Work Text:
"Dark..?" Chosen menggoyang-kan tubuh org disampingnya yg masih tertidur.
"Hmm..." Kebiasaan Dark, selalu saja tidur larut malam, kalau tidak mungkin ia bisa membantu Chosen mempersiapkan hari natal ini. Tunggu, NATAL?!
Sial, sudah jam berapa ini? Kenapa alarmnya tidak berbunyi?? Secepatnya Chosen turun dri kasurnya dan bergegas menuju dapur untuk mempersiapkan sarapan. Telur goreng dan Bacon, lagi. Terserahlah, setidaknya itu cukup untuk 3 org sekaligus. Hadeh, ia lupa membeli bahan makanan kemarin.
Menoleh kearah jam dinding, Chosen melihat jarum jam itu hampir sampai pukul 7. Semakin panik, Chosen mengatur api pemanggangan lebih besar dripd biasanya, untuk mempercepat waktu.
Disisi lain, Dark masih dlm keadaan tenang nan damai, berbanding terbalik dgn yg terjadi di lantai bawah. Tiba-tiba dia mendengar namanya dipanggil, "Da-dark!" Terbata-bata spt anak kecil, ini bukan Chosen. Meski sudah diulang berkali-kali, Dark masih kukuh tertidur.
Tanpa diduga-
"ANJ-!!" Dark terkejut dgn rasa sakit dri hidungnya, membuat dirinya terduduk tegak. Beruntung dia tdk reflek mengeluarkan pedangnya, kalo iya dia bisa kena marah Chosen nanti. Disaat yg bersamaan, seorang anak kecil dihadapannya tertawa terbahak-bahak melihat reaksi ayahnya. Namun Dark hanya mendengus kecewa.
"Second, tidak bisakah kau menunggu ku bangun? Dan mungkin gk menggigit hidungku lagi??" Nada kekesalan terdengar jelas di kalimat Dark, tpi tdk menghilangkan kelembutan demi hati anak semata wayangnya itu.
"Pagi! Harus sarapan!" Second berbicara menggunakan kalimat sebisanya, senyuman kecil itu tdk hilang dri wajahnya. Membuat Dark ingin meledak karna keimutannya, jujur.
Tahu tak bisa menunggu lama lagi, Dark meluruskan tulang2 nya agar terlihat fresh. Siap untuk menghadapi... Entahlah, omelan Chosen lagi mungkin?
Tak lama kemudian ia mengambil Second dan menggendongnya di lengan bagian kiri dan tangan kanannya sebagai pendukung. Melewati pintu kamar, mereka bedua pun turun ke lantai bawah.
Oh tidak, Chosen dlm masa stressnya lagi. Mondar-mandir kesana kemari menyiapkan entah apapun itu, Dark tak mengerti. Tpi yg penting aroma sarapan itu sdh menantinya di meja makan!! Oh ya, Chosen.
"Ehem, Chosen?" Dark memanggil. Namun pria berambut hitam itu tdk menjawab, ttp fokus pd pekerjaannya. Sekali lagi ia berseru, dgn nama yg berbeda kali ini. "Sayang?" Oh lihat itu, Chosen berhenti tiba2 menatap Dark dgn kosong. Kebiasaan, batin Dark.
Dark: "Hahah, kau buru2 lagi? Sdh ke brp kalinya ini?"
Second: "Seratus juta kali!"
Chosen: "Hm, klo bkn aku yg mengurus rumah ini siapa lagi?"
Dark: "Uh, aku?"
Chosen: "Bisa2 rumah kebakaran nanti."
Chosen menyeringai. Lalu mengalihkan pembicaraan untuk menyapa buah hatinya.
"Selamat pagi, Second~" Ekspresinya cepat berganti menjadi lebih lembut.
"Mama, mama!" Second menyondorkan badannya ke Chosen, tangannya yg buka tutup menandakan ia ingin digendong olehnya. Chosen tak segan2 menuruti.
Chosen mengecup semua bagian wajah Second dan membuatnya tertawa geli. Dark yg berdiri didepannya hanya melihat, seakan menunggu sesuatu untuk terjadi. Chosen menaikkan alisnya, "Apa?"
Dark membalikkan bola matanya, "Mana kecupan selamat pagi ku?"
"Kau selalu saja mau dimanja, emgnya kau anak kecil hah?"
"Anak kecil!" Second menyaut. Chosen sekali lagi menyeringai nakal, aneh, biasanya Dark Lord yg spt ini. Terserahlah, Dark jga malas beragumen di pagi2 buta.
Hendak menuju kursi makannya, Pria berambut merah itu dihentikan langkahnya oleh beban dipundaknya. Membuatnya reflek berbalik badan akan tarikan lembut Chosen.
Pada saat itu juga, Chosen menanam ciuman manis, tepat pada bibir Dark.
.
.
.
🎄🎄🎄
