Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-02-17
Words:
736
Chapters:
1/1
Kudos:
32
Hits:
577

My First Ever Valentine (I Love You)

Summary:

Mana ada yang menyangka bahwa di usianya yang sudah seperempat abad ini, Teeradach bisa merayakan Valentine's Day yang di tahun-tahun sebelumnya cuma angin lalu yang gak sengaja lewat.

Work Text:

Gak pernah sekalipun lewat di pikiran Teeradach bahwa di tahun 2025 ini, di usianya yang sekarang sedang menginjak fase quarter life crisis, bakal punya pacar yang kelewat penuh akan afeksi.

Raganya dipeluk sayang.

Rambutnya dicium dengan bibir yang tersenyum.

Rasanya aneh, tapi nyaman juga.

"Kamu wangi banget, sih?"

"Hah—"

Cup!

Bibirnya dikecup.

"Sayaaaang, kamu cantik banget, aku makin naksir!"

Lagi, bibirnya dikecup lagi dengan riang.

Okay. Teeradach beneran gak tau harus memberikan respon seperti apa. Si yang lebih tinggi di hadapannya itu malah tertawa. 'Kamu lucu banget dah,' katanya.

"Kamu juga...." akhirnya Teeradach bisa mengeluarkan satu dua kata.

"Juga apa?"

"Lucu...."

Ah, suara tawa itu lagi.

"Lucu aja nih?"

Ekspresi wajahnya tengil.

"Ya.... ganteng juga," objek mana yang harus ia lihat selain dua bola mata yang menatapnya dengan penuh cinta itu.

"Makasih, sayang."

Pelukan hangat itu lagi.

Ciuman sayang itu lagi.

Kalau tiba-tiba ada jin biru yang bilang kuberi kamu satu permintaan maka Teeradach akan meminta agar selamanya disayang oleh pacarnya ini.

"Jalan-jalan, yuk?"

"Kemana?"

"Keliling komplek."

Jam 9 malam loh ini. Super ajaib. Tapi lebih ajaibnya lagi, Teeradach malah masuk ke dalam rumah, dan gak lama kemudian, dirinya balik menghampiri pacarnya dengan jaket yang sudah membalut tubuhnya.

"Ayo."

Tubuh dua sejoli itu gak membuat jarak satu sentimeter pun. Well, bisa dibilang, satu tangan yang bertengger di bahu Teeradach lah yang menciptakan zero space tersebut. Teeradach ditarik penuh agar tubuhnya menempel pada si pacar.

Setelah lima menit berjalan, Tee baru tersadar, pacarnya ini masih pakai satu set lengkap pakaian kantor, bahkan sepatu pantofelnya juga masih dipakai.

"Kamu pulang kerja langsung ke rumahku, Dew? Gak pulang dulu?"

Dew. Si pacar yang barusan ditanya malah menarik kerah bajunya sendiri, kemudian diendus dengan serius. "Eh, aku bau banget, ya?"

Tee mengernyit. 'Ditanya apa, jawabnya apa.'

"Enggak.... maksud aku, emang kamu gak capek?"

"Loh, habis capek kerja, justru aku perlu recharge energy. Nah, cara biar energiku full lagi itu harus ketemu kamu."

Lebay.

"Lagian ya, inikan Hari Valentine, masa aku pacaran sama dokumen perusahaan?"

Oh, iya. Sekarang valentine.

Valentine itu harusnya ngapain, ya? Tee cuma tau kalau di hari kasih sayang itu, biasanya setiap pasangan bertukar kado atau coklat, tapi Tee gak menyiapkan coklat atau kado. Dirinya bahkan gak inget kalau hari ini Valentine. Yah, mungkin efek terlalu lama menjomblo juga.

"Dew, maaf, aku gak beli coklat. Aku gak inget kalau hari ini Valentine."

Mendengar kalimat dengan intonasi polos itu membuat cute aggression Dew terhadap pacarnya itu meningkat berkali-kali lipat.

"Ah, sayang, jangan gemes-gemes! Gimana kalau orang lain denger? Nanti mereka ikut naksir! Hmm... tapi aku yakin sih level naksirnya mereka ke kamu gak akan setinggi level naksirku."

"Enggak deh, aku udah bukan di tahap naksir, aku sih udah kecintaan sama kamu!"

Dan terus begitu.

Dew lanjut mengoceh. Tee hanya bisa mengangguk dan merespon seadanya. Terkadang juga tertawa karena ada saja tingkah dan ucapan konyol pacarnya.

"Waaah, udah sampai rumah kamu lagi!"

Setelah 30 menit berjalan menempel pada satu sama lain, akhirnya Dew menciptakan jarak.

"Sedih banget harus berpisah sama pacarku."

Dew dramatis Jirawat.

"Kan besok bisa ketemu lagi?"

"Cieeeee, pengen ya ketemu aku lagi?"

Dew jahil Jirawat.

"Eh by the way, tunggu sebentar ya, Sayang, jangan masuk dulu."

Tee menurut. Menaruh atensinya pada si pacar yang tiba-tiba sibuk mencari sesuatu di back seat mobilnya.

Oh.

Oh....

"Selamat Hari Kasih Sayang, Teeradach-ku yang tersayang!"

Dew si paling romantis Jirawat.

Dengan senyum lebar konyolnya itu, yang entah kenapa selalu ia rindu, Dew menghampiri dirinya yang mematung. Mungkin terkejut akan seberapa besar buket bunga yang dibawa Dew, mungkin juga karena bingkisan-bingkisan yang Dew jinjing, atau mungkin, rasa aneh namun nyaman yang menghinggapi hatinya karena menerima perlakuan yang sejujurnya baru kali ini ia dapatkan.

"Yeay, happy valentine's day, sayangku Tee! Maaf ya telat banget. Aku tuh dari kemarin udah rencana mau ngajak kamu hari ini buat dinner bareng, tapi ya—"

Damn.

Dew merasa seperti sedang berada di anime romance yang sering ia tonton. Adegan di mana si main character dicium pertama kalinya oleh sang gebetan di bibir.

Di bibir. Tolong digarisbawahi.

Oh, jelas ini bukan pertama kalinya mereka berciuman. Namun, ciuman yang diinisiasi oleh Tee terlebih dahulu bisa dihitung jari satu tangan. Pacarnya terlalu pemalu untuk memulai duluan.

"Dew.... makasih. Makasih udah naksir aku, jadi pacar aku, sayang sama aku, selalu mengusahakan aku. Thank you for everything that you have done to me."

"Happy valentine's day to you too, Dew. I love you, sayang."

Warga, tolong panggilkan ambulans untuk Dew Jirawat sekarang juga!