Chapter Text
Brug
Brug
Brug
Brug
Empat kardus besar yang dibawa pemuda tinggi itu, dijatuhkan begitu saja di depan pintu sebuah kamar kost. Tepat saat dia membawa kardus terakhir, pintu kamar kost lain terbuka.
Mereka saling bertatap muka, yang tinggi dengan gigi runcing seperti vampire tersenyum menyapa, pemuda tinggi satunya memakai kacamata kotak dan tersenyum kecil.
“Kamu.... anak baru itu?” Tanyanya pelan. “Iya kenalin, nama gue Mingyu.” Anak baru itu mengajaknya berjabat tangan, dengan ragu ia membalasnya. “Kunci.... sebentar ya, Mingu.” Pemuda berkacamata itu masuk kembali ke kamarnya, dan membawa kunci dengan gantungan snoopy. “Ohh, aku Won—woo...” ucapnya setengah berbisik. “Iya, gue tau, bu kost tadi chat katanya kunci kamar gue dititip di Wonwoo nomor empat.” Mingyu meraih kuncinya. Wonwoo hanya mengangguk kecil.
Mingyu mulai mengangkat kardus barang-barangnya satu persatu. Wonwoo masih mematung entah kenapa. Pemuda berkacamata itu tampak ragu dan seperti ingin berbicara. Mingyu tersenyum lagi, dan mengedip cepat, ada apa dengan tetangganya ini?
Oh... mungkin anaknya pemalu, Mingyu menebak ia mungkin ingin membantunya.
“Mau bantuin?” tanyanya. Wonwoo mengangguk samar. “Boleh a—aku bantu?” Wonwoo tersenyum kikuk. “Tentu. Ambil yang ini, terus barangnya keluarin, taruh atas kasur gue aja ya!” Mingyu memberinya satu kardus sedang yang berisi buku-buku mata kuliahnya. “Okay!” Wonwoo langsung melaksanakannya.
Mereka berbenah berdua sekitar 2 jam lebih. Wonwoo mendengarkan arahan Mingyu dengan baik seperti anak kecil yang disuruh ibunya. Mingyu dengan senang hati menerima bantuan tetangganya itu. Kamar kostnya memang masih berantakan, tapi berkat Wonwoo, ia bisa lebih cepat membongkar barang-barangnya.
“Udah beres nih, makasi Wonwoo!” Mingyu menepuk bahu Wonwoo, dan membuat pemiliknya kaget. “Iya.... kalau sudah, aku ke kamar lagi ya. Sama-sama Mingu—“
“Min-gyu, bukan Mingu, ada huruf y nya!”
Wonwoo menunduk malu, dan Mingyu kembali menepuk bahunya. Wonwoo masuk ke dalam kamarnya, dan ada semburat merah dikedua pipinya. Ia senang, karena bisa membantu teman kostnya. Ia senang karena ada yang mau mengajaknya berbicara.
Hampir 2 tahun menetap di kostan sederhana itu, Wonwoo tak pernah di ajak berbincang oleh penghuni yang lain. Wonwoo pernah memaksakan diri untuk bergabung dengan mereka, namun tak ada yang merespon, malah semuanya langsung bubar. Menatapnya dengan risih, dan jijik.
Sementara—sosok tinggi yang baru saja mengisi kamar kosong di depan kamarnya, begitu ramah dan hangat menyambutnya. Bahkan membiarkan membantunya berbenah. Wonwoo berharap, tetangga barunya bisa ia ajak berteman. Namun saat berniat untuk memberinya kue kering yang ia beli untuk dibagi kepada Mingyu, Wonwoo menguping obrolan tetangganya itu dengan anak kost yang lain.
“Yang nomor empat, jangan dideketin, dia homo... mana gatel”
Wonwoo tidak jadi membuka pintu kamarnya. Selalu itu yang diucapkan penghuni kost lama kepada penghuni baru. Ia mengintip dari balik kaca jendela. Ada Mingyu disana yang hanya menggeleng. Lalu pemuda itu menutup kamar kostnya.
Padahal—dia sudah senang karena ada yang bisa ia ajak untuk berteman. Namun—mungkin dia ditakdirkan untuk terus sendirian. Kesepian...
.
.
.
.
Suara pintu diketuk membuyarkan Wonwoo dari balik buku yang tengah ia baca. Kali ini kaca jendelanya yang diketuk.
“Wonwoo?”
“Ini gue Mingyu”
Wonwoo langsung membuka pintu kamarnya. Mingyu begitu tinggi menjulang kala ia berdiri di depannya.
“Udah makan belum? Gue laper, katanya daerah sini suka ada bazar kuliner? Temenin yuk.”
Wonwoo termangu mendengar ucapan Mingyu.
