Chapter Text
HideOnHush uploaded: “Life Update and Big News | ASMR Soft-spoken”
2 hours ago
Layar video menampilkan figur berpakaian oversized sweater yang sedang duduk menghadap ke kamera, dua mikrofon di sebelah kanan dan kirinya. Penerangan cahayanya redup dan dengan kontras rendah, tipikal seperti video-video HideOnHush ASMR sebelumnya. Layar video secara strategis memotong tampilan muka sang figur sehingga hanya bibir hingga torso pria tersebut yang terlihat. Seperti biasa, figur itu memulai video dengan menyapa penontonnya dalam suara lembut.
"Hi guys, welcome back to HideOnHush ASMR." Bibir simpul itu tersenyum, menampilkan sebaris gigi rapi dengan dua gigi depan prominen yang membuat pemiliknya tampak seperti kelinci. Sang ASMRtist mengangkat sebuah botol tumbler dan mengetuknya ritmik dan perlahan – tampaknya, prop pertama video kali ini. "It's been a while. I know I promised at least one video per month, but well... Life happened, I guess? Tapi I have to come clean, today’s video is going to be a short one, hehe." Suaranya lembut dan melodik, melengkapi vibe pencahayaan remang-remang dan ketukan botol tumbler yang sesuai untuk relaksasi.
"Aku udah nggak upload mungkin 3 bulan? 4 bulan? Anyway, I have a good reason for that! Bulan Maret itu ulang tahun si koko... Dan karena it's the big one-o, biasalah, kakek neneknya semangat banget bikin pesta ulang tahun." Sang ASMRtist perlahan membolak-balik botol tumbler, menghasilkan suara blub-blub-blub dari cairan yang berada di dalam botol.
"And then it was the seasonal holiday... Papinya anak-anak ambil cuti lumayan lama, so we went abroad. It'll be awhile before we can spend a holiday abroad lagi, soalnya – hehe, that's a spoiler for the big news! Abis itu, pekan ujian. Gosh, ini tahun pertama dua anakku sama-sama udah masuk SD, sama-sama harus UAS. Some friends already warned me, tapi ternyata stres juga ya jadi ortu yang harus ajari dua anak pas masa ujian gini." Figur itu pura-pura cemberut, sebuah ekspresi yang jarang dilihat pada video HideOnHush – pemandangan once in a blue moon yang dapat membuat penonton setia channel ini terenyuh.
"I mean, papinya anak-anak juga bantu ngajarin anak-anak sih, but you guys know he's too silly to be a strict parent. My silly yappatron husband... Don't tell him I said that!" Figur itu nyengir, seperti sedang membisikkan rahasia besar pada penontonnya. Berbeda dengan ekspresi muka cemberut, kebucinan ini actually adalah pemandangan yang cukup umum bagi penontonnya.
Sang ASMRtist meletakkan botol tumbler yang sedari tadi ia ketuk-ketuk, lalu bergantian mengetuk mikrofon di sisi kanan dan kiri layar. Jari-jarinya jenjang dan dengan kuku yang termanikur rapi; sebuah cincin berlian tersemat di jari manis tangan kirinya. "Terus libur kenaikan kelas sih kita ngga kemana-mana. Si koko dan si didi banyak aku daftarin summer camp, and they spent half of the break gantian main ke rumah temen-temennya. Lucunya, si didi sekarang BFF-an sama anaknya sahabatku. Bener-bener ngga bisa dipisah dua bocil itu! Si koko ngotot minta les Bahasa Mandarin juga. Papi maminya sampai bingung itu terinspirasi dari mana. And in case kalian ada yang belum tahu, masa liburan anak itu maminya bukan malah ikut libur, tapi malah kerja overtime nemenin anak!" Ia berdecak pelan sambil menghela napas, tapi terlihat bahwa memori tentang kedua putranya menghasilkan tampilan lembut pada wajahnya.
"And then, for the big news..." HideOnHush mengambil sebuah prop yang daritadi ada di atas meja namun tidak tertangkap oleh kamera: sebuah onesie untuk newborns berwarna putih. "My husband and I are expecting our third kid!" Figur itu tersenyum lebar sambil meletakkan dagunya pada tumpuan kedua tangannya yang sedang memegang onesie. Suaranya yang sedari tadi soft-spoken sedikit memekik, menunjukkan perasaan gembira yang tidak dapat dipungkiri.
"It's a surprise for both of us! I mean, we are not actively trying to prevent one either, sih," Ia mengangkat dan menunjukkan beberapa potong baju bayi lainnya dalam style dan warna yang bervariasi. "Beberapa subscriber yang nonton video terakhir mungkin udah nebak ya waktu aku ga sengaja mention morning sickness? For those who guessed, hehe, you guessed correctly!" Figur tersebut tersenyum jenaka, lalu berdiri dari posisinya. Tampilan layar menunjukkan torso hingga sebagian paha yang tertutup celana piyama motif kotak-kotak berwarna hitam dan putih. Namun perhatian penonton pasti terpusat pada berita besar hari ini: Sebuah baby bump. Tidak besar – sepertinya belum masuk trimester ketiga. Sang ASMRtist mengelus bump yang tertutup oversized sweater itu dengan lembut, berfokus pada satu area di sebelah kiri pusarnya yang tampaknya sedang menjadi lokasi tendangan sang penghuni. Ia duduk lagi, masih dengan senyum jenaka yang sama.
"I'm past halfway through the journey, jadi harusnya boleh lah ya share this big news to you guys." Ia mengambil prop selanjutnya, sebuah botol lotion yang diformulasikan untuk mengurangi stretch marks. Ia mengetuk-ketuk botol tersebut sambil membuka-tutup penutup berbentuk sekrup dari botol lotion itu. "Big brothers are taking the news quite well. My eldest son dari umur belum dua tahun emang sudah jadi 'koko' buat adeknya, jadi dari awal ketakutan kita memang si adek yang – wah, udah bukan 'didi’ lagi ya sekarang. Si didi sih, kadang masih ga terima. I guess he's still processing not being a ‘didi’ anymore? Tapi he's always ecstatic when I tell him his baby sibling is kicking, so I guess we're getting there?"
HideOnHush mengeluarkan isi dari lotion dan mengusapkannya ke tangan sambil sesekali mengetuk-ketuk kukunya – sebuah trik yang sering dilakukan para ASMRtist. "The thing is, it's not like we want to keep the gender of baby number three a secret, tapi kita pun belum ada yang tahu." Ia tersenyum nyengir lagi.
"Terakhir kali we went for a check-up, si baby sembunyi. Jadi belum ketahuan nih si baby bakal jadi ‘didi’ ato ‘meimei’. But–" Ia berhenti dramatis sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah kamera. "Tomorrow we're going for another check-up. Hopefully kali ini gender-nya ketauan yaa." Ia menatap ke bump-nya sambil berbisik, "Baby, besok jangan sembunyi lagi, kasian koko-koko kamu penasaran loh." Lalu kembali menatap ke arah kamera dengan ekspresi tertangkap basah sehabis melakukan sesuatu yang harusnya rahasia. Sepotong klip pada momen tersebut menjadi bagian 'Most Watched' pada video ini.
"Tomorrow is also the first day of school, tahun ajaran baru. The boys slept early today, kayanya sih mereka excited ya. Apalagi si bungsu – which by the way, I will continue to address as 'didi' until the baby sibling arrives – soalnya besok pulang sekolah dia bakal playdate sama BFF-nya. Since my husband and I are going to my check-up, you know... Kita rencana titipin mereka ke family friend." HideOnHush meletakkan prop botol lotion dan mengambil lagi tumbler yang diperkenalkan pada awal video. Ia menenggak beberapa teguk isi dari tumbler. "Anyway, a lot of you guys have been my subscriber bahkan sejak sebelum aku nikah, so I guess you deserved to know this too, hehe. I appreciate your love for my sporadic fairytale storybook ASMR era koko masih baby, followed by my awful nina bobo ASMR era si didi rewel tumbuh gigi. We have been together quite a while, huh.” Figur itu terdiam sejenak, seakan mengenang perjalanan channel sekaligus pertumbuhan keluarga kecilnya sepuluh tahun terakhir. “Let’s stay together on this journey as well ya.” Suaranya sedikit serak karena dipenuhi emosi.
Ia berdeham pelan, menguasai kembali emosinya. “So, this is it for today's video. Aku rencananya bakal langsung edit dan upload videonya malam ini juga, supaya kalian ikut rasain penasaran menunggu gender reveal baby sibling bersama aku dan keluargaku." HideOnHush secara reflek mengedip ke arah kamera, tapi penonton tak akan tahu, karena lagi-lagi, angle kamera menunjukkan hanya sebatas sampai ke bibir bunny-teeth-nya. "This has been HideOnHush ASMR. Thanks for coming, and see you in the next video!" Layar kamera perlahan menggelap hingga video menunjukkan layar sepenuhnya hitam. Akhir dari video hari ini.
Comments on: “Life Update and Big News | ASMR Soft-spoken” by HideOnHush
Aaah congratulations kak HideOnHush! 🎉🎉🎉
👍 39k 👎 | Reply
Suaminya yang mana sih, yang ballad singer Gumayusi itu bukan sih?
👍 315 👎 | Reply
- Broo mereka sepupuan. Bisa-bisanya 😭💀 Guma kan sama yang ex-idol LCK-48 itu. Dah punya anak juga setau gw...
👍 4k 👎 | Reply - Iya bener, sama Keria LCK-48 si Gumayusi.
👍 1k 👎 | Reply - WAHAHA maaf bro soalnya seinget gw si Guma kalo ngelive sering mention channel ini 🙈🤧 Ternyata sepupuan toh...
👍 154 👎 | Reply - Numpang jbjb, iya kak kalo ga salah HoH pernah bilang dia masih saudaraan sama Gumayusi tapi ga dijelasin hubungan kekeluargaannya cmiiw
👍 15 👎 | Reply - Bukan kak, suaminya yang suka cameo di video-video lama dia. Yang ganteng gagah tinggi banyak tahi lalatnya 😻😻😻
👍 9k 👎 | Reply - Lho min, gapapa ta ngomong gini 🥴
👍 867 👎 | Reply - GWS ya komentar di atas 😔
👍 398 👎 | Reply - Wkwkwk kapan hari ada komentator yang bilang naksir suaminya kak HideOnHush malah dia blok 😆
👍 423 👎 | Reply - Doi masih sama yang suka nge-shooting video pas zaman HoH tinggal di Amrik itu bukan?
👍 1k 👎 | Reply - Hah masa sih... Kayanya itu kurus kerempeng gitu...
👍 847 👎 | Reply - Heh kak tidak boleh begitu, mungkin mereka hidupnya bahagia makanya suaminya menggemuk 😌
👍 745 👎 | Reply - Iyaa masih sama yang itu! Keliatan dari tangannya banyak tahi lalat pokoknya 🥺💗 Yang di video scalp massage juga tengkuknya banyak tahi lalatnya 💘
👍 786 👎 | Reply - IYA ITU SUAMINYA‼️ Jujur gw kalo nonton video yang ada suaminya mesti siapin mental dulu, men. Bucin banget dua2nya, apalah gw yang jomblo ini 💔
👍 2k 👎 | Reply
Kangen liat video HideOnHush, tapi kalo bentar lagi ada konten nina bobo ASMR lagi I'm gonna replay it 100 times a day sih soalnya itu yang nemenin aku bobo tiap malam pas insom era skripsian huhu 🥺
👍 4k 👎 | Reply
GUYS! yang merasa baby-nya cowok, like di sini yaa 👦💙
👍 38k 👎 | Reply
Weh gamau kalah sama top comment di atas, kalo yang merasa baby-nya cewek ayo like komen ini 👧🎀
👍 33k 👎 | Reply
Guys, new subscriber here 🙋♀️ Kak HideOnHush pernah nunjukin wajah si koko sama si didi ga? Jadi penasaran soalnya kak HideOnHush-nya keliatan cantik banget, terus suaminya juga pada bilang tinggi ganteng 😆
👍 5k 👎 | Reply
- Bantu jawab kak, gapernah diupload... Soalnya HoH pernah bilang dia gamau ekspos anak-anaknya di YouTube. Kalo suaminya sih beda cerita ya, wong yang sono bucin gitu 🤣🙏
👍 7k 👎 | Reply - Bucin campur protektif deh kayanya 🙈🙏 semua harus tau kalo HideOnHush is taken wkwkwkwk ampun paksu 🙊🙏
👍 1k 👎 | Reply - Hahaha his husband really said kalo mau pake model buat ASMR-nya, modelnya harus gw pokoknya 😏
👍 752 👎 | Reply
Kak HideOnHush, sehat-sehat selalu yaa. Kita disini paham kok kalo kakak jarang update, aku masih bisa replay video-video lama kakak. Stay healthy my favorite ASMR channel ❤️
👍 28k 👎 | Reply
HideOnHush liked this comment!
Notes:
Chapter 1 #FunFakt
✨ ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response) is a tingling sensation that usually begins on the scalp and moves down the back of the neck and upper spine (from Wikipedia). It's a relaxing type of sounds that helps people to wind down/sleep. HideOnHush's video angle is based on this channel (showing half of his face and his torso but never his full face), but his content is more similar to this channel (playing video games on a portable device, reading a book, doing a word quiz, puzzle, or a chess game, etc). HideOnHush's pregnancy announcement video is based on this Gibi ASMR video.
✨ 'Koko' is a term for older brother, derived from the Mandarin “gege” (哥哥) literally means older brother. 'Didi' (弟弟) means little brother, while 'Meimei' (妹妹) means little sister. It's quite common for Chinese Indonesians to address their siblings as koko, cece, didi or meimei.
✨ The Jeong family member's age, as per currently: Sanghyuk (39), Jihoon (34), Yechan (10), Wooje (8). Jihoon married Sanghyuk when he was fresh out of grad school at 23, and Yechan was born one year later. Jihoon was actually still quite in his anchovy era when he got married, then Sanghyuk started cooking for him and the rest is history.
✨ When Sanghyuk was pregnant with Koko Yechan, he needed to buy pregnancy clothes because Jihoon was, quoting one of the HideOnHush YouTube comments: "kurus kerempeng". When Sanghyuk was pregnant with Didi Wooje around one year later, Jihoon has gotten
biggermore well-fed so his clothes started to become comfortable for Sanghyuk's last trimester. After Wooje was born, Sanghyuk, thinking his oven is done baking, has since given away all his pregnancy clothes. Thank goodness when Sanghyuk got pregnant with baby #3, Jihoon's vast collection of big, loose, comfortable clothes fit him perfectly!
✨ Sanghyuk and his circle of friends are well-off. Matter fact, Sanghyuk and Jihoon are both old money. We'll learn more about their families in upcoming chapters!
Chapter 2: {july} first day of school
Summary:
Hari pertama sekolah anak-anak geng
Lambe TurahNorth Side dan segala antiknya.
Notes:
(a/n) Ada tambahan satu lagi groupchat di bagian bawah chapter ini. Apologies in advance for the false update alert 🙇🏻♀️
---
(See the end of the chapter for more notes.)
Chapter Text
—
First day of school, D-1, Suhwan
Senopati, South Jakarta
Suasana apartemen mewah tiga kamar di lokasi elit Jakarta Selatan tersebut sunyi. Lampu ruang tengah sudah dipadamkan, dengan hanya sinaran pencahayaan dari lorong menuju kamar tidur. Beberapa bahan makanan dalam mangkuk-mangkuk kecil masih tersebar di kitchen counter, pertanda pemiliknya yang tengah bereksperimen dengan kombinasi rasa baru. Seekor anjing pomeranian berkalung nama “Chanel” sedang berbaring sambil menggigit mainannya di depan jendela ruang tengah; suara lonceng dari dog toy mengisi keheningan malam hari itu. Beberapa mainan mobil-mobilan dan balok Lego Duplo tersebar di karpet ruang tengah, sepertinya belum sempat dibersihkan setelah bermain.
Dari kamar tidur anak, terdengar suara percakapan antara seorang dewasa dan seorang anak. Seperti penerangan di ruang tengah, lampu kamar tidur anak pun sudah dimatikan, dengan sisa penerangan mengandalkan sebuah sleeping lamp berbentuk bintang yang diletakkan di salah satu pojok kamar. Seorang anak laki-laki berbaring dibalut selimut, dengan satu dari orang tuanya duduk di samping ranjang, masih memegang buku dongeng yang baru selesai ia ceritakan.
“Mama...?” Suara kecil Suhwan terdengar dari balik selimut.
“Ya, darling?” Siwoo mengusap lembut rambut putranya. Melihat keragu-raguan pada raut muka Suhwan, Siwoo melanjutkan kata-katanya. “We need to go to sleep early today, besok pagi Suhwannie kan sekolah. Udah siap sekolah lagi, kan?”
Suhwan mengangguk ragu; masih terdiam. ‘That little head of his is thinking big thoughts’, pikir Siwoo. Memancing reaksi verbal dari sang buah hati, Siwoo bertanya, “Pennies for Suhwannie’s thoughts?”
Suhwan memeluk boneka binatang yang sedari tadi dipeluknya dengan lebih erat. “Suhwannie misses Papa...” Bisiknya lirih.
Ah.
