Work Text:
Bau tajam besi menusuk indra penciuman, debu tebal beterbangan buat sesak dan halangi pandang, bunyi ledakan dan jeritan orang-orang buat telinga berdengung cipta pening pada kepala. Di tengah kekacauan itu, seseorang berlari menembus asap dan reruntuhan bangunan. Tubuh babak belur penuh luka hanya dibalut jubah hitam untuk samarkan identitasnya di gelap malam. Pedang yang sudah patah digenggam erat, seolah itu jadi satu-satunya alasan ia masih bisa langkahkan kaki. Napas kian memburu akibat buruknya udara di sekitar buat langkahnya kian terseok. Satu ledakan besar di belakang buatnya tersentak. Dengan jantung berdegup tidak karuan ia tolehkan kepala. Hanya untuk dapati istananya hancur lebur. Ledakan itu beri dampak beruntun pada wilayah di sekitarnya. Dari tempatnya berdiri saat ini ia bisa lihat dengan jelas bagaimana istana yang jadi tempat tinggalnya selama dua puluh tahun hidup itu runtuh. Ia lihat bagaimana kota yang jadi tempatnya bermain berubah jadi lautan api dalam sekejap. Ia lihat dengan mata kepala sendiri rumahnya diporak-porandakan. Kampung halamannya, kerajaannya, planetnya, malam ini dibuat rata dengan tanah.
Pemuda itu remas dada yang terasa sesak luar biasa. Mata keemasan miliknya pantulkan pemandangan penuh duka atas bagaimana rumahnya dihancurkan. Bulir-bulir air mata mengalir basahi kedua pipi penuh debu dan luka yang masih basah. Perih akibat luka terbuka yang terkontak langsung dengan udara tak sedikitpun dihiraukan. Karena hatinya diserang bertubi-tubi dengan luka duka tanpa ampun. Malam masih panjang tapi riwayat planet miliknya telah tamat. Perjalanannya sebagai raja diputus paksa bersamaan dengan planet yang dulunya begitu asri kini menjadi serupa neraka.
Musuh begitu keji dan tak punya hati. Kendati jantung kerajaan telah hancur tak bersisa. Robot-robot dan armada perang mereka tak henti luncurkan serangan ke segala arah, berniat hancurkan apapun yang ada di jarak pandang. Hanya menunggu waktu hingga mereka sampai di bukit tempatnya sekarang. Maka dibawalah kaki dengan gontai melangkah. Tak jauh dari sana sebuah kapal luar angkasa kecil menunggu. Begitu masuk sistem segera ambil alih luncurkan kapal ke udara, dengan mode kamuflase kapal itu berhasil sempurna hindari radar musuh. Di dalam sana, seorang diri, Sang Raja tatap rumahnya dari balik kaca. Iris keemasannya yang biasa cipta pendar penuh percaya diri kini kehilangan cahayanya. Bersama dengan kehancuran buminya, jati dirinya direnggut paksa tanpa sisa.
Pesawat luar angkasa membawanya melintasi ruang angkasa lepas. Tunggangi kecepatan cahaya wahana itu melesat bawa pemiliknya membelah lapisan atmosfer. Planetnya, Bumi, planet pertama tempat tinggal umat manusia, planet yang ekosistemnya hancur oleh penghuninya sendiri, planet yang ditinggalkan ratusan tahun lalu oleh penghuninya setelah dibuat rusak sisakan segelintir manusia yang bertahan di sedikit wilayah layak huni. Kini kisahnya berakhir, dengan penghancuran massal kerajaan manusia terakhir di bumi, bumi resmi ditinggalkan 100% umat manusia. Satu orang tersisa, Dice, yang beberapa saat lalu masih menyandang gelar Raja Planet Bumi, terpaksa mengembara tanpa tujuan di ruang hampa setelah segala miliknya direnggut paksa. Dice, dengan tatapan kosong saksikan planetnya makin menghilang ditelan jarak. Sampai akhir dia tak sekalipun alihkan pandang, semua penyesalan dan rasa bersalah dibiarkan menumpuk dalam dada. Dengan sekujur tubuh yang masih dibalut darah dan peluh, aroma bubuk mesiu dan asap menguar dari jubah compang-camping, Dice sekarang ini tak ubahnya mayat hidup.
“Pengecut.”
“Raja macam apa yang tinggalkan rakyat dan planetnya untuk kabur.”
“Seharusnya kau ikut hancur bersama mereka, menyedihkan.”
Surai navy miliknya dicengkram erat sebagai bentuk pelampiasan atas rasa frustasi yang membludak. Air mata kembali mengalir tanpa bisa ditahan. Tubuhnya yang sudah tak miliki sedikitpun tenaga maupun asa bersandar pada dinding besi kapal pasrah. Kekehan sarkas mengudara setelahnya, disambung tawa lepas menggelegar dan menggema isi sepi. Ia tertawakan nasibnya. Ia tertawakan diri sendiri, “Kau memang tidak pantas jadi raja, Dice.”
***
Sudah jadi rahasia umum kalau distrik hiburan lebih hidup di waktu malam. Lantas di planet yang tak mengenal pagi ini artinya distrik hiburan beroperasi sepanjang waktu. Tidak ada kata istirahat di surganya para penggiat malam. Deretan kasino, motel, dan bar dari yang terlihat biasa saja sampai yang bangunannya semewah istana berjajar. Ramai orang berlalu-lalang urus urusannya masing-masing. Kendati di tengah jalan ada pria yang tiba-tiba muntah pun tak seorangpun tengokkan kepala. Semua sibuk kejar tuntaskan hasrat duniawi di tempat yang sediakan segalanya ini.
Di tengah hiruk pikuk dunia malam, seseorang menyatu dengan kerumunan. Jubah hitam miliknya sempurnakan penyamaran di balik malam. Dengan lihai ia menyelinap di sela orang-orang. Gerakannya halus dan cepat. Terlampau cepat sampai tak satupun orang sadari mereka yang bahunya bertabrakan dengannya telah kehilangan barang berharga. Orang itu kemudian menghilang bersama gelap di ujung gang dengan rampasan di tangan.
“Lumayan, jarang orang-orang di distrik ini punya barang berguna.”
Ia kini tengah berada di sebuah kedai kecil menghitung barang rampasan. Tidak setitikpun khawatir memamerkan barang curian karena kedai ini adalah titik kumpul untuk orang-orang sepertinya. Para pencuri ulung yang ditakuti bahkan oleh planet-planet besar, mereka menyebutnya suku bandit. Di balik keahliannya mencuri, mereka punya keahlian penyamaran di atas rata-rata. Lidah mereka pun sama lihainya dengan tangan mereka, buat para bandit menduduki peringkat atas dalam mencari informasi dan bernegosiasi. Ditambah karena tinggal di lingkungan yang keras, secara alami mereka punya kemampuan bertarung yang mumpuni untuk 1 lawan 1. Karena itu ketimbang disebut bandit mereka bahkan layak dipanggil assasin .
