Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-02-18
Words:
2,555
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
21
Hits:
102

Valentine

Summary:

Till yang awalnya gak terlalu peduli dengan acara valentine mendadak penasaran dengan salah satu meja pohon yang katanya digunakan sebagai tempat bagi siapa saja yang ingin memberikan hadiah secara anonim kepada orang yang mereka sukai.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Valentine tiba, kampus Till selalu adakan acara dihari itu. Walau pemuda itu gak begitu tahu seperti apa kegiatannya, yang ia ingat setiap fakultas dan jurusan punya acara masing-masing, mahasiswa dari jurusannya mungkin adakan semacam seminar yang bahas seputar cinta-cintaan. 

Till gak begitu memperhatikan, tentu ia gak akan datang ke acara seperti itu. Walaupun pemuda itu terkadang punya seseorang yang disukai, Till bukan tipe yang romantis. Dapat atensi kecil atau sekadar diajak berbincang saja sudah syukur. Gak ada niat untuk memilikinya sebagai pasangan ataupun mendekatinya. Jadi, bagi Till, orang sepertinya cuma buang-buang waktu saja kalau datang ke sana.

Acara tersebut berlokasi di tengah lapangan fakultas FSRD, terdapat panggung yang gak begitu besar tapi gak bisa dibilang kecil juga. Dekat dengan meja kotak yang tengahnya ditumbuhi pohon besar. 

Satu panitia dengan kostum berbentuk hati siap jaga dengan tumpukan mawar di genggamannya. Curi perhatian ke setiap siswa yang gak sengaja lewat dengan kasih bunga mawar merah agar terpancing untuk ikut bergabung ke dalam acara. Gak lupa juga mengarahkan para penonton untuk mengisi kursi dari baris terdepan terlebih dahulu.

Meja pohon yang letaknya di samping kiri panggung juga digunakan sebagai properti tambahan dalam acara. Pohon besar itu dihiasi kertas merah muda berbentuk hati dengan tali yang menggantung di ranting, bergerak pelan saat tertiup angin. Sebuah papan sederhana terpasang lingkari batang pohon, sebagai wadah bagi siapa saja yang ingin meninggalkan stikynote berisi pesan untuk seseorang yang dikagumi. 

Namun, yang jadi daya tarik utama dari meja pohon bukan hanya itu. Tempat ini jadi saksi bisu bagi mereka yang ingin sampaikan perasaan dengan tersembunyi. Siapa pun yang ragu atau malu untuk beri hadiah secara langsung bisa menitipkannya di meja ini. Hadiah-hadiah dapat diletakkan hingga batas waktu pukul enam sore. 

Ada satu panitia yang berjaga di sana, pastikan hadiah-hadiah aman dan janji akan jaga privasi para pengirim. Saat jam sudah tunjukkan pukul 6 sore, ia akan hubungi satu per satu sang penerima hadiah dan beri tahu untuk ambil sesuatu di meja pohon. Dalam dua jam gak ada balasan, hadiah bakal dibawa pulang sementara oleh panitia dan dapat diambil keesokan harinya. Jika besok tetap gak ada kabar atau sang penerima memang gak mau mengambilnya, yasudah, akan jadi keuntungan bagi panitia itu.  

Rupanya satu hal itu bangkitkan sedikit rasa penasaran Till. Pulang dari studio, ia iseng hampiri meja pohon. Netranya langsung tertuju pada hadiah yang penuhi meja itu, bahkan sampai penuhi kursi-kursi di sana.  

Lihat lebih dekat, ternyata panitia sudah susun semua dengan rapi. Hadiah yang ditujukan oleh nama yang sama akan ditumpuk jadi satu atau dibuat berdekatan. Sementara hadiah dengan penerima yang lain akan diberi jarak beberapa senti meter. 

Till amati itu semua dengan mata yang berbinar. Ia lihat beberapa hadiah yang dikirimkan untuk teman sekelasnya, ada yang mendapati tiga hadiah, lima, bahkan sepuluh. 

Satu kotak kaca di tengah meja sukses alihkan atensi Till. Macam-macam coklat dan hadiah yang gak bisa dihitung jumlahnya hampir penuhi kotak itu. Didepannya terdapat label nama sang penerima, IVAN. 

Hah, pantas saja.

