Actions

Work Header

Hadiah dan Dua Rasa

Summary:

Collei datang ke kampus untuk mengambil laporan praktikum sekaligus memberikan hadiah kepada Tighnari sebagai ucapan terima kasih setelah 6 bulan bekerja bersama. Sambil merayakan kelulusan sempro asisten labolatorium-nya itu, Collei akhirnya mengungkapkan perasaan yang sudah lama ia pendam....

Notes:

halo!! makasi udah singgah buat baca hehe. ini fanfic pertama yang pernah aku publish di internet jadi maaf ya kalau agak gimana gitu 😭 udah lama gak nulis cerita juga.
disini, tighnari yang semester 7 jadi asisten labolatoriumnya collei yang semester 1 selama 6 bulan.

selamat membaca!!<3

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Collei memarkir motornya di parkiran dengan dada yang berdebar-debar. Setelah mengunci motornya, ia pun segera berjalan ke arah tempat duduk yang tak jauh dari pintu masuk gedung sambil menggengam sebuah kotak pink yang lucu. Setelah duduk, ia pun mengecek isi kotak tersebut dan menghela napas dengan lega. Untung enggak kenapa-napa kuenya, padahal tadi racing banget, ujar Collei dalam hati.

Sambil menutup kembali kotak tersebut, ia pun membuka HP-nya. Terpampang notifikasi aplikasi LINE dari teman-teman sekelompoknya.   

‘Sorry banget yaa Lei, gak bisa dateng. Udah terlanjur balik nih’

‘Udah beli belom, Collei? Sorry juga gak bisa dateng huhu’

‘Lei, nitip makasih sama ucapan selamat juga ya dari kita buat Kak Tighnari’

‘Pake uang lu dulu ya Lei, ntar kita gantiin, okey?’

Collei diam-diam tersenyum membaca pesan-pesan tersebut. Sebenarnya, ia cukup senang saat tahu hanya dia yang bisa datang. Itu artinya dia bisa mendapat momen berdua saja dengan Tighnari dan mengungkapkan sesuatu yang sudah lama ia pendam. Tenang, Collei… kamu pasti bisa kok! kalau ditolak ya wajar aja, gak masalah! bisa dijadiin pengalaman juga, ‘kan? Enggak apa-apa kok, enggak apa-apa! batin Collei, menyemangati diri sendiri.

 

Tak lama kemudian, notifikasi baru muncul di layar.

 

‘Collei, gue udah taro laprak-lapraknya di loker ya. Kasih tau yang lain juga’

 

Mata Collei membelalak. “Loh, udah nyampe!? Masuk darimana? Padahal aku disini lho dari tadi!” Dengan secepat kilat, ia pun berlari masuk ke dalam gedung. Sambil berlari kencang di koridor, ia melihat Tighnari berdiri di depan loker yang tertutup sambil tersenyum, melambaikan tangannya ke arah Collei.

“Lu buru-buru banget deh. Santai aja, gue gak akan kabur, kok,” Ucapnya, sedikit terhibur melihat Collei yang berlari terburu-buru, seolah dikejar sesuatu. “Kak! kakak masuk darimana, sih?” Collei sampai di hadapan Tighnari dengan napas yang tersengal. Tighnari tertawa pelan. “Gue udah disini dari tadi sebenernya, cuman dipanggil Prof Albedo bentar tadi,”. Tighnari melirik kotak yang dibawa oleh Collei dan tersenyum lebar, menyadari maksud Collei yang beberapa jam sebelumnya memintanya untuk menunggu sebentar sehabis menyerahkan laporan praktikum junior-juniornya ke loker. “Oh, jadi kalian mau ngasih sesuatu ya ke gue? Lucu amat. Eh, tapi yang lain mana? Kok cuman lu doang?” tanyanya, sambil melihat sekeliling Collei, mencari batang hidung junior-juniornya yang lain. “Ih, kok langsung tau sih? Gak asik banget!” protes Collei. “Yang lain pada gak bisa dateng, pada sibuk semua.”

