Actions

Work Header

Will You Carry Me?

Summary:

VeruRimu semi-canon. Plot setelah anime season 2 berakhir. Ngambil sedikit backstory dari Tensura Nikki.

Cerita singkat Veldora yang pernah iri melihat Rimuru menggendong Milim sedangkan dirinya cuma bisa melihat dari balik layar. Apa setelah bebas akhirnya ia bisa minta gendong Rimuru?

Notes:

©2025 - Author/Creator: Kai_Haruka
Disclaimer : Cuma fanwork dari Kai_Haruka. Semua karakter punya Fuse.

Work Text:

Sepulang dari pertemuan para raja iblis yang dinamai Octagram oleh Rimuru, tidak diadakan acara pesta bersama seperti biasa. Hal ini dikarenakan banyak hal yang harus dilakukan. Namun rakyat tetap menyambut kedatangan mereka dengan gembira dan penuh semangat. 

"Ada jadwal apa hari ini?" Rimuru menyerahkan papan kayu berisi dokumen pada Shion yang berdiri di samping. Mendengarkan satu persatu kalimat yang diucapkan oni berambut ungu tersebut, "baiklah. Ayo kita mulaaai~" ia melompat dari kursi dan berubah menjadi wujud manusia.

"Hmm?" Rimuru menoleh ke belakang. Menatap seseorang yang berdiri saat ia baru saja akan melewati bingkai pintu, "ada apa Veldora? Toilet, kah?" Alisnya mengerut melihat sosok yang jauh lebih tinggi darinya itu melirik sana sini dengan gelisah.

Kali ini apa lagi? Rimuru menghela napas panjang. Mempersiapkan diri dengan ocehan panjang tidak masuk akal milik sang naga badai.

Veldora berdehem, mencoba menghilangkan rasa gugup, "aku akan ikut denganmu hari ini, Rimuru-yo! Dan berhenti memasang wajah seolah aku ini merepotkanmu. Kita bahkan belum keluar dari ruangan ini!?"

Melihat mata Veldora berkaca-kaca, Rimuru mengacak pelan rambutnya sendiri, "baiklah. Kau boleh ikut. Tapi dilarang membuat kekacauan, oke?" Ajakannya dibalas dengan anggukan antusias sang naga.

Bola mata emas Rimuru melirik meja tempat meletakkan koleksi manga Veldora. Tidak biasanya dia mengabaikan tumpukan manga yang belum dibaca. Apalagi alasannya hanya untuk mengikuti Rimuru berkeliling kota? Pasti ada yang disembunyikan naga itu. Ya sudahlah. Nanti juga tau sendiri.

 

Ketiganya berkeliling kota. Meninjau pembangunan jalan yang dipimpin Geld, berdiskusi tentang kelanjutan penelitian Gabiru dan Vesta, bahkan melihat perkembangan kebun. Rimuru mengangguk-angguk senang melihat tomat-tomat berwarna merah segar yang menggantung di pohonnya. Ia melirik saat mendengar, "hmmm" panjang milik Veldora. Naga badai itu berjongkok di depan salah satu pohon tomat. Memperhatikan pantulan dirinya di kulit buah tersebut.

Matahari hampir terbenam saat mereka pulang ke ibukota. Rimuru melirik Veldora yang berjalan di samping Shion untuk yang kesekian kalinya. Serius, ada apa sih? Apa alasan laki-laki itu ikut dengan mereka hari ini? Kepala dipenuhi ribuan tanda tanya sampai akhirnya berkata, "Shion, kau bisa pulang duluan."

Shion memasang ekspresi terkejut. Menatap heran Rimuru yang ada di tangan. Apa dia sudah berbuat kesalahan hari ini? Rasanya tidak, "tapi, Rimuru-sama-"

Rimuru melompat ke tanah. Tersenyum lebar. Meyakinkan Shion kalau tidak ada hal buruk yang terjadi, "aku ingin bicara berdua dengan Veldora saja."

Senyum Shion ikut mengembang, "baiklah Rimuru-sama. Kalau begitu saya permisi."

Sepeninggal Shion, Rimuru berbalik dan berubah menjadi manusia. Tangan kiri di pinggang, "jadi ..., apa yang terjadi di sini sebenarnya, Veldora-kun?"