Till jelas tahu siapa pemuda itu. Penggemarnya gak cuma puluhan, di setiap kelas pasti ada lebih dari satu orang yang suka dengannya. Ingatannya kembali pada masa PKKMB, kala itu Ivan sudah curi hati banyak orang. Bahkan para kakak tingkat juga ikut menggoda pemuda itu jika ada kesempatan.

Gak mau mikirkan orang itu terus, Till bergeser ke samping buat lihat nama lain. Ia baru sadar hadiah-hadiah itu diurut sesuai abjad dari nama sang penerima. Matanya perhatikan nama-nama dari huruf i, berlanjut ke j, k, l, hingga iseng langsung alihkan ke nama dengan huruf t. Ada sedikit harap ia diberi coklat oleh seseorang. 

Degub kencang ia rasakan begitu lihat sembilan coklat dengan namanya yang tercantum dikemasannya. Gila, ternyata dia laku juga. 

Yang buat Till lebih kaget, ada satu coklat yang ukurannya lumayan besar. Stickynote dari berbagai warna menempel di setiap sisinya. Till perhatikan, ada satu stickynote berwarna hijau tertempel di tengah, bertuliskan "Untuk Till."

Penasaran, ia hendak angkat coklat itu dari meja sebelum satu tangan membentang didepannya, menghalanginya. Till tatap gadis tinggi didepannya, tersinggung. Pemuda itu merasa sedang terpergok hendak mencuri coklat seseorang. 

Mendecih, ia jelaskan, "Apaan sih? Gue bukan mau nyolong. Ini coklatnya emang buat gue. Liat nih, ada nama gue!" 

Stickynote berwarna hijau yang menempel dikemasan coklat itu diketuk-ketuk oleh Till. Gadis yang ternyata panitia itu melirik kemudian beri senyum, "Ditunggu sampai jam enam ya. Siapa tau ada yang mau ngasih lo lagi. Kalau udah jam enam nanti gue WA dan lo baru bisa ambil di sini lagi. Oke?"

Till lirik arloji yang melingkar ditangannya. Baru menunjukkan pukul dua siang. Bibirnya mengerucut, tanpa balas ucapan gadis didepannya Till langsung balikkan badan seraya bergumam, gue tebak coklatnya kagak bakal nambah.

 


 

Pukul 6.10 sore, Till pandangi gawainya dengan serius. Menunggu pesan dari panitia yang ditemuinya tadi, kalau gak salah, namanya Hyuna. 

"Mana nih si Hyuna, udah jam segini belum juga nongol. Gue di scam kah?"

Tubuhnya yang sudah terduduk kini direbahkan kembali. Till sudah ingin memakan sesuatu yang manis, sudah berharap sembilan coklat itu meleleh dimulutnya sekarang juga. 

Bosan menunggu yang gak pasti, Till memutuskan untuk buka salah satu game. Rautnya berganti dari bosan menjadi serius. 

Menit berganti menit, Till layangkan beberapa umpatan, terkadang kakinya menendang ke sembarang arah, asik sendiri. 

Ketika darah dari karakter yang dimainkannya nyaris habis, notifikasi muncul dari atas secara tiba-tiba, menghalangi layar gamenya. Marah, ia berteriak, "Anjing lu!" 

Till langsung usap layar gawainya untuk hilangkan notifikasi pesan. Hendak melanjutkan pertarungan, karakternya langsung mati. 

"Bangsat!" 

Benda pilih yang harusnya dijaga dengan baik, ia banting dengan kesal, untungnya mendarat tepat di atas ranjang. Setelah emosinya sedikit mereda, ia ambil gawainya lagi untuk mengecek notifikasi. Siapa sih orang ini, mengganggu saja, pikirnya.

Layarnya beralih ke aplikasi yang di sentuh tadi, di deret paling atas ada pesan dari nomor yang gak di simpan. 

 

| Haloo 

| Ini bener nomernya Till, kan? Till angkatan 23 kelas B?

| Gue Hyuna, panitia dari acara valentine DKV. Mau infoin kalau lo dapat kiriman 9 coklat dari anonim

| Kalau mau diambil bisa merapat ke meja pohon dari sekarang

| Gue tunggu sampai jam 8 

 

Ok gw kesana sekarang |

 

| 👍

 

"Gue tebak juga apa, coklatnya kagak nambah. Tau gitu gue ambilnya tadi siang." 

Till buru-buru keluar dari kamarnya. Keluarkan motornya dari gerbang dan berkendara dengan cepat menuju kampus. Gak pakai helm, malas dan karena kampusnya memang bisa terbilang dekat. 