“Oh... iya aku tau....” Wonwoo bergumam pelan.
“Temenin yuk? Aneh banget gue makan sendirian.” Mingyu senyum lebar dan terlihat begitu hangat.
“Bo—boleh tapi aku cuci muka dulu, gak papa?” Wonwoo mengangguk, dan tersenyum juga.
“Gue tunggu di gerbang yah, sekalian pengen nyebat dulu sebatang hehehe.” Mingyu mengambil satu bungkus rokok dan gasolin dari saku jeans-nya.
Wonwoo buru-buru cuci muka, dan meraih hoodie kesayangannya. Ia mengenakan kacamata, dan sedikit menata rambutnya supaya lebih rapih. Wonwoo keluar, mengunci kamarnya, dan menghampiri Mingyu yang sepertinya udah selesai merokoknya.
“Ngerokok gak, Won?”
“Enggak...”
“Tapi gak papa kalau gue sesekali ngerokok pas sama lo gini?”
Wonwoo memandangnya sekilas. Apa ini berarti Mingyu tidak risih kepadanya?
“Kamu kenapa ajak aku?”
Mingyu mengernyit, lalu melirik Wonwoo yang memilin ujung tangan hoodie paw-nya.
“Ya emang kenapa? Baru lo aja nih yang gue kenal? Sekalian ucapan makasih udah bantu gue beberes kamar.”
Wonwoo sudah lama tidak pernah di ajak mengobrol sepanjang ini. Wonwoo sudah lama tidak di ajak pergi main, atau sekedar membeli makanan bersama oleh orang lain.
Wonwoo selalu sendirian.
Ke mana pun.
“Mungkin kamu udah dengar sesuatu tentang aku,” Wonwoo tersenyum kecut. “Oh....” Mingyu menelan ludahnya, namun setelah itu bahu Wonwoo ia rangkul. “Gue yakin lo orang baik, Wonwoo.”
Wonwoo yang terdiam dirangkulannya dibuat terenyuh. Senyuman tipis muncul dari bibirnya. Sekaligus perasaan lega dan hangat.
“Makasih Mingu...”
Mingyu menghela nafas karena Wonwoo lagi-lagi salah memanggil namanya.
“Mak—maksud aku, makasih Mingyu... “
Mingyu kini tertawa karena melihat ekspresi Wonwoo yang tidak enak karena salah lagi menyebut namanya.
“Gimana lo aja deh, mau manggil gue apa hahaha.”
Wonwoo menggaruk pelipisnya, merutuk dalam hati karena salah terus.
“Anyway..... apa nih rekomendasinya?”
Wonwoo berhenti sejenak, ia membuka ponselnya. Mingyu mengintipnya dan melihat catatan Wonwoo diponselnya.
“Lah gue kira lo udah hapal nih jajanan yang enak dan rekomendasi?”
Wonwoo kembali menggaruk pelipisnya, membenarkan kacamatanya yang melorot.
“Aku cuma tau aja.... kalau main langsung gak pernah, tapi yang aku list ini sesuai rekomendasi sosmed mereka kok.”
Mingyu merangkulnya lagi, apa Wonwoo selalu sekaku dan kikuk begini? Ia jadi mengingat kembali obrolannya dengan penghuni kost yang menyapanya tadi.
‘Ehh anak baru ya?’
‘Iya, gue Mingyu.’
‘Johny.’
‘Hati-hati, yang nomor empat penghuninya gay.’
Mingyu menekuk alisnya bingung, lalu?
‘Dia suka gangguin cowok orang katanya.’
Namun saat melihat gelagat asli Wonwoo yang tampak canggung ini, Mingyu gak yakin omongan mereka itu benar. Di lingkungannya memang masih tabu menjadi penyuka sesama jenis. Tapi Mingyu bukan salah satu dari masyarakat yang akan memandang rendah mereka. Ia terbuka dengan siapa saja ia berteman, selama mereka baik dan saling membantu, Mingyu tak mempermasalahkan orientasi seksual mereka.
“Halo, sayang...”
Wonwoo mendengar Mingyu mengangkat panggilan teleponnya. Membiarkan Mingyu asyik berbincang via panggilan, Wonwoo asik melihat suasana sekitar. Ternyata seramai ini lingkungan kostnya. Wonwoo hanya pulang pergi dari kost ke kampus saja. Ia tak pernah keluar untuk sekedar jalan mencari makan, ia memilih beli online saja. Karena Wonwoo maunya seperti mereka. Berbincang bersama, tertawa, dan—memiliki teman. Ia tidak mau sendirian.
Ohh.... Wonwoo jadi rindu teman lamanya, Soonyoung.