“Kau punya banyak barang bagus hari ini, Gentaro. Berniat menjualnya?”
Atensi sang pemuda, Gentaro, yang semula berada pada sekumpulan barang di meja teralihkan kala seseorang mengambil tempat di seberangnya. Dari luar kedai ini tampak seperti kedai minum biasa tapi sejatinya tempat ini adalah tempat transaksi para bandit. Mulai dari jual beli informasi sampai transaksi barang rampasan. Dan orang di depannya ini adalah Magnus, pemilik kedai. Jarang melihatnya datang ke kedai jadi ketika seorang Magnus secara langsung memberinya penawaran, Gentaro tak punya alasan untuk menolak.
“Yah, sepertinya mereka punya cukup banyak uang setelah pesta panen besar-besaran di planet sebelah.” Keduanya terkekeh sejenak sebelum Gentaro melanjutkan. “Pemilik sudah repot-repot datang ke tempat kotor ini tidak mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan, kan? Jadi, Tuan Pemilik, berapa tawaranmu?”
“Dasar, kita sudah lama tidak bertemu dan kau masih tidak suka basa-basi.”
“Tapi Tuan Pemilik sendiri yang bilang menyukai sikap kurang ajar saya ini. Benar?”
“Ya, benar, kau selalu menang Gentaro jadi berhenti memanggilku Tuan Pemilik.” Dari nada bicaranya Magnus kentara sekali jengkel. “Kau bicara seolah kita tidak dekat. Jangan memberi jarak pada hubungan dengan kakakmu, dong.”
Tawa Gentaro mengudara setelahnya, senang kala sukses buat Magnus jengkel. “Jadi, Kakak, berapa koin emas yang bisa kau tawarkan pada adikmu ini?”
“5 koin emas dan 15 koin perak.” ucap Magnus ketika selesai memindai seluruh barang. Dari barang-barang di sana ia menempatkan perhatian lebih pada sebuah liontin. Tentunya hal itu tidak lepas dari perhatian Gentaro.
“10 koin emas.”
“Adikku, kau tau barang rampasan tidak berharga setinggi itu.”
“Kalau begitu 5, silakan ambil semua kecuali liontin ini.”
Magnus tersentak sejenak sementara Gentaro tersenyum tenang. Yang lebih tua sadar ia dipermainkan, tapi ia sangat menginginkan liontin itu.
“7. Aku tidak bisa memberi lebih. Kau tau sendiri aku sedang mengembangkan bisnis baru.”
“Tidak bisa, tawaranku masih sama.”
Melihat Gentaro tak mau mengalah, Magnus keluarkan sesuatu dari sakunya. “Kalau begitu untuk semua barang aku tukar dengan ini. Bagaimana?”
Netra emerald Gentaro membulat, yang ada di tangan Magnus itu adalah tiket masuk ke distrik kelas atas. Sekedar informasi para bandit tinggal di distrik kelas bawah dan hanya sedikit yang bisa menyusup ke distrik kelas menengah seperti sekarang. Lebih sedikit lagi yang pernah masuk ke distrik kelas atas tempat tinggal para bangsawan.
Meneguk ludah kasar Gentaro menjawab, “Tiket itu dan 5 koin emas.”
“Astaga, kau sudah gila?” Kali ini Magnus meninggikan suara, tapi seperti yang diprediksi Gentaro tak sedikitpun gentar. Maka dengan berat hati dilayangkanlah tawaran terakhir. “Tiket dan 3 koin emas.”
“Deal.” Di luar dugaan Gentaro menyetujui dengan cepat. Niatnya kalau Gentaro menolak yang ini Magnus akan pergi saja tapi ternyata yang lebih muda sangat paham dengan permainannya. Bahkan wajah anak itu berseri-seri sekali. Yah, dia memang baru memenangkan tangkapan besar sih dengan memeras kakaknya.
Transaksi selesai dengan Gentaro mengantongi satu tiket distrik kelas atas dan sejumlah koin. Tanpa membuang waktu ia lantas keluar dari kedai, meninggalkan Magnus yang sibuk mengemasi barang. Sebelum sepenuhnya berlalu ia berkata, “Aku bukan adikmu. Jadi berhenti main rumah-rumahan, Tuan Pemilik yang Terhormat.”
“Astaga dinginnya, kau berhutang padaku, bocah!”
Sayangnya Gentaro memang anak kurang ajar seruan Magnus hanya dibalas juluran lidah mengejek.
***
Setelah berkelana tanpa tujuan di angkasa luas, Dice mendarat di sebuah planet. Lebih tepatnya dipaksa mendarat karena bahan bakar pesawatnya habis. Dice tidak tau banyak tentang alam semesta dan planet-planetnya, seumur hidupnya ia gunakan mengabdi untuk merevitalisasi bumi. Yah, meski sekarang tidak berguna karena buminya dihancurkan. Keluar dari pesawat Dice tidak punya tujuan. Maka dibawalah kakinya melangkah tanpa arah. Sepanjang jalan ia banyak melihat tempat-tempat hiburan malam. Malahan bisa dibilang sejauh mata memandang ia hanya temui motel, bar, dan kasino. Ia kemudian masuk ke salah satu kasino. Meneguk segelas bir dalam sekali kesempatan dan dengan bujuk rayu barista ia coba jajal keberuntungan di mesin judi. Ia tidak pernah tau berjudi semenyenangkan ini. Mungkin karena sudah tidak punya apapun, ia berani bertaruh tanpa takut kehilangan. Maka malam itu, Dice, Raja Planet yang Jatuh, habiskan dengan alkohol dan permainan judi.
Cukup lama Dice ‘bermain’ di kasino itu. Waktu yang cukup untuk membuatnya diusir lantaran terlalu mabuk dan membuat keributan. Namun bukannya malu Dice bahkan masih bisa tertawa keras setelah diusir. Seumur hidupnya mungkin ini adalah kali pertama ia bisa bebas melakukan apapun. Terlahir sebagai satu-satunya penerus kerajaan buat ia dibebani ekspektasi tinggi sejak kecil. Semua yang dilakukan adalah demi rakyat, demi kerajaan, demi bumi. Walau hidup sebagai pangeran sangat ketat, bukan berarti ia tidak suka. Ia berteman dengan hampir semua orang istana, mulai dari pelayan hingga prajurit. Di tengah jadwal sibuk terkadang ia akan menyelinap keluar dan pergi ke kota. Ingatan bermain dengan anak seusianya di akademi juga muncul ke permukaan. Entah karena mabuk atau apa tiba-tiba perasaan melankolis itu muncul kembali. Kesepian. Di kasino tadi ia tak punya waktu pikirkan perasaan karena adrenalin dari berjudi mengambil alih. Tapi sekarang ketika ia sendiri, realita menghampiri. Fakta bahwa ia sendirian tanpa seorangpun dikenal di galaksi luas buat ia merasa kecil. Takut. Apa yang harus dilakukan selanjutnya? Sedari lahir hidup Dice itu sudah jelas akan menjadi raja. Yang ia lakukan selama ini hanya mengikuti alur yang dibuat orang dewasa. Jadi ketika kehidupannya direnggut dan dipaksa berubah dalam satu malam ia tak tau harus apa.
