Actions

Work Header

The (Literal) Trauma (Code)

Summary:

Kira-kira kayak gini kalo HHU ada di alternate universe-nya The Trauma Code 😂

Notes:

Babeh as Prof Baek
Mingyu as dr. Yang
Vernon as dr. Park

dan tiga-tiganya kesengsem sama Nurse Gangster aka Wonwoo.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Serius? Tau dari mana deh?" tanya Wonwoo dengan mata kucingnya yang memicing. Seolah meragukan perkataan Mingyu.

 

Yang ditanya hanya mendengus, "Ya dinalar aja. Prof Choi bisa beli jam tangan sama mobil-mobil mewah itu duit dari mana? Masa iya bayaran dari rumah sakit?"

 

"Who knows dia sendok emas?" tanya Wonwoo lagi sambil mengambil satu mie instan.

 

Mingyu refleks merebutnya, "Nggak, ya. Makan yang sehat. Dan Prof Choi bukan sendok emas, orang pas SMP aja harus pindah ke panti asuhan karena ayahnya meninggal dan ibunya juga udah meninggal sejak dia kecil."

 

Wonwoo merebut kembali mie instannya dan buru-buru menyerahkan ke petugas di situ, meminta untuk dimasakkan dengan tambahan telur dan daging. "Telur sama daging kan sehat. Jangan protes!" seru Wonwoo saat dilihatnya Mingyu membuka mulut. "Ya mungkin Prof Choi punya bisnis?"

 

"Enggak, Wonwoo. Prof Choi selesai spesialis aja masih belum punya tempat tinggal. Numpang di apartemen Prof Yoon tiga tahunan. Terus Prof Choi join pasukan perdamaian lima tahun, setahun berikutnya nggak kelacak. Balik-balik udah jadi milyarder begini."

 

"Setahun terakhir itu bikin bisnis, mungkin." ucap Wonwoo, masih bersikeras dengan teorinya.

 

Mingyu memutar bola matanya. Teman kerjanya yang satu ini memang gigih dan teguh pendiriannya. Bagus saat diterapkan untuk merawat dan menangani pasien di pusat trauma tempat mereka bekerja. Tapi kalau sedang mengobrol begini, astaga

 

Untung sayang, batin Mingyu.

 

"Setahun terakhir itu Prof Choi ya gabung di sini. Duit bayaran di sini gila-gilaan. Makanya Prof Choi jadi bisa beli jam tangan dan mobil-mobil mewah itu."

 

"Emang ini tempat apa?" tanya Wonwoo dengan mata membesar.

 

Aduh lucu banget kalo belo gitu, batin Mingyu lagi.

 

"Black Ruby."

 

Wonwoo mendengus, "Batu rubi kan warnanya merah. Aneh amat. Terus kalo black ru….?"

 

Tangan Mingyu terulur untuk menutup mulut Wonwoo. Takut ada orang yang mendengar perkataannya dan tersinggung. Semalam saja mereka sudah nyaris ditembaki, untung identitas Prof Choi berhasil dikonfirmasi. Kan tidak lucu kalau akhirnya mereka tetap ditembaki tapi karena mulut Wonwoo yang tidak ada remnya ini.

 

Semalam mereka berusaha menerobos pagar kompleks markas Black Ruby karena butuh pertolongan untuk menangani pasien mereka, Kapten Lee, kepala pasukan perdamaian yang tertembak di beberapa bagian tubuhnya dan butuh serangkaian operasi untuk menyelamatkan nyawanya.

 

Rumah sakit milik UN yang menaungi pasukan perdamaian mengalami kerusakan cukup parah setelah diserang oleh pasukan pemberontak. Rumah sakit kecil yang kemudian dipakai untuk merawat sekaligus menyembunyikan keberadaan Kapten Lee tidak memiliki cukup peralatan dan persediaan darah. Sementara di negara mereka sana, perhatian satu negara sedang tertuju pada tim kecil Prof Choi ini. Mereka semua mengharapkan keselamatan dan kembalinya Kapten Lee.

 

Prof Choi sempat menggelar rapat daring dengan Menteri Pertahanan dan Menteri Kesehatan untuk meminta air ambulance agar mereka bisa membawa kembali Kapten Lee secepatnya dan melanjutkan tindakan pengobatan serta perawatan di negara mereka saja. Tetapi ternyata, permintaan itu tidak bisa dipenuhi karena kendala pembiayaan.

