku tidak perlu melewati segalanya sendiri.

Pertemuan tidak terencana yang terjadi di perpustakaan lantai dua membuka pintu menuju halaman lain yang tidak Riku sangka ditulis dengan nama Sion di setiap baitnya. Makan sore menuju malam di Samtari jadi awal dari banyaknya agenda makan bersama lain yang mereka lakukan, kadang Sion yang menjemput, kadang Riku yang menghampiri. Riku pernah berpikir kalau tujuh puluh persen hidupnya mungkin dipenuhi pertanyaan yang akan selamanya dia tampung sendirian, tapi pada kenyataan yang tengah ia hadapi sekarang, tidak perlu ada jawaban yang pasti untuk menjelaskan hubungannya dengan Oh Sion sebab tanpa diminta, mereka saling paham kalau langkah ini mengantar pada satu destinasi yang sama.

Pernah suatu ketika kala mereka tengah menghabiskan waktu berdua di kamar kos Sion yang diterangi lampu kekuningan. Ada laptop Riku di pangkuan, memutar film fiksi ilmiah tentang luar angkasa yang sayangnya terabaikan karena Riku lebih memilih fokus pada usapan tangan Sion di kepala, persis seperti yang pernah ibu lakukan bertahun-tahun lalu sekali. Ia sendiri tidak sadar spesifiknya pada keputusan apa dia bisa berakhir di sini, di samping Oh Sion, dengan bahu yang kembali bersisian dalam jarak yang lebih dekat. Kepalanya bersandar pada bahu Sion sedang benaknya melanglang pergi mengarungi ladang pikiran tanpa ujung. Namun, satu hal yang Riku sadari, usapan tangan Sion di rambutnya memastikan kalau dia tidak akan tersesat kali ini.

“Lagi mikir, ya?” Suara Sion menarik Riku kembali pada realita hingga kini ia tidak lagi berada di tengah ilalang tinggi yang menjebaknya supaya tidak pergi.

“Hm,” Riku menyamankan diri dan Sion dengan sigap membetulkan posisi. “Maaf ya jadi gak fokus sama filmnya.”

“Gapapa, nanti gue ceritain alurnya.” Sion yang selalu punya solusi seakan di hadapan matanya ada sepuluh ribu jalan yang bisa ia coba. “Mikirin apa?”

“Mikir mau makan apa nanti.”

Riku tau Sion dapat menebaknya semudah ia membaca cerpen yang ditulis oleh penulis amatiran, tapi dia tidak bilang apa-apa. Mungkin paham kalau kadang Riku memang harus dibiarkan untuk mengurus pikirannya sendiri dan Sion yakin laki-laki itu akan bercerita kalau waktunya tepat. Jadi dia tidak memaksa, hanya kembali meletakkan tangan di kepala dan menyisir helaian rambut Riku yang halusnya seperti kain sutra.

Beberapa menit terlewat dengan laptop jadi satu-satunya benda yang mengeluarkan suara. Sion hampir kembali fokus ke dalam alur film ketika suara Riku tiba-tiba terdengar berbicara. “Gue awalnya takut sama segala hal.”

“Hm?”

“Waktu itu pernah ada yang ngomong kalau gue aneh karena bilang lo cakep. Terus sejak saat itu gue takut buat ngelakuin hal yang lebih.”

“Gue juga pernah dibilang aneh karena lebih milih buat makan sama lo terus dibanding sama yang lain.” Sion menanggapi, Riku tertawa dibuatnya.

“Kenapa orang-orang suka banget bilang orang lain aneh.”

“Karena mereka gak biasa dengan hal itu,” Sion menjawab seakan jawabannya kelewat mudah, atau memang menurutnya semua ini mudah. “dan itu gak apa-apa. Ada juga yang nganggap kita biasa aja, dan itu juga gak apa-apa. Kadang kita gak bisa maksain apa yang kita percaya ke orang lain, Riku.”

“...dan itu gak apa-apa.”

“Hm, gak apa-apa.”

Riku teringat kembali pada percakapannya dengan Yushi beberapa saat lalu ketika Riku akhirnya menceritakan tentang Sion sedari awal sampai akhir. Membuka kotak di kepala yang berisi banyak keraguan yang berserak acak, dia biarkan Yushi lihat semuanya.

Riku, si penakut Riku yang punya porsi ketakutan cukup besar, selalu memikirkan posibilitas yang akan terjadi jika orang-orang tau. Jika orang-orang menyadari kalau dirinya ‘tidak sama’ dengan yang lain, ‘berbeda’ dari yang lain. Bagaimana cara menjelaskan pada mereka kalau yang dia lakukan hanya jatuh cinta, hanya menyayangi dan memberi afeksi pada orang yang ia kasihi. Bagaimana cara membuat mereka mau menerima keberadaan Riku yang seperti anomali, hidup bagaikan ikan air tawar di tengah-tengah lautan berisi air asin—bukan pada tempatnya, tidak bisa bertahan hidup.

Tapi kemudian suara Yushi menyadarkannya kembali, membawa Riku pada kenyataan kalau hidupnya tidak berporos pada pandangan orang-orang. Sebab yang hidup di sini adalah Riku, yang mencintai ada Riku, dan yang merasakan adalah Riku. “Orang-orang tau apa?” Yushi bilang. Yushi, Tokuno Yushi yang selalu berhasil mengalahkan rasa takutnya sendiri. Tokuno Yushi yang terlahir sebagai pembawa keberanian.

Diam-diam Riku mengucap ribuan rasa syukur pada garis takdir yang sudah mengantar Yushi kepadanya.

