Actions

Work Header

Peck Kiss

Summary:

tentang kebiasaan jeonghan yang mengecup seungcheol di keramaian seolah tidak terjadi apa-apa

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Hari itu, mereka mengadakan rekaman video musik untuk comeback perdana grup mereka dengan anggota lengkap, setelah anggota termuda mereka telah menyelesaikan wajib militer tepat sebulan yang lalu. Saat itu musim dingin baru saja memasuki putaran musim, memberi ruang bagi para staff dan member untuk berkumpul pada satu api unggun secara beramai-ramai. Saat ada yang protes, mengapa harus api unggun saat hot pack saat ini sudah beredar secara umum, bahkan terlihat berceceran di lokasi syuting. Seungkwan bilang, “untuk solidaritas.” Maka, bagi orang-orang yang mau mau saja, kini berkumpul di sekitar api unggun.

Api unggun dengan diameter 1 meter hampir dipenuhi oleh beberapa member dan staff, mengingat anggota dan staff lain masih sibuk dengan urusan rekaman video musik. Joshua kala itu duduk tepat di sebelah Seungcheol, ikut dalam lingkaran api unggun yang ternyata lumayan menghangatkan. Tanpa bicara pun, dapat Joshua lihat kini tubuh besar itu bergetar, menahan dingin yang mungkin terasa menusuk di kulitnya. Selama mengenal Seungcheol lebih dari 15 tahun, tentu Joshua sangat paham bahwa lelaki di sebelahnya ini lebih familiar terhadap suhu panas ketimbang suhu dingin.

Baru saja Joshua akan melilitkan selembar syal untuk menambah kehangatan pada Seungcheol, nampak segelas kopi telah menempel di pipi tembam itu. Lain tak lain ialah Jeonghan, salah satu member yang baru saja menyelesaikan bagiannya dalam rekaman video musik. Belum saja Joshua bicara, bibir Jeonghan sudah menghampiri bibir Seungcheol sepersekian detik. Betul hanya sekian detik, karena setelahnya lelaki itu langsung duduk di kursi soleli tepat di sebelah Seungcheol, kemudian ikut berceletuk dalam ramai percakapan sembari menyesap kopi dalam genggaman lain. Seolah tak terjadi apapun. Seolah Jeonghan tidak memancing keterkejutan staff baru yang belum pernah dan tidak pernah memperkirakan keduanya akan mengecup bibir satu sama lain, mengingat betapa profesional keduanya saat berada di depan kamera.

Chan yang berada di sebelah Jeonghan langsung berceletuk, “Wah, dah lama banget ga liat bang Jeonghan main cium.” Dan terdengar gelak tawa dari sebagian besar yang mendengarnya. Seungkwan yang berada di seberang ikut bicara, “Kelamaan militer sih, lo.” Dan tawa semakin terdengar. Si pelaku hanya tertawa tengil, seperti biasa.

“Lo kan juga lama, Kwan. Dino mah cepet.” Jeonghan berceletuk, masih dengan menyesap kopinya.

“Eh, lo diem yak. Yang penting udah lewat.” Ujar Seungkwan dengan nada meninggi, tak terima mendengar ucapan hyung tengilnya.

“Lewat mana dah? Karawaci?” Mingyu kini bergabung dalam obrolan, masih dengan atribut yang dikenakan selama rekaman.

“Lewat Depok! Biar ketemu Abah Rojak!” Celoteh Seungkwan asal, semakin memancing keramaian untuk tertawa dalam percakapan mereka. Baru saja mereka terbawa menuju obrolan ke arah lain, salah satu staff yang baru saja bergabung dalam perkumpulan api unggun berceletuk,

“Jeonghan kalo ciuman biasa aja, ya?”

“Ei, biasa gimana tuh, bang?” Jeonghan bertanya, sembari meletakkan tangannya di sisi belakang kursi soleli yang Seungcheol duduki.

“Yah, gitu. Cium terus kayak ga kejadian apa-apa.” Ucap kembali staff itu, yang argumennya didukung oleh beberapa staff lainnya.

Hanya tawa yang menyambut argumen itu, seolah Jeonghan tak ingin membicarakannya lebih lanjut. Namun gesturnya tentu berkata sebaliknya, dengan jemari yang semula di sisi belakang Seungcheol kini memainkan anak rambut Seungcheol, sembari dirinya bergabung dalam percakapan selanjutnya. Obrolan masih terus berlanjut, dengan segala ucapan asal untuk terlihat lucu di hadapan penonton (staff) yang menyaksikan. Joshua pun tentu ikut tertawa dibuatnya, namun pertanyaan staff yang sebelumnya tak terjawab oleh Jeonghan masih mengitari kepala Joshua.

Entah bagaimana, baru lelaki itu sadari bagaimana bentuk gestur yang Jeonghan berikan pada Seungcheol. Maksud Joshua, begini. Jeonghan tidak secara terang terangan menyender manja pada tubuh tegapnya, atau selalu mengajak bicara Seungcheol tanpa memperdulikan siapapun di sana, seolah dunia milik berdua. Cara yang Jeonghan gunakan yaitu dengan meletakkan lengannya pada sisi kursi, tepat di belakang tubuh Seungcheol saat gelak tawa menghampirinya. Atau saat Seungcheol bicara, maka mata sayu itu akan menatapnya lekat seolah jika matanya berpaling, Seungcheol akan menguap. Atau seperti di keramaian ini, dirinya tanpa diduga memberi Seungcheol kecupan di bibir, seolah dirinya tengah menenggak kopi dalam genggamannya. Sangat biasa. Seperti tidak terjadi apa-apa.

Keduanya masih nampak wajar, tak ingin mencolok namun tetap teritorial. Secara tidak langsung mengumumkan hubunganya dengan Seungcheol. Begitulah cara Jeonghan menunjukan kepemilikannya terhadap Seungcheol, kalau menurut Joshua. Keduanya akan tetap berada dalam keramaian, memberi ruang bagi publik untuk merasa familiar, sehingga tak ada yang menganggapnya janggal, biasa.  

Ah, sialan, dasar Jeonghan licik! Bukankah ini namanya cuci otak?! Ah, tapi sudahlah. Toh, Joshua tidak bertanggung jawab atas hubungan mereka. Melihat keduanya dapat berhubungan baik dalam waktu yang lama pun telah ikut memberi Joshua ruang kebahagiaan. Apalagi saat senyum lebar disertai segaris gigi yang muncul menghiasi wajah Seungcheol, serta mata besar yang menyipit sangking senangnya saat merespon Jeonghan. Hal itu telah sepenuhnya meyakinkan Joshua, bahwa Seungcheol juga bahagia dalam hubungan tersebut. 

Yah, asal keduanya bahagia, Joshua juga ikut bahagia, kok. ~♡

Notes:

need more hancoup dynamics so i made this :D semoga hancoup semakin didepan #jos

also kinda feel bad for making joshy out of character but yeah in the end of the day this is only fiction story n not irl svt ;)

you can find me on x (twitter) as @sunedeay! see ya