Tanpa sadar ia sudah berjalan terlalu jauh. Gemerlap lampu-lampu bar yang mencolok menghilang digantikan sorot lampu yang lebih redup. Alih-alih deretan kasino yang ada di hadapannya adalah perkampungan kumuh. Pusing akibat mabuk buat ia terpaksa bersandar di bangunan terdekat. Walau penuh coretan dan jelas sekali kotor untuk raja sepertinya, tubuh tetap dibawa terduduk karena pusing semakin parah. Sakit yang memuncak di kepala buat ia abai pada keadaan sekitar. Bahkan tak sadar ketika seseorang mendekat.
“Wah, sepertinya kita kedatangan tamu penting di sini.” Sosok itu berjongkok untuk menyesuaikan tinggi dengan Dice. “Benar begitu, Raja?”
Kesadaran Dice seolah ditarik kembali. “Darimana kau tau?”
Sosok itu, Gentaro, terkekeh pelan sebelum berujar, “Anting itu, walau terlihat biasa saja, aku ingat adalah tanda bangsawan orang bumi. Lalu,” Gentaro bergerak menyingkap jubah Dice yang masih tidak berdaya. “Bordiran ini adalah corak turun temurun para raja di Bumi. Kau beruntung tidak banyak orang tau soal Bumi, Yang Mulia. Kalau tidak kau pasti sudah jadi mangsa empuk para bandit.”
“Tunggu, bandit?”
“Ya, selamat datang di distrik kelas bawah Planet Nyx. Kerajaannya para bandit.”
Dice mematung di tempat. Ia jelas tau bandit adalah suku yang berbahaya. Menyadari lawan bicaranya ketakutan Gentaro justru tersenyum puas. Bayangan memanfaatkan kenaifan sang raja buat dia diam-diam terhibur.
“Lalu…Apa yang akan kau lakukan padaku?”
Belum sempat sang bandit menjawab sebuah suara dari jauh menginterupsi, “Yo, Gentaro! Butuh bantuan di sana?”
Dari intuisinya Dice tau dia adalah bandit yang lain. Dan apapun itu konotasi bantuan yang ditawarkan pasti bukan hal baik.
Gentaro itu tidak suka diganggu. Apalagi ketika sedang bermain-main seperti ini. Maka dilayangkanlah tatapan tajam yang buat orang itu seketika hentikan langkah tanpa berani mendekat lebih jauh. “Aku duluan yang menemukannya. Jadi dia milikku. Dan tidak aku tidak mau berbagi.”
Begitu pengganggu pergi Gentaro melanjutkan, “Entahlah, bagaimana menurutmu, Yang Mulia? Haruskah aku melepaskan mangsaku? Tapi kau lihat sendiri tidak ada jaminan bandit-bandit lain tidak akan menyergapmu.”
Melihat Dice kembali tenggelam dalam pikirannya buat Gentaro dalam hati bersorak. Dia tidak berniat langsung menghabisi Sang Raja seperti yang sudah-sudah. Bertemu seorang raja yang tengah mabuk di wilayahnya sendiri adalah jackpot yang tidak datang kapan saja. Maka Gentaro sang ahlinya dalam mengambil kesempatan sudah bulatkan tekad. Ia akan memeras Dice untuk waktu yang lama. Walau dari planet yang terlupakan dia tetap seorang raja, Gentaro yakin bisa dapatkan banyak hal jika berhasil jatuhkan sang raja dalam genggaman. Setidaknya itu yang ia pikir.
Di luar perkiraannya Dice justru tertawa lepas. “Tuan Bandit, kau salah orang. Tidak ada yang bisa kau dapatkan dari raja yang kehilangan planetnya.” Dice lantas mendekati Gentaro yang masih berjongkok di hadapannya dengan seringai meremehkan. “Selain apa yang menempel pada tubuhku sekarang aku tidak punya apapun lagi. Jadi, tidak ada yang bisa kau manfaatkan dariku.”
Setelah mendorong kasar bahu Dice yang tampak masih terkekeh, Gentaro tarik kerah pakaiannya. Ia seret jubah Dice tanpa perasaan buat yang diseret susah payah samakan langkahnya. Keduanya kemudian memasuki sebuah rumah. Setelah menendang pintu kayu itu kasar Gentaro segera hempaskan Dice ke lantai. Karena efek alkohol yang masih tinggi bukannya mengaduh Dice justru kembali terkikik.
“Akhirnya kau akan membunuhku, ya, Tuan Bandit?”
“Tutup mulutmu. Aku tidak suka bernegosiasi dengan orang mabuk.”
Belum sempat kembali membuka mulut sebuah pukulan telak dilayangkan ke ulu hati pria yang tengah mabuk. Dengan sekejap buat Dice sepenuhnya ambruk tidak sadarkan diri. Gentaro, sang pelaku, mengusak rambutnya kasar. Perapian dinyalakan sementara tubuh Dice yang menghalangi ditendang menepi. Gentaro tidak tau apa yang membuatnya sampai repot-repot membawa Dice ke kediamannya alih-alih langsung merampok dan membunuhnya, seperti biasa. Jelas-jelas pria itu sendiri yang mengaku planetnya sudah hancur dan dia kehilangan segalanya. Tapi entah kenapa dia berpikiran bahwa Dice bisa berguna suatu saat, biar bagaimanapun dia dulunya raja. Selama ini instingnya tidak pernah salah, sudah berkali-kali dia selamat dari bahaya karena ikuti nalurinya. Maka kali ini Gentaro kembali percaya, bertaruh pada pria mabuk yang kini tengah tidak sadarkan diri.
“Yah, kalau akhirnya dia tidak berguna aku tinggal membunuhnya.”
***
Dice terbangun dengan kepala berdenyut hebat. Masih dalam keadaan berbaring di lantai dingin tanpa alas ia berusaha mengingat. Lamunannya terhenti kala mendengar suara pintu terbuka, seorang pria dengan rambut coklat yang masih basah keluar dari sana. Menyadari tawanannya sudah bangun Gentaro lantas mendekat. Disodorkannya secangkir air yang diterima ragu-ragu oleh Dice.
“Jadi, kapan kau akan membunuhku?”
