Actions

Work Header

Foolish Dream

Summary:

[Ditulis sebelum penulisan ulang kisah Seraphine di situs web Universe.] Didasarkan oleh fanart dari Suqling. Bagaimana jika Seraphine tidak memandang ceruk terdalam Zaun serta puncak gedung tertinggi Piltover dengan kacamata bertinta merah mawar? Atau. Bagaimana jika karakter Seraphine ditulis dengan lebih baik dan mungkin realistis?

Ujicoba bikin colorstory ala-ala.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Seraphine menyesal telah mengecat rambutnya menjadi merah jambu dua bulan lalu. Keputusan kantornya untuk menggunakan suaranya sebagai pengisi suara nyanyian seorang aktris membuat dia masuk kamar dengan membanting pintu.

Si Bos tadi bilang, memang Piltover sedang membutuhkan sebuah bintang—dan peran Sera yang dapat dia penuhi hanyalah sebagai bayangan dari bintang itu. Berbagai gubahan lagu yang dia tulis pun bukan lagi jadi miliknya; dirampas cuma-cuma tanpa imbalan yang menguntungkan. Nama pencipta diganti oleh nama sang atasan. Impian masa kanak-kanaknya—menjadi musisi legendaris yang menyatukan dua kota—sudah lama dibuang dan digantikan dengan yang, disebabkan oleh perlakuan diskriminatif dan tidak menyenangkan para tetangga sejak kepindahan keluarganya dari Zaun.

Dia pikir, nyanyian dalam jiwa orang-orang mampu membuat harmonisasi suatu hari nanti dengan ambisi bodohnya. Sayang, realita tak berkata begitu. Dia juga semakin enggan mewujudkannya setelah mendengar pembicaraan orang di pasar soal serigala atau orang ungu berpisau yang meneror hingga daerah Sump (lapisan terbawah kota Zaun) di pasar daerah perbatasan.

Walau begitu, Seraphine tak tega merampas dan merobek-robek gambar berisi cita-cita konyol itu dari meja kerja sang ayah. Kedua orang tua gadis itu sudah berkorban banyak dan rela pindah dari bawah sana demi mendukung hasrat dan bakat putri semata wayang mereka. Dan Seraphine kini harus bertanggungjawab atas itu semua karena jalan yang dia lalui tak lagi mulus. Lagipula, ada warna suara yang lebih indah daripada berbagai ujaran keangkuhan yang dia temui tiap hari, suara yang telah lazim dia dengarkan semasa kecil, juga sukar ditemui di atas sini: senandung dari orang-orang yang tengah merakit sesuatu demi kebermanfaatan bagi mereka sendiri di Zaun sana.

Selalu ada gairah dan semangat.

Kalau tidak berbentuk senandung pun, gumaman mereka juga sudah cukup jelas memperlihatkannya. Seraphine jadi tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.

***

"Kau benar," ujar gadis itu seraya meletakkan berbagai suku cadang yang dia dapatkan dari belakang gedung metalurgi Universitas Piltover di hadapan Viktor. Di saat yang bersamaan, tangan robot manusia siber itu mendorong gelas kaca berisi susu manis dengan asap mengepul, aromanya menggelitik hidung Sera.

“Udara segar Piltover tak menjamin bersihnya sekitar dari kesombongan yang dapat didengar secara konstan.” Sekeping golden hex beserta beberapa keping silver cogs tersusun rapi di sebelah gelas.

Sera langsung mengambil dan memasukkannya ke dalam saku melalui tangan kiri. Tangan kanannya memegang gelas susu. Berulangkali gadis itu meniup-niup, tak ingin lidahnya terbakar kalau lekas minum. “Kalau kau sudah selesai menyesapnya, pergilah.” Viktor berbalik badan usai mengambil barang-barang yang diserahkan Seraphine.

“Kenapa?” Gadis itu awalnya sempat mengira, mungkin pria hasil ketamakan warga Piltover ini akan bilang jikalau dia membutuhkan suku cadang lain karena Seraphine sendiri beranggapan kalau barang yang dia kumpulkan hari ini sangat sedikit dari biasanya.

“Kurasa cukup, kau akan kupanggil lagi nanti, terima kasih, Seraphine.” Seraphine meneguk sekali. “Kalau begitu, aku mau minta tolong kau untuk bikin alat yang membuatku bisa mendengar musik dari piringan 24/7 di telinga. Bisa? Besok kukumpulkan suku cadangnya kalau kurang—omong-omong, susu manisnya enak,” katanya setelah meneguk untuk ketiga kali. Viktor tak menjawab, malah berjalan pergi menuju meja kerjanya, lanjut mengerjakan entah-apa.

“Huh. Kuanggap iya, kalau begitu.” Gadis itu menenggak hingga tetes terakhir minumannya tak ada di gelas, lalu lekas pergi.

Dua minggu lalu, Viktor telah membuatkannya sebuah mikrofon dan karena keputusan kurang ajar mantan atasannya di gedung kesenian malah tak jadi digunakan. Dia telah meminta maaf pula pada Viktor, dan diberi balasan berupa bagaimana pria itu juga tak mendapat penghargaan sepantasnya atas jasa-jasa dan invensi untuk memajukan Piltover. Sejak itu, dia memutuskan untuk tak lagi memihak orang-orang di atas sana. Siapapun. Bahkan aparat penegak hukumnya.