 

Masalahnya, butuh dana yang sangat-sangat besar untuk mengadakan air ambulance dalam waktu kilat. Ini membuat pemerintah terjebak dalam situasi serba salah. Jika tidak mengirim air ambulance, maka Kapten Lee tidak akan tertolong. Pasti akan ada banyak rakyat yang kecewa dan marah. Tetapi jika mengirim air ambulance, di tengah situasi perekonomian yang kurang baik ini, tetap akan ada banyak rakyat yang kecewa dan marah. 

 

Pada akhirnya, Presiden memutuskan untuk tidak mengirimkan air ambulance dan bersiap mengumumkan kematian Kapten Lee. Toh, lukanya memang sangat parah dan ditambah dengan kenyataan bahwa rumah sakit yang mampu mengobatinya hancur diserang pemberontak. Lambat laun orang akan memahami kenapa Kapten Lee tidak bisa diselamatkan. Negara hanya perlu membuat narasi yang matang dan mengerahkan para key opinion leader di media sosial untuk membangun sentimen itu.

 

Prof Choi yang murka sempat berteriak-teriak memaki para pejabat negara. Well, pemandangan Prof Choi memaki para pemegang otoritas di rumah sakit sebenarnya memang suatu hal yang sudah biasa bagi Mingyu, Wonwoo, dan staff serta petugas kesehatan lainnya. Sebagai kepala pusat trauma, Prof Choi kerap mendapati peraturan dan kebijakan rumah sakit membuatnya kesulitan dalam menjalankan tugasnya. 

 

Biasanya, saat Prof Choi sedang memaki, Mingyu akan menutupi suaranya dengan berulang-ulang memanggil, "Prof Choi…..Prof Choi…" dengan sama lantangnya. Membuat siapapun yang ada di sekitar mereka jadi tercabik. Antara geli meihat situasinya, sekaligus kasihan pada Mingyu.

 

Semua orang tahu Mingyu adalah calon dokter spesialis yang pandai dan berbakat. Dia selalu bekerja dengan tekun, teliti, dan terutama ceria. Tetapi sakitnya Prof Kim, kepala pusat trauma yang sebelumnya, membuat masa pendidikan spesialis Mingyu yang awalnya normal-normal saja menjadi penuh dengan 'tantangan'.

 

Prof Choi, yang datang sebagai pengganti sementara Prof Kim, ternyata memiliki kepribadian yang 'sedikit terlalu bersemangat'. Dia tidak akan menyerah sampai titik terakhir. Energinya seperti selalu ada 24/7/365. Prof Choi bisa melakukan tiga operasi darurat berturut-turut dan setelah itu masih punya tenaga untuk memaki-maki otoritas rumah sakit karena pemotongan budget.

 

Mingyu kadang tidak tahu dia harus bersyukur atau menangis. Menjadi mentee Prof Choi membuat keterampilan dan kepandaiannya dalam menangani pasien meningkat pesat. Prof Choi benar-benar memiliki pengetahuan dan teknik yang sangat kompleks serta berguna dalam menjalankan kewajibannya sebagai dokter bedah trauma. Tetapi di sisi lain, mulut dan kepala Prof Choi juga punya perbendaharaan makian yang luar biasa beragam dan selalu dengan entengnya beliau keluarkan. Membuat Mingyu sebagai mentee satu-satunya harus siap sedia menjadi 'tukang bersih-bersih'.

 

Setiap Prof Choi habis memaki otoritas rumah sakit, maka Mingyu lah yang harus membungkuk meminta maaf, bahkan menghadap dan berujung diceramahi panjang lebar. Benar Prof Choi sudah menyuruhnya untuk mengabaikan saja panggilan itu, tetapi mana bisa Mingyu melakukannya saat ada banyak yang dipertaruhkan di sini. Bagaimana jika misal rumah sakit jadi menganggapnya kurang ajar dan mempersulit persoalan administrasi masa pendidikannya ini? Amit-amit.

 

"YAAA!" teriak Mingyu saat dirasakannya ada jilatan di telapak tangannya yang masih menutupi mulut Wonwoo.

 

Wonwoo hanya tertawa terbahak, memperlihatkan kerut hidungnya yang lucu lagi. Otomatis Mingyu jadi batal merasa sebal. Mana bisa, kalau yang dihadapi nggemesin begini. "Won… Kotor, nanti kamu sakit perut." rengek Mingyu akhirnya.

 

"Kan kamu habis cuci tangan juga."

 

Mingyu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudah maklum dengan pola pikir perawat favoritnya ini. Kalau pakai bahasa sekarang, agak kena pola pikirnya Wonwoo tuh.

