Work Text:
Thineland.
The Hometown.
Jean tidak mudah terganggu ketika membaca. Namun lain ceritanya jika suara-suara yang terdengar adalah riuhnya tawa dan riangnya suara anak-anak bermain di luar jendelanya. Ia tidak bisa menahan diri dari menengok ke bagian luar jendela, sedikit-sedikit menjeda kegiatan membacanya. Ia tidak bisa menyelesaikan satu paragraf secepat biasanya, dan ia semakin gelisah. Andainya ia bisa bermain sekarang, tapi ibunya mengharuskannya menyelesaikan sampai halaman 150 buku Kode Hukum Klan Gunnhildr.
Baru halaman 94 … keluhnya. Ia telah berusaha untuk menutup tirai, tetapi ia, jauh di lubuk hatinya, iri. Ingin sekali rasanya menikmati waktu bermain seperti mereka. Ia pun akhirnya membiarkan tirainya terbuka, selain karena ia butuh cukup cahaya untuk membaca dengan cepat, ia bisa menghibur diri dari bacaan yang rumit dengan mengamati mereka sesekali.
Saat ia membalik ke halaman 131, sedikit lagi, sehelai kembang bak kapas lembut mendarat ke lembaran bukunya, terbawa angin dari luar jendela. Ia menjumputnya dengan hati-hati, takut helai-helainya yang lebih kecil luruh. Dandelion, pikirnya, dan kemudian helai-helainya yang tipis pun beterbangan karena angin yang berembus ke dalam ruangan.
“Hei. Psst, pssst.”
Jean menoleh. Mendapati sepasang mata mengintip dari balik jendela. Di tangannya yang berpegangan pada bingkai jendela, setangkai bunga dandelion utuh berayun-ayun lembut, helai-helai kecilnya terbawa angin ke depan Jean. “Diluc?”
“Ayo main,” kepalanya menyembul, dia tersenyum lebar. “Dengan yang lain.” Dia mengedikkan dagu ke arah padang rumput yang luas di luar pagar rendah halaman samping Jean.
“Tapi,” Jean menunduk memandang bukunya dengan sendu, “Ibu bilang aku harus menyelesaikan ini ….”
“Ayo kita main saja!”
“Nanti Ibu marah,” bisik Jean sambil menengok ke pintu kamarnya dengan was-was.
“Kalau ibumu memarahimu, nanti aku yang bilang padanya, kau berlatih pedang denganku!” Diluc mengangkat tangannya yang lain, yang sejak tadi disembunyikan, memperlihatkan sebuah pedang kayu. “Ksatria masa depan juga tidak cuma membaca buku!”
Jean menatap ragu, tetapi Diluc mengangguk-angguk untuk meyakinkannya.
Semenit kemudian, Diluc Ragnvindr telah menarik tangan Jean Gunnhildr untuk berlari menuju padang rumput tersebut. Bermain dengan pedang, sedikit-sedikit menyusun keping masa depan yang bisa dibayangkan.
“Katanya, nenek moyang kita berasal dari orang-orang pemberani di utara.”
“Ah, aku pernah membacanya! Mereka petualang berani dari tanah yang dingin, yang melanglang buana dengan kapal mereka, kemudian tiba di Thine dan membuat perkampungan.”
“Kita adalah keturunan orang-orang pemberani itu.” Diluc mengangkat pedang kayunya ke arah langit, awan berarak di balik pedangnya, dan tak ada yang menandingi perasaan bebas di petualangan kecil sehari-harinya yang beratapkan langit dan beralaskan rumput. “Suatu saat, aku juga akan pergi ke sana untuk melihat tanah nenek moyang—dan melihat bagaimana ksatria-ksatria pemberani itu hidup di sana.”
Jean menoleh, dan meskipun rumput menggelitik pipinya, jika itu artinya ia bisa memandang lebih dekat pada mata Diluc yang bercahaya seperti perapian yang membara, maka ia tidak keberatan sama sekali.