Pertanyaan Dice sontak buat Gentaro tergelak. “Kau sangat ingin mati rupanya.” Jeda sejenak digunakan Gentaro untuk amati lamat-lamat penampilan pria di depannya. Satu kesimpulan yang didapat adalah bahwa ia sudah melepas segalanya dan rela mati kapan saja. “Bagaimana kalau aku bilang aku tidak akan membunuhmu?”
“Kalau begitu aku tinggal berkeliaran dan menunggu bandit lain melakukannya. Kau bilang ini wilayah para bandit kan? Pasti tidak akan sulit.”
“Dasar seenaknya sendiri. Tak peduli meski kau adalah raja dari planet yang jatuh, kami para bandit punya prinsip sendiri, Yang Mulia. Lagipula tidak ada yang bernafsu membunuh orang yang sudah tidak punya semangat hidup.”
Dice di hadapannya tampak berdecak sebal. “Tch, kalau begitu berhenti memanggilku Yang Mulia. Aku Dice.”
“Oke, Dice. Ketimbang membunuhmu aku punya penawaran. Tidak bisa biarkan kepala seorang raja terlepas sia-sia di tangan bandit kan?”
Diamnya Dice dianggap sebagai persetujuan, maka Gentaro segera beberkan rencana. “Bekerjalah di bawahku. Hargamu sebagai raja mungkin sudah hilang tapi kau masih punya nilai sebagai manusia. Lalu kalau kerjamu bagus, siapa yang tau mungkin di masa depan aku putuskan akan membunuhmu?”
“Tuan Bandit yang Terhormat suka hal yang merepotkan ternyata.”
Gentaro terkekeh kecil sebelum menjawab, “Aku benci barang sekali pakai. Jadi lebih baik aku peras kegunaan apa yang kupunya sampai ke titik terakhir.”
“Oke, lakukan semaumu Tuan-”
“Gentaro.”
“Baiklah, Gentaro, apa pekerjaan pertama untuk budakmu hari ini?”
Gentaro tunjukkan senyuman yang kontan buat Dice curiga. Manik keemasan miliknya memicing berusaha artikan sorot tatapan dari emerald. “Pertama buatkan aku teh.”
“Hah?” Dice jelas kebingungan. Karena Gentaro seorang bandit ia pikir perintah pertamanya adalah pekerjaan seperti merampok atau memata-matai orang. Tapi apa katanya tadi? Membuat teh?
“Iya, buatkan aku teh khas tempat asalmu. Aku dengar bumi punya olahan teh khas. Aku belum pernah coba yang asli dibuat orang bumi. Jadi, tolong buatkan ya, Dice-chan.”
“Hoi, apa-apaan panggilan itu!”
“Eh, bukankah chan semacam suffix di tempatmu?”
Dice menutup wajahnya yang memerah. “Kau benar tapi bukan begitu cara penggunaannya, Sialan! Jangan panggil aku dengan embel-embel chan lagi atau akan kupatahkan lehermu itu!”
Jangan harap Gentaro takut. Ancaman kosong seperti itu justru buat ia makin tertarik. Ditambah reaksi Dice yang menurutnya sangat menghibur. Sepertinya menjahili Dice akan jadi agenda baru favoritnya.
“Kalau begitu perintah kedua, ajarkan aku bahasamu.”
“Boleh. Tapi tunjukkan dulu di mana dapurmu aku mau menyeduh teh.”
Sisa hari itu dihabiskan dengan Gentaro yang memberikan perintah-perintah remeh dan gerutuan Dice akibat celetukan jahil Gentaro tiap lima menit sekali. Di luar dugaan mereka bisa beradaptasi dengan keberadaan satu sama lain dengan baik. Keduanya tampak lebih hidup. Seolah Dice tidak baru saja kehilangan planetnya kemarin malam, seolah rumah Gentaro memang aslinya sehangat ini.
***
“Dice, kau bisa bertarung?”
“Pertanyaan macam apa itu? Aku dulunya raja. Pikir sendiri mana ada raja yang tidak bisa membela diri.”
“Apa senjata yang biasa kau gunakan?”
“Pedang tentu saja. Bagaimana kau bisa tidak tau padahal katana adalah senjata khasnya orang bumi. Katanya bandit informan andal?”
“Dice, sejak kapan kata-kata mu jadi setajam ini…”
Empunya yang buat kesal justru makin berulah dengan julurkan lidah. Gentaro di lain sisi hanya bisa hela napas berat. Paham benar jika dia tersulut Dice akan makin menjadi-jadi. Maka dia putuskan abai dan fokus pada tujuan utamanya memulai pertanyaan tadi.
“Kita, lebih tepatnya aku, dapat permintaan.” Gentaro ulurkan gadget yang tampilkan serangkaian kalimat dan beberapa gambar. “Dia minta selidiki Planet FP-57. Detailnya sudah ada di situ kau bisa baca sendiri.”
“Ya? Lalu apa hubungannya denganku?”
“Terlalu banyak bersih-bersih buat otakmu ikut bersih tanpa sisa ya? Kau harus ikut selesaikan permintaan ini tentunya.”
“Oh, bagus, aku sudah muak hanya disuruh bersih-bersih dan memasak. Kapan kita berangkat?”
Gentaro mengetuk-ngetuk meja di hadapannya beberapa saat sebelum menjawab. “Paling cepat 5 hari lagi. Aku masih harus pastikan rute keberangkatan kapal ruang angkasanya.”
Dari sudut matanya Gentaro bisa lihat Dice mulai bersemangat. “Tapi sebelum itu kita harus berlatih. Bersiaplah Dice mulai hari ini aku tidak akan menahan diri.”
“Heh, coba saja kalahkan Raja Planet Bumi ini Tuan Bandit.”
***
Seminggu berlalu dan kini keduanya tengah berada di tengah hiruk-pikuk kabin kapal ruang angkasa. Dice dengan wajah pucatnya genggam erat fabrik jubah Gentaro. Kapal yang mereka tumpangi bukan kapal legal, pastinya diisi berbagai macam orang. Dice bahkan bisa cium dengan jelas bau darah yang menguar dari penumpang lain di sebelahnya. Ruangan ini cukup besar tapi dengan banyaknya massa terasa sangat sesak.
“Kau takut?”
“Tidak!”
“Oke, Tuan Pemberani, sekarang berhenti menempel padaku seperti lalat.” Sejurus kalimat itu diucapkan Dice segera lepas genggaman. Undang tawa kecil yang lebih tua. Baginya ketakutan Dice kentara sekali. Wajar mengingat ini pertama kalinya ia bepergian dengan transportasi ilegal. “Setelah ini kita akan pindah kapal. Ikuti aku jangan sampai tersesat.”