Wonwoo menatap langit, hari ini cerah, sedang apa dia di sana—
Lengannya ditarik Mingyu tiba-tiba. Wonwoo terkejut, dan tubuhnya dipeluk erat oleh tangan kiri Mingyu.
“WOY ANJING DIPIKIR JALAN BAPAK LO!!!”
Mingyu memaki motor yang melintas cepat dan hampir mencelakai Wonwoo. Wonwoo meraba jantungnya, terkejut sekaligus tersadar dari lamunannya.
“Gak papa, Won? Wah emang bajingan pengendara tadi.”
Mingyu menatapnya khawatir, Wonwoo mengangguk, dan kembali tenang setelah jantungnya hampir keluar dari dadanya tadi. Tangannya digenggam Mingyu saat mereka menyebrang, Wonwoo tak menolaknya dan hanya memandang kedua tangan mereka yang saling bertaut.
“Ke mana nih, jadinya—upss”
Mingyu melepaskan genggaman tangan mereka, Wonwoo langsung memasukan kedua tangannya ke saku hoodie-nya.
“Makasih Mingyu.... aku kaget tadi,” Wonwoo menatapnya malu. “Hati-hati Won, kalau kita gak awas, ketemu pengendara tadi bisa jadi masalah besar.” Mingyu merangkulnya lagi. Wonwoo mengangguk patuh.
“Jadinya apa nih yang mau lo rekomendasiin?”
Wonwoo menunjuk tenda penjual ayam bakar madu yang memang tampak ramai pengunjung bazar kuliner. Mereka menuju tenda tersebut, Mingyu pesan, sementara Wonwoo mencari tempat duduk. Orang-orang sibuk dengan dunianya, Wonwoo terus mengamati sekelilingnya. Semua orang tampak damai, tak merasa risih saat menatapnya, Wonwoo merasa aman. Ia selalu diselimuti perasaan cemas, dan takut, takut dengan pandangan mereka yang berubah menatap rendah kepadanya.
“Liatin apa!”
Wonwoo kembali melamun ternyata. Mingyu duduk di depannya, dan menaruh rokok beserta gasolinnya. “Gue boleh nyebat?” Mingyu meminta izin kepada Wonwoo. “Yang lain juga pada ngerokok, Mingyu....” Wonwoo meremat jemarinya sendiri. “Ya tetap harus ada izin dari lo juga.” Mingyu mematik gasolinnya, menyalakan rokoknya.
Keduanya berbincang ringan, kebanyakan Wonwoo yang diwawancarai oleh Mingyu karena anaknya akan diam langsung kalau gak ditanya Mingyu. Mingyu semakin yakin, Wonwoo tidak seburuk ucapan orang itu. Bahkan jauh.
Mingyu menebak tetangga kostnya ini, sudah lama dikucilkan lingkungannya. Terlihat dari tubuhnya yang selalu kaku, tegang, dan terus mengamati sekitarnya. Ia merasa dunia memang tak selalu adil kepada semua orang.
Maka dari itu, Mingyu tidak akan sama memperlakukan Wonwoo seperti orang lain memperlakukannya. Wonwoo hanya ingin berteman, hidup biasa, dan diterima lingkungannya.
“Jangan bosen yah Won, kalau gue bakalan ajak lo makan gini besok-besok.”
Pupil mata Wonwoo membesar, Mingyu tersenyum lebar dan menepuk pucuk kepalanya.
“Maksudnya.... aku—aku jadi teman kamu?”
Mingyu mengangguk cepat dan mematikan rokoknya. “Iya, Wonwoo. Mari kita berteman, jadi tetangga yang baik, kita pasti saling membutuhkan satu sama lain!” Mingyu mengulurkan tangannya. Wonwoo langsung menggenggamnya, tampak tersenyum manis, dan ada linang air mata, namun Wonwoo dengan cepat menghapusnya.
“Wangi banget ayam bakarnya, hebat juga lo nyari rekomendasinya.”
Wonwoo terus tersenyum, dan ia membuka penutup kepalanya yang sedari awal ditutupi. Wonwoo semakin merasa aman, dan ini pertama kalinya setelah 2 tahun. Ada seseorang yang dengan terbuka mengajaknya berteman. Wonwoo tahu— mungkin dunia tidak terus jahat kepadanya.
.
.
.
.
Saat selesai menalikan tali sepatu, Wonwoo mendengar suara barang jatuh dan umpatan dari depan kamar kostnya. Awalnya Wonwoo akan mengetuk pintu kamar Mingyu, namun pemiliknya keluar tiba-tiba.
“Kepala gue sakit banget.”
Wonwoo tersenyum saja, sementara Mingyu hanya mengusap kepala karena mungkin terbentur sesuatu. Tadi Mingyu mengirim pesan katanya nebeng pas mau ke kampus, jadi mereka hari ini berangkat bersama.