Suhwannie’s Papa, professionally known as Park Jaehyuk, adalah Vice President of Marketing dari salah satu perusahaan e-commerce asal Tiongkok yang beroperasi di Indonesia. That job contributes to Siwoo and Suhwan’s annual European holiday, their expensive residence, and their luxurious lifestyle in general. The downside? Jaehyuk harus hadir pada konferensi global tahunan perusahaan di Beijing Main Headquarter yang berlangsung kurang lebih sepuluh hari. Dan hari ini baru hari ketujuh. Rencananya, Jaehyuk akan sampai di Jakarta hari Rabu malam. Rencananya, Jaehyuk akan mengambil cuti di hari Kamis, mengantarkan Suhwan ke sekolah dan menjemputnya siangnya, lalu mereka akan pergi nge-date bertiga.
Achilles’ heel dari rencana tersebut? Jaehyuk is going to miss Suhwan’s first day of school this year.
Jaehyuk menelpon Siwoo dan Suhwan dari kamar hotelnya setiap malam dalam tujuh hari ini, tidak pernah lupa mengulang “Suhwannie, Papa misses you. Do you miss me too?” dengan puppy eyes yang mungkin susah diasosiasikan dengan tinggi badan 185 cm dan wajah serius yang selalu ia pasang ketika berhadapan dengan rekan bisnisnya. Namun untuk Suhwan, that’s just how Papa is. Seperti biasa, Suhwan cuma mengangguk pelan menjawab pertanyaan Jaehyuk, but Siwoo could see the growing desperation in Suhwan’s eyes. Their son terribly misses his Papa.
“Mm, I know, my handsome boy. But Papa will be back soon, no? Terus nanti kita ajak Papa main. Suhwannie mau ajak Papa liat koala katanya?” Siwoo meletakkan buku cerita yang sedari tadi digenggamnya pada meja sebelah tempat tidur Suhwan, dan setengah menunduk untuk mengecup dahi putranya.
Suhwan mengangguk sambil mengeluarkan suara tanda setuju, namun jarak antar alisnya mengernyit tanda ia sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. Setelah beberapa detik, ia menatap ke arah pintu kamar – atau lemari? – pokoknya, manapun selain wajah prihatin Mamanya. “Tahun lalu, waktu Suhwannie masuk kelas Miss Hyeji, Mama dan Papa anter Suhwannie barengan. Tahun sebelumnya lagi Suhwannie nggak inget, tapi ada fotonya di kulkas. Mama dan Papa anter Suhwannie masuk pre-school. Tahun ini, ngga ada Papa...” Kalimat terakhir diucapkannya dengan lirih.
That’s definitely one of the longest sentences Siwoo has heard from Suhwan in a while. Oke, ia harus bisa menjawab pengakuan Suhwan dengan diplomatis. “Mama punya solusi. Gimana kalau... Kamis nanti Mama ikut Papa antar dan jemput Suhwannie, terus kita bertiga bisa recreate this year’s picture, no one will know! How about that, handsome boy? We can create a new memory – you, me, and Papa.”
“Mama, you’re so silly...” Suhwan memeluk tangan Siwoo yang sedari tadi mengusap kepalanya. Ia tersenyum malas – rasa kantuk sudah mulai menguasainya. “But oke. Suhwannie likes the idea.”
‘Jaehyuk-ah, we’re really blessed with such a considerate boy,’ pikir Siwoo. “Okay then, darling. One problem solved? Anything else bugging that little head of yours? Kasihan ini peri bobonya nanti lembur kalo Suhwannie ga bobo-bobo,” goda Siwoo.
“Ngga apa-apa biarin lembur, papanya Suhwannie lembur juga sampe ga bisa anter first day of school besok. Biar sama.” Finalitas dalam nada bicara mengantuk Suhwan hampir membuat Siwoo tertawa kencang, sebelum ia sadar putranya sudah hampir tertidur. ‘Ah, what do I do, our boy is naturally funny too,’ tambahnya dalam pikiran.
“Sleep tight, my precious boy,” Siwoo lanjut mengusap-usap kepala dan pipi Suhwan hingga putranya benar-benar terlelap. Setelah suara dengkuran lembut terdengar, Siwoo meninggalkan kamar putranya dan membuka layar messaging app pada telepon genggamnya.
Whatsapp chat with: jaehyuk 🤴🏻
Sent Message: yo, jagi 21:31
besok video call suhwannie ya 21:32
pas udah di sekolah 21:32
around 7:45 am, jadi 9:45 am mu? 21:32
our boy misses his papa so much he just spoke like a whole paragraph 21:32
i miss u too btw 21:33
love u 12:33
Oke, sekarang saatnya kembali ke eksperimen kecilnya di dapur.
—
First day of school, D-Day, Yechan & Wooje
SCBD, South Jakarta
Pagi hari di kediaman Jeong-Lee tidak pernah sepi. Pukul 5:30 am artinya suara dentingan alat makan yang sudah mulai disiapkan di ruang makan, suara mesin pemotong rumput bergema dari kebun depan, dan suara ban mobil-mobil yang dikeluarkan dari garasi untuk dipanaskan. Satu bagian yang masih hening adalah koridor ruang tidur, di mana kamar tidur utama dan dua kamar tidur anak berada.
Pukul 05:30 am pada hari pertama masuk sekolah di kamar tidur utama artinya suara alarm yang berbunyi bergantian dari dua telepon genggam, diikuti dengan percakapan teredam antara kedua penghuninya, lalu suara tap-tap-tap langkah kaki beralaskan slipper yang masuk ke kamar mandi en suite dan suara keran air yang diputar.
Sepuluh menit kemudian, pintu kamar tidur utama terbuka, menunjukkan dua penghuninya: sosok yang di depan menggunakan oversized t-shirt dan celana rumah pendek; melihat wajahnya tanpa kacamata seperti melihat gerhana matahari dengan mata telanjang – there’s something private in his state of vulnerability that makes you feel like an outsider. Sepasang tangan memeluknya dari belakang; lokasi yang tadinya adalah pinggangnya, namun enam bulan terakhir telah menjelma menjadi rumah bagi anak ketiga mereka. Sosok kedua yang keluar dari kamar menggunakan t-shirt hitam polos dan celana piyama bermotif kotak-kotak; wajahnya terbenam pada leher sosok di depannya, tangan dengan sebaran bintik-bintik tahi lalat itu mengeksplorasi perut suaminya guna memancing tendangan sang buah hati.
“Love, udahlah. Biarin bobo si baby-nya, jangan dibangunin,” Lee Sanghyuk berusaha menepis tangan kokoh suaminya. Ia masih belum berhasil melangkah keluar melewati pintu kamar karena sang suami masih belum puas cuddling-nya.
“Nooo love, kemarin seharian aku belum ditendang,” Suami Lee Sanghyuk, the silly yappatron Jeong Jihoon, ndusel manja sambil mempererat pelukannya. Karena Sanghyuk ngotot berjalan, ia pun turut berjalan dengan gaya penguin agar dapat terus memeluk suaminya dari belakang.
“Jihoonie, kemarin baby Dedek seharian nendang. Waktu aku bikin video pun sambil ditendang terus. Bapak Jihoon sih yang kurang beruntung, pak,” jawab Sanghyuk nyengir sambil menepuk kedua tangan Jihoon yang melingkari abdomennya. Mereka berdua berjalan sepanjang koridor seperti dua penguin sedang berbaris. Ia melirik ke belakang melihat Jihoon yang sedang memasang wajah pura-pura cemberut. ‘This clingy cat, I swear…’ Pikir Sanghyuk sayang. “Dah ah, kamu mau bangunin siapa? Koko atau Didi?”
Jihoon membalik kedua telapak tangannya untuk menggenggam tangan suaminya dalam posisi back hug, mengecup lembut bagian belakang kepala Sanghyuk sebelum membalik tubuh pria itu. “Aku Koko, kamu Didi. Oke?”
“Oke,” Sanghyuk mencuri satu kecupan di dagu suaminya. Keduanya berbagi senyum manis sebelum masuk ke kamar anak, masing-masing siap dengan tugas membangunkan pagi ini.
✦
“Rise and shine, my bro!” Jihoon membuka tirai gorden kamar bertema rubah yang masih gelap itu lalu membenamkan diri pada tumpukan boneka binatang di samping gundukan selimut berisikan seorang anak laki-laki. “Aduh, my little mandu selimutnya rapet banget, siap dimakan ini kayaknya ya. Pas banget nih Papi lagi laper.” Jihoon pura-pura melahap pipi putranya.
“Papi, nooooo!” Yechan, atau yang dikenal semua orang rumah dengan panggilan ‘Koko’, menyingkap selimut sambil menepis muka papinya dengan lembut. “Koko manusia, Pi. Bukan mandu!”
“Aduh iya kah? Iya sih ya, mana ada mandu masuk sekolah ya...” Jihoon mengusap-usap pipi mereka berdua sambil memeluk Yechan yang masih berada dalam balutan selimut. “Koko Yechan kenapa cepet banget sih udah kelas 4, my bro grew up too fast...,” Jihoon membuka salah satu matanya untuk mengamati reaksi Yechan.
“Papi, Koko anak Papi, bukan bro Papi,” Yechan membebaskan diri dari serangan pelukan Papi-nya lalu mengambil kacamata yang semalam diletakkan di meja samping tempat tidur. “Kata temen Koko, istilahnya ‘cringe’, Pi. Papi cringe.” ucap Yechan simpel.
“Oh tidak, Papi dibilang cringe sama anak Papi sendiri. The pain, oh no...” Jihoon berguling dramatis dari posisinya yang memeluk Yechan sambil meremas dada sebelah kanannya. “Koko, save Papi... Kayanya bisa sembuh sakitnya kalo Papi dicium nih Ko...”
‘Clingy Papi…,’ pikir Yechan sayang, sebelum bangkit dan mencium pipi kiri dan kanan Papi-nya. Mereka berdua duduk berdampingan di tepi ranjang selagi Yechan ‘ngumpulin nyawa’. “Good morning, Papi,” ucap Yechan sambil memeluk sisi samping Jihoon.
“Good morning, son,” balas Jihoon. Mereka berdua nyengir. “Dah sana mandi dulu, seragamnya sambil Papi siapin.”
“Koko mau liat Didi dulu,” ucap Yechan sambil berdiri, lalu setengah berlari keluar kamar. Jihoon menggelengkan kepala, namun beranjak dari ranjang dan mengikuti Yechan ke kamar putra bungsunya yang sebentar lagi bukan si bungsu lagi.
✦
Sanghyuk membuka tirai gorden kamar bertema bebek, berencana membangunkan Wooje setelah ia membuka jendela dan mematikan sleeping lamp. Yang tidak ia sadari, sepasang mata bulat telah mengikuti gerak langkahnya semenjak memasuki ruangan.
“Good morning, Mami...” Suara polos Wooje menyapa Sanghyuk selesai membuka tirai di kedua sisi jendela kamar. Anak laki-laki berusia 8 tahun itu sudah terbangun namun masih berbaring diam dalam posisi menghadap ke arah jendela yang baru saja Sanghyuk buka tirainya.
“Oh, Didi udah bangun?” Sanghyuk berbalik dan berjalan menuju ke arah ranjang. Wooje mengeluarkan suara afirmasi sambil beranjak duduk, mendekatkan wajahnya yang sepantaran dengan abdomen sang Mami lalu memeluknya.
“Good morning, Wooje sayang.” Sanghyuk menyisir rambut lebat putranya dengan jari – berbeda dengan rambut Sanghyuk yang lurus, rambut Wooje menurun dari Jihoon: bergelombang dan mengembang sebelum disisir. Pipi bulatnya pun persis Jihoon. ‘Belum lagi cerewetnya… Truly Jihoon’s tiny yapper,’ pikir Sanghyuk.
Persis setelah Sanghyuk membatin demikian, Wooje berceloteh. “Mami, Didi tadi mimpi jadi bebek, tapi bebeknya bisa terbang, Mi. Jadi Didi terbang ke rumah Geonwoo. Tapi Geonwoo-nya ga ada di rumah, jadi Didi lanjut terbang ke luar angkasa ketemu alien. Terus Didi main-main sama alien tapi terus kepala Didi kepentok pesawatnya alien, Mi. Didi nggak nangis tapi Didi bilang mau izin ke rumah sakit. Tapi belum sampai rumah sakit, Didi kebangun...” cerita Wooje panjang lebar sambil menempelkan wajahnya pada perut Sanghyuk.
“Waduh, emang rumah sakitnya terima pasien bebek, Di?” Pancing Sanghyuk sambil menahan tawa.
“Didi ngga tau, tapi setelah Didi pikir dalam-dalam, menurut Didi lebih enak jadi manusia. Soalnya bebek nggak bisa garuk-garuk kalau kepalanya gatal,” jelas Wooje sambil mengangguk. Kali ini Sanghyuk tertawa ringan. Wooje tidak paham mengapa sang Mami tertawa, tapi kalau Mami ketawa, Wooje juga harus ikutan tertawa. Lalu, seperti tidak mau ketinggalan, baby di perut Sanghyuk menendang pipi Wooje.
“Oh!” Pekik keduanya. “Didi, baby Dedek ga mau ketinggalan nih, mau ikutan dengerin cerita kamu,” goda Sanghyuk.
“Mami duduk, mami duduk. Didi scoot over,” kata Wooje sambil bergeser dan menepuk ranjang di sisinya. Sanghyuk duduk di samping Wooje dengan kaki dinaikkan ke ranjang dan punggung bersandar di headboard. Begitu melihat Mami-nya sudah menemukan posisi nyaman, Wooje langsung kembali memeluk perut sang Mami sambil mengetuk-ngetuk di beberapa lokasi yang disambut dengan tendangan balik si baby. Wooje tertawa renyah sedangkan Sanghyuk menikmati momen berharga ini sambil mengelus kepala Wooje. ‘Masih 5:50 am, bisa lah biarin Didi sayang-sayang adeknya sepuluh menit lagi,’ pikirnya.
Tak lama, masuk Koko Yechan diikuti Papi-nya. “Good morning, Mami!” Yechan setengah berlari ke arah ranjang di tempat Sanghyuk dan Wooje sedang berpelukan. “Good morning, Didi! Didi make room dong, Koko mau cuddle Mami juga,” celotehnya sambil mengisi spot kosong di samping Sanghyuk. “Good morning, baby!” Seru Yechan sambil menempelkan tangannya di perut sang Mami.
‘Clingy boys..,’ Jihoon menyandarkan kepala di kusen pintu; menatap sayang ke arah kedua putra mereka yang sibuk berdiskusi tentang siapa yang menurut baby Dedek lebih lucu, lalu ke arah belahan jiwanya yang juga sedang menatap sayang sambil menyisir rambut kedua putra mereka dengan jari. Setengah melamun, ia tersadar bahwa sekarang Sanghyuk sedang memperhatikannya; tatapan jenaka dan senyum menantang menghiasi wajah rupawan suaminya. “Papinya ga mau cuddle Mami juga nih? Tadi katanya pengen ditendang?”
Jihoon tertawa gemas, melangkah masuk dan bergantian mencium dahi Sanghyuk, Yechan dan Wooje sebelum bergabung dalam aktivitas cuddling berjamaah pagi hari ini.
✦
Catur warga – yang beberapa bulan lagi tak akan menjadi ‘catur’ lagi dengan kehadiran anggota keluarga kelima – duduk di ruang keluarga sambil menunggu mobil disiapkan. Sanghyuk biasanya mengantarkan anak-anak menggunakan MPV berkapasitas 7-penumpang; maklum, harus ikut bersamanya adalah ‘tim pengawal Lee Sanghyuk’ yang terdiri dari seorang sopir dan seorang nanny untuk membantunya menjaga Yechan dan Wooje. Sebenarnya, sejak Wooje masuk sekolah dasar dan tergantung pada aktivitas Sanghyuk hari itu, terkadang ia mengantar anak-anak tanpa ditemani nanny dengan menyetir sendiri sedan BMW M550i hitamnya. Namun sejak Sanghyuk ‘isi’ lagi, tentu saja Pak Jihoon mewajibkan kembali keikutsertaan ‘tim pengawal’ Sanghyuk apabila pasangannya bepergian tanpanya.
Pagi inipun staf rumah sudah menyiapkan booster seat Yechan dan Wooje di mobil MPV mereka seperti biasa, karena Pak Jihoon tiba-tiba ngide bilang ingin menyetir sendiri (“Kita tuh udah lama nggak nyetir berduaan doang loh, love,” – soalnya biasanya kalau sudah berhasil pergi tanpa anak-anak, Jihoon dan Sanghyuk pasti lanjut makan, ngopi, atau minimal beli susu di supermarket dulu), mereka berempat sedang menunggu sementara staf menyiapkan SUV berlogo banteng emas yang biasanya suka Jihoon kemudikan sendiri.
Yang bersangkutan sekarang sedang duduk di three-seat sofa sambil grinding gim TFT di telepon genggamnya, dengan Wooje di sebelahnya menonton layarnya tak berkedip selagi seorang nanny mengikat tali sepatunya. Sedangkan Sanghyuk duduk di armchair dengan Koko Yechan di pangkuannya yang, well, semakin hari semakin sempit untuk diduduki.
“Koko sama Didi nanti pulangnya ikut Mami Wangho sama Geonwoo ya,” kata Sanghyuk sambil menyisir rambut Yechan. “Mami sama Papi mau ke dokter, nanti Koko jagain Didi ya di rumah Geonwoo. Jangan ngabisin snack-nya Geonwoo, Didi-nya diingetin juga. Nanti miss nanny ikut temenin kalian. Be good ya, Ko.”