Setelah berpindah kapal beberapa kali akhirnya mereka sampai di tujuan. Tidak ada lapangan lepas landas di planet ini, karenanya Dice dan Gentaro diturunkan di sebuah gunung menggunakan tangga yang tersambung dengan kapal. Dice, yang baru pertama kali mengalami wajahnya sudah pucat pasi. Bukan dia takut ketinggian, tapi siapa yang tidak ngeri harus menuruni tangga yang salah satu ujungnya tersambung dengan pesawat yang masih menyala sementara ujung yang lain tergantung bebas. Ditambah kencangnya angin buat tangga tidak stabil. Beruntung Gentaro sepertinya sudah cukup berpengalaman, ia mengambil langkah duluan sehingga sekarang ia berada di anak tangga yang lebih rendah. Begitu turun dengan selamat, sesuai dugaan, Gentaro menertawai wajah pucatnya. Tapi Dice di sisi lain sudah tidak ada sedikitpun tenaga untuk membalas. Sejujurnya dia mati-matian menahan mual.
“Haruskah kita istirahat dulu? Wajahmu sudah sepucat mayat.” Dice hanya bisa mengangguk lemas menanggapi.
Maka dengan langkah gontai ia mengikuti Gentaro yang sibuk sendiri mencari tempat beristirahat. Setelah menemukan tempat yang sekiranya aman dan cukup hangat, ia mengisyaratkan Dice untuk duduk sementara dirinya sendiri berjaga. Tidak butuh waktu lama untuk Dice terlelap, dia terlampau letih bahkan untuk menunggu Gentaro menyiapkan segelas air.
Singkat cerita setelah beristirahat kurang lebih satu jam Dice sudah kembali bugar. Kini ia tengah menghangatkan diri di depan api unggun dan mengunyah sepotong cokelat bar sembari mendengarkan Gentaro menjabarkan rencana mereka.
“Permintaan klien adalah untuk dapatkan pecahan kristal dari planet ini. Menurut data, kristal itu ada di dalam labirin sana. Labirin itu, kau bisa lihat kan?” Dice ikuti kemana arah jari Gentaro menunjuk dan temukan sebuah labirin besar membentang di dataran rendah.
“Ya, tapi apa istimewanya kristal dari planet yang membeku ini?”
“Secara statistik energi dari kristal ini adalah salah satu yang paling murni dan mudah diekstrak. Tapi jarang diperjualbelikan mengingat sulit didapat. Ingat kabarnya planet ini dihuni seorang ilmuwan gila kan?”
“Ilmuwan yang katanya terlalu terobsesi dengan penelitian sampai menjadikan rekan-rekannya kelinci percobaan itu?”
“Benar. Bahkan katanya dia sangat teritorial. Jadi akan sulit menembus labirin itu.” Gentaro menoleh kala Dice tak memberi tanggapan. Pandangannya lurus ke arah labirin sekaligus tempat yang katanya merupakan tempat tinggal sang ilmuwan. “Ada apa?”
“Bukan apa-apa. Hanya saja, tinggal sendiri di planet sedingin ini. Aku tidak bisa bayangkan rasanya. Pasti kesepian.”
“Simpan simpati yang tidak perlu itu. Orang waras tidak akan mengorbankan rekan-rekannya jadi kelinci percobaan.”
“Yah, di bagian itu kau benar juga. Jadi, pertama-tama apa yang harus kita lakukan, Ketua?”
***
“Dice! Arah jam 7!”
“Roger.”
“Aku akan masuk. Kau jaga bagian belakang.”
Belum sempat Dice menjawab, Gentaro sudah menerjang ke depan.
“Tch, selalu seenaknya sendiri.”
Akhirnya meski setengah hati Dice tetap laksanakan perintah. Menjaga Gentaro dari belakang. Hasil latihan mereka 5 hari ke belakang tidak mengkhianati. Walau ini pertama kali keduanya turun langsung bertarung bersama, dua orang itu bisa mengimbangi gaya bertarung masing-masing. Baik Dice maupun Gentaro punya kemampuan adaptasi yang bagus, hal itu jadi faktor utama mereka bisa bersinergi dengan nyaris sempurna di waktu sesingkat ini. Pasukan robot berhasil dikalahkan.
Tepat sebelum mereka injakkan kaki lebih dalam ke pintu masuk labirin, terdengar raungan keras dari dalam gelapnya lorong labirin. Mengetahui pertarungan belum selesai keduanya mengambil posisi siaga. Dan benar saja rombongan para robot kembali datang, kali ini lebih banyak. Dice dan Gentaro kompak bertukar pandang.
“Wah, sepertinya pemilik tempat ini tidak akan membiarkan kita masuk dengan mudah.”
“Haha, apapun itu kita hanya harus hancurkan semuanya!”
***
Di sisi lain, jauh di jantung labirin, seseorang diam-diam mengamati Dice dan Gentaro yang tampak mulai kelelahan setelah hadapi total tiga gelombang pasukan robot buatannya. Netra serupa aquamarine cemerlang miliknya berkilat dari balik kacamata. Di balik tatapan datar itu terlihat sedikit percikan emosi. Kali ini kesal. Sudah lumayan lama sejak tamu tak diundang bertandang ke planetnya. Sang ilmuwan paling benci diganggu, oleh siapapun itu tanpa kecuali. Maka dibuatlah mekanisme pertahanan di gerbang masuk labirin untuk cegah siapapun merangsek masuk ke istananya. Dan kali ini pun ia yakin barisan pertahanannya pasti sanggup halangi penyusup yang hanya dua orang itu.
Merasa keberadaan keduanya bukan ancaman, sang ilmuwan, Ramuda, alihkan atensinya pada hal lain. Ia keluar dari ruang kendali dan kembali ke tempatnya paling banyak habiskan waktu, laboratorium. Dengan cepat ia hanyut dalam penelitian. Tangannya terampil pindahkan senyawa dari satu wadah ke wadah lain untuk direaksikan. Dengan peralatan-peralatan mutakhir hasil rakitannya sendiri ia jalankan macam-macam eksperimen. Mulai dari mengekstrak material dan merancang robot hingga percobaan yang melibatkan makhluk hidup.
Ramuda sudah banyak dapat penghargaan atas pencapaiannya. Tapi entah kenapa ia tak pernah merasa puas. Jiwanya selalu meraung meminta diberi asupan ilmu pengetahuan yang lebih dan lebih lagi. Perasaan lapar inilah yang buat ia mengikuti proyek penelitian di planet yang membeku ini. Bersama dengan sepuluh orang rekan dimulailah eksplorasi planet tersebut. Planet yang belum pernah disentuh peradaban itu dijadikan markas para peneliti. Nama FP-57 yang merupakan kode proyek mereka pun kemudian dijadikan nama planet ini sebagai bentuk penghormatan atas kerja kerasnya.