“Harusnya lo bilang kalau kating gue, kan kemarin gak enak manggil nama terus.”
Mingyu mengenakan helm, juga Wonwoo yang lagi hanya tersenyum. “Gak papa, panggil Wonwoo aja.” Wonwoo bersiap membawa motornya, namun direbut Mingyu. “Gue yang nebeng, gue yang bawa kak!” Mingyu duduk di depan, di susul Wonwoo duduk di belakangnya.
Wonwoo berusaha menangkap perkataan Mingyu saat mereka di perjalanan menuju kampus. Angin yang menerpa, membuat suara Mingyu samar, harus sembari sedikit berteriak. Namun Mingyu tampaknya acuh aja dan terus ngajak Wonwoo ngobrol. Sesekali Wonwoo meminta maaf karena tidak menangkap ucapan Mingyu.
“Kak, nagih utang yang baik dan benar gimana sih?”
“Apa??? Maaf suara kamu gak kedengeran.”
Mingyu menyandarkan punggungnya ke Wonwoo. Namun dari samping ada motor yang menyalip, dan dari depan terlihat mobil pick up menyalip juga. Mingyu terkejut, dan Wonwoo refleks memejamkan mata.
Selanjutnya yang ia rasakan tubuhnya terjatuh ke samping, suara klakson nyaring terdengar, dan Mingyu yang kini mengajaknya untuk duduk. Wonwoo masih syok hanya menurut saja saat dibopong Mingyu menepi, dan lama-lama terdengar suara Mingyu yang memanggilnya.
“Kak! Kak! Kak Wonwoo!”
“Kak!! Ya Tuhan lo gak papa?!”
Wonwoo masih memejamkan matanya, dan ia merasakan perih di lutut kanannya, Mingyu terlihat mengeluarkan scraft merah, dan menekan lututnya agar perdarahannya berhenti. Wonwoo merintih dan menggenggam erat pergelangan tangan Mingyu.
“Tahan yah, abis ini kita ke RS, maaf kak, stang motor lo bengkok parah, gue bawa ke bengkel nanti.”
Mingyu pun terlihat terluka, namun ia lebih khawatir kepada Wonwoo. “Ka—kamu terluka juga.” Wonwoo meraih lengan Mingyu yang sobek kemejanya dan ada lecet juga. “Gue gak papa, yang utama lo, maaf ya kak, gue bawa motornya gak bener.” Mingyu mengikat scraft merahnya dilutut kaki Wonwoo. “Gak usah ke RS, aku baik-baik saja.” Wonwoo mulai mengatur nafasnya dan sedikit berkurang gemetar di tubuhnya.
“Bener? Gue anter kak yuk—“
“Gak usah, sebentar dulu duduk disini yah, Mingu...”
Mingyu duduk di sampingnya, mengusap punggung Wonwoo, menghapus keringat di pelipisnya. Mingyu masih terlihat khawatir, lalu ia merangkul Wonwoo, dan berusaha menenangkannya.
Wonwoo akhirnya melewatkan mata kuliah jam pagi, dan dia sedang duduk menunggu Mingyu yang katanya mau jemput. Mereka satu kampus, namun berbeda fakultas, dan fakultas mereka cukup jauh, dari ujung ke ujung.
‘Kak, gue di depan nih.’
“Ohh sebentar aku ke sana.”
Mingyu membuka pintu mobilnya dari dalam, membantu Wonwoo yang kini duduk disampingnya.
“Bener nih gak mau ke RS?”
“Iya... ini lecet kecil, kamu tadi sikutnya luka juga loh”
Wonwoo menunjuk sikut Mingyu yang kini terlihat memakai perban putih. “Udah gue obatin juga. Sori yah, mobilnya cewek gue ini jadi agak girly girly.” Mingyu menjalankan mobilnya. “Motor lo katanya butuh waktu semingguan, nanti kalau ada kuliah bareng gue dulu aja, yah!” Mingyu meliriknya sedikit. “Aku bisa pesen ojol, gak mau ngerepotin kamu tiap hari.” Wonwoo membenarkan kacamatanya yang melorot. “Elah kak, gue yang buat motor lo rusak.” Mingyu cemberut, Wonwoo melihatnya jadi tersenyum.
“Takut ngerepotin. Apalagi kamu punya pacar...”
Mingyu menarik rem tangan mobil itu saat berhenti karena lampu merah menyala. “Kak, gue gak keberatan kok, gak usah mikirin cewek gue.” Wonwoo menatapnya, dan dibalas senyuman lebar Mingyu. “Udah lama kamu punya pacar?” tiba-tiba Wonwoo bertanya. “Dua tahun? Iya kali, sekitar segituan haha.” Mingyu ketawa canggung, bisa-bisanya ia lupa usia hubungannya dengan sang pacar.