"Bu- bukan apa-apa," Veldora meletakkan kedua tangan di kepala. Mulutnya mulai bersiul, "a- aaa, sudah hampir malam. Bukankah sebaiknya kita pulan- aaagh!?" baru berjalan selangkah, ia langsung berhenti saat merasa tercekik akibat jubahnya ditarik dari belakang.

"Apa yang kau lakukan?!"

Rimuru menarik jubah di bagian leher Veldora. Mendekatkan wajah mereka. Iris emasnya mendelik tajam, "katakan atau tidak ada makan malam untukmu."

Veldora menutup wajah dengan kedua lengan. Enggan menatap seseorang dengan aura intimidasi pekat yang berdiri di depannya, "a- aku juga ingin digendong Rimuru."

"Gendong?" kening Rimuru mengerut, "tubuhmu bahkan jauh lebih besar dariku?"

Keduanya diam dan saling memperhatikan. Angin senja berhembus lewat. Benar juga. Walau sudah bertambah tinggi, Rimuru tetap saja lebih kecil dari Veldora.

Tapi rasa kesalnya tidak hilang, "jangan bohong. Aku tau kau bisa memakai wujud yang lebih dewasa dari itu!" Veldora berteriak kencang. Beberapa ekor burung sampai terbang menjauhi mereka.

Lagi-lagi helaan napas Rimuru terdengar. Lelah juga menghabiskan waktu mengkhawatirkan Veldora ternyata dia hanya ingin digendong.

"Waktu aku masih di dalam dirimu, aku lihat kau menggendong Milim. Padahal itu harusnya tempatku!"

Oalah. Ternyata dia hanya iri pada keponakannya sendiri.

Kedua mata Rimuru terpejam. Aliran mana terlihat menutupi seluruh tubuh. Hanya butuh dua detik untuk berubah menjadi wujud yang dimaksud si sahabat.

Rimuru memperhatikan tubuhnya, kemudian menatap Veldora yang berdiri di depan dengan mata berbinar. Walaupun sudah berubah tetap saja dia tidak sebanding dengan tubuh berotot sang naga. Kenapa tubuh mereka beda bentuk padahal memakai inti yang sama?

[Lapor. Bentuk tubuh dipengaruhi oleh wujud asli monster.]

Heeeh, ternyata ada diskriminasi ras di sini.

"Baiklah, kau mau digendong seperti Milim waktu itu, kan?" Rimuru membelakangi Veldora dan menekuk lutut sedikit, "ayo naik."

Veldora menatap punggung Rimuru. Jauh lebih mungil darinya. Kalau dia naik, apa tulang-tulang itu akan patah? Tapi dia slime, jadi pasti tidak apa, kan ya? Tanpa pikir panjang Veldora langsung naik ke punggung sahabat.

"Ghahahaha- bukankah ini mengharukan? Persahabatan yang panas dan membara seperti inilah yang aku impikan!"

"Ugh," Rimuru menggerutu dalam hati. Persahabatan apanya kalau hanya dia yang menderita di sini.

Selangkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Kemudian dia ambruk terkapar di jalan, "mu- mustahil," gumamnya.

"Hmm, sudah kuduga memang mustahil," Veldora mengelus dagunya. Mata terpejam, memasang tampang berpikir.

"Kalau tau begini jadinya dari awal jangan buat permintaan yang aneh-aneh! Dan kau berat! Menyingkir dari sana!" Emosi Rimuru memuncak juga.

"Huuff-" Rimuru menepuk-nepuk bajunya untuk menghilangkan debu, "eh? Woaaah?" Entah kenapa kini dia sudah duduk di pundak Veldora.

"Bagaimana kalau aku yang menggendongmu, Rimuru-yo! Apa kau sudah merasakan hangatnya persahabatan kita sekarang? Ghaaahahahahaha~" Veldora tertawa sambil mulai berjalan.

"Umm," Rimuru menyipitkan kedua mata, "memang aku anak-anak?"

"Apa? Kau tidak puas? Bagaimana dengan ini?" Veldora memindahkan Rimuru ke depan. Mendudukkan jelmaan slime itu di tangan kanannya.