“Kau mau ikut, Jean?”
Jean mengangguk riang, sebuah hasrat menggebu dari gadis kecil yang selalu haus petualangan, “Aku akan ikut ke manapun kau pergi.”
Diluc menyodorkan pedangnya, dan Jean, tersenyum geli, menyilangkan pedangnya di depan pedang Diluc. Sebuah aksi impulsif yang riang, tanpa praduga. Mereka sama-sama tertawa, masih berbaik sangka pada masa depan, dan binar mata mereka mengatakan segalanya.
Guttland, 12 years later.
Favonius Knight’s Quarter.
Jean mengetuk pintu dengan pelan, pada ketukan yang ketiga kalinya barulah terdengar jawaban. Perempuan itu pun masuk dengan sebuah gulungan di tangannya.
“Selamat pagi, Kapten.”
Diluc menoleh dari posisinya di dekat jendela, sedang membubuhkan segel pada beberapa surat penting di atas nakas. “Sudah kubilang, tidak usah diketuk. Masuk saja.”
“Tatakrama pada seorang kapten harus tetap dijaga.” Jean menghampiri nakas tersebut, dan membukakan gulungan untuk Diluc. “Ini daftar rombongan yang akan mendampingi kunjungan Grand Master ke Guttland minggu ini. Apa aku perlu membuat daftar keperluan untuk menyambutnya? Kabarnya Grand Master juga akan berbicara dengan beberapa perwakilan dari Persatuan Kjalmar.”
Diluc mengamati isi gulungan tersebut, yang dibubuhi segel resmi milik Grand Master. Kerut halus muncul di keningnya. “Grand Master baru saja berkunjung ke sini bulan lalu. Ada apa?”
Jean mengetukkan jarinya pada permukaan kayu sambil berpikir. “Kalau dilihat dari rencananya berbicara dengan perwakilan Kjalmar di sini ….”
Mereka bertatapan, bertukar asumsi, tapi tak ada yang berani mengatakan analisa liar mereka. Jean hanya mengangkat bahu, dan Diluc tersenyum kecil. “Omong-omong, ayahku akan datang ke Guttland awal bulan depan. Dia akan membawa beberapa macam anggur. Kau mau makan malam bersama kami?”
Senyum terkembang cerah di wajah Jean. “Aku tidak sabar menunggu cerita-cerita Tuan Crepus. Bagaimana kabar Thineland? Surat terakhir ibuku adalah bulan lalu … apakah ada festival-festival menarik atau troubadour yang datang berkunjung belakangan ini?”
“Kau bisa mendengarnya nanti. Datanglah. Ayahku akan senang sekali bertemu denganmu.”
Jean menggulung lagi surat yang berada di hadapan mereka. “Ayahmu pasti bangga sekali padamu, Kapten.”
Diluc pura-pura mendengus. “Berhentilah.”
“Baik. Aku harus pergi mengawas di pelabuhan. Sampai jumpa!”
“Bukankah hari ini kau tidak piket?”
“Tapi sebagai Wakil Ketua, aku harus menjalankan kewajibanku! Dah!”
Jean sudah berada di ambang pintu ketika dia mendengar sayup-sayup, jangan terlalu tegas pada dirimu sendiri.
Jean mudah terbangun—sebuah kebiasaan yang ditempa secara alamiah dan naluriah dalam hari-harinya sebagai Ksatria Favonius. Ia telah mendengar langkah kaki yang tergesa-gesa di luar kamarnya sebelum ia mendengar ketukan yang terburu-buru. Lekas-lekas ia mengambil jubahnya sebelum membukakan pintu.
“Wakil Kapten, laporan! Ada kekacauan yang diperbuat oleh bajak laut di sebelah selatan pulau!”
“Bajak laut? Bagaimana mungkin?”