Semua berjalan lancar sampai perasaan ‘haus’ Ramuda kembali. Kali ini lebih parah karena bahkan bahan-bahan material baru yang dibawa tim penjelajah tak sanggup tuntaskan dahaganya. Ditambah konflik internal antar para ilmuwan buat situasi di laboratorium tidak kondusif. Ramuda masih ingat bagaimana pertikaian mereka berujung pada adu serangan fisik. Lalu melihat kekacauan itu Ramuda justru menemukan kesempatan. Di satu malam, ia lepaskan gas toksik di seluruh fasilitas penelitian. Hasilnya semua ilmuwan di sana, kecuali Ramuda, hirup racun dalam tidur tanpa disadari. Mereka tidak mati, Ramuda sudah pastikan agar korbannya hanya akan koma.
“Ketimbang kalian saling serang dan mati sia-sia, lebih baik jadi berguna sebagai bahan eksperimenku. Tenang saja aku pastikan setiap bagian tubuh kalian akan berguna. Demi ilmu pengetahuan.” Adalah yang ia ucapkan setelah aksi malam itu di depan tubuh rekan-rekannya yang disimpan apik dalam tabung-tabung berisi cairan.
Tapi itu dulu. Bahkan ketika aksinya bawa eksperimen-eksperimennya ke titik yang jauh. Ia tidak pernah puas. Maka dilakukanlah eksperimen dengan dirinya sendiri sebagai objek. Hasil kegilaan itu buat tubuhnya tak lagi menua. Hal ini tentunya sudah di atas peradaban manusia. Dirinya nyaris abadi. Tapi hatinya tak pernah penuh. Ada lubang kosong menganga tanpa bisa diperbaiki. Hidup disetir ambisi buat nuraninya mati. Sejalan dengan revolusi tubuh, ingatannya mengabur. Ia tidak bisa mengingat masa lalunya sebelum pergi ke planet ini. Siapa keluarganya? Dimana kampung halamannya? Kepada siapa ia tulis surat cinta setiap malam? Ramuda tak bisa jawab. Kemanusiannya hilang seiring hari-hari monoton dilalui sendirian.
Sibuk berkutat dengan tabung-tabung reaksi buat kewaspadaannya menurun. Ia baru sadar ada yang tidak beres ketika dengar suara gaduh dari koridor. Aneh tentu saja karena ia seharusnya sendiri. Maka dengan berat hati ditinggalkanlah eksperimennya sejenak. Sebuah pistol diambil kemudian disembunyikan dalam jas. Ramuda dengan tenang kemudian keluar dari laboratorium. Langkahnya enteng tanpa sedikitpun merasa takut. Mungkin saraf rasa takutnya sudah mati rasa lantaran terlalu lama tidak menerima rangsang.
“Wah, lihat robot-robot itu, Gentaro! Keren!”
“Dai-”
“Oh, apa itu? Hewan? Gentaro, hewan apa itu? Di bumi tidak ada yang seperti ini.”
“Tenanglah sedikit, Dice. Kita sedang berada di markas musuh kalau kau lupa.”
Perdebatan keduanya terhenti kala mendengar langkah kaki mendekat. Dari belokan di depan muncul seorang pria berambut hitam dengan tubuh dibalut jas laboratorium. Ia berhenti beberapa meter dari Dice dan Gentaro yang mematung. Masih dengan wajah tanpa ekspresi pria itu berujar, “Bagaimana kalian bisa masuk ke sini?”
“Errr…ada terowongan bawah tanah di dalam labirin, jadi kami masuk dan berakhir di sini.” Gentaro sontak melayangkan tatapan tajam pada Dice yang menjawab dengan polosnya. Mungkin karena umurnya masih muda, raja satu ini naif juga, pikirnya.
“Ah, tapi kami tidak bermaksud menyusup. Kami bahkan tidak tau lorong itu membawa kami kemari.”
Ada jeda lumayan panjang sebelum Ramuda membalas, “Lalu, apa yang sebenarnya kalian lakukan di planet ini? Tidak ada identitas planet tertentu dari pakaian kalian. Jadi pasti bukan dari pemerintahan. Terlebih hanya mengirim dua orang, siapapun itu atasan kalian pasti orang bodoh.”
“Benar, kami tidak terafiliasi dengan pihak resmi. Perkenalkan, aku Dice, mantan raja planet Bumi, dan dia Gentaro, keturunan asli suku bandit.”
Lagi-lagi Gentaro dibuat terkejut, temannya ini naif atau bodoh? Orang gila mana yang memperkenalkan diri dengan entengnya di hadapan musuh. Dan lagi, Dice bahkan tersenyum ramah dan mengulurkan tangan. Gentaro berganti mengamati reaksi Ramuda. Tidak ada perubahan ekspresi yang berarti, sekarang pria itu justru menatap uluran tangan Dice penuh tanya tanpa membalasnya.
“Oh, mungkin budaya kita berbeda. Ini namanya jabat tangan atau salaman. Kau bersalaman ketika berkenalan dengan orang baru. Apa ya, seperti bentuk ramah-tamah. Begini, kemarikan tanganmu.” Di luar dugaan Ramuda mengulurkan tangannya tanpa ragu. Buat senyum Dice merekah lebih lebar. “Nah, begini caranya bersalaman. Sekarang perkenalkan dirimu.”
Ramuda kembali terdiam beberapa saat. Masih dengan tangan saling bertautan, Dice menunggu dengan sabar. Gentaro di satu sisi menantikan interaksi keduanya. Lucu rasanya melihat orang yang katanya ilmuwan gila begitu patuh pada Dice.
“Aku Ramuda, satu dari sebelas ilmuwan yang ditugaskan mengeksplorasi planet ini. Aku lupa sudah berapa lama waktu berlalu, tapi yang pasti aku sudah berada di sini cukup lama.”
Dice tersenyum puas, setelahnya menyenggol bahu Gentaro. Seolah mengatakan ini gilirannya. Maka walau merasa aneh, Gentaro ikuti alur permainan. “Seperti kata bocah ini tadi, aku Gentaro. Senang bertemu denganmu, Ramuda.” Keduanya pun bersalaman dengan canggung.
Ramuda kemudian membawa keduanya menuju ruang kendali. Begitu mereka bertiga sudah duduk di kursi masing-masing, Ramuda mengubah beberapa layar monitor sehingga menampilkan tiap sudut labirin. “Jadi, sebenarnya untuk apa kalian datang kemari?”
“Kami mendapat permintaan untuk mengambil sejumlah batu kristal yang katanya hanya ada di planet ini.” Gentaro menunjukkan beberapa gambar kristal yang dimaksudkan. “Kau tahu dimana kami bisa menemukan ini?”
“Batu-batu ini banyak berserakan di sepanjang labirin. Di situ, perhatikan monitor 5 dan 7. Tapi sepertinya aku masih punya beberapa persediaan di gudang. Ambil saja semau kalian.”
“Wah, kau yakin?”
“Ya, bawa saja toh aku sudah tidak membutuhkannya. Ikuti aku.”