 

"Terusin Black Ruby tadi." pinta Wonwoo saat mengambilkan piring untuk Mingyu mewadahi makanannya; yang tentu saja diterima dengan hati berbunga-bunga. "Jadi, Prof Choi pernah kerja di sini dan bayarannya gede banget sampe bisa buat beli ini itu yang mahal. Pertanyaanku, kok bisa Black Ruby ini bayar mahal? Emang pasien mereka VVIP semua?"

 

Mingyu menarik nafas dan melihat sekeliling dulu, memastikan tidak ada yang bisa mencuri dengar percakapan mereka. "Bisnis utama Black Ruby bukan rumah sakit. Bangunan ini, rumah sakit ini, cuma bagian dari kompleks markas Black Ruby. Bisnis mereka itu perlindungan keamanan."

 

"Maksudnya?"

 

"Jadi Black Ruby ini punya pasukan yang kemampuannya bahkan di atas pasukan elit militer di dunia. Mereka menawarkan pengamanan buat orang-orang penting atau super kaya di daerah-daerah berbahaya kayak di sini. Nah, karena tingkat bahaya yang tinggi, setiap tim pengamanan itu harus ada dokternya. Prof Choi kerja di sini sebagai dokter."

 

Mata Wonwoo membelalak, mulutnya membentuk O kecil. Mingyu mengerang dalam hati, tidak sanggup melihat kelucuannya. Perawat yang satu ini tidak tahu bahwa dia bernafas saja sudah membuat Mingyu kesengsem, ini malah berekspresi selucu ini. Mama tolong…. Batin Mingyu nelangsa.

 

"Berarti tato di tangan Prof Choi itu…." Wonwoo tidak menyelesaikan tanyanya. Malah melihat berkeliling, ke arah orang-orang yang hampir semuanya juga memiliki tato di tangan mereka.

 

"Yap. Tanda kalau mereka bagian dari kelompok ini. Makanya tadi malam waktu kita mau diberondong peluru, Prof Choi angkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Itu bikin penjaga yang serem semalem sadar kalau ini salah satu ally mereka."

 

"Gila ya, Min." tanggap Wonwoo sambil duduk. Mingyu, seperti biasa, sigap menarik kursi untuk Wonwoo. "Ternyata Prof Choi punya circle kayak gini."

 

Mingyu tertawa ringan, tapi tetap mengangguk menyetujui. Dia sendiri saat pertama kali mengetahui semua fakta ini hanya bisa merasa shock selama beberapa. Tidak menyangka bahwa mentornya yang nyentrik ini ternyata semakin dikupas malah semakin tidak terduga lagi.

 

"Tau yang lebih gila, bahkan dokternya, kayak Prof Choi gitu pun juga bisa pegang senjata berapi dan bunuh musuh kalau dibutuhkan."

 

Wonwoo memucat. "Jangan becanda…."

 

"Beneran kok." terdengar suara seseorang menanggapi. Orang yang sedang mereka obrolkan, tidak lain tidak bukan, Prof Choi himself.

 

"Aaaa…" Wonwoo tanpa sadar bangkit dari duduknya dan berteriak karena kaget.

 

Mingyu sendiri hanya terdiam mematung. Like a deer caught in headlights, hahahaha...

 

"Duduk." ucap Prof Choi tegas. Keduanya langsung patuh dan berdiri dengan punggung tegak, seperti murid yang sedang dimarahi guru.

 

Prof Choi terkekeh demi melihat keduanya. "Chill, guys."

 

Wonwoo memajukan badannya ke arah Prof Choi yang duduk di sebelah Mingyu di sisi lain meja. "Prof pernah nembak orang nggak?" tanyanya berbisik.

 

Prof Choi malah menatap ke arah Mingyu dulu sebelum menjawab. Apaan? Batin Mingyu heran.

 

"Jadi pacar saya mau, Won?"

 

Wonwoo terperangah, "Hah?"

 

"Tuh, pernah. Saya pernah nembak. Barusan."

 

Tangan Wonwoo maju memukul pundak Prof Choi. Tapi….harus secentil itu gesture-nya? Batin Mingyu tidak suka.

 

"Prof serius. Nembak yang dar der dor gitu lhooo!"

 

"Apa nikah sekalian?"

 

"IH APA SIH PROF?!"

 

"Katanya yang dar der dor. Kurang? Kalo gitu langsung punya anak sekalian? Udah paling dar der dor kan, ya?"