“Namanya siapa kalau boleh tau?”
“Bona. Anak FEB.”
“Lo gak ada pacar, kak?”
Wonwoo menggeleng kecil, dia sedikit ke-trigger mendengar kata pacar. Namun pemuda itu berhasil mengatur perasaannya.
“Aku—agak takut punya hubungan seperti itu.”
Mingyu mengatupkan bibirnya, apakah ini penyebab semua ucapan buruk tentang Wonwoo itu.
“Lo kalau mau cerita boleh, gue dengerin, tapi kalau enggak sanggup, jangan yah?” Mingyu menepuk lembut lutut Wonwoo. Wonwoo menghembuskan nafasnya, memandang lurus ke depan, menatap kemacetan. “Aku dulu punya seseorang yang disukai. Kayak kamu ke pacar kamu. Aku suka kakak tingkatku, dia masih satu kampus. Kami—dulu sering bermain bersama. Awalnya aku akan memendam perasaan ini karena aku tau..... ini tabu, aku tidak bisa menyatakan perasaanku.” Wonwoo meremat jemarinya, ia menarik nafas kemudian menghembuskannya perlahan.
“Sampai tiba-tiba dia cium aku.”
Mingyu walau pun menyetir, ia dengan serius mendengar cerita Wonwoo. Rasanya Mingyu ingin memukul kating itu karena sudah menebak cerita selanjutnya.
“Orang—orang yang berciuman itu—bukankah buat pasangan saja,kan Mingu?” Wonwoo menatapnya dengan raut sedih dan terluka. “Aku pikir—kami begitu. Jadi aku menyatakan perasaanku, tapi ternyata..... aku malah dipermalukan.... dia mencemooh aku di depan teman-temannya, menuduh aku yang duluan menciumnya.”
Mingyu memberikan afeksi dengan mengusap punggung tangan Wonwoo. Wonwoo tersenyum tipis, ia balas dengan usapan pelan juga. “Sejak saat itu, entah kenapa ucapan orang dari bibir ke bibir membicarakan tentang aku menjadi buruk.” Bisik Wonwoo terdengar pasrah.
Mereka sampai di depan gerbang kost. Wonwoo bergumam mengucapkan terima kasih, dan akan turun, namun Mingyu menahannya. “Kak, jangan murung lagi, kay? Ada gue sekarang. Kalau ada apa-apa, chat gue, lo lapar pengen nitip sesuatu pas gue di luar, jangan sungkan yah. Kita teman ingat.” Mingyu senyum teduh, dan Wonwoo mengangguk lalu tersenyum juga, menghapus air matanya.
“Lo udah makan?”
“Belum...”
“Mau gue beliin apa?”
“Sate sapi boleh.....”
“Okay, gue beliin.”
.
.
.
.
Pertemanan antara Wonwoo dan Mingyu semakin dekat dan tidak ada tingkah canggung dari Wonwoo lagi. Pemuda berkacamata kotak itu sudah nyaman dengan keberadaan Mingyu. Sesekali mereka berangkat bersama bila ada jadwal yang sama, tak jarang juga Wonwoo berangkat sendirian dan Mingyu yang tidak akan pulang berhari-hari ke kostnya. Namun Wonwoo tidak merasa ditinggalkan, Mingyu masih sering tiba-tiba membelikannya makanan lewat online, atau sekedar tukar kabar via chat, katanya nitip kamarnya takut ada yang mendobrak.
Saat Wonwoo sedang membereskan sepatunya yang ditaruh di rak depan kamarnya, Mingyu datang dan berjalan sempoyongan. Wonwoo menghampirinya dan meraih tangannya, mengalungkannya dibahu dia. Mingyu tersenyum, ada aroma kuat dari minuman keras. Mingyu tengah mabuk.
“Kuncinya di mana?” tanya Wonwoo. Mingyu merogoh saku-saku celana jeans dia, namun tak kunjung menemukannya. “Dilempar ke mana sama si Bona....” gerutu Mingyu. Wonwoo melihat kunci kamar dengan gantungan snoopy itu terjatuh, lalu mengambilnya. “Nah, itu ada, hahaha, maaf kak, pusing.” Mingyu menaruh wajahnya dibahu Wonwoo.
Mingyu itu berat, Wonwoo kesulitan saat tubuh besar temannya itu bersandar kepadanya, dan ia juga perlu membuka kamar kost Mingyu. Pemuda tinggi itu langsung menjatuhkan diri ke kasurnya. Wonwoo menyalakan lampu nakas karena sangat gelap. Mingyu tiba-tiba berlari ke kamar mandi, dan Wonwoo mendengar seseorang yang muntah.