Yechan mengangguk, matanya celingukan ingin melihat layar telepon genggam Papi-nya juga, namun sudut pandangnya tertutup Wooje. Menyerah, ia mengambil telepon genggam Sanghyuk untuk main Apple Game.
Wooje menengadah ke arah Papi-nya, lalu menunduk memperhatikan perut Papi-nya. “Papi ke dokter juga?!” serunya dengan mata membulat.
Jihoon menyipitkan mata melihat putra bungsunya dengan tatapan tersinggung. Memang sih, tiap Sanghyuk hamil, selalu Jihoon yang naik berat badan dan selalu Jihoon jadi lebih gembul. Tapi kan nggak berarti ada dedek bayi di perut Jihoon. Ia jadi sensitif, sepertinya kali ini Jihoon harus mulai nge-gym bahkan sebelum Sanghyuk lahiran. “Papi kan anterin Mami,” katanya sedikit defensif.
“Ooh,” Wooje mengangguk sambil naik ke pangkuan Jihoon untuk lanjut menonton game yang dimainkan Papi-nya, karena sang nanny sudah selesai mengikat sepatunya dan sekarang beranjak meninggalkan ruangan untuk memberikan privasi pada keluarga tuannya.
“Tumben nggak dititipin ke Minhyung sama Minseok, love?” Tanya Jihoon setelah memenangkan game-nya dan mengantri di lobby selanjutnya. Lee Minhyung, adik sepupu fraternal Sanghyuk, dan suaminya Ryu Minseok, biasanya menjadi pilihan pertama Sanghyuk ketika ia harus meninggalkan Yechan dan Wooje untuk keperluan apapun itu.
“Mereka diajak taste-testing makanan sama Hyunjoon kuadrat, kan? Kita tuh sebenarnya diajak juga, love. Cuma aku keburu bikin janji ob-gyn dan ternyata gak bisa di-reschedule,” jelas Sanghyuk.
“Ooh, pantesan,” tanggap Jihoon. Sanghyuk dan Minhyung adalah duo Lee yang tidak bisa dipisahkan. Tapi Sanghyuk, Minhyung, dan Hyunjoon? Trio Kwek Kwek. Sebagai putra dari keluarga konglomerat pemilik chain supermarket Moon Groceries, secara natural Hyunjoon dan Minhyung lahir dan tumbuh di lingkaran sosial yang sama, dengan Sanghyuk sebagai sosok kakak, mentor, dan idola mereka berdua. Akhir tahun ini Moon Hyunjoon akan melepas status lajangnya dan menikahi kekasih lucunya yang bernama sama – selebriti papan atas Choi Hyunjoon. Sanghyuk, pencinta wedding organizing, tentu saja sukarela mengajukan diri sebagai seksi sibuk, seperti sebelumnya ia juga membantu mengurus pernikahan Minhyung dan Minseok.
(Bulan lalu, Jihoon sudah sempat bahas soal Sanghyuk jadi seksi sibuk ini:
“Emang mereka gak bisa apa pilih tanggal nikah waktu kamu gak hamil gini, love?” Jihoon, melihat Sanghyuk dengan perutnya yang sudah besar sedang bersiap-siap mau berangkat untuk ketemuan dengan vendor florist.
“Jihoonie. You do realize they have been planning the wedding since last year and we–” Sanghyuk menjeda dramatis seraya menunjuk perutnya, “–did not plan this last year, kan, love?”
Jihoon mingkem.
“Lagian, adiknya Minhyung masih kuliah, love. Masih lama bakalan ada keluarga yang nikah lagi...” bisik Sanghyuk melas sambil memeluk suaminya. “Atau gimana kalo ternyata dia gak mau nikah? Harus nunggu siapa lagi yang nikah baru aku bisa experience jadi seksi sibuk gini lagi?”
Oke, Jihoon kena skakmat. Emang paling bener mingkem kalau Sanghyuk sudah ada mau.)
Back to the present day, Jihoon menyenggol bahu Wooje. “Didi pengen adek bayinya a boy or a girl?” tanyanya. Sebenarnya, mereka berdua sudah pernah membahas jenis kelamin baby Dedek dengan Yechan dan Wooje. Koko Yechan bilang ia tidak punya preferensi khusus selama Papi dan Mami tetap sayang semua anak mereka dengan seimbang (“Wah, diplomatis,” komentar Sanghyuk) sedangkan Didi Wooje tidak punya preferensi khusus selama adiknya nanti bisa membantunya menghabiskan sayuran yang tidak ia sukai (“Waduh, yang ini oportunis,” celetuk Sanghyuk). Jihoon dan Sanghyuk sendiri sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan jenis kelamin selama anak-anak mereka tumbuh sehat dan bahagia, tetapi seperti pasangan-pasangan lain yang semua anaknya berjenis kelamin sejenis, normal apabila mereka mengharapkan calon bayinya berjenis kelamin sebaliknya. Anyway, Jihoon tahu kalau jawaban putra bungsunya ini kadang masih suka berubah-ubah dan out of the box, karenanya ia iseng bertanya lagi.
“Girl,” jawab Wooje singkat, padat, dan kurang jelas. Jihoon refleks menoleh ke arah Sanghyuk yang mengangkat alisnya mendengar jawaban Wooje. “Kenapa tuh, Di?” pancing Sanghyuk.
“Umm, Didi sudah memutuskan,” – Jihoon berusaha tidak berkomentar mendengar pilihan vocabulary Wooje yang kayak orang dewasa – “kalau adeknya laki-laki kan nanti Didi gak jadi Didi lagi. Kalau adeknya perempuan kan dipanggilnya Meimei, jadi Didi bisa tetep jadi Didi,” Wooje melihat Papi dan Mami-nya bergantian, mengecek perubahan ekspresi pada raut muka keduanya. Jihoon dan Sanghyuk tertawa ringan, terutama Sanghyuk yang menggumam penuh arti.
“Didi sini, duduk di paha Mami yang satunya,” panggil Sanghyuk sambil menggeser Yechan ke satu paha. Yechan sedikit protes, tapi kembali berfokus memecahkan rekor baru di Apple Game. Wooje turun dari pangkuan Papi dan mencoba mencari posisi nyaman di pangkuan Sanghyuk yang semakin hari semakin sempit.
“Didi, listen to Mami,” ucap Sanghyuk sambil menyisir rambut Wooje. “Didi boleh loh kalo mau tetap dipanggil ‘Didi’ even after adek bayi lahir terus ternyata adeknya Didi is a boy, you know that, right?”
Wooje menatap Sanghyuk tidak yakin sambil memainkan t-shirt putih Sanghyuk.
“Kalo adek Didi nanti a boy, we can figure out a nickname for him, tapi Didi Wooje boleh tetep jadi ‘Didi Wooje’. After all, you’ve been our ‘Didi’ for eight years! Aduh, udah gede Didi-nya Mami,” goda Sanghyuk sambil mencubit pipi Wooje yang masih terdiam. “Didi cuma perlu jadi big brother yang baik, sayang sama adiknya nanti. Kalau ga mau dipanggil Koko Wooje juga gapapa, ya gak Ko Yechan?” Yechan mengiyakan, Ikut main-main dengan t-shirt Sanghyuk selagi telepon genggam Mami terbengkalai di meja sebelah sofa.
“A nickname is a nickname, but a big brother’s duty is a must,” lanjut Sanghyuk bergantian menatap Yechan dan Wooje. Dari sofa, Jihoon beranjak mendekat dan menepuk kedua kepala putranya.
Sanghyuk melanjutkan, “A big brother harus bisa jagain adiknya, makanya tadi Mami pesan ke Ko Yechan buat jagain Wooje. Nanti, kalau adek bayi udah lahir, Wooje juga jagain adek Wooje ya?” Wooje mengangguk. Sanghyuk berganti ke arah Yechan, “Waktu Didi lahir, Koko masih baby juga. You two basically grew up together, did everything together. Mami cuma mau bilang, nanti kalo adek bayi lahir, adek bayi itu ukurannya keciiil. Belum bisa langsung diajak main lompat-lompat trampolin–” Sanghyuk menoleh ke arah Yechan, “–atau ngejar angsa di taman,” ia menoleh ke arah Wooje. “Tapi, Koko dan Didi janji ya untuk jagain adeknya? Sayang adeknya, gentle sama adeknya?”
Yechan dan Wooje mengangguk-angguk, masih memainkan t-shirt Sanghyuk. “Koko janji,” bisik Yechan. “Didi juga janji,” timpal Wooje.
“Udah, itu kaos Mami jangan ditarik-tarik, nanti molor,” omel Sanghyuk pelan. “Now, kiss Mami,” Kedua putranya mencium pipi kanan dan kiri Sanghyuk, lalu menoleh ke arah Jihoon.
“Well of course, boys! Kapan sih Papi pernah nolak dicium?!” Jihoon yang sedari tadi diam memperhatikan kini menggendong Yechan dan Wooje di kedua sisinya – perutnya boleh menggendut, tetapi otot bisep dan trisep Jihoon masih berfungsi kok. Yechan dan Wooje mencium pipi Jihoon diikuti dengan Jihoon menciumi balik pipi mereka, sedangkan Sanghyuk memperhatikan mereka sambil mengelus perutnya.
Di saat yang sama, sang nanny muncul lagi untuk menginfokan bahwa mobil Jihoon sudah dipasangi dengan booster seat dan tas anak-anak sudah ditaruh di dalam mobil. Masih di dalam pelukan Jihoon, Yechan dan Wooje digendong masuk ke row tengah mobil dengan sang nanny duduk di antara kedua booster seat mereka, Sanghyuk di kursi depan, dan Jihoon dibalik setir.
Sanghyuk menoleh ke row tengah. “Koko and Didi ready for your first day of school?”
“Ready!” Jawab keduanya serentak.
—
First day of school, D-Day, Geonwoo
Kelapa Gading, North Jakarta
Suara alarm berbunyi kencang dari telepon genggam pemiliknya. Wangho membuka mata. Kamar tidurnya masih gelap, tetapi sisi ranjangnya kosong. Ia mengecek layar telepon genggamnya – ‘5:45 am? Did I miss the 5:30 one?’ adalah pikiran pertama Wangho. Ia mengedipkan mata beberapa kali; berusaha memahami situasinya dengan pikiran setengah sadar. Maklum, Wangho’s not a morning person. Pikiran kedua Wangho ia vokalisasi dengan teriakan satu kata yang mungkin akan dapat didengar seisi rumah apabila kamar tidur utama tidak dilengkapi dengan dinding kedap suara: “BABE!!!”
Di suatu lokasi lain, sesosok lelaki tinggi berkacamata – satu-satunya yang dipanggil ‘babe’ oleh Wangho – merinding.
✦
Tampilan hunian di kawasan perumahan elit Kelapa Gading itu tampak seperti tipikal penggambaran rumah mewah a la sinetron tahun 2000-an: pilar tinggi, semak-semak yang dibentuk di kebun, mobil Eropa di carport, dan tembok depan dengan dominasi tema warna gading (pun intended). Sang tuan rumah, Park Dohyun, sedang berdiri di depan pagar sambil menunggu sesuatu. Baru saja, bulu kuduknya berdiri – sebuah reflek khusus yang tumbuh setelah sepuluh tahun menjalin hubungan dengan suami kesayangannya – namun Dohyun tidak bergeming. Ia sedang melaksanakan misi yang lebih penting.
Di dalam rumah, terdengar suara pintu kamar dibuka dan ditutup dengan tergesa-gesa. Han Wangho, tuan rumah kedua, tampak sedikit gelagapan. Bukan rahasia bagi semua staf bahwa Tuan Wangho biasanya tidak akan keluar kamar sebelum pukul 9 pagi, tapi hari ini adalah salah satu hari spesial: hari pertama masuk sekolah Tuan Muda Geonwoo.
“Bi?” Wangho memanggil salah satu asisten rumah tangga yang sedang mengepel lantai foyer antara ruang tamu dan ruang rekreasi. “Abis ngepel minta tolong buatin kopi dong. Yang cappuccino. Espresso-nya tiga shot ya Bi. Susunya pake yang almond milk.” Sambil setengah berlari menuruni tangga berbentuk spiral, Wangho tampak celingukan mencari seseorang. “Bapak mana, Bi?”
‘Bapak’ yang dimaksud Wangho tidak lain dan tidak bukan adalah Park Dohyun, yang secara pas memasuki rumah ketika asisten rumah tangga mereka membuka mulut untuk menjawab. “Babe, kamu udah bangun?” tanya Dohyun polos.
A pregnant pause. Pertanyaan Dohyun tergantungkan untuk beberapa detik. Wangho diam, tatapannya tidak percaya. Dohyun diam, tatapannya tidak bersalah. Sang asisten diam, karena semua staf tahu untuk diam saja kalau Tuan Dohyun sudah tanda-tanda akan kena omel Tuan Wangho. Rasanya sang asisten ingin kabur, tetapi masih ada setengah ruangan yang belum selesai ia pel. ‘Duh, Bapak ini ngapain lagi... Pagi-pagi cari perkara...,’ batinnya.
“Babe?! Aku kan kemarin minta dibangunin waktu kamu bangun? Hari ini Baobao first day of school loh. Aku kan kemarin udah bilang mau bikinin bento?! Terus alarm aku kok bisa mati, itu kamu yang matiin apa gimana?” Wangho sampai di anak tangga paling bawah lalu menghentak kakinya frustasi – atau imut, menurut Dohyun.
Dohyun mengeliminasi jarak antara mereka berdua dan meletakkan tangan kanannya di bahu Wangho sambil berusaha menenangkan suaminya. “Babe, tenang dulu,” katanya sambil setengah memeluk Wangho.
“Tenang giman–”
“Babe, first of all, I bought coffee. Triple shot cappuccino, almond milk? From your favorite coffee shop?” Dohyun mengangkat tangan kirinya yang dari tadi menenteng kantong plastik berwarna putih, upaya pertama untuk berdamai. Ia mengecek raut wajah Wangho – sepasang alis indah itu masih sedikit terangkat; oke, penjelasan Dohyun masih belum berhasil melunakkan hati suami. “Tadi aku nungguin abang delivery-nya di depan, babe. Terus iya, aku matiin alarm yang 5:30 soalnya kamu kan kemarin tengah malam baru tidur... I thought you should sleep a bit more. Dan–” Tangan kanan Dohyun turun untuk menggenggam tangan kiri pria yang hendak menyelanya. “Aku udah masukin karaage-nya di air fryer. Tamagoyaki-nya tadi aku minta si Bibi ikutin resep di YouTube terus aku ikut bantu gorengin. Sukses kok nge-gulungnya. Stroberi, pisang, sama mangga udah dipotong-potong. Semuanya tinggal dihias aja, babe. Nanti kamu yang assemble di bento box-nya Geonwoo ya, Laopo sayang...” ia menatap Wangho penuh harap. That’s all his cards on the table.
Raut wajah Wangho langsung melunak. “Babe... You don’t have to do that...” Pria berparas ayu itu mengambil kantong plastik dari tangan suaminya dan mengecek orderan kopi yang dipesan sang suami. ‘Oh, he got my order correct.’ Wangho baru beberapa minggu belakangan ini ketagihan almond milk, sebelumnya ia selalu memilih oat milk. So, for Dohyun to get this new preference is impressive. Ia menatap lagi paras suaminya yang mulai tersenyum penuh harap. Wangho tersenyum balik. Oke, damai. “Laogong, thank you for the extra effort, ya,” ucapnya pelan.
Mereka berdua bertukar pandangan penuh arti. Sang asisten yang sudah selesai mengepel seluruh ruangan hampir sukses kabur dari lokasi sebelum mendengar suara Tuan Wangho. “Bi, kopinya nggak usah ya. Si Bapak udah beliin saya kopi ternyata.” Tuan cantiknya meremas pinggang suaminya lembut. “Minta tolong bilangin Bibi yang di dapur untuk siapin bento box-nya Baobao, tapi biar saya yang nanti tata makanannya ya, Bi. Ini saya bangunin anaknya dulu.” Sang asisten mengiyakan patuh.
Sambil meninggalkan ruangan, ia melihat kedua tuannya naik lagi ke lantai atas – bergandengan tangan, dengan Tuan Wangho sesekali menyodorkan kopinya untuk dicicip Tuan Dohyun. ‘Duh, bapak-bapakku ini bikin gemas deh,’ pikirnya.
Dan apabila pagi ini seluruh staf rumah kebagian tamagoyaki buatan Tuan Dohyun yang gulungannya gagal, biarlah ini menjadi rahasia yang Tuan Wangho tak perlu tahu.
✦
“Good morning, xiao baobei...” Wangho masuk ke kamar tidur putra tunggalnya, diikuti oleh Dohyun. Sekelebat gerakan terlihat dari gundukan selimut dengan motif buah jeruk. “My baobei, my xiao baobei, ready for the first day of school?” Wangho berlutut di sebelah ranjang sambil mengintip ke dalam selimut, sementara Dohyun memilih posisi duduk di kaki ranjang.
“...Mami?” Geonwoo mengintip dari balik selimut. Ia mengusap-usap mata lalu berbalik posisi tidur untuk memeluk Wangho. “Mami, Geonwoo gamau sekolah,” anak laki-laki itu menyembunyikan wajah dibalik pundak Wangho, matanya setengah tertutup poni dan bibir bawahnya mencibir.
