Work Text:
Katanya, cinta itu menyenangkan.
Katanya, cinta itu membahagiakan.
Membawa seseorang rasakan euforia yang sama sekali tak mampu mereka bendung.
Kata orang, cinta dapat buat dirimu rasakan ribuan kupu-kupu berterbangan dalam diri.
Kata orang, cinta dapat buat dirimu rasakan harum harum mekarnya kuncup bunga.
Pun disimpulkan, cinta bagai bawa dirimu arungi cerah dan sejuk silir angin musim semi.
Muda-mudi selalu menggambarkan cinta dengan begitu positif. Cinta kerap dikaitkan dengan betapa indahnya musim semi— kuncup bunga bermekaran dalam diri, silir angin yang bergerak pelan sebarkan harumnya hingga ujung bumi, pun ditemani hangatnya sinar mentari yang bangkitkan suasana nyaman bagi seluruh insan. Tak ada seorangpun yang ingin tinggalkan musim semi; seluruhnya begitu sempurna, saling melengkapi.
Cinta dan musim semi, sungguh ungkapan yang penuh dengan kegembiraan. Keduanya saling mendatangkan hangat. Keduanya saling mendatangkan nyaman. Keduanya saling mendatangkan aman. Keduanya mampu membuat senyum terukir dalam diri setiap insan. Keduanya pun mampu membuat alunan tawa riang teralun merdu dari belah bibir tiap insan.
Ah, betapa indahnya cinta.
Setidaknya, jika memang realita terkait cinta sama seperti apa yang dikatakan orang. Namun, bukankah setiap kita memahami bahwa semesta tak akan tinggal diam kala saksikan penghuninya berdiri tegap dalam kebahagiaan? Bukankah setiap kita mengerti bahwa sang takdir akan menggerakkan mereka sesuai alurnya; membuat setiap kita merangkak untuk mengais setitik harap bertajuk kebahagiaan?
Mereka, semesta dan takdir, bagaikan hewan buas yang siap memangsa buruannya dengan beringas. Tak akan lengah, demi buruan yang tak akan pernah dilepaskan. Begitu licik, menggiring setiapnya ke dalam jurang tanpa dasar bagai domba kehilangan tuannya. Begitu keji, menyaksikan setiapnya tercekik dalam jerat kuat siksa dan belas kasih.
Karenanya, tak pernah ada yang mempercayai dengan penuh definisi yang berisi dengan konotasi positif dan euforia tak terbendung kala mereka masih berada dalam genggaman semesta. Tak pernah ada yang beri keyakinan penuh pada tajuk indah yang mungkin dipenuhi bual agar si target terbuai kala mereka masih berada dalam dikte sang takdir.
Pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang dipenuhi sisi pesimistis. Berjuta keraguan dan ketakutan tersimpan rapi dalam diri, terlingkup menyeluruh oleh kerapuhan, yang buat mereka tak akan dengan mudah berikan rasa percaya. Mereka akan menerka, membuat praduga, sebelum akhirnya membuat pilihan yang mereka pikir merupakan yang terbaik.
Namun, sekali lagi, seluruh umat masih dan akan terus berada dalam genggam semesta dan dikte sang takdir. Kala keduanya bertitah, seluruh diri manusia akan dengan mudah terkoyak dan mengarah pada kesengsaraan, seberapa lihainya mereka memutar otak ‘tuk selamatkan diri.
Karena itulah yang kini ia rasakan.
Jika ada orang bertanya seberapa marahnya ia pada dirinya sendiri, ia akan dengan lantang menjawab sangat marah. Jika ada orang bertanya seberapa kecewanya ia pada dirinya sendiri, pun dengan lugas ia akan menjawab sangat kecewa. Namun, jika ditanya apakah ia membenci dirinya sendiri, ia akan menjawab dengan sebuah bisik penuh derita;
Tidak. Aku tidak membenci diri; aku membenci semesta dan sang takdir.
Karena dirinya tahu bahwa ia telah mengusahakan semampunya. Karena dirinya paham bahwa ia telah mengerahkan seluruhnya. Akan tetapi, ia tetap terjatuh. Salah siapa gerangan jika bukan pemegang tahta tertinggi dalam kehidupan?
Ia telah sebisa mungkin membatasi dirinya. Ia mendirikan benteng kokoh diantara dirinya, serta pagar berduri yang melingkupi titik terlemah dalam dirinya agar ia tidak mudah diterobos dan digoyahkan oleh permainan semesta dan sang takdir. Kendati demikian, dirinya masih dan tetap saja terjatuh begitu dalamnya ke jurang tanpa dasar bernama cinta yang disiapkan oleh sang pemegang titah.
Ia telah memaksa diri untuk keluar, mencoba melarikan diri sebelum ia terjatuh dan tenggelam sepenuhnya, tetapi tidak pernah membuahkan hasil. Kini, dirinya telah benar-benar ditelan kegelapan dan dijerat kelaraan yang buatnya titikkan tangis darah tiap malamnya.