Wonwoo ke kamarnya, dan menyeduh sebungkus susu jahe miliknya, dan kembali ke kamar Mingyu. Tidak pulang ke kost hampir dua minggu, pulang-pulang mabuk dan muntah. Wonwoo sedikit kurang suka. Mingyu duduk lemas bersandar ke pintu kamar mandi kostnya. Bajunya basah, dan tampak mengantuk.
“Mingyu, astaga...”
Wonwoo langsung mengambil handuk dan dengan acak meraih kaos ganti untuk Mingyu. Wonwoo usap perlahan wajah Mingyu yang kacau, dan berkeringat. Oleh sendirinya, Mingyu membuka kaos basah yang ia kenakan, dan berusaha membuka matanya.
“Kak....”
“Iya, kamu muntah, dilap dulu biar bersih.”
“Bau gue, sana ke kamar aja.”
Tidak menurut ucapan Mingyu, Wonwoo masih membantu Mingyu membersihkan diri. Selesai mengenakan kaos bersih, Mingyu kembali tidur di atas kasurnya. Melengguh seperti anak kecil yang tidak bisa tidur, dan bergerak tidak nyaman. Wonwoo bingung apa yang harus dilalukan olehnya.
“Tidur Min...” Wonwoo mengusap lengannya. Mingyu masih gelisah, manik keduanya bertatapan. “Pertama kali nih—gue liat lo gak pake kacamata, cantik, kak.” Ucap Mingyu ditambah senyuman tipis. “Tid—tidur.” Wonwoo gugup. “Gak bisa kak! Pala gue sakit!” Mingyu mengeluh sambil menjambak rambutnya sendiri.
Wonwoo awalnya ragu saat ingin memijat kepala Mingyu, saat dirasa pemiliknya tak terganggu, Wonwoo melanjutkan pijatannya dan sesekali mengusap rambut Mingyu. Rambut Mingyu tebal, warna hitam, sedikit ikal karena mulai panjang. Mingyu melengguh nyaman dan kini bernafas pelan mulai tertidur. Wonwoo terus memerhatikan paras rupawan temannya itu. Ada satu dan dua tahi lalat diwajah Mingyu.
Telunjuk Wonwoo dengan sendirinya menekan lembut tahi lalat Mingyu dipipi kirinya. Ia senyum lembut, melihat Mingyu tidur pulas, seperti melihat balita tidur. Mulutnya terus bergumam, sesekali mengerut kedua alisnya, lalu kembali terlelap. Wonwoo melihat jam dinding menunjukan pukul pagi dini hari. Tapi ia masih betah menatap Mingyu yang sudah pulas tidurnya.
“Night.....” bisiknya lembut. Kemudian Wonwoo menutup kamar Mingyu, dan kembali ke kamarnya.
.
.
.
Wonwoo baru selesai mandi saat mendengar pintu kamarnya diketuk berulang kali, tak sabaran. Wonwoo membukanya, dan ada seseorang yang kini mewarnai harinya.
“Gue beli bubur! Lo yang naruh susu jahe kak?? Disemutin dikit, tapi dah gue abisin kok!” Mingyu tanpa izin masuk ke kamar Wonwoo dan duduk diatas karpet beludru. “Udah gak sakit kepalanya?” Wonwoo membiarkan pintunya terbuka, dan Mingyu sedang menuangkan bubur sebagai sarapan mereka.
“Udah, sekarang gue lapar banget. Punya lo. Gak pake kacang, itu pake seledri sih, lupa gue, kan lo gak suka seledri juga yah!” Mingyu tersenyum lebar sekilas, dan langsung melahap buburnya. Wonwoo terdiam, dan hatinya berdebar karena Mingyu hapal tentang hal kecil miliknya.
“Kamu diaduk juga buburnya?” Wonwoo mengaduk buburnya.
“Heemm, aneh gak sih orang makan bubur tapi bumbunya gak diaduk?” sahut Mingyu sambil melahap buburnya lagi.
“Temen aku Soonyoung tuh tim bubur gak diaduk. Dia suka mendelik sebal kalau aku mengaduk bubur dihadapannya.” Wonwoo terkekeh mengingat kenangannya bersama Soonyoung.
“Temen lo aneh berarti. Seleranya jelek.” Ledek Mingyu.
Hari ini akhir pekan, dan tidak ada jadwal kuliah, Mingyu masih betah merecoki kamar kost Wonwoo yang biasa sunyi. Keduanya tengah asik bermain gim, dengan Mingyu terus menerus dikalahkan oleh Wonwoo. Begitu dramatisnya, pemuda tinggi itu terkulai lemas dan menaruh ponselnya saat kembali kalah bermain dari Wonwoo.