“Loh, kenapa, sayang? Seinget Mami bukannya Geonwoo ga sabar pengen cepet-cepet masuk sekolah lagi ya?” Tanya Wangho. Ia memandang ke arah Dohyun, sepasang mata almond itu seakan berkata, ‘Babe, say something.’ Dohyun menatap balik suaminya, otaknya berputar keras. “Uhh, Miss Soobin nanti sedih loh kalo Geonwoo hari ini gamau ke sekolah...?” Akhiran kalimat yang meninggi membuat pernyataannya terdengar lebih seperti pertanyaan. Wangho menepuk dahinya.
“Geonwoo gamau ketemu Miss Soobin! Geonwoo mau sama Mami aja di rumah!” Air mata mulai menggenangi bola matanya yang bulat. Wangho menghapus air mata Geonwoo dengan ujung selimut, sedikit terenyuh dengan seberapa ekspresif wajah anak berusia delapan tahun itu.
“Baobao, tapi kalo kamu ga ke sekolah, gimana kita jemput Wooje? Kayanya kemarin ada yang bilang sama Mami kalo ga sabar playdate sama Wooje ya? Siapa ya yang bilang gitu...?” Pancing Wangho. Menyebut nama ‘Wooje’ membawa perubahan drastis pada muka Geonwoo yang tadinya cemberut. Sepasang mata bulat menatap Wangho. “Mami, Wooje?”
Dari kaki ranjang, Dohyun mengepalkan tangan sambil membisikkan “hwaiting!” – menyemangati suaminya yang sedang berjuang merayu sang xiao baobei.
“Uh huh. Geonwoo lupa kah kalo nanti Wooje sama Koko Yechan mau ikut kita pulang? Mau playdate sama kamu?” Wangho mengelus pipi putranya gemas. Menyebut nama ‘Koko Yechan’ mungkin tidak memberikan efek yang sama untuk sang putra tersayang, but might as well. Melihat situasi sudah cukup aman, Dohyun beranjak membuka tirai jendela.
“Geonwoo lupa…,” bisik putranya pelan, seakan tak percaya bagaimana ia bisa melupakan informasi penting ini. “Mami! Geonwoo lupa mau playdate sama Wooje!” Anak itu tiba-tiba beranjak dari ranjang dan berdiri di depan Wangho yang masih berlutut di sisi ranjang. “Padahal Geonwoo udah ada rencana bikin peternakan unggas sama Wooje!”
‘Peternakan... unggas? That’s new.’ Tawa Wangho tidak terbendung. “Baobei, where did you even learn that word?”
“Dari Koko Yechan. Kata Ko Yechan, anak ayam dan anak bebek itu termasuk unggas. Jadi, Geonwoo ama Wooje mau bikin peternakan unggas.” Geonwoo mengangguk yakin, lalu berlari ke arah kamar mandi. “Mami, Geonwoo mandi dulu. Kita ga boleh telat soalnya Geonwoo perlu diskusi dulu sama Wooje.”
“Diskusi apa pula–” “Perlu Mami bantuin ngga mandinya?” Ucap Dohyun dan Wangho bersamaan.
“Nggak, Mi! Mami tunggu di situ aja, oke!” Teriak Geonwoo dari kamar mandi. Tak lama, suara pancuran air diiringi suara anak kecil menyanyi terdengar dari kamar mandi anak. ‘Ini kak Sanghyuk udah tahu belum yah soal peternakan unggas,’ pikir Wangho geli.
Sementara menunggu sang putra mandi, Dohyun membuka lemari untuk menyiapkan baju seragam putranya, sedangkan Wangho merapikan ranjang dan mematikan sleeping lamp. Pada hari biasa, seorang staf rumah akan menyiapkan seragam dan membantu Tuan Muda Geonwoo berpakaian sedangkan staf lainnya membersihkan kamar tidurnya, namun seperti sudah disebut di awal – hari ini adalah hari spesial.
“Wooje sama Koko Yechan jadi dititipin, babe?” Tanya Dohyun sambil mencari-cari sesuatu. Ia tampak memeriksa setiap baju yang digantung dan yang dilipat, lalu membuka satu per satu laci lemari.
“Iya, Kak Sanghyuk mau check-up. Sampe sore sih katanya, enaknya anak-anak dibawa pulang sini atau diajak kemana, babe? Kamu ada meeting ngga sih, siang ini?” Ucap Wangho tanpa memandang suaminya. Ia sedang merapikan mainan yang dipajang di rak meja belajar Geonwoo sambil memandang beberapa hasil prakarya yang dipigura di dinding.
“Umm, meeting-nya antara sore ke malem, sih. Ketemuan over dinner aja seperti biasa. Anak-anak ntar kamu bawa sini terus sorenya pulangin ke Widya Chandra juga bisa, beb. Kak Sanghyuk check-up di rumah sakit mana? Kasian lah orang hamil disuruh muter-muter Jakarta jemput anak.” Sedikit desperasi terdengar dari suara Dohyun yang biasanya kalem. Wangho menoleh memperhatikan Dohyun. Suaminya telah mengeluarkan separuh isi lemari Geonwoo dalam usahanya mencari sesuatu.
“Aku lupa tanya, tapi bukan pake dokter yang pas zaman hamil Wooje deh. Itu kan sama kaya dokterku zaman Geonwoo dulu. Kayaknya sekarang ada yang better di tempat lain, ntar aku tanyain. Tapi bener kamu bilang, mending kita yang anter– Babe, kamu nyari apa ya dari tadi?”
Dohyun membalik badan, mukanya sedikit bingung. “Anu… Seragam Geonwoo kok ga ada semua ya, babe?”
“Hah?”
“Iya, babe. Baju seragam si Baobao ga ada satupun ini…”
“HAH?”
Another pregnant pause. Mereka saling berpandangan. Wangho diam; tatapannya tidak percaya. Dohyun diam; tatapannya tidak bersalah. Untuk kedua kalinya dalam hari yang masih pagi ini, teriakan satu kata mungkin akan dapat didengar seisi rumah apabila kamar tidur Tuan Muda Geonwoo juga tidak dilengkapi dengan dinding kedap suara. Total dibutuhkan tiga detik memproses informasi sebelum Wangho berteriak: “BAOBEI!!!”
✦
Asal punya usul, malam sebelumnya, Geonwoo sudah merencanakan mau mogok sekolah. In his big-brained moment, Geonwoo memutuskan untuk menyembunyikan seragamnya. Dalam pembelaannya, kalau semua seragamnya ngga ada, Geonwoo kan jadi ngga bisa ke sekolah.
Sayangnya, roller coaster emosi mulai dari dibangunkan Mami dan Papi, merengek tidak mau sekolah, hingga excitement mau bertemu dengan rekan bisnis unggasnya Wooje, Geonwoo lupa di mana ia menyembunyikan baju seragam semalam sebelumnya. Alhasil, hari pertama masuk sekolah pada kediaman keluarga Park Dohyun diwarnai dengan insiden treasure hunt baju seragam Tuan Muda Geonwoo. Pemandangan di mana Papi, Mami, dan semua asisten mencari seragam Geonwoo sementara yang bersangkutan duduk berbalutkan handuk sembari menunggu seragamnya ditemukan akan menjadi core memory bagi Geonwoo.
Wangho memijat keningnya, merasakan kepalanya yang pagi-pagi sudah migrain. “Mami jangan marah, Geonwoo is very sorry,” mohon sang putra sambil memeluknya erat setelah seragamnya ditemukan di dalam rongga resonansi piano di ruang rekreasi. “Mami jangan marah, nanti muncul kerutan halus baru,” goda Dohyun sambil mencium bahunya. Wangho menghela napas panjang, meneguk triple shot cappuccino di tangan kanannya perlahan.
'I’m clearly awake way too early to deal with this ruckus,’ pikirnya.
—
First day of school, D-Day, Suhwan
Senopati, South Jakarta
Suara pintu kamar tidur yang dibuka dan ditutup secara perlahan mengusik sisa-sisa nyenyak Siwoo. ‘Wait, why am I already awake? Alarm belum bunyi n? Masih bisa lanjut tidur berarti,’ benak Siwoo yang masih setengah berada dalam alam mimpi menyimpulkan. Selang beberapa saat, suara beberapa benda yang diletakkan di sebuah permukaan datar kembali mengusik tidur Siwoo. ‘Chanel? Hmm, tapi kayaknya nggak mungkin si Mbok masukin Chanel ke kamar sebelum aku bangun?’ Siwoo memalingkan posisi tidurnya yang tadinya ke arah sisi ranjang – call it hopeless romantic but he likes to go to sleep looking at his husband's gorgeous face – menghadap ke arah sebaliknya.
Siwoo hampir berhasil terlelap kembali sampai ia mencium aroma parfum yang biasa dipakai Jaehyuk. Jari-jari hangat menyibak poni rambutnya dan sebuah ciuman hangat mendarat di dahinya. Satu detik, tiga detik, lalu kehangatan itu hilang. ‘What a nice dream,’ bisiknya sebelum kembali terlelap.
Entah berapa waktu berlalu hingga Siwoo menyadari bahwa mungkin wangi parfum dan ciuman di dahinya bukan sebatas mimpi. Ia membuka mata. Kamar tidurnya masih gelap. Ia melihat jam digital di meja sebelah ranjang – 5:23 am, masih ada beberapa menit sebelum alarm paginya berbunyi. Selagi Siwoo berusaha memahami situasi, suara kloset yang di-flush terdengar, dilanjutkan suara bersin yang familiar. Otomatis, sepasang kaki Siwoo membawanya ke arah kamar mandi. Ia membuka pintu. Terpampang di hadapannya, in all his glory, suami tercintanya Park Jaehyuk.
“Jagi, you… You’re here?” Tanya Siwoo setengah tak percaya. Jelas-jelas ini masih hari Senin – first day of school-nya Suhwannie – Siwoo nggak akan salah hari. Jaehyuk rencananya pulang Rabu malam, penerbangannya akan tiba di Cengkareng International Airport pukul 22:30 pm. Jaehyuk bilang ia akan menggunakan taksi bandara, namun Siwoo sudah berencana berangkat menjemput sendiri (Suhwan mungkin akan ikut sambil ditemani Mbok). Siwoo mengingat-ingat kembali informasi ini. Lalu, mengapa dan bagaimana Jaehyuk ada di hadapannya di hari Senin subuh?
“I’m home, princess,” Jaehyuk membuka lengannya, tersenyum nyengir sambil menunggu Siwoo masuk ke dekapannya. Ia sudah melepas kacamatanya; objek yang bersangkutan berada di sebelah peralatan dental hygiene mereka di meja wastafel.
“Kamu… Kok bisa ada di sini?” Siwoo masuk ke dalam terkaman dekapan suaminya, memeluk erat tubuh kokoh itu. Ia menengadah dan memperhatikan stubble yang mulai tumbuh di dagu Jaehyuk.
“Mm, Mbok yang bukain pintu,” jawab Jaehyuk simpel, menenggelamkan kepala pada bahu Siwoo. Ia memejamkan mata selagi menghirup aroma laundry detergent dari piyama yang dikenakan Siwoo.
Siwoo terkekeh pelan. Ia balik menghirup kemeja Jaehyuk, sedikit menyesal karena lebih tercium aroma jalanan dibandingkan kombinasi aroma natural Jaehyuk dan parfum favoritnya yang begitu disukai Siwoo. “Bukan, babo. Maksudnya kok bisa sudah sampai Jakarta?”
“Ooh,” Jaehyuk melepaskan pelukannya sambil menggaruk kepalanya. “I took an early leave. Kemarin cari flight yang paling cepet aja sampe Jakarta,” jelasnya.
“But why? Emang yang di sana udah bisa ditinggal?”
Jaehyuk menekan kedua pipi Siwoo dengan gemas, lalu mencium bibir yang cemberut itu. “Bisa lah. Konferensi yang bagian marketing udah di hari kedua-ketiga. Sisa bagian operation terus ada sesi networking gitu lah... Technically sih masih berhubungan sama marketing, tapi aku cerita ke Jinhyuk kalo anakku first day of school. Terus kata Jinhyuk aku balik duluan aja gapapa. Kamu inget Jinhyuk kan?”
Siwoo mengangguk sambil memproses informasi – Seo Jinhyuk, Vice President of Operation. Menurut Siwoo, namanya paling gampang diingat dibandingkan rekan kerja Jaehyuk lainnya karena sama-sama berakhiran dengan ‘-hyuk’ seperti nama suaminya. ‘Huh, baik juga dia,’ batin Siwoo. Anyway, stubble ini agak mendistraksi, ya. “Kasar,” komennya sambil mengusap dagu suaminya yang belum bercukur.
“Emang. Dah ah, aku mandi dulu. Princess mau ikut mandi bareng, ga?” Jaehyuk memainkan alisnya sugestif sambil menanggalkan pakaian kotornya.
“Ah, elu mah, jagi. Ntar gak jadi mandi doang dong,” Siwoo mengernyit pura-pura jijik tapi sayang. Ia memukul pantat suaminya sembari suaminya kabur ke bilik shower. “Kamu mandi beneran yang bersih, aku bongkar koper kamu dulu,” kata Siwoo sambil beranjak meninggalkan kamar mandi.
“Lebih bersih dimandiin kamu,” goda Jaehyuk dari dalam bilik shower.
“Mandi yang bener!” Suara Siwoo menggema dari kamar tidur mereka.
Jaehyuk terkekeh. Kemarin malam, dengan restu Jinhyuk, ia tergesa-gesa bertolak ke Beijing Capital International Airport untuk membeli tiket manapun yang dapat membawanya pulang ke Jakarta secepat mungkin. Pagi ini, melihat wajah Siwoo – dan tak lama lagi Suhwan – seperti oasis di padang gurun setelah berhari-hari kehausan. Ah, he’s growing sappy with age.
✦
Suhwan mungkin masih balita – Mama bilang sekarang ia berumur empat setengah tahun, artinya Suhwannie masih berusia di bawah lima tahun – tapi ia punya banyak mimpi. Contohnya, waktu Suhwannie pergi ke kebun binatang bersama kelas Miss Soobin dan melihat koala untuk pertama kalinya, pulangnya Suhwan mimpi makan daun eucalyptus yang dimakan koala yang ia lihat.
Atau sewaktu Mama bilang weekend ini Suhwan boleh playdate ke rumah Geumjae dan main bersama anjing-anjing Geumjae – sorry Chanel, but the more the merrier – Suhwan nggak sabar menunggu hari Sabtu sampai terbawa ke mimpi di mana Suhwan punya enam pasang tangan untuk memeluk Chanel, Doongi, Gureumi, Haneuri, Byuri dan Dari secara bersamaan.
Seperti anak berusia lima tahun – atau, hampir lima tahun – lainnya, Suhwan punya banyak mimpi. Ia sudah bisa membedakan mimpi yang bersifat imajinatif, dan non-mimpi (Papa bilang namanya ‘realita’, tapi menurut Suhwan kata-kata itu susah dilafalkan) yang bersifat, well, realistis. Oleh karenanya, ketika Suhwan terbangun pagi itu dan melihat Papa sedang duduk di samping ranjangnya, pikiran pertama Suhwan adalah: ‘Oh, ini mimpi’. Suhwan tahu bahwa Papa-nya sedang berada di Beijing untuk urusan pekerjaan, dan bahwa Papa baru akan pulang di hari Rabu, yaitu dua hari setelah hari Senin. Bukan bermaksud menyombong, tapi Suhwannie juga sudah belajar tentang hari-hari dalam seminggu. Lagian, sosok ‘Papa’ yang ada di hadapan Suhwannie ini tidak mengenakan kacamata. Papa-nya Suhwannie yang asli kan berkacamata. Jadi, ini pasti mimpi.
Suhwan mengedipkan mata beberapa kali, memperhatikan sosok Jaehyuk yang duduk di tepi ranjang sedang memperhatikan Suhwan balik. Karena ruangan masih gelap dan hanya diterangi oleh sleeping lamp, Suhwan tidak bisa melihat wajah Papa dengan jelas, tapi wow, mimpi kali ini terlihat sangat... nyata. Suhwan mengucek mata, lalu melihat sekelilingnya – hmm, sosok Papa masih berada di tempat yang sama. ‘Papa’ yang ini diam saja, padahal Papa asli Suhwannie kan biasanya berisik. Suhwan mengucek mata, melihat sekeliling, dan mengucek mata lagi, dan melihat sekeliling lagi. Sosok mirip Papa-nya Suhwan masih berada di sana, sekarang raut wajahnya yang sedikit prihatin dapat terlihat walau tanpa penerangan jelas.
Setelah mengucek mata untuk terakhir kalinya, otak Suhwan mulai berputar. Sepertinya ini bukan mimpi, tetapi tidak mungkin juga ini non-mimpi, karena Papa-nya Suhwan tidak mungkin bisa ada di kamar Suhwan pagi ini. Kemarin malam, Papa masih mem-video call Suhwan dan Mama dari kamar hotelnya di Beijing, bahkan menunjukkan city view dari lantai 15 tempatnya menginap. Papa sempat bertanya apakah Suhwan kangen padanya, dan Suhwan membalasnya dengan anggukan pelan. Jadi, tidak mungkin kan, pagi ini Papa Jaehyuk tiba-tiba ada di kamar Suhwan?