Setelah mengambil batu kristal sebanyak yang dibutuhkan, kini ketiganya duduk di sebuah ruangan yang tampak seperti ruang istirahat. Ramuda bilang ini adalah kamar yang biasa ia digunakan. Lantaran hanya seorang diri, dari banyaknya ruangan yang ada di fasilitas itu yang digunakan hanya sebagian kecil, seperti kamar tidur, laboratorium, ruang kendali, dan dapur. Selebihnya Ramuda biarkan tak terurus.
Dengan pribadinya yang ramah dan ceria Dice cairkan atmosfer dan bahkan bisa membuat Ramuda tertawa. Pria itu bersemangat ceritakan soal planetnya, tentang kenakalannya saat masih berstatus pangeran, tentang orang-orang terdekatnya. Diam-diam Gentaro bersyukur. Melihat Dice yang dulu meminta dibunuh karena telah kehilangan segalanya kini bisa tertawa dan dengan enteng menceritakan masa lalunya buat yang lebih tua tersenyum bangga. Di sisi lain, ia juga merasakan perubahan pada dirinya. Sejak kedatangan Dice hidupnya jadi lebih berwarna. Rumah yang hanya disinggahi saat ingin beristirahat kini terasa hidup karena adanya Dice di sana. Dice dengan segala tingkahnya, diam-diam dia akui sangat menghibur. Setidaknya ketika bersama Dice ia tak lagi rasakan kesepian yang menusuk. Karena dia tau, ketika pulang ada Dice, sosok yang perlahan mulai dianggap sebagai adik, selalu setia menunggu.
“Jadi, tubuhmu sekarang benar-benar tidak menua?”
“Iya, sebagian besar bagian tubuh dan organ-organ vital kumodifikasi sedemikian rupa untuk memperlambat penuaan sel ke tingkat yang sangat lambat. Perlu kujelaskan caranya?”
“Ah, tidak tidak. Kau jelaskan sampai berbusa pun aku tidak akan paham. Yang lebih penting, kenapa kau tidak keluar dari planet ini? Kau pasti lebih dari mampu untuk membuat kapal sendiri.”
Gentaro kembali dari lamunannya dan mendengarkan perbincangan Dice dan Ramuda kala dirasa topiknya menarik.
“Aku tidak bisa keluar dari planet ini. Setidaknya sampai mendapat perintah untuk pergi. Tapi sampai sekarang mereka tidak bisa dihubungi.”
“Oh, kau tipe anjing yang patuh ya. Kalau aku pasti sudah pergi sejak lama."
“Yah, itu karena mereka yang menyelamatkanku. Bisa dibilang aku berhutang budi.”
“Kalau boleh tau, kau bekerja untuk planet apa?”
Ramuda tampak celingukan beberapa saat sebelum menunjuk sebuah logo di satu sisi ruangan. “Planet Celphi.”
“Planet dari galaksi mana itu? Aku tidak pernah dengar.”
“Wajar kau tidak tau. Karena planet itu sudah meledak dan sepenuhnya menghilang setidaknya 100 tahun lalu.”
Kali ini Gentaro menangkap emosi lain dari raut datar Ramuda, mula-mula terkejut, lalu bingung, dan marah. “Apa maksudmu? Jadi selama ini planet itu sudah hancur, makanya tak seorangpun menghubungiku selama ratusan tahun?” Ramuda berucap dengan suara gemetar.
“Sayang sekali, iya.”
Dice dan Gentaro kompak terkejut kala Ramuda tiba-tiba menggebrak meja. Napasnya memburu, matanya memanas. Ini adalah pertama kalinya setelah insiden dia meracuni seisi laboratorium, Ramuda merasakan emosi yang sangat besar. Jantungnya berdegup kencang sementara ia rasakan darahnya mendidih diisi amarah.
“Jadi untuk apa aku berdiam di sini selama lebih dari 100 tahun menunggu panggilan yang tidak akan tiba? Untuk apa aku menyerah menjadi manusia hanya agar bisa hidup lama menanti jemputan dari seberang? Untuk apa aku bunuh teman-temanku yang ingin memberontak demi membela mereka kalau nyatanya planet itu sudah hancur?”
Baik Dice maupun Gentaro tak berani menyela. Mereka biarkan Ramuda keluarkan emosi yang selama ini dipendam. Beri ruang pada pria yang hidup terlalu lama itu tumpahkan segala perasaan. Ramuda mulai menangis. Kemudian raungannya berubah menjadi isak pedih. Dua orang lain di ruangan itu pun dapat rasakan sakitnya dari bagaimana Ramuda larut dalam tangis dan mulai kesulitan bernapas. Hari itu seluruh pertahanan sang ilmuwan hancur. Ia biarkan dua orang yang baru ditemu beberapa jam lalu lihat dirinya selemah ini. Faktanya hatinya terlalu sakit bahkan untuk sekedar pedulikan gengsi.
“Semua yang aku lakukan ternyata sia-sia, ya. Bodohnya selama ini aku bertahan hidup dengan harapan kosong. Setelah ini aku harus apa? Aku tidak punya tempat tujuan. Bahkan kampung halamanku pun aku tak ingat.”
Dice tepukkan tangan sekali untuk ambil alih atensi dua orang lainnya. Pastikan Ramuda sudah lebih tenang, ia kalungkan lengan pada pundak yang lebih tua. Gentaro pun mendekat untuk beri usapan-usapan lembut pada punggung sang ilmuwan. “Memang sangat disayangkan. Ratusan tahunmu tidak akan kembali. Tapi daripada larut dalam penyesalan. Ayo buat rencana masa depan.”
“Benar. Secara tidak langsung artinya sekarang kau bebas meninggalkan planet ini kapan saja kan? Kau juga sudah tidak terikat dengan Planet Celphi.”
“Oleh karena itu, Ramuda, ayo ikut bersama kami!”
Ramuda mengerjapkan mata beberapa kali. Kentara sekali tidak percaya atas tawaran yang baru saja dilayangkan. “Tapi…kenapa?”
“Eh, memangnya perlu alasan, ya?”
“Kita bahkan baru saling mengenal beberapa jam lalu.”
“Apa pentingnya itu?” Kali ini Gentaro menyahut. “Poin utamanya adalah dalam kurun waktu beberapa jam itu impresi yang kau berikan adalah kau orang baik.”
“Setelah mendengar ceritaku kalian berpikir aku baik?”
“Ya, beberapa tindakanmu memang agak ekstrem tapi bisa dipahami. Kau hanya melindungi prinsipmu. Aku pun rela lakukan apapun untuk planetku.”
“Tapi bisa saja di masa depan aku berakhir menyakiti kalian.”
“Di situlah peran keluarga. Kami akan pastikan kau tidak lagi keluar batas.”
“Ya, kau sadar kan Dice bisa membuatmu tertawa setelah tidak pernah merasakan emosi dalam waktu yang lama. Kami bisa mengubahmu, ke arah yang lebih baik tentu saja. Yang perlu kau lakukan hanya mempercayai kami.”