“Kemungkinan ada penyusup di kapal-kapal yang masuk ke pelabuhan kemarin, Nona. Beberapa penjaga sudah berada di tempat, tetapi jatuhnya korban tidak bisa dihindari karena peristiwa terjadi di perimeter terjauh penjaga Favonius, dan terjadi di tempat gelap.”
Jean pun mengambil pedangnya dari samping tempat tidur. “Bagaimana bisa tidak ada penjaga yang mengetahuinya? Ada yang membolos dari jam piket penjagaan?” Ia pun mengunci kamarnya, berjalan bersama sang prajurit.
“Kita hanya ditugaskan berjaga di sekitar gerbang Visburg dan beberapa titik strategis di sekitar pulau, kita kekurangan prajurit dan otorisasi untuk menjaga seluruh pulau.”
“Apa kau sudah melapor pada Kapten Ragnvindr?”
“Di situlah masalahnya, Nona Gunnhildr.”
Langkah Jean berhenti. Tidak, jangan katakan—
“Korbannya adalah Tuan Crepus Ragnvindr, ayah Kapten Ragnvindr.”
Jean mematung, genggamannya pada pedangnya mengerat dan buku-buku jarinya memutih. Ia menelan ludah dan segera melangkah cepat. “Buat laporan resmi pada Grand Master, pakai segelku. Sampaikan pada penjaga pintu kamarnya sekarang juga.”
Ketika Jean tiba di tempat kejadian, lokasi tersebut telah bersih dari sisa-sisa kekacauan, dan ia hanya bisa meminta keterangan dari beberapa saksi mata. Putra korban baru saja membereskan semuanya. Jean menyelesaikan laporan resmi dan mengutus salah satu anak buahnya untuk menyelidiki seluruh kapal yang ada di pelabuhan dan manifes pedagang serta penumpang yang datang, dan segera kembali ke Markas.
Ia hampir saja menerabas masuk ke dalam ruang kerja sekaligus kamar Grand Master Varka di Markas, jika bukan karena dua orang penjaga menahannya dengan menyilangkan pedang di depan pintu. Ia membelalak, nyaris saja mengeluarkan pedangnya pula sebagai bentuk perlawanan naluriah, tetapi ia menahan dirinya.
“Grand Master sedang berbicara dengan seseorang. Tunggulah giliran Anda, Wakil Kapten,” tahan seorang penjaga dengan datar, meskipun pedang belum disarungkannya.
“Siapa?” Jean hanya mampu menahan suaranya menjadi desisan tak sabar. Namun ia tidak jadi menagih jawaban, ia bisa mengenali suara di balik pintu.
Salah ayahmu sendiri berada di sana di jam rawan.
Tapi sudah menjadi kewajiban kita sebagai Ksatria untuk mengamankan seluruh pulau sesuai dengan perjanjian. Anda yang menolak penempatan ksatria di seluruh pulau dan menolak meminta otoritas kepada perwalian dari Kjalmar.
Itu di luar kewenanganmu untuk menilai, Kapten.
Dan bajak laut! Mengapa mereka masih berkeliaran padahal Ksatria Favonius telah mengadakan perjanjian dengan Kadipaten Mikelenburg? Saya—
Bukankah itu seharusnya tugas kalian, memastikan bahwa tidak ada satupun bajak laut yang lolos lagi dari gerbang pelabuhan utama? Berhentilah menyesali kayu yang sudah menjadi abu, Kapten, sekarang urus jenazah ayahmu.
Terdengar suara keras satu kali, dan kemudian pintu pun mendadak terbuka dengan suara yang tak kalah keras. Diluc melangkah keluar dengan wajah merah padam, dan dia tak peduli pada Jean. Seumur hidupnya mengenal Diluc, Jean tak pernah melihat raut seperti itu, dan dunianya seolah-olah berhenti berputar untuk beberapa saat.
Namun, Diluc telah jauh.
(Dan semakin jauh setelahnya, dan Jean belakangan menyadari dunianya telah berubah total.)