 

Pipi Wonwoo, Mingyu menyadari dengan perasaan kesal, bersemu merah. Astaga, gombalan busuk begitu pun bisa kena di dia? Sialan. Mingyu menggigit bibirnya kencang, demi menahan agar kalimat itu hanya di dalam hatinya saja.

 

Sementara yang punya gombalan busuk malah tertawa bahagia, membuat Mingyu mendadak gatal ingin menoyor kepalanya. Kalau ini sesama residen, pasti Mingyu tidak akan susah payah menahan diri seperti ini. Sayangnya, ini adalah professor sekaligus mentornya. Terlalu berbahaya kalau dia turuti impuls gilanya.

 

"Tapi beneran, Prof. Pernah enggak?" Mingyu mencoba memecah tensi aneh di antara Prof Choi dan Wonwoo. 

 

"Pilihannya menembak atau ditembak, dan saya sedang tidak pakai rompi anti peluru. Hari ini saya berdiri di sini, hidup dan sehat. Jadi, kalian bisa buat kesimpulan sendiri." Jawab Prof Choi, tapi ke arah Wonwoo. Ditutup dengan kedipan mata pula. Membuat pipi Wonwoo jadi makin merah.

 

Oh, brengsek juga professor satu ini. Batin Mingyu kesal, dan sadar seratus persen mukanya pasti sedang tertekuk jelek.

 

Tubuh Mingyu menegang saat mendadak Wonwoo menggenggam tangannya. 

 

A, ternyata seorang petugas mengantarkan mie instan pesanan Wonwoo tadi dan tangan Mingyu menghalangi jadi Wonwoo menariknya menjauh. Mingyu sudah mau cemberut lagi tapi langsung tersenyum cerah saat disadarinya Wonwoo tidak melepas genggaman dan malah mengelus punggung tangan Mingyu dengan ibu jarinya.

 

Kali ini, gantian pipi Mingyu yang bersemu merah.

 

"Loh, merah mukamu? Sakit?" tanya Prof Choi sambil memegang dahi Mingyu.

 

Oh, dasar perusak suasana.

 

"Hmm. Padahal Wonwoo yang diambil darahnya dua kali, kenapa malah kamu yang sakit?" lanjut Prof Choi dengan senyum mengejek.

 

"Kan dokter Mingyu dua malam enggak tidur, Prof."

 

"Udah tau dua malam enggak tidur dan sekarang malah minum kopi begini?" ujar Prof Choi sambil menyentil pelan cup di depan Mingyu. "Kamu juga, kenapa makan mie instan?"

 

"Ih, kan…." belum selesai Wonwoo berbicara dan Prof Choi sudah menyuruhnya diam dengan cara menjepit bibir Wonwoo dengan ibu jari dan telunjuknya.

 

Refleks Mingyu menepis tangan Prof Choi dari wajah Wonwoo. Membuat yang ditepis mengangkat alis dan menyeringai. Seolah dia tahu sesuatu. Mingyu sudah salah tingkah, takut Prof Choi marah atas sikapnya barusan. Tetapi mentornya itu justru memanggil salah seorang petugas dan minta dibawakan satu porsi steak dan krim sup.

 

"Beneran kamu belum tidur?" tanya Prof Choi kepada Mingyu sembari menyingkirkan cup isi kopinya. Sebagai gantinya Prof Choi menyodorkan jus botolan di depannya ke arah Mingyu.

 

"Habis ini, Prof." jawab Mingyu sambil menunjuk makanannya.

 

"Oke. Nanti kamu ti….." Prof Choi tidak menyelesaikan kalimatnya karena mendadak tangannya menyambar piring berisi mie instan di depan Wonwoo. "No instant noodle!" tegas Prof Choi, membuat Wonwoo mencebik kesal.

 

"Terus makan apa dong, Prof?!"

 

"Tunggu. Lima menit lagi."

 

Wonwoo meletakkan sumpitnya dengan suara berdentang. Kentara sekali kucing satu ini kesal karena dilarang makan mie. Tapi herannya, dia tidak memaksa seperti ketika dengan Mingyu tadi. Mingyu jadi kesal sendiri. Kenapa kalau dengan dirinya selalu ngeyel, tapi kalau dengan Prof Choi manut? Naksir, kah? Batin Mingyu kesal.

 

Mereka kemudian hanya diam dan mengamati sekitar sembari menunggu entah apa yang tadi dikatakan oleh Prof Choi. Beberapa orang terdengar memanggil Prof Choi saat menyadari keberadaannya di situ.

