Work Text:
Kata Bunda, setiap orang harus menjadi suluh. Menerangi kala gelap dan menari bersamaan angin yang berembus. Selama bernapas setiap manusia harus bermanfaat dan tegar menghadapi cobaan.
Contoh di sekitarku banyak. Ayah dan Bunda sangat baik dan penyayang, tipikal orang tua yang mengayomi keluarga. Kak Makoto yang sukses dengan berbagai kejuaraan renangnya. Malah sekarang dia menjadi sandaran bagi banyak orang. Kak Haru, Kak Rin, dan yang lain dengan segudang prestasi. Hanya aku dan Ren yang kurang mencolok. Apa aku adalah suluh itu sendiri?
Aku pun bingung. Kami dilahirkan kembar tetapi kurang bisa berguna di umur yang belasan ini.
Buĺan Februari memang lebih hangat tetapi terkadang ada alarm palsu musim dingin yang kembali menggigit walau sedikit. Dengan langkah pelan gadis berambut zaitun membawa barang belanjanya. Ia baru saja dari swalayan membeli beberapa bahan makanan.
Sesampai di rumah, Ren menyambutnya dengan apron bermotif kucing warna merah jambu. Wajahnya memberengut karena merasa latar feminin tidak cocok untuk dirinya. Kakak kembarnya hanya terkikik dan melewati adik lelakinya. Akhirnya mereka menuju dapur untuk menjalankan misi mereka.
Saat di dapur, Ran mengambil ponsel Bunda yang sengaja ditinggal untuk mencari sesuatu di YouTube. Sementara itu, Ren hanya mengamati hingga si gadis mendapatkan video yang cocok. Setelah mendapat video yang sesuai, Ran memulai mengocok susu, krim, dan yolk telur dalam wadah. Ren masih melihat-lihat karena tugas memasak begitu rumit menurutnya.
Setelah adonan tercampur, Ran mulai memasak mereka sambil terus mengaduk. Di bagian ini ia baru berani menyuruh adiknya untuk mengambil termometer. Suhu masakannya kini telah mencapai 70-an derajat. Saatnya kompor dimatikan untuk menunggu dingin.
Ran mengusap peluh yang jatuh sambil membenahi celemek kuningnya. Tidak ia sangka pekerjaan dapur begitu melelahkan jika dikerjakan seorang diri. Di belakangnya, Ren masih mengamati heran dan masih membisu, menunggu intruksi kembarannya berikutnya.
Setelah berjam-jam membuat resep, beberapa mangkuk kue telah jadi setelah disimpan dalam kulkas selama semalam. Ren yang membuka pertama kali begitu girang karena tampilannya yang lezat. Tangan kecilnya iseng hendak mengambil satu tetapi segera ditepis.
"Jangan diambil!" Dengan kesal bocah itu menoleh ke sumber suara di belakangnya. "Kenapa? Aku kan bantu kemarin," bantah Ren. Ran menggeleng, "aku yang beli bahan dan membuatnya dari awal hingga akhir. Bantuanmu tidak signifikan."
Merasa tersudut, bocah 13 tahun itu tidak terima. "Tetap saja aku juga bisa mendapat bagian. Aku mau satu." Gadis yang lebih tua setengah jam itu semakin marah ketika mendengar pembelaan adiknya. "Gak boleh. Enak saja," dengus Ran.
"Memangnya ini untuk apa, sih?" tanya Ren kesal. "Rahasia. Jangan ambil pokoknya." Gadis itu berkacak pinggang lalu melengang pergi. Untungnya mereka harus pergi ke sekolah sehingga pertengkaran harus diakhiri.
Ran memang gadis yang keras kepala. Karena ia anak tengah, dirinya merasa paling superior di antara dua pria seperti kami. Belum lagi Kak Makoto harus berkuliah di Tokyo dan meninggalkan rumah. Sekarang ia suka mengatur-atur banyak hal.
Gara-gara kue yang dibuat kemarin mood-ku menjadi berantakan. Sekarang ia malah membawa empat gelas kue. Ketika jam istirahat tiba, gebrakan anak ini di luar akalku yang lamban.
"Misaki, Kaoru, ini ada kue untuk kalian."