“Bete ah.” Mingyu merengek. Wonwoo menaruh ponselnya, kemudian mereka hening. “Bosen gak sih kak, di kamar terus?” Mingyu menopang kepalanya dengan sebelah tangan, menatap Wonwoo yang menatapnya juga. “Kadang, tapi aku udah biasa sih.” Wonwoo senyum simpul. “Lo ada pengen main ke mana gitu?? Gue temenin, gue mati bosen kak.” Mingyu melengguh panjang setelahnya.
Wonwoo membuka catatan diponselnya, ada banyak daftar tempat yang ingin dia datangi. Tapi Wonwoo pikir—Mingyu tetap akan mati bosan karena semuanya adalah toko buku.
“Aku pengen beli buku sih...” gumam Wonwoo.
“Di mana?” Mingyu duduk menghadapnya.
“Yang dekat gak jauh dari bazar kuliner kemarin, tapi—kamu kayaknya bakal tetap mati bosan.” Tutur Wonwoo.
Mingyu mendengus kecil lalu tertawa. Wonwoo memang percis dengan penilaiannya. Bookworm sejati. Mingyu bisa melihat ada banyak tumpukan buku di kamar kost itu, ujung-ujungnya ada yang menguning dan terlipat sampai keriting. Pasti buku itu bukan pajangan saja.
“Kak, lo emang gak pusing liat tumpukan buku?”
“Kenapa pusing? Aku taruh di tempat yang salah, yah?”
Mingyu tertawa mendengarnya. Wonwoo menunduk malu namun ia tersenyum manis. Mingyu melihat senyuman itu, ternyata Wonwoo punya paras tak kalah rupawan. Kesan pertama Mingyu menilai wajah Wonwoo itu, lugu. Iya, bagi Mingyu Wonwoo itu lugu. Walau badan tinggi tegap, sorot mata tajam, kadang terlihat angkuh, tapi dimata Mingyu, Wonwoo itu lugu, lembut tutur katanya, kikuk, canggungan, pemalu, pendiam tapi bukan anti sosial. Wonwoo sebaik ini, tapi kenapa keadaan membuatnya terkesan tidak adil.
“Lo pengen baca aja, apa mau beli bukunya kak?” Mingyu punya ide.
“Kalau aku suka.... aku beli,” Wonwoo membenarkan letak kacamatanya.
“Yaudah, ikut gue. Ganti baju dulu.” Mingyu mengusak rambut Wonwoo gemas.
Wonwoo di bawa menuju sebuah rumah dengan gaya tempo lama. Suasananya begitu damai, angin menggoyangkan poni Wonwoo, dan Mingyu yang merangkulnya dari belakang.
“Ini rumah kenalan gue, kak Seungyoon. Bukunya banyak, setara kayak perpusnas.”
Wonwoo matanya membulat tak percaya, Mingyu tertawa sambil mengeratkan rangkulannya. “Masa?” Wonwoo seterpana itu. “Canda kak. Tapi asli, dia kolektor banyak buku, tanya aja mau nyari buku apa, dia pasti punya.” Ucap Mingyu, lalu dia menekan bel rumah tersebut.
Tak lama keluar seorang pria muda, dengan pakaian rumahnya, dan terkejut melihat siapa yang berkunjung.
“Lahh Mingyu????? Astaga!”
Dia memeluknya erat. Wonwoo mundur sedikit, dan tersenyum kaku. Mingyu meminta melepaskan dekapan Seungyoon, dan keduanya langsung bersalaman.
“Kenalin, ini temen gue, kak Wonwoo. Kak Wonwoo, ini temen gue, Kang Seungyoon.”
Seungyoon melengguh pelan karena tidak dipanggil “kak” juga padahal dia 4 tahun lebih tua dari Mingyu. Atensinya teralihkan kepada Wonwoo yang berdiri sedikit kaku, bersembunyi dibalik badan Mingyu.
“Wonwoo? Hai. Gue Seungyoon.”
“Ha—halo kak. Wonwoo...”
“Dia lagi pengen nyari buku katanya, pamerin gih.”
Mingyu melengos masuk ke rumah itu, dan Seungyoon menggeleng pelan. Kebiasaan. “Dia kayak ayam emang, Won. Ayo masuk!” mereka menyusul Mingyu, dan Wonwoo terkesima saat melihat banyak rak tinggi berisi buku-buku. “Ada spesifikasinya lo mau baca apa?” tanya Seungyoon. Wonwoo menggeleng, kalau begini dia sendiri bingung karena terlalu banyak, terlalu penasaran buku apa saja yang akan ia temukan.