Sampai. Till parkirkan motor dengan sembarang di salah satu gedung. Harusnya gak bakal ada yang negur, pemuda itu bentar lagi juga langsung pamit pulang setelah sembilan coklat itu sudah digenggamannya. 

Hyuna ada di sana, berjarak dua meter dari tempatnya berpijak. Till hampiri dengan tergesa, begitu gadis berambut gelap itu menangkap eksistensinya dan hendak membuka mulut, Till berucap, "Gue Till, angkatan 23, kelas B."

Hyuna perlihatkan raut kesalnya begitu ucapannya langsung dipotong oleh Till. Gadis itu hampiri meja besar di sampingnya, ambil salah satu plastik berwarna merah muda dengan label yang bertuliskan nama Till dan menyerahkannya ke pemuda itu. 

"Thanks."

Dibalas begitu, Hyuna gak menanggapi dan langsung melangkah ke belakang tubuh Till. Si pemuda ikut kesal, langsung ikuti pergerakan Hyuna. 

Di sana, ada satu pemuda berambut hitam berbalut hoodie putih dan celana jeans hitam, dilengkapi dengan masker dengan warna yang senada. 

"Ivan! Udah dateng aja lo." gadis yang tadinya merengut kesal kini bibirnya tertarik ke atas. Tangannya merangkul pemuda yang baru saja berpijak dan menariknya hingga Ivan berada tepat disamping Till. 

"Liat tuh punya lo banyak banget. Gue sampai perlu ke pasar dulu buat nyari plastik yang lebih besar." 

Tawa kecil terdengar dari pemuda yang lebih tinggi, suaranya terdengar agak serak. 

"Aduhh belum makan coklat aja udah sakit duluan lo. Semuanya buat gue aja gimana, hahaha. Canda, Van." Hyuna berkata sembari mengambil satu kantung plastik besar yang nyaris penuh. 

"Nih." dengan sedikit bergetar, ia angkat kantung plastik itu. Walaupun masih kuat, Ivan dengan cekatan membantunya. 

"Thanks Hyun, kalau lo emang mau ambil, silahkan. Sorry gue gabisa banyak ngomong, radang." suara serak yang tidak terlalu jelas itu dibalas gelengan. 

"Gak usah njir. Gue udah ada kok." Hyuna angkat jempolnya sembari tersenyum, kemudian melirik Till. Rautnya berubah seketika.

"Heh, lu ngapain masih di sini!?" gadis itu berkacak pinggang sembari melotot.

"Lah, suka-suka gue!" sahutnya dengan nada yang lebih ditinggikan. Ia tarik kantung plastik miliknya yang tadi sempat ia letakkan kembali di atas meja. 

Melalui ekor mata, ia lihat bayangan Ivan yang memperhatikan. Menoleh, Till mendapati pemuda yang lebih tinggi menyipitkan mata ke arahnya, menandakan ia angkat senyuman dari balik maskernya. 

"Udah ah, gue mau pulang!" Till balikkan badan dengan gusar. 

"Yaudah pulang sana!" 

Mendengar itu, Till yang sudah berjalan jauh menghentikan langkahnya. Ia ancungkan jari tengah tanpa menoleh ke belakang sebelum berlari ke arah motornya yang terparkir.

Tersulut emosi, Hyuna balas dengan angkat kedua tangannya yang menyisakan jari tengah. 

"Apa lo!? Berani dari jauh doang. Nih gue kasih dua!" teriaknya, tidak peduli apakah terdengar sampai telingga Till atau tidak. 

Ivan yang saksikan pertengkaran kedua orang itu hanya terkekeh sembari menggeleng. 

Dikamar, Till tumpahkan semua coklat dari kantung plastik itu di atas meja. 

"Makasih fans-fans gue, berkat lu semua gue bisa makan coklat di bulan ini!" teriaknya sembari memperhatikan merk dari sembilan coklat itu. 

Diambilnya salah satu coklat dengan ukuran paling kecil. Ia patahkan 1 batang dan memakannya. Sembari menikmati coklat itu, Till membolak-balikkan masing-masing coklat yang diterima.

Berharap ada yang memberikan pesan dengan stikynote seperti satu coklat paling besar itu. Namun, delapan coklat lainnya gak ada yang menempelkan stikynote di kemasannya, hanya ada nama Till yang tercantum.  