“Wakil Kapten?”
Jean tersentak, tersadar dari lamunannya, dan Diluc telah menghilang dari pandangan. Grand Master memanggilnya untuk kedua kalinya, dan ia pun memasuki ruangan itu dengan kaki gemetar dan tangan yang dingin. “Grand Master.” Ia berlutut untuk menghormat, dan berdiri tegak kembali. Jari-jemarinya juga ikut bergetar saat mendapati lencana yang hancur berkeping-keping di lantai. Milik Diluc, pikirnya, dan suaranya hampir-hampir tak terdengar ketika ia berkata, “Siap menerima perintah.”
“Ah, aku belum mengatakan tujuan utamaku datang ke sini dan bertahan lebih lama selain mengawasi, hm?” dia berkata seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di ruangan ini. “Ada situasi genting yang sedang aku, dan kita sebagai Ksatria Favonius hadapi, dan mungkin akan terlihat sebentar lagi.”
“Apa itu … Grand Master?”
“Perseteruan antara Ratu Kjalmar dan Adipati Mikelenburg telah berakhir, dan sekarang Ratu menginginkan haknya kembali atas pulau ini.” Dia menuliskan sesuatu di atas sebuah gulungan, berhenti setelah beberapa kata, hanya memandang sebentar kepada Jean. “Ratu beberapa kali berkirim surat padaku, dan aku berdiplomasi dengan sedikit penawaran. Jika dia menginginkan pulau ini kembali, kuharap dia mengganti seluruh biaya yang kita keluarkan untuk mengamankan Guttland dan sekitar Lautan Baltika. Namun dia bersikeras.”
Jeda itu seolah terasa selamanya, dan Jean tidak berhenti menekuri pecahan-pecahan lencana yang tersebar di sekitar kakinya. Diluc, Diluc, Diluc, sebutnya, berharap bisa menjadi mantra untuk menenangkan dirinya sendiri. Namun, bagaimana hancurnya pemuda itu sekarang?
“Dia memberi ultimatum. Perang akan diletuskan jika aku tidak menyerahkan Guttland di awal musim dingin ini.”
“Apa … perintah Anda untuk saya, Grand Master?”
Varka menggeleng. “Untuk saat ini, tidak ada, selain bersiaga, karena perintah perang bisa datang kapan saja.” Dia membubuhkan segel pada gulungan yang barusan ditulisinya. “Dan ini,” dia menyodorkan gulungan itu di meja ke arah Jean. “Pernyataan bahwa Kapten Diluc Ragnvindr tidak lagi menjadi bagian dari Ksatria Favonius, dan aku menunjukmu sebagai Kapten mulai dari sekarang.”
Jean hanya berharap bumi bisa menelannya sekarang.
Jean menemukan Diluc di rumah persemayaman di tepi kota Visburg. Ia tidak bisa bicara dengan Diluc, pemuda itu sibuk berduka dalam kesendiriannya. Ketika Diluc melewatinya sebelum membawa pulang jenazah sang ayah ke kota asal mereka, Diluc hanya memandangnya sekilas.
Tak ada kata, tak ada salam, dan Jean ketakutan akan banyak hal.
Diluc kembali pada awal musim dingin yang mencekam, yang penuh akan kabar mencekam dari para pembawa pesan dari Persatuan Kjalmar yang menagih Pulau Guttland kembali. Pemuda itu datang hanya untuk mengambil barang-barangnya, dan Jean merasa seperti melihat orang lain yang datang ke barak Markas.
“Aku tidak lagi bisa terlibat dengan kalian,” Diluc menjawab Jean dengan dingin setelah Jean bertanya tentang apa yang akan dilakukan Diluc setelah ini, “untuk alasan yang tidak perlu kau ketahui.”