“Yaudah, gue di studio samping kamar itu, panggil aja kalau ada apa-apa. Si Mingyu palingan lagi gitaran di ruang tengah.”
Wonwoo mengangguk semangat, dia membuka jaketnya, dan mulai menghampiri rak-rak tersebut. Ini surga. Ini lebih dari apa yang Wonwoo mau.
.
.
.
.
Hampir menjelang malam, Wonwoo baru selesai menjelajahi miniatur perpusnas itu. Tadi dia sesekali menghampiri Mingyu yang asik nonton film dan makan. Terus sekarang tetangganya itu ketiduran. Kak Seungyoon pamit pergi ada urusan, menyampaikan pesan kalau mau pulang, kunci pintunya taruh di kotak surat samping pintu.
Mingyu kalau tidur memang selalu damai begini kah? Wonwoo bertanya dalam hati. Ia tak tega membangunkannya. Wajah mereka dekat, Wonwoo duduk menghadap Mingyu yang tidur menyamping. Telunjuknya dengan gemetar mengusap tahi lalat Mingyu dibagian hidungnya. Wonwoo senyum tipis. Dadanya berdebar, dan semburat merah itu muncul.
“Hnnghh....”
Mingyu menggeliat, Wonwoo menjauh. Kemudian mereka bertatapan, Mingyu tersenyum miring dan menguap lebar. “Betah banget yah?” tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur. “Maaf....” Wonwoo merapihkan rambut Mingyu yang mencuat ke atas. Lucu sekali. “Kalau memang lo suka, gue seneng. Mau pulang?” Mingyu bangun dan Wonwoo duduk disampingnya kali ini.
“Di mana kak Seungyoon?”
“Pergi, katanya kunci rumah dia taruh aja di kotak surat.”
“Udah jaman modern kuncinya masih pake yang manual.”
“Makasih yah....”
“Sama-sama, kak Wonwoo...”
Mingyu menatap Wonwoo dan mengangguk kecil, dan tangannya mengusap lembut poni Wonwoo. “Makan apa yah?” Tanya Mingyu. Wonwoo berpikir sejenak, dan Mingyu menebak jika ia akan mengeluarkan ponselnya lagi—benar.
“Ada berapa banyak catatan tuh? Kayaknya lengkap sekali.” Mingyu menggodanya. “Ohh—aneh yah?” Wonwoo menaruh ponselnya kembali. “Enggak. Ayo ada rekomendasi apa nih? Gue liat boleh?” Mingyu merapatkan tubuhnya, hingga bahu mereka bersentuhan. Wonwoo memandang wajah Mingyu dari samping. Dia sangat tampan. Wonwoo kagum.
“Mau katsu gak kak? Deket nih tempatnya.”
Wajah mereka saling bertemu dengan jarak yang dekat. Wonwoo menunduk dan duduk sedikit menjauh. Ada perasaan takut itu lagi, dan membuatnya tidak nyaman. “Boleh. Aku suka.” Wonwoo mengangguk sambil membuang muka. Mingyu mengusap lututnya, dan Wonwoo langsung bernafas tenang.
Makan malam kali ini ramai dengan obrolan Wonwoo yang menceritakan buku-buku yang ia baca tadi. Mingyu walau pun tidak tahu apa-apa, dia tetap menyimak dan menanggapi sesekali. Ternyata Wonwoo ceriwis sekali. Apalagi saat menceritakan hal yang ia sukai. Mingyu merasa gemas melihatnya.
“Lo lucu deh kak kalau bawel.”
Wonwoo terkesiap dan seolah baru sadar dengan keadaan, membuat Mingyu terkekeh dan tertawa akhirnya.
“Berisik yah?” Wonwoo menunduk malu.
“Gak kok. Gue suka dengar lo bawel gini. Rame banget.”
Senyuman Wonwoo merekah dan ada ruam merah dipipinya. Ia pun tak menyangka bisa berbicara sebanyak tadi. Mingyu menyuapinya dengan sepotong katsu terakhirnya, dan Wonwoo mengunyah pelan.
“Sekali lagi, makasih yah Mingu...”
“Minguuu...”
“Maksud aku Min-Gyu.”
“Lucu banget nama gue jadi Mingu.”
Wonwoo tertawa lepas kali ini, setelah lama tak ada canda tawa dalam hidupnya, Mingyu hadir memberinya kesempatan merasakan kembali hangatnya kehidupan. Tak ada sunyi, sendu, sendiri lagi. Sekarang ada seseorang yang menemaninya. Semua ini sudah cukup untuk Wonwoo. Kehadiran Mingyu, adalah kebaikan yang berhak ia dapatkan setelah menjalani kehidupan yang selalu tidak adil kepadanya.
Tbc.