“Mungkin yang harus dipertanyakan lebih dulu adalah diri sendiri. Apakah lo gapapa? Apakah lo bisa menerima diri lo yang seperti ini?” Pertanyaan Yushi terasa seperti seruan sinyal untuk bangun dari mimpi.

Dan Riku memikirkan kembali Sion. Sion yang senyumnya seperti sinar matahari sore, Sion yang presensinya seperti satu-satunya bintang terang di tengah langit malam yang mendung, Sion yang seperti samudra dan oh, Riku menyadari betapa dirinya rela tenggelam ke dalam samudra jika itu berarti mati kehabisan napas di tengah rasa hangat yang Sion tawarkan dalam sebuah dekap.

Riku menemukan dirinya mengangguk. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan ke belakang, tarikan napasnya tidak lagi disertai rasa takut.


Menatap kembali pada Sion yang tengah belajar merajut di hadapannya, Riku memperhatikan lekukan jemari Sion ketika tangannya bergerak merangkai untaian benang dan mengikatnya menjadi satu. Siang tadi Sion tiba-tiba meminta Riku untuk mengajarkannya merajut dan Riku dengan senang hati membagi ilmu yang diperolehnya dari ibu kepada laki-laki itu. Serat-serat benang berwarna ungu tua terlihat kontras dengan tangan Sion yang putih dan lagi-lagi Riku disadarkan kalau tangan tersebutlah yang beberapa bulan terakhir ini kerap menggenggam dan membawanya berlayar pada arah yang pasti.

“Udah bener kaaaah?” Sion bertanya, alisnya berkerut dan matanya fokus memandangi hasil kerja kerasnya yang tidak memiliki bentuk kecuali sepotong kain mirip persegi yang rajutannya tidak rapi.

Riku menangguk, mengacungi jempol sambil tersenyum lebar. “Benaaaaar.”

“Kok susah banget, ya?”

“Nanti lama-lama juga kebiasa kalau kamu rajin latihannya.” Riku mengalihkan mata ketika kerah baju yang dipakai Sion turun ke bawah, memperlihatkan kalung silver bermata batu kecil berwarna biru tua yang tergantung apik di lehernya. Kalung pemberian Riku.

“Kenapa ya hasil rajutan kamu bagus sedangkan punyaku kayak gini.”

Sion menghela napas sambil mengangkat kain rajut persegi yang Riku buat sebagai contoh di tangan kanan dan rajutan tidak berbentuk yang belum ia selesaikan di tangan kirinya, membandingkan. Riku sontak tertawa karena ekspresi yang dibuat Sion terlalu menggemaskan sampai-sampai ia tidak tahan untuk tidak mengusak rambut laki-laki itu dengan kedua tangan.

“Aku udah belajar ngerajut dari SD, aneeeeh! Kamu baru belajar hari ini.”

“Kamu harus ajarin aku sampai aku bisa ya.” Oh? Perjanjian lainnya, kah?

“Boleh.”

“Aku baru bisanya tiga puluh tahun lagi, by the way.”

Sion dan pemilihan kalimatnya yang kerap membuat Riku kehabisan kata-kata.

Sambil tertawa dan tetap mengusak rambut Sion sampai helaian itu jadi berantakan, “Sampai seratus tahun lagi juga akan tetep aku ajarin,” Riku menambahkan.

Dua kelingking yang bertaut. Janji.

Sampai di detik ini, Riku masih belum pandai menavigasikan hidup. Dirinya masih terus berlayar tidak tentu arah di atas samudra bernama Oh Sion yang selalu menerima keberadaannya dengan senang hati. Dulu sekali, ibu pernah bilang kalau suatu hari nanti ombak akan membawa Riku berlabuh pada pelabuhan yang menjadi destinasi akhir dari pelayarannya yang jauh. Riku selalu percaya pada apa yang diucap ibu, mengamininya dalam harapan jika di waktu yang tepat nanti dirinya akan sampai pada tempat di mana takdirnya dituliskan. Namun kini, dalam ketidakmahirannya membaca kompas, Riku hanya berharap selamanya ia bisa mengarungi samudra dalam pelayaran yang bebas tanpa batas. Sebab mungkin tidak ada pelabuhan yang menunggu untuk Riku datangi, mungkin dalam hidupnya yang terkadang masih suka hilang arah, rumah buatnya pulang cuma lautan.

Sempat ada pertanyaan-pertanyaan tidak masuk akal yang, kalau ia ucapkan dengan lantang, mungkin akan membuat Yushi melayangkan pukulan dengan keras ke kepalanya. Sempat terbesit olehnya jika kodrat untuk jatuh cinta membutuhkan dua oposisi biner yang saling melengkapi; laki-laki dan perempuan, mendominasi dan mengikuti, maskulin dan feminin—pikiran payah yang sumber referensinya dia dapat dari hasil observasi main-main terhadap orang-orang di sekitar. Namun kini, di dunia baru ini, kontradiksi secara perlahan memenuhi isi kepala Riku sebab ternyata untuk jatuh cinta kita tidak perlu memposisikan diri sebagai kubu yang berlawanan. Ternyata melengkapi bisa datang dari banyak sisi.

Dan ternyata, Riku tidak perlu jadi feminin, tidak perlu memaksakan diri untuk suka barang-barang imut, tidak perlu berusaha keras untuk bisa cantik, tidak perlu jadi perempuan—untuk jatuh cinta dengan Oh Sion. Jatuh cinta dengan laki-laki.

Ternyata Riku cukup hanya jadi diri sendiri.

Maeda Riku menemukan hidup di tengah-tengah samudra.

[]

Notes:

find me on Twitter