Aku tahu, Jean ingin sekali mendebatnya, menarik Diluc sekali lagi ke alur kehidupan mereka sebelum ini, tetapi ia bukan siapapun untuk Diluc, dan ia tidak punya hak apapun atas seseorang yang masih berduka dan memutuskan untuk mengubah hidupnya pula karena luka. Diluc menoleh, menatapnya dalam waktu lama, dan Jean mencoba membuat asumsi apakah Diluc bisa membaca pikirannya? Dari tatapannya, Diluc mungkin tahu bahwa Jean berada di balik pintu saat Diluc memecahkan lencananya dan mengundurkan diri secara sepihak di depan Varka.
“Aku akan pergi,” ucap Diluc, memasukkan buku terakhir ke dalam peti.
“Kembali ke Thineland?”
Pemuda itu menggeleng. “Ke tanah asal keluargaku.”
“Di Kjalmar? Svenbard?”
Diluc tidak mengiyakan, tidak pula menyanggah. Baginya, pertanyaan Jean sudah menjadi pernyataan, dan dia tidak perlu menegaskan apapun.
“Apa yang kau cari di sana, Diluc?”
“Bajak laut yang membunuh ayahku berasal dari sana.”
Jean memotong jarak di antara mereka, tetapi bagaimanapun rasanya Diluc masih terlalu jauh untuknya. “Dari semua orang yang kutahu, yang kukagumi, yang kumengerti kompas moralnya, Diluc, kau adalah orang terakhir yang kutahu akan melampiaskan kemarahan dengan membalas dendam!”
Diluc menoleh, mata rubinya sedingin es. “Kecacatan Ksatria Favonius dalam menjaga pulau dari serangan bajak laut meskipun telah diadakan perjanjian adalah satu hal. Keberadaan mereka sebagai bagian dari bisnis kotor orang-orang Kjalmar adalah hal yang berbeda lagi. Aku ingin melihat banyak hal di luar sana, yang tidak mungkin kulakukan dengan tameng Ksatria Favonius, Jean.”
“Dan kau akan menggunakan pedangmu?” Jean menatap pada benda yang masih berada di pinggang Diluc. Emblem burung hantu sebagai identitas keluarganya menghiasi hulu pedang tersebut, benda kebanggaan sekaligus harga diri Diluc yang selalu dibawanya sejak dia bergabung menjadi Ksatria.
“Jika diperlukan,” jawab Diluc. Dia melewati Jean dengan membawa satu-satunya peti barang-barangnya yang tersisa. Dia menurunkannya di ambang pintu, dan kusir kereta yang disewanya pun membawanya keluar.
“Kapan … kau akan pulang?” Suara Jean hampir tersangkut di tenggorokannya. Kata-kata paling sulit yang pernah diucapkannya.
Diluc bergeming di hadapannya. Punggungnya yang tegap dan kokoh, yang selalu dikagumi Jean, tampak kaku dan dingin. “Pulang?” dia mengulangi, dan membuat Jean ragu akan pertanyaannya sendiri. Pulang? Di mana rumah Diluc yang sesungguhnya sekarang? Setelah dia tidak lagi menjadi bagian dari Ksatria Favonius sementara Jean masih berada di sini, ia seketika tahu persis pemuda itu tak akan kembali ke hadapannya lagi. Hari-hari itu telah usai, dan Jean tidak pernah siap akan perpisahan.
Diluc berjalan menuju satu-satunya jendela di kamarnya, dan mengambil satu barang yang masih tersisa: sebuah pot kecil berisi tanaman yang baru saja tumbuh; kerdil dan tampak berupaya keras untuk bertahan di musim dingin. Dia berbalik, menyerahkan pot tersebut pada Jean.
“Rawat tanaman ini. Tunggulah sampai kau bisa meniup bunganya seperti yang kau sukai saat kecil. Jika sampai saat itu aku tidak pulang,” Diluc kembali memunggunginya, melangkah meninggalkannya, dan hanya berhenti sesaat di ambang pintu, “maka ini adalah pertemuan terakhir kita.”