“Keluarga, ya?” Ramuda kembali menangis. Kali ini karena bahagia. “Terima kasih. Terima kasih.”
***
Tiga hari berlalu, Dice, Gentaro, dan Ramuda tengah berkumpul di atap fasilitas penelitian. Sebuah kapal ruang angkasa telah menunggu dan siap diluncurkan.
“Oke, kalian siap-”
“Tunggu dulu, Ramuda, apa-apaan rambutmu itu?”
“Ini untuk suasana baru.”
“Tapi…kenapa mengecatnya pink?”
“Ini sebagai tanda lahirnya Ramuda yang baru. Kenapa pink? Karena aku suka. Ucapkan selamat datang pada New Ramuda!”
Gentaro tertawa kecil. Akhir-akhir ini ia sudah tidak kaget kala ucapannya dipotong sepihak oleh Dice ataupun Ramuda.
“Sekarang Ramuda mulai banyak bicara, ya.”
“Dan akan semakin banyak bicara kedepannya. Tidak usah khawatir, Gentaro!”
“Berhenti bicara! Ayo kita lepas landas!”
Demikianlah, dengan komando Dice ketiga orang itu tinggalkan Planet FP-57. Selama melesat Ramuda tak alihkan pandang dari planet beku itu. Tapi melihat tidak ada tanda emosi negatif pada netra yang lebih tua, Gentaro putuskan untuk mengabaikan. Tujuan awal Dice dan Gentaro bertandang ke planet ini adalah demi batu kristal, tapi siapa sangka mereka justru dapatkan berlian yang lebih berharga. Berlian itu tak lain adalah Ramuda, seorang ilmuwan yang terlalu lama kesepian hingga kehilangan kemanusiaan. Namun dengan uluran tangan Dice dan usapan lembut Gentaro hati Ramuda yang semula membeku perlahan luluh. Kini Ramuda tampak sangat hidup, jadi pelita bagi Dice dan Gentaro. Kehadiran Ramuda seolah kukuhkan ikatan mereka. Dengan ikatan baru bernama keluarga, mereka siap sambut hari dan petualangan baru.
***
Bagi Ramuda, tiga hari lalu adalah keajaiban. Hatinya yang ia kira sudah mati kini kembali dicurahi cinta. Setiap membuka mata di pagi hari yang ia dapati bukan lagi lorong-lorong kosong melainkan kehangatan keluarga dalam rupa dua orang pemuda. Dua pemuda asing yang dalam satu hari ubah hidupnya 180 derajat. Dua pemuda yang menjelma teman lalu keluarga dalam waktu 24 jam. Ramuda tak pernah sekalipun bayangkan bisa rasakan perasaan sedemikian besar. Mereka mungkin baru mengenal tapi ketulusan yang diberikan tak ada duanya. Untuk pertama kali, Ramuda merasa utuh. Tidak ada lagi rasa haus dan lapar atas ambisi. Yang ada hanya rasa syukur dan bahagia. Malam itu, Ramuda, Sang Ilmuwan, temukan cahaya.
Bagi Dice, kehancuran planetnya adalah akhir dunia. Setidaknya itu yang ia pikirkan sebelum bertemu seorang bandit berlabel Gentaro. Usai habiskan semalam suntuk mabuk-mabukan dan berjudi, garis takdir bawa ia bertemu Gentaro. Awalnya ia ingin mati, dan bandit itu jadi opsi. Namun Gentaro dan pikirannya tidak bisa ditebak. Ia justru beri rumah pada raja yang kehilangan takhta. Hari demi hari keputusasaannya menguap diganti asa. Tinggal dengan Gentaro tak seburuk yang diduga, ia tidak harus kotori tangan selayaknya para bandit. Justru melalui permintaan-permintaan remehnya, secara tidak langsung Gentaro beri dia alasan untuk bertahan. Setelah mengetahui hidup Gentaro selama ini hanya ditemani sepi, ia bulatkan tekad. Dice pernah rasakan satu malam kesepian, ia tak bisa bayangkan bagaimana Gentaro bertahan hidup selama ini tanpa seorangpun di sisi. Gentaro adalah penyelamat, maka ia balas budi dengan janji dalam diri tak akan biarkan sang bandit sendiri. Selama Dice masih bernapas, tak akan ia biarkan Gentaro kembali hidup dalam kesepian. Malam itu, Dice, Sang Raja, temukan tujuan.
Bagi Gentaro, hidup adalah kutukan. Sebagai seorang bandit sejak kecil ia tumbuh di lingkungan yang keras. Hanya ada satu hukum berlaku, yaitu hukum rimba, dimana yang kuat akan memangsa yang lemah tanpa pengecualian, bahkan di dalam keluarga. Gentaro itu yatim piatu, di penampungan, ada satu anak laki-laki yang lebih tua darinya datang tiba-tiba dan tawarkan hubungan keluarga bahkan minta dipanggil kakak. Gentaro kecil yang masih kelewat naif pun anggap sang kakak dunianya. Terus begitu sampai di satu waktu hari pengkhianatan datang. Sang kakak dengan kesadaran penuh kambing hitamkan Gentaro dalam sebuah konflik. Buat Gentaro nyaris jatuh dalam jurang kematian. Mulai detik itu Gentaro tidak percaya keluarga. Pun menjalin ikatan dalam bentuk apapun dengan orang lain ia tak lagi tertarik. Berujung Gentaro sendirian sepanjang waktu. Sampai di satu malam ia bertemu orang mabuk yang tersesat ke daerah para bandit. Orang itu rupanya raja, lebih muda darinya, dan tampak bisa hancur kapan saja. Orang itu mengemis untuk dibunuh. Buat Gentaro teringat dirinya di masa kecil yang kerap disiksa tanpa ampun sampai kematian terasa menggoda. Keputusannya membawa si pria ke rumah adalah semata untuk memanfaatkannya, hanya itu. Yang di luar perkiraan Gentaro adalah perkembangan sang pemuda. Dari hari ke hari pribadi aslinya muncul ke permukaan. Beri warna pada hidup sang bandit yang semula diisi kelabu. Begitupun Ramuda, walau sebentar ilmuwan itu sanggup beri berbagai macam warna pada hidup Gentaro. Kehadiran Ramuda bak potongan puzzle terakhir yang buat lengkap hidupnya. Malam itu, Gentaro, Sang Bandit, temukan keluarga.
Sekarang, bagi Gentaro, hidup adalah anugerah. Setiap perjalanan dengan Dice dan Ramuda beri dia kenangan-kenangan yang mustahil dilupakan. Bersama mereka Gentaro temukan rumah yang sebenarnya. Gentaro tak pernah berdoa. Tapi apabila Tuhan benar-benar ada, dia harap keluarganya akan bertahan untuk waktu yang lama.