Rimuru menghela napas. Membiarkan sosok yang berbagi jiwa dengannya itu melakukan sesuka hati saja. Hari ini cukup melelahkan dengan semua kegiatan. Keberadaan Veldora membuatnya lebih letih berkali lipat.

"Sudah kuduga ternyata memang aku yang cocok menggendongmu, Rimuru! Ghaaahahaha~"

Ya. Ya. Terserah kau saja.

"Rimuru, setelah kuperhatikan ternyata wajahmu manis juga!"

"????" Wajah Veldora yang sangat dekat membuatnya menelan ludah, "ke- kenapa tiba-tiba?"

Veldora mengendus rambut biru cerah sosok di gendongannya, "kau juga wangi. Padahal kau selalu mandi dalam wujud slime, kan?" Tangan kirinya terangkat dan mencubit pelan pipi Rimuru, "kulitmu lembut seperti sutra yang ditenun gadis oni itu.

"Eeeh??" Kali ini apa lagi? Kini Rimuru digendong di depan seperti seorang putri. Wajahnya sudah merah seperti tomat di kebun tadi melihat iris emas Veldora menatapnya lekat.

Kumohon hentikan, Veldora-kun. Jantungku rasanya tidak kuat. Apa dia makan jamur beracun di hutan kemarin saat berburu bersama Souei makanya jadi begini?

[Lapor. Tidak ada indikasi racun di dalam tubuhnya.]

"A- ano ne, Veldora-"

"Kalau dunia ini genrenya shounen, apa aku akan menjadi tokoh utama dan kau heroinenya?" senyum lebar Veldora mengembang. Memamerkan deretan giginya.

Urat marah Rimuru memenuhi pelipis. Ia menarik kedua pipi Veldora sepanjang mungkin, "apa maksudmu dengan heroine? Jelas-jelas aku tokoh utamanya di sini! Kau bahkan tidak bekerja! Hanya tiduran sepanjang hari dan membaca manga!"

"Haaah? Aku membaca manga karena kau selalu bilang untuk tidak melakukan apa-apa! Aku juga ingin bertarung di garis depan bersamamu!" teriakan Veldora membuat Rimuru menutup telinga.

Hening. Keduanya saling tatap dalam diam.

"Yah, tapi-" Rimuru memejamkan mata. Menikmati angin malam yang berhembus, "untuk mencapai titik ini, semua karena dirimu. Aku bersyukur bertemu denganmu, Veldora."

Ucapan tulus Rimuru membuat wajah Veldora merona. Bukan hanya Rimuru. Dirinya juga sangat bersyukur bertemu dengan si slime di dalam gua itu. Walaupun dia akan bereinkarnasi lagi suatu saat nanti setelah kematiannya, tapi dia tidak akan bisa mendapatkan kesempatan menjalani hidup yang menyenangkan bersama Rimuru saat ini.

Lampu jalan menuju gerbang ibukota menyala satu persatu.

"Ri- Rimuru, aku-"

"Hmm? Heh?!" Rimuru terkejut mendapati wajah Veldora yang sangat dekat dengannya, "Ve- Veldora-kun?"

"Se- sekali ini saja. Apa tidak boleh?"

Wajah memelas Veldora membuat Rimuru memejamkan mata erat. Dia memang lemah terhadap permintaan teman-temannya. Apalagi seorang Veldora, "baiklah, baiklah. Sekali ini saja oke?!"

Cahaya imajiner menghiasi wajah bahagia sang naga badai.

Souka menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangan. Souei menatap lekat pemandangan tuannya sedang berciuman dengan sang naga badai. Tangan kanannya menghancurkan batu yang digenggam sedari tadi. Membuat Souka terkejut dan mundur beberapa langkah.

Keduanya sedang mengintai keamanan Tempest, kemudian tidak sengaja mendengar suara Rimuru dan Souka mengajaknya untuk mendekat. Ternyata keputusan itu hal yang salah.