Suhwan bingung harus bereaksi apa. Ia tidak melihat Mama, dan little considerate boy Suhwan jarang sekali memanggil orang tuanya ketika ia terbangun sebelum Mama dan Papa membangunkannya. Tapi, ini aneh. Ini bukan mimpi, tapi juga bukan – apa namanya? – realita. Suhwan bingung harus bagaimana. Jadi, ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang ia rasa paling pas untuk situasi seperti ini.
Ia mulai menangis.
✦
Siwoo baru selesai mandi – mandi beneran dan sendirian, mind you – dan sedang mengeluarkan hair dryer dari laci wastafel untuk mengeringkan rambutnya ketika ia mendengar suara yang surprisingly jarang didengar di kediaman mereka walaupun ada penghuni yang berusia hampir lima tahun: suara tangisan anak kecil.
Suhwan bukan anak yang rewel, dan termasuk pendiam untuk usianya – sesuatu yang luar biasa mengingat kedua orangtuanya adalah Jaehyuk dan Siwoo. Suhwan juga sangat pengertian dan relatif pandai mengontrol emosinya: tantrum pada anak balita memang tak dapat dielakkan, namun their little considerate boy jarang sekali tantrum. Plus, Jaehyuk tadi bilang bahwa ia akan membangunkan Suhwan selagi Siwoo masih di dalam bilik shower. Sehingga, Suhwan tidak mungkin masih sendirian di kamarnya.
Oleh karenanya, ketika Siwoo mendengar suara tangisan Suhwan pagi itu, ia berlari.
“APA INI, ADA APA? JAEHYUK, ANAK GUA KENAPA NANGIS!” Teriak Siwoo sambil berlari melewati lorong, sedikit terengah-engah. Oke, Siwoo butuh melatih kardio lebih intens, tapi itu tidak penting sekarang. Dengan mengenakan hanya bathrobe dan rambut yang masih meneteskan air, pemandangan ini mungkin akan lucu di kemudian hari, namun pagi itu tidak ada yang tertawa.
Di dalam kamar, masih dengan lampu yang belum dinyalakan, Jaehyuk sedang menggendong Suhwan yang menangis. Suhwan sendiri seperti tidak mau digendong oleh Papa-nya – meronta-ronta histeris dan berusaha meraih ke arah Siwoo ketika ia melihat Mama-nya. Reflek, Siwoo menangkap Suhwan dan membiarkan anak laki-laki itu memeluknya dalam monkey hug.
“Suhwan kenapa, say?” Bisik Siwoo ke arah Jaehyuk sambil menimang-nimang tubuh kecil itu untuk menenangkan Suhwan. Suaminya sendiri tampak kebingungan – tanpa kacamata dan dengan rambut yang sedikit acak-acakan akibat tantrum Suhwan. Jaehyuk menggelengkan kepala, “Aku diem aja, jagi...?”
Keduanya memandang Suhwan yang sudah berhenti menangis dan tinggal sesenggukan kecil setelah ditenangkan Mama-nya. Jaehyuk mendekat, namun tidak berani menyentuh Suhwan. Siwoo menyentuh pundak putra dalam gendongannya, bertanya lembut, “My handsome boy, what’s wrong?”
“Suhwannie liat Papa... Tapi kan Papa di Beijing ya Ma? Tapi mimpi Suhwannie jelas sekali... Terus ‘Papa’-nya Suhwannie diem aja, padahal kan Papa biasanya berisik, Ma. Suhwannie takut...” Suhwan masih menyembunyikan wajahnya di pundak Siwoo, namun kata-katanya jelas terdengar oleh kedua orang tuanya. Jaehyuk dan Siwoo saling berpandangan. Tangan Jaehyuk membentuk isyarat seakan baru tertembak di dada ketika mendengar pengakuan ‘papa berisik’ dari Suhwan, dan Siwoo memutar mata melihat aksi dramatis suaminya.
“Suhwannie nggak mimpi, sayang. Coba itu dipegang Papa-nya Suhwannie beneran apa engga,” Siwoo memutar tubuhnya agar wajah Suhwan berbalik menghadap Jaehyuk. Suhwan memperhatikan Jaehyuk lama, seperti mengamati entitas tak dikenal. Jaehyuk mendekat untuk memeluk Siwoo (dan sekaligus Suhwan) dari belakang, sedikit membungkuk agar bisa menempelkan dahinya dengan dahi Suhwan. “My precious boy, ini Papa,” bisiknya pelan.
Suhwan meraih dan meraba-raba wajah Jaehyuk; mulai dari mata, hidung, pipi, mulut, hingga dagu Papa yang sekarang sudah bebas dari stubble pasca bercukur. Setelah beberapa saat dalam keheningan, ia melepaskan lingkaran tangannya pada leher Siwoo lalu mengisyaratkan agar Jaehyuk menggendongnya. Dengan sigap Siwoo mengoper putranya ke Jaehyuk, lalu mengamati bagaimana Suhwan langsung ‘meleleh’ dalam pelukan Papa-nya. Jaehyuk tersenyum kecil; mengecup seluruh permukaan wajah Suhwan yang dapat ia akses.
“Lagian tadi ngapain kamu diem aja sih jagi?” Tanya Siwoo ketika momen pelukan antara Jaehyuk dan Suhwan sudah selesai dan mereka bertiga beranjak ke sisi seberang kamar dengan Suhwan duduk di pangkuan Jaehyuk di rocking chair dan Siwoo mengeringkan rambut seadanya dengan handuk Suhwan.
“Aku ga keliatan kalo Suhwan udah bangun, yeobo. Kacamataku ketinggalan di kamar mandi,” jawab Jaehyuk sambil memperhatikan Suhwan yang sedang memegang dan memperhatikan garis tangan kanannya dengan konsentrasi mikroskopis. “Our Suhwannie, Papa minta maaf udah bikin Suhwan takut yah. Papa nggak lihat kalo Suhwannie sudah bangun. Forgive Papa?” Jaehyuk mengerahkan semua kekuatan aegyo-nya untuk menampilkan puppy eyes paling letal.
Suhwan mengiyakan dengan mengangguk pelan. Menyadari sedang diperhatikan Papa dan Mama, anak laki-laki itu melanjutkan, “It’s okay, Papa. Suhwannie misses Papa, jadi kepikiran Papa terus. Kata Miss Soobin, kalau Suhwan kepikiran sesuatu terus-terusan, bisa kebawa mimpi. Suhwannie pikir tadi Suhwan mimpi Papa...” Suhwan menatap Jaehyuk dengan puppy eyes natural dan tidak dibuat-buat yang damage-nya bukan main. Ia meletakkan tangan kecilnya di pipi Jaehyuk. “Suhwannie tadinya sedih because Papa nggak bisa antar Suhwannie first day of school. But you’re here now, jadi Suhwannie senang.” Suhwan berdiri di pangkuan Jaehyuk – “Aduh, hampir kena bagian rawan Papa,” “JAEHYUK DIEM!” – lalu memeluk Papa-nya erat. Tidak mau ketinggalan, Siwoo ikut bergabung dalam group hug mereka di saat yang sama Jaehyuk meraih pinggangnya.
“Ahh, so sentimental,” Gumam Siwoo. “My handsome boy–” ia mengecup dahi Suhwan, “–and my other handsome boy,” ia mengecup dahi Jaehyuk. “I'm so blessed.” Siwoo pura-pura menghapus air mata non-eksisten dengan dramatis.
“I’m so blessed, too,” Gumam Jaehyuk yang membenamkan wajahnya di dada Siwoo.
“Suhwannie is blessed too!” Pekik putra mereka tidak mau kalah. Ketiganya saling berpandangan dan tertawa hangat. Dari ruang tengah tempatnya bermarkas, Chanel sang pomeranian berlari masuk kamar setelah mendengar teriakan Suhwan. “Mama, I think Chanel feels blessed too!” Suhwan melepaskan diri dari pelukan lalu melompat turun dari pangkuan Papa-nya – “Wah kali ini kena beneran ini,” “JAEHYUK!” – dan menggendong Chanel berkeliling kamar.
Siwoo memandang putranya, lalu mengalihkan pandangan ke Jaehyuk. Jaehyuk menatapnya balik. Dalam hening, dua pasang mata bertemu, dan tanpa kata-kata, kedua pemiliknya setuju. We’re so blessed, indeed.
—
First day of school, D-Day, Geumjae
Kebon Jeruk, West Jakarta
Jilatan basah dan lembut pada kakinya yang tidak tertutup selimut menyebabkan Geumjae terbangun. Mengamati sekeliling, ‘Huh, nggak ada Appa atau Eomma?’ Sekali lagi, jilatan hangat, kali ini pada pipi Geumjae. Ah, Doongi. Pomeranian berbulu putih dengan sedikit corak coklat muda itu sudah duduk di samping Geumjae yang masih berbaring; hidung basahnya mengendus permukaan kulit Geumjae yang tidak tertutup selimut dan ekor fluffy-nya bergetar bersemangat.
Geumjae memperhatikan ruangan sambil duduk bersila di ranjang dengan Doongi di pangkuannya. Cahaya matahari pagi sudah mulai menyelinap masuk melalui sisi terjauh dari ranjang yang tirai jendelanya selalu dibiarkan sedikit terbuka oleh Appa agar –quote unquote, “anak emas Appa bisa lihat kalau matahari sudah terbit.”
Di sisi lain ruangan, celah pintu kamar sedikit terbuka. Lampu koridor masih menyala, menandakan siapapun yang telah bangun ketika subuh masih gelap dan menyalakan lampu masih belum sempat mematikannya kembali setelah matahari terbit. Oh, ngomongin celah pintu yang terbuka, pantas saja Doongi bisa masuk ke dalam kamar Geumjae! Makhluk kecil itu sekarang sedang menguap puas sambil menikmati perhatian dari tuannya, seperti bangga telah menunaikan tugas membangunkan tuannya pagi ini.
Aroma semerbak baked goods – cookies? – tercium samar, semakin menghipnotis anak laki-laki berusia 5 tahun itu untuk turun dari ranjang sambil menggendong Doongi, keluar kamar lalu mengikuti sumber aroma menggiurkan tersebut ke arah dapur di lantai bawah. Sebelum sampai di dapur, ia disambut oleh gonggongan excited empat anjing lainnya: Gureumi, Haneuri, Byuri dan Dari. Melihatnya, Doongi melompat turun dari gendongan Geumjae untuk bergabung dengan saudara-saudaranya. Dari dapur, suara Eomma-nya memanggil, “Mashie, udah bangun?”
Mashie, panggilan sayang dari kedua orang tua Geumjae untuknya. Long story short, sewaktu Geumjae pertama kali belajar makan makanan padat setelah disapih, salah satu menu yang dikenalkan padanya adalah mashed potatoes. Appa bilang, Geumjae suka sekali mashed potato dan tidak mau mencoba makanan padat lainnya, hingga Eomma harus menyembunyikan sayuran dan daging dalam hidangan kentang tersebut agar kebutuhan nutrisi Geumjae terpenuhi. Lalu, ketika Geumjae belajar bicara, kata ‘mashed’ adalah salah satu kata pertamanya – setelah Eomma dan Appa, tentu saja – bahkan sebelum ia bisa menyebut namanya sendiri. Sejak itu, Geumjae mulai memanggil dirinya dengan nama ‘Mashie’. Di usia yang ke-5 ini Geumjae sudah pandai mengeja namanya sendiri dan lahap makan berbagai jenis makanan dengan gizi seimbang, namun sampai hari inipun, mashed potato mungkin masih menjadi makanan favoritnya. Hence, the nickname kinda stuck.
Oke, kembali ke situasi pagi ini.
Geumjae masuk ke dapur diikuti dengan suara tapak kaki anjing-anjing peliharaan keluarga Lee, yang berharap besar mendapatkan jatah snack atas dasar meramaikan suasana dapur. Sedikit mengantuk, anak laki-laki itu memperhatikan Eomma yang sedang mengeluarkan satu loyang berisi cookies dari oven dan meletakkannya di samping dua loyang lainnya di island counter. Geumjae berhenti di sebelah orang tuanya dan merentangkan kedua tangannya minta dipeluk. “Good morning, Eomma.”
“Oh, good morning to you too, honey bunny Mashie,” Ryu ‘Keria’ Minseok memastikan loyang panas yang baru ia keluarkan dari oven berada di luar jangkauan Geumjae sebelum ia memeluk putranya dan mengangkatnya untuk duduk di bar stool yang menghadap ke island dapur. “Dibangunin Doongi ya?” Geumjae mengangguk. “Good boy, Doongi!” Puji Minseok sambil memberikan sepotong beef jerky dari toples snack. Doongi menggonggong puas sebelum meninggalkan dapur untuk entah melakukan apa dan di mana. Tak lupa ia memberikan empat potong kecil jerky untuk keempat anjing lainnya – jatah partisipasi meramaikan – yang diterima dengan gonggongan terima kasih sebelum mereka mengikuti Doongi meninggalkan dapur.
Tinggal berdua di dapur, Geumjae memperhatikan tiga loyang cookies berwarna kuning keemasan yang terlihat sangat menggugah selera. “Eomma, cookies-nya buat Mashie semua?” Bisik Geumjae takjub.
Minseok tertawa renyah. “Enggak semuanya lah, nak. Sakit perut kamu ntar. Plus, nanti kan Mashie mau ikut coba-coba pastry sama Om Hyunjoon?” Ia mencubit pipi Geumjae lembut. “You can have one. Sisanya buat Mashie bawa ke sekolah, nanti Mashie bagi ke Miss Eunbin dan temen-temen yah.” Geumjae mengangguk-angguk nurut, prospek bisa makan cookies sebelum berangkat ke sekolah terdengar sangat amat menarik untuknya.
“Tapi cookies-nya mau Eomma hias dulu. Mashie mau bantu Eomma?” Minseok melirik ke arah putranya yang masih belum berhenti mengangguk. “Oke, stop angguk-angguknya. Nanti pusing,” katanya gemas.
Minseok menunjukkan semangkuk icing sugar putih yang sudah dicairkan, dan semangkuk lain sprinkles berwarna-warni. Resep kudapan yang disiapkan pagi ini – sugar cookies, ia dapatkan dari Kak Sanghyuk. Menurut kakak sepupunya, resep sugar cookies ini paling foolproof dan stress-free untuk dihias bersama anak kecil (Yechan dan Wooje) ataupun orang dewasa dengan skill sepantaran anak kecil (sorry, Kak Jihoon). Melihat ini masih pukul 5:30 am – yes, Minseok definitely does not need any kind of stress outside the fact that his husband hasn’t woken up yet.
Minseok menyalakan telepon genggamnya untuk melihat waktu – masih pukul 5:34 am. Lalu ia melirik ke arah Geumjae lagi. Putra tunggalnya sedang memperhatikan mangkuk-mangkuk topping dengan penasaran. ‘Oh well, just the two of us would do,’ pikirnya. “Oke Mashie, let’s get started!”
✦
Waktu sudah menunjukkan pukul 6:05 am ketika suara langkah kaki orang ketiga memasuki area dapur. Minseok sedang memasukkan beberapa biji cookies terakhir ke dalam kantong kertas sedangkan Geumjae yang kembali duduk di bar stool tampak menikmati sugar cookies dengan sprinkles melimpah. Pemandangan hangat yang tidak bernilai bagi Lee Minhyung.
“Appa!” Geumjae memanggilnya semangat begitu anak laki-laki itu melihat ayahnya. “Good morning, Appa!”
“Good morning, golden boy,” jawab Minhyung sambil menggendong Geumjae dan membubuhkan ciuman bertubi-tubi pada kedua pipi lembut putranya. Manis, karena masih ada remah-remah cookies di pipi empuk itu. Ia mendekat ke arah suaminya yang sedang cemberut dengan pandangan yang kurang lebih bermakna antara “oh, akhirnya bangun juga?” dan “jam berapa ini, pak?”. Minhyung sudah ahli mengartikan bahasa tubuh Ryu Minseok.
Minhyung nyengir bersalah. “Hehe, good morning, babe,” sambil mengecup pipi Minseok dan memeluknya dari samping. Yang bersangkutan memutar mata sambil memeluknya balik. “Mmm, good morning. Kemarin streaming sampai jam berapa kamu?”
“Jam 1-an kayaknya? Gak malem-malem banget, kok,” jawab Minhyung. Lee ‘Gumayusi’ Minhyung, salah satu penyanyi ballad ternama ibukota. Sebelum menikah, ia aktif sebagai soloist yang menghabiskan sepertiga dalam setahun pada studio rekaman dan sepertiga lainnya dalam promosi dan konser. Beberapa tahun terakhir, ia lebih banyak mengambil proyek memproduseri album musisi lain, juga streaming minimal sekali atau dua kali dalam sebulan, biasanya update soal musik yang sedang ia produksi, atau sekadar memainkan video game yang menurutnya menarik. Secara teknis, Lee ‘Gumayusi’ Minhyung adalah seorang nepo baby – pengaruh kekuatan keluarga Lee tidak dapat dipungkiri, terlepas dari industri yang berhubungan. But over time, Gumayusi has long shown and proven that he’s rightfully claimed his place in this industry. Puitis, tapi itu cerita untuk lain waktu.