Orang tuanya tak tahu soal ini dan masih mengira putri tunggal mereka masih jadi pegawai gedung kesenian Piltover. Seraphine sendiri tak ada niatan untuk memberitahukan hal sebenar-benarnya.

Maka tiap hari dia diam-diam melangkah dari berbagai bengkel dan pembuangan, mengambil apapun yang diperlukan apabila dia melihat jika suara orang-orang menggambarkan betapa fokus mereka hingga tak memperhatikan sekitar.

Sudah ada beberapa pihak yang dia bantu sejauh ini: Seorang bocah seumurannya dan berambut jabrik bernama Ekko beserta kawan-kawan yang membutuhkan sekelumit suku cadang untuk menyelesaikan sesuatu (yang Seraphine sendiri tidak tahu, dan tidak mau tahu).

Seorang gitaris kondang (sayang musiknya tak sealiran dan tak seselera) yang membutuhkan beberapa baut standar invensi orang-orang Piltover untuk dipasangkan ke sound system-nya yang nyaris hancur karena kerasnya musik.

Seorang yang digadang-gadang bos Glasc Industries sebagai duri dalam daging karena membuat daya peralatan mereka untuk mengeruk tebing sirna selama beberapa kali, namun dia masih tak tahu siapa—ternyata seorang wanita muda berambut hijau menyala yang memakai atribut perusahaan, memesan beberapa suku cadang khusus yang dikutilnya dari bengkel milik apprenta keluarga Torek.

Viktor yang membantu membuatkan anggota dan organ tubuh prostetik bagi anak-anak jalanan. Mereka semua punya tekad, gairah dan semangat yang menggebu dalam menjalankan peran mereka. Sangat amat menyenangkan untuk mendengar jiwa mereka, terlebih jika alat peredam suara buatan orang tuanya dia lepaskan dari telinga sejenak. Dan itu lebih menarik dari apapun yang dia dengar dari dalam potongan kristal di peredam suaranya.

***

Sorot dingin mata yang berubah dari biru ke oranye menyambut tatkala Seraphine hendak mengutil dari belakang bengkel apprenta keluarga Morichi. Tangan yang sama dinginnya menggenggam pergelangan Seraphine hingga berbagai macam gir terjatuh dari telapak. “Ketemu,” sosok berambut abu-abu itu berujar.

Suaranya terdiri dari paduan pita suara manusia dan pita suara artifisial. Warna suaranya aneh. Apalagi yang berpusat dari objek kebiruan di dadanya.

Seraphine mengabaikan apapun yang dia dengar dari dalam sana. “Butuh waktu hampir tiga minggu, eh? Bukannya bikin alat detektor pengutil berbasis hextech sejak awal atau apa.” Berusaha menarik tangannya, Seraphine melempar senyum asimetris yang berisi getir dan geram.

Dia tak peduli jika kaki-kaki pisau si wanita-robot-jangkung memotongnya saat itu juga. Kalaupun sedang dibuat, Seraphine juga mengira jika itu tak mungkin selesai dalam waktu cepat. Pastinya lain cerita jika dikerjakan oleh orang-orang Zaun.

“Apa alasanmu?” tanya si wanita dengan suara setengah-robotnya.

“Aku—” Seraphine memutar otak, berusaha meracik kebohongan meyakinkan. Tidak mungkin, ‘kan, dia jujur soal intensinya untuk mendukung sikap inovatif dan gairah berinovasi penduduk di bawah sana. “—hendak membuat beberapa gramofon,” katanya dengan ketus, menatap lurus ke wajah si wanita dari balik topi dan penutup mulut yang dia kenakan.

Sedang tangan kiri Seraphine yang masih kosong merogoh tas selempang, mengeluarkan alat bulat yang dibuat Zeri; dia menyebut itu “pelenyap daya”. Belum diujicobakan pada Hextech dan sejauh ini mampu melenyapkan sumber daya chemtech, menggantikannya dengan arus listrik (diisi Zeri sendiri) yang membuat mesin apapun yang ditempel menjadi malfungsi, tapi tak ada salahnya jika dia gunakan sekarang.

Gadis itu menempelkan benda itu sekejap, membuat cengkeraman si wanita lepas dari tangan kanannya sebelum dia ambil lagi dan kabur dengan gesit, meninggalkan si wanita-robot-jangkung terduduk tanpa sadar dan baru bangkit saat Seraphine lenyap dari pandangannya.

Sesampainya di rumah, dia lekas memotong sisa helai merah jambu yang memenuhi separuh dari seluruh rambutnya, menyisakan warna cokelat tua sepundak yang menghiasi kepala.

Usai melakukan itu, dia mengemas beberapa helai pakaian dan benda-benda penting ke dalam ransel. Saat dia keluar dari kamar, kedua orang tuanya kaget dan lantas bertanya, “Kau mau ke mana, Nak?”

“Zaun, rumah lama kita.” 

 

.

.

.

End.

Notes:

Sebenarnya ini ditulis iseng. Ada pengubahan juga di karakter Zeri, yang aslinya jadi your friendly neighbourhood electric gal jadi orang yang niatnya menghancurkan Glasc Industries dari dalem dengan memanfaatkan kekuatan dia.

 

Sori kalau misalnya ada yang OOC dan nggak sesuai. :")