Jean menatap tanaman itu hampa, mencoba menolak keadaan, dan ketika ia mengangkat pandangannya, ia sudah terlambat: Diluc telah pergi.
Jean baru saja akan kembali ke kamarnya setelah piket malam dan sang utusan memintanya untuk segera menemui sang Grand Master. Terpaksa mengabaikan keinginannya untuk tidur, Jean pun menuju kantor utama—dan menemukan sudah banyak prajurit yang diminta berkumpul, serta beberapa orang penting dari Markas Utama. Ia memasuki ruangan dengan hati-hati, dan di sana Grand Master sudah bersama sang wakil, dan beberapa ksatria kehormatan berada di sekitar mejanya.
“Semua orang sudah berkumpul? Bagus. Saatnya merumuskan strategi. Kapten Gunnhildr, kau berada langsung di bawah komandoku, bersama lima orang kepala pasukan lainnya.”
Jean masih kebingungan, dan mencoba membaca situasi tanpa bertanya lebih dulu ketika Grand Master menyodorkan sebuah kertas yang berisi coretan kasarnya mengenai rencana-rencana yang akan dilakukan. Penyerangan oleh pasukan Kjalmar kemungkinan dikomandoi oleh tiga orang.
Perang akan benar-benar terjadi, pikir Jean, Persatuan Kjalmar menagih pulau mereka kembali. Ia pun mundur sejenak untuk memberi ruang kepada kepala pasukan yang lain untuk melihat isi kertas tersebut.
Diluc, tahukah kau ini akan terjadi?
“Armada mereka kemungkinan akan tiba besok sebelum matahari terbit. Sebelum itu, bersiaplah, kerahkan pasukan di bawah komando kalian, perkuat pertahanan gerbang kota.”
Di garda terdepan maupun garis belakang, Jean mencari keberadaan Diluc. Di antara pedang yang terhunus dan panah yang menghujani, ia bertanya-tanya, apakah mungkin Diluc berubah pikiran, mendapatkan sesuatu di luar sana, di tanah nenek moyang mereka, dan melampiaskan kemarahannya kepada Ksatria Favonius melalui cara ini? Mungkinkah Diluc menjadi semakin membenci Varka karena dia telah meremehkan kematian ayahnya, dan beralih memihak orang-orang Kjalmar?
Apapun jawabannya, tidak Jean temukan, bahkan sampai barisan terakhir pasukan lawan yang dihabisi oleh Ksatria Favonius.
(Kemenangan berada di pihak Ksatria Favonius, tetapi percaturan politik Kjalmar yang melibatkan uang dan kekuasaan membuat Ksatria Favonius tidak lagi berhak menjadi polisi penjaga untuk Pulau Guttland.)
(Mereka angkat kaki dari sana pada tahun berikutnya.)
Tunggulah sampai kau bisa meniup bunganya seperti yang kau sukai saat kecil, ucapnya, yang masih terngiang di kepala Jean seolah-olah baru didengarnya kemarin, jika sampai saat itu aku tidak pulang ….
Di bawah jendela kamarnya, serumpun dandelion telah mekar. Kuning, secerah matahari. Beribu-ribu helai putihnya telah terbang ke seluruh bagian Thineland, membawa harapan Jean yang dari hari ke hari semakin menipis.
Jean membubuhkan segel terlebih dahulu sebelum menjawab ketukan tegas di pintu, dan mempersilakan tamunya masuk. Salah satu prajurit yang sedang berjaga malam ini melangkah menuju mejanya, matanya tampak mengantuk. “Izin melaporkan penemuan dari tim yang berjaga, Kapten.”
Jean pun mengikat gulungan di tangannya sambil menjawab, “Silakan.”
“Pagi ini kita menerima laporan mengenai perampok yang kabur dari daerah barat kota, dan malam ini kami menemukan orang dengan ciri-ciri serupa dengan perampok tersebut diikat di dekat gerbang kota, dalam keadaan setengah sadar.”