Sejujurnya, kemarin malam ia tidak berencana stream hingga terlalu malam. Setelah menampilkan beberapa potongan audio yang hendak ia sampling untuk proyek musik barunya, Minhyung membuka game Stardew Valley, di mana ia dan Minseok memiliki saved game bersama yang kadang-kadang mereka mainkan ketika ia streaming. Minhyung suka menyebut saved game ini kebun umbi-umbian, karena mereka secara eksklusif menanam potato, parsnip dan carrot di musim semi, radish dan taro root di musim panas, lalu beet dan yam di musim gugur. Terbawa konsentrasi ketika memancing, tak terasa Minhyung telah memainkan Stardew Valley hampir sepanjang dua jam.
Selepas keluar dari game, ia melihat notif YouTube-nya bahwa HideOnHush – channel Kak Sanghyuk – mengunduh video baru. Jadilah ia menghabiskan sekitar 30 menit menonton video bersama penonton stream-nya. Sudah rahasia umum bagi fansnya bahwa ia dan pemilik akun YouTube HideOnHush saling kenal satu sama lain. Meskipun begitu, baik Gumayusi maupun HideOnHush tidak pernah mengkonfirmasi hubungan kekerabatan mereka. “Kak Sanghyuk upload video baru. Pregnancy announcement. Jadi kemarin mau udahan malah nontonin videonya dulu,” jelas Minhyung.
“Babe, ya kurang tidur lah kamu pasti,” tuduh Minseok. Lagi-lagi Minhyung tersenyum bersalah. Terjepit di antara kedua orang tuanya, Geumjae yang sudah menelan gigitan terakhir cookie-nya meronta minta diturunkan. Ia melesat keluar dari dapur begitu Minhyung menurunkannya dari gendongan, most probably mau bermain dengan anjing-anjing. “Mashie main sama doggos ya!” Geumjae setengah berteriak dari ruang tengah.
“Oke, nak! Five minutes, abis itu mandi sama Appa ya!” Balas Minseok dari dapur. Ia melirik suaminya yang sekarang beranjak untuk duduk di bar stool yang tadi diduduki oleh Geumjae. “Kamu yang mandiin Mashie, aku selesaiin bungkusin ini. By the way ya babe, orang-orang tuh emang gak ada yang curiga apa ya, kalo HideOnHush itu punya the Lee Sanghyuk himself?”
Minhyung menggumam pelan. “Kak Sanghyuk sebenernya ga pernah nunjukin wajah dia di video. Terus dia juga ga punya medsos yang gak di-private gitu kan. Sejak dia berangkat ke USA dulu itu, gak banyak yang tau muka dia loh, walaupun anak tunggal Perdana Menteri Lee. Jadinya sih harusnya aman,” takar Minhyung. “Tapi kalo video tentang pregnancy announcement gini, kalau ada netizen yang jeli, memang bisa ketahuan. Atau mungkin aku yang mikirnya kejauhan, babe.”
Minseok bergidik pelan. Mereka berdua tahu jelas bagaimana netizen yang mengaku penggemar – ketika menjadi penyelidik amatir, seringkali dapat menemukan hubungan yang paling disembunyikan sekalipun. Lee ‘Gumayusi’ Minhyung sang ballad soloist dan Ryu ‘Keria’ Minseok sang idola LCK-48 adalah bukti nyata – hubungan backstreet bertahun-tahun yang pada akhirnya ketahuan juga, diakhiri dengan Keria yang tidak memperpanjang kontrak dan mengundurkan diri dari grup idola yang membesarkan namanya. “...Aku jadi kepikiran,” gumamnya.
“Ada yang cocoklogi sekalipun, gak ada yang salah dengan aku saudaraan sama Kak Sanghyuk,” ucap Minhyung meyakinkan. “Dia juga bukan selebriti. Anak tunggal Perdana Menteri Lee, sure, tapi kita sama-sama tahu Kak Sanghyuk dan Kak Jihoon itu yang paling privat diantara kita semua. Wajah cucu-cucu PM Lee aja kayaknya cuma muncul sekali setahun kalau mereka rilis season’s greetings.”
Mereka berdua terdiam sejenak; Minseok mengangguk-angguk pelan selagi Minhyung mengelus lengannya ringan. “Kayaknya aku terlalu overthinking,” bisik Minseok.
“Totally understandable because I know you. Tapi ntar ajak omong aja Kak Sanghyuk biar kamu lega,” saran Minhyung. Minseok mengangguk mempertimbangkan. Mereka berdua lalu melirik jam dinding. “Udah ah, aku mandiin Mashie dulu. Aku sekalian mandi juga,” Minhyung beranjak keluar dari area dapur, tidak lupa mengambil sepotong cookies yang belum dibungkus di nampan, sementara Minseok hanya memutar mata dengan jenaka.
✦
Sewaktu Minseok masuk ke kamar mandi utama untuk mengecek suami dan putranya, ia melihat Minhyung dan Geumjae sedang berendam di bathtub – Minhyung sedang mengeramas rambut Geumjae sementara putra mereka bermain dengan mainan kapal-kapalan sambil berceloteh, entah tentang apa. “...terus di sana Mashie makan bakmi yang rasanya kayak mie instan yang Eomma cuma bolehin Mashie cicip aja, tapi kata Mama-nya Suhwannie bakmi yang ini sehat,” cerita Geumjae. Minhyung hanya menggumam tanda mendengarkan.
“Lagi cerita apa, nak?” Minseok duduk di lantai kamar mandi yang tertutup keset agar bisa sejajar dengan Minhyung dan Geumjae.
“Cerita bakmi di rumah Suhwannie,” jawab Geumjae sambil bermain air. “Rasanya enak banget, Eomma. Kayak mie yang Appa biasanya diem-diem bikin,” Minhyung tersedak pelan mendengarnya. “–Tapi Mama-nya Suhwannie bikinnya dari nol, bukan dari sachet bumbu gitu.”
Minseok menggumam jenaka sambil bertukar pandang dengan Minhyung. Pandangannya kali ini kurang lebih bermakna: “Should we tell him?”. Minhyung mengangguk sambil tertawa, “Mashie tau nggak, Mama-nya Suhwannie itu emang yang racik bumbunya mie instan biasanya yang kamu makan. Makanya kalo diminta recreate pake bahan alami ya dia pasti bisa lah.”
Mulut Geumjae terbuka menganga. Minhyung harus menutup mulut putranya agar tidak kemasukan shampoo. Mama-nya Suhwan, Son Siwoo, salah satu konsultan F&B independen yang memiliki spesialisasi pada masakan Cina dan Korea, memang terakhir bekerja sama dengan brand mie instan yang selalu dibeli Minhyung dan Minseok untuk memproduksi koleksi rasa Asia Timur.
“Mama-nya Suhwannie keren banget...” bisik Geumjae kagum. Minhyung dan Minseok tertawa lepas, memutuskan untuk tidak memberitahu Geumjae satu lagi informasi yang bisa-bisa membuat anak berusia lima tahun itu melongo sampai bulan depan: Bahwa pemilik brand mie instan yang Geumjae suka itu tidak lain dan tidak bukan adalah pamannya sendiri – papanya Koko Yechan dan Koko Wooje, Jeong Jihoon dari Jeong Food Manufacturing Group.
✦
SUV berisi tiga penumpang itu sudah melaju stabil pada tol dalam kota ketika suara penyiar radio menarik perhatian Minhyung dan Minseok. Penyiar tersebut bermonolog: “...Song request berikutnya adalah ‘Until I Found You’-nya Steven Sanchez tapi versi Gumayusi, yang dulu sih gosipnya direkam waktu doi lagi PDKT sama Keria LCK-48. Imut banget gak sih, mereka ini dulu interaksinya cuma kode-kodean pake lagu dan saling like postingan sosmed, eh berlanjut sampai menikah. Without further ado, semoga lagu ini bisa mengobati kerinduan kalian sama suara Gumayusi yah... Please enjoy!”
Alunan spring reverb gitar elektrik disusul dengan suara lembut Gumayusi mulai terdengar dari speaker. Minseok tersenyum sendiri mengingat masa-masa pendekatan mereka dulu – curi-curi pandang saat award show, cari-cari alasan untuk bisa bergabung di social event yang mengundang Lee ‘Gumayusi’ Minhyung, hingga memberanikan diri minta nomor pribadi Gumayusi ketika mereka berdua kebetulan menjadi ambassador salah satu brand pakaian olahraga yang sama.
Ia mencuri pandang – old habits die hard, sue him – melihat suaminya yang sedang mengemudi, yang tersenyum meliriknya balik sebelum kembali melihat ke arah jalanan. Berusaha tetap cool, Minseok meraih tangan kiri Minhyung yang menggenggam persneling (Minhyung suka geli sendiri melihat aksi tsundere Minseok) lalu menempelkan tautan tangan mereka ke bibirnya sebelum mengembalikan tangan Minhyung di persneling, tapi tidak sebelum lelaki itu menggenggamnya lebih erat dan menolak melepaskan tangannya.
Merasa malu menjadi sasaran tatapan intens Minhyung, Minseok memilih menengok ke row tengah, di mana Geumjae yang didudukkan di car seat ternyata sudah setengah terlelap – pipi gembulnya bergetar setiap kali ia berusaha menegakkan kepalanya namun berakhir menunduk lagi dikarenakan rasa kantuk. Minseok tersenyum sayang melihat putra mereka. ‘One day, Eomma will tell you a story of how much your Appa defied all the odds to love me publicly, Mashie...’ Tetapi untuk sekarang, biarlah mereka berdua menikmati alunan suara Gumayusi yang menyanyikan lagu cinta untuk mengetuk hati Keria.
—
First day of school, D-Day
Sekolah Tzu Chi, North Jakarta
Begitu pintu MPV mewah yang mereka tumpangi bergeser terbuka, Wangho harus menarik tangan Geonwoo sekuat tenaga untuk menahan anak laki-lakinya berlari mencari sahabatnya. “Baobei, tunggu. Mami tahu kamu gak sabar, tapi tunggu Mami keluar mobil dulu.” Geonwoo melompat-lompat di tempat sangking tidak sabarnya.
Sigap, Dohyun sudah turun lebih dahulu dari sisi satunya, lalu berputar ke sisi Wangho dan menjemput Geonwoo. Anak laki-laki delapan tahun itu meraih Papi-nya dan melompat turun dari mobil, lalu celingak-celinguk melihat anak-anak berseragam lainnya.
Setelah mengecek rambutnya dan menyemprotkan parfum, Wangho turun dari mobil. Geonwoo sepertinya sudah menemukan Wooje di antara kerumunan orang tua dan anak-anak lainnya yang berdiri di dekat pintu drop off Elementary School, dan mulai menarik tangan Papi-nya begitu melihat Mami-nya sudah siap berjalan. Bertiga, mereka berjalan ke area Wooje dan kedua orang tuanya sedang berdiri.
Di sisi satunya, Wooje yang digendong Jihoon sedang main lepas-pasang-lepas-pasang kancing kemeja outer Sanghyuk (ehem, sebenernya sih punya Jihoon) sambil nyerocos tentang kekuatan superhero dari film kartun yang belakang ia sukai. Yechan sendiri sudah masuk duluan setelah bertemu sohibnya yang Jihoon selalu lupa namanya – “Namanya siapa tadi, love? Lichun? Lee Shin?” “Lixun, love.” – sambil bergandengan tangan dengan si Xun, meninggalkan Papi, Mami, dan Didi-nya di area drop-off.
Wooje masih fokus dengan kancing kemeja Mami-nya, namun Jihoon dan Sanghyuk sudah dapat melihat Geonwoo yang setengah berlari ke arah mereka sambil menarik tangan Dohyun, lalu cukup jauh di belakangnya adalah Wangho yang menolak lari-lari keringetan dan memilih power-walking santai walaupun ketinggalan.
“WOOJE!” Teriakan kualitas teatrikal terdengar dari Geonwoo yang sedang berlari menuju Wooje; tangan kanannya menggenggam tangan Dohyun dan tangan kirinya melambai-lambai menyapa.
Wooje memutar kepala dramatis menuju sumber suara yang memanggilnya, dan langsung minta turun dari gendongan Jihoon begitu melihat Geonwoo. “GEONWOO!” Serunya balik.
Keduanya saling berpelukan erat ketika bertemu, disaksikan oleh Sanghyuk, Jihoon dan Dohyun yang saling bertukar salam dengan anggukan kasual. “Bao, kamu kayak nggak ketemu Wooje bertahun-tahun aja sih...?” Komentar Wangho ketika akhirnya berhasil menyusul ke lokasi pertemuan dua anak laki-laki tersebut.
“Tau nih... Kalian dah denger belum sih soal peternakan unggas?” Tanggap Sanghyuk. Wangho dan Dohyun mengangguk, sedangkan Jihoon menggeleng, sehingga beberapa menit dihabiskan Sanghyuk dan Wangho bersahut-sahutan menerangkan antik kedua anak mereka dan rencana besar mereka ternak anak ayam dan anak bebek kepada Jihoon (“Bisa juga nih love, kapan lagi bisa partner-an sama the Park family themselves lewat jalur peternakan,” komentarnya). Sementara orang tua mereka seru sendiri, Wooje dan Geonwoo sudah selesai dengan reuni akbar mereka dan siap masuk ke dalam.
Wangho membungkuk dan Dohyun berlutut untuk menasihati dan memberkati Geonwoo sebelum memeluk putra mereka, sedangkan Jihoon menggendong Wooje agar eye-level dengan Sanghyuk karena yang bersangkutan sudah tidak boleh (dan tidak bisa juga sih) membungkuk ataupun berlutut. “Didi, be good ya. Have a lot of fun, dengerin omongan Miss-nya. Nanti di rumah Geonwoo juga yang baik ya. Jangan ngabisin snack Geonwoo. Kalau habis mainan harus tidy up. Nanti kalo perlu apa-apa bisa call Mami atau Papi lewat teleponnya miss nanny, oke?” Jelas Sanghyuk panjang lebar sebelum mencium dahi putra bungsunya, diikuti dengan Jihoon yang tidak banyak menasehati namun hanya memeluk erat Wooje sebelum menurunkannya ke tanah.
Bergandengan, sepasang rekanan bisnis unggas di masa depan itu berjalan masuk ke pintu area Elementary School disaksikan oleh orang tua mereka.
“Pagi, Pak Jihoon. Sehat, Pak?” goda Wangho melihat Jihoon yang sedang melamun memperhatikan punggung Wooje sampai sosok anak laki-laki delapan tahun itu menghilang dari pandangan. “Buset, jangan nangis bro. Tisu mana tisu,” timpal Dohyun.
Air mata Jihoon batal merembes, ia jadi ikut tertawa. “Ah elu Kak, terharu gua tuh, masa anak-anak udah gede semua ya, kayanya baru kemarin gua kirim-kirim hampers man yue-nya Wooje dah,”
“Ya bentar lagi kan lo kirim-kirim hampers adiknya Wooje, Hoon,” celetuk Wangho. Sanghyuk lebih memilih jadi penonton aja kalau Jihoon dan Wangho sudah mulai berkelakar, sambil mendekatkan sisi tubuhnya ke sisi tubuh suaminya.
“Elu sendiri, kapan kirim-kirim hampers adiknya Geonwoo?” balas Jihoon sambil otomatis merangkul bahu Sanghyuk.
Wangho tertawa menanggapinya, namun untuk sepersekian detik kedua bola matanya bertemu dengan bola mata Sanghyuk – sebuah rahasia yang ia yakin sahabatnya tak pernah bocorkan, bahkan kepada suaminya sendiri – bahwa Wangho masih takut untuk hamil lagi. Ia dan Kak Sanghyuk memang jadi pregnancy buddy waktu masing-masing mengandung Geonwoo dan Wooje, dan ia pun tahu bahwa Kak Sanghyuk hampir kehilangan Wooje dalam insiden yang akhirnya membuat Jihoon jadi ekstra protektif terhadap Sanghyuk dan putra-putranya, tapi... apa ya.
Kehamilannya dengan Geonwoo memang lancar-lancar saja – ia dan Dohyun tidak pernah berhenti bersyukur untuk hal ini – tetapi anak tunggalnya itu lahir dengan berat badan 5.1kg melalui persalinan normal dari tubuh Wangho yang bisa dibilang kecil. Sangking besarnya Geonwoo pada bulan-bulan terakhir di perut, kerabat dan sanak saudara Wangho dan Dohyun sampai berpikir bahwa ia sedang mengandung anak kembar. Walaupun dipuji glowing sekalipun, Wangho merasa diri jelek ketika melihat pantulan stretch mark-nya di cermin. Paduan faktor emosional dan proses kelahiran traumatis itu yang membuatnya –walaupun suka anak kecil dan sayang sekali pada putra tunggalnya, enggan untuk mengulanginya sekali lagi. Plus, suami spek malaikatnya yang walaupun kadang suka clueless itu selalu memahami dan mendukung pilihan Wangho.
Yah, begitulah kurang lebih origin story Wangho minta dipanggil ‘Mami’ oleh semua ponakan-ponakannya.
Belum sempat ia membalas Jihoon, terlihat empat figur berjalan dari area Kindergarten – dua personil paling ‘lambe turah’ (konotasi positif) menurut Wangho: Ryu Minseok dan Son Siwoo berjalan di depan, dengan suami-suami mereka Lee Minhyung dan Park Jaehyuk mengekor di belakang.
Begitu cukup dekat, Minseok segera mendekat untuk memeluk Sanghyuk, menggeser Jihoon yang terpaksa minggir sedikit untuk memberi ruang. Minseok memang paling favorit untuk dipeluk dan diuyel-uyel, soalnya tampangnya kayak anak anjing hilang (kata Sanghyuk ya, kalau Jihoon yang bilang gitu sih mungkin bisa digeprek Minhyung). “Kak Hyukie! Apa kabar?” Sapa Minseok, yang dibalas dengan “Minseokie! Good, good. Kamu good juga kan? Minhyung?”