Gak terlalu peduli, ia naikkan kedua bahu. Tatapannya kini tertuju pada satu coklat besar yang kemasannya hampir gak terlihat. Till jadi curiga kalau ternyata di dalamnya bukan coklat, melainkan sampah atau benda gak jelas yang dikirimkan oleh orang iseng.

Till mencoba membaca salah satu pesan, ah tulisannya buruk sekali. Ia coba tahan tawa, baginya tak sopan menertawakan orang yang sudah memberinya hadiah. 

Ia angkat benda itu dan menggoyangkannya sedikit, sepertinya memang coklat asli. 

Akhirnya Till copoti semua stikynote itu dikarenakan semua coklatnya akan dimasukkan ke dalam kulkas. Setelah semuanya terlepas, ternyata masih ada kertas putih lagi di dalamnya yang membungkus kemasan coklat itu. 

Till agak ngeri untuk merobeknya dikarenakan kertas yang digunakan adalah kertas watercolor yang masih bersih, mungkin ketebalan 200 gsm.

Orang gila mana yang mengiklaskan kertas watercolornya dijadikan bungkusan kado seperti ini?

Ia balikkan coklat itu untuk melepaskan selotipnya dengan hati-hati. Ternyata ada tulisan berwarna biru dipojok atas. 

- I , 23 , A

Awalnya heran, sempat berpikir kertas itu merupakan kertas bekas yang sudah berisi coretan, tapi lama kelamaan ia berpikir lain. 

Yang Till tangkap adalah nama si pengirim diawali dengan huruf I, angkatan yang sama dengannya, dan berasal dari kelas A.

Till dongakkan kepala, mencoba mencari siapa nama dibalik pengirimnya. Sayangnya, ia gak begitu hafal nama-nama dari kelas A. Paling cuma tahu sekitar 5 orang. 

Daftar nama-nama dari kelas A juga gak punya. Kalau file nama teman seangkatan sempat punya sih, tapi sudah terhapus lantaran gawainya sudah berganti dengan yang baru semenjak semester 2.

Jengkel, Till mencoba bertanya pada teman sekelasnya. 

 

Luka

Bro, lu tau ga. Anak kelas A yang nama depannya I siapa aja? |

 

|napa emang

|anak kelas a mah gue gaada yang kenal

 

 Hadehhh yaudahdeh |

 

| emang napasih?

 

Kepo lu |

 

| Dih

 

Gak dapat jawaban, ia mengingat lagi siapa kira-kira teman sekelas yang tergolong aktif, sering mengikuti organisasi atau kepanitiaan, dan punya banyak teman.

Pemuda itu pejamkan mata. Mencoba mencari dari NIM paling awal, dan langsung teringat nama satu orang. Mizi. Bisa-bisanya ia lupa dengan gadis itu. Gadis berambut merah muda itu memang terkenal ramah, berjalan selangkah dari kelas saja langsung ada banyak orang yang menyapanya. Mungkin Mizi tahu siapa pengirim coklat ini. 

 

Mizi

Zi |

Gw boleh nanya sesuatu ga |

 

| boleh nih, asal ga yang aneh" 

| nanya apa till?

 

Sebenernya ga penting penting amat sih, zi |

Lo tau anak kelas A yang nama depannya I? |

 

| hmmm

| ivan???

| si ivan kenapa till?

 

Tubuhnya bergidik begitu membaca pesan terakhir Mizi. Yang benar saja? Seingatnya, Till gak pernah dekat dengan Ivan. Berbincang saja gak pernah. Palingan cuma sekadar bertanya keberadaan orang lain kalau sedang kegiatan panitia. Selebihnya gak ada hal aneh di antara mereka. 

Till menggelengkan kepala mencoba memantapkan diri bahwa perkataan Mizi salah.

 

Mizi

Gaada yang lain selain Ivan kah? 🥲 |

 

| eh gue ga terlalu tau sihhhh

| kenapaaaa kok emotnya gituu

 

Coba lo inget inget deh |

Selain Ivan, mungkin ada cewek yang nama depannya I |

 

| mau gue kirimin daftar kelasnyaa??

| gue punya sihhh sempat dikasih sama suaa

 

Boleh deh, gw penasaran |

 

| kelas A. pdf

 

 Ok makasi zi |

 

| Yoiii

 

Sembari mendecak, Till buka dokumen yang dikasih Mizi itu, ia juga gak mengerti kenapa punya rasa penasaran tinggi saat ini. Mungkin karena Till sebelumnya gak pernah dapat hadiah besar yang bersifat misterius dan agak mencurigakan menurutnya. 

