Work Text:
Pasir masih hangat ketika Hanbin membiarkan dirinya jatuh berbaring di atasnya, napasnya perlahan menyesuaikan dengan ritme deburan ombak yang datang dan pergi. Di atas sana, langit malam membentang luas, dihiasi gugusan bintang yang berkelip seolah berbisik satu sama lain.
“Hanbin-hyung,” suara Gyuvin memecah kesunyian. Lelaki itu, yang sejak tadi duduk dengan lutut tertekuk dan tangan menyangga tubuhnya, kini menoleh ke samping. “Kamu tahu nama rasi bintang itu?” Jemarinya yang panjang menunjuk ke angkasa, ke arah sekelompok bintang yang membentuk pola tak begitu jelas di mata Hanbin.
Hanbin mengikuti arah yang ditunjukkan Gyuvin, lalu menggeleng pelan. “Hmm, mungkin Orion? Aku nggak begitu hafal rasi bintang, Vin.”
Gyuvin terkekeh kecil. “Aku juga, sebenarnya,” akunya, membuat Hanbin menghela napas dengan senyum geli.
Angin laut berhembus, membelai rambut mereka yang sedikit berantakan. Suasana malam itu begitu tenang, namun di antara kedamaian yang menyelimuti, Hanbin bisa merasakan sesuatu yang berbeda—sesuatu yang menggelitik di dadanya, sesuatu yang membuatnya lebih sadar akan keberadaan Gyuvin di sisinya.
Gyuvin masih menatap langit, tapi kali ini, Hanbin menatapnya.
Bintang-bintang memang indah, tapi dalam pandangan Hanbin, tak ada yang bisa menandingi cahaya yang bersinar di mata Gyuvin. Ada binar yang hanya bisa ia lihat dari dekat—dari seseorang yang selalu mengisi dunianya dengan tawa, dengan kehangatan, dengan kebersamaan yang tak ingin ia akhiri.
“Hyung.”
Suara itu terdengar lebih lembut dari biasanya. Dan sebelum Hanbin bisa memahami apa yang sedang terjadi, sebelum ia sempat mencari kata-kata untuk merespons, ia merasakan sesuatu yang asing namun juga familiar.
Bibir Gyuvin menyentuhnya.
Sejenak, dunia terasa berhenti berputar.
Sentuhan itu hanya sedetik—ringan seperti angin yang berbisik di antara mereka, namun cukup untuk membuat jantung Hanbin berdegup kencang. Ia tidak sempat menutup mata, tidak sempat berpikir, hanya bisa terdiam saat Gyuvin perlahan menarik diri.
Keheningan menggantung di antara mereka. Hanbin masih bisa merasakan kehangatan di bibirnya, sementara Gyuvin, yang kini menundukkan kepala, terlihat sedikit gelisah.
“Aku…” Gyuvin mengusap tengkuknya, tidak berani menatap Hanbin. “Maaf, aku…”
Hanbin mengerjap, jantungnya masih berdetak keras di dalam dadanya.
Ia tidak tahu harus berkata apa. Tidak tahu bagaimana harus merespons perasaan yang tiba-tiba muncul begitu nyata di hadapannya.
Tapi ada satu hal yang ia sadari.
Ia ingin merasakan itu lagi.
Jadi, dengan tangan yang perlahan terulur, ia menggenggam jemari Gyuvin—menghentikan gelisahnya, menarik perhatiannya. Ketika Gyuvin akhirnya mengangkat wajahnya, Hanbin tersenyum kecil.
“Kamu bisa mengulanginya,” katanya, lirih namun penuh keyakinan.
Gyuvin membeku. Namun setelah beberapa detik, senyum kecil muncul di bibirnya—malu, ragu, namun juga penuh rasa yang tak bisa disembunyikan.
Kali ini, ketika Gyuvin kembali mendekat, Hanbin menutup matanya.
Ciuman kedua berlangsung lebih lama.
Masih selembut angin musim panas, namun kini lebih penuh perasaan. Hanbin bisa merasakan kehangatan Gyuvin menyelimuti dirinya—sesuatu yang selama ini mungkin ia abaikan, atau mungkin tidak ia sadari sepenuhnya. Tapi sekarang, tidak ada jalan untuk mengelak lagi.
Saat Gyuvin menarik diri, Hanbin perlahan membuka matanya, mendapati wajah lelaki itu masih begitu dekat dengannya. Mata Gyuvin berkilat di bawah cahaya bulan, dan kali ini, Hanbin bisa melihat sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik sorot matanya—sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan, lebih dari sekadar kebersamaan yang biasa mereka bagi.
Gyuvin menelan ludahnya gugup. “Hyung… aku nggak tahu apa ini salah atau nggak, tapi…” Ia menggigit bibirnya sendiri, seakan ragu untuk melanjutkan kalimatnya. “Aku mau selalu sama kamu. Dengan cara seperti ini.”
Hanbin menatapnya dalam diam. Kata-kata Gyuvin menggantung di udara, bercampur dengan suara ombak yang memecah kesunyian di sekitar mereka.
Dan di saat itulah Hanbin menyadari sesuatu.
Mungkin ia sudah lama mengetahuinya.
Bahwa kebersamaan mereka bukan sekadar sesuatu yang biasa. Bahwa caranya memandang Gyuvin—cara hatinya berdegup lebih kencang saat mereka dekat, cara ia selalu ingin menghabiskan waktu lebih lama dengannya—semua itu bukan tanpa alasan.
Hanbin menghela napas pelan, lalu tersenyum kecil. “Jadi… selama ini aku yang lambat menyadarinya, ya?” gumamnya.
Gyuvin menatapnya, bingung. “Maksudnya?”
Hanbin tidak menjawab dengan kata-kata. Sebagai gantinya, ia mengangkat tangannya, menyentuh pipi Gyuvin dengan lembut. Jari-jarinya menyusuri garis rahang lelaki itu, hingga akhirnya berhenti di dagunya—menariknya sedikit lebih dekat.
Kali ini, Hanbin yang menciumnya lebih dulu.
Dan di antara desir angin musim panas, di bawah langit yang menyaksikan segalanya, mereka berdua akhirnya memahami satu hal yang selama ini tersembunyi dalam hati masing-masing.
Bahwa mereka tidak hanya saling menyayangi.
Mereka saling mencintai.