"Su- sudah cukup!" Rimuru mendorong dada Veldora untuk menjauh. Dia sudah puluhan tahun jadi perjaka dan tidak pernah pacaran dengan siapapun. Walaupun bukan ciuman pertama -karena yang pertama sudah direbut oleh roh suci(?)- tetap saja dirinya merasa malu.

Bagaimana tidak? Dia baru saja berciuman dengan laki-laki??

Uuugghhh....

Karena terlalu malu, Rimuru berubah wujud menjadi slime. Untuk menyembunyikan wajah merahnya. Tidak terlalu berguna sebenarnya, melihat beberapa asap kecil mengepul dari kepala.

Veldora memeluk erat Rimuru berwujud slime di dada. Membuat Rimuru semakin malu saat mendengar detak jantungnya yang tidak beraturan, "o- oooh. Ayo kita pulang! Semua pasti sudah menunggu!"

Apa yang sebenarnya kami lakukan barusan?

Kraaakk.

Rimuru dan Veldora terkejut mendengar suara dahan pohon patah. Keduanya langsung menoleh ke samping. Dahan yang retak tadi jatuh tepat di samping mereka. Namun tidak ada siapapun di sana.

"So- Souei-sama ...," Souka menatap heran Souei yang entah kenapa kehilangan ketenangan malam ini, "huh?" ia tertawa canggung saat melihat ada orang lain selain mereka yang melihat kejadian barusan.

Pertemuan besok sepertinya akan berjalan sedikit tidak lancar.

 

- Epilog -

"Baiklah. Kita tinjau kembali para kesatria gereja barat yang sedang menuju kemari," Rimuru membuka rapat pagi itu dengan semangat.

"Ya, Gobta-kun!" Rimuru menunjuk Gobta yang mengangkat tangan. Tidak biasa anak itu aktif dalam rapat. Biasanya dia hanya tidur sampai semua pembahasan kelar.

Gobta menurunkan tangan. Menatap Rimuru serius dengan kedua siku di atas meja dan mulut yang ditutupi jari-jari. Sikapnya membuat Rimuru mengerutkan kening.

"Rimuru-sama, apakah anda tidak berniat membahas kejadian semalam bersama Veldora-sam-" belum sempat menyelesaikan kalimat, dia sudah dilempar oleh sebuah manga yang tebal dan beberapa papan dokumen bersamaan. Benda-benda tersebut tepat mengenai kepalanya. Jadilah dia terjatuh dari kursi. 

Semua yang ada di ruang rapat terdiam. Tidak ada yang berani bergerak. Bergantian melirik Rimuru yang entah sejak kapan berubah jadi manusia, Veldora yang wajahnya merona, dan Gobta yang terbaring pingsan mengenaskan di lantai. Apa yang terjadi di antara mereka? Semua sibuk bertanya-tanya dalam kepala, kecuali Souei.

Veldora berdiri dan berjalan menuju sosok Gobta yang masih terkapar. Dia menyeret sosok malang itu keluar dari ruangan dengan satu tangan. Pintu ditutup dengan keras. Awas saja kalau bocah itu sudah bangun. Sang naga bersiap dengan hiburan 'menyenangkan' yang akan membuatnya menutup mulut tentang kejadian tadi malam seumur hidup.

Rimuru mendehem. Menyadarkan kembali semua orang, "baiklah kita lanjutkan pembahasan."

Tidak ada yang tau kejadian malam itu sampai kapanpun kecuali Souei dan Souka yang sedang mengintai keamanan.

Dan Gobta yang kebetulan sedang diberikan tugas oleh Rigur untuk melihat alat penangkal sihir mereka di sekitar jalan menuju ibukota.

- FIN -

 

Sesi curhat

Awalnya nyari bacaan ff tensura di ao3 yang bahasa indo. Ternyata gak ada?! Satu pun? Genre apapun?? Padahal kai pikir fandom ini cukup banyak peminatnya berhubung banyak ikemen ama cewek cantik. Ya udahlah. Biar kai baca yang english aja. Biar kai yang mengisi kekosongan ini ff bahasa indo ini :'(

Gak sabar nunggu season empat yaaa. Gak sabar liat keimutan rimuru, milim mabudachi, ama tsundere veldora lagi ✨

Ngomong-ngomong, terima kasih udah baca sampai sini yaa~