Jean melipat tangannya di atas meja. “Seseorang telah menangkapnya?”
“Asumsi kami seperti itu, Nona. Namun yang bersangkutan tidak meninggalkan jejak apapun, dan kami sudah membawa tersangka perampok ke kurungan di bawah tanah.”
Jean menekuri permukaan meja, menelusuri gurat-gurat kayunya sambil mengikuti alur pikirannya sendiri. “Baiklah. Terima kasih laporannya, aku akan mencatatnya. Ada yang kau perlukan lagi?”
“Satu lagi, Kapten. Kami juga menemukan seorang pria yang babak belur di daerah utara dekat sungai, dalam keadaan diikat dan di sampingnya ditemukan barang-barang yang kemungkinan besar bukan miliknya, sepertinya barang-barang dari berbagai toko. Kami mengasumsikan dia bukan pedagang atau pembeli yang kebetulan lewat karena kami juga menemukan senjata tajam di dalam pakaiannya.”
“Ksatria dalam bayang-bayang, huh?” Jean mengangguk-angguk. “Siapapun itu, seandainya aku menemukannya, aku akan mengucapkan rasa terima kasihku secara langsung. Sekali lagi, terima kasih atas laporanmu, selamat bertugas.”
Laporan yang serupa berulang hingga ke hari-hari berikutnya, setidaknya ada satu berita dalam satu hari mengenai penjahat yang dihakimi oleh orang tak dikenal dan ditemukan di tengah kota. Jean sudah mencoba membuat berbagai asumsi, tetapi tak menemukan pola apapun—semua sebatas seseorang yang menangkap perampok atau pencuri dan meninggalkannya untuk dibereskan oleh Ksatria Favonius sebagai penjaga kota. Tidak ada pesan, tidak ada jejak yang bisa diendus.
Malam itu, Jean pulang lewat pukul satu. Ada terlalu banyak surat untuk dicek dan persiapan kunjungan delegasi kerajaan lain yang menyita waktunya.
Ia sudah terlalu terbiasa berjalan pulang sendirian di malam hari dan tak terlalu terganggu ketika ada bunyi-bunyian yang mencurigakan, atau suara langkah yang misterius, kecuali jika langkah itu mengarah padanya.
Namun, kali itu, di belokan menuju rumahnya, ia melihat sekelebat bayangan keluar dari sebuah gang kecil, melesat di dalam bayang-bayang, tergesa dan segera menghilang ke arah blok rumahnya—yang kemudian disusul oleh bayang-bayang lain yang mengejarnya. Jean pun menarik pedangnya, berlari tanpa suara ke arah yang sama.
“Ampuni aku!”
Jean semakin jelas mendengarnya, dekat sekali dengan pekarangan samping rumahnya, dan Jean pun mengendap-endap dengan pedang terhunus.
“Lepaskan aku, maka aku akan—”
Kemudian, suara gebuk keras terdengar, ada sedikit perlawanan, lantas hening. Jean keluar dari persembunyiannya dan mengacungkan pedangnya.
Namun ia mendadak bergeming, menemukan bahwa di bawah remang-remang cahaya ala kadarnya yang berasal dari jendela rumahnya, dan pantulannya pada pedangnya: seseorang menunduk sambil mengikat tubuh pria lain yang tertunduk lemas.
“Kau ….”
Mereka bertatapan, dan bagi Jean, sekarang terasa seperti selamanya.
Jean pun menurunkan pedangnya, sementara pemuda di hadapannya berdiri tegak dan menyapanya dengan nada dingin yang masih terasa familier untuk Jean, “Jean.”
“Sejak kapan?”