Sisa anggota kelompok tersebut saling menyapa satu sama lain – Geumjae, putra Minhyung dan Minseok, serta Suhwan, putra Jaehyuk dan Siwoo adalah teman seumuran, sehingga secara natural hubungan kedua pasangan tersebut cukup rekat karena kedekatan anak-anak mereka.
“Geumjae sama Suhwan udah masuk?” Tanya Wangho pada Siwoo sementara suami-suami mereka saling ngobrol sendiri. Dohyun dan Jaehyuk cukup nyambung ngobrolnya karena sama-sama pernah tinggal dan masih sering ada bisnis di Cina.
“Yoi, masuk bareng tadi. Tweedledee Tweedledum kan, mereka berdua itu,” jawab Siwoo.
“Lah, si Jaehyuk bukannya kata Siwoo baru pulang Rabu, kok udah di sini aja nih Park Jaehyuk?” Celetuk Sanghyuk yang masih dalam posisi setengah berpelukan dengan Minseok. Penjelasan format italik pada kata ‘Park’ ini adalah joke kebanggaan Sanghyuk yang cuma bisa dipakai terhadap mereka dengan marga Park – karena pelafalan ‘Park’ pada nama Jaehyuk dan kata ‘Pak’ yang merupakan kependekan dari ‘bapak’ berbunyi mirip.
Siwoo dan Jaehyuk sama-sama nyengir. “Nge-surprise-in Suhwannie doi tadi pagi, tapi anaknya kaget jadi pake nangis-nangis dulu subuh-subuh,” jelas Siwoo sambil memijat bahu Jaehyuk sementara yang bersangkutan tertawa bersalah.
“Elu aneh-aneh pasti ya, Suhwan kan paling gak cengeng di sini,” tuduh Jihoon.
“Iya, lebih gak cengeng daripada kamu gitu kan, love, maksud kamu?” canda Sanghyuk yang disambut dengan tawa semuanya.
Keempat pasang orang tua itu jadi bergantian cerita antik anak-anak mereka pagi ini, mulai dari Geonwoo yang menyembunyikan seragam di rongga piano (“Bakat menurun tuh anak lu bagian selundupan gini, gak salah anaknya Dohyun Wangho,” “EHHH LOVE, KARTU MERAH!”), Jaehyuk yang dikira hantu oleh Suhwan (“Hahaha emang kayak setan si Jaehyuk,” “Laogong ga boleh gitu, nanti setan yang beneran tersinggung,”) hingga Geumjae yang pagi-pagi udah bantu Minseok menghias cookies (“Eh iya, ayo ini diambil satu-satu, udah aku siapin buat geng lambe turah tercintaku ini,”). Sanghyuk nggak banyak komentar, tetapi dipikir-pikir, first day of school-nya Yechan dan Wooje jadi relatif normal ya dibandingkan yang lainnya – He does not want to jinx it, tho.
“Ntar siang aku sama Minseok makan siang sama Hyunjoon kuadrat,” Minhyung buka pembicaraan ketika ia, Minseok dan Sanghyuk terpisah sendiri sementara Jihoon, Jaehyuk, Siwoo dan Wangho lanjut berkelakar (Dohyun anggota pupuk bawang soalnya dia lebih banyak diam dan cuma menyumbang tawa saja kayak penonton bayaran Inbox).
Hyunjoon kuadrat dijuluki demikian karena anggota ketiga dan maknae dari Trio Kwek Kwek, atlit MMA Moon Hyunjoon atau Jjunie, dua tahun lalu berhasil mencuri hati seorang model dan selebriti papan atas nasional, Choi ‘Doran’ Hyunjoon (“Jjunie peletnya kuat juga ya, love. Boleh nih dukunnya,” “Pak Jihoonie diem gak,” waktu Jihoon dan Sanghyuk pertama kali dikenalkan ke calonnya Hyunjoon). Karena bernama sama, Sanghyuk sebagai kakak tertua memiliki hak prerogatif untuk memberi nama julukan untuk Choi Hyunjoon – karena ‘Hyunjoon’ sudah di-dibs oleh Moon Hyunjoon – beragam dari 'Hyunie', 'Dojunie', hingga yang terakhir sering digunakan adalah 'Ranie'.
“Iya, bilangin sorry ke Ranie ya karena aku ga bisa ikut,” kata Sanghyuk sambil masih berpelukan dengan Minseok.
“Ntar appointment-nya Kak Hyukie jam berapa? Koko sama Wooje pulang sama siapa nanti? Sorry ya Kak, ga bisa jagain Koko sama Wooje hari ini,” cerocos Minseok, raut mukanya menyesal. “Nanti kita langsung ke lokasi abis jemput Mashie, takut kena macet.”
“Jam 11 siang, tapi Jihoon takut macet makanya mau langsung aja. Koko sama Wooje titipin Mami Wangho, biarin lah doi kan seneng diribetin,” jawab Sanghyuk sambil memperhatikan Jihoon dan lainnya yang sedang tertawa kencang – sepertinya Jaehyuk baru saja menceritakan sesuatu yang lucu.
“Ntar langsung kabarin di grup yah boy ato girl-nya,” tagih Minhyung. “Speaking of, itu Ranie belom dimasukin ke grup Trio Kwek Kwek loh Kak,”
Iya, nama grup WhatsApp mereka ‘Trio Kwek Kwek’, walaupun sudah lama sejak isinya lebih dari tiga orang – pasnya ada lima orang, karena Jihoon dan Minseok juga ada di dalam grup tersebut.
(Ada dua diskursus penggantian nama grup, masing-masing ketika plus one mereka ditambahkan ke grup.
Exhibit #1:
“Ini mah di-rename jadi Kuartet Kwek Kwek aja kalo isinya berempat,” Jihoon, ketika pertama kali diundang ke grup ketika masih berstatus anak kuliahan rantau.
“Kuartet Kwek Kwek bukan penyanyi ikonik zaman kita kecil,” jawab Hyunjoon.
“Yang gak bisa nyanyi mending diem dulu,” tambah Minhyung.
“...” Jihoon menunggu Sanghyuk – pacar kesayangan, love of his life, belahan jiwanya – membelanya. Ternyata Sanghyuk cuma membalas dengan emoji jempol. Yah, Jihoon kalah suara.
Exhibit #2:
“Ini isinya berlima kenapa nama grup masih Trio Kwek Kwek?” Minseok, ketika pertama kali diundang ke grup, beberapa tahun setelah Jihoon menikah dengan Sanghyuk.
“Kuintet Kwek Kwek bukan penyanyi ikonik zaman kita kecil,” jawab Hyunjoon.
“Namanya lucuan tetap Trio Kwek Kwek ga sih, Minseokie?” hibur Sanghyuk.
“Gapapa, kamu lebih lucu, sayangku,” Minhyung memang bucin bersertifikat.
“Yang gak bisa nyanyi mending diem aja,” adalah teks yang sudah diketik dan hampir dikirim oleh Jihoon, sebelum dia sadar Ryu ‘Keria’ Minseok adalah idola serba bisa, yang skill-nya tentu saja termasuk menyanyi.
Nasib sih, Jeong Jihoon emang urutan hirarkinya paling bawah di grup ini. Untung dia nomor satu di hati Sanghyuk.)
“Iyaa, kapan sih aku gak langsung kabarin Minhyungie adik tersayangku,” jawab Sanghyuk jenaka. “Soal grup Trio Kwek Kwek, kelupaan deh aku. Soalnya doi udah lama dimasukin di grup lambe turah-nya Minseok,” Enaknya sedang hamil seperti Sanghyuk sekarang ini, ada kelupaan apapun bisa salahin pregnancy brain.
Anyway, grup yang dimaksud berisikan empat personil sebelum Choi Hyunjoon bergabung: Ryu Minseok, Lee Sanghyuk, Han Wangho dan Son Siwoo. Tadinya nama grupnya ‘Lambe Turah’ biar lucu, tapi di-rename jadi ‘Northside’ sebelum Hyunjoon bergabung – takutnya Doran cegek sendiri mau klik join. ‘Northside’ karena mayoritas interaksi mereka berlokasi di sekitar Jakarta Utara, disatukan aktivitas antar-jemput anak-anak mereka yang bersekolah di Pantai Indah Kapuk.
“Kalian udah pada sarapan belom? Aku laper,” celetuk Sanghyuk yang disambut dengan reaksi instan tolehan kepala tujuh orang yang lainnya seperti meerkat menemukan mangsa. “Ngebakmie pasar yuk?”
Kalau Lee Sanghyuk udah ajak makan itu biasanya gak ada yang berani nolak, apalagi jarang-jarang mereka berdelapan bisa kumpul semua gini. Biasanya kan geng Lambe Turah, eh, geng Northside saja yang sering ketemuan. Wangho yang biasanya intermittent fasting aja gak bakal skip kalo diajak sarapan sama Sanghyuk – sudah sering terjadi, Minseok dan Siwoo cuma bisa semangatin Kak Wangho aja.
Berjalan ke area parkiran sambil sibuk koordinasi akomodasi siapa-ikut-siapa (cari parkir di Pasar Modern PIK jam delapan pagi itu susahnya minta ampun), Jihoon berhenti sejenak dan menoleh ke belakang untuk menunggu Sanghyuk. Suaminya tersenyum hangat, meraih tangannya yang terulur. Berdua, mereka siap menghadapi semua.
Termasuk parkiran Pasar Modern dan macet tol Kapuk.
(Gak papa, kata peribahasa sih lebih enak nangis di dalam Lamborghini daripada di dalam angkot.)
—
Whatsapp chat with: Han Wangho
Sent Message: Han Wangho 11:47
Received Message: kak lee sanghyuk 11:54
you used my govt name 11:55
takut tapi ttp percaya diri 11:55
gimana, boy or girl? 11:55
am i being too ahead? 11:56
wkwk gimana gimana, how can i help? 11:57
Sent Message: Hahaha 11:59
Sent Message: Engga, cuma mau tanya 11:59
Sent Message: Anak-anak gimana? 12:00
Sent Message: Koko sama Wooje aneh-aneh ga? 12:00
Received Message: umm tapi kak sanghyuk jangan marah 12:00
rileks aja ya 12:01
tapi wooje nyemplung kolam 12:01
Sent Message: HAAHH?!!? 12:04
Received Message: dibilangin rileks aja >:( 12:04
jihoon itu tolong ditenangin pamilnya 12:04
Sent Message: Aku tenang, itu barusan yg ketik Jihoon 12:05
Sent Message: Habis aku tunjukin meme kucing dari hp ku 12:05
Replying to: Han Wangho
tapi wooje nyemplung kolam
Kok bisa? 12:06
Received Message: main air sama geonwoo wkwk 12:06
ada dohyun sama nanny kita kok, makanya tadi langsung diangkat 12:06
tapi keburu basah semua bajunya 12:06
aku pakein bajunya geonwoo, kegedean tapi gpp lah ya 12:07
abis ini naruh baju aja di sini 12:07
Sent Message: Lah bentar, Koko Yechan-nya di mana? 12:07
Sent Message: Nanny-nya Wooje kemana? 12:08
Sent Message: I'm calm, just internally face-palming rn 💆🏻 12:08
Received Message: koko yechan emang berenang 12:09
ditemenin dohyun 12:09
aku lagi ada tukang pijet tadi 12:10
nanny kalian lagi ke dalem ambilin makan siang anak-anak 12:10
Sent Message: Oke... 12:11
Sent Message: Sedikit speechless, but still calm 🧘🏻 12:12
Received Message: wooje sama geonwoo ditawarin berenang sama dohyun gamau 12:12
katanya mau main air aja di samping 12:12
ehh wooje nyebur 12:12
terlalu secepat kilat tuh anak 12:13
(シ_ _)シ 12:13
Sent Message: ... 12:13
Replying to: Han Wangho
ehh wooje nyebur
Geonwoo ga nyusul nyebur kan? 😇 12:13
Received Message: WKWKWK 12:14
Replying to: You
Geonwoo ga nyusul nyebur kan? 😇
puji tuhan enggak ( ´ ꒳ ` ) 12:15
sisanya aman terkendali 12:15
Sent Message: Barangkali terlalu two peas in a pod 😌 12:17
Received Message: wkwkwk 12:17
all under control ;) 12:18
sooo, a boy or a girl? 12:18
Sent Message: Haha belom tau 12:20
Sent Message: Istirahat makan siang 12:20
Sent Message: Ini kita lagi di kantin 12:20
Sent Message: Ntar aku kabarin di grup aja sekalian 12:20
Replying to: You
Ntar aku kabarin di grup aja sekalian
okeh!! so exciting! 12:20
ditunggu! 12:20
(๑˃ᴗ˂)ﻭ 12:21
Sent Message: 👍🏻👍🏻👍🏻 12:21
—
A group chat called:Northside ☕
with: Choi Doran, Han Wang…
Sent Message: 👋🏻 13:17
Received Message from:Han Wangho
( ´ ▽ ` )ノ 13:18
Received Message from:Son Siwoo
memantau 😎🔍 13:18
Received Message from:Ryu Minseok
Kak Hyukie! 13:19
Ini kita lagi cobain pastries-nya 13:19
Enak semua kok 13:19
Aku sih no complaints 13:19
EH 13:19
SORRY OOT 😖 13:19
JADINYA PONAKANKU CEWE ATO COWO? 13:19
Received Message from:Choi Doran
Siang semua 13:20
Barusan disuruh Minseok check handphone 😄 13:20
Siap menunggu kabar baik ☺️🙏🏻 13:20
Received Message from:Son Siwoo
hyunjoon kaku amat 13:21
santai aja, di grup ini isinya orang gesrek semua kok 😌 13:21
Received Message from:Han WanghoReplying to: Son Siwoo
santai aja, di grup ini isinya orang gesrek semua kok 😌
ingin marah tapi bener 12:31
anw, gimana kak sanghyuk! 13:22
( ´ ▿ ` ) 13:22
Sent Message: Drumroll dulu dong 👂🏻 13:22
Received Message from:Ryu Minseok
🥁🩷🤍🩵🥁 13:22
Received Message from:Son Siwoo
🕺🥁💃 13:22
Received Message from:Han Wangho
🥁🥁🎉🎉 13:22
Received Message from:Choi Doran
🥁🥁🥁☺️🙏🏻 13:22
Sent Message: Kalian ini drumroll yang normal aja gitu gak bisa ya 😄 13:22
Sent Message: So 13:22
Sent Message: Apparently 13:22
Sent Message: We're having 13:22
Sent Message: Another boy! 😎👍🏻 13:22
Received Message from:Han Wangho
omg a new didi for didi wooje! 13:22
⸜( ´ ꒳ ` )⸝ 13:23
congrats kak sanghyuk and jeong jihoon! 13:23
Received Message from:Son Siwoo
congratulations kak! 💙🎉 13:23
@Han Wangho you owe me one 🫴🏻 13:23
Reactions: 💀
Sent Message, replying to: Son Siwoo
@Han Wangho you owe me one 🫴🏻
Kalian taruhan apaan deh 🧐 12:23
Sent Message: Hahaha 13:23
Received Message from:Ryu Minseok
Aaahhh Kak Hyukie!! 🥳 13:23
Another boy! Koko-kokonya banyak nih 🤩 13:24
Temen mainnya mashie nanti! 😆 13:24
Received Message from:Choi Doran
Congratulations, kak Sanghyuk 🥹 13:24
Sorry lagi kita nikahannya pas kak Sanghyuk 8-bulan 👉🏻👈🏻 13:24
Sehat terus yaa kak Hyuk dan baby boy 🥺🙏🏻 13:24
Sent Message: @Ryu Minseok another boy, ahh! Kamu aja deh ntar yang bring in a girl into the Lee family 😏👍🏻 13:24
Sent Message, replying to: Choi Doran
Sorry lagi kita nikahannya pas kak Sanghyuk 8-bulan 👉🏻👈🏻
Apaan sih Ranie, no worries! I like wedding organizing and I know my limit, tenang aja 😎👍🏻 13:25
Sent Message: Kalo Jihoonie mah dari dulu emang protektif gitu 😁 13:25
Reactions: 🙂↕️3
Received Message from:Han WanghoReplying to: You
Kalian taruhan apa deh 🧐
yang tebakannya salah bayarin grocery shopping :'^) 13:25
ayo deh sekalian minggu depan aku traktir hot pot 13:26
lagi semangat buang duit nih gua 13:26
Received Message from:Son Siwoo
brb cari supermarket yang jual emas batangan 🤑 13:26
Reactions: 💸
Received Message from:Ryu MinseokReplying to: Son Siwoo
brb cari supermarket yang jual emas batangan 🤑
Mana ada! 😩 13:26
Received Message from:Choi Doran
Kalian lucu-lucu ya 😂 13:26
Gak sabar anterin anak sekolah terus ikutan nongkrong bareng kalian 🥺🙏🏻 13:27
Received Message from:Son Siwoo
hyunjoonie emojinya beneran konsisten kayak anak magang nge-chat supervisornya ya 🙈 13:26
Sent Message: Kalo lagi nganggur ikutan aja ke PIK, ga perlu nunggu anak, Ranie 13:27
Sent Message: Besok bubur seafood di Muara Karang pada mau ga? 13:27
Reactions: 👍🏻2
Sent Message: Tapi aku doain Jjunie tokcer biar Ranie cepet isi 😎👍🏻 13:27
Received Message from:Han Wangho
aminnn (ノ´ヮ`)ノ*: ・゚ 13:28
Received Message from:Son Siwoo
never in my book gua bayangin bakal doain biji lain selain biji laki gua tapi aminnn semoga hyunjoonie cepet jadi emak-emak PIK 🤺 13:28
Received Message from:Ryu Minseok
🤞🏻🤞🏻 🕯️🕯️ 13:28
Received Message from:Choi Doran
Thanks all 🥺🙏🏻 13:28
Received Message from:Han Wangho
yaampun si ranie emojinya tetep dong 13:28
▓▒░(°◡°)░▒▓ 13:28
gws banget 🙏🏻 13:28
—
A group chat called:Trio Kwek Kwek
with: Jihoonie 😻, Lee Min...