Kini, ia tak akan mampu melarikan diri. Ia, Semi Eita, telah sepenuhnya terjerat dalam lubang hitam karena munculnya setitik rasa yang begitu awam dalam dirinya.
Dan ia begitu membencinya.
Sebab kini harinya tak lagi diisi oleh sesuatu yang monoton. Namun, bukan juga harinya dihiasi oleh sesuatu yang dinamis tetapi membahagiakan. Harinya kini dipenuhi dengan lara dan duka, serta ratapan tangis darah yang tak mampu seorang pun lihat.
Ini semua sebab ia menumbuhkan setitik cinta dalam hatinya,
… dan Semi Eita begitu menyesali kebodohan yang ia lakukan karena terbawa dalam alur sang takdir.
Jika mereka berkata bahwa musim semi merupakan konotasi dari cinta, lalu mengapa hanya dirinya yang tidak merasa demikian? Mengapa ia tak pernah sekalipun rasakan euforia tak terbendung melingkupi dirinya? Mengapa ia tak pernah rasakan kupu-kupu yang hiasi diri? Mengapa ia tak sekalipun mampu cium harumnya semerbak bunga yang diterbangkan oleh silir angin?
Mengapa cintanya tidak begitu?
Semi Eita tersenyum. Ia pun sudah tahu jawabnya. Semesta dan takdir hanya ingin permainkan dirinya. Ia hanyalah seonggok boneka yang digunakan ‘tuk lepaskan penat. Sangat menyenangkan pasti melihatnya bergerak tertatih ‘tuk selamatkan dirinya dari jerat lara dalam setitik cinta yang ia rasakan pada insan ciptaan-Nya.
Kembali, Semi Eita tersenyum, hanya saja dalam kegetiran yang begitu tipis. Ia pun sesungguhnya telah mengerti bahwa ia tak akan sanggup lepaskan diri. Cintanya hanya tampak bagaikan titik di luar dirinya, tetapi sesungguhnya cinta itu begitu tak terbendung luasnya. Begitu luas dan lapang, sanggup menerima apapun, termasuk terima realita bahwa cinta itu tak akan pernah terbalas.
Sebab seorang yang menjadi pusat dari curahan cintanya telah mencintai orang lain.
Bukan dirinya.
Meski begitu, Semi Eita tetap mencintai Suna Rintarou dengan sepenuhnya. Ia tetap mencurahkan cintanya dengan setulusnya. Sebab hanya itulah yang mampu dirinya lakukan.
Dan kini, merupakan salah satunya. Ketika sang terkasih dengan wajah riang pintanya ‘tuk temani pergi mencari hadiah yang akan diberikan kepada pujaan hati, kepada seorang yang mendapat curahan kasih dari orang yang Semi cintai, ia pun tidak menolak.
Biarkan hatinya menangis darah kala ia sendiri nanti. Satu yang penting kini ia bisa bebas habiskan waktu berdua dengan sang terkasih.
“Semi, menurut kamu ini gimana?” tanya sang terkasih padanya. Wajah yang biasanya datar dan tampak tak peduli pada apapun itu kini tersenyum dan pancarkan kelembutan yang sangat. Ah, mungkin begini rasanya menjadi pusat pikiran seorang Suna Rintarou.
Semi mengangguk. “Bagus.” Jawabnya kemudian. Sesungguhnya, ia tidak terlalu peduli dengan apapun yang kini berada dalam radar Suna. Seluruh panca inderanya hanya mampu tangkap setiap gerik Suna, sekecil apapun, Semi tak ingin lewatkan. Karena hanya pada masa inilah ia mampu berangan akan bagaimana menjadi pusat perhatian seorang Suna Rintarou.
“Kalau yang ini, Sem?” tanya Suna lagi, kini sambil menatapnya tepat di netra. Ah, betapa indahnya. Begitu memabukkan. Semi sama sekali tak ingin alihkan pandangnya. Ia ingin menatap iris itu lamat-lamat. Ia ingin hentikan waktu keduanya. Sekarang. Saat ini. “Bagus juga, Sun.”
Pupil Semi mampu tangkap sudut bibir Suna yang terangkat lebih tinggi. Gendang telinganya sanggup dengar bisik dan senandung kecil yang dikeluarkan oleh pemuda di sampingnya. Begitu hangat, terasa nyaman, seperti rumah.
Semi mendengus pelan. Betul, seperti rumah. Namun, yang tak dapat ia miliki.
Kendati demikian, Semi Eita terus mencurahkan cintanya pada Suna Rintarou. Meski begitu sakit, meski dirinya telah hancur berkeping, ia tetap tak mampu berhenti. Bagai jurang perangkap yang disediakan semesta, cintanya pada Suna Rintarou pun sama tanpa dasar.
Karenanya, ketika malam itu maniknya tak sengaja potret dua insan yang berdiri berhadapan, dengan salah satunya yang membuka lebar kedua tangan bagai sambut insan di hadapannya, Semi Eita merasa bahwa satu-satunya kepingan dirinya yang utuh telah luluh lantak diterpa dahsyatnya badai topan.
Malam itu, seluruh diri Semi Eita dipaksa semesta untuk bersimpuh dalam ketidakberdayaan kala dihadapkan pada realita pahit yang tak pernah ia bayangkan sebab begitu benci dirinya.
Jika memang kami berdua sama-sama insan yang merangkak di atas belas kasih semesta, lalu mengapa hanya aku yang dipaksa bersimpuh di atas kerapuhanku?
Dalam diri, ia terus panjatkan harap agar sekali saja, hanya sekali, Suna Rintarou dapat melihat ke arahnya. Namun, dengan jahatnya, sesekali ia berani panjatkan doa agar akhirnya Suna Rintarou dapat menerima cintanya.
Karena Semi Eita yakin bahwa dirinya mampu berikan cinta yang sama dan bahkan lebih dari cinta yang orang lain berikan pada Suna Rintarou.
Namun, ketika paginya Suna mendatangi dirinya dengan senyum secerah matahari dan berkata;
“Aku berhasil menjalin hubungan dengan Osamu.”
… Semi Eita rasakan keraguan hebat dalam dirinya. Ia memang ingin dilihat oleh Suna Rintarou, pun dirinya begitu berharap bahwa perasaan sang terkasih tiba-tiba saja berubah dan berbalik mencintainya. Namun, Semi Eita bukanlah manusia yang sejahat itu.
Sebab cintanya yang seluas samudra tak akan pernah membiarkan egonya mengambil alih yang bisa akibatkan lunturnya senyum cerah sehangat mentari yang dimiliki sang terkasih. Cintanya bukanlah sesuatu yang jahat. Cintanya ialah rasa yang dipenuhi dengan kehangatan dan kenyamanan yang sengaja ia siapkan bagi sang pemilik. Karenanya, Semi mampu membalas;
“Selamat! Setelah sekian lama, akhirnya jadi juga kalian berdua.”
Dengan diiringi senyum dusta guna tutupi hati yang terluka, Semi mampu balaskan kata yang sebetulnya sama sekali tak ingin ia ucapkan. Namun, apa daya yang ia punya? Seluruh raga hingga jiwanya telah terpaku hanya pada anak adam dihadapnya. Ah, sungguh, setitik cinta yang ia tanam telah berkembang hingga begitu jauh dan hebatnya, hingga dirinya pun tak mampu terka lagi.
Sebab cintanya begitu luas. Namun, mengapa terarah pada orang yang salah?
Diliput dalam kelam malam, tanpa satu mata pun mampu tangkap siluetnya, Semi Eita sekali lagi… sekali lagi, jatuh bersimpuh di atas kedua lututnya yang rapuh. Kedua matanya terpejam erat, sedang ia menengadah menatap bulan yang bersinar dengan lantang di atas kelam malam. Tenang bagai air dalam, seluruh jiwanya yang terkoyak tengah mengaum memohon ampun dan belas kasih sang semesta dan takdir.
Apakah selama ini aku salah karena memilih untuk jatuh cinta?
Mungkin benar, mungkin juga tidak. Lagipula, siapa yang mampu prediksikan kepada siapa mereka akan terjatuh?
Apakah aku memang tak ditakdirkan untuk jatuh cinta?
Tidak. Setiap penghuni bumi layak dan dttakdirkan untuk merasakan cinta.
Apakah aku sebetulnya tidak layak menerima cinta?
Tidak. Setiap insan sungguh memiliki kelayakan untuk menerima cinta. Begitupun dirinya.
Lalu, mengapa? Mengapa aku terkoyak bagai tak ditakdirkan untuk jatuh cinta?
Jika aku memang salah satu insan, sama seperti mereka, lalu mengapa aku bagai tak layak untuk menerima cinta?
Jika memang seluruh umat manusia layak dan ditakdirkan, lalu mengapa? Mengapa cintaku sebegitu menyesakkan dada?
Jika memang tak ada yang salah pada rasa maupun cintaku, lalu mengapa? Mengapa aku menjadi sebegitu rapuh dan tak berdaya dihadapannya?
Seluruh tanya terukir dalam benak, namun, hanya satu jawab tersedia;
Karena memang tak seluruhnya indah. Semesta tak pernah berbelas kasih. Meski banyak insan panjatkan harap akan musim semi, tak sebegitu mudahnya ‘tuk terkabul.
Karena tak seluruh cinta datangkan sinar hangat mentari pun silir sejuk musim semi. Adapula cinta yang datangkan badai topan, siap sergap ‘tuk luluh lantakkan sang penabur.
Kendatipun mengerti, sudut kecil dalam dirinya meraung hebat dalam kedukaan.
Jika cinta selalu dielukan mendatangkan kebahagiaan, lalu mengapa cinta yang Semi Eita rasakan pada Suna Rintarou justru datangkan malapetaka baginya?