Tighnari terkekeh. “Logika aja sih, lu sebenernya ‘kan gak usah repot-repot dateng kesini cuman buat ambil laprak doang padahal bisa diambil kapan aja. Terus lo minta gue nungguin? Dan lo dateng bawa kotak yang gemes gitu? Aduh, jelas banget itu mah,” Ia pun melanjutkan, “Parah banget sih mereka, bener-bener lu doang nih yang dateng? gak mau ketemu gue ya mereka?”.

“Tau tuh, parah banget,” Balas Collei, alhasil mereka tertawa bersama. Collei berdeham kecil, lalu menyodorkan kotak hadiah tersebut kepada asisten labolatoriumnya. Ia tersenyum lebar. “Ini buat kakak dari kami semua. Makasih ya udah nemenin kami selama 1 semester ini. Walaupun keliatan serius, serem, dan galak banget, apalagi pas praktikum, kakak sebenernya lumayan kocak juga,”.

Tighnari pura-pura merengut, kemudian tertawa lepas. “Kok gitu sih? Gue termasuk aslab yang baik loh, gak pelit nilai juga. Gue juga saaabaaar banget ngoreksi kesalahan-kesalahan di laprak kalian yang SERING BANGET DIULANG TERUS,” ujarnya, melipat kedua tangan di dada. “Terus juga, lu pada suka kagak hati-hati sih pas di lab. Si bennet mecahin gelas, fischl hampir jatuhin mikroskop, lu pernah lupa gak bawa jas lab, dan masih banyak lagi anomali-anomali,”. Collei tertawa terbahak-bahak mendengar omelan Tighnari tersebut. “Hehehe, maaf ya kak, suka ngerepotin. Kita udah lebih baik kok sekarang! Harusnya sih yaa..” lanjut Collei.

Tighnari menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Iya, kalian emang lebih baik, kok. Tenang aja. Gue bangga sama kalian, meski kadang emosi dikit,” Ia pun menerima hadiah tersebut dengan raut wajah yang senang dan terharu. Tiba-tiba mata Collei membesar, teringat sesuatu, “Oh iya, Congrats juga udah lulus sempro kemaren!” Collei bertepuk tangan dengan riang. Tighnari tersenyum lembut mendengar perkataan Collei. “Makasih banyak lho, kalian. Sampe repot-repot beliin hadiah. Apalagi lu, sampe dateng kesini. Sendirian lagi. Beneran deh, gue terharu banget nih."

            Collei tersenyum senang mendengarnya, tetapi kemudian terdiam sejenak. “Semester depan enggak akan sama kakak lagi, ya?”. Mendengar nada bicara Collei yang sendu, Tighnari menjawab dengan hangat, “Enggak, Collei. Gue mau fokus ke skripsi aja buat semester depan, biar cepet lulus juga,” jelasnya.

            Enggak akan ketemu lagi, ya? bener-bener harus bilang sekarang… Batin Collei. Dadanya tiba-tiba berdebar dengan kencang. Ia menatap asisten labolatoriumnya dengan gugup. Ia bisa merasakan pipinya memanas dan tubuhnya seketika menjadi kaku. “Yahh enggak sama kakak lagi… Okelah kalau gitu, semangat ya kak! semoga lulusnya cepet!" Setelah mengatakan itu, Collei seketika terdiam mematung. Aduh, kenapa susah banget? Tinggal ngomong aja, ‘kan?

Mulutnya terbuka, tapi tak ada sepatah kata pun yang keluar. Tenggorokannya tercekat, menelan semua rasa yang terbendung dengan kuat.

 

Hening untuk beberapa saat.

 

Tighnari, yang menyadari raut wajah dan gerakan mulut Collei yang seakan ingin mengatakan sesuatu, bertanya dengan khawatir dan penuh perhatian. “Kenapa, Collei? Ada yang mau lu sampein?”. Collei menelan ludah dan memalingkan pandangannya. “Iya, kak… sebenernya…” kata-kata Collei terputus. Ia pun menarik napas dalam-dalam, memantapkan hati, lalu menatap Tighnari dengan tatapan yakin.

 

“Aku… sebenernya udah lama suka sama kakak.”

           

B-BERHASIL! Collei berteriak girang dalam hati. Tetapi, rasa senang itu dengan cepat berganti dengan rasa cemas dan takut. Walaupun begitu, Collei tak gentar. Ia tetap menatap Tighnari.