 

"Famous dia…" ucap Wonwoo tanpa suara ke arah Mingyu, yang hanya ditanggapi dengan gesture menyuruh diam. Ngeri juga kalau ketahuan ngeceng-cengin beliau gini.

 

"Nah, dateng juga…" ucap Prof Choi saat seorang petugas mengantar sepiring steak dan semangkuk sup krim, pesanan Prof Choi tadi.

 

Tangan Wonwoo maju hendak meraih piring mie instannya lagi tetapi langsung dicegah oleh Prof Choi. "No. Instant. Noodle. Ngerti?"

 

"Terussss….sayaaaa….mam…..apaaaaa…..prooooof?"

 

Mingyu tersedak air liurnya sendiri. Mam? MAM? Astaga, centil amat?

 

Prof Choi menempelkan telunjuk ke bibirnya sendiri dan mulai memotong-motong steak di depannya. Setelah selesai, ia mengacungkan satu potong ke depan mulut Wonwoo. "Aaaa…" katanya dengan ekspresi lucu.

 

Wonwoo mencebik tapi kepalanya maju juga dan melahap daging yang diacungkan padanya. Sementara tangannya mengambil sendok dan mulai menyuapkan krim sup ke Prof Choi.

 

Mingyu mendengus ke piringnya dan mulai menghabiskan makanan di depannya cepat-cepat. Termasuk mie instan Wonwoo yang sempat terabaikan. Hanya dalam beberapa suapan besar, semua sudah habis ia pindahkan ke dalam lambungnya.

 

"Duluan, ya." pamit Mingyu ala kadarnya dan segera bergegas pergi, tidak menunggu jawaban dari kedua orang itu sama sekali. Dia malas menonton adegan suap-suapan menjijikkan ini lebih lama lagi.

 

 

 

*****

 

 

 

Mingyu terbangun dari tidurnya dengan sekujur tubuh terasa seperti habis dipukuli. Semua sendinya kaku, tulangnya terasa ngilu, dan terutama kepalanya terasa sangat pening. Tidak heran, mengingat dua hari terakhir benar-benar terasa seperti syuting film laga dan dilewati dengan banyak hal-hal tidak terduga.

 

Juga, karena tingkah Wonwoo yang ternyata centil begitu saat dengan Prof Choi. Menyebalkan.

 

Melangkah keluar dari kamar tempatnya beristirahat, Mingyu mendapati seorang petugas yang siaga menjaga. Dengan senyum, Mingu melewatinya. Namun ternyata ia diberhentikan dan diberi secarik kertas bertuliskan,

 

Kalau udah bangun, ke kamar Capt Lee ya Min.

 

Tulisan tangan Wonwoo.

 

Hah, apa lagi ini? Apakah Wonwoo mau memintanya gantian menjaga Kapten Lee agar dia bisa berkencan dengan Prof Choi? Mingyu mengucapkan terimakasih kepada petugas tersebut dan dengan wajah bersungut-sungut segera menuju ke ruangan perawatan Kapten Lee.

 

Baru sampai di lorong pertama dan langkah Mingyu terpaksa terhenti. Dia mendengar suara Vernon, dokter anestesi yang menjadi bagian dari tim ini, sedang berbincang dengan…..Direktur?

 

"Betul, pak. Kami di markas besar tempat Prof Choi pernah bekerja dan mereka akan menyiapkan air ambulance sebagai transport pulang kami. Kapten Lee sudah stabil tetapi memang belum siuman."

 

Lalu beberapa kalimat lagi yang Mingyu sudah tidak bisa menangkap dengan baik karena pikirannya penuh dengan berbagai pertanyaan.

 

Vernon, ngapain dia telponan sama Direktur musuh bersama satu bangsal pusat trauma itu?

Terus apa tadi, air ambulance? Mereka akan pulang dengan air ambulance? 

 

Biaya penggunaan air ambulance untuk pulang ke negara mereka kemarin diperkirakan sebesar 1,8 juta USD dan itulah alasan pemerintah menolak menyediakan. Sepertinya mustahil pemerintah mengubah pikiran, sama mustahilnya dengan Prof Choi yang membayar semua ini. Melihat cara Vernon berkata tadi, kemungkinan terbesarnya adalah Black Ruby menyediakan ini.

 

Beneran duitnya unlimited apa ya….

 

"Saya akan laporkan langsung setelah saya kembali nanti, Pak. Ya… Ya… Bapak pasti bisa menggunakan ini untuk menyingkirkan Prof Choi."