Sent Message: 😎👋🏻 13:23
Received Message from:Moon Hyeonjoonie
🫡🫡🫡 13:23
Received Message from:Lee Minhyungie
🐻👋🏼 13:23
♀️❓ 13:23
Sent Message, replying to: Lee Minhyungie
♀️❓
🙂↔️❌ 13:24
Received Message from:Moon Hyeonjoonie
♂️⁉️ 13:24
Sent Message, replying to: Moon Hyeonjoonie
♂️⁉️
🙂↕️💯 13:24
Received Message from:Moon Hyeonjoonie
🥳🥳🥳🫂🎉 13:24
@Jihoonie 😻 🫵🏼🫂🎉 13:24
Received Message from:Lee Minhyungie
🥳🎉🎊 @Jihoonie 😻 13:24
Sent Message: @Lee Minhyungie @Moon Hyeonjoonie 🙂↕️🫶🏻 13:24
Received Message from:Jihoonie 😻
😎 13:24
😭🕶️🤏🏻 13:24
🥹🙏🏻 13:24
Received Message from:Lee Minhyungie
Hahahah jihoon 🤣 13:25
Received Message from:Ryu Minseok
Seru deh mantauin group ini 😭 13:25
Received Message from:Jihoonie 😻
Boleh kaan emoji game gw 😎 13:25
Sent Message: Boleh lah, love. Almost father of three kan? 😉 13:26
Received Message from:Jihoonie 😻
Lovee 😚❤️ 13:26
Received Message from:Moon Hyeonjoonie
ewgh kaga bisa dikasih kendor dikit 🤢 13:26
Received Message from:Ryu Minseok
Makanya jadi anak, Joon 13:26
Received Message:Kalo lo, jadi apa coba? 🤪 13:26
Reactions: 🤣3
Received Message from:Moon Hyeonjoonie
gw kan belom halal!! 13:26
Sent Message, replying to: Moon Hyeonjoonie
gw kan belom halal!!
Halah, as if it has stopped both of you! 13:26
Reactions: 💀3
Received Message from:Ryu Minseok
Kak 🤣💀 13:27
Received Message from:Lee Minhyungie
🚨🚨🚨 13:27
Received Message from:Jihoonie 😻
Keren banget my loml 😭👍🏻 13:27
Sent Message: Di-scroll ke atas juga masih ada tuh Jjunnie tanya-tanya destinasi romantic getaway 🙂↕️ 13:27
Sent Message: November tahun lalu 13:27
Received Message from:Ryu Minseok
#menolaklupa ☺️🫶🏻 13:28
"Gais kalo trip Italy berdua itu cuma Paris doang cukup ato sekalian aja keliling kota lain?" 13:28
"Candlelight dinner pake nightview Eiffel Tower itu overrated ga sih?" 13:28
"Gais menurut kalian kalo gw tambahin Paris Disneyland di itenerary itu bakal bikin my Hyuniebee ilfeel ga?" 13:28
Received Message from:Moon Hyeonjoonie
✋🏼😓🤚🏼 13:29
gw ke paris kan gak harus romantis-romantisan tujuannya 13:29
Reactions: 🤔
Received Message from:Ryu Minseok
Ya tujuannya apa kalo bukan itu? Coba gw tanya 13:29
Pesen hotelnya 2 kamar atau 1 kamar? 🤨 13:30
Received Message from:Moon Hyeonjoonie
kan bisa aja gw efisiensi biaya biar bisa lebih lama liburannya 13:30
Received Message from:Lee Minhyungie
Kalo iya pesen 1 kamar cuma krn efisiensi biaya 13:30
Ayo coba dispill itu kamarnya yg 2 single beds ato yang 1 king bed? 😎 13:30
Sent Message: 🫳🏻🎤⬇️ 13:30
Received Message from:Moon Hyeonjoonie
...✋🏼😭🤚🏼 13:30
eh, udah dong 13:31
gw udah sogok anak2 kalian pake suvenir disneyland sekoper ya?! 13:31
Received Message from:Jihoonie 😻
Ya kan anak-anaknya doang, bro 13:31
Ortunya kagak lu sogok 😗 13:31
Received Message from:Lee Minhyungie
Kita dibayar dengan ucapan terima kasih doang 😇🙏🏼 13:31
Sent Message: Dan dengan foto-foto liburan mereka 😇👍🏻 13:32
Received Message from:Ryu Minseok
Wkwkwkwkwkwkwk 13:33
Joonie, udahlah nyerah aja 💀😭 13:33
Received Message from:Moon Hyeonjoonie
🏳️🏳️🏳️✋🏼😫🤚🏼 13:33
this is unfair 13:33
a slander❗ 13:33
a one-sided, losing battle‼️ 13:34
my loml isnt even here to defend me 😞😞😞 13:34
Sent Message: Oh iya, kelupaan terus! 13:36
Sent Message: Aku invite Ranie ya? 13:36
Received Message from:Ryu Minseok
Tunggu dulu, kak! 13:36
Kita harus siapin Jjunie dulu 13:37
@Moon Hyeonjoonie Kalo kak Ranran udah diinvite kesini, lo harus jaim dikit ya bro 13:37
Jangan suka fotoin doi diem-diem terus dikirim kesini cuma buat bilang "gais pacar gw lucu banget plis pegangin gw" 13:38
Jangan ngechat kesini tiap kali kak Ran ngambek 13:38
Jangan terlalu bucin 13:38
Received Message from:Jihoonie 😻
Jangan salah sebut nama malah nama mantan #menolaklupa 13:39
Reactions: 💀2
Received Message from:Lee Minhyungie
Intinya jangan terlalu badut sih bro 13:39
Received Message from:Moon HyeonjoonieReplying to: Ryu Minseok
Kalo kak Ranran udah diinvite kesini, lo harus jaim dikit ya bro
iyeee 13:39
Received Message from:Moon HyeonjoonieReplying to: Ryu Minseok
Jangan terlalu bucin
lah ini pak jihoonie nya kak sanghyuk apa kabar? 🤨 13:39
Received Message from:Ryu MinseokReplying to: Moon Hyeonjoonie
lah ini pak jihoonie nya kak sanghyuk apa kabar? 🤨
Exactly, yang itu udah terlanjur 13:39
That's why we don't need another one 🙏🏻 13:40
With all due respect 🤧🙏🏻 13:40
Received Message from:Jihoonie 😻
Why am i catching strays 🥲 13:40
Sent Message: Hahahaha 13:41
Received Message from:Lee Minhyungie
Siap ya bro? @Moon Hyeonjoonie 13:41
Reactions: 👍🏼
Kak Hyuk, udah siap tuh. Silakan di-add kesini si lucu kesayangannya Jjunie 🙂↕️ 13:42
Lee Sanghyuk added Choi Doran.
Received Message from:Ryu Minseok
Haaaai kak @Choi Doran! 👋🏻 13:44
Sent Message: Welcome, welcome 😎 13:44
Received Message from:Jihoonie 😻
Hewwii 👋🏻 13:44
Received Message from:Lee Minhyungie
Welcome, kak Dojunnie 🙌🏼 13:44
Received Message from:Choi Doran
Haiii Minseokie, Kak Sanghyuk, Jihoon, Minhyung 😊🙏🏻 13:44
Received Message from:Moon Hyeonjoonie
hello my loml 😎 13:45
welcome to my crib 13:46
aku habis dibully disini, tolongin aku dong 😭🕶️🤏🏼 13:46
Received Message from:Ryu Minseok
Baru juga dibilangin apa 💀 13:46
Received Message from:Choi DoranReplying to: Moon Hyeonjoonie
hello my loml 😎
Wkwkwk jjuniebug 🫰🏻 13:49
Btw ini grup isinya 6 orang kenapa namanya masih Trio Kwek Kwek ya? 13:49
Received Message from:Jihoonie 😻
"Sektet Kwek Kwek bukan penyanyi ikonik zaman kita kecil" gak sih templatenya? @Moon Hyeonjoonie 13:50
Reactions: 🤣
Sent Message: Pak Jihoonie waited literal years for this moment 😂 13:51
Reactions: 🙏🏻
Received Message from:Moon HyeonjoonieReplying to: Jihoonie 😻
Sektet Kwek Kwek bukan penyanyi ikonik zaman kita kecil gak sih templatenya?
jihoon diem dulu 13:52
gapapa hyuniebee, kamu mau nama grupnya diubah jadi gitu aja kah? 😘 13:52
Reactions: ⁉️4
Received Message from:Jihoonie 😻
Woyyy 👹 13:53
Received Message from:Ryu Minseok
Ealahh gak ketolong ini pak dokter 😭😭💀💀 13:53
Received Message from:Lee Minhyungie
Atlit MMA kebanggaan kita semua ternyata selembek kulit spring roll begitu kena air 😮💨 13:54
Sent Message: @Choi Doran being his water is kinda poetic sih 13:56
Sent Message: Tapi 'Trio Kwek Kwek' lebih lucu ga sih, Ranranie? 🥰 13:56
Received Message from:Choi Doran
Eh iya sih, kak Sanghyuk. Lebih lucu Trio Kwek Kwek 😁🙏🏻 13:56
Aku ngikut aja 🥰 13:57
Received Message from:Moon Hyeonjoonie
kamu tetap yang paling lucu kalo buatku, hyunibee 😎🫶🏼 13:57
Received Message from:Choi Doran
Ah jjuniebug bisa aja ☺️ 14:00
Received Message from:Ryu Minseok
Terharu banget 😭😭😭 14:01
Akhirnya tiba saatnya Joonie bisa panggil-panggilan sayand di group ini dan dibales 14:01
Say liat ini say @Lee Minhyungie 14:02
Aku berasa melihat anak burung mengepakkan sayap untuk pertama kalinya dan meninggalkan sarangnya 14:02
Anak penyu menetas dan merangkak kembali ke lautan 14:02
Received Message from:Lee Minhyungie
Hahahaha 🤗 14:03
Received Message from:Jihoonie 😻
Ini maksudnya gue udah boleh konten bucin lagi ya? 14:04
Received Message from:Lee Minhyungie
Hoon elo mah udah sejak day 1 join group sampe sekarang blm berubah bucinnya 🤗🙏🏼 14:04
Received Message from:Jihoonie 😻
😿😿😿 14:04
Sent Message: Sabar ya my love 14:05
Sent Message: Aku suka kok dibucinin sama kamu 🥰👍🏻 14:05
Received Message from:Jihoonie 😻
😍 14:05
Received Message from:Moon HyeonjoonieReplying to: You
Aku suka kok dibucinin sama kamu 🥰👍🏻
😮💨 14:05
Received Message from:Ryu MinseokReplying to: You
Aku suka kok dibucinin sama kamu 🥰👍🏻
😮💨 14:06
Received Message from:Lee Minhyungie
😂 14:06
Received Message from:Choi Doran
☺️ 14:06
Received Message from:Moon HyeonjoonieReplying to: Choi Doran
☺️
😎💪🏼 14:07
Received Message from:Lee MinhyungieReplying to: Moon Hyeonjoonie
😎💪🏼
😮💨 14:07
—
Notes:
Fic title is a play on words from the name of Upper East Side, a posh, wealthy neighborhood in New York (thanks for this info, Gossip Girl), and this title in particular is taken from the lyrics of this song.
Anyway, entah perlu disclaimer atau tidak, but SMASH (Shin Geumjae) is featured in this fic as Guma and Keria's son. In actuality, I'm 100% DOFGK, but at the same time, I'm against people hating (even villainizing) him. So, if you're player SMASH's anti, this fic would most probably not bring you joy. Kisah ini adalah fiksi yang tidak harus merepresentasikan realita, tapi kembali lagi, read whatever brings you joy and avoid whatever does not. 🤗
WhatsApp work skin is taken from this guide. It's very versatile and relatively easy to use!
Chapter 2 #FunFakt
✨ Sanghyuk's father is Prime Minister Lee (I know Indonesia is not led by a PM but for the sake of the plot let's imagine it is. Also, being a president of this country --- even fictional -- kinda sucks in 2025 #iykyk and I wouldn't put my characters in such tomfoolery.
✨ “Bibi” is one name to call the housemaid, literally translates to “auntie”. There are several names to call your housemaid, most commonly “Mbak” (Javanese word to address an older sister but culturally shifted as a nickname used to address women, whether younger/older than the speaker). “Bibi” (auntie), “Ibu” (maam), and “Mbok” (maam) are more respectful nicknames to address older house staff/maids.
✨ “Bǎobǎo” (宝宝) and “bǎobèi” (宝贝) literally translates to "treasure" or "baby." It's a commonly used term of endearment for young children. Similarly, “xiǎo bǎobèi” (小宝贝) means "little treasure" or "little darling” with an added emphasis on cuteness.
✨ Wangho calls Dohyun “lǎogōng” (老公) that means “husband” in Chinese, based on Viper’s nickname by Chinese fans. Vice versa, Dohyun calls Wangho “lǎopó” (老婆) meaning “wife”.
✨ Jaehyuk and Siwoo call each other a variation of “jagi” (자기) or “yeobo” (여보) both are terms of endearment in Korean. This part is actually canon. When in private, Jaehyuk calls Siwoo “princess”, “kitten”, and “baby”. Their default way of calling Suhwan – beside Suhwannie – is formulated as: “my/our” + “(any positive adjective possible)” + “boy”, based on how prehistoric Jaehyuk called Siwoo “Lehends handsome boy” when they duo-ed together.
✨ Choker is predominantly a "love" household, while Minhyung and Minseok uses every possible endearments to each other. Guke calls Geumjae "mashie" (canon explanatory), "golden boy" (from "Geum" 금 meaning gold or golden), and "nak" (common way to address your kid; short of "anak" which means "child" in Indonesian).

Sky (Guest) on Chapter 1 Wed 12 Feb 2025 05:22PM UTC
Comment Actions
eggmiso on Chapter 1 Thu 13 Feb 2025 05:23PM UTC
Comment Actions
ohmyyoujustbitme (orangecatlover) on Chapter 1 Wed 12 Feb 2025 06:06PM UTC
Comment Actions
eggmiso on Chapter 1 Thu 13 Feb 2025 05:30PM UTC
Comment Actions
screamingceline on Chapter 1 Thu 13 Feb 2025 01:46AM UTC
Comment Actions
eggmiso on Chapter 1 Thu 13 Feb 2025 05:39PM UTC
Comment Actions
Lovenot4sale on Chapter 1 Thu 13 Feb 2025 04:23AM UTC
Last Edited Thu 13 Feb 2025 04:24AM UTC
Comment Actions
eggmiso on Chapter 1 Thu 13 Feb 2025 05:42PM UTC
Comment Actions
dollfoot on Chapter 1 Fri 14 Feb 2025 10:28AM UTC
Comment Actions
eggmiso on Chapter 1 Mon 17 Feb 2025 11:41AM UTC
Comment Actions
dollfoot on Chapter 1 Tue 25 Feb 2025 04:57PM UTC
Comment Actions
eggmiso on Chapter 1 Sun 13 Apr 2025 02:56PM UTC
Comment Actions
dollfoot on Chapter 1 Thu 17 Apr 2025 09:17AM UTC
Comment Actions
anchovys on Chapter 1 Sat 15 Feb 2025 03:42PM UTC
Comment Actions
eggmiso on Chapter 1 Mon 17 Feb 2025 11:43AM UTC
Comment Actions
suisuivat on Chapter 1 Sun 30 Mar 2025 03:13AM UTC
Last Edited Sun 30 Mar 2025 03:14AM UTC
Comment Actions
eggmiso on Chapter 1 Sun 13 Apr 2025 01:37PM UTC
Comment Actions
ohmyyoujustbitme (orangecatlover) on Chapter 2 Sat 29 Mar 2025 04:27AM UTC
Comment Actions
eggmiso on Chapter 2 Sun 13 Apr 2025 01:56PM UTC
Comment Actions
dezechoria on Chapter 2 Sun 30 Mar 2025 06:24PM UTC
Comment Actions
eggmiso on Chapter 2 Sun 13 Apr 2025 02:43PM UTC
Comment Actions
lavachobi on Chapter 2 Sat 05 Apr 2025 01:53PM UTC
Comment Actions
eggmiso on Chapter 2 Sun 13 Apr 2025 02:45PM UTC
Comment Actions
dollfoot on Chapter 2 Sun 20 Apr 2025 02:29PM UTC
Comment Actions
Leoismine on Chapter 2 Wed 03 Sep 2025 10:41AM UTC
Comment Actions