Chapter Text
Kembali, pintu itu tertutup, seolah tak pernah terjadi apapun.
Ia tersenyum ... dalam getir.
Tertutupnya pintu itu bagaikan pertanda bagi dirinya. Pertanda bahwa ia terpisahkan. Pertanda bahwa ia segala yang ada dalam ruang ini, akan tetap tinggal. Pertanda bahwa ia sendiri.
Pertanda bahwa ... ia tak perlu lagi menahan segalanya.
Ia tidak akan menangis ... karena sejak kecil, ia tak pernah diajarkan untuk menangis.
Setidaknya, tidak sebagai seorang laki-laki.
Hanya saja, dirinya hanyalah seorang manusia biasa.
Keheningan yang mendominasi membuat kepalanya pening. Tak mampu berdiri, ia jatuhkan dirinya pada ranjang kecil yang selalu jadi tempat pelarian tiap malamnya.
“Lagi-lagi, gue nggak dianggep.” Desisnya pelan.
Ia memutar tubuhnya hingga telentang sempurna di atas ranjang. Sinar rembulan yang menembus melalui celah jendela menjadi satu-satunya penerangan dalam sepetak ruang itu.
“Apa karena gue baru di sini; apa karena gue cuma orang luar, makanya gue diperlakukan beda juga?”
Ia tertawa geli mendengar perkataannya sendiri. Dibawa tubuhnya terduduk menghadap sang rembulan yang memancarkan sinarnya dengan gagah. Tersenyum pada sang bulan, ia bergumam pelan.
“Nggak. Sejak awal, gue memang cuma dianggap sebagai pelengkap, yang bahkan kalau nggak ada nggak akan berpengaruh apa-apa. Betul, ‘kan?”
Pemuda itu sudah tahu jawabnya, tetapi ia hanya selalu berusaha menyangkalnya.
Ia tahu. Sejak injakkan kakinya di kediaman ini, ia tahu.
Mereka hanya butuh satu Miya,
dan sejak dulu, itu bukanlah dirinya.
-
Menatap getir pada cermin di hadapannya, jemarinya menyapu pelan pada bayang yang terpampang nyata di netranya.
Ia masih tak percaya akan apa yang terjadi. Bukan. Ia masih menolak percaya bahwa hal ini mungkin terjadi padanya.
Namun, ini telah terjadi padanya. Sejak beberapa hari lalu, ia telah, seakan, menjadi dirinya.
Lalu, apa yang harus ia lakukan?
... dengan segala perubahan ini; seluruh perbedaan ini; apa yang bisa ia perbuat?
“Kenapa– kenapa lo nggak pernah bilang selama ini?”
Karena apa yang didapatkan, perlakuan pada sang pemilik tubuh ini, berbeda dari apa yang selalu dirinya miliki.
Namun, mengapa ia tak pernah mengeluh, atau sekadar bercerita, sedikitpun tak pernah?
“Gue harus apa ...? Lo maunya gue gimana?”
Jika begini keadaannya, jika sejak awal begini yang selalu pemilik tubuh ini dapatkan, ia memilih agar jiwa sang pemilik tubuh masuk ke dalam raganya, menggantikannya, membiarkannya mendapatkan apa yang seharusnya memang layak baginya.
“Kalau kayak gini ... kenapa nggak lo aja yang masuk ke tubuh gue dan gantiin gue hidup? Kenapa bukan lo aja yang bertahan ..., Osamu?”
Karena keduanya bak pinang dibelah dua,
Dan itu yang selalu buatnya tersiksa.
-
Dalam sepetak ruang 4×4m, ia terduduk diliput keheningan. Raut wajahnya pilu. Kedua tangannya serasa membeku; sama dinginnya dengan tangan yang berada dalam genggamnya.
Tak ada pergerakan. Hangat yang kerap terpancar kini hilang bagai ditelan badai salju... dan tak satupun dapat ia lakukan.
Demi Tuhan. Dirinya tak bisa pikirkan apapun. Otaknya kosong, pun sinar dalam netranya. Hanya satu yang ia inginkan; pemuda yang terbaring lemah di atas ranjang kecil bernuansa putih ini segera dapatkan kembali sinarnya.
Namun, tak ada satupun yang dapat menjamin pemuda itu akan kembali.
Tak satupun. Terutama dirinya.
Karenanya, yang mampu ia lakukan hanyalah terus berada di sisinya; mendukungnya dengan segenap harap yang terselip dalam tiap doa.
Ia berani bersumpah ini bukanlah yang ia pinta.
“Kalau lo nggak pernah bahagia di sini, kenapa lo nggak pernah bilang?”
Lagipula, siapa dirinya hingga sanggup tolak ajakan sang insan yang diturunkan langit padanya bak malaikat?