 

Mingyu terkesiap mendengar kalimat terakhir Vernon. Jadi, dia mata-mata Direktur? Membantu pria tua mata duitan itu untuk menyingkirkan Prof Choi?

 

Dengan langkah lebar Mingyu hendak menghampiri Vernon dan mengkronfontasinya tetapi, oopss….. Sudah ada Wonwoo.

 

Mingyu kemudian mundur dan bersembunyi di belakang pilar. Mengintip Wonwoo yang dengan suara penuh amarah menanyai Vernon.

 

"Udah gila lo?" tanya Wonwoo sambil menunjuk ke wajah Vernon. "Mata-mata, hah?"

 

Vernon hanya melipat tangannya di depan dada dan menyeringai. "Iya. Emang kenapa kalo gue jadi mata-mata?"

 

Wonwoo terperangah, kentara tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Mingyu pun sama di tempat persembunyiannya ini.

 

"Kenapa lo bilang? Lo tau sendiri kan Direktur sialan itu punya niat buat nutup pusat trauma?"

 

"Tau."

 

"Tau dan lo malah jadi mata-mata buat dia?! Nggak make sense ya!"

 

Vernon mengangkat kedua tangannya, memberi sinyal agar Wonwoo tenang dulu. "Kalo gue nggak mau jadi mata-mata, dia bakal pilih orang lain dan who knows, mereka mungkin bakal jadi mata-mata beneran."

 

Ha? Maksudnya? Tanya Mingyu dalam hati. Ya kan, lu mata-mata beneran juga…

 

"Maksudnya?" tanya Wonwoo, menyuarakan pertanyaan Mingyu baru saja. 

 

"Setelah selesai pendidikan spesialis anestesi, gue bakal daftar jadi staff tetap di pusat trauma, dan kalau gue mau pusat trauma aman sampai saat itu, harus ada yang bisa ngakalin Direktur kan? Bikin dia mikir kalau dia dapet info penting, padahal enggak? Jadi pada saatnya dia mau ngusik pusat trauma, ternyata senjata dia cuma senapan kosong…"

 

Hening selama sepuluh detik.

 

"Kontra intelijen maksud lo?!" pekik Wonwoo.

 

"Yap. Kontra intelijen, babe."

 

APA? BABE? Telinga Mingyu melebar, mencoba memastikan bahwa yang dia dengar salah. Mungkin sebetulnya oke? Tapi logat bule Vernon membuatnya terdengar seperti babe?

 

"Gila. Cerdas lo ya?"

 

"Harus. Biar gue bisa kerja di pusat trauma dengan tenang."

 

"Berat tau jadi staff tetap anestesi di pusat trauma. Mending lo daftar ke syaraf, kerjaannya ga banyak tapi duitnya wuuuu…" ucap Wonwoo sambil memberi gesture uang melimpah kepada Vernon.

 

"Tapi kan yang ada elonya di pusat trauma."

 

Terlihat jelas oleh Mingyu wajah Wonwoo yang memerah seperti saat bersama Prof Choi tadi. Kali ini bahkan matanya mengerjap-ngerjap.

 

Astaga. Gombalan brondong pun juga dia kena?

 

"E…emang kenapa juga kalo ada gue…" tanya Wonwoo tergagap yang membuat tangan Vernon otomatis terjulur untuk membelai puncak kepalanya.

 

"Biar bisa langsung kencan sepulang kerja." ucap Vernon dibarengi kedipan mata.

 

Dari tempatnya mengintip, Mingyu mulai merencanakan strategi untuk menjepit tangan Vernon ke pintu air ambulance nanti. Siapa suruh genit dan elus-elus Wonwoo.

 

 

-end

 

 

 

 

 

Notes:

As always, ga ngerti ngetik apaan. Cuma lagi rewatch The Trauma Code scene dr. Yang dan nurse Gangster makan sambil bahas bayaran di Black Wings terus kepikiran HHU as them. Plus lagi sayang-sayangnya sama Adek Wonu karena udah berani berangkat dharmawisata ke London sendirian jadi bikinlah semua kesengsem sama dia wkwkwk dan karena Mingyu bikin jantung kita semua ga aman dengan ck-nya, mari kita gantian siksa dia di sini harus menanggung cemburu membabi buta 😂🙏

Have a nice week ahead, semua. Selamat menjalankan puasa Ramadhan untuk teman-teman Islam. Semoga dimudahkan dan diberi kekhusyukan beribadah (jauh jauh dulu dari yang laret laretttttt wkwkwk). 💜💚

Series this work belongs to: