Work Text:
“Galen.”
“Dalem, kak” Balas Galen yang dipanggil, namun tetap fokus mengerjakan soal dan membaca dari kertas-kertas dan bukunya.
Mentari kesal, “Liat aku ih kalo ngomong!”
“Bentar dulu kakak sayang, kenapa? Ngomong aja.”
Mentari mendengus kesal lagi, "Mau nanya doang loh Galen... Kenapa kamu mau sama aku? Banyak kan yang naksir kamu?" Mentari menatap Galen, menarik perhatiannya.
Galen berhenti berkutik dengan soal-soal latihannya, tersenyum lalu membelai halus surai gelap milik Mentari dengan tangan kanannya yang kosong. "Maksudnya? Kenapa tiba-tiba? Kenapa mikir gitu, sayang? Kamu kepikiran apa, Mentariku? Coba ngomong ke Galen sini."
Mentari memukul pelan bahu Galen "Kamu mah! Jangan bikin salting gitu deh. Ga sehat buat kesehatan jantungku." Galen menggoda Mentari, "Loh, aku ga ngapa ngapain kak. Kamu kan emang punyaku toh? Mentariku, sinarku, sayangku."
Yang digoda pun tersenyum lebih lebar, "Ah udah gila ya kamu Galen, eh engga deh, aku yang gila. Bisa gila aku lama lama sama kamu!"
Galen, yang gemas dengan pacarnya (yang lebih tua 3 tahun darinya) tertawa. "Jadi kakak engga mau sama aku nih?" Galen tetap terus dengan godaannya, membuat Mentari semakin salah tingkah. "Mau.. Mau banget! Makanya jawab aku dong, Galennya aku." Mentari menjawab Galen lalu menengok ke arah lain, supaya dirinya mampu menyembunyikan wajah merahnya.
"Lihat sini dong, Mentari sayang" Galen meletakkan buku miliknya, mengalihkan pandangan Mentari ke arah Galen. Lalu Galen mendekatkan dirinya ke Mentari, menyelipkan rambut Mentari dibalik telinga milik Mentari. Mencoba menatap mata sang terkasih lebih dekat, dan memegang tangan kanan Mentari dengan tangan kanan miliknya. "Aku deh kayaknya yang harusnya nanya gitu kak, kamu nyadar ga sih kak kamu tuh se pengertian apa sama aku? Aku beruntung banget bisa punya kamu, Mentari. Kalo soal cakep ga usah ditanya, kakak mah paling cantik ganteng nan imut di seantero jagat raya ini. Tapi serius, kamu baik banget, kak. Aku engga bisa ngebayangin kalo hidup aku ga kenal kamu, kosong, ga ada warnanya kayak sekarang ini. Kamu selalu hibur aku pas sedih, Mentari."
Mentari tertawa kecil, bersandar di pundak Galen. Memainkan tangan kanan pacarnya dan miliknya. "Boong, aku emang selama ini ngapain aja deh Len? Gak kayak kamu kan yang tiap detik bikin aku salting kegilaan."
"Kamu disini aja udah bikin seneng, cintaku. Selagi ada kamu di sisiku, duniaku jalan terus. 5 bulan kerasa kayak 5 hari buat aku kalo aku jalanin sama kamu. Kerasa cepet banget, aku padahal maunya lama-lama sama kamu. Kamu selalu cukup buat aku. Tolong disini terus ya, sama aku? Mau kan?" Galen mencubit pipi mungil Mentari, membuat sang pemilik pipi mungil itu mengubah posisinya, memeluk Galen, dunianya. Galen dengan kesadaran penuh mengecup pipinya yang barusan dirinya cubit, menciptakan suasana hangat seperti diberi 3000 pelukan dari 3000 orang di waktu yang bersamaan. Membuat Mentari tersenyum malu, entah sudah berapa kali dirinya tersenyum di hari ini.
"Mau lah, Galen. Kita jalanin rintangan hidup bareng bareng, kamu punya kakak. Aku bakalan disini terus sama kamu, don't worry, baby." Ucap Mentari dengan tersenyum, yang dibalas Galen juga dengan senyumnya.
"Senyum terus ya kakak sayangku, kalo kamu seneng aku juga akan selalu seneng. Kita seneng sedih bareng bareng, enggak boleh pisah ya? Hal kecil dari kamu aja udah bikin aku seneng, kamu udah nunjukkin aku banyak hal yang bikin aku yakin untuk stay disini sama kamu, kak."
Mentari membalas, "Iya, aku janji. Aku temenin terus kamu disini, nemenin kamu tumbuh, ngejar mimpi kamu. Sampai mimpi kamu kekejar juga aku engga akan lepasin kamu, aku bakal tetep disini sampai kita udah jadi butiran pasir, Galen."
"Kamu kan mimpinya aku, kak."
Mentari tertawa lagi, pujaan hatinya benar benar bisa membuatnya melupakan segala masalah di hidupnya. Membuatnya merasa seperti bisa melarikan diri sebentar dari tuntutan hidup dengan menghabiskan waktu bersama yang terkasih. Pujaan hati Mentari, alias Galen membuka suara lagi. "Sini ayo tiduran, bobo sama aku." Sambil menarik bantal untuk diletakkan disamping bantal yang sudah ditiduri kepalanya. Mentari membaringkan badannya, menatap mata Galen yang membuatnya dapat merasakan nafas hangat yang dihembuskan oleh satu sama lain.
Mentari membuka tangannya lebar, menyimbolkan kode untuk menagih pelukan. "Peluk!" Galen yang sebelumnya memainkan rambut Mentari pun menarik Mentari dalam dekapannya.
"You have no idea how much I want you to stay, Mentari.”
"I do, Galen. I really do, baby. I'll stay with you forever, I'm gonna be here when you need me. You'll grow with me, Galen."
"Kak, I love you."
"I love you more, Galen.”