Lihatlah, gadis keras kepala ini bahkan menghampiri kolam renang yang dingin untuk memberikan kue yang kubantu bikin kemarin. Aku ingin marah tetapi terlalu malu jika Ran membalas. Harga diri pria harus dijaga agar sopan dan disegani seperti Ayah dan Kak Makoto.
Dua bocah itu adalah murid les renang Kak Makoto. Mereka lumayan baik tetapi kenapa mereka menerima saja gelas kue itu.
"Makasih, Ran-chan. Kelihatannya lezat. Namanya apa ya kue ini?" Misaki seperti biasa sangat bersemangat. Kali ini ia terlihat tebar pesona di depan Ran. Apaan itu sufiks chan seperti dekat saja.
Aku mendengus, "red velvet poute de cream." Jawabanku yang tiba-tiba mengagetkan tiga orang yang sibuk dengan dunia mereka.
"Wah, Bahasa Inggris Ren bagus sekali." Kaoru memuji ejaan resepku yang sempurna. Aku kan memang hebat dari dulu soal bahasa. Tetapi tunggu, ia sama saja seperti Misaki.
"Iya dong. Tanganmu lepasin. Aku laporkan ke Kak Makoto kalau sembarang sentuh-sentuh Ran." Ancamku ternyata membuat nyali lelaki berambut biru itu ciut. Dengan segera ia menjauhkan tangannya dari kembaranku dan meminta maaf.
Ran berdecik kesal, tidak berubah. "Jangan merusak suasana dong." Ucapannya tidak perlu dimasukkan hati, tidak penting.
Sayangnya, setelah itu ada satu lagi pengganggu. "Hayato, sini! Ada kue untukmu." Adik Kak Kisumi itu pun datang dan menerima pemberian Ran dengan malu-malu. Mereka pun makan bersama dan meninggalkanku sendirian dalam obrolan mereka.
"Ren, ayo turun!" Ran menggoyangkan tubuh adiknya yang tertutup selimut. Di bawahnya, Ren hanya merajuk tidak mau menjawab. Ini adalah kesekian kali si kakak merayu tetapi tidak ada jawaban. Terpaksa Ran harus mengalah dan meninggalkan adiknya menenangkan diri.
Ketika makan malam tiga puluh menit kemudian, ada sebuah red velvet yang dibuat kemarin eksis di atas meja makan. Topping-nya pun beragam berupa campuran matcha, stroberi, dan vanila. Di sekitarnya ada beberapa permen cokelat.
Saliva Ren langsung bereaksi menerima rangsangan visual itu. Namun, ia kembali ragu karena red velvet itu adalah milik Ran dan ia telah bilang itu untuk Ayah sebagai hadiah Valentine. Akhirnya, ia pun hanya duduk di kursinya dengan lesu.
"Ren, itu semua buat kamu." Itu suara Ayah. Ia datang lalu duduk disusul dengan Bunda di belakang. "Gak mungkin. Itu buat Ayah kok," balas Ren setengah merajuk.
Bunda dengan lembut mengusap pucuk kepala putra bungsunya, "Ayah sudah dapat dari Bunda. Ini punya Ren sungguhan." Bocah itu masih tidak percaya hingga ada suara yang mengalihkan perhatiannya.
"Selamat Hari Valentine, semua. Maaf Ran hanya bisa membuat kue terbatas." Ran setengah berlari ke arah meja makan sambil memegang ponsel yang menunjukkan video call. Di sana ada Makoto dalam panggilan.
"Makoto, bagaimana kabarmu, Nak?" Sapaan Bunda membuat Ren terbangun, seketika sembuh. Mereka sekeluarga mengobrol tentang hari pasangan itu serta apa yang telah mereka beri dan terima dari orang terkasih. Bunda memberi hadiah khusus untuk Ayah, Kak Makoto menerim beberapa kado misterius, dan Ran membuat red velvet untuk ketiga murid kakaknya. Sementara itu, Ren kembali tercenung karena ia merasa mendapat sisa.
Menyadari hal itu, Ran segera memegang tangan kembarannya dan meminta maaf. "Maaf, ya, Ren. Kukira kamu dapat dari Sayuri jadi gak aku kasih. Kamu bisa makan punya Ayah dan permen yang aku beli tadi. Jangan merajuk, ya?"
Ekspresi Ren seketika berubah, hatinya melunak. Permasalah sepele memang tidak seharusnya diperpanjang untuk memenuhi egoisme pribadi. "Kamu lupa ya kalau Sayuri sudah pindah minggu lalu?" balas Ren, "tapi makasih banget, Ran. Aku senang bantu kamu kemarin."
Si kembar pun akhirnya berpelukan dan membuat orang tua mereka terharu. Keempat orang itu pun bergumul saling merapatkan diri. "Jangan bertengkar lagi, oke? Anak-anak Bunda memang hebat semua." Pujian Bunda membuat Kak Makoto di seberang saluran iri. Ia harus menahan diri sejenak sebelum liburan kembali ke Iwatobi.
Sesuap demi sesuap Ren telan red velvet buatan Ran yang tidak kalah rasanya dengan bakery langganan Bunda. Ia mencermati obrolan Ayah dan Bunda tentang Valentine.
"Sayuri memangnya pindah ke mana?" tanya Bunda sambil menuang sake ke gelas Ayah. "Fukushima. Ayahnya pindah tugas ke sebuah desa di sana," jawab Ren. "Jauh juga ternyata," timpal Nyonya Tachibana. Ren hanya mengangguk.
Ayah meneguk sake setelah sempurna tertuang. "Komunikasi kalian bagaimana?" sambungnya setelah menandaskan minuman keras itu. "Ren tidak pacaran, Ayah. Jadi, hanya berkirim chat jarang-jarang."
Jawaban si bungsu membuat Tuan dan Nyonya Tachibana tertawa. "Itu seperti hubungan Ayah dan Bunda waktu SMP. Nostalgia sekali cerita Ren ini," ucap Ayah. Ren tertunduk malu karena tersipu.
"Oya, Ran bagaimana?" Bunda bertanya penasaran kepada putri satu-satunya. Sayangnya si gadis gelagapan. Ini membuat Ren terpikir suatu ide.
"Ran suka tiga cowok murid Kak Makoto itu loh." Ren mengobarkan bendera perang yang membuat kakaknya terperanjat malu. "Enggak, Bunda. Ren bohong." Pembelaannya sia-sia karena adiknya mengeluarkan satu kartu AS lagi.
"Tadi dia memberi mereka red velvet yang dibuat kemarin itu loh."
Ran semakin gondok mendengarnya. Ia memanyunkan bibirnya tetapi habis membela dirinya. Ayah dan Bunda hanya terdiam, terpana. Kisah cinta si kembar ternyata begitu unik.
"Sudah, jangan bertengkar. Kalian baru saja berbaikan loh," tegur Ayah, "kalian boleh jatuh cinta dan menjalin hubungan. Itu normal asal jangan lupakan belajar dan tahu kompas moral keluarga dan norma kita bagimana."
"Oke, Ayah," jawab si kembar dengan nada berbeda.
"Ran, Sayang. Kamu harus memilih satu di antara mereka. Hargai diri kamu dan mereka, oke? Ayah hanya ingin tidak ada masalah ke depannya." Mendengar nasihat Ayahnya membuat Ran lega. Ia bersyukur tidak dimarahi karena preferensi asmara pubernya yang ambigu. Selanjutnya, ada hal yang harus dimantapkan di antara dirinya dan tiga murid kakaknya itu. Juga, hadiah Hari Putih apa yang ia inginkan dari Ren. Ia akan memberinya pembalasan.
Tidak ada suluh yang langsung ada, mereka berproses. Tidak ada suluh tunggal dan besar, mereka ada banyak dan saling melengkapi. Ran memahami itu seiring ia menjadi dewasa. Bakatnya mungkin tidak sebesar Makoto yang mendunia dengan aksinya di air. Pun dengan Ren yang fasih berbagai bahasa dalam waktu singkat yang membuatnya berteman dengan banyak orang.
Ia adalah gadis sederhana dengan passion-nya di bidang kuliner yang mengisi perut seseorang dengan cinta. Tanpa makanan ia bukan apa-apa, tanpa cinta yang pasti sekarang tentu tidak mengapa.
Tamat