Belum sempat melihat sampai 4 nama, jantung Till berdegup lebih kencang. 

Till berpikir lagi, jika ia bertanya siapa pengirimnya lewat Hyuna, boleh gak ya. Mengingat pengiriman itu sifatnya anonim. 

Ia rebahkan diri dikasur, mengapa dirinya jadi seperti ini. Tinggal lupakan saja apa susahnya?

Kedua tangannya ia taruh di depan muka. Rona merah muncul di wajahnya tanpa aba-aba. Bibirnya ia gigit pelan, Till jadi uring-uringan. 

Bangkit, ia sandarkan punggungnya didinding, memantapkan dirinya untuk bertanya kepada Hyuna walau tahu akan percuma. 

 

Hyuna 

 

Gw boleh tau ga. Coklat yg ini dikasih siapa? |

 send a pict. |

 

| Anonim anjg 🖕

| Gue gamau ngelanggar privasi

 

Kalau gw penasaran terus gw bisa mati loh |

 Lo mau tanggung jawab? |

 

| Ngibul lo, mana ada penyakit begitu

 

Cepetan kasih tau gw, atau gw sebarin rahasia lo |

 

| Lo tau apaan emang? 

 

Benar saja, gak ada hasilnya. Opsi terakhir cuma satu, lihat dari daftar nama kelas A yang dikasih Mizi. 

Till jadi takut sendiri, kalau tebakan Mizi benar bagaimana? 

Membayangkan dirinya dipukuli penggemar Ivan lantaran tahu coklat dari pemuda yang mereka kagumi sekarang diterima oleh Till saja sudah membuatnya merinding. 

Bingung, pikirannya langsung terlintas dengan satu tugas gambar yang belum diselesaikan. Ia ambil kertas ukuran A3 dan mendudukkan diri di depan meja. 

Tangannya bergerak membuat sketsa, irisan sisa penghapus sudah lumayan banyak mengotori meja. Pemuda yang terkadang mengerjakan tugas dengan sistem kebut semalam kini mendadak rajin. Sok sibuk, menjadikan tugasnya sebagai peralihan. 

Hendak mencari reverensi lain, tangannya tak sengaja menggeser dan membuka data nama mahasiswa kelas A. Till menelan ludah, lanjut lagi atau tidak?

Karena sudah terlanjut lihat, tangan Till bergerak dengan cepat mengusap layar ke bawah. Begitu nama Ivan terpampang jelas, jantung Till berdegup lagi. Mendecak, ia abaikan perasaan itu walau detak jatungnya masih terasa hingga kepalanya pusing. Nama mahasiswa tersisa 10 lagi, dan yang nama depannya diawali dengan huruf I hanya Ivan. 

Tak banyak berharap, Till bacakan sisanya. Habis sudah. Setelah melihat semuanya, Till menyadari bahwa dirinya sebenarnya tahu siapa saja nama panggilan dari hampir semua mahasiswa kelas A, dan memang gak ada yang nama panggilannya diawali dengan huruf I selain Ivan. 

Ia keluar dari aplikasi dan matikan gawainya. Mencoba hentikan debaran yang muncul lagi, Till acakkan rambutnya dengan kesal. Mau lanjut nugas saja sudah gak sanggup. Ia yakin malam ini dia gak akan bisa tidur.

Seorang seperti Ivan menyukainya? Apa yang salah dengan dunia ini. Pertanyaan itu terus saja berputar di kepala Till.

Tugas tak tuntas, mata tak bisa menutup. Esok hari siap-siap sambut kelas dengan wajah kusam, rambut acak-acakan, dan kantung mata hitam. 

Till, mahasiswa FSRD yang biasanya cuek dan gak terlalu peduli dengan orang-orang disekitarnya, mendadak lakukan stalking pertamanya. Gak bakal menyangka kehidupan kuliahnya yang dipikir bakal monoton justru bisa dapat hadiah dari orang yang dijuluki pangerannya kampus. Till yang biasanya bakal tidur kalau ada kesempatan sekarang terpaksa begadang karena satu orang yang gak pernah sama sekali ia pikirkan sebelumnya. 

 

 

 

 

 

 

Notes:

Maaf telat dan masih agak berantakan hehe, first time nulis disini. Terimakasih bagi yang sudah meninggalkan jejak :D