            Tighnari terdiam sejenak, menatap Collei dengan tatapan yang sulit diartikan. Beberapa saat kemudian, ia akhirnya buka suara. “Collei… jujur aja, gue bener-bener gak nyangka.” Ia tersenyum kecil, tatapannya hangat dan tulus. “Gue juga… sebenernya ngerasain hal yang sama. Gue juga suka sama lu,”

Mendengar pernyataan tersebut, jantung Collei berdegup lebih kencang. Aku enggak salah denger,’kan!? Kak Tighnari juga….

“Gue ngerasa kita berdua punya banyak hal yang sama, dan gue seneng banget bisa ketemu sama lu, kerja bareng lu dan jadi aslab lu.” Lanjutnya. “Lu emang ceroboh, pemalu, dan kikuk di awal, tapi kekurangan lu itu enggak menghambat diri lu untuk berubah jadi lebih baik. Lu juga rajin dan selalu merhatiin tiap gue ngejelasin materi. Mungkin lu emang nangis kejer pas ngerjain laprak, tapi lu enggak pernah nyerah. Lu selalu selesain tepat waktu. Dan lu juga…” Tighnari berhenti sejenak. “Sesuka itu sama biologi, sama kayak gue.”


            Collei terdiam, mulutnya terbuka sedikit, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja Tighnari katakan. Selama ini, ia selalu takut perasaannya tak pernah terbalas. Tapi sekarang, Tighnari... merasakan hal yang sama. Matanya berkilat, sedikit basah, dan senyum lebar pun mulai mengembang di bibirnya.

"Jadi... kita berdua sama-sama suka?" Collei akhirnya bisa mengucapkan kata-kata itu, suaranya bergetar, tapi penuh harapan. Tighnari mengangguk, tersenyum lebar. "Iya, Collei, kita berdua sama-sama suka. Dan gue... seneng banget bisa akhirnya ngungkapin ini ke lu,”. Collei merasa dunia seakan berhenti sejenak, dan hanya ada Tighnari di hadapannya. Ia tertawa kecil, merasa lega dan sedikit malu. “Aku... sebenernya deg-degan banget buat ngungkapin tadi, tapi aku enggak bisa nunggu lagi, kak. Apalagi kita bakal jarang ketemu nanti.”

Tighnari tertawa pelan, matanya menyiratkan kelembutan. "Enggak apa-apa, Collei. Gue juga enggak nyangka bakal ada momen kayak gini. Tapi gue seneng lu akhirnya ngomong."

Mereka berdiri beberapa saat dalam keheningan yang nyaman, hanya saling menatap. Akhirnya, Tighnari mengulurkan tangan, seolah meminta Collei untuk mendekat. ”Mau pulang bareng? Sekalian kita makan siang juga. Belum makan, ‘kan?”

Collei mengangguk dengan semangat dan mendekat ke samping Tighnari. “Mau, mau banget!”.

Dan dengan begitu, semuanya berubah. Mungkin memang akan ada banyak tantangan ke depan, tapi satu hal yang pasti adalah Collei dan Tighnari sudah melewati batas yang selama ini menghalangi mereka untuk saling mengungkapkan perasaan satu sama lain. Mereka tidak lagi hanya sebatas asisten labolatorium dan adek tingkat. Mereka lebih dari itu, dan mereka siap menghadapi apapun bersama.

Dengan langkah ringan, mereka meninggalkan area loker, berjalan berdampingan, sambil berbicara tentang berbagai hal—tugas, kehidupan kampus, dan segala hal kecil yang membuat mereka tertawa. Hari ini adalah awal dari sesuatu yang besar.

Notes:

if u made it this far, thanks for reading!!<3 sbnrnya ini based on true story tp minus romance awokawokawok
jujur sbnrnya aku hrsnya ngerjain tugas tp malah nulis beginian wkwkw bnr2 ngelakuin apapun demi menghindari tugas...

kalau ada saran, ntah dr penulisan atau karakterisasinya, bolee banget yaa tulis aja di komentar~
ok!! saatnya meluncur buat ngerjain tugas 🏃🏻‍♀️