Work Text:
Eri tidak mengelak kalau kehadiran Acha malam ini buat sesak di dadanya terkikis sedikit. Tapi pikirnya itu cuma karena dia tidak sendirian lagi. Cuma karena Acha bawakan makanan manis kesukaannya dengan senyum merekah di bibirnya.
Acha dipersilakan masuk, duduk, bersandar di sebelah kasurnya yang sedikit berantakan. Eri membalas dengan cengir dan kekehan andalannya waktu Acha tanya kapan terakhir dia makan. Oh, membohongi Acha susah sekali, harusnya Eri ingat sebelum dia kirimkan pesan iseng tadi.
Tidak dimarahi, syukurlah. Eri menghela nafas lega dalam hati. Mungkin karena Acha tahu memarahi wanita yang baru putus cinta di hadapannya ini bukan pilihan bijak. Baguslah. Meskipun sepertinya Eri juga tidak akan menggubris serius jika Acha sungguhan mengomelinya.
Obrolan kecil dilantunkan sebelum keduanya sama-sama kehabisan bahan pembicaraan. Jarang terjadi, sebenarnya. Biasanya mereka akan terus bicara sampai lelah. Biasanya Acha selalu temukan topik di sela pembicaraan mereka yang belum selesai, dan biasanya Eri selalu mengikuti obrolannya semangat sekali.
Tapi kali ini keduanya sama-sama diam. Duduk bersebelahan tanpa katakan apapun. Lucunya, keadaan seperti ini tidak terasa canggung sama sekali. Seolah keduanya tenggelam dalam hening yang diciptakan sendiri, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Aku gak suka diperlakukan kayak begitu."
Acha melirik ke arah wanita di sebelahnya yang menyandarkan kepala di bahunya seiring ceritanya dibuka.
"Rasanya aku kayak bukan siapa-siapa. Rasanya kalaupun aku gak ada, dia gak bakal peduli. Terserah dia sih sebenarnya, tapi aku gak suka aja."
Acha cuma mengangguk-anggukkan kepala. Entah dapat dorongan dari mana, tangannya terangkat dan usapi rambut Eri yang masih sibuk bercerita.
"Aku pengen merasa diperlukan gitu loh, Ca. Mau dipandangi bener-bener, bukan dilirik aja."
"Dipandangi?"
Eri, masih bersandar di bahu Acha, melirik ke atasnya. Oh, Acha sedang pandangi dia. Jadi Eri angkat kepalanya, balas menatap Acha tepat di mata cokelatnya.
"Dipandangi kayak begini?"
Eri mengangguk tanpa ragu. Dan tidak ada yang tahu sejak kapan wajah mereka sudah sedekat ini.
"Boleh?"
Oh. Eri gemetar dan tahu empu wajah yang jaraknya hanya tiga senti dari wajahnya ini juga gemetar. Anehnya, Eri justru tidak tahu kenapa dia mengangguk.
Awalnya cuma kecupan. Satu, dua. Kecupan ketiga tapi Acha masih gemetar. Kali ini, entah dapat dorongan dari mana, Eri letakkan kedua tangannya di belakang kepala Acha hanya untuk menariknya lebih dekat. Hanya supaya kecupannya bertahan lima detik lebih lama.
Hanya lima detik lebih lama.
Lima detik lebih lama dan yang Eri tahu setelahnya, Acha lupa membawa tas kecilnya dan menutup pintu.
