Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-02-03
Words:
394
Chapters:
1/1
Kudos:
2
Hits:
54

Anything for you!

Summary:

Lumine bertingkah seolah-olah Childe tidak ada dan hal itu membuat Childe menjadi cacing kepanasan. Apa yang akan dia lakukan sekarang?

Notes:

Salam! Tulisan ini dibuat atas dasar komisi. Selamat membaca!

Work Text:

“LUUUUMIIIIINEEEEEE.” Kalau boleh hiperbola, sepertinya suara tersebut bisa didengar dari seluruh gedung kampus. Hampir semua orang langsung menoleh ke sumber suara, kecuali perempuan yang punya nama. Langkahnya masih tegas dan bahkan bertambah lebar. Tergesa-gesa dan hampir bisa disamakan dengan berlari. Di belakangnya, pelaku pemanggil nampak ikut mempercepat langkahnya. Tidak sulit mengingat tinggi yang berbeda di antara keduanya jelas mempengaruhi besarnya langkah yang diambil. Dalam beberapa langkah lebar yang juga tergesa, lelaki berambut oranye itu akhirnya berhasil menyamakan langkah dengan gadis yang kini malah membuang muka.

 

“Lumine, ayolahhh~” Yang laki-laki kali ini memelas. Memasang muka sedih dengan kedua tangan yang ditangkup di depan dada, tengah meminta permohonan ampun atau paling tidak barang sekedar lirikan mata dari perempuan yang masih nampak acuh-tak-acuh.

 

Sementara Lumine sendiri masih enggan bahkan melempar lirik. Pandangannya lurus panjang ke arah dia melangkah, benar-benar tidak mau menganggap laki-laki yang tengah mengejarnya itu benar-benar ada di sampingnya. Malas. Muak. Enggan berurusan lagi apalagi kalau apa yang mau dibicarakan tidaklah penting.

 

“Lumine, ini tentang kakakmu!”

 

Dan langkah lebar Lumine akhirnya tersendat. Melambat dan terkikis sedikit sebelum akhirnya berhenti setelah mengambil beberapa langkah yang lebih jauh guna menjaga jarak.

 

“Apa?”

 

Hanya satu tanya dengan nada acuh dan pandangan tidak bersahabat, tapi satu tanya tersebut berhasil membuat Childe mengulas senyum lebar. Akhirnya! Bersorak dia dalam hati sampai melangkah cepat guna menutup jarak dengan tidak tahu diri. Tipikal.

 

“Ada berita besar yang harus kau sampaikan kepada kakakmu, Lumine.” Senyum Childe kuncup, ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih serius. Lumine yang tadinya skeptis atas apa yang akan diucapkan oleh laki-laki ini akhirnya ikut terbawa suasana. Memangnya ada apa?

 

Saking terhanyutnya, Lumine tidak sadar bahwa jarak di antara mereka sudah semakin menipis. Yang tersisa barang sejengkal. Dari jarak tersebut, Childe lantas membungkuk demi membubuhkan kecup singkat pada dahi Lumine.

 

“Berita besarnya adalah: Kakakmu mempunyai adik yang paling manis dan menggemaskan.” Bisikkan tersebut ditutup dengan kecup singkat lagi. Kali ini mendarat di pipi. Dan begitu Childe menarik diri, bisa dilihat bahwa Lumine kini sudah mematung dengan semburat kemerahan yang mulai mendominasi wajahnya. Benar-benar menggemaskan. Apakah boleh dicium sekali lagi?

 

BUGG!!!

 

Sepertinya tidak boleh, karena Lumine malah melemparkan isi tasnya yang mengenai kepala Childe dengan sempurna.

 

“MENYEBALKANNN, KEMARI!!!” Dan situasi kini berbalik; Lumine yang mengejar dan meneriaki Childe, dan Childe yang dikejar dengan tawa lepas seolah-olah dia begitu menikmati situasinya saat ini.

 

Yah, apapun asalkan gadisnya tidak lagi murung ataupun marah kepadanya.