Diluc mengikat pria itu satu kali lagi, meyakinkan bahwa jeratnya sudah cukup kuat agar orang ini tak melarikan diri di perjalanan. “Sejak aku menyadari bahwa di sini, dan di sana, kekuasaan membuat semua orang mabuk.” Dia berdiri tegak lagi. “Dan otoritas, organisasi, politik, semuanya tidak akan membawaku ke manapun.”
Tangan Jean kaku di hulu pedangnya, ia berharap ia bisa memeluk Diluc tetapi rentang jarak mereka masih sejauh sebelumnya alih-alih hanya sepanjang bilah pedangnya. “Jadi, yang terjadi belakangan ini ….”
“Selalu ada cara untuk menegakkan kebenaran, hm?” Pemuda itu menendang si pencuri yang masih terkulai tak berdaya. “Walaupun berada di dalam bayang-bayang.”
Jean menolak untuk memakai logikanya. Ia menjatuhkan pedangnya ke tanah dan menyerbu memeluk Diluc. Meskipun pada awalnya Diluc mencoba untuk melepaskannya, ia tetap bersikeras sampai akhirnya Diluc pun meruntuhkan tembok egonya sendiri.
“Aku tahu kau tidak mungkin kembali menjadi seseorang yang kukenal dan kuingat, Diluc, dan aku tahu kau membenci tempatku berada ….” Ia mundur sebelum Diluc sempat melakukan apa-apa. “Tapi … terima kasih sudah pulang.”
Diluc berdeham. Dia menghela napas, tidak menatap Jean lama-lama. Matanya beralih ke bagian bawah jendela yang berada di sisinya.
“Kau menanam dandelion di bawah jendelamu, huh?” Dia menggeleng, menyeringai hambar untuk alasan yang tidak bisa Jean tebak. Dia menyentuh bahu Jean sebentar, menekannya, kemudian melangkah meninggalkan Jean. “Istirahatlah. Sudah lewat tengah malam, kau selalu memaksakan dirimu. Tidak pernah berubah.”
Jean berbalik ketika Diluc sudah mulai menjauh. “Kau akan tetap berada di sini, kan?”
Diluc berhenti sebentar. Dia berpaling, dan Jean berpikir mungkin separuhnya ia berhalusinasi saat Diluc mengangguk singkat, gestur selembut angin yang kemudian menghilang begitu saja.
Jean tidak pernah bisa beristirahat bahkan ketika ia diberi libur. Ia diam-diam membawa surat-surat yang harus dibacanya ke kamar, dan membuat jawabannya saat di rumah. Tidak lupa membaca buku-buku hukum untuk mempertajam kembali ingatannya.
Siang itu, angin semilir membawa serbuk-serbuk bunga yang baru saja bersemi, dan Jean membuka jendelanya lebar-lebar untuk menikmati segarnya musim yang cerah. Sehelai tipis dandelion terbawa ke bukunya, mendarat di tengah-tengahnya, dan Jean pun memungutnya.
“Kupikir ini hari liburmu.”
Jean menoleh. Diluc meniup setangkai bunga dengan pelan, helai-helai putinya beterbangan menjauh ke alam bebas.
“Aku memang sedang libur. Buktinya aku berada di sini.”
Diluc melirik pada tumpukan surat di meja dekat jendela dan buku di pangkuan Jean. Jean pun tersenyum kecil. “Kalau begitu, aku akan libur kalau seseorang mau mengajakku berlatih pedang.”
“Kita bukan anak kecil lagi, Jean.”
“Ah, kalau begitu, bagaimana dengan anggur terbaik di Thineland yang diramu oleh Tuan Ragnvindr.”
“Asalkan kau tidak membawa semua itu.” Diluc mengedikkan dagu ke arah benda-benda barusan.
Jean pun akhirnya menutup bukunya, sebelumnya masih sempat mengambil sehelai dandelion yang bersinggah di sana. Ia menggenggamnya di antara kedua jarinya, dan membiarkan angin membawa terbang sisanya, melayang tinggi, mengangkasa membawa cerita-cerita.
